Friday, January 27, 2017

Tak Akan Pernah Terulang




Pernah dengar lagu ini, pals?

Seems like it was yesterday when I saw your faceYou told me how proud you were but I walked awayIf only I knew what I know todayooh,ooh

I would hold you in my armsI would take the pain awayThank you for all you've done,Forgive all your mistakesThere's nothing I wouln't doTo hear your voice againSometimes I want to call you but I know you won't be thereooh,ooh

I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't doAnd I hurt myself by hurting you

Somedays I feel broke inside but I won't admitSometimes I just want to hide 'cause it's you I missYou know it's so hard to say goodbye when it comes to this

Would you tell me I was wrong?Would you help me understand?Are you looking down upon me?Are you proud of who I am?There's nothing I want to doTo have just one more chanceTo look into your eyes and see you looking back

I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't doAnd I've hurt myself

If I had just one more day, I would tell you how much thatI've missed you since you've been away

Oh, it's dangerousIt's so I'm afraid to try to turn back time

I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't doAnd I've hurt myself
By hurting you
Nggak asyik kalau nggak sambil dengerin lagunya, cekidot di video ini.


Ya, ini lagu dari Christina Aguilera, judulnya Hurt. One of my favorite songs. Lagu ini cocok banget buat jadi musik pengiring untuk tema dari postingan terakhir #10DaysKF; sesuatu yang aku janji tidak akan mengulanginya lagi.
***
I'm sorry for blaming you for everything i just couldn't do.
Aku selalu menyalahkanmu untuk setiap kesialan yang aku hadapi dalam hidup. Selalu saja berputar pada andai begini, andai begitu. 
Aku juga selalu menyalahkanmu untuk setiap hal buruk yang aku lakukan. Mengkambinghitamkan dirimu untuk segala hal buruk yang kuperbuat. Ini semua karenamu, kalau kamu begini aku nggak akan begitu.
Aku bahkan pernah merasa malu ada darahmu mengalir dalam tubuhku. Darah yang mewarisi hal-hal buruk yang tak kuiinginkan.
Aah, bebalnya aku.
Baca juga: Surat Sunyi untuk Ayah

Aku bahkan selalu bertanya apa pernah sedetik saja kau pernah menyayangiku. Padahal tanpa aku harus bertanya aku sudah mampu menjawabnya. Namun aku sengaja membutakan mata. Sengaja tak melihat betapa berbinar matamu melihatku kala kusematkan kebanggan padamu.

Hampir seumur hidup aku mengutuk semua perilakumu dan itu artinya hampir seumur hidup kuhabiskan dalam sumpah serapah, juga dendam yang membawa rindu. 

Sikap ini yang kemudian terus bertumbuh tanpa ujung. Aku menjadi orang yang terlalu mudah marah. Dan ketika keadaan tak terkendali, aku lemparkan kesalahan pada orang-orang di sekelilingku. Entah itu kamu, satu-satunya adikku, atau ibu. Bahkan dia, lelaki yang senantiasa membawakan bunga nan harum dalam hidupku pun menjadi korban ketakberdayaanku untuk hengkang dari jebakan masa lalu.
Baca juga: Senja Sang Bidadari Sunyi


Berulangkali aku mencoba keluar, berulangkali pula aku terperangkap. Masa lalu itu bagaikan monster yang siap menerkamku kapan saja. Membuatku menjadi orang linglung yang seakan tak punya iman. Sedang aku tahu sebenar-benarnya bahwa biarkan saja masa lalu menjadi spion, ditengok seperlunya. Namun begitulah, aku selalu terjerembab pada kesalahan-kesalahan yang sama, yang ujungnya hanya karena ketakutanku pada masa lalu.
Kini ketika aku benar-benar menjelma menjadi sunyi. Ketika tak ada lagi dirimu, tak ada lagi adik, juga ibu. Betapa aku paham, aku telah melakukan kebodohan-kebodohan besar. Meniadakan kalian demi keegoisanku. Dan kini aku hanya mampu merindu. Berapa kalipun kupanggil namamu, adik ataupun ibu, kalian tak akan pernah kembali. Kalian telah begitu damai di sisinya. Dan aku? Masihkah aku harus bergumul dengan dendam-dendamku di masa lalu?

Tak akan pernah habis jika kuikuti hawa nafsu. Kupotong-potong dia yang menghancurkan hidup kita pun, masa lalu itu akan tetap retak dan seperti itu adanya. Lantas apa aku harus tetap seperti ini? Blaming others for everything i just couldn't do? Tidak! Aku harus bangkit. Demi belahan-belahan jantungku, anak-anak yang kucintai, juga dia lelaki yang begitu setia menanti senja bersamaku, dan tentu saja demi diriku sendiri. Semakin lama aku menyalahkan masa lalu, semakin aku terperosok pada jurang tanpa batas dan terluka lebih dalam.



Maka, aku berjanji tak akan lagi menengok luka-luka itu. Luka-luka yang hadir pada kelamnya masa lalu. Biarlah menjadi kisah sedihku. Bukankah tanpa kisah-kisah itu aku juga tak akan sekuat hari ini? 
Maka, aku juga berjanji untuk tak lagi menyalahkanmu atas segala hal buruk yang telah terjadi juga atas perilaku-perilaku buruk yang pernah aku perbuat. Semua murni karena kebodohan, keegoisan dan kebebalanku. Sungguh aku harus bertanggungjawab atas semuanya sendiri dan tidak menudingmu lagi.
Maka, aku pun berjanji untuk tidak dengan mudah menjadi pribadi yang menyalahkan orang lain untuk langkah yang mungkin salah aku ambil dalam kehidupanku. Karena aku kini telah menyadari semakin aku menyalahkan orang lain dan membuat mereka terluka, saat itulah aku juga menyakiti diriku sendiri.
Maka, aku berjanji pula untuk memaafkan mereka yang pernah merajam hatiku dengan luka, entah itu engkau atau siapapun itu. Juga aku harus mampu memaafkan diri sendiri untuk segala kebodohan yang pernah aku buat demi hidup yang lebih bahagia.
Baca juga: B-A-P-A-K


***
Alhamdulillah, akhirnya kelar juga tantangan menulis selama 10 hari dari #10DaysKF. Semoga setelah ini, meskipun tidak ada tantangan tersebut, aku tetap rajin posting biar blog ini nggak berdebu ya. Terima kasih sudah berkunjung dan menengok-nengok halaman istanaku, sampai jumpa di postingan berikutnya, pals!






10 comments:

  1. Akhirnya kelar ya Mbak. Aku nggak ikutan huhuhu.
    Tulisannya kayaknya marah banget Mbak, punya cerita di baliknya ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. Antara marah, kecewa dan menyesal :)

      Delete
  2. Keren mbak maritaaa....akhirnya #10DaysKF nya kelar juga yaaa..yeaay.

    ReplyDelete
  3. Masa lalu yang membuat kita lebih kuat, Mbak. Jangan pernah takut untuk mengingat masa lalu. Asalkan jangan terpuruk setiap kali mengingatnya. Kerasa banget emosi Mbak Ririt di tulisan ini :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soalnya nulisnya pake dengerin itu lagu, jd feel nya dapet hihi

      Delete
  4. Bismillah, pasti bisa mbak. Semangat terus :)))

    Salam,
    Oca

    ReplyDelete
  5. Sedih baca ini... karena aku juga punya dendam masa kecil yang sampai sekarang belum bisa kulupakan, yeah.. meskipun masih silaturrahim karena mereka keluarga besarku, tapi rasanya belum bis plong. hiks. :( semoga lambat laun makin mengikis

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.