Tiga Cara Mudah Melestarikan Batik Sebagai Cagar Budaya

  • Tuesday, October 03, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 26 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Menulis itu bagaikan candu untukku, satu huruf diketikkan dan aku tak lagi bisa menghentikan lajunya. Ya, begitulah yang seringkali aku alami. Ketika sudah mulai menulis aku seringkali kehilangan kendali, suka lupa waktu, lupa makan, bahkan bisa lupa suami sama anak…. Eh?! Itulah kenapa aku harus pandai-pandai cari waktu untuk menulis biar tidak mengganggu aktivitas utamaku sebagai seorang ibu dan istri. Seperti minggu malam lalu, ketika mood menulis sedang tinggi ditambah secangkir kopi hangat membuat mata, otak dan jemari terjaga hingga pagi. Itupun rasanya masih belum ingin mengakhiri. Baru sadar kalau aktivitas menulis harus dihentikan ketika bocah bayi 10 bulan sudah merengek minta sarapan.

Mengikuti program One Day One Status Rumbel Menulis IIP Kaltimra sekaligus One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia membuat semangat menulisku semakin menyala. Namun entah kenapa semangat itu hanya berlaku ketika menulis di blog sendiri. Padahal masih ada amanah lain yang harus dituntaskan; artikel konten pesanan klien yang nilainya insya Allah cukup untuk bayar tagihan internet buat nonton drama korea berpuluh-puluh episode, hehehe. Tapi menulis bebas dengan gaya sendiri dengan menulis sesuai arahan dan requested keywords memang berbeda rasa. Wokay deh, mari jadikan ngeblog sebagai sarana refreshing setelah berkutat dengan artikel-artikel pesanan klien.




2 Oktober merupakan Hari Batik Nasional, dan jujur aku baru tahu kemarin ketika tema ini diajukan sebagai tantangan menulis. Parah deh, berasa kudet banget saat itu. Kayanya kebanyakan nonton drakor sampai nggak ngerti peristiwa penting bangsa ini. Aku langsung googling mengenai kapan 2 Oktober mulai dicanangkan sebagai Hari Batik Nasional. Usut punya usut ternyata sejarah dijadikannya 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional cukup panjang juga.

Meski semua orang tahu bahwa batik merupakan salah satu kekayaan bangsa, mengenalkan batik ke mata dunia dan membuat dunia yakin bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia tidak semudah membalik telapak tangan. Batik mulai dikenal di kancah dunia sejak presiden kedua Indonesia, sang bapak pembangunan – Bapak Soeharto, mengenakan kemeja batik pertama kali saat menghadiri konferensi PBB.

Namun Malaysia, negara tetangga yang hobi mengklaim budaya Indonesia sebagai budayanya, mulai mengaku-aku kalau batik itu kekayaan bangsanya. Tentu saja Indonesia geram dan tidak tinggal diam. Hingga kemudian pada tahun 2008, pemerintah Indonesia mendaftarkan batik ke UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Akhirnya pendaftaran batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi diterima pada 9 Januari 2009. Selang beberapa bulan, tepatnya  pada 2 Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Alhamdulillah, pada akhirnya batik berhasil diakui dunia internasional sebagai warisan budaya asli Indonesia, di bawah pemerintahan bapak SBY aka Susilo Bambang Yudhoyono. Itulah  sejarah kenapa tanggal 2 Oktober kemudian dicanangkan sebagai Hari Batik Nasional.

Meskipun aku kudet mengenai Hari Batik Nasional, namun aku merupakan pecinta batik lo. Buktinya aku selalu memakai batik hampir setiap hari. Formal banget? Ya enggak lah, justru batik yang kupakai ini merupakan pakaian yang paling nyaman buat ibu rumah tangga sepertiku. Tebak, pakaian apakah itu? Yup, 100 untuk teman-teman. DASTER!

Hampir semua daster yang aku miliki bermotif batik. Aku lebih suka membeli daster batik karena bahannya adem dan nyaman untuk aktivitas harian. Dulu aku mengoleksi beberapa kemeja dan blouse batik untuk kugunakan saat kuliah atau ngantor, tapi sejak berhijrah menggunakan gamis, aku belum punya banyak gamis bermotif batik. Itupun gamisnya nggak bisa dipakai buat harian, cuma bisa dipakai saat kondangan. Kemarin waktu berselancar di timeline Facebook, aku menemukan gamis batik yang cantik banget dan kayanya masih tetap oke dipakai buat sehari-hari. Saat itu aku berazzam untuk membeli gamis tersebut. Semoga saja saat aku mau membelinya, gamis batik incaran itu masih ada stoknya ya. Aamiin.

Sejenis begini deh gamis batik yang lagi aku incar

Tiga Cara Melestarikan Batik

Nah, membicarakan tentang batik tentu saja tidak bisa lepas dari bagaimana cara kita melestarikannya. Ya memang saat ini batik telah diakui dunia sebagai kekayaan bangsa kita. Namun jika kita sebagai bangsa Indonesia tidak berupaya melestarikannya, lama-lama batik pun bisa menghilang dari peredaran. Untuk mengantisipasi hal tersebut, menurut pendapatku setidaknya ada tiga cara untuk melestarikan batik sebagai cagar budaya.



Pertama, mempelajari batik dan sejarahnya.

Kenapa sih batik diakui sebagai cagar budaya Indonesia? Tentu saja karena batik itu tersebar hampir di semua wilayah Indonesia. Setiap wilayah di negara ini selalu memiliki batik dengan ragamnya yang khas. Batik Solo tentu saja berbeda dengan batik Pekalongan. Batik Pekalongan jelas tidak sama dengan batik Semarangan.

Menurut situs Sahabatnesia, kurang lebih ada lima puluh motif batik nusantara. Masya Allah, keren banget ya… Dan jangan salah, batik ternyata tidak hanya ada di Jawa. Di Palembang, Jambi, Banjarmasin, Palangkaraya hingga Papua juga memiliki batik dengan motifnya sendiri-sendiri.

Nah, kalau kita mengaku cinta batik dan cinta Indonesia sudah sewajarnya kita mempelajari mengenai hal ini. Bukan untuk sekedar gaya-gayaan tapi dalam rangka menjaga agar batik tidak pudar ditelan masa. Sebagai orang tua, ini juga merupakan tugas bagi kita untuk mengenalkan batik, dari asal-usul hingga maknanya, kepada anak-anak kita. Sehingga kecintaan terhadap batik tidak berhenti di generasi kita saja.



Ngomong-ngomong, jenis batik apa sajakah yang kalian tahu, pals? Kalau aku paling hafal sama Truntum, karena biasa dipakai saat acara pernikahan oleh kedua mempelai. Truntum sendiri artinya menuntun. Maksudnya mengapa batik truntum dipakai saat acara pernikahan memiliki makna yang dalam lo. Diharapkan orang tua mempelai mampu memberikan petunjuk dan contoh kepada putra-putrinya dalam memasuki kehidupan baru berumah tangga yang penuh liku-liku.

Selain truntum, motif favoritku lainnya adalah mega mendung.  Kita akan menemukan banyak garis lengkung yang beraturan pada motif batik mega mendung. Ternyata garis-garis tersebut memiliki makna bahwa kehidupan manusia selalu berubah, ada saatnya naik dan turun. Manusia diharapkan terus berkembang untuk mencari jati diri, belajar dan menjalani kehidupan sosial agama yang nanti pada akhirnya bisa membawa dirinya memasuki dunia baru menuju misi spesifik hidup yang diberikan sang pencipta kepadanya. Wuih, dalam bangeeeet maknanya!

Itu baru dua motif batik saja sudah sedalam itu maknanya, bagaimana kalau kita gali lima puluh motif batik nusantara ya? Kira-kira bisa jadi berapa postingan blog  ya?


Kedua, mempelajari cara membuat batik.

Kalau bukan kita yang mempelajari cara membuat batik, terus siapa lagi? Kita nggak mungkin dong terus bersandar pada mbah-mbah perajin batik yang sudah sepuh-sepuh itu. Bahkan tak jarang anak-anak para perajin batik juga tidak mau mewarisi keahlian tersebut. Memang membuat batik, khususnya batik tulis membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang luar biasa.



Alhamdulillah, kini kesadaran untuk melestarikan batik sudah semakin tinggi. Sehingga banyak pihak yang mulai memfasilitasi para pecinta batik yang ingin belajar membatik. Di Semarang kita bisa cuzz ke Kampung Batik jika ingin belajar membuat batik langsung dari ahlinya. Di Kampung Batik, kita juga bisa membeli kain-kain batik dari yang harganya terjangkau hingga yang jutaan rupiah. Kita juga bisa melihat produksi batik printing dan belajar batik tulis.

Mengutip dari artikel di Tribun Jateng, lokasi Kampung Batik Semarang tidak jauh dari Pasar Johar dan Kota Lama yang terkenal. Dari kedua lokasi tersebut kita dapat mengarahkan kendaraan ke bundaran Bubakan. Sampai di bundaran tersebut, pilih arah menuju jalan Patimura, namun sebelum masuk jalan tersebut, di sisi kiri jalan ada satu gang besar bertuliskan Kampung Batik Semarang.


Ketiga, gunakan batik di setiap kesempatan.

Contoh daster batik yang aku punya

Setelah belajar sejarah dan makna batik, dilanjut belajar membuat batik, tunjukkan kecintaan kita pada batik dengan mengenakannya di setiap kesempatan. Contohnya aku yang selalu memakai daster batik setiap hari, hehe. Selain daster, kita juga bisa mengenakan batik di acara apapun. Entah itu saat ngantor, reunian dengan teman sekolah, dan tentu saja saat kondangan.

Ngobrolin soal kondangan, tanggal 2 September 2017 yang lalu sepupuku melangsungkan pernikahan. Saat itu aku kebagian rejeki kain batik dan kebaya untuk dijahitkan sebagai seragam pihak keluarga mempelai pengantin. Bulikku saat itu membebaskan mau dibuat model apapun. Aku malah jadi bingung mau dijahit model apa kain kebaya dan batik itu. Secara aku sudah dua tahun ini tidak lagi memakai setelan, jadi aku merasa bakalan aneh kalau pakai baju kebaya sebagai atasan dan kain batik untuk bawahan. Apalagi biasanya kebaya cenderung didesain body pressed, padahal kan man-eman kalau dijahit dan dipakai cuma sekali saat acara itu saja. Akhirnya aku berniat untuk membuat dua kain itu menjadi gamis/ terusan biar bisa tetap bisa kupakai selain di acara nikahan sepupuku, tapi bingung adakah penjahit yang bisa menerjemahkan keinginanku ini.

Alhamdulillah, Allah kasih jalan. Aku dipertemukan dengan teman sekolah saat duduk di bangku menengah pertama (SMP) lewat instagram. Namanya Ika Puspita. Ternyata lulus dari SMA, dia mengambil jurusan tata busana saat kuliah. Sekarang dia memiliki usaha jahit bertajuk Griya Kebaya Ika Puspita, selain itu dia juga mengajar tata busana di sebuah sekolah di Salatiga.

Akhirnya aku menghubunginya dan kami pun ketemuan. Aku menyampaikan keinginanku dan Ika pun langsung corat-coret bikin sketsa model gamis kebaya yang aku inginkan. Voilaaa… beginilah jadinya… cantik kan? Kesan tradisionalnya tetap dapat, tapi juga tetap syar’i.


Jarang ada yang ngeh kalau kebaya yang aku pakai bermodel terusan, hehe

Selain gamis kebaya batik yang aku pakai, aku juga menjahitkan gamis batik untuk Ifa dan kemeja batik untuk Affan di tempat Ika. Nih, cakep kan… J

Ifa dan Affan juga cinta batik dong 
Bagi teman-teman wilayah Semarang dan sekitarnya yang ingin membuat kebaya ataupun dress batik, bisa lo menghubunginya di nomor whatsapp 085727005230. Ingin melihat koleksinya yang cantik-cantik, bisa cuzz ke akun instagramnya di @ikapuspita85.



So, in the end of this post, I only would say, please keep calm and love batik always ya, pals. Terima kasih sudah berkunjung dan sampai jumpa di postingan selanjutnya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.


#ODOPOKT2
#OneDayOneStatus
#Day10
#BelajarMenulis
#IIPKaltimra


You Might Also Like

26 comments

  1. Kita harus bisa melestarikan batik ya mbak.. Batik Indonesia keren banget pokoknya.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong mbak, kalau bukan Kita siapa lagi? :)

      Delete
  2. Batik Indonesia emang mantap ya Mbak. Ciri khas bangsa Indonesia yang harus dilestarikan. ^.^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget mbak, jangan sampai dicuri bangsa lain :)

      Delete
  3. Saya cinta batik juga..Oh ya selain baju bisa juga pakai tas batik, sepatu, kalung..sekarang banyak ragamnya.
    Untuk hiasan dinding juga ada, sprei, taplak dll..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget mbak.. pokoknya batik anywhere and anytime ya :)

      Delete
  4. Ya Allah aku tuh pengen banget ikutan one day one post tp selalu aja kalah dgn kerjaan dan entah apa lagi. Kacau bgt management waktuku. Eh knp jadi ngelantur yah...hehehe.... Love batik always lah pokoknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini juga menantang diri sendiri aja mbak. Yang ODOP lalu akhirnya kalah tarung.. semoga yg ini berhasil. Aamiin.

      Delete
  5. Koleksi batik dan kebayanya cantik2 bgt :D jadi pengen bikin juga ... aw~!

    ReplyDelete
  6. Aku kalau ke kantor seringnya pakai atasan batik 😊

    ReplyDelete
  7. I love batik very much mbak. Bangga aja kalo kemana2 bisa pakai pakaian yg aseli dari indonesia yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. berasa pede nya jadi Naik berkali lipat ya.

      Delete
  8. Aku senang sekali sama batik, Mbak. Di rumah pun aku pakai batik. Bukan daster, tapi rok batik yang memang sengaja aku jahit sendiri.

    ReplyDelete
  9. Motif batik di Indonesia itu emang sangat beragam ya mbak. Kalau lihat pakaian batik gini, jadi ingat jaman sekolah dulu pasti ada satu hari yang mewajibkan kita untuk pakai seragam batik :)

    ReplyDelete
  10. Yang aku suka dari batik itu pemaknaannya yang dalam. Motifnya bukan sekadar motif, tapi ada arti n tujuannya. So, jgn sampe salah2 pake batik

    ReplyDelete
  11. Indonesia kaya banget ya, batik aja banyak macam nya aku sampai nggak hafal saking banyaknya, pokoknya love Indonesia dan love batik banget lah. :)

    ReplyDelete
  12. Saya termasuk pencinta batik juga, Mbak. Suka pakai di kesempatan apa pun bahkan main ke perpustakaan di hari biasa. Nyaman dan unik sih. Semoga batik lestari!

    ReplyDelete
  13. Daster is the best ya, mba.

    Aku sering bikin baju dari kain batik

    ReplyDelete
  14. Saya juga suka memakai batik. Terutama tunik dan rok.
    Btw jadi keinget mau bawa anak2 ke museum buat belajar membatik abis baca postingan ini. Ketunda mulu hehe. TFS :)

    ReplyDelete
  15. Eh .. itu terusan batik ya mba ? Aku kira enggak lho. Bagus banget rancangannya. Makin laaf sama batik

    ReplyDelete
  16. aku suka deh dengan makin populernya batik jadi oke aja dipakai setiap hari. Acara formal maupun informal tetap catchy dengan batik khas Indonesia

    ReplyDelete
  17. Ditempatku bekerja sekarang, kita menetapkan setiap hari kamis untuk hari Batik, Mbak. Kita masing-masing bebas mau berkreasi batik dalam bentuk apa, saya makin cinta sama batik jadinya hehe

    ReplyDelete
  18. Aku pernah dtg ke tempat pembuatan batik betawi, liat cara buatnya, aduuh susah dan lama. Sepatutnya memang kita ikut melestarikan yaa

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com