Romantis Tanpa Kata

  • Friday, November 10, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sudah beberapa hari PAM di tempat kami mati. Praktis hampir tidak ada air di rumah. PAM akan menyala setiap jam dua atau tiga pagi setiap harinya selama seminggu ini. Demi kelancaran aktivitas rumah tangga yang membutuhkan air, suami selalu siaga setiap pukul dua atau tiga pagi pasti berjaga untuk memenuhi bak dan ember-ember. Aku? Tidur lah, hehe. Atau kalau pun lagi melek akan berkawan dengan Bang Leno (sebutan untuk si laptop), daripada harus ngurusin perairan di rumah.
Bun, lihat deh... “ Tetiba suami menarik tanganku yang baru saja membuka mata setelah sempat tidur sambil ngeloni si bocil, sembari menunjukkan lantai yang sudah kinclong, beberapa piring kotor yang tadinya menumpuk sudah tercuci bersih dan air di kamar mandi yang sudah terisi penuh.

Terharu juga lihat peran doi di rumah ini. Sejak ibu meninggal hampir setahun lalu, praktis kami merawat dan menjaga rumah peninggalan ibu ini berdua, bersama anak-anak tentunya. Bantuan outsourcing kami hentikan beberapa bulan setelah meninggal demi penghematan keuangan negara. Kami saling bantu-membantu dalam urusan domestik dan pengasuhan.

Alhamdulillah, suami tipe yang sangat helpful dan mau bantu untuk turun tangan dalam urusan  rumah tangga. Aku jadi ingat waktu awal-awal nikah dan masih tinggal di daerah Puspanjolo, ada tetangga yang mulutnya pengen aku plester pakai lakban gara-gara nyinyir setelah lihat suami membantuku mengepel lantai. Buatku, suamiku adalah hubby and father goal banget… semua yang selama ini aku inginkan dan tidak kudapatkan dari figur bapakku, bisa kutemukan di dirinya.

Lebih dari itu semua suami sosok yang suabar banget mendampingiku berproses dari yang jaman jahiliyah hingga awal menikah masih super posesif, meledak-ledak dan belum mampu mengendalikan emosi, hingga kini ada di titik yang insya Allah telah lebih baik, semoga istiqomah.



Berbeda dengan laki-laki yang jarang mengumbar kata-kata romantis, sebenarnya doi mah paling jago bikin istrinya senyum-senyum sendiri. Meski kemudian aku cuma bisa bilang, “aah nggombal, ciint.” Namun dibanding semua ungkapan kata tersebut, hal-hal yang doi lakukan buatku dan anak-anak jauh lebih romantis. Ya, romantis ternyata tak perlu kata.

Buatku, suami begitu romantis ketika;

  • Doi memperlakukan almarhum ibuku begitu baik. Betapa ia menyayangi ibuku sebagaimana ia menyayangi ibu kandungnya sendiri. Menyuapi dan mengajak ngobrol. Bahkan ia seringnya jauh lebih sabar daripada aku saat merawat ibu.
  • Aku lupa makan karena mengejar deadline demi deadline dan bisa duduk di depan laptop berjam-jam, tanpa babibu dia membawa sepiring nasi, sayur dan lauk lalu menyuapiku sambil ngobrol ngalor-ngidul.
  • Menyamber alat pel yang sedang kupegang ketika Affan tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan menangis mencariku. “Udah, kulanjutin aja, bunda pegang Affan tuh.”
  • Mengajari Ifa mengaji dengan telaten, menyuapi Ifa, mengajak Ifa bercanda.
  • Menyiapkan susu untuk Affan ketika ia terbangun tengah malam.
  • Dia mau dengan sabar mendengarkan ocehan, omelan dan segala pendapatku tentang sesuatu. Menjadi teman ngobrol yang paling asyik dan tak tergantikan.
  • Dia tak pernah segan meminta maaf dan berterima kasih untuk hal-hal kecil, seperti minta maaf karena pulang telat atau berterima kasih karena sudah nggoreng telur  ceplok buat doi sarapan.
  • Dia berhenti merokok demi kesehatan tubuhnya agar bisa mendampingi keluarga dengan lebih baik.

Aaah, masih banyak lagi sih hal lainnya, tapi udah itu aja lah yang ditulis. Katanya jangan umbar-umbar kebaikan suami sendiri, banyak pelakor… ups.

Dulu ketika awal nikah, aku lebih sering berfokus pada hal-hal negatif yang kutemukan di diri suami. Namun semakin bertambahnya usia pernikahan kami, ketika ada sedikit jengkel, marah dan kecewa, aku mengingat kembali kebaikan-kebaikan doi dan ternyata jauh lebih banyak dari hal yang bikin aku nggak enak hati.



Hari ini aku kembali belajar bahwa keberhasilan komunikasi itu tidak hanya soal kata-kata, masih ingat rumus 7-38-55? Ya, kata-kata itu hanya memberi efek 7% dari keberhasilan proses komunikasi, 38% keberhasilan komunikasi didapat dari intonasi suara dan porsi terbesar dari kesuksesan komunikasi karena adanya bahasa tubuh yang menyertai, sebanyak 55%.

So, para laki-laki di luar sana… jangan sok-sokan bilang cinta daah sama istri, kalau diminta bantuin jaga anak sebentar aja udah manyun. Nggak perlu kok selalu bilang I love you setiap hari untuk membuktikan kalau kamu benar-benar mencintai belahan jiwamu, cukup dengan mendengarkan curhatan istrimu, menggendong bayi yang menangis tiap malam karena istrimu kelelahan, meletakkan jemuran ke tempatnya or bekerja sesuai porsi waktunya, istrimu akan tahu seberapa besar kau mencintainya. Karena romantis itu lebih bermakna ketika dibahasakan lewat sikap dan akhlaq, daripada sekedar kata. Semoga pernikahan kita selalu dijaga dan diberkahi oleh Allah ya, pals. Sampai jumpa!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



#hari9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com