Thursday, April 2, 2015

20 Jam Bersama Abah Ihsan: Yeaaay Mulai Juga Akhirnya...

Tepat pukul 9.00 Abah Ihsan menabuh genderang perang… Alhamdulillah akhirnya PSPA resmi dimulai. Sebelum memasuki materi, Abah Ihsan menyetel frekuensi dan membukakan pikiran kenapa kami, para orang tua, harus belajar mengenai cara mengasuh anak. Secara garis besar ada dua hal kenapa kita wajib belajar, yang pertama karena belajar adalah perintah Allah, kita tidak boleh berhenti belajar hingga kematian datang menjemput. Yang kedua, karena adanya perubahan zaman. Anak-anak jaman sekarang menghadapi zaman yang berbeda dengan kita. Itu kenapa dulu orang tua kita tidak terlalu butuh ilmu parenting, karena saat kita kecil stasiun televisi hanya ada sedikit, program-programnya pun tidak berbahaya untuk mental dan pikiran kita. Bandingkan dulu ada Ria Jenaka, Unyil, Keluarga Cemara, sekarang Ganteng-Ganteng Serigala, acara musik yang berisi banyolan-banyolan konyol, bahkan berita jaman dulu dengan jaman sekarang pun sangat berbeda. Berita jaman dulu lebih banyak berisi informasi yang penting, sedang berita jaman sekarang lebih banyak berisi tentang tindakan kriminal. Tahukah jika tayangan yang ditonton terus menerus secara tidak sadar bisa memicu kita untuk melakukan hal yang sama dengan yang kita lihat?

Selain televisi, tantangan lainnya dari internet, banyaknya sosial media macam Facebook, Twitter, Instagram juga mesin pencari macam Mbah Google yang semakin membuat anak-anak lebih suka hidup secara instan. Saat kita kecil orang tua menasihati, kita akan cenderung diam tak membantah, meski sebenarnya tidak setuju. Sedang anak jaman sekarang, bahkan dari usia balita saja sudah pintar membantah saat dinasehati. Jadi sekiranya, apakah bisa didikan ala bapak ibu kita dulu diterapkan untuk anak-anak jaman sekarang? Tentu saja tidak, dengan semakin berkembangnya zaman, maka kita juga harus mengantongi lebih banyak ilmu untuk bisa mendidik anak-anak sesuai dengan zamannya. Sumpee de nggak ngebayangin kalau jadi ortu kudet di jaman sekarang... 

Bahkan kita yang notabene sekarang mungkin telah menjadi “orang”, apakah benar-benar menyetujui cara mendidik orang tua kita? Banyak dari kita yang nyatanya terlihat sukses di depan namun tidak merasakan kebahagian. Banyak dari kita yang merasa sukses hanya karena telah berhasil membahagiakan kedua orang tua kita, sedang di satu sisi ada kebahagiaan diri sendiri yang terkesampingkan.

Saya sedikit tergelitik pada sebuah cerita yang disampaikan Abah. Ada seorang teman Abah yang berprofesi menjadi Tentara dan sudah berpangkat kapten. Semua orang menganggapnya sukses, karena telah memiliki jabatan dan harta yang berlimpah. Namun suatu hari beliau mengagetkan semua orang dengan keputusannya untuk berhenti dari pekerjaannya. Usut punya usut ternyata dia sebenarnya tidak ingin menjadi tentara, selama ini ia menjadi tentara karena permintaaan ayahnya. Setelah ayahnya meninggal, ia ingin sekali bisa meraih apa yang dicita-citakannya selama ini. “Aku sudah membahagiakan orang tuaku, sudah saatnya aku membahagiakan diriku sendiri.

Kenapa hal seperti ini bisa terjadi, bahkan sering terjadi? Semua dikarenakan adanya komunikasi yang terhambat antara orang tua dan anak, orang tua cenderung memaksakan apa yang mereka inginkan, namun jarang mendengarkan apa yang diinginkan anaknya. Apa kita juga ingin mewarisi cara mengasuh anak seperti ini? Tentunya kita perlu untuk memiliki ilmu yang lebih baik dari orang tua kita kan? Saat itu saya merasa bersyukur punya orang tua yang membebaskan saya memilih apa yang saya mau, saat rombongan orang tua memaksakan anak-anaknya masuk jurusan IPA, bapak ibu saya sangat mendukung saat saya memilih jurusan BAHASA. Saya pun kelak juga tidak akan memaksakan anak menjadi apa, namun saya harus bisa mengarahkan anak untuk mencapai cita-citanya tersebut.

Kesuksesan dan kebahagiaan seharusnya seiring sejalan, namun nyatanya banyak kita menemukan orang yang terlihat sukses justru tidak bahagia. Di satu sisi mungkin kita juga akan banyak menemukan orang yang bahagia sedang kehidupannya tidak terlalu sukses. Sebenarnya apa itu sukses, apa pula bahagia?

Sukses adalah ketika kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadi kalau ada orang terlihat sukses pada sebuah profesi tertentu, tapi ternyata sebenarnya ia tak menginginkan profesi tersebut, orang itu belum bisa dikatakan sukses. Sukses sendiri  tidak melulu soal materi. Abah Ihsan mengingatkan bahwa sukses itu berkaitan dengan 4Ta yaitu harta, tahta, kata dan cinta. Ada orang yang sukses karena memiliki banyak harta, ada orang yang sukses karena memiliki kekuasaan, ada orang yang sukses karena kata-katanya didengar dan menginspirasi banyak orang dan ada pula orang yang sukses karena keluarganya hidup penuh cinta kasih. Kira-kira saya dan moms dads sudah sukses belum nih? :)

Tidak selamanya kesuksesan yang kita miliki bisa membawa kebahagiaan. Rasa bahagia itu bisa terwujud jika kita merasa ingin atas apa yang telah kita dapatkan. Maksudnya, ketika kita mampu bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Apalah artinya memiliki mobil sebanyak warna baju yang kita miliki namun kita tidak mensyukuri hal tersebut, tak kan ada kebahagiaan yang terjalin. Sedang ada kalanya seseorang hidup dengan sederhana namun penuh cinta, dia justru bisa merasakan kebahagiaan. Duh, kejewer lagi nih kuping... Nikmat Tuhanmu Manakah yang Engkau Dustakan, euy...

Nah, sebagai orang tua yang baik… kita sangat diharapkan untuk bisa mendidik anak-anak kita untuk tidak hanya sekedar sukses, namun juga bahagia. Dan salah satu ciri orang tua yang baik adalah orang tua yang mau belajar...  orang tua yang mau update ilmu dan info-info terbaru tentang how to raise children, how to be good parents. Semoga saya termasuk salah satu dari orang tua baik itu... begitu juga dengan moms and dads yang singgah kemari ya... Sayangnya masih banyak yang tidak mau belajar mengenai parenting, mengenai ilmu-ilmu keayahbundaaan.. memakai cara-cara warisan orang tua kita untuk mendidik anak-anak yang hidup di zaman yang serba berbeda dengan kita dulu. Padahal di beberapa negara, ada yang sudah mewajibkan warga negaranya untuk mengikuti program keayahbundaan sebagai syarat menjadi orang tua. Di Israel selama enam bulan ada program untuk para calon orang tua, mereka dididik bagaimana mengasuh anak sesuai standar pemerintah. So, kita dukung yuk salah satu program Pak Anies Baswedan tentang adanya divisi keayahbundaan, insya Allah ini nggak remeh temeh lo.. Mungkin untuk orang-orang yang sinis mereka akan bilang buat apa divisi itu, tapi kalau lebih seksama memperhatikan... penting sekali orang tua dan calon orang tua belajar cara mendidik dan mengasuh anak agar bisa menghasilkan anak-anak yang berkualitas.

Banyak yang sinis dan nyinyir.. jika ada orang yang mau belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik… “Ngapain sih ilmu parenting, toh ortuku dulu nggak pake kaya gitu aku juga jadi ‘orang’, halah teori mah gampang.. prakteknya itu lo emang bisa yaa, baru punya anak satu aja belagu, ngurus anak satu aja masih belum bener.. gaya aja pake ngajakin ikut parenting-parentingan…” Kira-kira begitulah sederet ‘godaan setan’ yang akan kita dengar, namun kata Abah Ihsan.. teguhkanlah hati, pasti ada perbedaan antara orang yang mau belajar dan tidak.

*Salah satu sesi dalam PSPA Semarang
Mungkin memang hasilnya tidak langsung terlihat karena tidak ada sesuatu yang tercipta instan, namun dengan belajar otomatis kita akan memiliki motivasi untuk menjadi lebih baik dan menciptakan perbedaan setiap harinya. Sayangnya motivasi ini seperti iman, suka banget naik turun cantik. Biasanya setelah ikut seminar parenting motivasi untuk menjadi orang tua yang lebih baik akan meningkat drastis, namun selang beberapa hari, minggu atau bulan bahkan tahun, motivasi itu mengendur. Wajaar… Namun jika boleh dibuat kurva, yang naik turun itu motivasinya, namun perubahan dalam pola asuh pasti akan memperlihatkan kenaikan ke arah yang lebih baik. Seperti juga iman yang harus dijaga lewat terus ikut pengajian, menjaga sholat dan baca quran. Untuk menjaga motivasi dalam menjalankan pola asuh yang baik sangat penting sekali untuk upgrade diri dengan rajin belajar; ikut seminar parenting, baca buku tentang parenting, bertemu teman dan komunitas yang menitikberatkan pada pengasuhan anak, dsb.

Anak dengan orang tua yang pembelajar akan lebih mudah untuk diarahkan menjadi manusia pembelajar karena pikirannya akan terkonsep, “ayah bunda saja sudah tidak sekolah – sudah tua masih mau belajar, berarti aku juga harus rajin belajar dong.”

Abah Ihsan kemudian memberikan informasi program-program yang diselenggerakan oleh Auladi Parenting School. Adapun program-programnya antara lain:

PSPA – Program Sekolah Pengasuhan Anak: Program pendidikan untuk orangtua ini ditujukan untuk orangtua atau untuk calon orangtua, untuk memahami dasar-dasar dari pengasuhan dan pendidikan anak di rumah. Program ini diselenggarakan selama dua hari  dengan hari pertama mulai pukul 08.00 - 18.00 dan hari kedua pukul 07.30 - 18.00 waktu setempat.
PDA – Program Disiplin Anak: program Pendidikan Orangtua yang dirancang khusus untuk orangtua yang memiliki anak usia 0-12 tahun atau siapapun yang terlibat dalam pengasuhan anak usia 0-12 tahun. Durasi program 1 hari dengan dari pukul 08.00 – 17.00 Program ini membahas teknik-teknik dasar mengatasi perilaku-perilaku dasar anak yang tidak diharapkan dan mendorong perilaku anak yang diharapkan.
KCR- Karunia Cinta Remaja:  program yang diselenggarakan untuk orangtua yang memiliki anak 12 tahun atau lebih atau memiliki anak dengan usia yang dianggap remaja. Program ini berlangsung 1 hari, sekira 7-8 jam dimulai pukul 08.00 dan berakhir sekira pukul 17.00.
PAT – Parent as Teacher: Program parenting ini adalah berbentuk sesi singkat, ceramah dan seminar parenting umum dengan tema-tema yang customized, sepanjang berkaitan dengan masalah pengasuhan dan pendidikan anak.  Tema-tema yang dibahas dapat disesuaikan (customize atau pilihan dari tema-tema yang sudah kami sediakan). Durasi program hanya tiga jam. Program ini disediakan untuk pihak yang ingin sekadar "mencicipi" dulu program kami karena keterbatasan waktu, biaya dan lain-lain. Program ini adalah program pengenalan sebagaai "pembuka" program yang lebih kompleks: PSPA-PDA-KCR.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai bentuk program dan jadwalnya bisa dicek di web Auladi.

Latar belakang mengapa pentingnya diadakan PSPA karena banyak sekali orang tua yang mengeluh betapa banyak anak-anak yang bermasalah. Bukan hanya permasalahan besar macam terjerat narkoba atau hamil di luar nikah, namun juga permasalahan-permasalahan yang kerap membuat orang tua tegang urat syarafnya alias marah-marah setiap hari. Anak yang suka berantem, rewel, kecanduan TV dan internet, tidak patuh, lelet, konsumtif dan tidak mandiri adalah beberapa hal yang kerap menjadi alasan orang tua emosi dan melabeli anak menjadi ANAK NAKAL. Padahal sebenarnya kondisi-kondisi tersebut terjadi 80 persen akibat pola asuh orang tua yang salah dan 20 persen alamiah. Sayang sekali banyak orang tua yang masih belum menyadari bahwa kita turut andil menyebabkan anak-anak kita memiliki sisi-sisi negatif dan meletakkan semua kesalahan pada anak.

Abah Ihsan sempat memutarkan beberapa rekaman testimoni dari para peserta PSPA di berbagai kota. Sebagian besar dari mereka merasakan setelah ikut PSPA mata hati dan pikiran mereka jauh lebih terbuka dan bisa memahami anak dengan lebih baik. Mereka kemudian menyadari pentingnya komunikasi dan kerjasama dalam keluarga untuk mengasuh anak yang sesuai dengan standar. Orang tua memang sebaiknya memang menjadi pembelajar, karena secerdas dan sepintar apapun kita waktu di sekolah/ kuliah tidak akan ada artinya ketika tidak mau meluangkan waktu untuk belajar menjadi orang tua yang benar. PSPA sangat bermanfaat untuk mengingatkan para orang tua bahwa jangan sampai anak-anak lebih terpengaruh orang lain daripada orang tuanya.

Abah Ihsan juga meminta agar seluruh peserta nantinya membagi ilmu yang didapatnya kepada saudara-saudara, teman-teman atau kerabatnya. Berbagi adalah salah satu bentuk untuk mengikat ilmu agar tidak hilang dan lenyap. Selain itu ketika kita membagikan ilmu, semakin banyak orang yang tahu semakin kita akan merasa malu ketika kita tidak menjalankan ilmu tersebut.  Sayangnya membagikan apa yang didapat di PSPA itu suliiiiiiit sekali.... karena apa? Kalau bukan Abah sendiri yang menyampaikan rasa-rasanya seperti TEORI saja... beda ketika moms and dads meluangkan waktu untuk hadir sendiri.... RASAKANLAH bagaimana aliran semangat dan energi yang nanti disalurkan oleh abah menjadi sebuah motivasi yang luar biasa untuk MAU BERUBAH menjadi ortu betulan. Makanya jangan bosen ya kalau beberapa hari atau minggu ke depan postingan saya masih tentang PSPA... karena semangat yang meledak-ledak ini harus dijaga agar tidak padam.... Perubahan-perubahan yang terjadi harus dicatat agar tidak hilang ditelan masa. Diharapkan dengan semakin banyaknya orang tua yang mengikuti PSPA akan semakin banyak orang tua yang berkualitas sehingga akan lahir generasi masa depan yang semakin berkualitas, tidak ada lagi anak-anak tawuran, ikut geng motor, ikut aliran sesat, ikut tawuran, terjerat narkoba ataupun hamil di luar nikah.

Menurut Abah Ihsan setelah reformasi Indonesia telah menjadi negara paling liberal, bahkan lebih liberal dari negara-negara barat. Banyak hal yang dilarang di negara barat justru dilakukan di Indonesia. Saat kita berada di negara-negara Eropa yang maju semacam Inggris, Jerman, ada banyak peraturan yang membatasi warga negaranya. Namun karena konsisten dilaksanakan maka negara-negara tersebut teratur. Berbeda dengan Indonesia, aturannya ada namun tidak ada tindakan yang real ketika aturan tersebut dilanggar. Contohnya; larangan merokok di tempat umum, ada aturannya ada dendanya, namun nyatanya banyak yang merokok di tempat umum dan tidak ditindak.

Untuk bisa mengatur sebuah negara dengan baik diperlukan pemimpin yang kuat dan tegas, namun tidak otoriter. Pemimpin yang lembek hanya akan membuat negara semakin tak teratur dan tak berarah. Begitu juga menjadi orang tua; tegas itu wajib namun dalam menjalankan ketegasan tidak boleh melakukan kekerasan dan menyakiti anak, lemah lembut itu perlu dalam mendidik anak namun lembek itu harus dihindari. Sebaik-baiknya cara mengasuh anak adalah dengan tidak boleh terlalu dikekang namun juga tidak boleh terlalu bebas. 

Orang tua yang terlalu mengekang anaknya, terlalu memberikan banyak larangan akan membentuk anak menjadi pribadi yang tidak kreatif dan tak bisa mengambil keputusan sendiri. Di sisi lain orang tua yang terlalu memberikan kebebasan terhadap anak akan menjadikan anak liar dan semaunya sendiri. Maka marilah benahi diri kita masing-masing sebelum kita membenahi anak kita.

Nantinya akan ada 9 PR yang wajib dikerjakan oleh para peserta PSPA di rumah. PR tersebut merupakan intisari dari program ini. Nantikan di postingan berikutnya yaaa :)

*Foto diambil dari Akun Sekolah Alam Ar Ridho

0 comments:

Post a Comment

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.