Thursday, April 9, 2015

Di Sini Kadang Saya Sedih...

Sekedar cerita,


Tahun 90, usia saya masih 21, saya pernah kuliah dakwah di Ma'had AlHikmah, saat itu pendekatan dakwah para aktifis nyaris lebih banyak kpd pendekatan perlawanan konspirasi Yahudi, gerakan pemurtadan, ghozwulfikri dsbnya.



Belum lagi era Suharto ketika itu menutup mulut banyak aktifis dengan represif. Mengajipun harus sembunyi2. Suasananya terlihat tenang di permukaan namun bergejolak di bawah permukaan. Bagai api dalam sekam. Gairah muncul lebih banyak krn kemarahan bukan kecintaan.



Terbayang kah bila mulut dibungkam, sementara gairah Islam membuncah2, rasanya ingin meledak tak terbendung lagi, padahal saat itu bahkan ada pembantaian yang sama spt hari ini di Gaza, bahkan di Bosnia, Kashmir, Moro dstnya.



Di tengah gairah perlawanan itu, saya terkesan dan masih berkesan sampai hari ini, dengan pembahasan tafsir guru saya ust Hasib Hasan Lc ketika beliau membahas tafsir beberapa ayat awal Surat alBaqoroh. Kami rutin setiap pekan sekali membahas tafsir.

Ayatnya sederhana, sering kita dengar dan baca... namun maknanya ternyata mendalam

"...yukhodiunaLlah WA ladzina aamanu, wamaa yakhdauna ila anfusihim"

Mereka ingin menipu Allah dan orang2 yang beriman, dan tidaklah tipuan itu menipu kami kecuali kembali kepada diri mereka"

Ustadzuna Hasib Hasan Lc, mengatakan bahwa dalam ayat itu, Allah dan Orangberiman hanya dipisahkan oleh huruf "wa", ini menggambarkan betapa dekatnya hubungan keduanya.

Nah jika Allah dan orangberiman sangat dekat hubungannya, maka semua tipu daya siapapun akan berbalik ke diri mereka sendiri alias ga ngaruh!

Bertahun tahun kemudian, setelah Suharto lengser, Reformasi sdh berjalan 15 tahun lebih, ternyata kondisi ummat Islam masih sama saja. Musuh seolah semakin hebat, ummat semakin panik. Syiah yang sudah membagi2kan buku Khomeini dan videonya sejak tahun 80an, kini seolah muncul lagi bagai monster Godzilla yang lebih menakutkan, padahal bisa saja, bukan mereka yang membesar namun mungkin kitanya yang melemah.

Bertahun2 kemudian, saya kira ayat alBaqoroh di atas selalu relevan. Fokuslah dekat kepada Allah dalam semua aspeknya, jangan fokus pd musuhnya. Tipudaya musuh itu sungguh2 lemah.

Mengapa kita mudah panik, karena kita mungkin tidak dekat dengan Allah. Kebencian kita kpd makhluk mungkin menghalangi kedekatan kita kepada Allah

Waspada boleh, tetapi membesarkan musuh sampai keder, ya jangan, apalagi panik. Kekuasaan itu bukan di tangan rakyat dan bukan di tangan musuh, apalagi di tangan syiah tetapi di tangan Allah swt. Yakinlah. Ini yang mesti disadarkan dalam diri anak2 kita, bukan seolah2 malah membesar2kan musuh.

Jangan sampai kita sibuk membahas musuh, sementara pendidikan anak2 kita diserahkan pd lembaga, pd oranglain, pd yayasan, dsbnya dengan alasan tidak bisa mendidik sendiri.

Mengapa Mizan terlihat hebat, ya karena sejak tahun 80an mungkin belum ada penerbit Islam yang bisa sebesar Mizan, salah siapa? Kita masih sibuk mengutuki sejak tahun 80an, mereka sudah membuat banyak film, salah siapa? Kita masih menghalangi anak2 kita yang berbakat penulis, sutradara, seni teater dll, sementara kita kewalahan membendung film2 yang kita anggap bukan produk Islam.

Saya hanya mengingatkan bhw jika kebencian kita sampai menjadi obsesi dan masuk ke alam bawah sadar, ini akan terbawa ke rumah rumah kita, ke alam fikiran anak anak kita, ini lebih buruk dari Syiah itu sendiri. Itu menghambat tumbuhnya fitrah2 yg baik. Buatlah anak2 kita mencintai Allah, RasulNya dan kebenaran, maka kebathilan akan lenyap.

Mari kita fokus merawat dan menumbuhkan fitrah anak anak kita. Agar anak2 kita "sangat dekat" dengan Allah. Kedekatan tidak diukur dari jumlah ilmu agama, namun dari kecintaan dan kesadaran.

Siapapun yang fitrahnya lurus, dia dekat kepada Islam dan pasti mampu membedakan alhaq dan albathil. Seberapa hebatnya sih taqiyah dibanding kekuatan nurani yang berangkat dari fitrah keimanan yg tumbuh krn keridhaan dan kecintaan?

Siapapun yang fitrahnya menyimpang maka dia menjauh dari Islam, walau terlihat banyak amalnya.
Mari sibukkan memperbaiki internal ummat, membangun pendidikan generasi yang sesuai fitrah, maka kekuasaan akan Allah berikan dengan sendirinya.

Mari sibuk membuat pacuan kebaikan sendiri (surpetisi), bukan pacuan dengan agama lain (kompetisi). Jika dekat kpd Allah, maka kekuasaan itu otomatis diberikan kpd kaum Mukminin.

Nasehat SunZhu, kemenangan itu adalah menghantam titik lemah musuh dengan titik kekuatan kita.
Maka lontarkanlah alHaq, sehingga alBathil sirna. Maka fokuslah pd alHaq.

Salam Pendidikan Peradaban 

Ust Harry Santosa



Melihat berita dan BC yang saat ini banyak disebar mengenai dilarangnya mengenai film yang diproduksi oleh Mizan Production karena dikhawatirkan bahwa isi film tersebut menyimpang dari Islam, karena diproduksi oleh perusahaan yang katanya milik syiah. Dikhawatirkan pula kalaupun isi film tidak menyimpang, maka dana yang dihasilkan dari film tersebut pasti dialirkan untuk kepentingan syiah... di sini kadang saya sedih.... 


Saya menulis ini bukan karena saya berjualan beberapa buku yang diterbitkan Mizan (wong jualannya lakunya juga nggak seberapa -- alias nggak niat ngiklan dan memang jualan bukan passion dan sumber rezeki utama saya), namun lebih kepada apakah kita harus selalu menggeneralisasi sesuatu hanya karena brand tertentu?

Hmm, mungkin ilmu agama saya memang masih terlalu cethek, hingga tak memahami yang teman-teman maksud dengan JAUHI, JANGAN TONTON, JANGAN JUALAN, JANGAN BACA produk-produk dari syiah...

Beberapa inbox sempat masuk ke akun fesbuk saya dan memperingatkan "Hati-hati lo, penerbit Mizan itu milik syiah.. " Saya hanya mampu menjawab... "Insya Allah saya sudah tabayyun.."

Sebelum saya berjualan buku-buku dari Pelangi Mizan yang harganya memang selangit itu (makanya seringnya cuma bisa kebeli lewat arisan), saya tentunya sudah tany-tanya dulu ke teman-teman saya tentang kualitasnya dan isi bukunya.. benarkah bahwa simpang siur mengenai Mizan dan syiah... insya Allah teman-teman saya ini pemahaman dan ilmu agamanya jauh lebih baik dari saya... dan mereka bilang semua pilihan di tangan saya, namun sejauh yang mereka tahu insya Allah isinya aman untuk anak-anak. Dan alhamdulillah  ketika saya akhirnya memutuskan membeli Halo Balita dan Nabiku Idolaku, insya Allah isinya aman.

Beberapa teman yang terus saja mencoba membuka pikiran saya tentang bahaya syiah terus meminta untuk menghindari buku-buku Mizan, apalagi menjualnya.. saya beranikan diri untuk bertanya... sudahkah pernah membaca buku-bukunya... begitu juga tentang film yang dirilis dari Mizan, sudahkah pernah menonton filmnya.. tolong tunjukkan pada saya letak menyimpangnya... agar saya bisa belajar... karena saya memang cethek sekali ilmu agamanya... Mereka tak mampu menjawab.. hanya bisa menyarankan "selama masih ada buku-buku dari ahlussunnah, maka lebih baik beli buku-buku tersebut.." Sayangnya buku untuk anak-anak yang sesuai sunnah masih sangaaaat terbatas jumlahnya.... sedang anak-anak fitrahnya menyukai keindahan... menyukai cerita-cerita kebaikan... buku-buku anak terbitan dari penerbit yang nyetak buku-buku ahlussunah bagus-bagus, saya juga memiliki beberapa buku itu kok.. seneng malah karena harganya lebih aman di kantong... tapi ya itu tadi masih sangaaat terbatas jumlahnya.. untung sekarang Rumah Pensil semakin banyak pilihan bukunya... bisa jadi salah satu alternatif :)

Selain buku-buku yang saya jual dan saya beli sendiri, beberapa buku yang diterbitkan oleh lini-lini Mizan juga banyak yang recommended. Seingat saya, Oki Setiana Dewi pernah menerbitkan buku di Mizan, Laskar Pelangi the series juga diterbitkan di salah satu lini penerbitan Mizan, bahkan filmnya pun diproduksi Mizan... (kok nggak rame seperti sekarang ya...), Ustadz Felix Siauw juga pernah menerbitkan buku di Mizan, Abah Ihsan Baihaqi juga pernah menerbitkan buku di Mizan... lantas apa karena salah satu pendiri Mizan (cuma salah satu dari tiga pendiri utama) diketahui beraliran syiah, kita menutup diri dari membaca buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit ini? Yaa, sebaik-baik buku dan ilmu adalah ilmu dari al quran dan sunnah... tapi saya rasa kita pun perlu membuka diri dan belajar dari buku-buku di luar itu agar wawasan kita terbuka.. Yang saya rasakan semakin wawasan kita terbuka, semakin kita bisa melihat betapa besarnya dunia dan betapa kecilnya kita.. makhluk yang lemah tanpa adanya Allah, sang pencipta...

Jika buku-buku yang jelas ditulis oleh penulis Syiah (setahu saya Mizan punya lini khusus untuk menerbitkan buku-buku dari para penulis ini--- ini yang harus dihindari, kalau menurut saya), lagu-lagu yang ditulis oleh penyanyi beraliran Syiah, film-film yang disutradarai oleh orang syiah... jelas kita harus waspada... karena semua itu merupakan bentuk pemikiran mereka yang bisa jadi merusak aqidah kita... Namun jika penulis tidak beraliran syiah macam OSD, ustad Felix Siauw, abah Ihsan, saya rasa insya Allah tidak masalah jika kita membacanya... Film-film yang pernah diproduksi Mizan seperti Emak Naik Haji idenya dari novel Asma Nadia.. bahkan film terbaru Ada Surga di Rumahmu diangkat dari tulisan Ustad Al Habsyi bahkan produsernya beliau sendiri, beliau merangkul Mizan karena perlu production house.. sebuah kerja sama, muamalah... salahkah? Saya yang awam ini cuma bisa bilang entahlah...

Produk apapun itu, baik buku atau film, entah siapapun yang menerbitkannya, saya rasa layak bagi kita untuk hati-hati... karena pasti ada sisi positif dan negatifnya... kita harus bisa menyortirnya.. ambil positifnya dan buang sisi negatifnya... itu pemahaman saya yang awam ini. Kalau semua liat di produsernya orang apa, agamanya apa ya susah... bahkan Frozen yang jelas-jelas dibikin sama orang kafir aja punya sisi positif... jarang-jarang ada film kartun bagus... 

Jangan Terpecah Wahai Saudaraku Seiman
Menurut saya, kita perlu memperluas pandangan kita untuk mengetahui kelemahan lawan... if we think syiah is enemy, we should find where are their weaknesses... then we can defeat them, bukan cuma berkoar-koar anti syiah anti syiah saja... tapi bahkan mereka banyak yang profesor, doktor dan lain sebagainya... mereka baca apa yang kita baca... mereka lihat apa yang kita lihat, tapi mereka juga baca apa yang tidak kita baca dan mereka juga lihat apa yang tidak kita lihat. bahkan mereka punya banyak yayasan yang disalurkan langsung ke rakyat yang tak mampu... sedang mungkin kita yang selama ini koar-koar anti syiah apa pernah turun langsung ke jalan mbantuin rakyat yang membutuhkan... lantas kalau ada rakyat miskin yang dikasih sembako oleh pihak-pihak tertentu hingga berpindah-pindah keyakinan, kita cuma bisa bilang "haram hukumnya menggadaikan keimanan hanya demi sesuap nasi..." La kita sudah nglakuin apa buat mereka selain bisa koar-koar ini itu? Begitu juga dengan syiah.. kita sibuk melarang apa yang mereka buat...  koar-koar mereka harus dihindari... tanpa berusaha mengambil sisi positif yang mungkin bisa kita dapatkan dan kita pelajari untuk mengalahkan mereka, mengetahui seberapa besar kekuatan mereka. Dengan kata lain musuh yang kita hadapi wawasannya jauh berkembang di atas kita, bahkan mungkin mereka bisa membaca kelemahan kita, sedang apa yang kita tahu tentang mereka selain mereka itu BAHAYA, PINTAR TAQIYAH dan WAJIB DIWASPADAI dan DIHINDARI?

Di sini kadang saya semakin sedih ketika saat seperti ini yang katanya MEMPRIHATINKAN, membahayakan, pihak-pihak yang katanya ahlusunnah berkoar-koar tentang anti syiah, tapi disisi lain juga klaim saling benar... tidak BERSATU... Golongan A bilang mereka yang paling benar, C salah, Golongan B merasa mereka benar, A salah... dan seterusnya, tak ada titik temu benar-benar seperti buih.

Saya jadi merinding kalau suatu hari syiah benar-benar menguasai negara kita, saya kok jadi takut sungguh bukan karena kita tidak mau mengerti akan bahayanya syiah.. tapi karena antar golongan klaim saling benar... tidak bisa bersatu padu yang akhirnya justru membuat ukhuwah islamiyah kita lemah. Disaat kita terpisah-pisah, semakin membesar-besarkan syiah, tapi di sisi lain lupa menguatkan ukhuwah antar golongan, lupa menguatkan akhlak sendiri dan lupa merangkul saudara seiman yang bingung harus berteduh di golongan yang mana, syiah justru menjadi semakin kuat... then... buum!



Kenapa tidak belajar dari yahudi yang memang diakui sebagai kaum terpintar.. mereka pintar karena mereka mau belajar, bukan menutup diri... mereka ambil yang mereka perlukan dan buang yang tak mereka butuhkan...

Dan jujur di sini saya semakiiin merasa sediiih ketika... kami yang berusaha menghindari fitnah, yang berusaha untuk tabayyun dulu sebelum bilang Y adalah Y dan Z adalah Z justru dianggap pembela syiah... dianggap tidak peduli... dianggap cuek pada masalah umat.... :(

Namun Alhamdulillah dipertemukan dengan status seorang teman yang share catatan dari ustadz Harry Santosa  di atas. Rasanya adeem setelah itu, semakin yakin bahwa ada hal lain yang insya Allah lebih penting.... waspada itu perlu, tapi terlalu membesar-besarkan musuh itu juga membahayakan... bahkan terlalu ketakutan akan begini akan begitu... iya Syiah memang berbahaya, syiah memang bukan Islam dan kita patut berhati-hati... namun tidak lantas bersuuzon kepada Allah bahwa Indonesia kelak akan hancur seperti Suriah, dan lain-lain... Kenapa tidak minta pada Allah agar negara dilindungi, agar ukhuwah antar golongan semakin kuat, Muhammadiyah, NU, Wahdah Islamiyah, HT.. dan masih banyak lagi... mari kita saling berangkulan tanpa melihat golongan ini itu... bukankah Islam adalah rahmatan lil alamin? Bagaimana kita bisa berbagi rahmat sedang antar golongan masih saling tunjuk satu sama lain... Mari bersatu padu menjaga Negeri ini agar tidak semakin jauh dari nilai-nilai Islam...


Semoga kita termasuk orang yang tak terjerat tipu daya syiah, tapi juga termasuk yang open minded untuk tidak menggeneralisasi semua produk yang dikeluarkan oleh syiah atau yahudi itu buruk... produk itu bagai pisau, bisa jadi senjata yang mematikan di tangan pembunuh, tapi bisa jadi alat yang helpful saat di tangan seorang chef... sebagaimana hp, sebagaimana fesbuk, sebagaimana film... film bisa merusak jika kita yang nonton  nggak pake ilmu dan nggak pake tabayyun :)



*tulisan dari orang bodoh yang sedang belajar menjadi muslimah yang benar...

rasanya akan jadi omong kosong aku pernah menjadi kontributor dari sebuah buku yang menganjurkan orang lain berpikir positif, jika aku masih melihat sesuatu hal dari kacamata negatif... Semoga Allah melindungiku, keluargaku, saudarasaudara seimanku dan negaraku dari bahaya-bahaya yang kami takutkan akan terjadi.... semoga ketakutan-ketakutan ini tidak menjadi bentuk suuzon kami padaMU, melainkan menjadikan kami untuk lebih memperkuat keimanan, akhlak serta ukhuwah islamiyah....Hanya kepadaMU-lah kami berpasrah dan meminta petunjuk pada jalan yang lurus, jalan yang sebenar-benarnya akan membawa kami padaMU.. aamiin





1 comment:

  1. Terima kasih mbak pencerahannya :)
    Insyaallah kalau kita dekat dengan Allah, ikut kajian, diskusi, jadi lebih tau tentang ilmunya.. :)

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.