Tak Ada Adakadabra dalam Pengasuhan Anak, Parents!

  • Friday, October 06, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 5 Comments




Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Memasuki hari kelima One Day One Post –nya Blogger Muslimah, aku akan menjawab tantangan dari program rumah belajar menulis IIP Kaltimra yang mengangkat tema tentang resensi buku. Membaca termasuk hobiku, dan ada banyak buku menarik yang sudah aku baca. Seringkali setiap selesai membaca sebuah buku yang menarik, instingku langsung memberi tanda untuk menuliskan resensinya di blog. Namun acap kali insting itu tinggallah insting belaka, aku lebih seringnya melupakan insting itu, hingga akhirnya belum ada satu pun postingan tentang resensi buku di blogku.

So, terima kasih buat Rumbel Menulis IIP Kaltimra yang telah mengangkat tema ini di program One Day One Status –nya yang telah memasuki hari ke empat belas. Dari pagi aku memikirkan buku mana yang akan aku bedah dan bagikan, dan baru malam ini aku teringat ada sebuah buku mungil bersampul abu-abu yang isinya sama sekali nggak mungil. Apakah itu?

Judul buku                 : Mengajarkan Kemandirian pada Anak
Penulis                       : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari         
Penerbit                     : Khazanah Intelektual
Cetakan                     : I, Juni 2014
Tebal                          : xviii + 130 halaman; 13 x 20 cm
ISBN                           : 978-979-3838-57-1
Harga Sekarang       : Rp 42.000

Buku ini merupakan buku ketiga dari rangkaian buku tentang pengasuhan anak yang ditulis oleh abah Ihsan Baihaqi. Tahu dong ya sama abah Ihsan yang semakin tenar lewat Program Sekolah Pengasuhan Aank dan Gerakan 1821 – nya? Mengapa aku memilih buku ini untuk aku bedah isinya? Karena menurutku, buku ini cocok untuk mereka yang tak begitu suka baca buku terlalu tebal, namun isinya cukup dalam dan lengkap.



Sebelumnya aku pernah membedah buku ini di grup WhatsApp YukJos 8 yang merupakan grup pendampingan untuk alumni pelatihannya Abah Ihsan wilayah Semarang dan Surabaya, bahkan oleh Abah sempat dibagikan di akun instagramnya. Sepertinya asyik juga membagikannya lewat postingan blog yang tentunya bisa lebih tuntas mengupasnya.

Buku-buku abah selalu menjadi bagian dari buku favoritku karena tidak banyak penulis yang merangkaikan kata demi kata, kalimat demi kalimat dengan begitu mengalir.. Untuk yang pernah hadir ke acara pelatihannya Abah, lalu ketika di rumah membaca buku-bukunya, pasti berasa kaya lagi di ruangan pelatihan dan melihat Abah menyampaikan materinya secara langsung. Karena tulisan beliau dan apa yang beliau sampaikan secara langsung itu benar-benar sealiran. Kan ada ya penulis yang tulisan di bukunya buagus banget, saat membacanya bikin terharu dan makjleb, tapi ketika bertemu muka secara langsung dan melihatnya berbicara, begitu beda jauh karakternya.



Sinopsis “Mengajarkan Kemandirian pada Anak”

Buku mungil warna abu ini dibuka dengan manis, mempertanyakan apakah benar anak-anak tidak mandiri? Kalau memang mereka tidak mandiri, kenapa anak-anak mampu memilih mainannya sendiri, baju yang ingin dipakainya, dan mau makan apa? Itu artinya secara fitrah anak-anak terlahir sebagai pribadi-pribadi yang mandiri.

Kalau sekarang kita kewalahan mengatasi "manja" nya anak, coba instropeksi diri lagi, jangan-jangan kita sebagai orang tua lah yang merusak fitrah tersebut.

Tak hanya pembukaannya yang manis dan menohok, catatan editor dari buku ini pun menyentil kita akan cinta orang tua yang justru bisa menjadi racun untuk anak-anak. Dengan alasan cinta, semua permintaan dan keinginan anak dituruti, semua aktvitasnya dibantu. Aku jadi ingat petuah abah saat pelatihan, “jadilah orang tua yang tidak sekedar pengasih, namun juga penyayang.”

Orang tua pengasih yaitu orang tua yang anaknya minta apa aja bakalan dikasih. Jelas jika tidak diberikan batasan, hal ini akan membahayakan si anak. Sedang orang tua penyayang adalah orang tua yang menyadari bahwa menyayangi anak harus ada batasannya. Namun jika orang tua hanya penyayang saja, tanpa mengerti keinginan anak, hal ini juga tidak akan imbang. Oleh karena itu menjadi orang tua yang pengasih dan penyayang harus sepaket.

Sebelum masuk ke inti bab-bab buku ini, abah memberikan prolog yang diberi tajuk "Terima Kasih Anakku" yang akan menyadarkan kita bahwa anak-anak sebenarnya guru untuk kita, melecut kita untuk berbenah lebih baik.

Kalian mengajarkan Abah untuk tidak malu dengan kebaikan. Apa pun yang kalian anggap baik, menjadi yang terindah di mata kalian. (halaman 3)

Nah, berikut ini adalah bab-bab yang diulas dalam buku "Mengajarkan Kemandirian kepada Anak":



Bab I - Agar Anak Taat pada Aturan

Mungkin kita seringkali bertanya-tanya kenapa sih ada anak yang gampang banget dikasih penjelasan sama orang tuanya langsung nurut, kenapa anakku udah dijelasin dari A sampai Z, panjang kali lebar kali tinggi tetap aja nangis, tetap aja tantrum. Di buku mungil ini, abah menjelaskan bahwa setidaknya ada lima hal yang bisa menjadi penyebab anak tidak menurut pada aturan yang kita buat; aturan yang ada terlalu berlebihan dan tidak sesuai usia anak, saat membuat aturan anak tidak dilibatkan, aturan tidak disertai konsekuensi, inkonsisten dalam melaksanakan aturan, dan orang tua tidak tegas terhadap anak.

Dalam menegakkan aturan dan menghentikan perbuatan buruk anak, hal terpenting bukanlah soal reward dan punishment. Jika orang tua hanya mengelola sistem reward – punishment, percayalah hubungan Anda dengan anak akan garing! Justru bonding orang tua dengan anak serta kerelaan waktu orang tua untuk meng-install-kan fikroh anak dengan nilai-nilai baik adalah hal-hal lebih besar lain yang dilakukan untuk anak agar mau berbuat baik dan semakin terhindar dari berbuat buruk. (halaman 16)

Bab II - Menghadapi Perilaku Anak yang Keras

Ada yang punya anak berwatak keras, ingin menang sendiri, kalau nggak dituruti teriak-teriak? Cung, si kakak nih lumayan bikin keringatan kalau lagi kumat ngeyelnya. Beneran kalau emaknya nggak belajar parenting, pasti udah habis aku cubitin kali. Maafkeun emakmu ini, nak… telat belajarnya, insya Allah kita sama-sama memperbaiki diri ya.

Lewat buku mungil ini abah mengingatkan bahwa kekerasan yang orang tua lakukan dalam menghadapi anak berwatak keras justru akan semakin membuat si anak liar dan tidak bisa diatur. Maka kalau masih ada yang suka main kekerasan sama anak, yuk segera tobat, tegas dan keras itu beda kasus, euy. Tegas itu ketika anak berlaku buruk,  cukup sedikit bicara, banyak bertindak. Karena seringnya terlalu banyak ngomel malah menguras tenaga dan membuat semakin emosi, yang ujung-ujungnya menyakiti anak. Terus tindakannya apa? Sesuai dengan kesepakatan yang dibuat bersama anak, misal jika anak mencubit atau memukul, anak tidak boleh keluar dari kamar selama setengah jam. Jangan lupa ajarkan anak untuk memilah mana perilaku yang diterima dan tidak.

Hukuman memang diperlukan, namun yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran anak. Caranya dengan membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak, buat anak nyaman bercerita dengan kita, lalu sediakan waktu untuk meng-install nilai baik dan buruk ke dalam otak anak entah itu lewat buku, dongeng atau pun film.

Sediakan waktu untuk BERSAMA anak, bukan hanya di DEKAT anak….. (halaman 25)

Bab III - Agar Anak Mau Tidur Sendiri

Ini masih jadi PR buat aku sampai sekarang. Dulu sebelum adiknya lahir, si kakak sudah sempat mau tidur sendiri. Eh, setelah adiknya lahir malah kembali tidur sama emaknya. Dasar emaknya juga nggak tegas, kasihan dan takut merasa kehilangan kasih sayang serta iri sama adik bayi, diperbolehkan deh tidur bareng emaknya.

Meski begitu aku sudah sounding ke kakak, batasnya cuma sampai kakak masuk SD. Karena memisahkan tidur anak dan orang tua itu perintah yang ada di Al Quran. Ada istilah yang disebut isti’dzan, yaitu anak meminta izin terlebih dulu ketika memasuki kamar orang tuanya.

Menurut abah, harus ada tahapan pemindahan tidur, dari yang awalnya sekamar dan satu kasur dengan orang tuanya, perlahan mulai dirubah menjadi tetap satu kamar namun beda kasur. Setelah tahapan ini berhasil, mulai masuk tahapan berikutnya yaitu beda kamar namun masih ditemani sampai anak tertidur. Selanjutnya tahapan paling akhir, tidur beda kamar dan tidak lagi ditemani.

Namun jangan kira tahapan-demi tahapan itu berjalan mudah ya. Pasti akan ada ujiannya, anak akan berkali-kali pindah ke kamar tidur orang tua. Saat itu terjadi, tiap kali anak pindah, kembalikan lagi ke kamarnya. Untuk membuat anak semangat, kita bisa memberi reward jika anak berhasil tidur sendiri. Misal jika dalam tujuh hari tanpa bolong bisa tidur tanpa ditemani, dia berhak dapat es krim kesukaan. Yang terakhir, tutup pintu kamar orang tua, pastikan anak harus ketuk pintu ketika akan masuk ke kamar orang tua.

Bab IV  - Agar Anak Mau Berbagi

Seringkali kita terlalu semangat untuk mengajarkan berbagi sebelum kita lulus mengajarkan anak tentang konsep kepemilikan. Abah Ihsan lewat buku abu-abunya ini mengingatkan bahwa sebelum diajarkan tentang makna berbagi, anak harus diajari dulu tentang konsep kepemilikan. Baik itu menghargai barang milik orang lain, ataupun barang milik sendiri. Itu artinya anak punya hak untuk tidak meminjamkan barangnya kepada orang lain. Nah, setelah anak paham mana barang miliknya dan mana yang bukan, kita harus seimbangkan dengan melatihnya untuk mau berbagi. Caranya lewat cerita, misal dongeng tentang keistimewaan bersedekah atau ajak anak-anak melihat orang-orang yang tidak mampu. Berikutnya libatkan anak dalam kegiatan sosial yang dilakukan orang tua. At last but not least, berikan sedikit dorongan/ paksaan saat anak masih enggan berbagi, misal “bunda nggak mau kasih roti ini ke kakak ah, dikasih ke adik sama ayah aja deh. Habisnya kemarin kakak waktu punya cokelat, adik sama bunda nggak dibagi.”


Bab V - Mengatasi Anak Rewel Saat Diajak Jalan-jalan

Siapa yang anaknya suka rewel kalau diajak jalan atau berkunjung ke suatu tempat? Ya, aku ngacung paling tinggi lagi deh. Kalau mau ngajak pergi si kakak, aku harus bener-bener jaga mood-nya doi, sekalinya bikin doi bรชte, bisa berabe dah.
Jadi sebenarnya wajar anak-anak rewel ketika terpaksa ikut kegiatan orang tua yang notabene bukan kegiatan anak-anak. Oleh karena itu kalau kita terpaksa membawa anak ke acaranya kita, pastikan kita bisa memfasilitasi si anak dengan kegiatan menarik agar dia tidak merasa bosan. Entah itu membawa mainan kesukaan, buku bacaan favoritnya, atau crayon dan buku mewarnai. Kita juga bisa menggunakan sistem reward, Misalnya, “Kalau kakak hari ini pintar saat menemani bunda belajar, pulangnya bunda mau beliin kue kesukaannya kakak ah, mau?”

Bab VI - Ketika Anak Disakiti Teman-temannya

Anak-anak berantem itu seperti kegiatan favorit ya. Pagi berantem, siang baikan, eh sorenya berantem lagi. Apa harus dihentikan? Ya, susah.. karena berantem itu sebenarnya juga cara anak untuk belajar menghadapi konflik.

Jadi, paradigma yang harus kita bangun adalah berantem harus kita kelola, bukan kita hentikan. (halaman 49)
Meski begitu bukan berarti lalu kita lepas tangan begitu saja. Kita tetap harus mengawasi, dan ketika perilaku anak sudah berlebihan, misal menyakiti secara fisik, kita pun boleh melakukan intervensi, bukan didiamkan.

Sedangkan untuk mengatasi perisakan alias bullying yang sekarang ini banyak terjadi, ajarkan anak melakukan tiga hal; bicarakan, melawan dan laporkan. Tahap pertama yaitu bicarakan, ajarkan anak untuk berani mengemukakan pendapatnya ketika ada anak yang menyakitinya bahwa ia tidak suka atas perilakunya. Jika tahap awal ini tidak berhasil, lanjutkan ke tahap kedua. Anak boleh melawan. Melawan bukan berarti pakai kekerasan, tapi tidak berdiam diri jika ada orang yang menyakitinya, entah dengan memegang tangan orang yang mau memukulnya atau lari ke tempat yang lebih aman. Tahap selanjutnya yaitu laporkan. Ajarkan anak untuk berani melaporkan perbuatan tak menyenangkan yang diterimanya kepada pihak yang berwenang, entah itu orang tua, guru atau satpam.


Bab VII - Mengatasi Anak yang Suka Memukul

Secara fitrah semua anak itu baik, kalau sampai anak jadi suka memukul, kita perlu mengecek apakah dia ikut-ikutan temannya atau lihat tayangan televisi atau jangan-jangan kita sebagai orang tua yang justru memberinya contoh. Ingat pals, anak kan cerminannya orang tua. Di buku kecil ini disampaikan empat langkah mengatasi anak yang suka memukul. Pertama jika kita ada di lokasi kejadian, segera hentikan anak ketika memukul. Kadang ada orang tua yang justru mendiamkan anaknya saat berperilaku buruk dengan alasan “namanya juga anak-anak.” Mendiamkan bisa diartikan oleh anak bahwa perilakunya disetujui, maka pastikan untuk menghentikan anak yang sedang memukul agar dia tahu perilakunya tidak kita sukai. Kedua, ajak anak bicara tentang alasan mengapa ia memukul. Ketiga, berikan batasan. Keempat, bantu anak mencari alternatif tindakan.


Bab VIII - Ketika Anak Kerap Mengancam

Yang paling berbahaya saat anak mengancam sebenarnya bukan pada ancamannya, melainkan kendali berarti ada pada diri anak, bukan pada diri orangtuanya. (halaman 77)

Kenapa bisa terjadi, cek lagi soal konsistensi kita dalam mendidik anak-anak, juga sudah seberapa tegaskah kita pada anak-anak. Ingat, pals.. tegas itu berbeda dengan keras.

Bab IX - Ketika Anak Terlalu Dekat dengan Neneknya

Tidak ada masalah sebenarnya jika anak dekat dengan neneknya, tantenya atau anggota keluarga lainnya. Yang menjadi masalah jika ada perbedaan pola asuh antara orang tua dengan anggota keluarga tersebut. Akan jadi masalah juga jika orang tua mengabaikan anak, maksudnya orang tua tidak lekat secara emosi dengan anak.

Cara mengatasinya, saat terpaksa menitipkan anak pada orang tua atau keluarga lainnya, sampaikan aturan-aturan dasar dalam keluarga kita, apa yang boleh dan tidak. Jika pihak yang kita titipi ini susah diajak bekerjasama, maka tugas kita untuk membuat anak hanya percaya pada kita. Tentu saja dengan kedekatan dan konsistensi kita terhadap batasan yang telah disepakati.

Bab X- Jika Anak Bertanya Soal Pacaran. .

Bab ini sangat berbeda dengan bab-bab lainnya. Di sini abah berbagi kisah dari orang tua-orang tua yang sudah memiliki pengalaman. Ada banyak kisah yang menginspirasi misal menjadikan curhatan anak tentang keinginan pacaran sebagai rahasia, mengajak anak untuk menimbang baik-buruknya lalu biarkan ia memutuskan sendiri, menceritakan anak tentang hubungan yang halal dan banyak lagi kisah lainnya.

Luangkan waktu untuk mempererat ikatan keluarga agar anak-anak tidak haus kasih sayang dan mencarinya di luar rumah. (halaman 106)

Bab XI - THR Jangan Sampai Membuat Anak Jadi Konsumtif

Hari raya selalu jadi hari yang menggembirakan buat anak, karena ada yang selalu ditunggunya, yaitu dapat angpau dari eyang, tante, budhe dan kerabat lainnya. Ketika anak masih kecil, orang tua masih bisa intervensi ketika anak akan menggunakan uang tersebut. Namun ketika anak mulai beranjak besar dan mulai mengerti bahwa uang bisa untuk membeli sesuatu, mereka akan cenderung boros dan menghabiskannya. Untuk itu, penting bagi orang tua mengajari anak cara mengelola uang. Salah satunya dengan memberinya uang saku mingguan saat usia mereka telah tujuh tahun. Dengan memberi uang saku, anak juga akan jadi lebih menghargai uang, sehingga akan berpikir ratusan kali untuk bersikap boros.

Bab XII - Developing Child Communication Skills; Tebak-tebakan, yuk!

Main tebak-tebakan adalah sarana menghabiskan waktu bersama anak yang riang sekaligus bisa menambah perbendaharaan kata anak-anak. Cara ini adalah trik jitu buatku saat si kakak mulai bosan dengan apa yang kami kerjakan. Awalnya dulu dia hanya bisa menebak ataupun mengulang kembali tebakan yang aku berikan, sekarang kakak sudah mulai bisa menyusun kalimat yang baik untuk memberi tebakan pada emaknya.

Keterampilan komunikasi tidaklah datang dengan serta merta…. Kemampuan komunikasi membutuhkan imajinasi, kemampuan nalar dan empati yang cukup. Itu semua dapat dibangun dengan langsung ‘terjun’ berkomunikasi. (halaman 114)


Setelah 12 bab dibahas dengan rancak, abah kembali hadir dengan epilog yang lagi-lagi menampar “Akankah Saya Seperti Ini?” Sebuah tulisan tentang keprihatinan betapa para manusia lanjut usia yang kesepian karena anak-anaknya terlampau sibuk untuk mengunjungi mereka. Akankah kita kelak bernasib seperti mereka?

Tentu bergantung pola asuh kita saat anak kita masih kecil. Pola asuh akan mempengaruhi akhlak kita sendiri. Satu anak atau banyak anak bukanlah faktor penentu utama. (halaman 119)
Sebagaimana judul postingan ini, tak ada adakadabra dalam pengasuhan anak. Aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri khususnya bahwa mengasuh anak itu bukan sulapan, tidak bisa mak bedhundug langsung kelihatan hasilnya. Mendidik anak sejatinya adalah mendidik diri sendiri. Makanya yuk, jadi orang tua sholih sebelum meminta anak-anak sholih.

By the way, buat yang ingin membeli buku ini dan cari di toko buku susahnya minta ampun, bisa langsung pesan ke Timnya Abah Ihsan Baihaqi;

WhatsApp Only: 0822 1653 9046
SMS Only: 0811 2285 234

Terima kasih sudah main ke sini dan sampai jumpa di postingan berikutnya. 



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah


#ODOPOKT5
#OneDayOneStatus
#Day14
#BelajarMenulis
#IIPKaltimra.




You Might Also Like

5 comments

  1. Pertama kali jumpa abah, di acara silaturahmi hsmn.. Masya Allah langsung terkesima dengan cara asuh beliau terhadap keluarga.. Makasih sharingnya ya mba

    ReplyDelete
  2. Belum kesampaian punya bukunya abah dan ikut pelatihannya :(

    Btw makjleb banget yang Bab 2 dan 3.
    si hasna anaknya hard willing bangett... dan aku sering terlalu keras ngadepin kalo dia lagi banyak maunya :(

    ReplyDelete
  3. Wah...aku jg blum punya bukunyaa nih. Bagus y mba, isinya.

    ReplyDelete
  4. Baru bisa membaca dan belum bisa menerapkan ilmu parenting ๐Ÿ˜€

    ReplyDelete
  5. Ulasan yg menarik mbak. Sebagai orang tua baru saya perlu banget kyknya buku ini. Makasih sharingnya mbak :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com