Guru Favorit dan Suka Duka Jadi Anak Guru

  • Thursday, December 07, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 2 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Lagi-lagi telat setor #ArisanBlogGandjelRel! Jeweeeer dah… Tema yang diajukan oleh mbak Relita dan mbak Yuli Arinta untuk arisan periode ke -16 yaitu “Pengalaman Berkesan Bersama bersama Guru, Terima Kasih Guru” cukup membuatku pusing berhari-hari hingga akhirnya nggak bisa setor postingan sesuai jadwal. Ngeleeesss. Padahal arisan periode ini dibuat dalam rangka memperingati hari guru, kalau postingnya udah kelamaan gini esensinya jadi kabur dong ya. Hiks, maafkeun…
Honestly, aku berhari-hari mengaduk kenangan demi kenangan bersama guru, namun tidak kutemukan mana yang benar-benar berkesan. Entah itu dari guru TK sampai dosen di kuliah. Pengalaman bersama guru sih banyak ya, baik yang menyenangkan atau tidak, namun tidak ada yang benar-benar wow untuk diceritakan dan dibagikan. Bukan berarti pula aku mendiskreditkan arti seorang GURU. Buatku guru adalah sosok yang spesial, dari mereka aku jadi tahu banyak tentang hal-hal yang sebelumnya tidak aku ketahui. Kalau pun aku tak begitu hafal nama dan wajah-wajah para guruku sekarang bukan karena aku tak menghormati mereka, mungkin harddisk otakku terlalu penuh menyimpan kenangan yang tak seharusnya diingat, wkwkk.

Guru Favoritku

Anyway, kalau disuruh memilih siapa guru favoritku sepanjang aku pernah menjadi murid. Ada empat orang yang cukup aku ingat namanya, meski samar-samar kuingat  wajah mereka. Empat orang ini merupakan para guruku ketika duduk di bangku TK dan SD. Entah kenapa tidak ada guru SMP hingga SMA yang melekat di ingatan. Bahkan ketika melihat foto-foto perpisahan SMP – SMA yang ada foto para gurunya, aku tak bisa menyebutkan nama-namanya. Payah deh ah.



Guru pertama yaitu Bu Nia. Beliau guru TK 0 kecil alias TK A kalau kita sebut sekarang ini. Sosoknya yang cantik dan sabar selalu membuatku nyaman. Aku jadi ingat kalau para murid sedang menyanyikan lagu kasih ibu, kami suka mengganti lirik di bagian … hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.” Menjadi “…hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari bu Nia.” Saking sayangnya anak-anak sama bu Nia, hehe.

Guru kedua yang cukup berkesan yaitu Bu Sri. Beliau mengajarku waktu kelas 1 SD. Sabaaaaaaar sekali, juga menyenangkan. Pantas beliau memegang rekor terlama mengajar guru kelas 1. Kayanya waktu adikku masuk SD, kelas 1 pun masih diajar oleh beliau. (note: adikku dan aku terpaut sepuluh tahun lo). Darinya aku belajar menulis dan membaca pertama kali di sekolah. Beliau sangat perhatian dengan muridnya. Beliau pula yang menemukan fakta kalau aku sepertinya punya masalah dengan penglihatanku. Setelah melihat aku selalu kesusahan membaca ketika mendapat giliran duduk di belakang, beliau berkonsultasi dengan ibuku agar memeriksakan mataku ke dokter spesialis. Taraa bener saja, ternyata aku punya minus ¾ dan ½ kala itu. Aku sempat malu dan minder ketika pertama kali memakai kaca mata ke sekolah. Namun bu Sri memberikan dorongan hingga akhirnya minderku perlahan menghilang.

Guru ketiga yaitu pak Ari. Beliau mengajarku di kelas enam. Tapi sebelum duduk di kelas enam pun, para murid sudah suka nempel sama beliau. Soalnya beliau lucu, ramah dan suka ngajak nyanyi para muridnya Selain menjadi guru, beliau juga seorang penyiar radio, jadilah dia tahu banyak lagu-lagu hits. Beliau juga pintar main gitar. Kalau sedang istirahat, biasanya dia akan duduk di depan kantor guru lalu main gitar, murid-murid pun langsung mengerubungi beliau. Waktu mengajar kelas enam, saat kami lagi pusing-pusingnya menghadapi EBTA/ EBTANAS (jaman now disebut UASBN), pak Ari akan menghentikan agenda belajar lalu mengajak anak didiknya nyanyi biar nggak stress, hehe. Dari beliau pula aku jadi sadar punya bakat membaca puisi. Aku pernah diajaknya rekaman membaca puisi untuk hari ibu. Suaraku didengar di seantero Salatiga. Senangnyaaa…



Guru keempat yaitu pak Yono. Beliau adalah guru olahraga. Lucu sih, wong nggak suka olahraga kok guru favoritnya olahraga, hehe. Soalnya pak Yono baik, kalau aku nggak mau ikut kasti atau olahraga lain yang aku lemah di sana¸ beliau cuma senyum sambil nguyel-uyel kepalaku. Aku baru tahu setelah adikku masuk SD, ternyata sebenarnya beliau itu sarjana agama Islam. Berhubung ketika ditempatkan di SD tempat aku sekolah, sudah ada guru agamanya, dan belum ada guru olahraganya, maka dia beralih profesi jadi guru olahraga, hehe. Namun di masa adikku SD, beliau sudah ngajar sesuai keahliannya.

Oya, ada satu lagi guru favoritku. Beliau nggak ngajar di sekolah formal sih. Tapi aku belajar bersama beliau sejak duduk di bangku SMP – SMA. Pak Agus. Beliau itu guru lesku bahasa Inggris yang super pinter. Cas cis cus banget bahasa inggrisnya, bisa bahasa mandarin juga. Udah gitu fun banget ngajarnya. Pokoknya dari beliau aku terinspirasi untuk belajar bahasa Inggris dengan baik dan benar. Hingga akhirnya aku kuliah ambil jurusan bahasa Inggris pun mungkin kena hipnotis beliau, wkwk. Saat kuliah memutuskan untuk mengambil kesempatan menjadi guru les bahasa Inggris pun karena termotivasi dari beliau. Pak Agus ini menolak tawaran mengajar di sekolah formal karena murid lesnya full dari pagi sampai malam hari. Aku ingat beliau pernah bilang, “daripada harus terikat dengan satu sekolah, dapat gaji dari satu tempat saja, enakan begini. Waktu dan pendapatan bisa kita atur sendiri.”


Suka Duka jadi Anak Guru

Ngomongin soal guru sebenarnya nggak bisa dilepaskan dari kehidupanku. Gimana dong ya… keluarga besar dari ibu hampir semuanya guru. Eyang kakung, eyang putri, ibu, bulik dan om-ku semuanya guru. Udah gitu semuanya guru SD pula, hehe. Semacam trah kali ya. Eyang kakung sebelum pensiun merasakan jadi pengawas sekolah. Eyang putri terakhir menjadi kepala sekolah di dekat rumah beliau. Ibuku  lulusan sekolah guru olahraga tapi berakhir menjadi guru kelas, sayang karena sakit, beliau harus pensiun dini dari profesi yang disukainya. Bulikku sekarang masih  aktif menjadi kepala sekolah di salah satu SD di Semarang. Omku adalah seorang guru olahraga sekaligus wasit volley di Semarang. Si om menikah dengan adik kelasnya yang juga guru olahraga. Jadilah kalau berkumpul yang dibicarakan adalah dunia pendidikan dan haru biru menjadi guru.

Dan mau ditolak kaya apa, trah ini semacam melekat di darahku. Tiap kali aku melamar pekerjaan, yang diterima pasti jadi guru, entah itu guru di sekolah formal atau pun tenaga pendidik di bimbingan belajar. Sekarang pun masih jadi guru, gurunya anak-anak, hehe.



Banyak orang yang bilang jadi anak guru itu enak… hmmm iya sih…. Ada beberapa sisi positif jadi anak guru yang aku rasakan. Pertama, disiplin. Nggak eyang, nggak ibu…. Soal waktu pasti nomor satu.  Tapi akunya aja yang suka badung, hehe. Kedua, nggak perlu les ke sana sini. Saat teman-temanku banyak yang cari guru les, aku malah menyambut para murid les ibuku di rumah. Meski ibu sebenarnya menolak untuk memberikan les karena ingin waktunya di rumah hanya untuk anak-anaknya. Namun banyak tetangga dekat rumah mempercayakan anak-anaknya kepada ibu. Ketiga, dapat buku lebih cepat. Jaman dulu kan buku paket itu di semua sekolah kan sama. LKS nya pun biasanya sama yang dipakai. Nggak harus nunggu di sekolah dibagiin, biasanya ibu sudah membawakan/ membelikan dulu untukku. Bahkan kalau mau pun soal tes tingkat kota juga bisa curi-curi lihat. Aku pernah nggak sengaja menemukan soal tes di tas ibu, ternyata itu untuk tes ulangan harian catur wulan (semester kalau sekarang). Wuiii, seneng dong ya, ngebayangin besoknya ulangan harianku lancar jaya karena udah lihat soalnya duluan. Eeeh ketahuan ibu…. Aku dimarahin boooo. Beliau bilang, meski anak guru nggak ada privilege untuk tahu soalnya lebih dulu. Kewajibanku sama kaya murid lain, belajar. Kalau mau dapat nilai baik, jujur!

Di sisi lain banyak juga dukanya jadi seorang anak guru. Stigma masyarakat seakan menempel dengan kuat, “anak guru itu kudu pinter.” Alhasil kalau prestasinya nggak sesuai ekspektasi masyarakat, bakalan banyak yang bilang “anak guru kok masuk SMP X, anak guru kok kelakuan begitu…” dan sebagainya. Hooy, anak guru juga manusia kali. Hehe.

Alhamdulillah, aku anak guru yang cukup sadar diri, hehe. Karena tahu ada stigma yang melekat di masyarakat tersebut, aku selalu berusaha untuk tidak malu-maluin ibu, di alam bawah sadarku seakan bilang, “masa anak guru nilainya segitu doang.” Itu merasuk di dalam sukma, especially ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.



Qodarullah aku nggak menemukan pengalaman yang dirasakan adik sepupu. Adik sepupuku tuh pinter bangeet. Bahkan ujian nasional pun dia pernah mendapat angka sempurna alias seratus untuk beberapa bidang studi, kalau nggak salah matematika. Sayangnya seringkali dia mendapat perlakuan nggak mengenakkan dari orangtua siswa lainnya, prestasinya seringkali jadi bahan nyinyiran. “Ya iyalah anak guru, mesti nilainya dibagusin.” Saat duduk di kelas enam, adikku ini diajar langsung oleh ibunya, sampai nggak berani dikasih rangking satu karena menghindari nyinyiran orang. “Ya iyalah anake dewe dikei rangking 1.” Padahal adik sepupuku ini memang pinter beneeeer. Terbukti ketika SMP – SMA dia masuk sekolah favorit terus, dari SMP 3 ke SMA 3.

Kayanya aku udah feeling aja kejadian kaya begini bakalan muncul kalau aku  belajar di sekolah yang sama tempat ibuku mengajar. Jadilah saat SD aku menolak didaftarkan di sekolah tempat ibu mengajar. Lagian ibu ngajarnya beda kecamatan, jauuuuuh. Aku sih milih sekolah yang lokasinya nggak jauh dari rumah aja.

Oya ada lagi sih enaknya jadi anak guru. Sesama guru pasti kenal lah ya. Apalagi satu kota, kan sering ada pertemuan guru gitu. Nah, kerasa banget perhatiannya para guruku di sekolah itu waktu ibu melahirkan adikku. Qodarullah ada satu guru di SD-ku yang teman kuliah D2 ibu, beliau dititipi pesan gitu lah, selama ibu di rumah sakit minta tolong dijagain. Haduh senangnya, dikasih jajan dan segala macam. Meski teman ibu yang bernama pak Arief ini nggak masuk daftar guru favoritku karena kalau lagi kumat galaknya menyeramkan, wkwkwk.



Kalau sekarang duka yang aku rasain ketika lahir dari keluarga guru, ketika pilihan sekolah anakku tidak sesuai dengan standar keluarga. Ya buat om dan bulik, ngapain bayar mahal-mahal ke sekolah swasta, taruh di negeri aja lah, kan bisa menghemat kebutuhan, hehe. Namun dengan pengalaman waktu ngajar di SD negeri dan bertemu dengan para guru yang jauh beda dengan para guruku waktu SD, aku mundur teratur deh untuk nyekolahin anak di sekolah negeri. Selain itu visi misiku yang sekarang bukan lagi mengejar angka di atas kertas, sedang kebanyakan sekolah di Indonesia masih berorientasi pada nilai. Makanya waktu tahu aku nyekolahin anakku di sekolah alam, cukup kaget sih om dan bulik. Mungkin juga kaget dapat duit dari mana aku bisa nyekolahin anakku di situ, wkwkkw.

Nggak bayangin deh kalau tahun depan aku nyekolahin Ifa ke sekolah lain yang kurikululumnya jauh berbeda dari sekolah kebanyakan, pasti bakal diwawancara panjang kali lebar kali tinggi. Apalagi kalau aku milih meng-homeschooling-kan Ifa dan Affan ya, hehe.

Yang pasti guru jaman now dan jaman past itu beda banget ya. Aku nggak ngobrolin soal kualitasnya, karena di tiap jaman pasti ada guru yang berkualitas dan tidak. Namun penghargaan orang-orang terhadap para guru. Jaman dulu anak disentil gurunya, orangtua nggak bakal belain si anak, bakal cenderung bilang “la kamu bikin ulah apa, kok sampai disentil guru?” Jaman now, anak dimarahin dikit aja sama guru, orangtua bisa protesnya panjaaaaaaang kaya kereta. Lihat saja di berita-berita, berapa banyak guru dilaporin ke polisi hanya karena menegur anak. Adab terhadap guru sudah terlupakan. Padahal tahu nggak sih bahwa adab dalam menuntut ilmu itu penting. Percuma berilmu tinggi, kalau nggak punya unggah-ungguh kepada gurunya. Huhu, aku jadi merasa bersalah dulu suka nakal dan bandel sama guru-guruku, especially sama dosen-dosenku di kampus.. suka bolos dan nyepelein mereka pas ngajar. Maafkan aku ya, pak.. bu…

Btw, menurutku GURU itu tidak sekedar mereka yang mengajar kita di bangku sekolah formal. Selain mereka, aku sadar ada banyak guru yang telah dan nantinya akan kutemui di universitas kehidupan. Para guru ini terkadang tanpa sadar memberikan pelajaran yang sangat bermanfaat untuk kita sehingga bisa menjalankan hidup lebih baik. Mereka ini bisa jadi orangtua kita, sahabat kita, anak-anak kita atau bahkan orang yang sama sekali tidak kita kenal. Hewan dan tumbuhan pun juga bisa  jadi guru-guru untuk hidup kita. Tentu saja selama kita mau membuka mata, telinga dan hati, selalu ada ibroh di balik pertemuan yang Allah susun dengan guru-guru kehidupan kita, karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua adalah qodarullah. Selamat menimba ilmu dari para guru…



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 


You Might Also Like

2 comments

  1. MasyaAllah yg berkesan bagi mba marita malah guru guru awal yaa mba, yg memberi sentuhan pertama kali..

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah yg berkesan bagi mba marita malah guru guru awal yaa mba, yg memberi sentuhan pertama kali..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com