Aliran Rasa yang Terlambat

  • Tuesday, November 28, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Huhuhu sedih. Setelah sebulan ini mencoba istiqomah satu postingan tiap hari meski nggak lagi ikut proyek One Day One Post, ternyata minggu lalu harus gagal di tengah jalan. Kondisi tubuh yang drop memaksaku untuk tidak menyentuh laptop sama sekali. Salah satu yang paling membuatku menyesal yaitu terlambat mengumpulkan aliran rasa untuk materi Komunikasi Produktif. Seharusnya tanggal 25 November lalu adalah deadline mengumpulkan aliran rasa ini.

 Alhamdulillah setelah sebulan menjalani materi Komunikasi Produktif di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, aku mendapat jeweran lagi dan lagi soal caraku berkomunikasi. Tidak hanya dengan suami atau anak-anak, namun juga caraku berkomunikasi dengan diri sendiri. Melalui materi yang aku dapat serta latihan komunikasi produktif selama kurang lebih dua minggu, aku mulai mengevalusi kembali kualitas komunikasiku di dalam keluarga.

Bagaimana pun komunikasi adalah hal yang paling penting dalam keluarga, karena dengan komunikasi yang baik akan terjalin kedekatan yang baik pula. Kedekatan yang baik inilah nantinya akan menjadi kunci gerbang-gerbang selanjutnya, seperti lebih mampu mengenal kelebihan diri, mampu menyemangati diri sendiri, mampu memahami pasangan semakin baik, mudah dalam mengajarkan disiplin pada anak serta penanaman ‘software-software kebaikan’ pada diri anak.

Aha Moment Komunikasi Produktif

Selama menjalani tantangan 10 hari yang kemudian aku extended hingga hari ke-15, tanpa sadar aku menemukan beberapa aha moment berkaitan dengan komunikasi produktif. Aha moment ini membuatku untuk berusaha istiqomah menjalankan apa yang sudah aku pelajari, tidak berhenti hanya di tantangan 10 hari saja.

Aha Moment with Myself

Sebelum berhasil berkomunikasi dengan orang lain, sebaiknya kita harus memperbaiki dulu cara komunikasi dengan diri sendiri. Jika kita sudah cukup bijak berkomunikasi dengan diri sendiri, hal ini akan membantu cara komunikasi kita dengan orang lain.

Meskipun aku tidak menuliskan proses komunikasi dengan diri sendiri pada postingan tantangan 10 hari komunikasi produktif, namun aku merasakan bahwa ada banyak perubahan di dalam diri sejak menerima materi tersebut.

AFIRMASI POSITIF! Sebenarnya sudah lumayan sering mendengar soal ini, beberapa kali pun aku sudah praktekkan dan hasilnya memang luar biasa. Namun  entah kenapa sering pula aku hempaskan begitu saja. Kekhawatiran berlebih, bahkan mungkin kekurangyakinanku pada takdir terbaik seringkali menggoyahkan afirmasi yang kubangun di dalam diri.

Namun sejak kembali diingatkan lewat materi komunikasi produktif, aku mulai belajar untuk ngobrol sama diri sendiri terutama ketika melihat sesuatu yang cenderung bisa menjadi trigger untukku  marah, jengkel atau sedih.



Contohnya beberapa waktu terakhir ini kan berseliweran di timeline tentang pelakor dan bagaimana seorang gadis melabrak selingkuhan ayahnya. Kasus ini menjadi trigger untukku memunculkan memori lama. Ketika aku menanggapi dengan emosi negatif yang penuh di dalam diri keluarlah postingan yang aku baca ulang sangat ‘amarah’. Aku bahkan sempat nangis berhari-hari gegara hal tersebut.

Aku mulai deh praktekkan menarik bibir ke atas dan bicara lembut kepada diri sendiri, “it’s okay. Itu udah lewat, Kamu cukup baik mengatasi semuanya. Sekarang everything is well, so focus on your current life, dear.”  Tarik nafas dalam-dalam dan hempaskan. Saat ada beberapa teman yang japri dan curhat aku bisa kembali merespon curhatan mereka tanpa emosi berlebih.

Dengan banyak ngobrol sama diri sendiri, jadi kerasa juga untuk tidak menimpali sesuatu secara spontan. Ketika ada postingan atau omongan orang yang kerasa nggak enak, aku telaah dulu maksudnya, aku pikir dulu enaknya dijawab gimana, aku cari sudut pandang lain, dan ini membantu banget untuk tetap stay positive dan always happy.

Aha Moment with Hubby

Sejauh ini sih komunikasi sama pasangan masih masuk dalam kondisi yang lancar jaya. Aku dan dia adalah pasangan yang cinta ngobrol, hal sekecil apa pun bisa jadi bahan obrolan buat kami. Kalau udah keasyikan ngobrol, waktu terasa berputar sangat cepat, hingga sampai jam tiga pagi juga nggak kerasa hehe. Namun setelah mendapat materi dan menjalankan tantangan 10 hari, aku menjadi semakin mudah menanggapi perbedaan cara komunikasi di antara kita. Aku diingatkan bahwa kami adalah makhluk dari planet berbeda.



Selain itu kami juga dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang sama sekali berbeda, maka jelas saja jika frame of reference and frame of experience kami pun berbeda. Aku nggak mungkin memaksakan beberapa hal ke suami, karena memang dia tidak mendapatkan referensi dan pengalaman yang sama denganku. Daripada saling membenturkan FoR dan FoE kami yang cukup berbeda, lebih enak untuk mendiskusikannya lalu membentuk FoR dan FoE yang baru alias FoR dan FoE kami.

Misalnya soal orangtua. Selama ini aku mencoba untuk mengingatkan dia agar nggak lupa telpon mamanya, atau ngajak ke tempat bapaknya, at least saat lebaran tiba. Tapi ajakanku lebih sering terpental dan terhempas. Ada banyak alasan yang dia kemukakan. Bagaimana pun aku kemukakan bantahan pasti akan tetap terpental. Hingga kemudian aku mencoba memahami FoR dan FoE yang dia punya, aku paham kenapa aku nggak mungkin memaksakan soal ini ke dia. Dia punya cara sendiri dalam ranah berbakti kepada kedua orangtuanya. Aku hanya perlu menghormati itu. Karena semakin aku paksa, dia justru semakin tidak nyaman.

Belajar mengenai perbedaan otak antara laki-laki dan perempuan saat mendalami komunikasi produktif sebulan ini mengurangi omelanku ketika dia lupa naruh kunci motor, ribut nyari handuknya, meletakkan barang-barang tidak pada tempatnya, nggak ngeh kalau diajak ngobrol ketika fokus pada laptop or HP nya. Apalagi di sesi-sesi akhir materi ini, aku sambi sambil nonton drakor Go Back Couple, uhuuu jadi termehek-mehek and realize betapa kebaikan suami itu buanyaaak banget. Cuma seringkali ketutup sama kejengkelanku sama hal-hal buruknya yang nggak penting, hehe. Pokoknya love you full lah my hubby, wkwkwk.

Aha Moment with My Kids

Kadangkala aku meremehkan caraku berkomunikasi sama anak. Pokoknya anak kudu paham dan ngerti, lebih kek gitu. Dan aku lupa kalau mereka bukan manusia dewasa yang terperangkap dalam tubuh kecil. Otak mereka jelas belum sama dengan aku dan orang dewasa lainnya. Sinapsis-sinapsis dalam otak mereka masih butuh disambungkan dengan baik, dan salah satunya lewat komunikasi yang produktif.



Aku termasuk ibu yang cerewet dan kalau udah ngomel panjangnya bisa ngalahin kereta yang lewat. Dan aku baru sadar kecerewetan itu nggak ngasih input apa-apa ke Ifa, karena dia nggak bakal nangkap apa yang aku omongin. Yang ada dia cuma bakal jengkel karena merasa diomelin melulu. “Sebel, bundaku galak banget.” Begitu kali dalam pikirannya.

Sekarang tiap kali nih mulut mo ngompyang atau udah terlanjur mengeluarkan omelan sepanjang gerbong kereta, langsung aku ingat keep  your words as simple as you can, mom! Langsung deh diam, hela nafas dan mengulangi apa yang aku mau sampaikan ke dalam bahasa yang lebih singkat dan sederhana. And that works! Lebih menghemat tenaga, karena nggak perlu narik urat, huff.

Begitu juga soal intonasi. Entah kenapa aku ini terlahir dengan kecenderungan ngomong dengan intonasi yang ngotot dan tinggi. Akhirnya Ifa sering manyun karenanya. Sekarang tiap kali meninggi, rasanya ada yang jewer kuping ini dan hey, be nice! Bener-bener ya memang selalu ada bedanya yang belajar dengan tidak. At least meski harus jatuh bangun memraktekkannya, aku jadi tahu letak kesalahan komunikasiku di mana, dan aku punya alarm di dalam diri ketika melakukan kesalahan tersebut.

Dari materi ini aku juga disadarkan betapa sederhananya pikiran anak-anak. Ketika aku sedang menyiapkan diri Ifa untuk masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi di tempat berbeda, aku baru kalau Ifa nggak masalah sekolah di mana saja asal besok kalau udah gede Affan juga sekolah di tempat yang sama, wkwkw.

Selain itu, aku diingatkan kembali tentang bahasa cinta anak-anak yang berbeda. Ifa ini sangat sensitif. Dia sangat suka dipeluk, dipuji dan suka saat ditemani beraktivitas. Tiga hal ini jika aku lakukan ke dia akan membuat dia jadi anak manis tanpa diminta. Yang tiba-tiba bilang makasih, meluk dan nyium aku.

Lewat materi komunikasi produktif aku juga disentil untuk lebih banyak ngobrol sama Affan. Di usianya yang masuk tahun pertama, Affan harus semakin banyak distimulasi ngomong. Selain menghindari speech delay, aku juga harus mengajarinya untuk menerima perasaan dan memahami maksud hatinya. Dengan banyak ngobrol sama Affan, aku mulai paham arti bahasa-bahasa bayinya. Yang pasti, dia jadi lebih banyak tertawa hehehe.



Itulah beberapa aha moment-ku selama menjalani tantangan 10 hari beberapa waktu lalu. Meski aku bisa menyelesaikan hingga hari ke lima belas, so sad aku nggak bisa dapat badge You’re Excellent ataupun Outstanding dikarenakan setoranku selalu rapelan, hehe. Tapi apalah arti badge, yang penting adalah istiqomah dalam berkomunikasi secara produktif baik ke diri sendiri, pasangan dan anak. Tidak berhenti setelah kelas ini berakhir. Semoga di materi selanjutnya bisa dapat badge yang lebih keren, means no rapelan!

Di bulan kedua ini, para mahasiswi IIP kelas Bunda Sayang batch #3 akan memasuki materi baru, apakah itu? Tunggu saja update selanjutnya ya! See ya, pals.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#aliranrasa
#level1
#kuliahbunsayIIP
#komunikasiproduktif


You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com