Anak; Titipan, Anugerah dan Ujian

  • Monday, March 27, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 36 Comments

anak adalah titipan, anugerah dan ujian

Aku menikah pada Maret 2008. Selang dua bulan setelah pernikahanku, aku telat datang bulan. Dua garis merah kutemukan pada test pack yang dibelikan suami. Tidak bisa diungkapkan bagaimana bahagianya hati kami saat itu. Namun, untuk lebih meyakinkan diri, aku memutuskan untuk pergi ke laboratorium dan melakukan tes kehamilan di sana. Ternyata hasil tes lab juga menyatakan aku positif. Hamil pertama dan belum punya pengalaman, qodarullah kami mengetahui kehamilan itu saat akhir bulan, mau ke dokter pikir-pikir biaya. Maklum saat itu aku dan suami belum kerja secara mapan, bisa makan sampai akhir bulan saja sudah Alhamdulillah.

Kami memutuskan untuk memeriksakan kandungan di awal bulan setelah gajian. Namun belum juga sampai di penghujung bulan, aku menemukan flek-flek di celanaku. Aku panik. Tetiba aku teringat sebuah bayangan dari masa silam. Takut, trauma… jangan-jangan…

Singkat cerita, kehamilan pertamaku harus berakhir di ruang operasi. 12 minggu saat itu usia kehamilanku. Tidak ada janin yang berkembang alias blighted ovum. Lungkrah rasanya. Kehilangan calon bayi yang kunanti-nanti. Ibu, bulik-bulik dan suami menyemangatiku. Ini bukan akhir dunia. Insya Allah nanti pasti bisa punya kesempatan untuk hamil lagi.

Setelah kuret, dokter melarangku untuk berhubungan dengan suami terlebih dulu. Sekurang-kurangnya tiga bulan. Kami pun mematuhi hal itu. Setelah tiga bulan berlalu, kami berusaha lagi. Siapa sih yang tidak ingin punya anak? Setiap pasangan yang sudah menikah pasti ingin segera dikaruniai buah hati. Namun bulan demi bulan berganti, tahun demi tahun berlalu, buah hati yang kami nanti tak juga hadir.

Februari 2011, kembali kutemukan dua garis merah di test pack yang kubeli. Sebuah hadiah yang sangat indah setelah aku kehilangan eyang putri tercinta. Tapi baru saja rasa bahagia itu hadir, flek lagi-lagi menodai celanaku. Sekali lagi aku divonis blighted ovum. Maret 2011, kuretase kedua kujalani.



ilustrasi: ruangan rumah sakit

Saat itu aku merasa putus asa. Apakah aku tidak pantas diberi kesempatan menimang buah hati? Apakah ini hukuman atas dosa-dosa yang pernah kulakukan? Bahkan aku sempat meradang dan berkata pada suami, “mereka yang nggak menikah saja gampang banget punya anaknya, kenapa kita yang sudah sah dan halal malah susah begini ya? Tahu gitu kita dulu pacarannya nakal aja.” “Huss.. Ngomong apa sih. Yang sabar.. Insya Allah nanti kalau waktunya dikasih kan dikasih,” suami menegurku. Dia  juga mengingatkan bagaimana tantenya juga harus menunggu delapan tahun sampai akhirnya dikaruniai keturunan. Kami baru menikah tiga tahun, masa sudah menyerah?

Belajar dari Ibu

Mendengar kata-kata suami, semangatku kembali muncul. Kemudian aku ingat ibu dan segala perjuangannya. Aaah, dibandingkan dengan ibu, apa yang kualami saat ini belum ada apa-apanya. Ibu pernah hamil delapan kali, dan seharusnya kalau lahir semua dengan selamat ibu punya sepuluh anak, namun akhirnya hanya ada dua orang anak yang berhasil hidup dan dibesarkan olehnya.

Ibu menikah tahun 1982, tepat di hari ulang tahun bapak. Sebagai anak pertama di keluarganya, cucu pertama darinya tentu saja sangat dinanti. Namun sebagaimana yang aku alami, ibu pun sering mengalami kegagalan dalam proses kehamilannya. Tak lama setelah menikah, ibu sempat hamil namun  mengalami keguguran. Kemudian di tahun 1983, ibu kembali diberi karunia untuk merasakan kehamilan. Bahkan kali ini ada dua nyawa di dalam rahimnya. Ada dua bayi laki-laki yang seharusnya menjadi kakakku. Sayangnya, mereka terpaksa dilahirka premature di usia kandungan enam bulan. Ilmu kedokteran belum secanggih saat ini, Kus Kurniadi dan Kus Kurniawan - begitu eyangku memberikan nama pada kakak-kakakku - hanya mampu bertahan beberapa jam saja sebelum akhirnya meninggal.


ibu dan cucu pertamanya
ibu dan cucu pertamanya
Tahun 1984 ibu kembali hamil lagi, hingga kemudian bayi itu lahir pada bulan Maret 1985. Tidak banyak drama dalam kehamilannya kali ini, namun dengan riwayat kehamilan sebelumnya, dokter memberikan ibu obat penguat yang katanya sampai membuat wajah ibu hitam. Alhamdulillah, bayi itu tumbuh dengan sehat hingga dilahirkan ke dunia. Bayi perempuan itu dinamai Marita Surya Ningtyas. Ya, bayi itu adalah aku. Sungguh bersyukur bisa dilahirkan dari rahim seorang wanita yang sangat tangguh.

Dua tahun setelah kelahiranku, ibu kembali hamil. Kali ini kembali ada dua janin kembar laki-laki di dalam rahimnya. Sayangnya, kedua adik kembarku - Setyo Kusmanto dan Setyo Kusmantoro - juga harus dilahirkan dalam kondisi premature dan tidak bisa diselamatkan.

Di antara tahun 1987 hingga 1991, ibu sempat dua kali hamil namun berakhir dengan keguguran. Lalu tahun 1992, aku mulai bertanya kenapa belum punya adik juga sedang teman-temanku sudah punya adik semua. Ibu memberi penjelasan bahwa kemungkinan besar aku tidak bisa memiliki adik kandung, tapi ibu berencana mengadopsi anak dari seorang kerabat di Kudus yang saat itu melahirkan anak kembar. Rencana itu belum terwujud ketika akhirnya ibu mendapati dirinya kembali hamil. Namun, placenta previa dan kelainan pada janin menyebabkan ibu harus merelakan Rudi Prihatin kembali menemui sang penciptanya di usia kandungan keenam bulan. Aku masih ingat saat jasad adik kecilku itu dibawa pulang oleh bapak ke rumah. Besarnya kurang lebih seukuran botol mineral 500 milimeter. Aku menunggui jasadnya, aku merasa sedih sekali saat itu. Aku ajak jasad adikku itu bicara, betapa aku sudah merindukannya selama ini, tapi kenapa dia nggak mau bermain bersamaku.

Tahun 1994, ibu kembali hamil. Saat itu ibu sebenarnya sudah tidak berharap bisa hamil lagi. Selain faktor usia yang sudah masuk tiga puluh lima tahun, ibu juga merasa lelah sering merepotkan tetangga karena berulangkali keguguran dan kehilangan calon anak. Maklum, bapak adalah seorang sopir antar kota antar provinsi yang jarang sekali di rumah. Jadi seringkali ada hal yang mendesak, tetangga selalu jadi tempat pertama meminta pertolongan.

Di kehamilannya yang kedelapan ini, lagi-lagi ibu mengalami plasenta previa. Ibu diharuskan bed rest sejak usia kandungan empat bulan hingga lahir. Alhamdulillah, meski harus bed rest, kehamilannya kali ini berlangsung cukup lancar hingga lahiran. Ibu kembali memperoleh bayi perempuan yang dinamai Marisa Surya Ningtyas, lahir pada Maret 1995, 10 tahun setelah kelahiranku.

Setelah kehamilannya yang ini, ibu memutuskan untuk melakukan sterilisasi. Selain karena faktor resiko usia yang sudah di atas kepala tiga, kondisi kandungan ibu yang kerap bermasalah membuat ibu merasa anak dua yang lahir dengan selamat sudah cukup untuk menemani hari-hari ibu.

Rasanya komplit setelah ada Tyas, begitu kami memanggil adikku. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Dua minggu setelah Tyas dilahirkan, tubuhnya membiru. Ibu membawanya ke rumah sakit dan diketahui bahwa Tyas mengidap penyakit jantung bawaan, ada lubang di jantungnya. Penyembuhannya hanya bisa dilakukan lewat operasi, namun ibu enggan melakukannya. Bukan hanya soal biaya, namun juga rasanya tak tega melihat bayi sekecil itu dibuka dadanya.

Tyas menjalani rawat jalan di RSUP Kariadi hingga ia berusia 5 atau 6 tahun. Setiap hari dalam hidupnya dilewati dengan pemeriksaan demi pemeriksaan, juga obat-obatan. Badannya tidak pernah bisa besar, namun ia sangat lincah. Setiap kali waktu kontrol tiba, tidak ada yang menyangka kalau dia memiliki penyakit jantung. Pasien-pasien jantung seumurannya selalu terlihat pucat dan lemah, tapi Tyas begitu aktif berlarian ke sana-ke mari.

Setelah kondisinya dianggap stabil, Tyas tidak lagi dirawat jalan. Dokter hanya mengingatkan harus rajin medical check up untuk melihat seberapa besar lubang di jantungnya. Namun kami terlena, Tyas tumbuh cukup sehat. Meski setiap bulan pasti ada saja flu atau batuk menghampiri, tapi tidak pernah ada lagi serangan jantung seperti saat dia masih bayi. Tidak pernah lagi ada badan membiru dan detak jantung yang melemah.


in memoriam adik bungsuku
in memoriam adik bungsuku
Siapa yang menyangka, tahun 2013, saat usianya menuju angka 18 tahun, saat Tyas dalam persiapan Ujian Akhir Nasional, tubuhnya akhirnya menyerah kalah. Jantungnya tak lagi kuat menghadapi beban kehidupan.  Tyas pergi meninggalkan kami semua, menyusul bapak dan eyang putri yang telah pergi sebelumnya. Aku hancur. Namun aku tahu ibu lebih hancur.

Baca juga: Cara Terbaik Tuhan

Saat Tyas meninggal, kondisi ibu sudah dalam keadaan sakit stroke selama hampir 10 tahun. Tyas adalah alasan untuk ibu bertahan hidup. Bisa dibilang, aku sudah punya suami, sudah punya anak, ibu tidak perlu lagi mengkhawatirkan aku. Namun Tyas? Badannya yang kurus dan tinggi menjulang, tiap bulan selalu sakit panas, apalagi kalau mau menghadapi ulangan atau ujian, makan kalau nggak diingatkan suka nggak makan, siapa yang tega meninggalkan anak ini sendirian.  Namun ternyata Allah lebih menyayangi Tyas.

Kepergian Tyas yang mendadak membuat aku tak bisa berkata-kata. Aku setengah histeris di kamar mandi. Namun ibu yang hatinya lebih hancur dari aku, jauh lebih tegar. “Allah lebih sayang kamu, nduk. Ibu ikhlas.. ibu ikhlas.” Kata-kata itu yang ibu ucapkan berulangkali. Ketika aku terpaku di dalam kamar mandi, ibu bahkan meminta tetanggaku mengetok pintu kamar mandi, takut kalau aku pingsan di dalam.

Begitulah kisah ibuku. Seorang wanita yang berulangkali kehilangan calon anaknya dan kemudian harus merelakan anak bungsunya ‘pergi’ mendahuluinya. Aku pernah bertanya pada ibu, “memangnya ibu nggak pernah marah sama Allah, berulangkali keguguran, berulangkali anaknya meninggal?” Ibu sempat terdiam beberapa saat ketika aku mengajukan pertanyaan itu. Lalu kemudian ibu bercerita, “ibu juga pernah hancur, pernah merasa Allah tidak adil. Namun setelah marah dan ngamuk.. bukannya plong, ibu justru merasa tidak tenang. Kemudian ibu mulai mendekatkan diri pada Allah, mulai ikut pengajian, mulai sholat tahajud,  memperbaiki sholat lima waktu, mulai puasa sunnah dan melakukan ibadah-ibadah lainnya. Sejak saat itu hati ibu jauh lebih tenang. Anak itu milik Allah, jangankan anak, diri kita saja ini milik Allah. Terserah Allah mau memberi anak kapan, mau mengambilnya kapan.  Kita nggak perlu ngatur-ngatur Allah, Allah tahu yang paling baik untuk kita. Yakin, ikhlas dan berikhtiar, cuma itu tugas kita di dunia.”

Pikiran Positifku Berbuah Kehamilan

Sebelum ibu melakukan operasi sesar untuk melahirkan dik Rudi (anak ibu kesembilan, kakaknya Tyas), ibu mengalami pendarahan yang sangat hebat. Ibu meminta mbak yang bekerja padanya untuk membawa banyak ember ke kamar ibu. Ibu melarang aku untuk masuk, namun dari luar kamar aku masih bisa melihat.

Aku ketakutan melihat darah yang sedemikian banyak dan tanpa sadar ingatan itu terbawa hingga aku dewasa. Setiap kali aku hamil aku takut mengalami hal yang sama dengan apa yang ibu alami. Saat aku mengalami blighted ovum berulang, aku sempat bertanya pada dokterku “dulu ibu saya juga sering keguguran dan melahirkan premature, apa itu berpengaruh pada saya?” Dokter menggeleng, “tidak ada kaitannya. Jangan sampai rasa trauma itu justru membuat ibu negative thinking. Harus selalu positive dan semangat ya.”

Kata-kata itu kupegang dengan kuat. Sesaat setelah kuretase yang kedua, Mei 2011 aku kembali hamil. Sebuah kehamilan yang nekat karena tidak mendengar nasihat dokter untuk mengosongkan rahim selama tiga bulan setelah kuretase. Namun dengan keyakinan bahwa setelah kuretase justru masa paling subur, aku dan suami mencoba berikhtiar, dan Alhamdulillah aku hamil lagi.


Hamil lagi
Hamil lagi
Lancar? Tidak juga. Flek kembali terjadi, bahkan lebih hebat. Namun entah kenapa aku merasa yakin dengan kehamilanku yang ketiga itu. Saat kandungan masih berusia empat minggu, sama seperti sebelum-sebelumnya. Tidak ada janin yang terlihat. Dua minggu sekali kandunganku diobservasi, masih juga belum ada janin terlihat. Dokter menduga bisa jadi blighted ovum lagi, namun dokter menunggu hingga minggu kesepuluh. Alhamdulillah, saat hari yang dinanti tiba, janin yang ditunggu itu terlihat juga.

Setelah janin terlihat, tidak ada drama yang terjadi. Bayi perempuan lahir dengan selamat pada hari Rabu, 28 Desember 2011. Aaah, setelah menanti hampir empat tahun, akhirnya Allah menyempurnakanku. Benar kata ibu,  …Kita nggak perlu ngatur-ngatur Allah, Allah tahu yang paling baik untuk kita. Yakin, ikhlas dan berikhtiar, cuma itu tugas kita di dunia.

Baca juga: Mayda Hanifa Setianingtyas... Gadis Hujan dari Surga

Berpegang dari petuah ibu juga, aku tidak melakukan KB. Meski tidak KB, nyatanya aku tidak kunjung hamil lagi. Ada saudara yang komentar, “nggak KB kok lama banget hamilnya lagi.” Aku cuma bisa bilang, “Ya, terserah Allah. Dikasih lagi Alhamdulillah, enggak juga nggak apa-apa. Berarti rejekiku cuma punya anak satu.” Namun qodarullah, April 2016, aku kembali menemui dua garis merah pada strip penguji kehamilan.

Saat tahu aku hamil, dengan segala riwayat kehamilanku, aku sudah mempersiapkan diri ketika kehamilan ini kembali blighted ovum. Berbekal pengalaman-pengalaman sebelumnya yang selalu menunda-nunda periksa ke dokter, kali ini baru telat menstruasi beberapa hari aku sudah menemui dokter. Dokternya sampai tersenyum simpul, “jangan-jangan telat haid biasa, nih.”

Baca juga: SMSBunda Menyelamatkan Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir

Namun alat USG memperlihatkan ada amnion di rahimku, meski janin belum nampak karena masih sangat kecil usianya. Dua minggu kemudian saat waktu kontrol tiba, Alhamdulillah janin sudah kelihatan. Tak ada drama, tak ada flek. Kehamilanku yang keempat berjalan dengan lancar, meski proses kelahirannya cukup bikin deg-degan.


dua buah hatiku
dua buah hatiku
Kisah ibuku dan pengalaman yang kualami semakin menguatkan aku bahwasanya anak adalah hak Allah. Saat anak dihadirkan di tengah-tengah keluarga, ia tidak hanya menjadi anugerah dan titipan bagi keluarga itu, namun juga ujian. Anak sebagai anugerah karena ia mampu membawa senyuman, membawa gelak tawa, dan semangat hidup. Anak sebagai titipan yang memiliki hak untuk dikasihi, disayangi, dididik dan diarahkan untuk mengenal siapa pencipatNYA. Namun anak juga sebagai ujian apakah keluarga itu siap menjaga fitrah anak tersebut, ujian apakah keluarga itu mampu menjaga titipan dari Allah, termasuk ujian apakah keluarga itu siap dengan kemungkinan-kemungkinan, baik yang terbaik maupun yang terburuk, juga ujian untuk mencintai anak tidak lebih dari rasa cinta kita pada Allah dan Rasulullah.

Hanya Allah yang tahu hal terbaik untuk hamba-NYA. Setelah semua yang kulalui, aku jadi memahami hikmah kenapa baru diamanahi Allah seorang anak setelah hampir empat tahun menikah. Allah lebih tahu kesiapan lahir dan batinku lebih dari siapapun, bahkan diriku sendiri. Mungkin saja kalau aku langsung diberi anak seusai menikah, aku tidak akan becus mengurusnya. Selain karena ekonomi yang belum stabil, emosiku yang masih naik turun bisa mengganggu proses pengasuhan. Allah memintaku untuk bersabar dan mempersiapkan diri lebih baik sebelum benar-benar menjadi orang tua.

Begitu pula ketika adiknya Ifa lahir lima tahun setelahnya. Allah telah mengaturnya sedemikian rupa. Allah hadirkan Afan di sela-sela rasa duka yang kualami. Allah hadirkan Afan setelah aku mulai menekuni belajar parenting dan mulai bisa mengontrol inner child-ku. Allah membiarkanku bersiap terlebih dahulu sebelum IA kemudian mengamanahiku titipanNYA. 

Buat teman-teman yang hingga saat ini belum dikaruniai keturunan; yakin, ikhlas dan terus berikhtiar ya. Selain memeriksakan kesehatan, mempersiapkan diri menjadi orang tua bisa menjadi cara agar Allah melihat kita telah pantas untuk diamanahi titipanNYA. Aku pernah memiliki customer yang membeli buku Halo Balita. Aku tanya padanya berapakah usia anaknya. Dia menjawab, "belum punya, mbak. Siapa tahu dengan memantaskan diri jadi orang tua, nanti Allah akan mempercayakan anak kepadaku. Doakan ya, mbak." Wah, salut sekali. Anak belum punya, tapi sudah menyiapkan segala hal untuk calon buah hatinya; beli buku untuk calon anaknya, beli buku tentang pengasuhan anak dan juga ikut seminar-seminar parenting. Karena lebih baik belajar sebelum ujian datang daripada belajar dengan cara sistem kebut semalam, kan?

Jadikan doa menjadi puncak dari segala pengharapan. Di saat segalanya terlihat tidak mungkin, maka hanya doa dan kepasrahan yang menjadi satu-satunya jalan. Dan ketika memang Allah tidak menakdirkan untuk memiliki buah hati tumbuh dalam rahim kita, janganlah berkecil hati. Aku jadi ingat percakapanku dengan seorang teman yang qodarullah rahimnya harus diangkat hingga ia tidak bisa mengandung dan memiliki anak. “Doa anak sholeh yang dijanjikan Allah akan menjadi doa mustajab bagi orang tuanya bukan hanya doa dari anak-anak kandung, namun juga doa dari anak-anak yang tidak lahir dari rahim kita, namun anak-anak yang kita sayangi, kita besarkan, kita didik dan kita cintai. Bisa jadi anak itu adalah murid-murid kita, keponakan-keponakan kita, anak-anak tetangga kita atau anak-anak yatim yang kita santuni. “


Diikutsertakan dalam #GADianOnasis: “Anak Itu Adalah Hak Allah” dan memperingati empat bulan meninggalnya ibunda tercinta.





You Might Also Like

36 comments

  1. Nggak bisa berkata apa2 selain, tetap semangat bun :)

    ReplyDelete
  2. iya memang anak itu titipan yg harus kita jaga selalu ya mbak

    ReplyDelete
  3. aku juga pas hamil anakku yang masih ada ini, pernah ngalamin flek mbak. Akhirnya opname dan full bedrest 3 hari. Alhamdulillah masih rejeki. Dikasih satu, mesti gak ada dua :'( hmmm, selalu ada cerita istimewa dimasa-masa kehamilan ternyata ya mbak marita. Nitip alfatihah buat ibunda dan putra-putrinya yang telah tiada. Bismillah. Alfatihah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku yg pas hamil Ifa juga bedrest, tapi di rumah aja. Yg Afan, hamil gak bermasalah, lahirannya bikin deg2an. Selalu ada cerita tiap anak.

      Aamiin. Makasih mbak doanya.

      Delete
  4. semoga dek Tyaa, sodara2mu yang meninggal dan ibu diberikan yaumul hisabnya mudah dan Allah mengampuni segala kekhilafan di dunia aamiin.

    semangat ya Bunda Marita. Selalu kuat dan tegar, belajar dari kekuatan seorang ibu.

    jaga kesehatan selalu ya Bun.

    ReplyDelete
  5. Sabar ya mbak, pasti keluarga yang telah tiada bisa tenang di alam sana. Sabar dan tetap semangat ya mbak

    ReplyDelete
  6. tetap semangat Mba :)
    semoga almh. ibu dan adiknya mendapat tempat yang layak di sisiNya, aamin

    ReplyDelete
  7. merinding bacanya, aku juga pernah melalui fase menunggu itu, terima kasih tulisan inspiratif

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Alhamdulillah sekarang yang dinanti udah nempel kaya perangko ya, mbak. Terima kasih juga sudah mampir.

      Delete
  8. Semua hal di dunia ini titipan Allah. Sebagai manusia kita tinggal merawat titipan-Nya sebaik-baiknya. Terima kasih sudah berbagi mb

    ReplyDelete
  9. Aku sedih baca cerita tentang Tyas. Moga diterangkan dan dilapangkan kuburnya, dan memdapatkan tempat terbaik di sisi Alloh. Begitupun buat bapak dan ibu mba Marita, aamiin...

    ReplyDelete
  10. Setiap ibu punya kisah luar biasa dalam perjuangannya memperoleh anak. Titipan yang menjadi anugerah luar biasa

    ReplyDelete
  11. Melted banget mbak bacanya...
    Nggregel pas baca kisahnya dik tyas, ingat alm putra saya. Rasanya hancur banget ditinggal anak 😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak.. luar biasa perjalanan ibu menanti dan merelakan buah hati.. menjadi cambukan untukku agar senantiasa kuat dan ikhlas menjalani ketentuan Allah :)

      Delete
  12. Mewek bacanya, Mbak.
    Langsung peluk Kak Ghifa. Aku jadi ngerasa nggak bersyukur banget dulu langsung hamil. Membaca perjuangan Mbak Marita sama Ibu yang luar biasaaaaaa ������ Nggak ada matinya untuk selalu berprasangka baik sama Allah.

    Selamat ngontes ya, Mbak. Semoga menang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, "Aku sesuai prasangka hambaku", begitukan sabda Allah?

      Jadi ya kudu husnuzhon terus :) Aku ya masih kudu belajar banyak.

      Makasih doanya :)

      Delete
  13. Wah almarhumah ibu punya tabungan 8 ya mbak ririt, dan mbak ririt emang kuat sejaka dalam kandungan ibu dan kuat bertahan pe sekarang, iya betul setuju kita jangan mendikte Alloh, yang penting selalu berdoa dan ikhtiar tapi tawakal pasrah semua hasil pada NYA 😊

    ReplyDelete
  14. Speechless.😢😢
    Smg ibu dilapangkan kuburnya. Aamiin..

    Betul, anak adalah hak Allah dan Dia yang lebih tahu kapan waktu yg tepat untuk hambaNya.

    Aku pun sering jengah kalo ada yg bilang 'Hasna sudah besar ko belum dikasih adek' aku jawab 'sedikasihnya Allah aja kapan 😁'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sabar mbak, padahal Hasna yo jek cilik yaa.. Yang pada nanya gitu, memangnya kalau kita nambah anak mo bantuin momong ya :D

      Delete
  15. Duh, pengen nangis bacanya Bun. Apalagi pas "Jangan mendikte Allah" itu aku banget. Semangat ya Bunda..
    *peluk Bunda :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Kadang kita suka banget mendikte Allah, padahal Allah lebih tahu apa yg lebih baik utk hambaNya :)

      *peluk balik :)

      Delete
  16. SubhanaAllah ya mbaa...
    perjalanan panjang dan kisah masa lalu yang penuh pelajaran.
    Alhamdulillah duo krucils semoga sehat terus yaa

    ReplyDelete
  17. Baca cerita tentang ibunnya, jadi terharu. Cobaan datang ,tapi ibu kuat menghadapinya. Ah jadi teringat dengan ibuku sendiri.
    Anak adalah anugrah dan titipan dari Tuhan.
    Dan anak wajib berbaki pada ibu yang begitu telah bersusah paya, mengandung dan melahirkannya.
    Salut untuk ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas, ibu memang luar biasa. Semoga surga untuknya. Aamiin. Makasih sudah mampir, salam kenal.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com