Nak, Bunda Tak Paham yang Kamu Inginkan

  • Thursday, November 02, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah, yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga; kelas BUNDA SAYANG batch #3! Yup, setelah lulus kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4, aku bersyukur sekali karena bisa langsung masuk ke kelas Bunda Sayang. Tidak semua peserta yang lulus matrikulasi bisa berkesempatan join di kelas ini karena kuota yang terbatas. Aku masuk ke grup Bunda Sayang #3 Jawa Tengah, jadi bayangkan ada berapa grup kalau dibagi sesuai provinsi di Indonesia. Bagi yang belum berhasil ikut kelas Bunda Sayang batch #3 ini, jangan khawatir masih bisa ikut batch selanjutnya kok. Pantengin aja grup member sebaik-baiknya, pals… biar nggak ketinggalan info.

Berbeda dengan kelas matrikulasi yang hanya berjalan selama kurang lebih tiga bulan, kelas Bunda Sayang ini akan berlangsung selama 12 bulan alias satu tahun. WOW! Bikin deg-degan sekaligus penasaran, sebenarnya apa saja sih materi di kelas ini, kok butuh waktu satu tahun untuk mempelajarinya. Fyi, Bunda Sayang ini materi pertama yang berfokus pada cara-cara melekatkan diri kita sebagai ibu dan istri dengan keluarga.

Buat yang pernah baca-baca NHW – ku di kelas matrikulasi lalu, pastinya tahu dong kalau tujuan IIP ini untuk mencetak para ibu yang sadar akan misi spesifik hidupnya sehingga bisa membawa manfaat tidak hanya bagi diri sendiri dan keluarga, namun juga masyarakat luas. Nah, sebelum berkontribusi ke masyarakat luas, tentu saja PR utamanya adalah membenahi ‘urusan dalam’ terlebih dahulu, alias keluarganya. Bagaimanapun kita mampu memberikan manfaat alias ngurusi masyarakat, kalau di dalam keluarga aja masih berantakan.

Welcome to Bunda Sayang Batch #3

Selama satu tahun ke depan, aku bersama teman-teman akan belajar 12 materi. Sebenarnya secara sekilas aku sudah punya gambaran materinya. Bukan karena ngintip postingan peserta batch sebelumnya yang banyak berseliweran di timeline medsos, namun karena buku IIP pertama yang aku punya ya tentang Bunda Sayang ini.



Awalnya dulu beli buku ini karena tertarik ada satu teman SMA – ku yang jadi kontributornya; Za Ummu Roihan. Jadilah beli dan semakin merasa kalau aku butuh ilmu-ilmu dari IIP. Alhamdulillah meski selang bertahun-tahun lamanya, akhirnya bisa juga menjadi murid dari institut para emak pembelajar ini.

Aku kutip dari buku tersebut bahwasanya kelas Bunda Sayang ini menitikberatkan pada HOW TO EDUCATE THE CHILDREN atas ilmu dasar mendidik anak. Materi-materi yang diberikan antara lain;
  1. Memahami perkembangan anak secara fisik dan psikologis.
  2. Memahami ilmu tentang ketrampilan dasar anak, baik secara emosi maupun spiritual.
  3. Melatih kemandirian dan life skill anak sejak dini.
  4. Memahami bahwa semua anak adalah cerdas. Jika kita punya 6 orang anak, maka bersiaplah untuk mengeluarkan 6 bintang! Jangan sampai mematikan karakter anak kita.
  5. Memahami multimedia untuk mengikuti perkembangan anak dan sebagai media pembelajaran.
(sumber: Buku Bunda Sayang – Gazza Media, halaman vi-vii)

Kepo sama materinya, bisa diintip di gambar berikut ya;



Materi pertama yang harus aku dan teman-teman kunyah di minggu ini yaitu materi tentang komunikasi produktif. Tujuan dari materi ini yaitu agar kami, para ibu, dapat menguasai ketrampilan berkomunikasi antara orangtua dengan anak-anak, dan juga antara istri dengan suami.



Di materi ini kami juga dibukakan mata untuk mengenal jenis komunikasi yang destruktif, memahami dan mempraktekkan komunikasi produktif di rumah. Hmmm, kayanya sih simple… tapi dalam prakteknya cukup menantang.  

Tantangan Level 1 Bunda Sayang Batch #3

Finally, setelah pemanasan, pembagian materi dan diskusi yang berjalan cukup hangat dan aktif di grup whatsapp, tibalah yang dinanti-nanti; pemberian game oleh fasilitator kepada para peserta Bunda Sayang Batch #3.

Hmm, lumayan puyeng sih mikirin game level 1. Baru level 1 aja begini, gimana level-level berikutnya ya. Resiko ikut IIP; mau tidak mau kudu praktek ilmu yang sudah diberikan. Tapi ya bener sih, kalau cuma dibaca tanpa dipraktekkan, bagaimana kita mau tahu sudah paham atau belum kan?

So, dalam sepuluh hari ke depan aku harus mendokumentasikan komunikasi produktifku, entah itu sama si ayah, kak Ifa or Affan. Berkomunikasi sama mereka sih pasti ya setiap hari, tapi apakah sudah produktif? Kayanya setelah dirunut dan dicocokin sama materi yang aku dapat, banyakan nggak produktifnya deh.



Well, untuk hari pertama ini aku pilih kak Ifa sebagai partnerku. Jadi ceritanya hari ini aku dapat amanah sebagai wakil dari IIP Semarang untuk jadi partner campaign-nya Biznet. Qodarullah hari ini merupakan jadwalnya kelas blogging offline yang bertempat di Biznet. Pihak Biznet mengambil beberapa gambar keseruan kami di kelas tersebut. Namun tugasku belum usai, karena aku diminta untuk melanjutkan shooting untuk scene-scene berikutnya. Iya, beneran shooting. Fyi, durasi video campaign ini nggak sekitar 1-2 menit saja, dan kami baru kelar shooting mendekati maghrib. Well, lumayan menguras tenaga, dan bikin aku sadar pantas saja artis-artis itu bayarannya mahal, hehe.

Sebenarnya sudah sejak minggu lalu, setiap kali aku ada kelas blogging, Ifa pengen bolos sekolah dan ngikut aku. Jelas tidak kuperbolehkan, masa tiap kamis dia bolos? Hari ini akhirnya ijin bolos Ifa aku kabulkan karena; satu, dia pengen banget naik BRT sama aku dan adiknya; dua, aku tahu hari ini bakal pulang sore banget dan dia pasti bosan kalau harus nungguin di rumah sama si ayah. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Ifa ikut deh.



Buat teman-teman yang sudah kenal Ifa, pasti tahu banget dong bagaimana uniknya anak mbarepku ini. Dia itu mudah banget tantrum, bahkan sampai hampir 6 tahun kebiasaan tantrumnya masih kadang-kadang terjadi. Nggak salah Ifa sih, akunya yang kurang ilmu dalam pola asuhku ke Ifa. Berhubung telat menyadarinya, jadi ya wajar kalau sampai sekarang doi masih belum sepenuhnya pandai mengelola emosinya. PR banget buat aku; mendidik anak itu mendidik diri sendiri. Sebelum mendidik anak mengelola emosi, maka WAJIB banget buat aku mengelola emosi diriku.

Nah, hari ini pula aku kembali tercerahkan kalau ternyata tantrum itu akan lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap ‘sulit’. Anak-anak ‘sulit’ ini ternyata punya beberapa ciri;
  • Memiliki kebiasaan tidur, makan dan buang air besar tidak teratur.
  • Sulit menyukai situasi, makanan dan orang-orang baru.
  • Lambat beadaptasi terhadap perubahan/
  • Mood lebih sering negatif.
  • Mudah terprovokasi, gampang merasa marah/ kesal
  • Sulit dialihkan perhatiannya.
(sumber: Buku Bunda Sayang – Gazza Media, halaman 12)

Sebelumnya aku udah pernah baca buku ini, namun hari ini aku baru benar-benar ngeh kalau semua keenam ciri di atas ada pada diri Ifa. Pantesan deh doi gampang banget tantrum dari kecil.

Entah sudah berapa banyak kejadian yang aku lewati karena tantrumnya si kakak ini, dari yang guling-guling di pujaseranya Paragon, nangis kenceng di supermarket, gedor-gedor pintu rumah ketika di – time out, dan masih banyak lagi.

Dari yang awalnya aku dan ayahnya masih bisa senyum, ngomongnya masih lembut sampai yang udah kebawa emosi, si Ifa selalu keukeuh dengan pendiriannya kalau kita nggak ngerti apa yang dia mau atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya.

Sebenarnya pas aku dalam kondisi fit, emosi stabil, sekarang ngatasin tantrum-nya Ifa ini mudah sih. Cuma ya gitu seringnya komunikasiku ke doi, kurang produktif. Akhirnya tantrumnya baru berakhir ketika aku memberikan ancaman (yang aku tahu banget itu nggak dianjurkan sama sekali), “bunda hitung sampai 10, kalau kakak masih nangis kaya gitu, bunda bawa ke kamar mandi!”

Sekarang sih belum sampai angka 10, Ifa pasti udah berusaha ngerem banget buat berhenti nangis, karena dia tahu aku nggak main-main sama ancaman itu. Kalau sampai hitungan 10, dia masih nangis, beneran aku taruh dia di kamar mandi. Nggak cuma aku kunci di kamar mandi, kadang kalau lagi emosi, aku mandiin sekalian dia. Maksud hati biar marahnya minggat. Iya sih beneran habis dimandiin, langsung minggat tuh marah, tapi yang ada setelah itu dia trauma banget aku mandiin. Pasti yang baca nih postingan bilang “kejaaaamnyaaa….” Ya, begitulah.. sekarang suda tahu kan kenapa aku butuh beribu-ribu ilmu untuk mengatasi diriku sendiri. Memandikan Ifa ini sudah taraf mending kalau buatku, saat belum kenal parenting sama sekali, kalau dia udah tantrum nggak pakai lama aku juga bakal ikutan tantrum, yang ada akhirnya aku menyakiti dia, entah itu membentak atau mencubit. Anaknya nggak kelar nangisnya, yang ada aku cuma bisa menyesal habis-habisan. Hiks, maafin bundamu ini ya, shalihah.



Tapi itu dulu…. Sekarang sebenarnya meski belum bisa benar-benar mempraktekkan, aku sudah ngerti cara menaklukkan Ifa ketika tantrumnya kumat. Kalau di rumah, cara menanganinya biasanya akan aku biarkan dia meluapkan emosinya terlebih dahulu dalam batas yang bisa aku tolerir. Si Ifa ini tipe anak yang kekeuh banget lah, mau dibujuk kaya apa kalau masih belum pengen berhenti nangis ya nggak bakalan stop nangisnya. Kalau dirasa udah mulai mereda suara tangisnya, aku peluk dia, aku elus dan minta dia tenang. Setelah dia tenang dan diam, kasih air putih dan biarkan dia bilang apa yang dia inginkan. Baru deh bisa diajak komunikasi.

Tantangan buatku adalah untuk bisa smooth mengatasi keadaan itu; aku nggak boleh kebawa emosi ketika Ifa tantrum, ketika aku sudah merasa jantung berdegup kencang saat Ifa nangisnya udah nggak banget, aku kudu cari cara menetralisirnya – entah itu wudhu, minum air putih, baca istighfar… pokoknya beneran kuncinya ada di aku. Aku tenang, Ifa bakalan cepat terkendali. Aku lepas kontrol, bubar jalan.

Saat hari ini aku mengajak Ifa ke lokasi kelas blogging, aku udah was-was banget. Ifa yang mood-nya mudah rusak ketika bosan, ngantuk dan lapar ini, bisakah mengikuti kegiatanku yang cukup padat?

Sebelum berangkat, aku sudah sounding ke Ifa, “kakak hari ini yang baik ya ikut bunda. Kalau ingin sesuatu bilang dengan jelas, tidak marah dan menangis ya.” Ifa pun mengangguk-angguk tanda setuju. Aku pikir insya Allah nggak bakal ada masalah karena sejak semalam dia sudah excited mau ikut. Dan aku pergi sendirian tanpa si ayah, aku yakin Ifa lebih mudah terkontrol. PR lainnya lagi, kenapa kalau sama si ayah lebih sering cari perkara, pusing pala eikeh deh.

Ifa ngapain coba di belakang X banner?
Alhamdulillah, kami sampai lokasi jam sembilan pagi lebih dikit dan baru meninggalkan lokasi jam setengah dua siang. Ifa sempat mengeluh bosan dan lapar tapi masih bisa dikondisikan. Sempat hampir bikin emosi ketika dia minta makanan, tapi nggak jelas maunya yang mana.

Ifa: “Aku lapar bunda.”
Aku: “Nah itu banyak makanan, mau yang mana. Ambil gih.”
Ifa: “Mau yang itu..” kalau kata orang Jawa sambil plintat-plintut alias gaje gitu deh. Bilang itu tapi nggak nunjuk yang mana.
Aku: “Kakak mau yang mana, tunjuk barangnya biar bunda ambilkan.”

Dan Ifa pun masih plintat-plintut. Akhirnya aku tunjuk jenis-jenis makanan yang di dekat kami. Meski aku tahu sebenarnya dalam hati aku sudah tahu mana yang dia inginkan. Tapi aku sengaja pengen memancing anak ini ngomong, dan gemeees bo nggak ngomong juga.

Aku: “Mau Potabee ya?”

Jangan kira Ifa bakal bilang iya. Dia cuma diam dan pasang muka datar menggemaskan. Beberapa teman di sebelahku juga mulai ikut tanya, “oh kak Ifa mau Potabee, tante ambilin ya.” Masih juga diam. Akhirnya aku minta tolong diambilkan snack tersebut, kuberikan ke Ifa dan taraa… emang itu yang dia mau, saudara-saudara. Apa susahnya coba bilang iya.

Ini kalau aku cerita paksu, palingan dia hanya akan tertawa lebar sambil bilang, “tiru siapa kaya begitu? Kamu bingung memahami Ifa? Rasakanlah kebingunganku selama ini menghadapimu.” Gedubrak. Emang iya sih. Ifa ini casing si ayah, onderdil bundanya banget. Plek ketiplek sifatnya kaya si emak, dan itu yang jadi PR buat aku karena menghadapi Ifa berasa menghadapi diri sendiri. Bikin aku sadar diri aja betapa menjengkelkannya diriku ini, wkwkwk.

Oke. Tantangan teratasi dan Alhamdulillah hari ini Ifa berhasil ikut bunda dengan begitu manis dan sesuai harapan. Ya, sesekali mengeluh bosan dan capek itu wajar lah. Secara kami pergi dari pagi pulang sore, wong aku aja capek, apalagi dia kan?

finally ketiduran on the way home
Tantangan berikutnya muncul ketika sudah sampai rumah. Di rumah kami ada shoot scene terakhir yang membutuhkan Ifa jadi model pendamping. Huaa, hampir gagal kalau salah berkomunikasi deh. Ifa yang udah manyun karena capek, kudu pakai treatment anti gagal kalau mau shootingnya cepet kelar.

Aku: “Kak, shooting bolangnya belum selesai. Omnya mau shoot kak Ifa juga, tapi kak Ifa harus ganti seragam sekolah dulu. Mau ya?”
Ifa: “Nggak mau, aku tuh capek. Aku maunya coklat. Ayah, aku mau coklat.”

Mulailah dia drama minta coklat ke ayahnya. So, tadi pagi si ayah janjiin kalau dia baik selama ikut bunda akan dibelikan coklat. Karena Ifa merasa nggak rewel selama ikut aku, jadilah nagih coklat ke ayahnya.

Ayah: “Iya nanti ayah belikan coklat, tapi shooting dulu sebentar ya.”
Ifa: “Nggak mau, maunya coklat sekarang.”
Aku: “Oke deh, kak Ifa boleh beli coklat. Setelah itu mau shooting ya sama om nya.”

Matanya pun berbinar. Setelah mendapatkan coklat yang dia mau, masih mau lanjut drama nih si Ifa. Yang nggak mau ganti baju, maunya makan coklat dulu dan adaaa aja. Sementara aku dan ayahnya mulai nggak enak sama kru dari Biznet dong. Udah hampir magrib juga.

Aku: “Kak, ayo shooting. Kan udah dapat coklatnya. Ganti baju yuk, lalu kita pura-pura mau berangkat sekolah. Kaya kalau pagi gitu, kak Ifa pergi sekolah sama ayah.”

Akhirnya Ifa mau tuh ganti baju, tapi belum mau shooting. Malah cuma duduk aja gitu di kursi.

Aku: “Biar kak Ifa mau shooting gimana dong?”
Ifa: “Coklatnya mau dibawa.”
Aku: “Oh, coklatnya dibawa shooting, pura-pura buat bekal kak Ifa sekolah ya? Boleh deh. Hayuk!”

Ifa pun mengangguk-angguk tanda senang. Meski setelah di depan mas-mas Biznet, dia kembali cool dan tanpa ekspresi.

Alhamdulillah, bisa juga membujuk Ifa menyelesaikan scene terakhir. Meski ada adegan yang nggak sesuai arahan, tapi sudah oke lah. So, dari pengalamanku hari ini memang bener banget untuk berkomunikasi produktif ke anak, kita butuh hal-hal berikut ini;



Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk. Kalau dari pengalamanku hari ini sih, aku tetap pakai kalimat majemuk, tapi aku juga gunakan jeda yang jelas di setiap kalimatnya. Sehingga anak nggak berasa diceramahin dan bisa menerima informasi dengan lebih baik.

Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Gunakan rumus 7-38-55. Selama ini sadar atau tidak kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, padahal kekuatan suara itu hanya 7% dalam mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. Sedangkan 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi oleh bahasa tubuh. Hari ini sudah aku praktekkan, meski pengennya cepet-cepet kelar, tapi aku tata intonasiku saat bicara sama Ifa dan pasang muka yang enak dilihat, jadilah Ifa paham yang aku mau.

Fokus pada solusi bukan pada masalah

Sama anak, apalagi di bawah 7 tahun itu kalau ngomong kudu konkret ke akar masalahnya. Nggak perlu ndakik-ndakik karena malah tidak terekam. Contoh hari ini, daripada sibuk membujuk Ifa shooting dulu baru beli coklat, yang aku tahu akan bikin dia bad mood atau malah tantrum dan bakalan nggak kelar deh shootingnya. Aku memutuskan untuk dia boleh beli coklat dulu.  

Ganti perintah dengan pilihan

Ketika kalimat perintah untuk melakukan sesuatu sudah nggak mempan, memberikan pilihan atau menanyakan ke anak apa yang dia inginkan justru lebih efektif membuat anak melakukan hal tersebut. Kaya di kasusku di atas ketika Ifa disuruh shooting masih ogah melulu, akhirnya aku tanya ke dia maunya bagaimana biar shooting bisa lanjut. Ternyata sederhana, dia mau shooting sambil bawa coklat, hehe.

ifa tepar setelah seharian nemenin bunda jadi artis, masih pakai seragam bo

Masih ada banyak tips sih berkaitan dengan komunikasi produktif dengan anak, namun hari pertama tantangan level 1 ini aku hanya menggunakan empat hal tersebut. Hmm, kira-kira besok aku menemukan tantangan apa lagi ya? Yang mau tahu, jangan lupa untuk terus simak catatanku tentang Bunda Sayang ya. Thanks for reading, dan sampai jumpa di postingan selanjutnya!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com