Monday, August 11, 2008

TANGISAN SENJAKU


Satu per satu orang mendekatiku. Menyalamiku dengan tatapan haru. Tak jarang pula mereka menjatuhkan pelukan padaku sambil berkata dengan kebijaksanaan mereka yang tak pada tempatnya, “Sabar ya nduk.” Apa yang mereka tahu tentang sabar? Mereka tak lebih tahu dari aku. Bukankah aku telah bergelut dengan kesabaran selama ini. Aku memilih berdiam diri di kamar daripada menemui orang-orang yang sok simpati. Toh mereka pasti akan memahami jika aku lebih memilih tinggal di kamar. Sendirian.



Sudah tiga hari kepergianmu. Aku masih tetap menangis tanpa suara. Satu per satu orang juga masih datang dan pergi  untuk mengucapkan bela sungkawa. Namun tak satupun dari mereka yang ingin aku temui. Bahkan sahabat-sahabatku sekalipun. Aku hanya ingin menangis sendiri. Menikmati tiap tetes air mata yang mampu aku keluarkan untukmu. Yah pasti  kamu sangat bahagia di alam sana, karena ternyata aku masih punya cukup air mata untuk menangisi kepergianmu.

Rasanya masih setengah menit yang lalu kau memintaku menjadi istrimu. Dalam temaram bintang, di depan ombak yang bergemuruh kau lingkarkan cincin emas putih padaku seraya berkata “Maukah kau menjadi ibu dari anak-anakku?” Perempuan mana yang tak bergetar hatinya kala pria yang diidamkannya membalas asa yang selama ini disimpannya erat dalam dada. Tanpa pikir panjang aku mengangguk tegas. “Iya.”

Tanpa proses yang cukup panjang untuk saling mengenal diri masing-masing, kau dan aku menetapkan sebuah keputusan yang sangat besar untuk hidup kita. Bahkan kedua orang tua kita pun terhenyak ketika kita mengutarakan keinginan untuk merajut mahligai perkawinan. Tak lebih dari setahun kita mengenal. Itu pun baru lima bulan yang lalu kita saling bertukar nomor handphone dan email. Lalu saling menyapa dan memberi perhatian tanpa ada ikatan yang jelas sebagaimana seorang pria dan perempuan menjalin kasih. Begitulah Tuhan mengantarkan jodoh pada kita dengan cara yang tak pernah kita duga.

Mahendra Bima. Aku lebih suka memanggilmu Bim-Bim. Itu sebutan sayangku untukmu dan memang hanya aku seorang yang memanggilmu Bim-Bim. pada awalnya kau bermuka masam ketika aku memanggilmu demikian. Namun bertambahnya hari kau justru menikmati panggilan itu. Dari cara memanggilku, kau bisa tahu isi hatiku. Bila aku sedang merasa marah padamu, aku tak pernah memanggilmu Bim-Bim. Melalui hal itu, kau bisa langsung tahu kalau aku sedang marah padamu. Segeralah kau lakukan segala hal konyol untuk membuatku tersenyum lagi, dan selalu saja kau berhasil! Yah, kau memang orang yang cukup menarik. Setidaknya bagiku. Secara fisik pun kau cukup ideal, buktinya banyak perempuan yang hampir  gantung diri kan ketika kita memproklamirkan rencana pernikahan kita? Dengan tinggi 170 CM, kulit bersih dan memiliki pekerjaan yang mapan, tentulah bukan hal yang sulit untukmu mencari pendamping hidup. Suatu ketika aku bertanya padamu “Kenapa kau memilihku?” Dengan tersenyum lugas kau berkata, “Karena hanya kamu yang mempunyai asa yang sama denganku. Aku yakin hanya kamu yang bisa memahami dan menerimaku apa adanya.”

Kita dibesarkan dengan latar belakang yang sama. Aku hidup dalam keluarga dimana ayahku memilih poligami sebagai jalan hidupnya. Setahuku tak pernah ada poligami lewat cara yang benar. Perselingkuhan merupakan awal poligami. Begitu juga ayahku. Berulangkali beliau melakukan perselingkuhan tanpa sepengetahuan ibu. Berulangkali pula beliau menikam rasa sakit di ulu hati ibu. Namun entah kenapa ibu masih saja bertahan dalam kondisi itu. ”Demi anak-anak!” Itu yang selalu ibu ucapkan. Kalau saja ibu tahu aku jauh lebih tersiksa hidup dalam keluarga yang penuh pertikaian ini. Namun aku tak pernah mengutarakan perasaanku. Diam adalah emas. Kunikmati setiap jengkal sakitku. Hingga tiba hari itu, salah seorang selingkuhan ayah hamil! Keluargaku semakin kacau. Pada akhirnya ibu mengalah, ibu mau menerima perempuan itu sebagai madunya. Aku semakin tak habis pikir dengan jalan pikiran ibu. Namun aku tetap memilih diam dan menikmati sesakku. Semua yang kurasakan telah mencambukku untuk menjadi keras. Aku tak mau bergantung pada lelaki manapun dan tak akan kubiarkan lelaki mana pun membuatku terdampar pada rasa sakit pengkhianatan. Aku juga tak akan membiarkan perempuan lain menginjak-injak kebahagiaanku. Harapanku, aku hanya tak mau mengulangi kebodohan ibuku dan kesalahan kedua orang tuaku.

Begitu juga dirimu. Ayah dan ibumu bercerai sejak kau masih bayi. Ayahmu menikah lagi dengan orang lain dan tak pernah memberikan kehidupan yang layak untukmu. Ia meninggalkanmu dan ibumu tanpa meninggalkan barang berharga satu pun. Demi mencukupi kebutuhan keluarganya, ibumu terpaksa menjadi TKW di Negeri Jiran. Melalui pengorbanannya, engkau bisa bertahan hidup. Namun ibumu jarang sekali pulang. Baginya memberimu kehidupan layak telah merupakan tanggung jawab yang harus ia penuhi. Sepeninggal ibumu, kau dibesarkan oleh nenekmu. Ketika kau beranjak dewasa, kau menyadari bahwa kau lebih membutuhkan kasih sayang dari pada kucuran uang ibumu yang tak sedikit tiap bulannya. Oleh karenanya, kau selalu menganggap ibumu yang sesungguhnya adalah nenekmu. Sedari kecil beliau membesarkanmu tanpa lelah. Pernah pula kau coba menemui ayahmu. Namun hanya caci maki yang kau dapatkan. Ayahmu yang telah menjadi seorang kontraktor sukses berpikir bahwa kau datang hanya untuk mengemis hartanya. Diacungkannya padamu segepok uang yang mungkin mampu membuatmu bertahan hidup hingga setahun. Namun dengan tegas kau menolaknya. Bukan harta yang kau cari, hanya secuil kasih sayang untuk mendamaikan hati. Dalam kepenatanmu, kau berusaha menikmati setiap jengkal sesakmu. Dari pengalamanmu sebagai seorang anak korban perceraian, kau mencoba merentas asa untuk menemukan perempuan yang bisa benar-benar kau jaga sepenuh hati.

Itulah kenapa aku menjawab dengan anggukan tegas ketika kau memintaku menjadi pendamping bagimu untuk mengarungi samudera kehidupan. Aku yakin engkaulah sosok lelaki yang aku cari; lelaki yang mengerti bagaimana mencintai seorang perempuan dengan seharusnya dan menjaganya sebaik mungkin. Itulah kenapa aku tak ragu untuk menerima pinanganmu meski hanya sekejap aku mengenalmu.
Akhirnya hari itu tibalah. Hari dimana kita mengikat janji setia dalam ikatan suci bernama pernikahan. Ada rasa pesimis mengiringi kebahagiaanku. Bayangan pertengkaran kedua orang tuaku  silih berganti memenuhi pikirku. Namun segera hilang begitu aku mengingat komitmen kita untuk tak mengulang kesalahan orang tua kita di masa lalu. Aku mencoba yakin, meski sedikit gamang.

Keyakinanku padamu memang ternyata belum sepenuhnya. Rasa takut kehilangan yang berlebihan, juga rasa enggan untuk dikhianati membuatku antipati terhadap semua teman perempuanmu. Aku tak ingin kau berdekatan dengan perempuan selain aku. Aku tak mau lengah sedikit pun dan memberikanmu kesempatan untuk tak setia. Pada awalnya kamu menganggap wajr keposesifanku sebagai bentuk rasa sayangku. Namun kian lama, kau semakin tak bisa mentolerir sikapku. Kau juga ingin dipercayai. Kau yakinkanku bahwa kau tak akan mengkhianatiku. Namun aku dengan tegas menolak memberimu kepercayaan. Bagiku laki-laki adalah makhluk lemah yang akan mudah terpedaya oleh daya pikat perempuan. Aku tak mau kecolongan sedikit pun. Lalu letupan-letupan kecil pun mulai muncul di antara kita.

Tahun pertama pernikahan kita diwarnai dengan pertengkaran demi pertengkaran. Kita memang memiliki visi yang sama dalam membentuk mahligai ini. Namun tetap saja kita memiliki cara yang berbeda untuk mewujudkan visi itu. Caraku adalah keposesifanku padamu. Aku tak ingin menciptakan ruang sedikit pun bagimu untuk berselingkuh. Sedangkan kamu memilih untuk memintaku tinggal di rumah. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Yah, kamu begitu takut aku akan meninggalkan kewajibanku sebagai seorang istri bila kau mengijinkanku bekerja di luar rumah. Tentu saja aku tak mau. Sebagaimana janji yang pernah kuucapkan pada diriku sendiri bahwa aku tak akan pernah bergantung pada lelaki, termasuk suamiku sekalipun! Begitulah kita, tak pernah menemukan titik temu dari setiap masalah yang ada. Lalu diam dan mencoba mengingat apa yang telah membuat kita bersatu pada pernikahan ini. Kemudian tersenyum, saling menatap dan berjanji untuk lebih mengerti satu sama lain.

Kita mencoba menjadi lebih baik. Kau memberikan kepercayaan untukku bekerja di luar rumah dengan syarat aku tak boleh menelantarkan kewajibanku sebagai seorang istri. Begitu juga aku mencoba percaya padamu. Aku tak lagi mengecek SMS-SMS yang kau terima. Tak lagi bertanya panjang lebar kala ada rekan kantor perempuanmu menelpon. Tak lagi melarangmu berteman dengan siapa pun. Sepertinya kita telah menemukan jalan keluar untuk perbedaan kita. Yah, saling mengisi, mempercayai dan menjaga!

Hidup kita menjadi lebih damai. Lebih bahagia. Kita menikmati setiap jengkal pernikahan kita. Semua orang menatap iri pada kita, pada kemesraan kita, pada kekompakan kita, dan tentu saja pada kebahagiaan kita. Kemudian Nakula Sadewa, dua jagoan kembar kita lahir. Semakin lengkaplah pernikahan kita. Aku memutuskan berhenti bekerja untuk lebih konsentrasi mengurus kedua anak kita. Kau menyambut keinginanku dengan sangat gembira. Apalagi keadaan ekonomi kita kini telah lebih baik dari lima tahun yang lalu ketika kita menikah, bukan?

Aktivitasku kini hanya berputar dari sudut rumah yang satu ke sudut rumah yang lain. Setiap pagi aku tak pernah lupa menyiapkan secangkir kopi kesukaanmu. Lalu kita menyantap sarapan bersama, kadang nasi goreng, kadang juga roti bakar rasa cokelat keju kesukaanmu. Selagi kau bekerja, aku beraktivitas bersama kedua buah hati kita. Mengamati setiap inci perkembangan mereka. Tentu saja kuberikan juga nutrisi yang terbaik untuk mereka. Bukankah mereka yang akan meneruskan trah kita nantinya? Aku semakin bahagia dengan pernikahan kita. Aku semakin mempercayaimu. Semakin mencintaimu. Juga semakin lupa bahwa kau tetap saja seorang lelaki yang mampu terjerumus pada lubang ketidaksetiaan.

Pagi itu seperti biasa aku mengantarkan Nakula Sadewa ke sekolahnya. Sudah lima tahun usia mereka. Sudah pintar berhitung dan menyanyi. Kita sangat bahagia melihat kenakalan kedua buah hati kita. Sering kali kau menatapku dengan begitu hangat sembari berkata, “Terima kasih telah memberikanku bocah-bocah lucu dan cerdas ini.” Aku semakin bahagia dan yakin pada apa yang kita jalani saat ini. Hari itu pernikahan kita memasuki usianya yang kesepuluh. Aku ingin memberikan kejutan padamu. Membuat pesta kecil untuk merayakannya berdua nanti malam. Sudah kurencanakan sematang mungkin.  Black forest kesukaanmu dan candle light dinner telah kusiapkan untuk malam nanti. Aku juga telah menghubungi ibu agar aku bisa menitipkan Nakula Sadewa selama beberapa jam. Yah, aku ingin merayakannya sespecial mungkin. Hanya denganmu!

Baru saja aku keluar dari taksi menuju sebuah hotel dimana aku ingin pesan sebuah kamar untuk perayaan ulang tahun pernikahan kita. Aku melihatmu keluar dari hotel itu. Tidak sendirian. Bersama seorang perempuan. Tinggi semampai, putih dan berambut ikal. Aku rasa aku mengenalnya. Aku melihatnya dengan seksama. Yah, bukankah ia Fitri, rekan kerjamu di kantor? Aku bertanya-tanya tentang apa yang kau lakukan dengannya di hotel itu. Namun kucoba menepis rasa curigaku, siapa tahu kau sedang ada rapat dengan klien! Lalu aku ingat, Fitri memang sekantor denganmu, tapi ia tak sebagian denganmu. Jadi mana mungkin kau bisa bersama-sama dengannya untuk urusan kantor? Rasa curigaku semakin menjadi ketika aku melihatmu merangkulnya begitu mesra. Jantungku seperti tertusuk sembilu. Aku tak bisa mempercayai penglihatanku. Kulihat kau berlalu.

Aku mencoba menenangkan diri. Kumasuki hotel itu dan sesuai rencana kupesan sebuah kamar. Kamar 17. Disinilah tempat yang bisa kupesan. Kutata serapi mungkin. Kusiapkan semuanya. Lalu kukirim pesan singkat untukmu, “Kutunggu di Hotel Arjuna. Nggak pakai lama ya Sayang!” Tak berapa  lama kau membalas pesanku, “Ada apa? Kok di hotel segala?” Aku merasakan kebingunganmu. Kamu mungkin saja bingung karena aku tak biasa mengajakmu bertemu di hotel seperti ini. Atau mungkin kau bingung karena baru saja beberapa menit  yang lalu kau meninggalkan tempat ini dengan kekasih gelapmu. Kubiarkan kebingunganmu. Aku yakin tak lama kau juga akan mengungkapnya. “Sudahlah nggak usah banyak tanya! Pokoknya aku tunggu di sini. Di kamar 17 yah!” Kukirim pesan balasanku untuknya dan aku menunggu. Galau.

Setengah jam berlalu. Pintu kamar diketuk. Pasti itu kamu! Kubuka dan kau telah ada di depan pintu. Tampak wajahmu terlihat tak secerah biasanya. Kau nampak kebingungan luar biasa. Lalu kutarik kau untuk masuk ke dalam. Melihat black forest dan jamuan yang kusiapkan, barulah kamu ingat bahwa hari itu hari special untuk kita. “Maaf sayang, aku benar-benar lupa.” Aku hanya tersenyum. Aku tak menunggu permintaan maafmu untuk apapun. Apalagi setelah yang aku lihat pagi ini.


Tiba-tiba kekakuan menyelimuti kita. Sepertinya kau ingin membicarakan sesuatu. Dengan ringan aku berkata, “Kalau ada yang harus kau katakan, katakan saja. Aku siap mendengarnya.” Nampaknya kamu tahu maksudku. Tiba-tiba kamu bersimpuh di kakiku dan menangis. “Maafkan aku. Aku tak bisa menjaga hati. Hukumlah aku apa pun. Asal kau memaafkanku…” Hancur. Remuk redam hatiku. setelah aku memberikan semua kepercayaan, kamu justru mengkhianatiku seperti ini! Begitu sakitnya hingga menangis pun aku tak sanggup. Aku berdiri, bermaksud meninggalkanmu. Namun aku masih sempat berkata, “Kamu tahu aku tak pernah bisa memaafkan ketidaksetiaan, apapun alasannya! Kecuali kau mati!” Aku tak tahan lagi. Perayaan yang telah kurencanakan sebaik mungkin gagal. Aku berlari. Kelu.

Aku telah menjadi istri terbaik seperti yang kamu minta. Kulepaskan karierku demi kebahagiaan kita. Mengabdi sepenuhnya padanya dan anak-anak. Setiap hari aku memberikan yang terbaik. Menyiapkan makanan-makanan kesukaanmu. Merawat buah hati kita. Aku juga tetap merawat tubuhku agar kau tak kehilangan seleramu padaku. Kurangkah yang kulakukan padamu? Aku tak habis pikir dengan semua tingkahmu.

Buyar lamunanku ketika kudengar “Brak”. Begitu keras. Aku menengok dan telah kudapati kau bersimbah darah di depan mobil Avanza berwarna perak itu. Aku kalut. Bingung. Kudekati dirimu, kuletakkan dirimu di pangkuanku. Memintamu untuk bertahan. Aku memang tak bisa memaafkanmu. Namun anak-anakmu masiih membutuhkanmu! Lirih kau berkata terbata, “Waktuku telah tiba.Tolong jaga Nakula dan Sadewa. Maafkan aku…..” Lalu sunyi. Gelap.
*************

Ini hari ketiga kepergianmu. Aku masih menangis. Dan orang-orang di luar sana tak pernah mengerti arti tangisanku. Mereka pikir aku hampir gila karena kepergianmu. Tidak. Aku bisa hidup tanpamu. Seperti yang kau tahu, aku tak akan bergantung pada siapa pun! Tangisan ini bukan untuk kepergianmu. Aku menangisi kenapa kau harus pergi dengan meninggalkan ketidaksetiaan? Aku menangis kenapa kau tak mati di tanganku, di tangan orang yang kau khianati ini?


“Bunda…Bunda…..” Kudengar Nakula dan Sadewa memanggilku. Mereka segera menerobos pintu kamar dan memelukku. Wajah tanpa dosa mereka membuatku tak akan sanggup melihat mereka beranjak dewasa dan mewarisi ketaksetiaan ayahnya pada perempuan. Kuingat pesan terakhirmu untuk menjaga mereka. Kulihat pula sebatang gunting di meja. Akan kutepati janjiku untuk menjaga mereka meski tidak dengan caramu.


Diuntaikan pada senja temaram, 11 Agustus 2008

0 comments:

Post a Comment

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.