Ini Tujuh Caraku Mengungkapkan Cinta pada Anak-anak

  • Wednesday, December 13, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 17 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Apa kabar, pals? Sudah masuk pertengahan Desember dan hujan masih setia menemani hari-hariku di kota Lunpia ini. Kalau di kotamu apa juga masih hujan tiap hari?

Kalau bicara tentang Desember seringkali dihubungkan dengan bulannya para ibu. Yups, bertepatan dengan 22 Desember akan selalu diperingati sebagai Hari Ibu di Indonesia. Nggak heran kalau mulai hari ini sudah mulai banyak postingan dan quote yang bertebaran tentang ungkapan cinta kepada ibu.

Pengasuhan Masa Lalu dan Inner Child Membuatku Harus Belajar

Tentunya ibu akan selalu menjadi sosok istimewa di hati anak-anaknya. Segalak, secerewet, sekeras apapun seorang ibu, beliau selalu punya sentuhan khusus yang akan dirindukan anak-anaknya. Dulu ketika aku masih menjadi seorang anak, aku menganggap ibuku nggak asyik, ini nggak boleh itu nggak boleh. Namun setelah aku merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, baru deh aku paham alasan-alasan dibalik semua aturan yang dibuat ibu. Tanpa aturan-aturan itu, aku tidaklah mungkin tumbuh seperti ini.

Meski begitu tidak semua cara pengasuhan yang ibu terapkan kepadaku bisa aku praktekkan ke anak-anakku. Sebuah ungkapan terkenal, kalau nggak salah dari Ali bin Abi Thalib, menyatakan “didiklah anakmu sesuai jamannya.” Jelas jamanku dengan jaman anak-anakku sekarang nyata berbeda. Ada beberapa hal yang harus di-upgrade.

Sejak memiliki buah hati aku menyadari betapa banyak kekuranganku sebagai seorang ibu. Apalagi dengan inner child dan segala pengalaman semi broken home di masa kecil, aku seringkali melakukan dosa-dosa pengasuhan kepada anak, terutama kepada Ifa, anak pertamaku. Entah sudah berapa syaraf di otaknya putus karena amarahku yang tak terbendung kepadanya. Padahal bukan hal-hal besar, apalah yang bisa dilakukan seorang anak kecil kepada ibunya. Namun selalu bisa membuat bom di kepalaku meledak tak terkendali.



Aku bersyukur kemudian dipertemukan dengan beberapa teman yang melek parenting. Aku kemudian mulai sering hadir di beberapa acara parenting yang membuat mata hati dan pikiranku terbuka tentang bagaimana cara mengungkapkan cinta kepada anak-anak secara tepat. Tidak hanya itu, semakin sering datang ke acara parenting, innerchild-ku pun semakin terkendali dan perlahan menerima bahwasanya orangtuaku dulu tidak memiliki ilmu yang cukup mengenai pengasuhan anak. Hidup yang kujalani saat ini bukan tentang mengingat-ingat bagaimana orangtuaku dulu mengasuhku, namun bagaimana aku memberikan memori-memori yang baik kepada anak-anakku sehingga mereka bisa tumbuh dengan bahagia.

Caraku Mencintai Anak-anakku

Setiap orangtua, khususnya ibu pasti memiliki caranya masing­-masing untuk mengungkapkan cinta pada anak-anaknya. Dan inilah caraku menunjukkan betapa aku menyayangi anak-anakku;


Belajar Lagi dan Lagi

Pada dasarnya aku memang senang belajar apa saja, apalagi jika itu sesuai dengan kebutuhan hidupku. Saat ini sebagai orangtua, kebutuhanku adalah bagaimana agar aku mampu bahagia dan sukses membersamai anak-anakku menuju gerbang kedewasaan. Agar aku tak salah jalan, aku perlu banyak belajar agar kebutuhan itu terpenuhi.

Menghadiri satu demi satu acara parenting tidak membuatku semakin kaya, justru semakin haus ilmu. Bagaikan membaca buku, satu halaman tak pernah cukup, kita harus lanjut ke halaman lain agar mengerti keseluruhan cerita. Begitu juga belajar parenting, ketika telah mengetahui sesuatu hal justru semakin memunculkan pertanyaan baru yang membutuhkan jawaban demi jawaban.

Bagian paling menantang setelah proses belajar sesuatu adalah mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak semua berjalan dengan lancar, namun ada satu hal yang kemudian tanpa sadar aku tanamkan kepada anak-anakku. Tentang kebutuhan manusia untuk terus berkembang dan berubah ke arah lebih baik tiap harinya. Bahwa belajar merupakan fitrah yang ada di dalam diri tiap manusia, dan fitrah itu harus dijaga.



Sebagai orangtua, mau tidak mau aku menjadi role model untuk anak-anakku. Ketika aku ingin anak-anakku menjadi orang yang suka belajar, maka aku harus memulainya dari diriku sendiri. Ada beberapa acara parenting yang tidak mengijinkan membawa anak ke dalam ruangan. Biasanya aku akan menempatkan anakku di kids corner atau meninggalkan mereka di rumah bersama ayahnya. Banyak yang kemudian bertanya, “anakmu sering ditinggal seminar, workshop, apa nggak nangis?” Apalah artinya tiga jam atau dua hari mengikuti seminar, jika hasil yang kudapat untuk hal yang lebih baik dengan jangka waktu sepanjang hidup anak-anakku. Toh, aku juga tidak pergi setiap hari. Aku anggap menghadiri acara parenting adalah me time untuk refresh sejenak sekaligus recharge semangat dalam membersamai anak-anak.

Tentu saja awalnya anak--anak nggak mau ditinggal, namun semakin bertambah usianya, bukan lagi rengekan pengen ikut yang muncul, justru sebuah pesan hangat kepada ibunya “bun, belajar yang pinter lo nanti.” Lebih menyenangkan lagi jika oleh-oleh yang kubawa setelah belajar adalah aku menjadi sosok yang lebih menyenangkan dibanding sebelum-sebelumnya.

Kenali Bahasa Cintanya

Bahasa cinta setiap orang itu berbeda-beda, begitu juga dengan anak-anak. Antara anak yang satu dengan anak yang lain memiliki bahasa cintanya sendiri. Penting bagi orangtua untuk memahami bahasa cinta anak-anaknya. Jangan sampai kita merasa sudah menunjukkan cinta kepada anak-anak, namun ia tak merasakannya karena kebutuhannya berbeda.

Ada lima bahasa cinta, yaitu kata-kata motivasi, waktu, hadiah, pelayanan dan sentuhan fisik. Anak yang bahasa cintanya berupa motivasi dan affirmasi positif, akan tersentuh hatinya dan merasakan cinta kita ketika kita memberikan motivasi terhadap semua aktivitas yang dilakukannya. Motivasi kita akan menjadi bentuk cinta yang dalam kepadanya.



Jika anak kita seringkali mengeluhkan betapa kurangnya waktu kita dalam membersamai mereka, bisa jadi bahasa cinta mereka adalah menghabiskan waktu bersama kita atau melakukan kegiatan bersama. Untuk anak-anak dengan bahasa cinta seperti ini, kita bisa memberikan reward berupa waktu bersama jika dia bisa menyelesaikan tantangan yang diberikan, misal “kalau kakak seminggu ini bisa bangun Subuh tanpa dibangunkan ayah bunda, kita akan bermain lego dari pagi sampai siang di hari Minggu, bagaimana?”

Ada pula anak yang senang dan merasa sangat dicintai ketika orangtuanya memberikan hadiah. Bahkan meski itu bukan hadiah yang mahal, mungkin hanya berupa coretan gambar dirinya di sebuah kertas, bisa jadi akan disimpannya seumur hidup.

Jangan kaget kalau ada anak yang suka dilayani, seperti disuapi, disiapkan baju sekolahnya, atau dipijat sebelum tidur. Bukan karena ia tak mandiri dan tak bisa melakukannya sendiri, namun karena ketika ia dilayani, ia merasa sangat dicintai kedua orangtuanya.

Beberapa anak sangat suka menghujani orangtuanya dengan ciuman dan pelukan, bahkan hingga mereka dewasa. Bisa jadi bahasa cinta si anak ini adalah sentuhan fisik. Pelukan dan ciuman penuh kasih sayang akan menenangkan hati dan memuaskan kebutuhannya akan cinta orangtua.

Ifa dan Affan memiliki bahasa cinta yang berbeda. Dari pengamatanku Ifa sangat senang dimotivasi dan disediakan waktu bersama, sedangkan Affan suka dicium dan dipeluk, mungkin karena dia masih bayi, hihi. Sampai detik ini aku masih terus belajar apa bahasa cinta mereka yang paling tepat.  Kalau teman-teman sudah kenal bahasa cintanya anak-anak belum?

Family Time

Meski aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bukan berarti aku selalu ada untuk anak-anak. Secara fisik, aku memang ada di dekat anak-anak, namun secara jiwa belum tentu. Ada beberapa aktivitas yang seringkali harus fokus kukerjakan dan tidak bisa disambi sekaligus momong anak-anak. Karena membersamai anak-anak artinya, tidak hanya fisikku yang ada di dekat mereka, namun jiwaku pun harus larut bersama mereka.

Bisa jadi kami sama-sama di dapur. Aku memasak, anak-anak main lego. Atau kami sama-sama di kamar, sementara anak main boneka, aku asyik dengan hp-ku. Ya, aku di dekat mereka, namun tidak bersama.



Menyadari hal itu bahwasanya tidak sepanjang hari aku bisa membersamai anak, setidaknya aku meluangkan waktu minimal tiga puluh menit setiap hari untuk benar-benar fokus bersama mereka. Mereka main mobil-mobilan, aku juga ikut main mobil-mobilan, membacakan buku favorit mereka atau bermain petak umpet.

Selain itu, meski jatuh bangun, aku juga masih terus berusaha untuk menjalankan  gerakan 1821. Di mana dari jam 18.00 – 21.00, tidak ada kompor, TV, handphone yang nyala, dan aku beserta suami benar-benar membersamai anak-anak secara total. Sudah istiqomah? Belum… hiks, masih banyak bolongnya. Padahal kalau dijalankan secara konsisten, masya Allah… senang banget lihat anak-anak begitu ceria ketika orangtuanya main dan ngobrol bersama mereka.


Menyusun Portofolio Anak

Awalnya sebagaimana orangtua jaman now, anaknya ngapain aja, dikit-dikit keluarin kamera. Tentunya sebagai dokumentasi mereka. Pasti senang kan anak-anak ketika besar lihat foto-foto mereka waktu kecil. Namun ternyata foto anak-anak bisa jadi lebih bermakna ketika kita menyusunnya menjadi sebuah portofolio perkembangan dan bakat.



Baru-baru ini aku mengikuti sebuah workshop merancang jurnal kegiatan dan portofolio bakat anak yang disampaikan oleh Ustad Harry Santosa, aku kemudian menyadari bahwa dari sebuah foto kita bisa mencatat banyak hal; sifat mereka, ketertarikan mereka akan suatu hal, perasaan mereka akan sebuah aktivitas, dan bakat yang ada di dalam diri mereka.
Ternyata jika kita konsisten mengumpulkan foto disertai catatan perkembangan, kita tanpa sadar telah melakukan observasi bakat anak-anak yang nantinya sangat berguna membantu kita memetakan arah hidup mereka. Bahkan sudah banyak yang berhasil mengarahkan anak-anaknya menemukan passion yang bisa menafkahi hidupnya sebelum usia 15 tahun.

Saat ini aku sedang berupaya agar lebih konsisten mencatat perkembangan dan bakat anak-anak lewat blog khusus yang aku buat untuk mereka. Sudah lama sebenarnya aku persiapkan satu blog untuk tiap anak. Saat nanti anak-anak sudah bisa merancang portofolio mereka sendiri, aku akan memberikan blog itu sebagai hadiah untuk mereka.

Membebaskan Mereka

Terlalu banyak dilarang jelas tidak baik untuk fitrah belajar anak. Sudah fitrahnya anak ingin mencoba hal-hal yang baru dan rasa ingin tahunya justru semakin tinggi ketika kita banyak melarang. Namun terlalu banyak mengumbar tanpa ada aturan yang jelas juga membahayakan dirinya. Anak-anak juga perlu tahu membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Untuk itu belajar dari salah satu materi di Program Sekolah Pengasuhan Anak yang digawangi oleh Abah Ihsan, aku berusaha untuk membebaskan anak-anakku melakukan kegiatan apapun selama tidak membahayakan dirinya, tidak mengganggu orang lain dan tidak bertentangan dengan norma agama ataupun undang-undang.


Maka jangan kaget kalau aku membebaskan anak-anak bermain pasir ketika para tetangga melarang anaknya main pasir. Yang dilarang bukan main pasirnya, tapi kotornya. Maka batasan yang aku  tegaskan ke anak-anak, “boleh main pasir dengan waktu tertentu, setelah itu bersihkan tubuhmu”. Aku pun tak melarang anak untuk hujan-hujanan. Aku tidak mau membohongi anak-anak dengan mengatakan “jangan hujan-hujanan, nanti sakit.” Aku nggak mau anak-anak jadi muncul mindset di dalam diri bahwa hujan bikin sakit. Aku ingin anak-anak belajar bahwa hujan itu anugerah yang harus disyukuri dan hujan tidak membuat sakit, yang penting kondisi anak-anak harus sedang fit.

Kalau akhirnya qodarullah anak sakit setelah main hujan-hujanan, aku berikan afirmasi positif ke dalam diriku dan anak-anak. Bahwa bukan hujan yang bikin anak-anak sakit, berarti memang kondisi anak-anak yang sedang tidak fit, entah itu memang mau flu atau makannya sedang tidak teratur sehingga tubuhnya mudah terserang virus dan bakteri.

Jarang sih anak-anak sampai sakit setelah hujan-hujanan. Kalau pun sakit, biasanya karena terserang demam. Aku pun tidak perlu khawatir berlebihan ketika anak demam, karena insya Allah selalu sedia Tempra di rumah. Dibanding produk lain, aku memang lebih percaya pada Tempra karena kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Kelebihan pertama yaitu aman di lambung. Cocok banget buat Ifa yang lambungnya agak sensitif, apalagi ini anak makannya kalau ingat doang alias kalau nggak lapar banget, bakalan susah disuruh makan. Kelebihan kedua,  Tempra nggak perlu dikocok, sudah larut 100 %. Meski terkesan sepele, tapi buatku ini penting banget. Apalagi kalau demam anak-anak munculnya pas tengah malam, suka gedebag-gedebug karena worry, terus jadi lupa ngocok deh.  Nah, Tempra sepertinya mengerti kebutuhan emak-emak yang sering lupa ngocok kaya aku, hehe. Kelebihan Tempra berikutnya yaitu dosisnya yang tepat. Jelas ini perlu banget digarisbawahi, ada kan obat demam yang setelah diminumkan anak langsung mendadak turun drastis, atau sudah diberikan berkali-kali demamnya tidak turun juga. Insya Allah kalau pakai Tempra kejadian seperti itu tidak akan kita temui, demam anak-anak akan turun perlahan sesuai dosis yang diberikan.




Tempra memiliki tiga jenis berbeda disesuaikan dengan kebutuhan dan usia anak-anak; Tempra drops, Tempra Syrup dan Tempra Forte. Tempra drops cocok untuk anak-anak di bawah dua tahun seperti Affan. Cara meminumkannya dengan diteteskan ke mulut anak sesuai dosis yang tertera atau sesuai petunjuk dokter. Tempra Syrup dibuat khusus untuk anak-anak usia 1-6 tahun. Dengan rasa anggur yang manis, anak-anak nggak akan merasa sedang diminumi obat. Sedangkan Tempra Forte cocok untuk anak-anak berusia 6 tahun ke atas. Dosis yang berbeda jelas dibutuhkan oleh anak-anak yang usianya semakin bertambah. Meski begitu anak-anak tetaplah anak-anak yang masih menghindari rasa pahit. Rasa jeruk segar dari Tempra Forte akan mengalihkan rasa demam anak-anak.

Berhubung hujan masih setia menemani dan persediaan Tempra di rumah mulai menipis, belanja Tempra dulu deh. Oya, Tempra ini gampang nyarinya kok. Di apotek dan toko obat terdekat insya Allah ada. Kalau aku kebetulan lagi belanja di supermarket, nengok di bagian penjualan obat, eh ada Tempra… Ifa udah tahu lo produk Tempra mana yang biasa dia pakai, langsung deh minta dibeliin.



Memilih Partner yang Tepat

Caraku mencintai anak-anakku selanjutnya yaitu dengan memilih sekolah yang sevisi-misi dengan keluargaku. Aku sadar bahwa tanggung jawab pertama dan utama keberhasilan pendidikan anak-anak ada di tangan orangtua, namun aku sendiri merasa masih punya banyak kekurangan dan membutuhkan partner untuk beberapa hal. Oleh karenanya aku nggak bisa asal-asalan memilih sekolah. Aku tidak mau menempatkan anak-anakku pada sebuah sekolah yang hanya berorientasi pada sisi akademis dan angka. Aku ingin memilihkan sekolah yang memahami fitrah anak-anak dan mampu membantuku menumbuhkembangkan fitrah-fitrah tersebut. Lebih dari itu aku ingin anak-anakku belajar lebih dalam tentang iman dan Islam. Aku yakin dengan lebih mengenal Pencipta dan agamanya, anakku akan lebih bijak dalam menjalani kehidupan.


A post shared by Marita Ningtyas (@marita_ningtyas) on

Qodarullah sekarang di dekat tempatku tinggal, ada banyak sekolah alternatif yang memiliki visi dan misi sejalan dengan aku dan suami. Aku hanya harus memutuskan mana yang paling cocok, serta melibatkan anak sebelum membuat keputusan. Doakan aku menentukan pilihan yang tepat ya!

Serahkan pada Sang Pemilik Hidup

Enam cara yang aku paparkan sebelumnya hanyalah sebagian dari ikhtiarku dalam menjaga amanah yang dititipkan Allah untukku. Namun semua ikhtiar tidak akan ada artinya, ketika aku melupakan hal terpenting dalam hidup; pasrah dan berdoa. Tidak ada penjagaan yang lebih baik dari penjagaan Allah. Maka setelah segala upaya dan usaha kulakukan demi cintaku pada anak-anak, tidak ada yang lebih baik selain menyerahkan semua urusan anak-anak kepada Sang Pemilik Hidup. Semoga aku termasuk orangtua yang bisa melindungi anak-anak dan keluargaku dari api neraka. Aamiin.

Menjadi orangtua, khususnya ibu, memang nikmat, lengkap dengan segala tantangan yang ada. Anak-anak adalah anugerah yang tak terhitung nilainya  sekaligus amanah yang harus selalu dijaga, dan kelak dipertanggungjawabkan. Maka pembuktian cinta kepada mereka sudah seharusnya tidak hanya sekedar kata dan barang-barang mahal, namun juga memori-memori indah yang layak dikenang hingga mereka dewasa. Selamat menyemai cinta dengan anak-anak, pals.




Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra.



You Might Also Like

17 comments

  1. Meski anak2ku sudah besar-besar tapi sampai sekarang aku masih belajar banget menjadi orangtua yang baik buat anak2ku. Udah mulai ngurang2in marah2 ke anak2...hihi.
    btw dari umur si kakak bayi sampe adik2nya kalo demam aku kasih Tempra. Makanya aku sedia Tempra di rumah.

    ReplyDelete
  2. Wah bisa dijadiin tips buat aku saat berkeluarga nanti nih hehhee *masih single*

    ReplyDelete
  3. bener banget mbak bagaimanapun cara kita mencintai anak kita, pasti kita ingin yang terbaik untuk anak kita ya mbak :)

    ReplyDelete
  4. semua orang tua pasti berusaha memberikan yg terbaik buat anak2 ya mbak. Semoga sehat selalu buat ananda

    ReplyDelete
  5. Ah, pengen bikin yg portofolio anak. Biar bisa untuk nostalgia saat anak dewasa.

    Yg 1821 belum bisa mbak. Ak jualan onlen soalnyq. Kdg yg buat sedih, ak stay at home mom tapi sibuk sama hp :(

    ReplyDelete
  6. Masih terus belajar.. klo terlalu keras ke anak2 kadang aku merasa nyesel ��
    Anak2 memang gemesin ya. Mereka butuh kasih sayang dan banyak perhatian

    ReplyDelete
  7. Bagaimanapun juga orang tua akan jadi role model buat anak ya? Makanya kita juga mesti ngumpulin ilmu untuk jadi orang tua yang lebih baik lagi

    ReplyDelete
  8. Kenali bahasa cinta yang diinginkan anak2 kita...nah ini yg harus dipelajari :)

    ReplyDelete
  9. Anak2ku suka diayani. Kadang2 kulayani tapi harus lebih banyak mandirinya.

    ReplyDelete
  10. Bener banget belajar terus dan terus itu cara kita menunjukkan cinta sama anak

    ReplyDelete
  11. saya pun kadang masih suka kelepasan emosi sama anak Mbaa, tapi sebagai orang tua kita memang wajib untuk terus belajar yaa :)

    ReplyDelete
  12. Jadi ibu harus terus belajar, Mbak. Mana ga ada sekolah formalnya.
    Btw, Mbak ikut IIP ya?

    ReplyDelete
  13. Selalu belajar demi kemajuan anak ya, mba..salut :)

    ReplyDelete
  14. Ah aku juga termasuk yg cerewet soal urusan memilih sekolah. Karena partner yang tepat itu sangat-sangat penting. Salam kenal dari Palembang ya Mbak :)

    ReplyDelete
  15. mengungkapkan cinta ke anak memang banyak cara ya bun.. gak harus beli mainan atau apa yang ia mau...

    ReplyDelete
  16. Saya baru bisa gerakan 1618 alias dari ashar ampe selesai magrib, gak ada TV (karena gak punya :D), no hape--jadi sesorena saya ama si kecil menikmati berduaan aja, jalan2 kek, apalah. Maunya sih berlanjut ampe selesai Isya, tapi belum bisa nih :)
    Ih, si kakak suka berkebun ya? Sama dong kita

    ReplyDelete
  17. Wah, makasih bnyak udh nge-share ilmunya, ummu Ifa & Affan.... Masih terus belajar dan belajar, insya allah... :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com