Monday, March 7, 2016

Welcome March; Secuil Kisah Tentang Mentari Part II




Siapakah Mentari? Baca kisah awalnya di sini yaaa :) 

Jika bukan karena pertolongan Allah, mungkin saja pernikahanku bersama lelaki senjaku sudah gagal di tahun-tahun pertama, masih bisa bersama hingga hari ini - tahun kedelapan, sungguh nikmatNYA yang tak bisa kudustakan.

Allah memang luar biasa memasang-masangkan satu insan dengan yang lainnya. Aku yang tak sabaran, bawel, suka marah-marah bertemu dengan lelaki yang selalu woles, sabar, begitu memandang hidup dengan sederhana.

Ya, lelaki itu hadir dengan stok sabar yang unlimited (semoga selamanya). Ia tahu tugasnya tidak hanya mendampingiku, tapi juga mendidikku. Tidak mudah. Namun dengan segala ketaksempurnaannya ia berusaha sebaik mungkin menjadi suami, kakak, dan sahabat terbaik untukku.

Sama-sama memiliki background “broken home”, kami saling melengkapi hati-hati yang kosong. Belajar untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang tua kami.



Sebagaimana pasangan suami istri lainnya, setelah menikah kami juga ingin segera dikaruniai keturunan. Tidak dinyana sebulan setelah pernikahan, dua buah garis merah terbentuk di testpack pertamaku. Namun Allah kembali mengajarkanku tentang ikhlas dalam menerima segala bentuk takdir kehidupan.

Aku pernah sangat marah ketika harus keguguran pada kehamilan pertamaku tiga bulan setelah pernikahan, lagi-lagi bertanya “why me?” Kembali terduduk lemas ketika sampai 2011 tidak ada kehamilan yang kurasakan, dan Maret 2011 aku harus kembali ke meja kuretase.

Namun kemudian setelah aku menyempurnakan kewanitaanku di akhir tahun 2011, melewati masa-masa ups and down nya menjadi ibu, aku tahu kenapa Allah mempertemukanku dengan dua kuretase sebelum benar-benar menimang buah hatiku. “You haven’t ready yet at that time.” Mungkin begitu Allah ingin menyampaikan padaku. Dan kehadiran Mayda Hanifa Setianingtyas adalah awal menuju my reborn phase.


Maret dan Catatan Duka Mentari

Maret membawa banyak cerita dalam kehidupanku, tidak hanya lahir dan menikah di bulan ini, serta pernah sangat gegap gempita menyambut kelahiran adikku di bulan ketiga ini pula. Maret pernah juga menjadi saksi atas kehilangan dua lelaki penting dalam kehidupanku. 21 Maret 2011, beberapa hari setelah kuretase-ku yang kedua, aku tak sangka seorang lelaki yang menyulut banyak bara di hatiku meninggalkan dunia ini selama-lamanya. Antara tak percaya dan tidak, antara ikhlas dan tidak, tapi ia benar-benar pergi. Setelah pulang kembali ke rumah tepat saat aku memasuki usia ke-26, merawatnya selama empat hari antara sadar dan tak sadarnya. Namun Allah lebih tahu apa yang terbaik, ia – bapak - yang menorehkan separuh jiwaku pergi selama-lamanya. Dan saat itu aku hanya seperti melepas yang terlepas.

Mendung juga menutupi mentari dengan tebalnya pada Maret 2014. Sosok lelaki gagah yang sangat aku kagumi, juga aku hormati dan sayangi, tiba-tiba berkata entah sadar atau tidak, pada 10 Maret 2014, “yangtimu wis meh methuk yangkung kok, nduk.” Deg. Pernah kehilangan tiga orang secara beruntun dari 2011 hingga 2013 memberi sinyal yang aneh dalam hati. Sebuah pertanda. Namun aku tak mau terjebak pada sugesti, apalagi sugesti negatif. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Memang yangkung saat itu tidak sedang dalam kondisi terbaiknya. Namun siapa sangka, enam hari kemudian, tepat di usiaku merayap ke angka 29, sebuah kabar kuterima; yangkung masuk rumah sakit! Hati kecilku menyisipkan doa, “jangan sekarang, ya Allah.
Alm. Yangkung saat Mengunjungi Makam Yangti dan Yangyut
Allah mengabulkan doaku, tidak hari itu, tapi 30 Maret 2014, eyang Soenardhi DS, eyang kakung yang telah mengajarkanku tentang disiplin, tegas, dan pentingnya kejujuran kembali ke haribaan Yang Maha Kuasa. Sama seperti saat eyang putri meninggal, aku pun sempat menjenguknya di hari sebelum beliau wafat. Seakan sebuah pertemuan perpisahan.

Kepergian satu per satu anggota keluarga yang kucintai mengajarkanku bahwa kematian begitu dekat. Kapan saja malaikat maut bisa menjemput. Dan apa bekal yang telah kusiapkan? Dan sungguh kematian selalu terbungkus lewat cara-cara terbaik Tuhan.

Mentari Terbakar Panasnya Sendiri

Luka – luka batin yang tersimpan di masa kecil menyeruak semakin hebat ketika telah menjadi ibu. Mematok target-target yang terlalu tinggi, aku lupa bahwa tidak ada super mom, tidak ada super woman di dunia ini! Allah melengkapi manusia dengan kelebihan dan kekurangannya, dan orang yang bijak adalah yang mampu menyeimbangkan antara kelebihan dan kekurangan yang dimiliki menjadi asset untuk menapaki kehidupan.

Ketakcakapanku mengontrol emosi dan ilmuku yang kurang tentang bagaimana mengasuh anak sempat membawa baby blues yang berkepanjangan. Baby blues yang kusadari terlambat dan sempat membuatku kehilangan kesabaran dan adikku yang menjadi sasarannya. Hingga aku begitu menyesali kepergiannya karena merasa belum membahagiakannya, belum menjadi mbak terbaik untuknya.

Sejak kepergian adik, aku mulai rutin mencari info mengenai parenting dan mengikuti beberapa seminar. Namun belum ada hasil yang signifikan.

Lagi-lagi di bulan Maret, Allah mengirimkan surat cintaNYA kembali padaku. Gedung Telkom, 28-29 Maret 2015, aku dipertemukan dengan PSPA Abah Ihsan. Meski bukan seminar parenting pertama yang kuikuti, namun lewat pelatihan ini untuk pertama kalinya aku dikuliti. Bagaimana mungkin kau membahagiakan anak-anakmu, jika kau sendiri belum bahagia. Bagaimana kau sanggup bermimpi memiliki anak sholih, jika kau sendiri tidak bergegas memperbaiki diri.



Hari kedua pelatihan menjelang maghrib, Allah menyadarkanku…

Untuk apa  menyimpan dendam dan kebencian, perlahan ia akan membakarmu sendiri.”

Mungkin kalimat itu yang cocok dibisikkan padaku. Sepanjang usiaku aku terbakar rasa marahku sendiri. Bebalnya aku bahkan pernah marah pada zat yang menciptakanku. Merasa tak adil, merasa hidup ini seperti sampah. Berkali-kali Allah menyelamatkanku, tidak membuatku tersadar, justru semakin dangkal memahami hidup. Kadang kala sungguh aku lupa, juga lelah…

Dan andaikata aku bisa memilih kehidupanku…

Bisakah bapak setia hanya pada ibuku saja?
Bisakah bapak tidak pernah menikah lagi dengan wanita yang hingga hari ini aku masih tak sanggup mengeja namanya?
Bisakah ibu tetap sehat seperti sediakala, dan kami bisa bersama-sama lagi naik becak ke pasar?
Bisakah adikku tetap hidup hingga hari ini sehingga mentari tidak kesepian karena kehilangan rembulannya?

Namun apakah waktu di dunia harus kuhabiskan untuk mempertanyakan jalan-jalan takdir yang tak sesuai dengan keinginanku?


PSPA tidak hanya mengajarkanku tentang basic-basic parenting yang sangat kuperlukan dalam membesarkan anakku. Namun lewat pelatihan itu pula aku bisa memaafkan kesalahan-kesalahan bapak, menutup kisah-kisah kelam tentangnya, dan cukup mengingat segala kebaikan yang ia miliki, sebagaimana kutuliskan di B-A-P-A-K.

Inilah fase-fase reborn-ku. Fase-fase memahami kehidupan dengan lebih bijak, bahwasanya aku hanya makhluk yang harus siap dengan segala takdir yang IA tentukan. Mungkin ke depannya Allah masih akan memberi kejutan demi kejutan lainnya. Tapi aku percaya Allah tak pernah menguji di luar kemampuan hambaNYA, maka aku hanya selalu meminta “kuatkan hati ini, kuatkan iman ini, kuatkan jiwa ini, dan jangan pernah tinggalkan aku, ya Rabb..” Karena aku hanyalah butiran debu tanpaMU.

Fabiayyi alaa irrabikuma tukadziban.

Ada banyak hitam putih merah biru dan segudang warna lainnya, dan kini aku menyadari bahwa Allah menurunkan itu di dalam kehidupanku bukan tanpa tujuan. Aku belajar banyak hal. Dan saat ini aku berani berkata, tidak ada yang kusesali dalam kehidupanku, dalam ketaksempurnaan, alur hidupku begitu luar biasa. And I am proud of my parents, and I am proud to be me! Setiap manusia berhak mendapatkan kebahagiaan, dan puncak kebahagiaan seseorang akan tercipta ketika ia selalu mampu menjadi orang-orang yang bersyukur atas segala yang Allah berikan. Semoga kita termasuk hamba-hambaNYA yang tak pernah lupa bersyukur J Aamiin.


***

Kata Mentari tentang Bundafinaufara dan My Life on Words

Semoga kisah hidup yang bukan siapa-siapa ini bisa menjadi pengingat bagi siapapun yang membacanya bahwa setiap cerita punya makna, punya hikmah. Begitu juga dengan kehidupan mbak Ika Puspitasari yang pasti penuh dengan warna. Happy birthday ya mak… Barakallah fii umurik, sukses dunia akhirat daaah pokoknya.



Sebenarnya kepo sama usianya, tapi apalah arti sebuah angka, yang penting jiwanya teteup muda dong yaaa… J

Mbak Ika ini sukses bikin aku terinspirasi plus ngiriiiii. Gimana nggak ngiri coba, baru setahun ngeblog tapi udah top bingiiiit. Berasa gigit jari setiap habis blogwalking ke ‘rumah’ mbak Ika dan melihat ‘rumah’ku sendiri. Kemana, kemana, kemana…. (Ayu Ting Ting mode on), iyaa.. kemana aku selama ini, gitu loh.

Lewat postingan-postingan mbak Ika aku belajar banyak mendesain ulang blogku, dari cara bikin header yang manis, menata tampilan dan kembali istiqomah ngeblog. Meski baru bertemu muka empat kali, tapi mbak Ika berhasil bikin aku semangat bingit daftar fun blogging di detik-detik terakhir, berhasil bikin aku kangen untuk kopdar dan kopdar lagi, huhuhu.. bener-bener salah satu teman baru yang ketemu lewat Gandjel Rel yang ngangenin deh pokoknya J

Kalau soal blognya, menurutku udah cantik kaya orangnya, simple but nice. Tapi sepertinya ada sedikit yang menganggu pemandangan. Tampilan di halaman depan kok nggak rapi ya, judul post bertumpukan dengan cuplikan post yang lain, saling tindih gitu, bisa dilihat di screenshot di bawah ini. 

Tampilan yang Tumpang Tindih

Terus saat aku nyoba klik “older post” kok nggak bisa ya?

Berhubung masalah desain dan perbloggingan juga masih dalam taraf belajar, baru itu aja yang masukan yang bisa kusampaikan. Semoga bisa dibagusin, biar lebih rapi ya mbak J Keep writing and sharing, hug hug hug….







Marita Surya Ningtyas






10 comments:

  1. Hihi...kepo sama umurkuuh? makasiih buat pujiannya, nggak tahu kenapa ya kok blogku kayak gitu wwkwk...
    by the way, kisahnya inspiratif...mengharu biru namun penuh pembelajaran di dalamnya.
    Makasih sudah ikutan ya...semoga beruntung mb Marita ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama mbak Ika... aamiin... :)

      Iya, aku pikir dulu karena aku buka lewat HP, ternyata dari laptop juga begitu.. mungkin harus minta bantuan ma ahli desain blog... :D

      Delete
  2. Hidup itu kayak roller coaster ya mbak. Tetep semangaaat mbak. Hug hug

    ReplyDelete
  3. Hidup itu kayak roller coaster ya mbak. Tetep semangaaat mbak. Hug hug

    ReplyDelete
  4. Pengalaman pahit akan semakin mendewasakan kita dan menjadikan semakin bijaksana ya mbak :)

    Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari cerita ini. Sukses selalu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya betul banget mbak.. Life is the best teacher :)

      Delete
  5. Kisah yang penuh warna dan perjuangan. Banyak hikmah yg bisa diambil.

    Barokillah, sdh menang GAnya Mbak Ika, Mbak... :)

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.