Ingin Rumah Tanggamu Harmonis? Lakukan Tiga Hal Ini!

  • Sunday, December 17, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 6 Comments

tips keluarga harmonis


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Bagaimana kabarnya di hari ketujuh belas bulan terakhir di tahun ini, pals? Alhamdulillah, aku masih on fire nih… Sebelum berkencan dengan seember cucian aku mau menuntaskan “hajat” dulu ah. Hajat menuntaskan kata-kata, wkwk.

Pernah nggak sih teman-teman ada di satu titik betapa pernikahan terasa hambar, atau nggak pernah cocok sama pasangan, udah menikah bertahun-tahun tapi merasa nggak dicintai, bahkan mungkin pernah  terpikir untuk mengakhiri pernikahan tersebut?

Naudzubillahi min dzalik ya, pals. Setiap rumah tangga, setiap pasangan, setiap keluarga pasti memiliki permasalahannya sendiri. Terkadang kita yang suka usil membandingkan keluarga dan rumah tangga kita dengan keluarga dan rumah tangga orang lain.

Iih, suaminya bu X itu romantis banget, istrinya selalu dianterin ke mana aja. Suamiku boro-boro mau nganterin.  

Pak Z itu lo sama anak gemati banget, suamiku dideketin anaknya mukanya manyun.

Anak-anakmu mah nyenengin, anteng, nggak kaya anak-anakku, perusuh semua.

Terkadang sadar atau tanpa sadar, begitu mudah kita mengeluhkan masalah demi masalah yang hadir di dalam rumah tangga. Tanpa mau menggali lebih dalam apa maksud Allah mempertemukan kita dengan pasangan, mengapa kita diberikan anak-anak yang berkarakter seperti anak-anak kita?

rumput tetangga lebih hijau

Rumput tetangga terlihat lebih hijau bisa jadi karena dua hal; rumputnya sintetis atau tetangga kita memang rajin merawat rumput di rumahnya. Daripada kita sibuk ngurusi rumput tetangga, mending kita fokus bikin rumput di rumah kita biar lebih hijau.

Memasuki usia pernikahan yang ke sepuluh, aku selalu takjub dan hanya mampu bersyukur. Betapa gelombang demi gelombang yang pernah kami lewati ternyata menyimpan hikmah yang luar biasa. Aku bersyukur bahwa sebesar dan sedahsyat apapun gelombang itu, kami masih bisa komit untuk melaluinya bersama. Jikalau menuruti hawa nafsu dan emosi sesaat, bisa saja salah satu dari kami memilih berhenti dan menyerah digempur gelombang. Namun sebaik-sebaik pertolongan memang hanyalah Allah. Kami bersyukur Allah masih mengulurkan tanganNya dan menunjukkan jalan keluar untuk setiap masalah yang kami hadapi.

Maka kalau kita mau ngomongin soal keharmonisan dalam rumah tangga, khususnya rumah tangga muslim, nggak ada rujukan yang paling tepat selain literatur yang berdasarkan Al Quran dan Hadits.

Belajar Keharmonisan Rumah Tangga dari Hadits Bukhari

Hari Kamis, 16 November 2017 yang lalu, qodarullah aku diberi kesempatan untuk bisa hadir pada pengajian dua pekanan yang diadakan oleh Komite PAUD Alam Ar Ridho, sekolahnya kak Ifa. Sebelumnya aku nggak pernah bisa hadir karena qodarullah tiap hari Kamis aku punya blogging class bareng ibu-ibu Institut Ibu Profesional Semarang di jam yang sama. Karena waktu itu aku sedang fokus untuk menjalani terapi nebulizer untuk Affan di RSUD, maka blogging class terpaksa di-cancel. Alhamdulillah, siang itu selesai terapi masih bisa cuzz ke lokasi pengajian.

Memang ya, Allah itu tahu banget kok apa yang dibutuhkan hambaNya. Berhubung aku seringkali bandel sama suami, makanya Allah menuntunku untuk hadir ke acara tersebut biar kejewer gitu, hihi. Pembicaranya saat itu yaitu Ali Markusim Chaniago atau yang lebih senang dipanggil dengan Baba Ali Chaniago. Tema yang diangkat cukup menggelitik; ‘keluarga harmonis, anak manis.’

Kece kan temanya, dan memang related. Pasangan suami istri yang harmonis cenderung akan membesarkan anak-anak yang lebih mudah diatur. Tentu saja karena pasangan yang harmonis tentunya pasangan yang mampu bekerja sama dengan baik dalam semua hal, termasuk soal pengasuhan anak.

Saat itu Baba Ali nggak banyak ngasih materi selain menyebutkan sebuah Hadits Bukhari yang berbunyi;

“hati yang bersih, lisan yang banyak berdzikir, pasangan sholih/ sholihah yang membantu urusan dunia dan agama adalah sebaik-baiknya kekayaan manusia di dunia.”

Setelah membacakan hadits tersebut, Baba Ali nggak langsung kasih tips keharmonisan yang dinanti-nanti.  Beliau malah menyentil kami yang hadir di majelis tersebut dan meluruskan makna dari harmonis. Seringkali kita kan menghubungkan bahwa pasangan suami istri yang harmonis itu yang cocok satu sama lain, nggak pernah berantem, selalu mesra, dsb. Lah sebenarnya cocok itu yang kaya gimana? Apakah yang dimaksud pasangan yang cocok itu artinya pasangan yang tidak memiliki perbedaan sama sekali? Ternyata nggak lo, pals… cocok itu bukan berarti harus selalu sama. Pasangan yang harmonis itu ya akan selalu punya perbedaan, setidaknya beda jenis kelamin, kalau sejenis malah bahaya.. eh.

keluarga yang harmonis


Namanya juga beda kepala, dibesarkan dari keluarga yang berbeda, beda pemikiran, pastinya akan banyak ketidakcocokan. Suami sukanya ngeluarin pasta gigi dengan asal pencet, si istri sejak kecil dibiasakan kalau ngeluarin pasta gigi dari ujung atas. Suami naruh pakaian kotor sesukanya, padahal istri udah berkali-kali bilang untuk meletakkan pakaian kotor di tempatnya. Suami suka jengkol, istrinya suka pete. Suami pengennya sampai rumah disambut sama istri yang tersenyum manis, tapi istrinya manyun karena anaknya rewel seharian sampai belum sempat mandi. Ada banyak hal yang bisa berujung pada percekcokan. Beda pendapat lalu ribut-ribut kecil ya wajar, justru itulah bumbu dari sebuah rumah tangga. Yang nggak wajar kalau diteruskan dan nggak mau belajar dari ribut-ribut kecil sebelumnya, hehe.

Ketika sebuah pasangan akhirnya bisa mencapai titik keharmonisan, bukan karena mereka punya banyak kesamaan, namun karena mereka mampu saling menjadi pakaian bagi satu sama lain. Dengan kata lain pasangan yang harmonis adalah pasangan yang bisa saling melengkapi dan menutupi. Pasangan yang mampu fokus pada cahaya, bukan kegelapan.

Kalau bahasanya IIP, pasangan yang sudah mampu menggabungkan frame of reference (FoR) dan frame of experience (FoE) masing-masing lalu merumuskan FoR dan FoE bersama.

Setelah kasih pencerahan tentang maksud dari harmonis dan kami sudah sefrekuensi dengan makna harmonis, baru deh Baba Ali membagikan tips mencapai rumah tangga harmonis berdasarkan hadits Bukhari di atas.

Pertama, selalu biasakan hati kita untuk senantiasa bersyukur. Dalam hal ini bersyukur atas nikmat yang Allah beri lewat pasangan kita. Bersyukur terhadap pasangan itu nggak cuma mensyukuri kelebihannya, namun juga mensyukuri kekurangannya.

syukuri nikmat memiliki pasangan


Mensyukuri kelebihan pasangan pastinya lebih mudah ya, karena kita sadar bahwasanya hal-hal positif yang ada dalam diri pasangan mampu melengkapi hal-hal negatif yang ada di dalam diri kita. Contohnya nih aku orangnya gampang tersulut emosi, suami jauh lebih sabar. Bersyukur dong ya, kelebihan suami ini mampu menutupi kekuranganku.  Jadi kalau ada sesuatu yang bisa memicu emosiku, suami langsung bawa “air” biar aku nggak kebakaran, hehe.

Nah, yang agak jadi PR itu ketika kita juga harus mampu mensyukuri kekurangannya. Pals, Allah mempertemukan kita dengan pasangan pasti ada hikmahnya. Kekurangan pasangan merupakan tantangan buat kita agar kita bisa lebih banyak berkontribusi dan memberikan manfaat. Misalnya nih kita punya suami yang susah untuk diajak kerjasama masalah pengasuhan anak.

mensyukuri kelebihan dan kekurangan pasangan


Nggak usah banyak ngomel, pals. Semakin ngomel, semakin nggak didenger, semakin kita sakit hati. Fokus saja ke kebaikan, lakukan yang terbaik sebisa mungkin, tetap libatkan suami dengan menceritakan kebaikan-kebaikan ayahnya kepada anak-anak. Lambat laun, kebaikan itu akan menjadi magnet yang akan menarik suami kok. Perlahan suami pun akan menyamakan frekuensi dengan kita.  ‘Eh, istriku kok setelah ikut kajian parenting jadi tambah sabar ya, tambah kalem, tambah nggak neko-neko. Aku mau ikut hadir juga ah, memang kajiannya kaya gimana sih, kok istriku yang kemarin kaya kaleng rombeng bisa jadi manis begini.’ Bisa jadi itu lo yang kemudian muncul di pikiran suami setelah kita berikhtiar sebaik mungkin.

Kedua, perbanyaklah berdzikir. Seringkali ketika ada masalah dalam rumah tangga, kita sibuk mencari teman curhat agar bisa dapat solusi. Eh, tunggu… bisa jadi teman yang kita curhati bukannya ngasih solusi yang benar, malah tambah bikin tambah baper dan menyulut emosi negatif.

Curhat dan nyari solusi boleh kok, tapi pastikan kita curhat pada tempat yang tepat. Curhat pada ahlinya, misal pada ustadzah atau murobbi kita yang bisa dipercaya dan mampu menjaga rahasia, atau mungkin ke psikolog keluarga.

Namun sesungguhnya tidak ada yang lebih menenangkan hati ketika kita sedang dirundung masalah, selain dengan mengingat Allah.  Perhatikan sholat kita, jangan-jangan selama ini kita sholat hanya sekedar menuntaskan kewajiban. Perbaiki kekhusyukan kita, hingga mampu tersungkur dalam tiap sujud dengan doa-doa yang terbaik. Perhatikan ngaji kita. Jangan-jangan sejauh ini kita hanya ngaji saat liqo. Al Quran hanya pajangan dan nggak pernah dibuka, kecuali bulan ramadhan. Saat resah, bacalah satu ayat.. insya Allah setelah itu kita enggan berhenti dan berlanju ke ayat-ayat berikutnya, karena Al Quran memang memberi efek menenangkan.


berdzikir membantu keharmonisan rumah tangga

Ingat-ingat kembali jangan-jangan kita kebanyakan aktivitas penuh hura-hura daripada hadir ke majelis ilmu dan majelis dzikir. Jadi saat terbentur suatu masalah, rasanya langsung berat dan mudah menyerah. Apakah kita sudah menuntaskan membaca kitab-kitab agama? Bagaimana dengan siroh nabi, kisah para shohabiyah, kisah 10 sahabat yang dijamin masuk surga? Aih, Al Quran aja  jarang disentuh, apalagi kitab cuy… Eits, jangan baper ah, aku nggak ngomongin kalian lo, pals… ini mah njewer telinga sendiri, hehe.

Coba deh instropeksi diri sudah benarkah kita mengingat Allah dalam setiap kesempatan, baik suka mau pun duka? Jangan-jangan kita lebih mengingat curhat di sosmed daripada mengingat Allah. (Kita? Elu kali, Rit, wkwk)

tips keluarga sehat dan harmonis


Berdzikir merupakan sumber ketenangan hati. Hati yang tenang akan  terpantul lewat perilaku dan lisan yang terjaga. Ketika kita mampu menjaga perilaku dan lisan, insya Allah segala masalah dalam rumah tangga pun satu per satu akan teratasi. Mari kita sama-sama mengingat bahwa sebaik-baik penolong hanyalah Allah.

Ketiga, jadilah pasangan sholih/ sholihah yang selalu mendukung baik urusan dunia dan akhirat. Kalau kita udah sering mendengar, mau punya anak sholih, jadilah ortu yang sholih terlebih dulu. Begitu pula sebaliknya, ketika kita merindu pasangan yang sholih/ sholihah, bercermin dulu sudah sesholih/ sesholihah apa diri kita. Jangan-jangan kita masih kebanyakan bawelnya daripada sholihahnya, jangan-jangan tingkah kita masih kaya preman di banding kaya ikhwan sholih.  La kalau kita masih bawel dan kaya preman masa nggak malu nuntut pasangan agar sholih dan sholihah. Perbaiki dulu akhlaq sendiri, perlahan itu akan memberikan efek resonansi kepada pasangan. Pasangan perlahan akan menyesuaikan kualitas diri kita kok. Pengen istri berhenti ngomel? Jadilah suami yang sigap dan siap pasang badan saat istri kelelahan ngurusin anak-anak. Nggak pengen lihat suami manyun ketika pulang kerja? Ajak anak-anak untuk lomba  menata mainan. Yang paling rapi boleh memeluk ayahnya paling lama.

fokus pada kebaikan diri untuk keharmonisan rumah tangga

Mendukung pasangan jangan hanya ketika suami nglokro dalam pekerjaannya. “Ayo yah, ambil job ini, ambil job itu, masa naik motor butut terus.” Namun begitu urusan akhiratnya keteteran kita nggak mau tahu. Sholat suami bolong-bolong, al quran nggak pernah dipegang, majelis ilmu nggak sempat datang. Sebagai istri kita wajib untuk memotivasi agar suami bergegas pula dalam urusan akhirat, jangan sampai merasa karena kita tidak diminta pertanggungjawaban atas suami, lalu kita lalai dengan urusan akhiratnya. Di balik pria keren, selalu ada wanita-wanita yang siap gedebag-gedebug nyiapin urusannya. Jadi kalau pengen suami kita keren, siapkah kita gedebag-gedebug dengan ikhlas?

menjadi pasangan yang harmonis


Seseorang yang  menderita di dalam pernikahan bukan karena tidak dicintai oleh pasangannya, tapi karena dicintai dengan cara yang salah. Bahasa cinta manusia itu berbeda-beda, seperti pernah aku tulis di beberapa post sebelumnya bahwa ada lima jenis bahasa cinta; kata motivasi, quality time, sentuhan, hadiah dan pelayanan. Bisa jadi istri akan merasa dicintai jika memiliki banyak quality time berdua, namun ternyata suaminya mengira kalau dengan sering diberi hadiah dan sentuhan akan membuat istrinya bahagia. Di satu sisi ada istri yang berpikir suaminya akan suka jika dilayani, namun ternyata bahasa suami berupa kata yang memotivasi. Apakah kita sudah benar-benar tahu persis bahasa cinta suami?

Kesalahan dalam mengenali bahasa cinta pasangan bisa membawa masalah yang tadinya sepele ke arah kehancuran rumah tangga. Menderita atau bahagia di dalam pernikahan itu bukanlah takdir, namun sebuah pilihan. Kita bisa terus memilih untuk merasa menderita dengan lebih fokus pada kegelapan yang dirasakan. Namum kalau mau kita pun bisa memilih untuk bahagia dengan berani keluar dari kegelapan, lalu fokus pada cahaya yang ada. Pastinya pasangan memiliki kelebihan, tidak hanya kekurangan. Maka belajarlah untuk lebih menerima dan mengingat-ingat kelebihannya, bukan fokus pada kekurangannya.

bersyukur dan bahagialah dalam rumah tangga


Baba Ali menutup kajian siang itu dengan mengingatkan para ibu yang hadir bahwa nyrateni laki-laki itu memang susah-susah gampang. Bagaimana pun laki-laki diciptakan dengan ego yang lebih tinggi dari wanita. Maka jika ingin pendapatnya didengar, dan menghindari konflik dengan suami, puaskan egonya.

Saat kita punya sebuah hal yang ingin disampaikan, jangan langsung ketika suami pulang dari kantor, nyerocos kaya kembang api. Biarkan suami membersihkan badannya dulu, kalau perlu siapkan teh hangat, kenyangkan dulu perutnya yang lapar, biarkan dia bermain dengan anak-anak hingga senang. Saat hatinya senang dan anak-anak telah tertidur pulas, barulah sampaikan sesuatu yang mengganjal tersebut.

Kalau kata pak Dodik Maryanto, suami dari bu Septi, “jangan berbagi beban, berbagilah kegembiraan.” Bikin happy dulu hati suami, baru deh minta macem-macem, wkwkwk. Bu Elly Risman juga pernah menyampaikan tips yang senada soal ini,  kasih ‘servis’ terbaik dulu ke suami ketika kita ingin ngobrolin hal-hal yang sedikit berat, insya Allah suami jauh akan lebih kooperatif.

berbagi kegembiraan untuk keharmonisan rumah tangga

Sesekali luangkan waktu untuk dating alias berkencan, tinggalkan anak-anak di rumah, atau titipkan mereka kepada kerabat yang bisa dipercaya. Nggak usah yang neko-neko atau mahal-mahal, puter-puter kampung naik motor sambil saling menggenggam tangan masing-masing lalu nongkrong dan ngobrol ngalor-ngidul di warung kopi bisa jadi  trik untuk kembali memercikkan api cinta yang sempat padam.

Jadi, siap untuk mempraktekkan tiga hal di atas, pals? Semoga Allah senantiasa menjaga pernikahan dan rumah tangga kita ya. Dan senantiasa bertumbuh menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan warohmah. Aamiin. Jangan kalah sama monyet di gambar itu ya, monyet aja bisa harmonis sama pasangannya, masa kita nggak bisa, hehe.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



You Might Also Like

6 comments

  1. Hehehehe ... rumput tetangga memang lebih hijau. Tapi justru kita nggak tahu, kalau di balik rumput yang hijau itu, terkadang ada tanah yang lebih gersang. Yang penting, kita selalu bersyukur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mbak.. Kita cuma lihat yang tampak doang, belum lihat dalamnya begimana. Bisa jadi lebih parah Dari punya Kita ya, mbak..

      Yuph, bersyukur itu kudu selalu jadi yang pertama ya mbak.. :)

      Delete
  2. Bisa dipraktekan pas udah berumah tangga nanti ya mba, sayang masih single gini haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aha.. nikmati saja masa-masa single itu. Suatu saat akan Dirindukan hehe.

      Delete
  3. Suka...๐Ÿ˜๐Ÿ˜ƒsalam Kenal mba Marita
    ๐Ÿ™ijin mau ngubek2 palace nya... Hehe
    ✌๐Ÿ˜ƒ

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com