Thursday, February 5, 2015

Episode Belajar Ikhlas

Sungguh ikhlas itu tidak mudah dilakukan. Sekian tahun aku belajar melakukannya, namun tetap saja selalu ada setitik hati yang enggan setuju. Apalagi jika itu menyangkut seseorang yang pernah menghancurkan kebahagiaan keluargamu.


Risih. Itu yang setiap kali kurasakan ketika tiba-tiba ia datang ke rumah dengan alasan anak-anaknya kangen pada ibu. Sedang aku tahu setiap ia berkunjung ke rumah, ia mempunyai niat materiil.


Karena aku tak mau banyak ribut, biasanya kuberikan seadanya. Namun ternyata dia seperti keenakan.. Datang lagi dan lagi. Tiap awal bulan selalu memborbardirku dengan pesan, adik-adik nanti nggak bisa sekolah, adik-adik lapar, adik-adik sakit.. Bisakah kau tunggu saja... Tanpa harus kau menghiba-hiba aku kan coba menuntaskan sesuatu yang seharusnya tak menjadi kewajiban untukku.


Sungguh untuk melakukan semua ini, aku harus berperang dengan dua belah hatiku. Di satu sisi berpendapat ini bukan tugasku. Sedang ketika adik kandungku masih hidup saja aku tak sempat membahagiakannya. Lantas untuk apa aku menanggung kehidupan anak-anak dari perempuan yang pernah meremukredamkan hati ibuku dan menghancurkan hubunganku dengan bapak?


Sedang sisi hati lain menggetarkan kemanusiaanku... Bukankah sebaik-baiknya bersedekah adalah kepada orang yang terdekat? Dan mereka adalah adik-adik tirimu, seberapa besar kau menyangkal ada darah yang sama mengalir dalam tubuhmu dan tubuhnya; darah bapak.


Jika boleh kuluapkan amarah. Sejak aku mengenalmu, taukah kau apa yang ingin kulakukan pertama kali? Aku ingin menarik rambutmu, membakarnya hingga habis, mencabik-cabik dan memotong tubuhmu hingga tak nampak lagi di muka bumi. Ya, aku tak pernah ingin melihatmu lagi di depanku. Karena hanya duka yang menyesakkan dada setiap beradu pandang denganmu.


Sejak usia 17... Aku menghabiskan waktu untuk membencimu, mengutukmu atas kesialan-kesialan yang pernah menimpa hidupku. Menekan kegilaanku untuk menghabisi hidupmu, hidup anak-anakmu. Seringkali ketika bipolar effect itu datang, lebih baik aku tak menemuimu daripada aku mengeluarkan kata-kata yang membuatku semakin merasa ampang.


Mungkin buat orang lain ini perkara sepele. Tapi tidak untukku. Mengalahkan sisi hati yang tak rela demi memenangkan rasa kemanusiaanku adalah proses yang panjang. Menyisihkan egoisme demi menjadi manusia yang lebih baik, lebih pemaaf... Jika aku boleh memilih aku ingin kau merasakan bagaimana kamu merasakan hidup susah gegara kesialan yang kau bawa masuk dalam kehidupan kami? Tapi apa itu membuatku lebih baik? Tidak... Dendam hanya membuat hidup penuh kegelapan dan aku tidak mau hidup seperti itu lagi.


Aku berhak bahagia... Dan untuk bisa meraihnya aku hanya cukup menjadi seseorang yang lebih ikhlas; menerima masa lalu yang mau bagaimanapun tak kan mungkin berubah... Dan berfokus pada hari ini untuk masa depan yang lebih indah.


Kelak kan kuceritakan pada gadis kecilku, luka dalam hidup itu biasa. Yang tidak biasa adalah jika kau tak berlama-lama menangisi luka itu dan memilih membalutnya dengan senyuman, niscaya kau akan lebih kuat setelahnya.




#satu sisi dunia
#going30series

0 comments:

Post a Comment

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.