Monday, February 15, 2016

Terima Kasih Mass Market, Kalian Sempurnakan Hidupku!



Ngobrolin mass market atau yang bahasa kerennya biasa disebut dengan  para pelaku industri mikro ini memang begitu mudah ditemui di sekitar kita. Dari tukang sayur keliling, penjaja kuliner yang menawarkan dagangan mereka dari gang ke gang, rumah ke rumah, hingga tukang sol sepatu yang dengan setia menawarkan jasanya meski terik mentari mendera.

Keberadaannya seringkali kita abaikan, mereka datang dan pergi melewati rumah demi rumah kita jarang memperhatikannya, bahkan terkadang untuk sekedar membalas senyuman yang mereka lemparkan pun kita begitu enggan. Namun begitu kita membutuhkan jasa mereka, kita sangat mengharapkan bahkan menunggu mereka datang.  Ya, seringkali kita mengerti betapa  kita membutuhkannya justru saat mereka tidak hadir di hadapan kita.

Tak bisa kita pungkiri, para pelaku industri mikro ini telah memberikan manfaat dan pengaruh besar terhadap kehidupan kita. Saya sendiri sangat merasakan begitu banyak manfaat yang saya dapatkan dari kehadiran mereka,  terutama dari tiga pelaku mass market yang sering saya pergunakan jasanya.

Yang pertama adalah Mbak Narti. Perempuan setengah baya yang bersuara khas ini sedari pagi telah mendorong gerobaknya dari gang ke gang untuk menawarkan dagangannya. Sayuran segar, daging ayam, ikan segar, hingga buah-buahan memenuhi gerobaknya. Satu per satu mulai terjual dan ia pun akan pulang dengan membawa seutas senyum karena dagangannya laris manis.




Mbak Narti ini tukang sayur langganan keluarga saya. Selain ramah, ia juga sangat ringan tangan. Tidak hanya membantu saya membawakan sayuran dan belanjaan harian yang saya butuhkan. Saya yang notabene suka (baca: sering) malas masak ini sangat terbantu dengan kehadirannya. Ia seringkali menawarkan masakan yang sudah matang hingga saya tak perlu repot-repot mengolah sayur dan lauk pauk, tinggal lep dan kenyang. Masakan hasil olahannya pun cukup lezat dan cocok di lidah.

Karena rumahnya yang terletak di kampung dekat perumahan tempat keluarga saya tinggal, beberapa kali saya juga sempat menitipkan anak saya padanya ketika harus hadir pada sebuah acara yang tak memungkinkan mengajak si kecil. Rumahnya dengan pekarangan yang cukup luas dan banyak hewan ternak berkeliaran membuat anak saya betah berlama-lama tinggal di sana. Apalagi Mbak Narti punya cucu yang seumuran dengan anak saya.

Begitulah, mbak Narti telah mampu menyempurnakan hidup saya dengan cara yang sederhana, namun begitu penuh manfaat dan arti. Ia tak hanya sekedar tukang sayur, namun sudah seperti sahabat dan kerabat bagi keluarga saya.

Pelaku mass market berikutnya yang sangat berarti bagi kehidupan saya adalah tukang sol sepatu yang selalu lewat di depan rumah tiap hari menjelang siang. Dengan teriakan khasnya, “sol sepatu”, bapak itu selalu lewat dengan semangat membaranya untuk menjemput rizki. Tidak gentar pada panas matahari yang menghunjam, juga hujan deras yang kadang menyapa. Ada atau tidak ada yang membutuhkannya, ia akan selalu menawarkan jasanya dengan penuh semangat. Sudah beberapa kali saya menggunakan jasanya, dari menjahit sandal kesayangan saya yang sol bawahnya mulai terbuka hingga memperbaiki sandal gunung suami yang rusak padahal baru dipakai sehari karena kakinya yang kegedean. Begitu sederhana, namun tanpa kehadiran si bapak, saya dan suami harus beli sandal baru lagi yang tentunya harus merogoh kantong lebih dalam.



Memiliki badan yang tak terlalu tinggi cukup membuat saya sering membeli gamis yang kepanjangan. Ukuran standar gamis yang sesuai dengan besar badan saya biasanya cenderung lebih panjang dari tinggi tubuh saya. Saya yang harusnya menggunakan gamis dengan ukuran panjang 130 hingga 132 cm sering terpaksa harus membeli gamis dengan panjang 135 hingga 140 cm. Gamis yang terlalu panjang jika dipakai jelas sangat menyusahkan saat berjalan, bisa-bisa saya terjatuh karena menginjak ujung bawah gamis tersebut. Syukurlah saya punya langganan tukang jahit di pasar yang selalu siap sedia untuk memotongkan gamis sesuai dengan ukuran tubuh saya. Agar tak berkali-kali datang, biasanya saya kumpulkan gamis yang hendak saya potong hingga tiga atau empat stel, baru saya meminta si ibu penjahit untuk memendekkan gamis-gamis tersebut.

Selain memotong gamis, saya sering menggunakan jasanya untuk menjahit celana suami yang robek ataupun membuatkan seragam PKK dan seragam kantor suami. Meski harga yang dipatoknya sangat murah dibandingkan penjahit yang sudah punya cukup nama di daerah itu, namun hasil jahitannya tidak mengecewakan. Terbukti banyak orang berbondong-bondong ke tempatnya. Tak jarang ketika saya tiba di lapaknya yang cukup sempit, ia berkata “kalau mau ditinggal mbak, seminggu lagi diambil ya.” Pernyataan tersebut dan juga beberapa kantong plastik berisi kain dengan label nama yang berbeda menjadi tanda bahwa banyak yang puas dengan hasil jahitannya.



Lapaknya yang sederhana, patokan harga yang terjangkau dengan hasil yang memuaskan telah mampu membuat saya selalu ingin lagi dan lagi menggunakan jasanya.

Para pelaku mass market di sekeliling saya ini telah mampu mengajarkan saya tentang kesempurnaan hidup. Betapa setiap orang di dunia ini saling membutuhkan. Sekecil apapun yang orang lain berikan kepada kita, telah mampu menyempurnakan hidup kita. Dari mereka pula, saya banyak belajar tentang arti kerja keras dan semangat untuk kehidupan yang lebih baik.

Tanpa Mbak Narti, bapak sol sepatu keliling dan ibu tukang jahit di pasar itu, hidup saya tak akan sempurna. Tanpa mereka, tak akan ada masakan maknyus tersaji di rumah saya, tak akan ada yang mampu memperbaiki sandal dan sepatu yang sebenarnya masih layak pakai tapi tidak bisa digunakan karena solnya terbuka, dan mungkin saya akan terus terjatuh saat menggunakan gamis yang kepanjangan.

Saya mungkin belum bisa melakukan sesuatu yang lebih untuk mereka selain terus menggunakan jasanya dan memberikan imbalan sepantasnya, bahkan kalau bisa lebih dari yang mereka minta. Namun lewat tulisan inilah saya ingin berkata, terima kasih semuanya, I love you pullll daah J

Ingat tentang mass market, saya juga akan selalu ingat dengan BTPN. Kebetulan ibu saya seorang pensiunan guru SD. Beliau terpaksa mengambil pensiun dini karena sakit yang dideritanya. BTPN menjadi tempat yang tidak asing bagi saya karena tiap bulan saya selalu datang ke lokasi bank tersebut untuk mewakili ibu mengambil uang pensiun.



Beberapa bulan yang lalu, saat saya datang berkunjung ke BTPN, saya melihat keramaian yang tak biasanya. BTPN memang akan selalu ramai saat awal bulan dan menjelang lebaran, namun selain momen-momen tersebut, BTPN tidak akan terlalu crowded. Untuk menghindari antre yang terlalu panjang, saya lebih suka mengambil pensiun ibu setelah tanggal 15, sehingga saya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk proses pengambilan pensiun tersebut.

Namun hari itu berbeda, saya sempat berpikir saya salah lihat kalender. Tapi setelah saya cek kembali, ternyata memang benar sudah masuk tanggal belasan. Kepo akut saya mulai timbul dan mulai mencuri dengar tentang acara yang bersebelahan dengan ruang pengambilan pensiun.

Saat itu saya baru tahu kalau ternyata BTPN memberikan perhatian yang lebih kepada mass market. Bukan hanya para pelaku industri kecil yang masih muda, BTPN juga memberikan perhatian yang lebih kepada para karyawan yang hampir masuk usia pensiun. BTPN memberikan penyuluhan bahwa usia pensiun tidak lantas menjadikan mereka berhenti berkarya. Dengan dukungan dari BTPN, banyak para pensiunan justru mulai merintis karirnya menjadi pengusaha kecil. Dari yang berjualan kue-kue kering hingga berjualan rajutan hasil karya mereka.

BTPN lewat program DAYA mengajak para nasabahnya untuk menggiatkan kampanye “Menabung untuk Memberdayakan”. Lewat program DAYA tersebut, para nasabah BTPN secara tidak langsung telah membantu masyarakat yang berpenghasilan rendah dan para pelaku industri kecil untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Tidak sedikit dari para pelaku mass market ini telah menjadi pengusaha yang sukses dengan bantuan BTPN dan para nasabahnya.

Nah, jika kita tertarik untuk menjadi salah satu nasabah BTPN dan ikut memberdayakan para pelaku industri kecil, kita bisa mencoba dulu melakukan simulasi seperti di bawah ini. Dengan simulasi ini, kita bisa tahu kira-kira dalam jangka waktu beberapa tahun ke depan tabungan kita sudah berapa banyak dan sudah bisa membantu apa untuk para pegiat mass market.

Caranya mudah kok, cukup masuk saja ke link berikut ini. Lalu, klik bagian “mulai simulasi”. 



Setelah itu kita bisa memilih untuk masuk melalui Facebook atau manual simulasi. Saat saya melakukan simulasi, saya memilih untuk masuk melalui Facebook agar lebih mudah dan cepat.


Setelah klik bagian ‘’Connect Facebook to Start”, kita akan sampai pada bagian ini. Di sini kita bisa menyesuaikan jumlah uang yang ingin kita tabungkan per bulan dan berapa lama kita ingin menabung. Saya memilih Rp. 500.000, 00 per bulan dengan jangka waktu 5 tahun. Kemudian klik “Lihat hasil simulasi.”


Ada sebuah form yang harus kita isi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Jika kita bersedia dihubungi customer service dari BTPN di kemudian hari, kita bisa mencentang kolom tersebut, jika tidak kita bisa melanjutkan simulasi dengan klik “lihat hasil simulasi.”


Sampailah pada halaman akhir simulasi, di sini saya bisa tahu ternyata jika saya menabung di BTPN dengan jumlah simpanan Rp. 500.000, 00 per bulan, lima tahun mendatang tabungan saya telah akan mencapai tiga puluh empat juta sekian. Namun, yang lebih penting lagi saya akan bisa membantu memberdayakan pelaku industri kecil untuk bisa lebih maju dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Dalam simulasi tersebut, saya diberi contoh telah mampu memberdayakan seorang pengrajin mainan kayu di Bantul.




Sangat menarik ya program DAYA dari BTPN ini. Bisa menjadi wujud terima kasih kita secara nyata kepada para pelaku industri kecil yang selama ini kehadirannya telah memberikan banyak manfaat dalam kehidupan kita. Yuk, kita menabung untuk memberdayakan serta jadikan hidup kita dan hidup mereka #LebihBerarti

18 comments:

  1. Mass market emang memudahkan dlm kehidupan sehari2. Sukses ya mbak lombanya :)

    ReplyDelete
  2. Aku juga langganan sayur mayur di penjual keliling. Mass market membantu dan memudahkan ya mbak

    ReplyDelete
  3. Mereka2 ni yg sering kali disepelrkan kehadirannya ys mbak padahal tanpa mereka kita kesusahan.sukses lombanya ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Muna.. baru sadar kalau pas mereka dicari susah... Makasih sudah mampir mbak.. makasih juga semangatnya :)

      Delete
  4. Sukses buat mbak Marti dan mbak Marita :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Narti mbak. hehe.. Makasih sudah mampir mbak :)

      Delete
  5. Bener banget nih, coba kalo nggak ada tukang sayur bisa-bisa tiap hari ngapelin warteg hehe
    gudlak ya mba Marita..

    ReplyDelete
    Replies
    1. huum, apalagi tukang sayur langgananku ini sudah merangkap jadi katering mbak, buat aku hehehe :D

      Makasih mbak, sukses juga untukmu

      Delete
  6. Aku belanja sayur juga sama tukan blanja keliling, eh manggrok ding, kalo ke pasar malah bisa abis banyak, hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa boros klo ke pasar :D maunya beli apa, jd nambah macem2.. Hehe

      Delete
  7. Ya kehadiran mereka sepertinya sepele tetapi sangat penting ya mbak Marita. Saya sering sekali ke tukang permak buat permak baju-baju :)

    Semoga sukses lombanya ya mbak :)

    ReplyDelete
  8. Semoga mas market bisa berkembang menjadi semakin baik :)

    ReplyDelete
  9. Semoga mereka semua terberdayakan.. aamiin..

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.