Mata Pena bersama Abah Ihsan #2: Gadget untuk Anak



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Postingan kali ini masih membahas tentang Majelis Tsaqofah Pendidikan Anak (Mata Pena) bersama Abah Ihsan yang kuikuti pada hari Jumat, 30 Agustus 2019 yang lalu. Awalnya catatan tentang Mata Pena hanya akan kubuat jadi satu postingan, namun ternyata baru dapat separuh catatan sudah cukup panjang. Daripada yang baca bosan, mending kupisah saja deh. Nggak papa kan?

Kalau kemarin sudah diingatkan soal pentingnya ngobrol, menjalankan 1821 dan memililh teman, kini kita kan bahas soal gadget untuk anak. Bolehkah anak memiliki gadget sendiri? How’s your opinion, pals?

Sebelum kita memutuskan untuk memberikan gadget kepada anak, kita harus memahami tiga hal ini:

1. Anak diperbolehkan belajar dan menguasai teknologi, namun ingat BUKAN DIKUASAI teknologi. Seperti apakah yang dinamakan dikuasai teknologi? Nonton Youtube tanpa aturan, ngegame dari pagi sampai sore, dsb.

2. Anak harus dibekali dengan literasi digital. Bekali dulu dengan Internet BAIK (Bertanggungjawab, Aman, Inspiratif dan Kreatif). 

Jangan menjadi orangtua yang tidak bertanggungjawab. Contoh ortu yang tidak bertanggungjawab: anak diberi motor tapi tidak diajari bagaimana cara mengendarai motor dan berkendara di jalan yang baik. Alhasil banyak yang kebut-kebutan tanpa helm, satu motor digunakan untuk berempat di jalanan. Ingat bahwa melatih kemandirian itu berbeda dengan menguji kemandirian. Orangtua yang melatih kemandirian harus sudah membekali anaknya dengan ilmu yang tepat. 

Sama halnya dengan gadget. Tahukah gadget itu bisa membawa anak sampai ke mana-mana hanya dalam satu genggaman. Mengapa kita takut ketika anak pergi meminta izin ke luar negeri sendirian dan sudah pasti tak kita izinkan, namun kita tak melarang anak membawa gagdet padahal gadget bisa membawa anak ‘keliling dunia tanpa batasan.”




Oleh karenanya, sebelum memberikan gadget pada anak, berikan dulu ilmu dan pengetahuan terkait hak dan kewajiban bergadget.

Pahamilah bahwa melatih dan menguji itu beda. Melatih memiliki tahapan dan ada pendampingannya. OLeh karenanya ketika kita memutuskan untuk memberikan gadget kepada anak, pastikan untuk memberikan informasi tentang gadget, manfaat dan mudharat dan bagaimana menggunakannya dengan benar.

Memilah apa saja manfaat dan mudharat gadget bisa menjadi bahan obrolan yang asyik lo. Pastinya kita semua setuju bahwa gadget bermanfaat untuk memberi informasi, mencari pelajaran, untuk sosialisasi, hiburan, komunikasi dan dokumentasi. Namun jangan lupa, gadget pun memiliki mudharat sebagai berikut: anak menjadi tidak aktif karena ia cenderung akan memegang HP nya ke mana pun dan di mana pun, anak menjadi minim komunikasi sehingga emosi bisa tersumbat, lebih sering marah-marah, dan yang paling bahaya adalah mereka memiliki guru yang sangat banyak. Kalau gurunya baik semua alhamdulillah, kalau tidak?

3. Apakah ada kerugian bagi anak kita jika tidak memiliki smartphone?

Masih berkaitan dengan manfaat dan mudharatnya. Sejatinya tidak ada sedikit pun kerugian bagi anak jika tidak memiliki smartphone. Biasanya mereka merengek minta smartphone karena semua temannya sudah bawa HP sendiri-sendiri, takut ketinggalan informasi dan diejek oleh teman-temannya. Maka ketika ini terjadi yakinkan diri anak bahwa menjadi creator jauh lebih keren daripada menjadi follower.

Kenapa tidak mencoba menjadi trend setter di sekolah sebagai siswa yang tak membawa HP? Yakinkan anak bahwa trend setter ini jauh lebih keren dibandingkan membawa gadget hanya dengan alasan malu atau gengsi.




Konsep 3D untuk Mengatasi Masalah Gadget pada Anak


Sebenarnya mengatasi masalah gadget pada anak nggak sulit-sulit amat kok, tinggal kita mau nggak konsisten menjalaninya?

Pahamkan pada anak bahwa untuk urusan gadget, ada 3D:




1. Dibutuhkan

Boleh kok memakai gadget kapan saja, selama hal itu digunakan untuk sesuatu yang terkait dengan sekolah, atau mencari info PR.

2. Didampingi

Sampaikan juga pada anak untuk menggunakan gadget hanya di ruang publik alias ruang yang bisa terlihat oleh siapapun. Jangan menggunakan gadget di kamar pribadi. Anak harus menggunakan gadget sepengetahuan orangtua dan didampingi penggunaannya. Hal ini untuk mengantisipasi anak akan membuka-buka hal yang tak sepantasnya dibuka oleh mereka. 

3. Dipinjamkan

Katakan pada anak bahwa tidak akan ada gadget peribadi untuk mereka. Selama usia mereka belum mencapai 18 tahun, maka gadget hanya akan dipinjamkan. Kenapa patokannya 18 tahun? Karena biasanya pada usia tersebut, anak-anak sudah mampu bertanggungjawab atas hak dan kewajibannya. 




Definisi bertangggungjawab di sini yaitu; 

  • sudah bisa membatasi kesenangan: artinya anak sudah tahu kapan harus berhenti ngegame, kapan harus belajar.
  • sudah bisa tahu baik dan buruk: artinya anak sudah bisa berkata atau bertindak NO terhadap hal-hal yang tak sesuai dengan norma agama dan masyarakat.
  • sudah mampu menanggung resiko atas hal-hal yang dikerjakannya: anak sudah tahu jika ia melanggar sesuatu/ melakukan hal buruk, maka akan ada resiko yang harus ditanggungnya.

Pada dasarnya anak-anak suka dengan kegiatan yang aktif untuk melepaskan energi berlebih mereka. Maka dari itu cara paling ampuh untuk menghilangkan kecanduan gadget pada anak yaitu sibukkan mereka dengan kegiatan yang banyak, menyenangkan dan bermanfaat. Jangan lupa orangtuanya harus hadir dan ikut serta dalam kegiatan tersebut, bukan hanya menatap saja dari kejauhan.

Hmm, ternyata dengan 3D, mengatasi masalah gadget pada anak menjadi tampak lebih mudah ya? Kalau gitu, selamat mempraktekkan!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

0 Comments