Jadilah Perokok Beretika, Please!

  • Wednesday, October 11, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 6 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Hi, pals. Alhamdulillah One Day One Post Blogger Muslimah sudah sampai hari ke sepuluh. Aku sudah mulai lirik folder lama buat cari ide nih. Siapa tahu ada yang bisa dieksekusi jadi postingan, hehe. Sebenarnya di draft blog juga masih ada beberapa artikel yang belum kelar, cuma kok ada yang lupa materinya di mana, ada yang mau nglanjutin nggak dapat feel-nya. Jadi mubazir kan kalau cuma di draft doang. Pengingat banget nih buat aku, kalau udah ada ide tuh jangan kelamaan eksekusinya.
Btw, kalau baca judulnya pasti udah langsung nebak dong aku mau nulis apaan. Tentang perokok beretika ini memang udah lama ada di benakku hasil diskusi bolak-balik sama suami. Sempat mau kita bikin buat tema #DuaKacamata, tapi dia mah sekarang sok sibuk. Jangankan update #DuaKacamata, terakhir bikin postingan di blog aja entah kapan, hehe. Nah, kebetulan kemarin di Rumbel Menulis IIP Kaltimra mengangkat isu lingkungan sebagai tema One Day One Status. Terus ingat deh kalau aku masih punya hutang sama diri sendiri untuk nulis soal perokok beretika.

Hukum Merokok dalam Islam

Pasti kalian langsung mengernyitkan dahi ya, pals. Memangnya ada perokok beretika? Bukannya di mana-mana perokok itu nggak punya etika ya? Eits, jangan salah… ada kok, meski jumlahnya nggak banyak. Mau beretika atau nggak kan tetap saja perokok, rokok itu haram lo, merusak badan, bla b la bla…  Apa enaknya coba, apa manfaatnya dan lalalala.

Kita bisa bilang begitu karena kita bukan perokok, jadi ya enak aja bilang A, B, C sampai Z ke perokok. Perokok yang bisa tobat itu luarrrr biasa. Bukan hanya karena niat, tapi juga support systemnya pasti mendukung banget. Berhenti merokok itu butuh kenekatan, keimanan, ditambah usaha plus doa biar bisa istiqomah. Kalau empat hal ini belum kuat, liat sebatang rokok gletak di meja, pasti mereka rasanya pengen nyamber korek terus dinyalain deh tuh rokok.

Sebenarnya kalau di Islam, dasar hukum tentang merokok sudah jelas, tinggal para perokok itu mau mengimani atau nggak. Ini nih dalilnya, aku kutip dari situs Konsultasi Syariah.



 …. Allah telah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisaa: 29). 
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa merokok hukumnya haram, ditegaskan oleh Qalyubi (Ulama Mazhab Syafi’i, wafat: 1069 H). Dalam kitab Hasyiyah Qalyubi ala Syarh al-Mahalli (jilid I, Hal. 69), beliau mengatakan: “Ganja dan segala obat bius yang menghilangkan akal, zatnya suci sekalipun haram untuk dikonsumsi, oleh karena itu para ulama kami berpendapat bahwa rokok hukumnya juga haram, karena rokok dapat membuka jalan agar tubuh terjangkit berbagai penyakit berbahaya”.
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al Baqarah: 195). 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Tidak boleh melakukan perbuatan yang membuat mudharat bagi orang lain baik permulaan ataupun balasan.” (HR. Ibnu Majah. Hadis ini di shahihkan oleh Albani). 
Karena itu, sangat tepat fatwa yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga fatwa di dunia Islam, seperti fatwa MUI yang mengharamkan rokok, begitu juga Dewan Fatwa Arab Saudi yang mengharamkan rokok, melalui fatwa nomor: (4947), yang menyatakan, “Merokok hukumnya haram, menanam bahan bakunya (tembakau) juga haram serta memperdagangkannya juga haram, karena rokok menyebabkan bahaya yang begitu besar”….


Para Perokok di Dekatku

Aku sangat dekat dengan perokok. That’s why aku termasuk yang nggak bisa keras juga sama perokok, selama mereka punya etika. Buat aku merokok itu pilihan. Mereka sudah tahu resikonya, mereka sudah tahu hukum di agama yang dianutnya bagaimana, mereka sudah tahu manfaat dan kerugiannya. Jadi ya silakan bertanggung jawab sama pilihan itu. Cuma pastikan jangan sampai orang lain kena dampaknya, or at least berusaha untuk meminimalisirnya.

Eyang kakungku perokok meski aku nggak pernah melihat beliau merokok sama sekali sampai beliau meninggal.  Eyang memutuskan berhenti merokok sebagaimana nazarnya “kalau udah punya cucu, aku mandheg rokok.” Dikarenakan aku cucu pertamanya, maka saat aku lahir, eyang pun menepati nazar tersebut. Waktu diceritain soal ini, kepalaku langsung guede, berasa penting gitu jadi momen penting eyangku berhenti merokok, hehe.

Bapakku lebih akut lagi soal merokok. Entah tiap hari berapa pack yang beliau habiskan. Apalagi pekerjaannya sebagai sopir sangat mendukung aktivitasnya merokok. Tiap berhenti ke sebuah rumah makan yang sudah kerja sama dengan armada bus yang dikemudikannya, beliau bakal dapat sangu beberapa bungkus rokok. Jadi bagaimana mau berhenti kalau rokok aja dapat gratisan melulu?



Bapak sempat hampir berhenti merokok ketika sakit batuk nggak sembuh-sembuh. Sebagai gantinya setiap kali kerja beliau bawa permen satu kantong. Kata bapak malah borosan beli permen daripada beli rokok, hihi. Akhirnya bapak pun kembali merokok. Bapakku ini contoh perokok yang nggak punya etika, di dalam rumah yang ada anak istri tetap aja merokok. Dan dulu kesadaran soal rokok juga belum setinggi sekarang sih ya, jadi ya karena sudah biasa, anak istrinya nggak ada yang protes tuh.

Adik kandungku terdiagnosa ada jantung bawaan sejak bayi, dokter sempat bertanya apakah bapak merokok karena bisa jadi itu salah satu penyebabnya. Namun aku dan adik tiriku Alhamdulillah sehat semua sih. Jadi nggak jelas juga apa penyebab penyakit adikku itu salah satunya karena terpapar asap rokoknya bapak.

Bapak juga sempat berjanji mau berhenti merokok kalau punya anak, nyatanya saat aku lahir tetap saja tuh merokok. Sepuluh tahun berlalu dan adikku lahir, tetap saja tambah ngebul merokoknya. Bahkan kemudian beliau menikah lagi dan dapat anak cowok pun, tetap saja enggak berhenti merokoknya. Nggak semua laki-laki bisa pegang janji kaya eyang kakungku, hehe. Jadi ingat waktu masih kecil kalau nemu rokok punya bapak, aku suka jilatin ujungnya yang manis itu lo, terus aku kembalikan lagi ke tempatnya, hihihi. 

Qodarullah suamiku pun perokok.Maklum dulu waktu masih jaman jahiliyah, aku nggak masukin syarat ‘no smoking’, hehe. Dan kayanya dulu aku nggak masalah juga sama aktivitas merokoknya sih, mungkin karena udah biasa juga. Anyway, aku dulu termasuk yang santai aja sama asap rokok, nggak yang pusing, pengen muntah atau gimana. Bahkan aku juga sempat merasakan nikmatnya merokok di masa-masa liarku. Ya untungnya nggak nyandu, jadi ketika suami (dulu masih pacar) nyuruh berhenti merokok, ya udah berhenti. Meski dulu perjanjiannya kalau aku stop merokok, dia juga bakalan nggak merokok lagi, tapi yaaa… begitu deh laki-laki, hehe. Tiap kali ditanya atau aku godain “kamunya ingkar janji, aku ngrokok lagi deh,” dia paling cuma bilang, “kamu kan cewek, nggak pantas dilihat.”



Kalau ditanya kenapa aku bisa berhenti merokok. Ya, karena nggak nyandu. Merokok belum jadi kebutuhan buatku. Aku merokok saat pengen aja, nggak yang habis makan kudu merokok, lagi buang air besar bawa rokok. Biasanya aku merokok kalau lagi nongkrong bareng teman segang saat itu atau kepala lagi sumpek karena masalah demi masalah menghampiri, enak aja kebal-kebul dan masalah terasa hilang sesaat. Maklum dulu masih jauh banget sama Allah (btw, emang sekarang udah deket, sok banget euy, hihihi), belum intens ikut ngaji dan belajar agama. Alhamdulillah sekarang ketemu banyak teman-teman yang membawa dampak positif dan mencerabut akar-akar kenakalan serta kebodohan di masa mudaku. 

Bahkan meski aku nggak nyandu, kalau liat rokok di meja, aku masih suka ciumin baunya. Nggak ngerti kenapa aku suka bau rokok sebelum dinyalain. Bayangkan mereka yang sudah nyandu rokok, semakin ditekan, semakin dilarang, malah semakin nggak bisa lepas. Kita mesti tarik ulur bikin mereka sadar diri. Sekarang kalau ada asap rokok aku udah  nggak tahan banget. Radius berapa kilometer hidung ini udah kasih sinyal, ada yang ngerokok nih, nggak enak banget baunya. Apalagi kalau rokok kretek, langsung pusing kepalaku.


Suamiku Mulai Beretika Saat Merokok

Saat awal menikah, suami masih suka merokok di rumah, tapi nggak di dalam ruangan. Kalau pengen merokok, dia bakal ke luar dulu. Kadang aku juga ikut nemenin sambil ngobrol, pintu rumah kita tutup biar asapnya nggak masuk.  Saat pergi  makan di luar, dia masih merokok di dekatku. Perlahan-lahan kebiasaan itu mulai berubah ketika aku hamil. Suami mulai sadar diri untuk nggak merokok saat di dekatku.  Kalau ada temannya yang merokok di dekat kami, dia bakal menegur temannya buat matiin rokoknya kalau itu teman akrabnya, “pateni sik rokoke, bojoke hamil ki.” Kalau bukan teman akrab, ya dia ngajak aku pindah tempat biar aku nggak terpapar asap rokok teman-temannya.

Apalagi setelah anak-anak lahir, meski belum bisa berhenti tapi dia berusaha untuk mengurangi semaksimal mungkin. Kalau dulu mungkin sehari bisa habis satu pack, sekarang tiga batang rokok aja udah banyak buat dia. Itu pun dia hampir enggak pernah merokok sama sekali di lingkungan rumah, kecuali lagi arisan bapak-bapak, kerja bakti or nongkrong sama bapak-bapak, biasanya belum bisa menolak untuk nggak merokok. Kalau aku kebetulan lihat, langsung dia matiin rokoknya sambil nyengir, hehe.

Pulang kerja pun suami nggak bakal langsung megang anak-anak. Dia bakal mandi dulu, gosok gigi dan ganti baju, baru deh main sama anak-anak. Aku sangat apresiasi usahanya ini. Meski tetap lah saban hari sounding ke dia, kapan berhenti merokok. Sambil ngingetin dia akan janjinya kalau punya anak cowok bakalan berhenti merokok.”Mumpung Affan masih bayi belum merekam kalau ayahnya perokok lo, rela anaknya jadi perokok juga?” Dan dia  cuma bilang, “iya, iya.. bentar to, latihan dulu..”

Beberapa hari yang lalu kita datang ke tempat makan. Di mana-mana isinya perokok, sampai kita bingung mau duduk di mana, karena memang kita nggak makan di restoran yang ada area non smoking – nya. Untung saat itu berencana beli lauk aja dan dimakan di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di dekat motor. Saat itu Affan habis pulang opname karena bronchopneumonia, kasihan dong kalau harus terpapar asap rokok.



Sambil menunggu pesanan kami jadi, suami mendekatiku, “wah, nggak bener nih yang pada ngrokok, nggak lihat tempat.” Aku cuma senyum sambil komen, “ya gimana anaknya mau aman dari asap rokok, wong ayahnya juga masih merokok. Meski kamu berusaha untuk tidak merokok di dekat keluargamu, tapi kan kalau nggak di dekat kami, kamu masih merokok. Tanpa sadar kamu pasti pernah mendholimi orang lain sama asap rokokmu. Makanya berhenti dong, biar nggak mendholimi orang lain, jadi anaknya juga nggak terdholimi gini deh.”

Suami nggak terima tuh dibilang tanpa sadar udah mendholimi orang lain. “Aku kan kalau merokok lihat tempat, cuma merokok di tempat yang isinya perokok semua. Kalau ada orang yang nggak merokok di situ, terutama ibu-ibu dan anak-anak, aku bakalan pindah cari tempat lain, teman-temanku juga bakal aku ajak pindah biar nggak meracuni orang lain.” Ya, meski aku nggak seratus persen setuju sama pendapatnya, kan asap rokok dibawa angin, entah berapa persen pasti ada yang dihirup sama non perokok, jadi selama dia merokok bakalan ada yang didholimi sama doi. Tapi ya daripada jadi debat panjang kali lebar kali tinggi, aku cuma berkomentar, “ciee, perokok beretika nih ye…”

4 Syarat Jadi Perokok Beretika

Dari situlah kemudian aku kepikiran bahwa it’s okay lah kalau kalian para perokok belum bisa menghentikan kebiasaan buruk tersebut, tapi pleaseeeee jadilah perokok beretika dengan jalanin poin-poin berikut ini;

#1 Merokoklah di Tempat yang Tepat

Tempat yang tepat itu bukan public places. Cuma aku nggak yakin mereka para perokok itu ngerti yang namanya public places. Pengalamanku nih yang perokok malah lebih galak daripada yang nggak merokok. Baru aku lirik karena dia asyik kebal-kebul di angkot atau di warung, udah langsung nyolot aja “kenapa mbak, nggak boleh merokok? Ini kan tempat umum!”



Nah itu mas, pak, om, paklik, pakdhe, mbah… justru karena tempat umum kalian nggak bisa dan nggak boleh merokok di situ. Lihat tuh asapnya sampai ke mana-mana, ada wanita hamil, ada anak-anak… hargain dong! Cari tempat yang ada tanda diperbolehkan merokok. Jauh? Susah nyari tempat khusus merokok? Ya, itu resiko atas pilihan kalian sebagai perokok. Seperti yang aku bilang di atas, silakan merokok tapi bertanggung jawablah sendiri sama pilihan tersebut, jangan ngajak orang lain ngerasain dampaknya.

#2 Matikan Rokokmu Saat di Dekat Ibu Hamil, Anak-anak, Apalagi Bayi

Tiga golongan ini rentan euy. Bisa nggak sih empati dikit. Lirik kiri kanan gitu loh kalau mau nyalain rokoknya! Yang bikin jengkel itu kalau masih ada bapak-bapak momong anaknya sambil bawa rokok, boncengin anaknya sambil ngerokok, ngobrol sambil ngerokok setelah makan di warung – padahal di dekatnya ada istrinya yang lagi hamil. Rasanya pengen nimpuk kepalanya sambil bilang, “pak, kamu mo mati duluan nggak papa, tapi sayangin anak istrimu dong…”

Mbok yao, kalau lagi asyik-asyiknya merokok terus ada non perokok di situ, terutama ibu hamil, anak-anak dan bayi, matikan rokoknya. Pindah kek ke tempat lain, atau dilanjut nanti saat tidak ada orang yang bakal terdholimi kalau kalian merokok. Aku bakal respek banget nih kalau ketemu orang kaya gini. Emang ada? Ada tuh, suamiku, hehe. Nggak ding, ada kok selain suamiku.. pernah lagi di mana gitu, ada cowok merokok langsung dia matikan rokoknya ketika lihat aku sama anak-anak. Tapi ya masih juarang pakai banget orang kaya gini.



Anyway, kita yang nggak merokok pun lihat-lihat sikon ya. Kemarin baca salah satu postingan mbak Grace Melia ikutan geli-geli gimana. Saat mbak Grace lagi makan berdua aja sama suami, tiba-tiba ada orang yang menegur suaminya untuk berhenti merokok karena orang tersebut bawa anak kecil. Padahal mbak Grace sama suami sudah memilih tempat duduk di smoking area, jadi sebenarnya sah-sah aja suami mbak Grace merokok. So, kalau kita lagi ke mall atau ke restoran yang ada smoking area-nya, kalau nggak mau terpapar asap rokok ya jangan nekat masuk ke area itu. Udah bagus loh para perokok itu sadar diri merokoknya di ruangan khusus merokok, nggak di sembarang tempat.

#3 Kalau Lagi Bertamu Ke Rumah Orang, Jangan Maksa Untuk Nyediain Asbak

Ini terinspirasi dari cerita teman-temanku. Meskipun suami mereka bukan perokok, tetap saja masih susah untuk menghindari asap rokok, terutama kalau ada kolega suaminya main ke rumah. Padahal di rumah mereka sudah nggak ada asbak, masih nekat minta asbak. Parahnya lagi para suami yang notabene pemilik rumah juga sungkan sama tamunya, bukannya bilang “maaf di rumah kami ada aturan nggak boleh merokok,” malah sibuk nyariin asbak buat mereka. Akhirnya lepek atau kertas dijadiin asbak sementara. Mana para tamu ini kalau udah ngerokok, asyik ngobrol, jadi lupa waktu dan nggak ingat pulang.

Wahai kalian para perokok kalau lagi bertamu ke rumah orang, lirak-lirik dulu di rumah itu ada asbak yang tersedia nggak. Kalau nggak ada bisa dipastikan si empunya rumah pasti nggak merokok, jangan jadi tamu yang nyebelin dan ngasih racun ke rumah orang. Masih ngebet juga pengen merokok di rumah orang, minta ijin dulu gih, “boleh nggak merokok di sini?”

Tuan rumahnya pun jangan sungkan, kalau memang ada aturan nggak boleh merokok, bilang sama tamunya, “silakan pak kalau mau merokok, tapi di rumahnya sendiri ya,” Hehe. Jangan kalah dong sama suamiku. Meski dia perokok dia berani lo melarang tamunya buat nggak merokok di area rumah kami. Setiap kali ada temannya perokok mau main ke rumah, dia sudah mewanti-wanti, “kalau main ke rumahku nggak boleh merokok, kalau mau merokok mending ketemuannya di tempat lain.”

#4 Minimalkan Racun Rokok dari Keluargamu

Kalaupun belum bisa berhenti merokok secara total, setidaknya buktikanlah rasa sayangmu sama keluarga. Pastikan untuk tidak merokok di dekat mereka. Jangan langsung main peluk anak-anak saat kalian pulang kerja. Bersihkan badan dan gantilah pakaian dengan yang baru, karena asap rokok menempel di baju dan tubuh kalian yang secara tidak langsung bisa membahayakan keluargamu.

Pasti kalau pun tulisan ini dibaca sama perokok yang ngeyelan, mereka bakal bilang “ribet banget sih… anak-anakku sehat-sehat aja meskipun aku merokok di dekat mereka.” Woy, tubuh orang itu beda-beda, pak. Ada yang rentan, ada yang kuat. Bahkan bisa jadi hari ini anak bapak nggak kenapa-kenapa, kan kita nggak tahu setahun atau lima tahun atau sepuluh tahun yang akan datang ketika racun rokok itu semakin mengendap di tubuh mereka. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati to?



Buat kita yang nggak merokok, mari dukung para perokok untuk kembali ke jalan yang benar. Membuat perokok untuk bisa berhenti total itu butuh support system yang handal. Mari kita jadi support system tersebut. Kalau lihat ada perokok yang kebal-kebul di tempat umum, jangan takut untuk menegur, kan sudah ada undang-undangnya. Semakin banyak orang yang menegur, pasti para perokok pun lama-lama sungkan untuk merokok di tempat umum. Kalau masih ada yang nggak sungkan, berarti udah nggak punya hati, tenggelamkan saja!

Jangan sediakan asbak di rumah. Pasang stiker, atau kalau perlu banner di depan rumah yang menyatakan bahwa rumah kita adalah area bebas asap rokok. Kalau nekat merokok, para tamu bakal kena usir pakai sandal melayang, hehe. Jangan bosan nyerewetin suami-suami kita yang masih belum juga bisa berhenti merokok. Nggak papa lah dibilang bawel, kan itu juga demi kebaikan mereka dan keluarga.

Akhir kata, semoga kita bisa terhindar dari kepungan asap rokok, semoga anak-anak Indonesia sehat selalu, nggak ada lagi berita bayi atau anak meninggal karena asap rokok, nggak ada lagi berita perokok yang meninggal karena kanker dan semoga para perokok tersadar bahwa merokok itu isinya cuma mudharat doang. Haruskah hanya untuk kesenangan secuil dan sementara, kalian perlahan membunuh diri sendiri dan orang lain?



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post Blogger Muslimah


#ODOPOKT10
#OneDayOneStatus
#Day18
#BelajarMenulis
#IIPKaltimra




You Might Also Like

6 comments

  1. Bapakku juga perokok berat Mbak, nyandu sampe sekarang. Alhamdulillah suamiku bukan perokok padahal bapaknya perokok berat juga. Tahu kenapa? Karena katanya oernah coba-coba merokok tapi kepala jadi pusing ditambah mulutnya seharian terasa pahit, jadi kapok deh😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya mbak. Keren suaminya. Kalau kata bapak Dan suamiku kalau nggak merokok, malah mulutnya rasanya pait.

      Delete
    2. Pernah dua kali jatuh cinta sama perokok berat... Upsss.

      Padahal dari dulu gak suka sama perokok. Alhamdulillah, suami bukan perokok. Meski pernah nyoba sekali abis itu batuk pas masa remajanya. Sama kayak aku nyobain sekali 1/2 batang, kapok. Aneh gak ada rasa kayak kertas dibakar aja

      Dan sampai sekarang selalu terganggu dengan bau rokok kalau lagi ketemu perokok

      Delete
    3. Alhamdulillah ya mbak dapat suami nggak perokok. Aku masih PR banget nih buat bikin suami bener2 berhenti merokok.

      Memang nyebelin banget asap rokok itu, mari tenggelamkan saja para perokok Tak beretika hehe.

      Delete
  2. Kalau di keluargaku bapakku, adikku, suamiku gak merokok, adik iparku iya merokok, tapi kita suruh di luar, kalau di keluarga suamiku,kakak ipar dua merokok di dalam rumah, bapak mertua mah enggak, cuma gak betah kalau ada yang merokok,bahaya perokok pasif soalnya, di kantor juga yang di luar ruangan haduh bisa kumarahin itu mah heuheu

    ReplyDelete
  3. Aku dari kecil udah gak nahan ama aroma rokok, kepala langsung pening. Alhamdulillah suami gak merokok.pdhal bapak dan kakaknya merokok. Kalo ada tamu yang merokok, diajakin suami duduk di luar rumah trus pintunya ditutup. Kalo aku sendiri sedang myampur di lokasi yang ada perokoknya ya nutup hidung aja. Sebel kalo lihat perokok sembarangan

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com