Dari Meteseh ke Meteseh; A Story to Pasar Karetan

  • Sunday, January 28, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 1 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh
.
Hari Minggu hari keluarga
Jalan-jalan naik sepeda
Siapa ngaku suka berwisata?
Jangan lupa ke Pasar Karetan ya

Hihihi, semoga nggak terlihat maksa ya pantunnya. Dari situ pastinya teman-teman bisa nebak dong kali ini aku mau cerita soal apa? Yup, aku mau ngobrolin tentang tempat wisata paling ngehits yang terletak di Kabupaten Semarang sekarang ini. Apa lagi kalau bukan…. PASAR KARETAN.


Sejak diluncurkan pada 5 November 2017, teman-teman dari GenPi (Generasi Pesona Indonesia) Jateng sudah banyak yang mengajak aku untuk mengunjungi tempat ini. Namun karena setiap Minggu qodarullah selalu ada kegiatan yang berbarengan, jadilah belum sempat juga ke pasar yang terletak di Dusun Segrumung, Meteseh - Boja Kabupaten Kendal ini.

Sebenarnya sudah masuk planning kok main ke tempat tersebut, namun menyesuaikan waktunya itu yang butuh negosiasi dan komunikasi, hehe. Namun ketika mbak Ifa mulai kepo dengan Pasar Karetan ini karena ada temannya yang cerita pengalaman berjalan-jalan ke sana, mbak Ifa mulai mengajukan request untuk diajak main ke sana.



Alhamdulillah, akhirnya kesempatan yang dinanti-nanti akhirnya tiba juga. Di hari terakhir tahun 2017 kami cuzz ke lokasi. Rencana awal sih kami mau berangkat sejak pukul 5 pagi gitu. Namun berhubung malamnya aku dan si ayah sama-sama mantengin laptop, akhirnya perjalanan ke Pasar Karetan baru dimulai dari setengah tujuh pagi.

Meski sudah cukup kesiangan, namun jalanan masih relatif sepi. Sepanjang perjalanan mbak Ifa sangat excited, penasaran di mana tempatnya. Namun begitu mulai meninggalkan area BSB dan masih belum sampai juga ke lokasi. Mbak Ifa mulai bertanya, “kok lama ya?” Hihihi. Kami sempat berhenti dulu sejenak di mart-mart untuk menyelonjorkan kaki barang sejenak dan beli beberapa botol minuman untuk menghilangkan dahaga. Maklum punyanya motor, ya kami makai motor buat ke lokasi.

Begitu sampai ke Nglimut, suami pikir lokasi deket di daerah situ. Google Maps mulai dinyalakan. Aku diminta memegang handphonenya dan menunjukkan arah. Ternyata euy masih jauh buanget dari Nglimut, hehe.

Setelah melalui kelokan demi kelokan dan pemandangan pedesaan yang asri, mulailah kami melihat ada tanda-tanda bahwa lokasi yang kami tuju telah hampir sampai. Kami melihat beberapa kereta kelinci mengangkut segerombolan orang yang hendak mengunjungi Pasar Karetan. Ternyata kami nggak bisa menggunakan motor langsung  menuju ke lokasi karena saat itu tempat parkir di depan lokasi cukup becek. Lagipula untuk mengatasi kemacetan di jalanan kampung yang tak begitu luas tersebut, memang baiknya semua kendaraan pengunjung diparkir di lokasi yang telah disediakan.



Saat itu sudah menunjukkan hampir jam setengah 10. Tempat parkir pun sudah hampir penuh. Setelah memastikan dapat tempat parkir yang aman, selanjutnya tentu saja menunggu kereta kelinci untuk mengantarkan kami hingga ke lokasi. Tapi ternyata bukan hal yang mudah mendapatkan seat di kereta kelinci. Nggak ada tuh antre yang rapi, mainnya serobot euy. Emang ya orang Indonesia lebih butuh diajarin etika dulu daripada matematika. Mayan pegel juga beberapa kali diserobot sama orang, mana sambil gendong Affan pula. Mbak Ifa pun mulai jengkel melihat kerumunan massa yang nggak sabar dan rebutan kereta kelinci.

Mungkin hal ini bisa dijadikan perhatian untuk GenPi atau para pengelola Pasar Karetan bagaimana sebaiknya biar serobot menyerobot ini tidak terjadi. Dibikin halte khusus kereta kelinci, dikasih karcis khusus atau gimana lah diatur antriannya jadi biar rapi dan nggak kaya rebutan sembako, hehe. Oya, naik kereta kelinci menuju lokasi ini gratis ya, jadi seperti fasilitas dari pengelola Pasar Karetan kepada pengunjungnya.  

Alhamdulillah setelah ikutan seruduk-menyeruduk, dapat juga seat di Kereta Kelinci, yeaay saatnya menuju Pasar Karetan! Ternyata nggak begitu jauh kok lokasi pasar dengan tempat kami memarkir motor di sebuah SD. Saat itu pula aku dan si ayah berencana, pulangnya jalan aja lah sambil menikmati pemandangan hehe.



Pasar Karetan ini mengambil lokasi di Radja Pendapa yang merupakan sebuah lokasi wisata yang dikelola pribadi. Kita bisa lo pakai lokasi tersebut untuk camping bareng temen-temen atau acara-acara outdoor lainnya. Oya, ownernya Radja Pendapa ini berbisnis jualan gebyok dan berbagai macam rumah joglo gitu deh.

Nah, mulai awal November, GenPi kerjasama dengan Radja Pendapa mengadakan Pasar Karetan dengan tujuan lebih mendekatkan masyarakat dengan alam dan mengenalkan  budaya Jawa lewat kuliner, permainan tradisional dan pertunjukan-pertunjukan seni. Kalau jare wong tuwa, nguri-uri kabudayaan Jawi.

Welcome to Pasar Karetan

Di depan lokasi, kami sudah disambut dengan booth menarik untuk berfoto. Cocok buat para instagram photo hunters, hehe. Tapi karena saat itu kami sudah lesu di perjalanan yang cukup jauh, kami nggak minat lagi deh foto-foto. Pengen cepet masuk ke dalam, makan dan menikmati tempatnya yang konon kece banget. Eits, sebelumnya jangan lupa untuk menukarkan uang kita kepada pengelola Pasar Karetan. Ya, di sini semua transaksi menggunakan mata uang khusus. Jadi semacam dari kardus gitu bikinnya, lalu diberi tulisan angka 5, 10, 20 kalau nggak salah.



Masuk ke lokasi…. Kami cukup terkesima. Alhamdulillah rame euy. Kesan pertama yang kami dapat “berjubel ya bo, kaya lautan manusia.” Di antara jalanan yang penuh sesak dengan manusia, pastikan mampir ke salah satu penjual makanan yang ada di sana, pals. Silakan pilih, ada bakso, aneka bubur, pecel, nasi jagung, gudeg, dan masih banyak lagi. Saat itu karena hampir semua tempat penuh, dan perut sudah keroncongan. Mbak Ifa pun ketika ditanya mau apa, dia menjawab mau bakso. Ya sudahlah akhirnya kami pesan tiga mangkuk bakso. Aku suka dari penyajiannya adalah mangkuk dan sendok yang digunakan terbuat dari batok kelapa, memberikan kesan alami dan ramah lingkungan.

Di lokasi kami sempat bertemu dengan mbak Dian Eka, salah satu teman dari Ibu Profesional dan tentunya beberapa rekan dari GenPi Jateng. Cuma saat itu aku ketemunya cuma sama mas Encuss, alias mas Kuspriyatna. Teman kantor suami yang juga seorang travel blogger serba bisa. Keren deh, dari nari sampai ngemsi dia jabanin. Tinggal jadi suami dan bapak yang kayanya belum dicoba, eeeh?! Piss yo, mas hehe.

Pertunjukan yang bisa kami nikmati saat itu adalah Karawitan. Menyanyikan beberapa lagu Jawa dengan apik, membuat kami semakin semangat mengeksplorasi Pasar Karetan. Fyi, setiap minggunya akan ada pertunjukan yang berbeda-beda. Pernah ada pertunjukan tari, lalu minggu kemarin kalau nggak salah bertema jarikan. Nah, kalau yang minggu ini mau cuzz ke sana, bakal bisa menikmati pertunjukan Tari Payung dari Sanggar Tari Bekso Sumekar, Ungaran Timur.



Setelah mengisi perut dengan semangkuk bakso, kami pun siap menikmati lokasi. Naik naik, turun turun. Memang benar kata orang-orang, tempatnya kece banget dan sudah ditata sedemikian rupa agar bisa berfoto yang kece buat dipajang di instagram.

Paling suka main air di pancuran, airnya segeeeeer banget. Dingiiiin. Berasa langsung pengen mandi deh. Pemandangannya bagus banget. Cuma karena penuh dengan orang, akhirnya kadang untuk foto di beberapa spot akhirnya kudu ngantri gitu deh.

Di Pasar Karetan kita juga bakal menemukan salah satu area yang isinya memperkenalkan permainan tradisional gitu. Ada dakon, gobak sodor dan masih banyak lagi. Tapi Ifa nggak tertarik, ya karena memang penuh aja. Dia ternyata lebih tertarik naik ayunan yang terbuat dari kain warna-warni dibentangkan. Kita juga bisa mainan panahan lo. Aku kemarin pengen nyobain, tapi antrinya lumayan panjang, jadi belum kesampaian deh megang panah kaya Srikandi, hehe.



Selain semangkuk bakso, kami sempat mencicipi bubur dan nasi jagung. Rasanya? Not bad lah. Ifa sebenarnya pengen minum kelapa muda, tapi ternyata sudah habis. Kasihan deh, mbak.

Setelah cukup mengeksplorasi lokasi dan waktu pun sudah hampir mendekati jam 11.00 yang artinya Pasar Karetan pun hampir usai, kami bersiap balik ke parkiran motor. Sebelumnya tentu saja menukarkan uang yang masih tersisa ke bentuk rupiah dulu biar bisa dipakai jajan di dunia luar, hehe. Sesuai rencana kami balik ke lokasi parkiran dengan berjalan kaki.



Sebenarnya kalau dari lokasi Pasar Karetan ternyata antri kereta kelincinya jauh lebih tertib daripada waktu menuju ke lokasi. Namun karena sudah berazzam untuk jalan kaki, ya kami enjoy the time aja. Menikmati suasana pedesaan sambil ngobrol santai di jalan. Tapi ternyata mbak Ifa baru jalan beberapa langkah udah minta gendong, hehehe.

Tips Berwisata ke Pasar Karetan

Kalau ditanya mau nggak aku ke Pasar Karetan lagi, hmmmm…. Mungkin kalau nggak naik motor aku mau, hehe. Cuapek buanget bo, dari Meteseh ke Meteseh, hiks. Kok? Iya, rumahku kan di deket-deket Meteseh, Semarang. Sementara Pasar Karetan terletak di Meteseh, Boja. Ih wow banget laaah.

Manja iih naik motor ngeluh… Wkwkw. Ya, silakan kalau dianggap begitu. Karena memang berasa banget nih pinggang mau copot setelah kurang lebih 2 jam naik motor, sambil gendong Affan. Beruntung saat itu Ifa nggak pakai acara ngantuk di jalan. Kalau Ifa ngantuk, tangan sambil megangin kepala doi, bisa nambah lagi level capeknya. Pengaruh usia juga kali ya. Jaman kuliah kayanya motoran sampai Solo ya woles aja, hehe.

Tapi setelah aku berusaha menelusuri kenapa bisa secapek itu di jalan, aku mau berbagi tips deh buat yang tertarik ke Pasar Karetan biar tetap fit hingga ke lokasi.



Tidurlah dengan nyenyak malam hari sebelum travel to Pasar Karetan. Penting banget ini, istirahat yang cukup akan membuat tubuh kita lebih fit dan nggak mudah capek di jalan. Ini yang salah dari aku dan suami. Malamnya kurang tidur setelah mantengin laptop, bahkan suami kayanya nggak sempat tidur, paginya langsung ditagih Ifa “ayo, jadi nggak ke Pasar Karetan?”

Berangkatlah sepagi mungkin. Yup, jam setengah tujuh itu udah kesiangan banget. Lagian kan Pasar Karetan buka dari jam 6. So, sebaiknya sih setelah Subuh langsung cuzz biar nggak kepanasan di jalan, udara pun masih bersih. Plus, saat sampai lokasi nggak begitu uyel-uyelan. Buat orang yang nggak begitu suka crowded area kaya aku dan keluarga, penting banget ini menghindari uyel-uyelan.



Pastikan safety riding ya. Buat yang naik motor helm SNI, jaket, masker, cek semua kelengkapan. Jangan lupa untuk menyiapkan perbekalan yang cukup, apalagi kalau jarak rumah kalian cukup jauh dari lokasi kaya eike. Setidaknya air minum harus banyak, jangan sampai dehidrasi di jalan. Coz dehidrasi juga bikin tubuh cepat capek.

Saat nunggu kereta kelinci, plis antri dengan baik. Main serobot dan dorong-dorongan itu nggak baik ye, apalagi dorong-dorong ibu bawa anak. Ada anak kecil yang sampai keinjak kakinya dan nangis lo. Dan satu lagi, tolong dong no smoking, pengap bo. Banyak orang, ngebul seenaknya. Etikanya itu loooh, jangan malu-maluin Indonesia lah. 

Siap-siap bawa duit buat mencoba semua kuliner yang ada. Setidaknya ada 30 tenant kuliner yang bisa kalian cicipi, bakal nyesel kalau nggak bisa nyobain semua hehe.




Google Maps wajib hidup, terutama kalau baru pertama kali ke sana. Petunjuk yang mengarahkan ke lokasi masih minim banget, jadi ya salah satu andalan untuk dijadikan petunjuk hanyalah G-Maps dan tanya orang.

Pakai pakaian yang nyaman dan menyerap keringat. Karena lokasinya di outdoor, pakai alas kaki yang nyaman. Nggak usah pakai heels deh buat para emak, pakai sepatu kets atau sandal gunung kayanya lebih enak buat dipakai jalan jauh.

Kalau sudah di lokasi dan nyicipin ini itu, jangan buang sampah sembarangan ya, pals. Biar alam kita senantiasa indah dan enak dipandang. Apa susahnya coba naruh sampah di tempat yang disediakan? Miris kemarin lihat beberapa orang masih asal ninggalin sampah, padahal MC nya sudah berkali-kali mengingatkan untuk membuang sampah di tempatnya.



Yang bawa baby, pakai gendongan carrier is the best pokoknya. Bayi aman, emak nyaman hehe.

Insya Allah kalau tips tadi diikutin dengan baik dan benar, nggak bakal merasa exhausted banget deh di jalan. So, selamat jalan-jalan bersama keluarga, pals.

PASAR KARETAN
Jl. Sasak 3, Meteseh, Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah 51381
Buka Setiap Hari Minggu, 06.00 – 11.00
Instagram: @pasarkaretan

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



You Might Also Like

1 comments

  1. Jauh loh dari Meteseh rumah Mbak Marita ke Pasar Karetan. I feel you banget, Mbak. Langsung inget jaman kuliah dulu. PP dari Ngaliyan ke Tembalang tiap hari naik motor. Sebelun bisa naik motor, naik bus

    Kalo dari rumah Mama, Pasar Karetan agak dekat. Ntar deh kalo mudik mudah2an bisa kesana

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com