Inilah Tiga Hal yang Aku Peroleh dari Game Melatih Kemandirian

  • Wednesday, December 20, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 3 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Salah satu ciri pembelajar sejati adalah selalu mencatat hasil-hasil belajarnya agar terikat dan tak menguap. Itulah gunanya sebuah jurnal belajar, bukan hanya sekedar sebagai rangkuman materi namun juga sebagai sebuah penguatan atas proses belajar yang telah dijalani.

Telah terbiasa melakukan hal-hal sendiri ternyata tidak selalu bisa menentukan seberapa mandiri orang tersebut. Aku jadi ingat sebuah potongan kenangan di saat aku sedang mendaftar ke sebuah SMA di kotaku. Berbeda dengan anak-anak lain yang datang sendiri ke lokasi, aku diantar lengkap oleh bapak dan ibuku. Apa aku merasa malu? Tidak… aku merasa wajar-wajar saja ketika diantarkan bapak dan ibu mendaftar ke sekolah tersebut. Apa salahnya orangtua mengantarkan anaknya?

Aku baru tahu jika pemandangan tersebut dianggap aneh oleh beberapa orang. Hingga suatu hari ketika aku sudah mulai menjalani hari-hariku sebagai siswa di sekolah tersebut. Salah seorang teman berkata, “waktu pertama aku melihatmu, kupikir kamu anak yang manja dan kolokan lo. Masa daftar sekolah saja aku harus diantarin bapak ibunya? Ternyata kamu lebih mandiri dari aku.” Aku sempat bengong saat itu. Namun kemudian kuubah bengong tersebut menjadi senyum.



Apa aku tidak mandiri? Menurutku aku cukup mandiri. Untuk urusan bertahan hidup, bapakku justru jagonya mengajari survive. Jikalau hari itu aku diantar ke sekolah untuk mendaftar sebagai siswa baru, mungkin karena itu merupakan hari yang cukup penting untuk beliau. Biasanya, bapak akan menolak mengantarkanku ke sekolah, meski beliau bisa, beliau ada di rumah. Mobil dan motor pun saat itu tersedia. Kenapa bapak tidak mau? “Jangan termanjakan fasilitas, belum tentu fasilitas ini akan selalu ada, biasakan diri dengan ketidakmudahan.”

Untuk urusan mengatur keuangan? Ibuku memaksaku untuk menguasainya. Mulai kelas 1 SMP, aku sudah minta pada ibu untuk diberi uang saku bulanan. Hal ini kemudian yang membuat ibu mempercayakan urusan keuangan keluarga kepadaku ketika ibu memutuskan hijrah sementara ke rumah eyang saat serangan stroke pertamanya. Dari bayar ART, belanja bulanan, bayar tagihan ini itu, bayar sekolah hingga uang saku sendiri. Sebuah pengalaman berharga.

Soal mengambil keputusan? Bapak dan ibu bukan tipe diktator yang memaksakan anaknya harus menjadi seperti A atau B. Aku dibebaskan memilih jurusan yang aku suka, aku dibebaskan untuk ikut les atau tidak hingga aku dibebaskan menikah dengan pria pilihanku. Aku bahkan berani mengambil keputusan yang berbeda dengan teman-temanku. Aku tak masalah datang sendiri ke sebuah acara selama aku memang menikmati dan menyukai acara tersebut. Pantang buatku ikut-ikutan orang lain.




Namun kini ketika aku menjadi orangtua, bertemu dengan materi “melatih kemandirian”, aku dibuat terhenyak. Memang untuk tantangan 10 hari yang lalu, aku memilih si adek sebagai partner. Namun sembari belajar bersama adik, otomatis aku juga mulai melihat perkembangan kemandirian si kakak. Betapa aku menyadari aku telah gagap menurunkan kemandirianku kepada si kakak.  Ifa yang kini berusia 6 tahun memang sudah bisa mandi sendiri, makan sendiri, cebok sendiri, bahkan cuci piring sendiri. Namun apakah kemandirian hanya sebatas itu?

Ketika Ifa kesusahan mengekspresikan apa kemauannya, ketika Ifa terlalu sering berkata “terserah bunda” atau ketika Ifa hanya diam saja ketika kutanyai pendapatnya. Aku seperti mendengar sirene berputar-putar di kepalaku. Sebuah alarm yang harus segera aku atasi.

Mengulas kembali proses pendampingan kemandirian kepada anak-anak, membuatku belajar beberapa hal tentang “melatih kemandirian”;

Anakmu, Cerminan Dirimu

Perilaku yang ditunjukkan oleh  Ifa adalah hasil didikanku, hasil bentukanku. Maka jika ada perilaku yang tidak sesuai harapanku, sudah sewajarnya aku tak kecewa. Justru aku harus instropeksi diri mengapa perilakunya seperti itu, bagaimanakah pola asuhku selama ini.

Ifa sebenarnya cukup kooperatif ketika hanya bersamaku di rumah. Ia mau makan sendiri, mandi sendiri, ambil minum sendiri, bahkan cuci piring sendiri. Namun ketika ayahnya pulang, mendadak semua yang tadinya bisa dilakukan sendiri lenyap saat itu juga. Apa-apa langsung minta ayahnya yang mengambilkan atau membantu.




Saat aku menegur Ifa atas perilakunya itu, ayahnya tersenyum. Saat Ifa sudah tidur, ayahnya gantian yang menegurku. “Coba bunda lihat, bagaimana manjanya bunda saat ada ayah.”  Aku langsung merasa tersentil. Oooh, ternyata Ifa  melakukan duplikasi terhadap perilakuku. Ya, sejak bertemu dan menikah dengan ayahnya anak-anak, tingkat kebergantunganku padanya sangat tinggi. Kadang aku juga heran ke mana diriku yang dulu.

Dari sinilah kemudian aku mulai menyusun kembali kepingan puzzle diriku. Aku harus mulai keluar dari zona nyamanku. Jika biasanya asyik diantar ke mana-mana, aku mulai meminta izin kepada suami untuk diperbolehkan mengendarai motor sendiri. Aku mulai memilah hal-hal apa yang bisa aku lakukan tanpa harus minta tolong suami. Aku harus memandirikan diriku terlebih dulu, jika ingin menghasilkan anak-anak yang mandiri.

Kemandirian, Fitrah yang Telah Terinstall

Dari proses tantangan 10 hari di game level 2 ini, aku juga menemukan bahwasanya setiap anak itu sejatinya dilahirkan sebagai anak-anak yang mandiri. Nyatanya, saat bayi lahir ke dunia, bayi dilahirkan sendirian. Sebuah hikmah dari proses kelahiran, bahwa kita dilahirkan sendiri, dan nantinya pun  akan pergi dalam keadaan sendiri, maka saat menjalani proses kehidupan pun  kita tak boleh takut sendirian. Harus berani berdiri di atas kaki sendiri, tempat bergantung satu-satunya hanyalah Allah Subhanahu wa Taala.

Bayi-bayi pun tanpa diminta selalu bangun sebelum subuh. Bayi-bayi selalu menangis ketika merasa popoknya basah karena pup atau pip. Bayi-bayi akan merengek ketika ia merasa lapar. Saat usianya semakin besar, bayi selalu ingin bereksplorasi dengan makanannya. Ia selalu ingin memegang sendiri makanannya. Saat masuk ke usia balita, ia selalu berusaha untuk pakai baju sendiri, pakai sepatu sendiri, bermain sendiri, dan menanyakan banyak hal yang ada di kepalanya.




Namun tanpa sadar fitrah bawaan itu terbunuh perlahan. Saat bayi bangun, disusui ibunya biar tertidur lagi, maka bayi pun perlahan semakin siang bangunnya. Semakin besar usianya, semakin susah dibangunkan saat subuh berkumandang. Bayi yang tadinya menangis saat pup dan pip mulai dikenalkan dengan diapers, lalu perlahan instingnya akan rasa risih menghilang, hingga kemudian emak-emak dibuat bingung dengan masa-masa toilet training yang melelahkan. Karena tak mau bajunya kotor, tak mau mengepel lantai berulangkali, bayi pun dilarang memegang makanan sendiri dan disuapi sampai kenyang. Ketika sudah tumbuh besar dan anak nggak mau makan ketika tidak disuapi, emak-emak pun melabelinya anak malas. Siapa yang membuatnya malas?

Belajar dari pengalaman si kakak, aku merubah pola-pola asuh yang belum sesuai dengan fitrah anak-anak. Masih punya waktu untuk menyelamatkan Affan dari kerusakan fitrah kemandirian. Toilet training yang tadinya mau aku mulai selambat-lambatnya di usia dua tahun sudah mulai aku perkenalkan sekarang. Setiap pagi hingga sore kini Affan tidak lagi pakai diapers, dan sungguh aku menertawai diriku sendiri yang telah merusak fitrahnya. Affan tak lagi merasa jijik dengan pip dan pup. Aku harus sounding beberapa kali hingga Affan sadar saat ia pip dan pup, ia harus segera memberitahuku dan membersihkan diri.

Tidak Ada Percepatan, No Instant Process

Kadang kalau mengikuti hawa nafsu, suka gemes melihat Ifa yang pilih baju bisa sampai setengah jam, mandi bisa sampai satu jam, nyiapin tas sekolah bermenit-menit, atau makan yang nggak habis-habis. Rasanya kalau sudah gemes, pengen segera ambil alih, lalu pilihkan baju buat dia, segera masuk kamar mandi terus membereskan urusan mandinya Ifa, ambil tasnya Ifa dan segera memasukkan barang-barang yang harus dibawa, lalu narik piring dan sendok terus nyuapin dia.

Tapi apa itu sebuah solusi? Membangun kemandirian butuh sebuah proses yang tak instan. Membangunnya hari ini, bisa jadi aku menikmati hasilnya setahun atau dua tahun lagi. Untuk itu aku butuh konsistensi yang penuh keikhlasan dalam membersamai anak-anak belajar menjadi sosok-sosok yang mandiri.

Jika Ifa masih belum bisa cepat memilih baju, itu artinya ia sedang belajar teliti agar tidak salah kostum. Jika Ifa masih belum bisa mandi dalam waktu yang cepat, ia sedang belajar membersihkan badannya secara maksimal. Jika Affan di usianya yang hampir 13 bulan belum mau berjalan, itu karena ia sedang menguatkan otot-otot kakinya.




PR terbesarku adalah agar bisa senantiasa fokus pada cahaya, bukan kegelapan. Ketika fokus pada kegelapan, aku hanya akan merasa semua yang dilakukan anak-anak tidak pernah berhasil. Namun ketika aku fokus pada cahaya mereka, maka aku bisa memaknai setiap proses yang mereka jalani dengan penuh senyum dan kelegaan. Bahwa setiap hari selalu ada proses belajar, tidak ada kegagalan, yang ada aku seringkali alpa memaknai sebuah keberhasilan.

Maka aku bersyukur telah bergabung dengan Institut Ibu Profesional. Karena di IIP, aku bertemu dengan kawan-kawan seperjuangan dan sevisi misi yang selalu menguatkan aku ketika semangat mulai kendor dan keinginan untuk instan datang menggempur.

Raise your kids, raise yourself. Sebuah ungkapan sederhana namun begitu dalam maknanya. Ya, membesarkan dan mengasuh anak secara tidak langsung telah membuat kita belajar dan melakukan koreksi atas perilaku-perilaku yang belum sesuai. Jika anak-anak kita saja sabar menanti perbaikan diri kita, mengapa kita tidak sabar membersamai anak-anak belajar dan bersiap menuju gemilangnya peradaban?



Semoga kita berhasil menjadi arsitek-arsitek peradaban ya, pals. Sampai jumpa di game level 3.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#JurnalBelajar
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#KuliahBunsayLeaderIIP
#MelatihKemandirian




You Might Also Like

3 comments

  1. Nice mbak ��
    Dalam melatih kemandirian memang harus bersabar dg proses. No instan bahkan mie instan aja di rebus dulu kan ya. Wkwkw... Trus utk mbak sendiri,biasanya kendala apa saja saat mnjd rule model anak dalam melatih kemandirian?

    Salam kenal dari saya ya mbak.
    Akmala-Peserta WAG-Fo Semarang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoyoy mbak.. itulah biasanya kesurupan setan instantnya masih suka nempel. Hihi.

      Kendala saat jadi role model.. lebih ke aku Orang yang moody, suka sesuka hati.. Dan aku jengkel kalau anakku begitu hihihi. Piye jal?

      Jadinya aku yang harus benerin diri dulu :)

      Delete
  2. Aw aw aw berarti memang rata2 kendala kita sama ya mbak. Kudu benerin dulu dari diri kitanya. MasyaAllah....
    Semoga kita semua dimampukan ya mbak.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com