Empat Cara Memelihara Harapan Agar Senantiasa Menyala-nyala

  • Friday, October 13, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 3 Comments


Empat Cara Memelihara Harapan Agar Senantiasa Menyala-nyala


Assalammualaikum waromatullahi wabarokatuh.

Membicarakan harapan, pasti semua orang memilikinya. Entah itu hanya satu, atau bahkan tak terhingga. Hidup dan harapan adalah sebuah benang merah. Kalau aku boleh bilang, harapan adalah kekuatan untuk tetap bertahan hidup.

harapan/ha·rap·an/ n 1 sesuatu yang (dapat) diharapkan: ia mempunyai ~ besar dapat memenangkan pertandingan itu; 2 keinginan supaya menjadi kenyataan: ~ ku agar ia kelak menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa; 3 orang yang diharapkan atau dipercaya: pemuda ~ bangsa;~ hidup 1 kemungkinan tetap hidup: ~ hidup korban pesawat yang nahas itu sangat tipis; 2 kemungkinan dapat hidup lebih lama; (sumber: kbbi.web.id)

Harapan, keinginan, mimpi --- tiga kata yang memiliki efek resonansi. Menggetarkan diri kita untuk senantiasa mencapainya. Sayangnya, acapkali ragu dan jenuh melanda hingga diri merasa harapan akan musnah tanpa sisa. “Apalah aku ini yang mengharapkan hal semacam itu,” “apakah mungkin harapan tersebut bisa terwujud?’ “kayanya harapan itu ketinggian deh buat aku,” dan masih banyak lagi pernyataan-pernyataan yang kita buat sendiri, tanpa sabar melemahkan usaha kita untuk mencapai harapan-harapan tersebut.

Yuk, kita coba langkah-langkah berikut agar senantiasa mampu memelihara harapan kita terus menyala dan berkobar;



Pertama, selalu husnuzon pada Allah alias selalu think positively pada Allah. Jika kita meremehkan kemampuan kita itu sama saja kita meremehkan kekuasaan Allah. Lihat apa yang telah Allah beri untuk kita. Tubuh yang sehat, udara gratis yang tinggal dihirup, kehidupan yang masih terbentang luas - nyatanya kita masih diberi umur hingga hari ini. Maka itu artinya kesempatan untuk bisa meraih harapan kita senantiasa masih ada. Bisa saja itu nampak tidak mungkin untuk kita, namun tiada yang tak mungkin untukNYA.  


Kedua, kencengin doanya, pals. Setelah kita mampu berhusnuzon pada Allah, tentu saja tiada lengkap jika kita tak menyebut harapan-harapan itu di dalam setiap doa. Tentu saja tanpa kita bilang pun Allah sudah mengetahuinya. Namun tentu saja akan ada bedanya harapan yang disebut dalam doa dengan harapan yang hanya disimpan tanpa dimintakan padaNYA. Ketika anak kita pengen suatu barang yang mahal, sekali dia minta bisa jadi kita menolaknya. Namun ketika dia memintanya berulangkali bahkan ditambah usaha dengan menjadi lebih rajin, lebih hemat jajannya, hati ibu mana yang tak akan terketuk? Begitu juga Allah. Dia bisa saja mengabulkan semua harapan hamba-hambaNYA, namun tentu saja IA akan lebih mencintai hamba yang rajin bertafakur, merapal harapan demi harapan dalam setiap doa hingga para malaikat mendengar dan meminta Allah mengabulkannya..



Ketiga, ikhtiar alias usaha. Harapan hanya akan jadi harapan jika tidak diiringi dengan usaha yang maksimal. Doa harus dilengkapi dengan usaha, pals. Karena usahamu akan dilihat Allah. Semakin maksimal usaha yang diniatkan untuk meraih ridho Allah, semakin besar harapan itu akan terwujud. “Aku berharap anak-anakku jadi sholih dan sholihah.” Nah, tunjukin lewat ikhtiar dong. Pengen anak sholih tapi tiap hari nggak dibersamai, cuma dikasih nonton tipi sama hape doang. Kalau anaknya kecanduan, nggak ngerti kasih batasan. Emaknya asyik online shop ato cekikikan di grup-grup whatsapp, ngerjain ini itu di rumah sampai nggak ada waktu buat nginstal software kebaikan di dalam diri anak. Diajakin hadir ke seminar/ workshop parenting bilangnya anaknya baik-baik aja dan nggak bermasalah. Jleb ya, pals… aku yang nulis juga makjleb. Berasa banget masih kurang ikhtiar, maunya berharap terus mak bedhundug langsung ada hasilnya. Dasar  menungsa, menus-menus kakean dosa, begitu kata almarhum ibuku dulu.



Keempat, tawakal. Ketika kita sudah husnuzon, doa tak pernah putus, ikhtiar nggak pernah lelah, tapi kenapa harapan demi harapan yang kita punya tak juga tercapai? Pals, tugas kita hanyalah berikhtiar, masalah hasil itu hak prerogative-nya Allah. Kalau kok harapan, mimpi dan keinginan kita tak sejalan dengan realita serta fakta yang kita hadapi, kembali lagi ke nomor pertama; husnuzon sama Allah. Ada banyak alasan kenapa Allah belum mengabulkan harapan kita. Pertama, Allah ingin kita lebih giat lagi berdoa dan berikhtiar. Kedua, Allah melihat harapan itu belum waktunya dikabulkan, kita hanya perlu menunggu dan yakin pada ketetapanNYA yang selalu terbaik untuk hidup kita. Ketiga, Allah tahu bahwa harapan itu jika dikabulkan tidak membawa kebaikan untuk kita, maka digantiNYA dengan sesuatu yang lebih tepat.

Jadi, apa harapan besarmu, pals? Semoga senantiasa semangat untuk mewujudkannya. Semoga Allah ridho atas semua harapan-harapan kita. Jangan takut mengharapkan sesuatu, namun takutlah jika kita berharap tinggi pada selain Allah!
Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


#ODOPOKT12
#OneDayOneStatus
#Day21
#BelajarMenulis
#IIPKaltimra.



You Might Also Like

3 comments

  1. Makasih sharingnya, marita..pencerahan buatku yang lagi lesu..

    ReplyDelete
  2. Setuju banget mbak ririt, aku pun mengamalkan keempatnya, harapan itu selalu ada buat orang yang percaya akan kebesaran Alloh 😊

    ReplyDelete
  3. Berharap tapi tetap yakin bahwa yang diberikan oleh Allah itu yg terbaik untuk kita...

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com