Bunda, Aku Boleh Beli Siomay?

  • Thursday, November 16, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah sampai juga ke hari lima belas dari game level 1 Kuliah Bunda Sayang batch #3 Institut Ibu Profesional. Lega sekaligus jadi kecanduan untuk terus mempraktekkan ilmu yang sudah diberikan dari materi komunikasi produktif selama kurang lebih setengah bulan ini. Tentu saja juga jadi lebih excited materi-materi dan kejutan-kejutan keren apa sajakah nanti yang akan kami dapatkan selanjutnya.

Ngomongin tentang komunikasi produktif, aku mau berbagi soal hasil yang bisa tercapai dari praktek berkomunikasi dengan lebih baik dengan kak Ifa nih.

Meski tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun kak Ifa kini semakin mudah bisa diarahkan dan dikendalikan setelah aku mencoba mengubah cara berkomunikasiku dengannya.

Jika dulu kak Ifa mudah sekali marah ketika keinginannya tak dituruti, sejak mempraktekkan komunikasi produktif, kak Ifa mulai bisa mendengarkan alasan jika ia dilarang atau tidak diberikan ijin untuk melakukan sesuatu.

Contoh nyata kemarin sore seperti biasa ada tukang siomay lewat di kampung kami. Berbondong-bondong anak-anak seumuran kak Ifa menyerbu tukang siomay tersebut. Kak Ifa memang belum  mendapat uang saku karena usianya belum tujuh tahun, jadi kami hanya memberikannya batasan kapan snack time untuk dia. Sudah disepakati bahwa snack time untuk kak Ifa adalah hari Minggu, maka selain hari itu dia tidak berhak meminta jajan di luar rumah, kecuali ayah dan bunda yang menawari terlebih dahulu.



Dengan sosialisasi ulang batasan beberapa waktu lalu, kak Ifa jadi semakin paham dan tidak ngedrel ketika meminta sesuatu. Sore kemarin layaknya anak-anak pada umumnya, melihat teman-temannya membeli siomay dia pun ingin ikut membeli. Tapi dia sadar hari  Rabu bukanlah hari jajannya, akhirnya dia bertanya padaku “Bunda, aku boleh beli siomay?” Aku tersenyum, aku tahu dia ingin makan siomay karena ikut-ikutan, jadi aku hanya cukup singkat menjawab, “di rumah ada makanan kak.”Mendengar jawabanku, kak Ifa berlari dan menyampaikan ke teman-temannya,  “aku nggak boleh beli kok. Lagian ini bukan jadwal jajanku.”

Beberapa hari yang lalu saat aku membeli telur ke warung tetangga, seperti biasa kak Ifa pasti meminta ‘pajak’. Aku cukup menanyakan kepadanya, “ini hari apa ya kak?” Kak Ifa nyengir dan menjawab, “nggak papa ya?” Aku pun mengingatkan, “bunda nggak nawarin jajan lo ke kak Ifa. Jadi kalau jajannya diambil hari ini, besok minggu nggak jajan ya?” Kak Ifa pun mengangguk cepat.

Apakah besok Minggu ia benar tidak akan meminta jajan? I’m not sure. Karena usia kak Ifa adalah usia konkret yang baru sadar tentang makna sekarang. Meski bisa mengucapkan besok atau nanti, dia belum benar-benar paham dengan konsep “besok atau nanti” tersebut. Menurut pengalaman sih, biasanya kalau kak Ifa mengambil jajan di hari yang bukan jadwalnya, pada hari Minggu-nya kak Ifa akan tetap menagih jajan meski sudah diingatkan bahwa jajannya sudah diambil di hari sebelumnya. Tinggal kuat mana nih, kekekalan ikhtiar kak Ifa atau konsistensi bundanya. Hehe. Jadi, enaknya besok Minggu kak Ifa dikasih jajan nggak nih?

Sampai jumpa di PR-PR Kelas Bunda Sayang berikutnya ya, pals. Thanks for reading.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#hari15
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com