Yakin Kamu Wonder Woman? Sudah Melakukan Lima Hal Ini?

  • Sunday, October 08, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 7 Comments




Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hari minggu yang cerah seperti ini memang asyik untuk menghabiskan waktu bersama keluarga ya. Namun kebetulan hari ini aku nggak ada agenda ke mana-mana, jadi aku mau berbagi opini tentang wonder woman aja deh.

Wonder woman yang aku maksud di sini bukan film yang baru saja tayang di bioskop, namun wonder woman yang mengacu pada sosok wanita kuat dan bisa melakukan apa saja. Menurut kalian, wanita seperti apakah yang layak disebut sebagai wonder woman?
Jujur, telingaku kadang suka gatal kalau mendengar istilah super mom, wonder mom, wonder woman, super woman atau istilah sejenisnya untuk menggambarkan bahwa wanita itu dituntut untuk kuat, bisa melakukan apa saja, nggak boleh minta bantuan, nggak boleh sakit, bisa multitasking dan sebagainya. Memang harus ya begitu?

Bukan maksudku juga untuk mengkampanyekan bahwa wanita itu lemah, atau makhluk yang tidak berdaya. Tentu saja wanita itu kuat, namun kuat yang seperti apa? Apakah benar saking harus dituntut kuat, sampai perlu memanipulasi perasaan sendiri ketika memang sedang membutuhkan bantuan, sedang butuh didengar, atau sedang butuh dipeluk?

Luar Biasa Menjadi Wanita Kuat

Bergabung ke dalam sebuah support group untuk para ibu dan wanita di Facebook, membuatku semakin sadar betapa banyak permasalahan yang dihadapi para wanita di luar sana hanya karena tuntutan dunia agar mereka menjadi KUAT.  Hampir sebagian permasalahan itu timbul karena keluarga dan pasangannya tidak mau tahu atau tidak diberi tahu bahwa sesungguhnya mereka lelah, mereka butuh bercerita, mereka butuh dibantu.

Maka jangan heran jika tingkat baby blues dan post partum depression kini semakin meningkat di Indonesia. Terbukti semakin banyaknya kasus wanita membunuh anaknya atau wanita mengakhiri hidupnya di berita akhir-akhir ini. Sungguh miris, kan?

Nah, baiknya gimana nih biar kita bisa jadi wonder woman yang sebenarnya? Menurutku ada beberapa hal yang harus kita lakukan;

It’s Okay To Be Not Okay

Menjadi kuat itu bukan berarti kita harus selalu merasa baik-baik saja. Wanita yang kuat buatku adalah wanita yang bisa mengatakan aku lelah, aku sakit, aku ingin menangis, aku tidak baik-baik saja. Dengan jujur pada diri sendiri itu artinya kita mau membuka diri kepada orang lain bahwa kita hanya manusia biasa yang juga bisa lelah, bisa sakit, bisa meminta bantuan.

Sekarang coba deh kita pikir, mana yang lebih baik menjadi wanita yang pura-pura kuat dengan mengerjakan segala sesuatunya sendiri, tapi sebenarnya tidak baik-baik saja? Atau mau mengakui bahwa diri kita sedang lelah, sedang ingin berendam di air hangat untuk menyegarkan pikiran, sedang ingin mencium aroma laut agar tenang, namun setelahnya bisa merubah dari yang awalnya tidak baik-baik menjadi baik-baik saja?



Menangislah jika harus menangis. Menangis itu hadiah dari Allah untuk wanita agar bisa meluapkan segala rasa di hatinya. Menangis itu bukanlah bentuk kesedihan, justru dengan membiarkan diri kita menangis saat dibutuhkan, kita tahu dengan benar apa itu kebahagiaan.

Kita itu manusia biasa, pals. Pasti punya rasa sakit, rasa sedih, rasa lelah, rasa marah. Manusiawi sekali jika kita meluapkannya. Yang harus diperhatikan bagaimana cara mengungkapkannya? Tentu saja dengan bijak dan tidak berlebihan.


Ngomong Saiiii

Ada kalanya wanita lebih memilih diam dan tidak menyuarakan kata hatinya. Padahal wanita itu butuh sekurang-kurangnya tiga puluh ribu kata tiap hari untuk dikeluarkan. Kalau nggak dikeluarkan, nggak cuma jadi jerawat, bisa jadi penyakit juga lo. Lebih bahaya lagi ketika dikeluarkan dengan cara yang nggak tepat, misalnya ngomelin anak. So, cari teman yang tepat sebagai tempat berbagi. Buat yang sudah punya pasangan (halal), bisa bercerita kepada pasangannya.



Aah, suamiku nggak asyik diajak curhat. Beberapa kali aku mendengar pernyataan tersebut.  Wokay, aku nggak tahu apa yang terjadi di rumah tangga kalian, tapi jika memang pasangan tidak lagi bisa menjadi tempat untuk berbagi rasa, kita bisa mencari teman lainnya. Entah itu ustadzah, psikolog atau sahabat yang bisa mendengar lebih baik. Yang pasti jangan salah cari teman curhat. Pilihlah yang bisa mendukungmu, tahu ilmunya dan tidak menjerumuskanmu. Salah satunya kalian bisa gabung ke group support milik mbak Nur Yana Yirah, Motherhope. Sebuah grup support yang didirikan untuk para ibu, khususnya yang memiliki masalah depresi, post partum depression, baby blues dan tidak punya tempat untuk bercerita. Bahkan di grup ini juga kini tersedia pendampingan bersama psikolog lewat grup whatsapp.

Buat yang lebih suka menulis, cara ini juga sangat efektif untuk memberikan self healing pada saat kita sedang merasa lelah, terluka, atau marah. Inilah yang aku lakukan, lewat menulis aku bisa bebas mengungkapkan isi hati dan tidak membiarkan lukaku membesar serta membahayakan diriku.

Ukur Kemampuan Diri

Ketika pekerjaan rumah tangga tidak ada habisnya, anak-anak satu per satu menangis tanpa henti, orderan online shop ngawe-awe… kepala tiba-tiba nyut-nyutan, jantung mulai berdegup kencang dan badan terasa lungkrah. Coba tanyakan kembali pada diri sendiri apakah benar kita mampu melakukan semuanya?

Pilah dan pilih kegiatan yang paling utama untuk kita saat ini. Menentukan skala prioritas itu penting banget, pals. Jangan sampai karena keinginan menjadi wonder woman, kita melakukan semuanya tanpa bantuan, sedang tanpa disadari fisik dan psikis kita mulai terganggu.



Jika memang kita merasa butuh bantuan untuk urusan bersih-bersih rumah, carilah bantuan. Atau kalau memang kondisi ekonomi tidak memungkinkan untuk menyewa ART, minta bantuan pada suami. Tentu bilangnya dengan baik-baik ya, ingat prinsip berbagilah kebahagiaan. Tunggu waktu yang tepat untuk bicara dari hati ke hati, jangan saat suami pulang langsung diberondong dengan keluhan. Biarkan ia melepas lelah dulu sepulang kerja, mengisi perutnya lapar, menyiram tubuhnya agar kembali segar, baru kita ceritakan apa kebutuhan kita.

Kita bisa meminta bantuan psikolog untuk masalah psikis yang mengganggu. Yang mengganggu seperti apa? Kalau kita sudah mulai insomnia, mulai mendengar bisikan-bisikan tak jelas, mulai memukuli atau menyakiti anak, kata-kata kotor mulai keluar, menutup diri dari orang lain, bahkan mungkin mulai menyakiti diri sendiri – mulai terbersit untuk mengakhiri hidup. Ketika hal-hal itu kita alami, segera lari kepada ahlinya! Bagaimana kita mau jadi kuat kalau ternyata jiwa kita butuh disembuhkan?

Pals, kita itu manusia sosial. Jadi sangat manusiawi untuk meminta bantuan. Kalaupun harga diri kita terlalu tinggi untuk meminta bantuan, ambillah waktu untuk beristirahat sejenak, meski sekedar hanya mandi lebih lama dari biasanya atau menikmati secangkir kopi kesukaan. 

Mana bisa anakku ngintil terus, mana bisa ditinggal sebentar saja nangisnya kaya gitu? Aku lebih memilih membiarkan anakku nangis kenceng dan aku menepi dulu, ambil wudhu atau sekedar minum ai putih, lalu mengambil nafas panjang baru memegang anakku kembali. Daripada tetap bersama anak yang menangis sedang kondisiku tidak dalam keadaan tenang. Setidaknya itu akan lebih aman buat aku dan anakku. Aku tidak akan tanpa sengaja menyakiti anakku dan diriku.

Memiliki Empati

Dalam pendapatku wonder woman itu merupakan wanita yang memiliki empati kepada sesamanya. Wanita yang tidak menghakimi sesamanya hanya karena perbedaan pilihan yang dipilih teman wanita lainnya.

“Lahiran kok SC berarti belum jadi ibu yang sempurna,”
“Sarjana kok nganggur, buat apa sekolah tinggi-tinggi.”
“Gitu aja nangis, cengeng, masalahku lo lebih gede dari kamu.”
“Makanya berusaha, males sih kamu, makanya ASI nggak keluar.”
“Bikinnya kurang yahud tuh, masa kalah sama yang baru nikah aja udah hamil lo.”



Dan masih banyak lagi hal lainnya. Ketika kita tak bisa membantu orang lain dengan mendukungnya, cukup dengarkan beri pelukan itu jauh lebih menguatkan. Siapkan telinga untuk mendengar lebih banyak daripada mulut yang kadang tak bisa mengontrol diri saat bicara. Tak perlu tergesa memberikan nasihat ketika tak diminta, karena kadang teman kita yang akhirnya mau curhat malah jadi down mendengar penjelasan kita yang panjang kali lebar kali  tinggi.

Masalah kecil buat kita bisa jadi masalah besar buat orang lain, begitu juga sebaliknya. Maka tidak perlu merasa masalah kita yang paling besar. Karena Allah sudah memberikan kehidupan bagi para hambaNya sesuai dengan kekuatannya masing-masing. Tugas kita hanyalah mendukung sesama wanita lainnya agar tetap kuat menjalani ketetapan Illahi. Tugas kita hanyalah cukup menjadi sahabat-sahabat yang bijak.

Empati inilah yang sepertinya mulai hilang di antara para wanita. Sedikit-sedikit mom war, sedikit-sedikit nyinyir. Timeline selalu penuh dengan perdebatan demi perdebatan. Lelah bo.

Hanya Allah, Allah Lagi dan Allah Terus

Ini hal terakhir tapi buatku ini yang paling penting. Hari Sabtu lalu saat mengikuti parenting day di sekolah Ifa, pembicaranya adalah Bu Mia Inayati Rachmania yang merupakan direktur tempat Ifa bersekolah. Beliau ini memiliki 11 orang anak, masya Allah. Beliau bercerita bahwa banyak yang tanya kepada beliau, memang nggak pusing ya bu, memang nggak rempong ya bu, memang nggak stress ya bu, memang nggak capek ya bu dan berbagai macam pertanyaan sejenis.

Bu Mia menjelaskan kalau dirinya memang sosok yang senang tersenyum, jadi tak banyak orang yang tahu kesusahan yang beliau alami. Namun sebagai manusia biasa pastilah perasaan-perasaan yang ditanyakan pernah perjadi dalam hidup beliau. Beliau menegaskan bahwa apapun yang terjadi cukup satu kunci yang kita pegang, ingatlah kalau kita punya Allah. Pegang kunci itu dengan kuat dan yakinlah Allah akan selalu membantu setiap lelah, sakit, dan semua masalah kita.



Manusia bisa jadi berkhianat, menyakiti, tidak mendengar dan malah mengecewakan, namun Allah akan selalu memberi jalan keluar terbaik asalkan kita mau bersandar hanya padaNya. Bukan hal yang mudah memang, namun tak ada salahnya dicoba bukan untuk mengubah segala lelah menjadi lillah.

Itulah lima hal yang menurutku harus dimiliki seorang wonder woman. Mungkin kalian mau menambahkan poin-poin lainnya, pals? Aku sendiri sampai detik ini masih merasa belum menjadi wonder woman. Masih sering menyimpan perasaan sendiri, masih sering nyinyir sama masalah orang, masih kurang mendengarkan, dan yang lebih parah terkadang masih nggak yakin kalau Allah pasti membantu setiap masalahku. Hiks.

Semoga kita bisa bermetamorfosa menjadi wonder women dan saling menguatkan sesama wanita ya. Terima kasih sudah membaca my random thought ini dan sampai jumpa di postingan berikutnya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah

#ODOPOKT7
#OneDayOneStatus
#Day16
#BelajarMenulis
#IIPKaltimra 




You Might Also Like

7 comments

  1. Masih belum bisa jadi wonder women mba hiks

    The real wonder women ku masih ibu ku :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena jadi wonder woman itu nggak ujug2 mbak. Butuh ditempa dulu hehe.

      Delete
  2. Thanks sharing #selfhelp nya Mba Marita. Dan aku juga baru tahu ttg motherhope itu. Sepertinya sdh makin banyak ya support grup yg peduli pada masalah masalah Emak zaman now.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Motherhope didirikan sama mbak Nur Yana Yirah krn dia juga pernah ngalamin Post partum depression..dia nggak mau ibu2 lain mengalami Hal yang sama. Or kalaupun mengalami Ada yg support :)

      Delete
  3. TFS ya mb, jika tak bisa menjadi wonder woman setidaknya jangan jadi cat woman halah hahaha... Semoga Allah memberikan banyak kemudahan untuk para perempuan menggapai kebahagiaannya. Aamiin

    ReplyDelete
  4. Semoga kita menjadi wanita muslimah tangguh, tegas tapi luwes ya mbak 😊

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com