Siap Touring, Nak?

  • Saturday, November 11, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Yuhuu, sudah hari kesepuluh dari tantangan 10 hari game level 1 komunikasi produktif nih. Alhamdulillah lancar jayaa. Siap extended to 5 hari ke depan? Lihat saja besok ya…

Kalau ngobrolin emak jaman now, apa sih yang terpikirkan di benak teman-teman? Eits, nggak usah dibahas lah soal mom war yang nggak bakal ada habisnya. Memang sudah kodratnya kali perempuan suka bandingin ini itu, jeleknya ketika kebablasan bisa bikin ilfeel perempuan lainnya.
Btw, kalau aku ya, emak jaman now itu sesosok perempuan tangguh yang mandiri. Bawa motor sendiri sambil mboncengin dua atau tiga anak, pergi belanja, nganterin sekolah, hadir ke majelis ilmu dan punya segudang aktivitas positif yang nggak ada habisnya. Yup, aku selalu kagum sama emak-emak yang begitu mandiri, entah karena memang dari sononya mandiri, atau “dipaksa” mandiri karena keadaan. Maksudnya dipaksa? Ya, mungkin saja karena harus LDR sama suami atau karena single parent.

Sementara aku? Sejak punya anak, aku terbiasa diantar jemput oleh suami. Apalagi kalau lagi hamil atau kondisi punya bayi begini, suami bisa over protektif banget. Bukan karena mengkhawatirkan istrinya, sebenarnya mah yang dikhawatirin anaknya tuh, istrinya mah lecet-lecet nggak papa… anak orang ini, wkwkkwk.

Tapi semakin ke sini, ketika aktivitasku mulai padat merayap, ketika aku mulai merasa terbelenggu harus selalu menunggu suami kalau mau ke mana-mana, dan kasihan juga doi kalau harus keluar di jam-jam kantor hanya untuk ternak teri (anter anak anter istri), aku mulai merayu doi untuk diizinkan bepergian sendiri tanpa harus nunggu doi.

Sebenarnya dari dulu juga diijinkan sih ke mana-mana sendiri, tapi naik angkot yang begitu lama itu menyiksa bo. Bahkan ketika naik BRT yang nyaman pun, aku suka nggak sabar ketika  harus menghadapi macet dan nggak bisa was wuz nyampe ke lokasi yang aku mau. Naik taksi, Gojek or ngeGrab? Lama-lama berat di ongkos juga euy kalau tiap hari. Berbeda kalau bisa membawa motor sendiri, aku bisa mampir ke sana-sini, bensin seliter bisa berhari-hari.

Masalahnya motor kami cuma satu dan umurnya pun lebih tua dari usia pernikahan kami. Meski masih sangat prima buat balapan di jalanan, eh… suami agak was-was kalau membiarkan istrinya bawa anak-anak pakai Bang Jupi (panggilan kesayangan buat si motor). Yang remnya nggak pakem lagi lah, yang gasnya begini lah, yang itulah, banyaaak banget alasannya. Maklum soal nyervis dan ganti oli, aku lebih rajin dari suami. Kalau diingatkan, paling dijawab “ya, ntar.” Entah deh entar beneran apa nggak.

Nah, seminggu lalu aku dikasih kejutan sama suami. Katanya biar istrinya nggak jenuh di rumah terus, dihadirkanlah si cantik putih Mbak Matt menemani hari-hariku. Komen salah satu temanku saat tahu ada si  Mbak Matt, “wah salah langkah ini pak Martin, istrinya bakal beredar ke mana-mana habis ini.” Wkwkwk. Suami waktu aku ceritain cuma bilang, “ya nggak papa, ntar kalau dimanja terus, fitrah kemandirianmu bisa hilang.” Gubrak.

Dan resmilah sejak Rabu minggu lalu, aku resmi jadi emak jaman now. Nggendong Affan pakai babycarrier sambil boncengin si Ifa. Bahkan sesekali Ifa nggak mau dibonceng di belakang, tapi minta berdiri di depan. Seruuu. Buat aku ini prestasi. Dulu aku baru berani bawa motor sendiri saat Ifa sudah berumur hampir tiga tahun. Waktu itu Ifa udah PAUD. Itu juga lengkap dengan safety belt-nya, njagani kalau di jalan dia ngantuk. Nah, sekarang Affan masih 11 bulan dan aku udah keluyuran di jalan, wkwk. Sekarang sih masih sekitaran rumah dan sekolah Ifa aja, karena surat-surat belum keluar, jadi nggak bisa dipakai jauh-jauh. Selain itu SIM C ku mati euy… ada yang bisa share berapa biaya dan proses bikin SIM baru?

Ada cerita unik saat pertama kali aku bawa mbak Matt buat anterin Ifa sekolah. Suami kayanya belum ikhlas gitu kalau istrinya pakai motor sendiri sambil bawa anak-anak. Untuk memastikan keamanan, dia ngikutin aku di belakang dari rumah sampai sekolah Ifa, begitu juga waktu pulang. Setelah dia rasa aman dan aku lulus ujian, baru deh besoknya dilepas sendiri.

Hari pertama dan kedua Alhamdulillah lancar jaya. Masuk hari ketiga, mulailah tantangan datang. Biasanya baby Affan kalau udah ditaruh di babycarrier anteng gitu deh, bahkan nggak jarang di tengah perjalanan malah tertidur kena semilir angin. Siang itu saat  menjemput Ifa, Affan rewel bo. Kalau cuma nangis sih bisa dicuekin, ini yang meronta-ronta di dalam babycarrier sementara motor masih melaju, pas tanjakan pula.

Setelah dapat tempat berhenti yang pas, aku coba tenangin si Affan tapi tetap nggak mempan. Akhirnya aku nekat  aja jalan sambil Affan tetap meronta-ronta, Alhamdulillah nggak pakai lama doi tertidur. Saat itu aku mengevaluasi apakah ada yang salah dengan babycarrier dan caraku menggendong. Sepertinya sih udah kaya biasanya. Atau mungkin doi kena panas matahari, sementara udah ngantuk tingkat dewa, jadilah ngamuk.



Awalnya ketika akan berkendara dengan Affan, saat aku pakaikan jaket, kaos kaki dan topi, aku hanya sounding ke si baby, nak, kita antar kak Ifa sekolah yuk” atau “nak, sudah jam 11 nih. Kak Ifa mau pulang, yuk kita jemput.” Affan nih udah mulai ngerti kalau ibunya udah mulai rapi; ganti baju, pakai kerudung dan kaos kaki, doi paham kalau mau diajak pergi. Responnya pasti tangan dan kakinya digerakkan kaya kegirangan gitu, sambil ngoceh dan tertawa kecil.

Agar kejadian meronta-ronta di tengah jalan tidak terulang lagi, aku sekarang mulai membisikkan mantra selain menjelaskan ke Affan kalau kami mau berkendara naik motor. “Affan yang baik ya di jalan. Bunda harus konsen lihat ke depan. Affan bantu bunda ya, nak. Boleh bergerak, tapi jangan berlebihan. Boleh tengok-tengok tapi jangan keluar dari gendongan ya. Kalau Affan bobok, itu lebih baik lagi.” Aku juga sesekali menguatkan kenapa dia perlu pakai jaket lengkap dengan tudung babycarrier plus kaos kaki, “Pakai jaket dulu, nak. Affan yang baik di dalam gendongan. Di luar panas. Debunya pun banyak. Affan sudah nyaman kan?”  Aku mengatakan mantra itu berulang-ulang dengan lembut, sambil menatap mata polosnya. Meyakini bahwa ia mengerti meski belum bisa merespon.
Tidak lupa ketika mbak Matt mulai kuhidupkan mesinnya, aku kembali mengajak dia berbincang, “bismillah, siap touring ya, nak?” Sambil kutepuk tubuhnya yang sudah ada di gendongan dengan lembut, lalu cuzz daaah. Jika kurasa dia mulai bosan di dalam gendongan, kalau Affan mulai usil dengan gerakan yang pelan, aku sekedar menepuk tubuhnya dengan lembut sambil bertanya, “kenapa sayang, mau berhenti dulu?” Ketika dengan respon tersebut, dia sudah kembali anteng aku tidak perlu menghentikan kendaraan.

Namun ketika dia semakin menggeliat, aku akan mencari posisi berhenti yang pas, lalu kubuka tudung gendongannya dan melihat apakah dia baik-baik saja. Mungkin tudungnya kurang pas sehingga cahaya matahari menusuk matanya, atau kadang Affan sekedar minta disapa, “ada apa sayang? Masih separo jalan, kita terusin yuk.” Disertai dengan ciuman di keningnya, insya Allah Affan kembali tenang dan siap meneruskan perjalanan.

Ketika touring hari itu usai, aku akan berterimakasih pada Affan dan memberikannya pujian kalau hari ini dia sudah membantuku dengan keren banget. “Alhamdulillah, sudah sampai rumah lagi. Makasih sudah menemani bunda antar jemput kak Ifa ya, nak. Hari ini Affan sudah baik di motor. Tidak bergerak banyak, bunda bisa konsen di jalan. Affan anak yang pengertian sekali. Biasanya kalau aku komen begini, Ifa akan ikut-ikutan, “makasih ya sayang, kakak udah dijemput. Uuh, my sweety baby.” Dilanjut dengan ciuman bertubi-tubi dari kakak ke adiknya, lalu diuyel-uyel si Affan. Dari yang awalnya ketawa sampai teriak minta tolong agar dibebaskan dari cengkeraman si kakak, hehe.

Dari hal sederhana ini aku belajar, bahwa berkomunikasi dengan anak sebelum bepergian itu penting sekali, bahkan pada bayi sekalipun. Justru karena ia belum bisa mengatakan apa yang dia rasakan, apakah dia nyaman atau tidak, aku justru yang harus lebih aktif mengajaknya berbicara agar dia tahu kalau dia diperhatikan. Berkomunikasi dengan bayi juga secara tidak langsung mengajak dia berperan serta dalam hal-hal yang kita lalui. Dia pun belajar berbicara dari kosa kata yang kita sampaikan.

So, kalau boleh berbagi tips, sebelum berkendara dengan bayi, pastikan;
  1. Sounding ke bayi untuk tenang selama di perjalanan.
  2. Pakailah gendongan yang aman, lebih baik lagi jika kita  menggunakan gendongan dengan prinsip M shape dan  memungkinkan kedua tangan kita memegang stang motor dengan benar. Ingat, safety when riding motorcycle is number one. Pakaikan jaket, kaos kaki/ sepatu, topi dan kalau gendongannya dilengkapi tudung kepala, gunakanlah untuk melindungi bayi dari panas matahari dan debu.
  3. Respon dengan lembut ketika ia menggeliat. Pastikan ia nyaman dalam gendongan.
  4. Pastikan ia dalam kondisi kenyang ketika bepergian. Ketika kenyang, bayi akan tenang dan menghindarkan rewel di jalan.
  5. Ibunya juga jangan lupa kaidah safety riding ya, meski perjalanan dekat sekalipun; helm, pakaian yang nyaman dan aman – pakai jaket kalau ada, kaos tangan, kaos kaki.
  6. Ketika sudah sampai di tujuan/ di rumah, berterimakasihlah pada si bayi karena telah sangat membantu sehingga perjalanan bisa lancar.
  7. Berikan pujian yang spesifik bahwasanya dia adalah bayi yang sangat pengertian karena tenang selama perjalanan.

Selamat touring dengan anak-anak ya, emak-emak tangguh jaman now! You’re rock, moms!
Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


#hari10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com