Friday, July 21, 2017

Jalan-jalan Tak Asyik tanpa Suami dan Anak

Jalan-jalan Tak Asyik tanpa Suami dan Anak


Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Deadliner sejati nih ceritanya, waktunya #ArisanBlogGandjelRel dikocok untuk periode ketujuh, baru setor untuk periode keenam. Okelah, lebih baik terlambat kan, daripada tidak sama sekali? Ya.. tapi juga nggak telat melulu kali... *getokkepalasendiri.

Sepertinya sang duo pemberi tema keenam ini masih kena influence dari yang periode kelima nih. Atau karena baru saja kelar liburan ya, jadi masih susah move on dari hal-hal berbau liburan dan traveling. Kali ini yang berwenang memberikan tema adalah mbak Dwi Septia dan mbak Winda Oetomo. Ngobrolin mbak Dwi Septia nggak bisa lepas dari blognya yang bertema hitam putih. Kesannya begitu elegan, minimalis, tapi kuat. Sukaaa deh sama theme-nya yang simple but cute. Kita bisa baca banyak kisah-kisah keseharian mbak Dwi yang dituliskan dengan apik dan menginspirasi.

Lain dengan mbak Dwi, lain pula dengan mbak Winda Oetomo yang di sela-sela kesibukannya yang padat masih sempat menekuni hobinya di bidang tulis-menulis. Aku kenal dengan mbak cantik ini sejak IIDN Semarang masih aktif ngumpul-ngumpul. Seingatku dulu pernah ngumpul di rumahnya juga, kalau nggak salah pas kedatangan mbak Indari Mastuti. Bener nggak ya... Menurutku, mbak Winda ini orangnya sangat humble dan hangat, bikin orang yang pertama kali pertemu juga langsung merasa dekat.

Oke deh, let's jump to the theme

Kalau dihitung-hitung, aku termasuk orang yang jarang traveling. Paling banter jalan-jalan di dalam kota, beberapa kali piknik ke Yogya waktu jaman sekolah dasar, pernah sekali menikmati gua dan pantai di Pacitan saat kelas 3 SMP, sempat ke Solo dan Surabaya dalam rangka acara teater, mampir sebentar ke Palembang - itu pun jaman TK gitu pas ngikut bapak kerja, dan paling jauh ke Makassar (Ujung Pandang), Pare-pare dan Mamuju saat budhe mantu putri pertamanya. 

Bapak dan ibu bukan orang yang terlalu suka traveling, dan seingatku nggak pernah tuh arrange time to travel with family. Ya dulu paling banter ke Kopeng dan Jimbaran, itu juga jaraaaang pakai banget. Kami lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Mungkin karena bapak kerjanya sudah menclok dari satu kota ke kota lain, jadi kalau pas di rumah ya pengennya istirahat dan kumpul bareng anak istri. 

Berhubung kurang piknik sejak kecil, aku punya cita-cita untuk bisa keliling Indonesia. Kok cuma keliling Indonesia? Nggak sekalian keliling dunia aja? Keliling Indonesia dulu deh, kalau lihat My Trip My Adventure rasanya mupeng banget bisa menclok dari satu tempat cantik ke tempat cantik lainnya di Indonesia. Meski begitu bukan berarti aku nggak pengen ngrasain juga jalan-jalan ke luar negeri lo ya. Kalau disuruh bikin list negara mana saja yang bakal jadi tujuan traveling-ku, mungkin begini;


1. Makkah dan Madinah - sebelum touch down ke negara-negara lain yang ada di muka bumi ini, aku pengen ke sini dulu. Melihat langsung kota kelahiran Nabi Muhammad, Kakbah dan Hajar Aswad. Menyusuri sejarah panjang agama yang kuyakini. Semoga segera dimampukan bisa ke sana. Aamiin.

2. Singapura - cuma satu alasan, karena ibu mertua tinggal di negara ini. Masa iya kudu ibu mertua terus yang datang ke Semarang, sekali-kali pengen lah nyenengin beliau dengan datang ke negaranya. Really want to see Merlion Park, Esplanade, Sentosa Island... *ngodein suami.

3. Asia Timur (Jepang, Korea, China) - dari dulu aku selalu suka bahasa dan budaya negara-negara di Asia Timur. Ya, meskipun sekarang lebih akrab dengan Korea, karena tiap hari mantengin dari satu drama ke drama lainnya, tapi bahasa Jepang dan China pernah jadi bahasa asing favorit. Sayang udah lupa semua karena nggak pernah dipraktekkin.

4. Turki - gegara nonton Bulan Terbelah di Langit Amerika, mupeng banget ke negara ini, menelusuri sejarah kekhalifahan terakhir. 

5. Palestina - entah kapan, semoga kedamaian segera tercipta di bumi Palestina dan Al Aqsho kembali tegak dan bisa kembali digunakan untuk beribadah secara bebas.

Masih banyak lah negara yang lainnya, keliling Eropa, main ke negara adidaya Amerika, bisa nggak selesai postingan ini kalau ngomongin pengen jalan-jalan ke mana aja. So, sebaiknya balik saja ke tema ye.

Dulu saat Ibu dan adik masih ada, aku selalu ingin pergi bertiga dengan mereka. Aku ingat setiap ibu habis gajian, ibu mengajakku belanja naik becak. Saking banyaknya barang belanjaan, satu angkot bisa langsung penuh dengan belanjaan kami. Jadilah ibu minta sopir angkotnya untuk masuk ke gang dan berhenti tepat di depan rumah. Sayangnya ketika adikku lahir, kondisi ibu tidak lagi prima seperti saat aku kecil. Adik nggak pernah mengalami rasanya jalan-jalan bersama ibu naik becak. Itulah kenapa dulu aku selalu berharap ibu bisa sembuh dan kami bisa jalan-jalan bertiga. Namun takdir berkata lain, bahkan sampai mereka pergi meninggalkanku, keinginan itu belum tercapai. Insya Allah, nanti ketemu lagi ya, bu.. dik.. kita jalan-jalan di tempatNya yang paling indah. Aamiin.


A post shared by Marita Ningtyas (@marita_ningtyas) on


Sebelum bertemu mantan pacar yang sekarang jadi ayahnya anak-anakku, aku sosok yang cukup individualis. Aku lebih suka menikmati kesendirian, atau lebih tepatnya tidak suka merepotkan orang lain. Aku nyaman-nyaman aja pulang sekolah atau kuliah sendirian, sambil dengerin lagu di earphone atau baca buku. Sesekali mengamati tingkah laku orang-orang yang kulewati. Aku nggak masalah ikut sebuah kegiatan meski tidak ada satu pun orang yang aku kenal. Aku juga tidak berusaha untuk berkenalan dengan orang-orang baru. Jika ada orang yang ngajak kenalan, aku akan meresponnya dengan baik, namun untuk memulai percakapan lebih dulu... it's not me at all.

Sampai suatu hari aku ditegur oleh salah satu teman dekatku di SMA, "kamu tu lo ke mana-mana sendirian, kaya nggak punya teman, mbok ya ajak-ajak." Bukannya nggak mau ngajak sih, la kalau perginya buat main-main seru-seruan, ngajak teman mungkin enak. Sedangkan saat itu seringnya aku pergi ke kantor PDAM buat bayar tagihan air, ke kantor pos buat bayar cicilan rumah dan tagihan listrik, ke kantor asuransi bayar asuransi pendidikanku dan adik atau ke supermarket untuk belanja bulanan. Ya, ketika kondisi ibu drop pertama kali, aku diberi tanggung jawab untuk membantu ibu mengelola keuangan. Sungkan aja ngajak teman untuk ikut serta, dan lagi aku merasa lebih bebas kalau pergi sendirian. Aku bisa berjalan secepat yang aku mau dan menyelesaikan tugasku sesegera mungkin. Aku bukan tipe orang yang suka window shopping, perlunya apa ya itu yang dibeli, terus langsung pulang. La kalau ngajak teman, yang ada belanjanya jadi super lamaaaa karena berhenti dulu lihat ini lihat itu.

I used to be alone
Tapi kemudian semua berubah gegara sesosok pria yang nekat merusak caraku bertahan hidup, wkwkwk. Ya, sejak kenal sama dia... aku jadi nggak suka sendirian. Rasanya aneh ketika harus menyusuri jalan sendiri, naik angkot atau bis sendiri. Lebih nyaman kalau ada si dia yang menggenggam tanganku, melindungiku saat harus menyebrang di jalanan yang sangat padat, dan ngobrol ngalur ngidul sembari membunuh waktu di perjalanan. 

Sampai sekarang sudah punya anak dua, aku masih tetap lengket aja sama doi. Meski sesekali aku pernah minta waktuku sendiri untuk sekedar jalan sama teman atau nonton bioskop sendiri, namun kemudian di tengah-tengah aktivitasku tanpa doi aku pasti merasa suwung. Aneh aja pergi tanpa dia. So, kalau ditanya siapakah orang yang paling ingin aku ajak traveling? Nggak perlu pakai mikir, jawabannya pasti suamiku tercintaaaah.


A post shared by Marita Ningtyas (@marita_ningtyas) on

Lagipula menurut beberapa hadits, seorang wanita ketika bepergian sebaiknya didampingi oleh mahramnya, apalagi jika perjalanannya lebih dari dua hari dan keamanannya tidak terjamin.


Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah wanita safar (bepergian jauh) kecuali bersama dengan mahromnya, dan janganlah seorang (laki-laki) menemuinya melainkan wanita itu disertai mahromnya. Maka seseorang berkata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesungguhnya aku ingin pergi mengikuti perang anu dan anu, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji.” Beliau bersabda: “Keluarlah (pergilah berhaji) bersamanya (istrimu)”. [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari IV/172), Muslim (hal. 978) dan Ahmad I/222 dan 246]

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah seorang wanita safar sejauh tiga hari (perjalanan) melainkan bersama dengan mahramnya”. [HSR. Imam Bukhari (1087), Muslim (hal. 970) dan Ahmad II/13; 19; 142-143; 182 dan Abu Daud]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak halal (boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir safar sejauh sehari semalam (perjalanan) dengan tanpa mahram (yang menyertainya)”. [HSR. Imam Bukhari (Fathul Baari II/566), Muslim (hal. 487) dan Ahmad II/437; 445; 493; dan 506]
Mungkin bakal ada yang bertanya-tanya, ribet banget dong ya jadi muslimah, mau jalan-jalan aja kudu ada mahramnya, kagak bisa sendirian. Enggak lah, di balik sebuah aturan agama, pasti tersimpan hikmah yang luar biasa. Begitulah cara Islam menjaga dan memuliakan wanita. Lagipula kalau cuma ngemall sebentar atau datang ke acara blogger gathering boleh kok nggak ditemani mahram.



Namun beberapa ulama berpendapat, jika keadaan aman dan jauh dari fitnah, tidak mengapa seorang wanita pergi safar sendirian. Misal di jaman modern sekarang ini, di mana alat transportasi mudah diketemukan dan tingkat keamanan lebih tinggi, nggak masalah kok bagi wanita yang ingin traveling alone. Hal ini dikuatkan pula dalam sebuah hadits lain;

Dari Adi bin Hatim, secara marfu’: “Hampir datang masanya wanita naik sekedup seorang diri tanpa bersama suaminya dari Hirah menuju Baitullah.” (HR. Bukhari)
Nah, silakan buat teman-teman yang suka traveling sendirian, dipertimbangkan saja.. kira-kira kalau pergi sendirian aman kah, atau mungkin perginya dengan sekelompok teman, dan sebagainya. Kalau aku sih memang dasarnya sekarang berasa jadi alien kalau pergi-pergi nggak sama suami, jadi ya kalau ada tawaran jalan-jalan tanpa suami dan anak mikirnya bisa berkali-kali. Apalagi anak masih kecil-kecil begini, belum kepikiran untuk ninggal jalan-jalan sendirian.

Jadi ya sekarang kalau mau traveling pengennya rame-rame, sama paksu, dan sepaket dengan Ifa dan Affan. Kalau ada paksu rasanya jalan-jalan bakal lebih aman dan nyaman, ada yang memproteksi, ada yang mengingatkan. Sementara anak-anak membawa keceriaan tersendiri. Saat lelah muncul di tengah perjalanan, lihat wajah mereka yang tetap excited jadi obat sendiri untuk tetap melanjutkan perjalanan.


Meski hingga hari ini belum berkesempatan untuk pergi jauh-jauh, tapi aku bahkan bermimpi bisa tinggal di sebuah RV dan kami tinggal secara nomaden dari satu kota ke kota lainnya. Anak-anak menjalani travel schooling ala Gen Halilintar, tiap hari nemu pengalaman baru, bayanginnya seru banget... Hahaha.. tapi kayanya terlalu jauh untuk terwujud.



Oke deh, sekian cerita dariku. Thanks for reading ya, pals.. Btw, kalau kamu siapa yang paling ingin kamu ajak traveling? Kasih tahu dong, kepo nih aku, hehe.

Sampai jumpa di postingan berikutnya. Wassalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.











20 comments:

  1. Aku malah jarang jalan2 berdua sama suami sekarang, padahal pengeeeen banget bisa jalan2 berdua aja sama beliau. Mungkin nanti kalo anak-anak udah gede2 kali ya...travelingnya ke Mekkah Madinah. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ha iyaa.. Kalau berdua sama suami udah juarang.. Manalah mungkin, jalan2 yo kudu sepaket sama anak-anak juga.

      Delete
  2. Aku mah pasti sama suamiku mbak dan keluarga besar, sama pengen memjelajah semua negara itu juga, ada yang sudah beberapa, ada yang ingin kesana lagi yaitu mekah madinah 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kalau udah berkeluarga pasti pengennya jalan-jalan sama suami ya mbak. Aamiin semoga tercapai cita-citanya ya mbak.

      Delete
  3. Sama mb, tanpa suami dan anak jalan2 jg nggak seru..keinget mereka terus soalnya :D

    btw aku jg dulu suka kemana mana sendirian, sering jg makan di warung sendirian..asyik ya mb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya... Berasa sepi dan nggak hidup suasananya kalau nggak ada suami dan anak.

      Iya mbak, sendirian lebih bebas, nggak terikat, hehe.

      Delete
  4. Sama mb, tanpa suami dan anak jalan2 jg nggak seru..keinget mereka terus soalnya :D

    btw aku jg dulu suka kemana mana sendirian, sering jg makan di warung sendirian..asyik ya mb

    ReplyDelete
  5. Nah ini makanya aku lebih nyaman kalo jalan sama suami. Sama mahrom dan pastinya aman deh mo gantian megang anak2 pun bisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betuuuul.. Aman, nyaman plus capeknya dibagi hehe. Apalagi punya bayi ya mbak, kalau nggak gantian.. Megap-megap hehe.

      Delete
  6. kalau dulu lagi belum nikah ay traveling bareng sama teman, kl sekarang sdh berkeluraga, ya sama keluargalah, saam anak2 tp skrg setelah anak dewasa susah bisa pergi bareng krn jadwal mereka berbeda, tp alhamdulilahnya ada libur hr jumat pas bln desember nih, sdh direncanaakn pergi ke belitung barengan, anak yg kerja bisa ikut yang kuliah ikut juga, asyik bisa spt dulu lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, seru ya kalau anak-anak sudah besar... Tapi kalau pas nggak di rumah, kangen pasti ya mbak.

      Delete
  7. Aku juga penginnya sih jalan-jalan itu sama suami dan anak-anak, rasanya bahagia! Tapi sekarang mesti menyesuaikan jadwal, anak-anak sudah remaja gini, mereka kadang punya jadwal sendiri dengan teman2nya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu repotnya kalau anak udah remaja ya.. Udah punya agenda sendiri.

      Delete
  8. Kalau aku, selain pengen bisa keluar negeri. Ada juga mimpi pengen jelajahin negeri ini. Indonesia terlalu cantik buat dilewatin, mb

    Salam kenal yah, mb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak.. Itu di atas juga aku cerita yang pertama malah aku pengennya keliling Indo dulu, hehe. Salam kenal juga mbak..

      Delete
  9. Wah sama dong kayak aku, sebeluk nikah kemana2 sendiri. Lebih cepet aja sih, karena aku juga gakbmau ngerepotin orang. Sekarang aku malah berduaan terus sama suami, kemana2 sampai dpt julukan tukang ngintil suami, hahahaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, lebih bebas, nggak tunggu-tungguan, jadi lebih cepat kelar. Waaah asyik ya, anak-anak dah gede jadi berasa pacaran lagi hihi.

      Delete
  10. Ah, Mbak Marita, terima kasih sudah menulis ini. Jadi terhura. Dan juga sudah mengingatkan, kalau memang perempuan harus selalu 'ingat' bahwa bepergian seorang diri juga ada 'aturannya', demi kebaikan kita sendiri. Peluk aaah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terhura-hura hehe.. Sama-sama mbak.. Peluk kembali :)

      Delete
  11. Wah...suamimu mmg gandengable mbak.guanteng jg...ihirrr.
    Aku pingin digandeng suamiku jg..huhu..sayangnya dia jalannya kaya jerapah..aku kaya penyu...huhu

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.