Sunday, April 10, 2016

Jadikan Dunia Milik Berdua


Berhubung minggu lalu aku sudah cerita soal bagaimana liburan hemat di rumah bersama keluarga dengan Program 1821, kali ini aku mau cerita bagaimana berlibur hanya dengan pasangan di sela-sela waktu yang kita punya. Berduaan dengan pasangan itu penting lo, terutama ketika usia pernikahan semakin menua. Seringkali rutinitas membuat kita saling lupa untuk memiliki waktu hanya berdua dengan pasangan.

Kesibukan pekerjaan seringkali memaksa kita hanya ngobrol seperlunya dengan pasangan. Sementara para ibu terlalu sibuk dengan anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Belum lagi kalau ditambah ngeblog, waah tambah sibuk aja ya, hehe. Nah, ketika jam pulang kerja pasangan biasanya pulang dengan membawa sejuta penat di tubuhnya, juga jiwanya. rasanya pengen segera berjumpa kasur. Namun, anak-anak segera menyambut para ayah dengan penuh bahagia, teman bermain akhirnya pulang. Para ayah pun tak bisa mengelak. Toh, anak-anak juga obat stress dan lelah paling ampuh.

Ketika jam tidur tiba, anak-anak mulai masuk kamar masing-masing, ayah dan ibunya pun ikutan tidur karena telah capek dengan segala kesibukan hari itu. Kalaupun ada obrolan yang terjadi, obrolan-obrolan mulai kehilangan emosi. Bukan lagi sebuah kebutuhan, namun hanya sekedar kewajiban, masa ya serumah nggak saling berbincang. Akhirnya yang keluar tidak sebuah percakapan yang dalam, namun sekedar  basa-basi biar nggak garing.

Beberapa pakar pernikahan dan parenting menyatakan bahwa pasangan juga butuh waktu untuk berdua, tanpa anak-anak, untuk meningkatkan kualitas hubungan juga menjaga gelora cinta agar tetap membara. Hubungan suami istri yang harmonis berpengaruh dalam kualitas hubungan orangtua dan anak. Sayangnya banyak yang kemudian mengeluarkan sejuta alasan betapa tidak mungkinnya memiliki waktu hanya berdua dengan pasangan. Anak kan masih kecil-kecil, masa ditinggal pergi. Anak-anak nggak ada yang njagain. Nggak seru ah pergi tanpa anak-anak. Aku dan suami baik-baik saja tuh meski nggak pernah punya waktu berduaan. Dan berbagai macam alasan lainnya.

Mengapa Kita perlu Waktu Berdua?

Dari data yang didapat dari Puslitbang Kementrian Agama, tingkat perceraian dari 2010 – 2015 meningkat sebanyak 59-80 persen! Bahkan dari sebuah sumber menyatakan bahwa dalam satu jam, ada 40 perceraian di Indonesia. Negara ini menduduki peringkat pertama se-Asia Pasifik untuk masalah perceraian ini.

Ekonomi dan perselingkuhan biasanya menjadi alasan terbesar terjadinya perceraian. Namun di balik itu semua, ada alasan kecil yang bisa menjadi pemicu sebuah masalah utama sumber perceraian terjadi, yaitu kebuntuan komunikasi.


Di Indonesia seringkali menganggap komunikasi hanya sekedar bumbu dalam pernikahan. Namun banyak komunikasi  yang terjadi antara suami istri tidak berkualitas, bahkan banyak yang keinginan sebenarnya tidak dimengerti oleh pasangan. Alih-alih mencoba menjelaskan maksud dan tujuan, pihak yang arah komunikasinya tidak dimengerti ini hanya pasrah dan mengalah. Komunikasi yang baik tentunya komunikasi yang terjadi dua arah, saling paham dan mengerti, serta bisa menghasilkan solusi yang memuaskan kedua belah pihak.

Pernah ada seorang kawan yang bercerita bahwa suaminya pada wawancara syarat masuk sekolah anaknya tanpa babibu mengiyakan saja saat pihak sekolah bertanya  apakah mereka sudah setuju dengan rincian biaya yang ada. Padahal sang istri, kawanku ini, pengennya suaminya minta keringanan pembayaran agar bisa dicicil lebih lama. Saat ia bercerita hal tersebut kepadaku, aku cuma bisa menanggapi, “la sebelumnya udah ngobrol belum sama suaminya tentang hal ini?” Ia menjawab, “aku sudah cerita kalau di sekolah tersebut bisa dicicil kok.”

Di antara dua kalimat ini mana yang akan lebih menghasilkan komunikasi yang efektif menurut teman-teman?
Pernyataan pertama: “Yah, ternyata pembayarannya bisa dicicil lebih lama kok.”
Pernyataan kedua: “Yah, kalau kita mau, ternyata kita bisa nego dengan pihak sekolah lo, jadi pembayaran bisa dicicil lebih lama. Menurut ayah gimana?”

Kalau menurutku sih, pernyataan pertama hanya sekedar memberi informasi bahwa di sekolah A, pembayarannya bisa dicicil lebih lama dari ketentuan yang ada. Sedangkan pernyataan B mengandung ajakan untuk berkomunikasi dan mencari solusi bersama apakah kita membutuhkan waktu lebih lama dalam mencicil pembayaran sekolah tersebut.

Seorang kawan suami pernah bercerita bahwa ia dan sang istri sangat jarang ngobrol. Sesampainya di rumah setelah masing-masing sibuk bekerja, mereka sudah kelelahan dan langsung tertidur, begitu setiap hari. Ketika hari libur tiba, istrinya sibuk di dapur sampai siang, tak ada waktu untuk sekedar berbincang. Hal ini kemudian membuat ia merasa kehidupan pernikahannya begitu garing dan mulai mencari-cari sahabat di luar rumah.

Hati-hati ketika salah satu di antara kita mulai merindukan persahabatan di luar pernikahan. Kan sahabatku sama-sama perempuannya? Nggak masalah dong. Siapa bilang? Dengan meningkatnya kasus LGBT di Indonesia, mulai terungkap banyak fakta bahwa ada beberapa pernikahan yang hancur karena suami atau istri berselingkuh dengan sesama jenis. Nah lho!

Kalaupun bersahabat dengan orang di luar pernikahan, jangan sekali-kali menceritakan terlalu banyak permasalahan rumah tangga kita dengan mereka. Ketika kita merasa memiliki masalah dalam pernikahan, sebaiknya segera kita konsultasikan dengan ahlinya bukan dengan  orang yang sama-sama tidak mengerti dan kadang memberikan masukan yang salah kaprah. Tiap rumah tangga punya permasalahannya masing-masing, tidak bisa digeneralisasikan, dan hanya pelaku dalam rumah tangga tersebut yang bisa mengatasi masalahnya.

Mulai merasa tidak nyaman dengan pasangan, ngobrol tidak nyambung, kehidupan suami istri yang garing, merupakan bukti bahwa gagalnya komunikasi di antara suami istri. Ketika komunikasi buntu, perselisihan mulai muncul. Ketika perselisihan muncul, benih-benih kejengkelan yang tadinya cuma dipendam mulai keluar satu per satu. Dari masalah ekonomi, anak, perhatian yang kurang dan segala macam. Ketika komunikasi buntu dan pasangan tak bisa menjadi tempat ngobrol yang enak, mulailah pencarian ‘sahabat’ dilakukan. Awalnya sih hanya iseng, cari teman cerita, ujung-ujungnya cari kesenangan yang lain.

Wow, ternyata kunci dari semua masalah dalam pernikahan ada dalam sebuah kata sederhana, K-O-M-U-N-I-K-A-S-I.

Menciptakan Waktu Berdua

Kita tidak harus menunggu waktu itu datang, tapi yuk kita ciptakan. Sebagaimana seru-seruan dengan anak tidak perlu menunggu hari libur tiba, namun bisa tercipta setiap harinya dengan adanya program 1821, waktu berdua dengan pasangan pun bisa diciptakan. Abah Ihsan Baihaqi  menyebutnya dengan Program 2122.

Program 2122 diperlukan untuk menciptakan waktu ngobrol yang berkualitas bersama pasangan. Mungkin saat anak belum tidur, kita sudah sempat ngobrol, namun akan beda hasilnya ketika kita hanya ngobrol bersama pasangan tanpa interupsi anak-anak. Apalagi kalau anaknya sejenis kaya si Ifa, kalau doi belum tidur, nggak bakalan ayah bundanya bisa ngobrol. Kata dia, “Ayah bunda diam. Nggak boleh ngomong. Ngomongnya sama aku aja”. Hehehe. Apalagi terkadang ada beberapa materi obrolan yang sebaiknya tidak didengarkan oleh anak-anak.

Program ini juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk pasangan yang nggak rela meninggalkan anak-anak di rumah untuk sekedar kencan di luar rumah berdua.

Ya, setelah anak-anak tertidur, saat itulah waktu yang tepat untuk bercengkrama dengan pasangan. Syaratnya sama seperti program 1821 ya, singkirkan segala benda kotak di antara kita. No TV, no gadget, no laptop, no kompor, no mesin cuci, no koran, dan apapun yang kotak-kotak itu.

Fokuskan hanya untuk berbincang, ngobrol, berkomunikasi, bercerita, bercengkrama. Intimasi tidak melulu soal hubungan seksual semata kan? Wanita perlu waktu untuk mengeluarkan 3000 kata setiap hari, bayangkan kalau tidak tersalurkan, anak-anak yang kena getahnya, maka memang tugas suami untuk menampung kata-kata itu.

Jangan berdalih kasihan suami sudah capek seharian bekerja. Kalau ngomongin capek, aku yakin baik suami dan istri sama-sama capek kok. Yang satu capek ngantor, yang satu capek ngurus anak dan rumah. Jadikanlah waktu 2122 menjadi hadiah untuk saling melepas lelah masing-masing.

Untuk yang sudah biasa ngobrol, hal seperti ini mungkin terlihat mudah. Namun di luar sana banyak yang ngobrol aja harus diajari lo. Ngapain aja dong di 2122? So, yuk kita praktekkan bareng-bareng.



Pilih Tempat yang Nyaman untuk Ngobrol – Biasanya sih yang dipilih tetap kamar tidur. Sembari berbaring dan nunggu ngantuk, kita bisa menciptakan pillow talk yang hangat dan berkualitas. Namun ada sisi negatif jika ngobrolnya di kasur, biasanya ada satu yang kemudian tertidur duluan gegara berasa didongenin, hehe. Coba sekali-kali nongkrong di teras rumah sambil makan roti bakar atau cemilan lainnya, jangan lupa dua gelas teh atau kopi hangat. Sambil menikmati malam yang sunyi, 2122 akan terasa syahdu.

Awali dengan Sederhana – Tanyakan pada pasangan kesibukan hari ini. Jika obrolan sudah mulai mengalir, kita bisa memasukkan topik-topik yang sedikit berat, misal cerita soal anak yang sekarang suka memukul, anak yang mulai kecanduan gadget, kondisi keuangan yang sedang nggak oke, tawaran kerja dari agensi yang membutuhkan jam kerja yang panjang, dan sebagainya. Ajak pasangan untuk mencari solusi.

Tutup dengan Kecupan Hangat – Setelah dirasa yang dibutuhkan sudah tersalurkan dan terungkapkan dengan baik, tidak ada lagi ganjalan di hati, maka ajak pasangan untuk segera menarik selimut. Eeh? Tidur maksudnya. Tapi kalau mau ‘beraktivitas’ sebelum tidur ya mangga J Hehe. Aku sih biasanya kalau sudah kadung ngobrol dengan suami, malah nggak bisa berhenti, tiba-tiba bisa sampai jam 1 pagi J. Kalau nggak ingat harus istirahat, diterusin sampai jam lima pagi juga hayuk. Jangan lupa tutup dengan kecupan hangat dan ucapkan terima kasih karena pasangan sudah mau meluangkan waktu untuk ngobrol bersama.

Sesuatu yang mengganjal dan kebuntuan yang dibiarkan berlarut-larut akan memunculkan masalah demi masalah baru. Semoga dengan program 2122, kita bisa mengurai benang kusut yang mulai timbul di dalam pernikahan.

Sesekali masak atau nonton DVD bersama bisa menjadi alternative kegiatan. Suasana malam bercampur dengan keseruan dua insan  menyiapkan dinner atau mengomentari film yang ditonton bisa meleburkan kekakuan dan menciptakan kehangatan yang berujung pada kebersamaan yang lebih berkualitas di pagi hari.

Oya, selain mengkhususkan berbicara dari hati ke hati setiap 2122, jangan lupa komunikasi-komunikasi ringannya juga harus tetap dijaga ya. Sekedar mengirim pesan mengingatkan makan siang atau shalat, dan pesan singkat seperti “love u, my hubby” bisa menjadi bumbu manis dalam pernikahan.

Liburan tidak harus selalu menunggu hari Minggu dan tanggal merah tiba kok. Jika tujuan berlibur adalah berhenti dari segala aktivitas yang melelahkan dan melakukan aktivitas baru untuk menghasilkan badan dan pikiran yang lebih fresh, maka berlibur bisa kapan saja. Termasuk berlibur dengan pasangan. Tidak perlu nunggu pasangan kita ambil cuti dari kantornya, setiap malam setelah anak-anak tidur, kita bisa menciptakan waktu libur sendiri.

Selamat mencoba!

#OneDayOnePosting FunBlogging Day 14



20 comments:

  1. Biar selalu harmonis dan romantis ya mbak siiplah

    ReplyDelete
  2. Saya pun sebisa mungkin ciptakan komunikasi shg bisa saling share keadaan masing2 hehehe. TFS mba ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, meski sudah menikah harus tetap konek satu sama lain :)

      Delete
  3. ih mbak marita kreatif ya bikin ide2 kyk gini terus ditulis...aku juga sering me time sama suami.menurutku perlu banget, supaya pernikahan awet dan kita berdua selalu berkomunikasi untuk hal2 kecil sekalipun.memang komunikasi itu perlu. wah angka perceraian di Indonesia tinggi ya.program 2122 baru tahu nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak tinggi banget.. Makanya harus membantu pemerintah menekan angka perceraian.. Hihi

      Iya mbak.. Komunikasi itu penting banget, tp kadang seiring usia Pernikahan bertambah, kebiasaan berkomunikasi jadi tergerus.. Smoga ini bs jadi pengingat untukku n yang membaca postingan ini

      Delete
  4. Kadang, kalo anak-anak sudah tidur..suamiku nemenin aku nulis sambil ngobrol. jadinya..malah tulisan nggak selesai karena kebanyakan ngobrol..hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ash bener mbak.. Malah keasyikan ngobrol ya :D

      Delete
  5. Aku ngobrol sama suami kalo ketemu, kan hampir seringnya di luar kota. Jadi nggak ada waktu khusus. Makanya aku suka ngintil kalo suami ngajakin, hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah.. Long distance marriage mbak.. Aku nggak kuku daah :D

      Delete
  6. HEHEHE... NYIMAK AH... SAMBIL MINUM KOPI, SALAM KENAL MBAK

    ReplyDelete
  7. Hihi. aku baca ini sambil ngekek, soale berdua sama-sama masih melek tapi sibuk dg gadget masing2.
    kadang sih, kalo pas sore malah muterin komplek nyari angin sambil ngobrol berdua aja :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu.. Klo masih sibuk sama gadget masing2 belum fokus berarti hehe

      Delete
  8. Alhamdulillah, karena kami dua-dua adalah DRS (Di Rumah Saja), urusan ngobrol selalu ada tiap hari. Hanya memang kadang merasa perlu untuk menyempatkan khusus ngobrol berdua lebih intim. Gak cuma pillow talk jelang tidur, tapi bener-bener ngobrol hat ke hati. Berasa kok bedanya setelah ngobrol gitu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Pak.. Disengaja Khusus untuk ngobrol ato sambil lalu hasilnya beda :)

      Delete
  9. Komunikasi, itu salah satu kuncinya ya Mbak :) catet! :)

    ReplyDelete
  10. Hmm mbak kalau baca artikelnya mbak ini membuat saya kepikiran nih sudah hampir 3 tahun lebih saya belum ketemu lagi dengan teman tercantiku nih, bagaimana ya caranya bisa ketemua sulit sekali untuk mencari informasi tentang dia. Hmm jadi sedih sekali tapi untuk saja saya masih bisa lihat wajahnya walau hanya lewat photo tapi itu bisa mengobati kerinduan saya kepada dia teman tercantiku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh.. Kayanya gak nyambung sama Artikel sy Pak :D

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.