Saturday, July 22, 2017

Inilah 5 Alasan Kenapa Kita Harus Membeli Mesin Cuci Samsung

5 Alasan Membeli Mesin Cuci Samsung

Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

Apa kabar, pals? Lagi sibuk apa nih? Kalau aku lagi sibuk ngurusin cucian yang nggak kelar-kelar. Berhubung mulai pertengahan ramadhan lalu aku memutus hubungan kerja si budhe yang sudah hampir empat tahunan membantu aku mencuci dan menyetrika baju, sekarang dua tugas itu aku handle sendiri. 

Rempong? Ya pasti, aku harus benar-benar bisa membagi waktu antara menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, ngurusin anak dan suami, serta keep updating my blog. Apalagi aku masih mencuci secara manual alias tidak menggunakan mesin cuci. Sejak baby Affan mulai pintar merangkak, aku mulai keteteran nih menyentuh cucian, baru mau membilas baju, tiba-tiba Affan bangun dari tidurnya dan sudah masuk ke kamar mandi. 

Baca juga; Capekan Siapa?

Aku jadi mulai kepikiran untuk membeli mesin cuci. Selain agar waktu mencuci lebih ringkas, aku juga bisa menghemat tenaga sehingga tenagaku bisa kualihkan untuk mengejar si Affan yang kerapkali masuk ke kolong kursi saat merangkak, hehe. Dari beberapa merk cuci yang banyak ditemukan di pasaran, aku selalu jatuh cinta dengan mesin cuci Samsung

Setelah melakukan research kecil-kecilan, dan menelusuri dari satu toko ke toko lain, baik offline maupun online, termasuk ngepoin MatahariMall.com yang punya banyak pilihan mesin cuci dengan banyak merk dan model, akhirnya aku bisa mengumpulkan lima alasan kenapa kita harus membeli mesin cuci Samsung;

Mesin Cuci Samsung Top Loading
Sumber: MatahariMall

Pertama, Samsung merupakan salah satu merk terbaik di bidang teknologi. Setiap kali kita mendengar Samsung, yang terbayang pasti soal mutunya yang teruji. Dengan nama besar Samsung, kita nggak perlu meragukan kualitas mesin cuci yang kita beli. Kalaupun ada kerusakan pada mesin cuci yang kita beli, kita juga nggak perlu khawatir karena Samsung memiliki service center di banyak kota besar yang akan membantu segala permasalahan kita. Kita juga bisa mengecek lokasi service center-nya dengan mudah lewat web resmi Samsung.

Kedua, Samsung memiliki teknologi yang lebih mutakhir dibanding para rivalnya. Beberapa teknologi yang membuat aku semakin mupeng untuk mengadopsi mesin cuci dengan merk ini, antara lain;
  • Teknologi Eco Bubble yang mampu mencuci hingga serat kain terkecil. Teknologi ini membantu kita untuk mengatasi noda sekotor apapun tanpa merusak warna asli dari pakaian kita.
  • Teknologi satu tabung, baik itu top loading ataupun front loading. Dengan model satu tabung kita bisa mencuci sekaligus mengeringkan pakaian di dalamnya. Selain itu modelnya lebih ringkas dan tidak memakan tempat, cocok untuk digunakan di rumah bertipe kecil dan minimalis.
  • Teknologi Air Turbo Drying di beberapa tipenya membuat semua pakaian bisa langsung kering dan siap untuk dipakai kembali tanpa perlu dijemur di bawah sinar matahari terlebih dahulu. Wow, inovatif banget kan? Cocok banget dipakai saat musim penghujan di mana cucian biasanya banyak yang tidak kering.
  • Pilihan kapasitas tabungnya sangat beragam. Kita bisa memilih tipe dengan kapasitas 8 kg yang cocok untuk penggunaan harian rumah tangga hingga yang berkapasitas hingga 16 kg yang bisa dipakai untuk mencuci bed cover dan selimut tebal. Mesin cuci dengan kapasitas besar ini cocok dipakai bagi yang ingin menjalankan bisnis laundry di rumah.
  • Teknologi digital. Semua tombol pada mesin cuci dari Samsung telah berteknologi digital, jadi kita tinggal pencet ini pencet itu, beres dah. Yang pasti, jadi lebih mudah mengoperasikannya.
  • Hemat air dan hemat listrik. Dengan semua teknologinya yang mutakhir, Samsung membantu kita untuk melakukan penghematan air dan listrik. Cocok banget kan dipakai di era sekarang di mana subsidi listrik mulai dicabut dan tagihan semakin membengkak?
Ketiga, desain mesin cuci merk asal Korea ini sangat beragam dan begitu modern. Sekali lihat desain-desainnya pasti bakal jatuh hati. Nggak cuma membantu pekerjaan mencuci, mesin cuci dari Samsung bisa berfungsi sebagai dekorasi di rumah karena desainnya sangat cantik dan elegan.

Keempat, harga mesin cuci keluaran Samsung sangat bersaing. Dengan teknologi yang mutakhir yang menempel di setiap tipenya dan kualitas merk-nya yang tak perlu diragukan lagi, harga mesin cuci ini sangat bervariatif dan tidak berbeda jauh dengan para rivalnya. Malah jika dihitung-hitung justru jauh lebih murah karena Samsung memiliki teknologi di atas para rivalnya. Kalau pengen tahu kisarannya berapa, bisa tengok harga mesin cuci Samsung di sini.

Dian Sastro dan Mesin Cuci Samsung
Si Cantik Dian Sastro, Ambassador Samsung
Kelima, karena ambassador Samsung adalah kembaranku, si Mbak Dian Sastro. Hehe, jangan muntah ya. Yang ini alasan pribadi sih. Soalnya kami lahir di tanggal dan bulan yang sama, jadi aku sering menobatkan diri sebagai kembarannya, hehe, maksa banget nggak sih? Anyway, Dian Sastro memang salah satu artis kesukaanku. Selain cantik dan pintar, aktingnya Dian selalu menawan hati. Meski di luar sana banyak yang bilang she’s arrogant, but I still love her appearance and the way she acts. Di luar semua isu miring tentangnya, buatku Dian Sastro sangat pantas menjadi ambassador Samsung, mereka sama-sama high quality. 

Nah itulah lima alasan kenapa kita harus membeli mesin cuci Samsung yang berhasil aku kumpulkan. How’s your opinion about this, pals? Ditunggu share-nya di kolom komentar ya, siapa tahu aku bisa menambah daftar alasan kenapa kudu membeli mesin cuci merk Korea ini. Thanks for reading, dan sampai jumpa di postingan berikutnya ya!

Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Friday, July 21, 2017

Jalan-jalan Tak Asyik tanpa Suami dan Anak

Jalan-jalan Tak Asyik tanpa Suami dan Anak


Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Deadliner sejati nih ceritanya, waktunya #ArisanBlogGandjelRel dikocok untuk periode ketujuh, baru setor untuk periode keenam. Okelah, lebih baik terlambat kan, daripada tidak sama sekali? Ya.. tapi juga nggak telat melulu kali... *getokkepalasendiri.

Sepertinya sang duo pemberi tema keenam ini masih kena influence dari yang periode kelima nih. Atau karena baru saja kelar liburan ya, jadi masih susah move on dari hal-hal berbau liburan dan traveling. Kali ini yang berwenang memberikan tema adalah mbak Dwi Septia dan mbak Winda Oetomo. Ngobrolin mbak Dwi Septia nggak bisa lepas dari blognya yang bertema hitam putih. Kesannya begitu elegan, minimalis, tapi kuat. Sukaaa deh sama theme-nya yang simple but cute. Kita bisa baca banyak kisah-kisah keseharian mbak Dwi yang dituliskan dengan apik dan menginspirasi.

Tuesday, July 18, 2017

Liburan Berkesanku Dari Palembang ke Panti Sosial Tresna Werdha



Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Apa kabar di hari kedua anak-anak masuk sekolah nih? Masih semangat mengantarkan anak-anak meraih mimpi-mimpinya dong. Karena aku nggak kebagian antar jemput si kakak lagi, aku mau setor #ArisanBlogGandjelRel periode kelima dulu deh. Ini seharusnya disetor dua mingguan yang lalu, tapi berhubung kegiatan padat merayap jadi baru bisa nulis sekarang deh. #soksibuk.

Sunday, July 16, 2017

NHW #7; Rejeki Itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari

NHW #7; Rejeki Itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari


Assalammu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Bagaimana weekend-nya minggu ini, pals? Senang dong ya bisa berkumpul bersama keluarga tercinta. Seperti biasa di akhir minggu, aku akan berbagi tentang materi yang aku dapatkan dari kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4. Alhamdulillah, 'kuliah'ku sekarang sudah berjalan hingga minggu ketujuh.

Friday, July 14, 2017

7 Tips Jitu Mencegah Infeksi Saluran Kemih

7 Tips Jitu Mencegah Infeksi Saluran Kemih

Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, pals. Apa kabarnya? 

Semoga di hari Jum’at kedua di bulan Juli ini, kita senantiasa diberkahi Allah dengan rizki yang cukup, termasuk di dalamnya kesehatan jasmani dan rohani, aamiin.

Ngobrolin soal kesehatan, pernah nggak teman-teman mengalami yang namanya infeksi saluran kemih? Aku pernah, nggak cuma sekali malahan, sudah beberapa kali. Namun yang paling parah itu di tahun 2008 saat aku masih kerja di sebuah pabrik furniture. Jika sebelumnya paling cuma merasa kebelet buang air kecil, tapi saat ke kamar mandi cuma sedikit yang keluar atau sering disebut dengan anyang-anyangan. Saat itu, aku sudah sampai kencing berdarah saking parahnya.

Thursday, July 13, 2017

Sudah Tahukah Siapa Sahabat Terbaik Kita?






Assalammu'alaikum, pals.

Postingan ini tertunda hampir sebulanan lebih. Harusnya sudah tayang sejak bulan ramadhan lalu karena merupakan 'PR' #ArisanBlogGandjelRel periode keempat

Kali ini aku mau menggeber cerita mengenai SAHABAT. For your information, tema ini dipilih sama si womanpreneur, Agustina Dwi Jayanti yang akrab dipanggil Tina. Aku salut deh sama doi, semangatnya untuk membangun kerajaan bisnisnya, Frozen Kuro, begitu menggebu. Setiap saat dia rajin ikut pelatihan ini itu biar wawasan bisnisnya semakin berkembang. Semoga Frozen Kuro semakin besar dan besar. Aamiin. Oya, meski sibuk ngurusin bisnisnya, Tina ini masih punya waktu untuk menggeluti passion-nya di dunia literasi lo. Bahkan doi udah punya beberapa karya yang kereen bingit. Sukses terus lah buat Tina.

Partner in crime si Tina dalam pemilihan tema #ArisanBlogGandjelRel periode keempat ini adalah mbak Nurul. Beliau ini selalu mengulas tentang parenting di blognya. Buat emak-emak baru dan lama yang pengen tahu banyak tentang parenting, boleh banget lo main-main ke blognya; Seni Mendidik Anak :) Di sana dibahas banyak hal dari kesehatan sampai proyek-proyek yang bisa kita kerjakan bareng anak, khususnya yang berencana homeschooling.

Dua orang sahabatku dari komunitas Blogger Gandjel Rel ini memiliki sebuah persamaan; sama-sama menginspirasi. Tina dengan semangat juangnya yang luar biasa, meski kadang mudah baper, ups... kabur aah, ntar digetok lagi sama doi. Lain Tina, lain pula Mbak Nurul yang memiliki semangat berbagi informasi yang bermanfaat khususnya di bidang parenting.

Ngomongin soal sahabat, jujur aku paling susah menyematkan kata sahabat untuk orang lain. Ada banyak teman di sekelilingku, baik itu teman yang sekedar say hi ataupun teman yang benar-benar dekat dan sedikit banyak tahu tentang aku dan kehidupanku. Namun aku tidak mudah percaya pada orang lain untuk memasuki kehidupanku dan berselancar di dalamnya. Jangankan sama orang lain, sama diriku sendiri saja kadang aku nggak percaya, wkwkwk. Kalau kata suami "syirik kamu kalau percaya sama orang lain, percaya itu ya sama Allah." #langsungpingsan



Kalau disuruh memilih siapa sahabat terbaik, saat ini jelas jawabanku adalah suami dan anak-anak. Hingga detik ini suami adalah orang yang paling bisa aku percaya untuk berbagi cerita apapun, baik itu suka dan duka. Sedangkan anak-anak adalah sahabat kecil yang bisa menjadi teman sekaligus guru untukku. Tapi kali ini aku sedang tidak ingin membicarakan episode keseruan hidupku bersama mereka atau seberapa penting mereka untukku. Aku ingin membahas sahabat dari sudut pandang yang lain.

Berkali-kali merasakan kehilangan orang-orang tercinta  dalam rentang waktu yang tidak begitu panjang, memaksaku untuk siap berdiri sendiri. Meski jujur, nggak akan pernah siap. Terasa sekali ketika lebaran yang lalu berkumpul dengan keluarga besar, melihat keluarga om dan bulik yang masih utuh, ada rasa bahagia karena masih bisa berkumpul dengan mereka, namun juga ada sedikit iri yang muncul - rindu akan kehadiran ibu, bapak dan adik menjadi semakin besar setiap habis kumpul keluarga semacam itu. "Bersyukur dong, sekarang kan sudah ada suami dan anak-anak," beberapa orang banyak yang menyentilku demikian.

Keluarga kecilku saat ini dengan keluarga yang selama ini bersamaku adalah kepingan terpisah yang menyusun puzzle kehidupanku. Jadi, rindu akan kehadiran mereka bukan berarti aku tidak bersyukur dengan keluarga yang aku miliki saat ini.

Selain keluarga, merekalah sahabat-sahabatku saat ini, insya Allah dunia akhirat :)

Karena kepergian satu per satu orang dalam hidupku, aku jadi semakin sadar sejatinya kita nanti akan kembali dalam kesendirian. Mereka yang kita sebut sahabat bahkan keluarga hari ini, seberapa lamakah akan kehilangan kita saat nanti kita meninggalkan mereka lebih dahulu ke alam yang berbeda? Mereka toh punya hidup yang harus terus dijalani. Mungkin sehari, tiga hari, seminggu, sebulan atau setahun mereka akan merasa benar-benar kehilangan. Namun setelahnya, mereka mungkin lupa untuk mengingat kita. Perlahan ketidakhadiran kita akan menjadi hal yang biasa untuk mereka.

Kepergian mereka juga mengingatkanku betapa nanti di alam kubur tidak akan ada yang menemani selain sunyi. Lantas sahabat seperti apa yang kita butuhkan untuk menemani diri dalam kesunyian?



Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda;
“Ada tiga perkara yang mengiringi mayat. Yang dua kembali, sedangkan yang satu tetap tinggal bersamanya. Mayat diiringi keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap mengiringinya.” (HR.Al-Bukhori dan Muslim)
Ya, saat nanti kematian menjemput. Tidak akan ada lagi keluarga yang selama ini kita banggakan menemani kita di alam kubur. Apalah lagi harta yang kita cari hingga jungkir balik. Hanya berbalut kain kafan, berteman dengan tanah dan hewan-hewan kecil. Namun ternyata akan ada satu yang tetap tinggal dan setia menemani kita, bahkan bisa menjadi pemberat bagi kita saat dihisab; amal sholih.

Bumi semakin renta, kontrak kehidupan dengan Yang Maha Kuasa semakin berkurang, entah kapan giliranku, giliranmu, giliran kita menghadapNya? Berita kematian selalu menjadi pengingat terbaik. Orang yang nampak sehat hari ini, bisa saja 'pergi' beberapa jam kemudian. Bayi yang baru lahir, bisa saja hanya bertahan beberapa menit. Benar-benar tidak ada yang tahu kapan 'kereta kencana' menjemput. Dan aku semakin ngilu, mengingat belum banyak 'tabungan' yang aku miliki untuk pantas dibawa menghadapNya.

Ketika dunia masih menjadi orientasiku, ketika syariat masih kuikuti sambil lalu, berita-berita kematian itu seakan menjadi lampu kuning untuk segera bergegas agar semakin getol belajar, semakin sadar akan segala perilaku buruk dan mengubahnya menjadi baik, bahkan tidak sekedar baik di mata manusia, namun baik sesuai kehendakNya.

Memang pahala dari segala amal sholeh itu urusanNya, kita tak punya hak dan tak mungkin bisa menghitung-hitungnya. Tugas kita cuma berikhtiar sebaik mungkin, memperbaiki diri, dan memantaskan diri sehingga ketika Sang Pemilik Dunia memanggil, kita tak 'berpakaian sekedarnya' dan masih bisa membuatNya bangga pernah menciptakan kita. Semoga saat nanti hari itu tiba, kita tak terlalu sunyi menjalani hari karena ada sahabat sejati bernama amal sholih yang menemani ya. Aamiin.

Amal sholih adalah sahabat sejati yang akan masuk bersama kita ke dalam kubur sehingga akan menemani kita di alam kubur, menemani kita ketika dibangkitkan, menemani kita dalam berbagai kesempatan di hari kiamat, di atas shiroth dan ketika penimbangan untuk memutuskan apakah surga atau neraka yang menjadi tempat tinggal kita kemudian.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. “ (QS.Fushsilat [41]:46)

Itulah sahabat sejati yang harus kita kumpulkan di dunia dan manfaatnya baru benar-benar terasa di akhirat kelak. Jadi sudahlah, hentikan bapernya ketika begitu mudah di dunia ini kita dikhianati oleh satu demi satu teman. Bukan mereka yang pernah menyakiti, membully atau mengkhianati yang akan jadi teman setia hingga di akhirat. Daripada galau mikirin peningnya cari sahabat di dunia, mending fokus ke yang pasti-pasti aja deh; ngumpulin si amal sholih.


Btw, bagaimana dengan di dunia? Masa iya nggak ada yang bisa dikategorikan sebagai sahabat sejati?Masa iya keluarga benar-benar akan meninggalkan dan melupakan kita setelah 'kepergian' kita? Masa iya harta yang kita kumpulkan dengan bekerja keras - kepala jadi kaki, kaki jadi kepala - nggak akan membawa manfaat apa-apa untuk kehidupan akhirat kita?

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam QS.al-Munafiqun [63]:9;
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi."
Bahkan dalam QS.at-Taghobun[64]:14 Allah berfirman bahwasanya sebagian keluarga yang kita miliki adalah musuh bagi diri kita;

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Keluarga dan harta yang membuat kita lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa ta'ala dan menjauhkan kita dari menjalankan syariatNya, sungguh akan membuat kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. So, mumpung masih ada di dunia... ayo jaga keluarga kita sebaik-baiknya. Ayo ajak seluruh keluarga untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran biar nanti bisa berkumpul bersama lagi di surga firdaus-Nya. Begitu pula dengan harta yang kita kumpulkan, ayo habiskan dengan cara yang disukaiNya. Jika kita bisa menghabiskan banyak keping rupiah untuk bersuka ria jalan-jalan ke sana-sini demi kebahagiaan, semoga kita juga menjadi orang-orang yang tak pernah lupa untuk menyisihkan sebagian harta kita untuk kebahagiaan orang lain yang membutuhkan di sekeliling kita. Aamiin.

Mengenai sahabat sejati di dunia, tentu saja kita ingin bisa menemukannya di dunia ini. Apalagi sahabat sejati nantinya bisa ikut membantu kita di akhirat. Jadi sahabat seperti apakah yang bisa jadi teman sejati dunia akhirat? Bukankah berteman itu nggak boleh pilih-pilih? Tentu saja berkawan bisa dengan sesiapa saja tanpa memandang ras, suku, harta dan sebagainya.



Namun bukan berarti kita bisa berkawan semaunya. Ingat kan pepatah, kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi kita bisa kecipratan wanginya?

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (saleh) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi,  mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nah, setidaknya ada lima kriteria sahabat sejati berikut ini;

1. Setiap melihatnya kita akan teringat Allah - Punyakah kita teman seperti ini? Teman yang berwajah dan berperilaku adem? Yang setiap bersamanya, mau ketawa ngakak, mau ninggal sholat karena keasyikan ngobrol, mau ghibahin orang jadi nggak nyaman? Yang setiap bersamanya, kita hanya ingat hal-hal baik? Teman yang selalu mampu menjaga rahasia, teman yang selalu siap menolong di saat kita kesusahan.  Dan setiap bersamanya kita selalu diingatkan untuk selalu menomorsatukan Allah. Allah lagi, Allah terus, cuma Allah. :)

2. Selalu berusaha mengajak kita pada kebaikan - Sebobroknya kita, mereka akan selalu tersenyum dan melebarkan tangan untuk memberikan pelukan hangat sembari mengajak dan mengingatkan kita agar terus berbuat kebaikan tanpa lelah. Sudah adakah sahabatmu yang seperti ini?

3. Selalu menyebut kita dalam doa-doanya - Sahabat terbaik tidak hanya mengingat kita dalam keseharian, atau malah ingat saat ada maunya, atau cuma saat senang saja. Sahabat sejati bahkan mengingat kita dalam doanya, mendoakan kebaikan-kebaikan untuk kita. Aah senangnya jika bisa memiliki dan menjadi sahabat seperti ini :)



4. Akan sangat marah ketika kita bermaksiat kepada Allah - "Udah gede ini, urusan dia mau gimana-gimana. Nggak usah ikut campur, itu urusan dia sama Tuhan." Sering kan ya kita denger kalimat begini ketika ada temannya yang melakukan kesalahan dan maksiat? Padahal sahabat sejati akan ada di garda paling depan saat kita bermaksiat, bukan untuk bersorak dan mencibir. Namun untuk mengingatkan bahwa itu adalah hal yang buruk untuk dilakukan, bahkan dia mungkin akan menyeret kita agar kembali pulang. Sayangnya seringkali ketika kita punya sahabat macam begini, kita selalu berpikir mereka ikut campur dalam kehidupan kita. Hiks.

5. Ceria dan Selalu Positive Thinking - Teman yang baik adalah teman yang membahagiakan dan memberi semangat. Adakah teman yang setiap kita bertemu dengannya wajahnya selalu  berseri-seri dan menyungging senyum? Teman yang setiap saat selalu membawa aura positif. Teman yang tidak pernah membagi beban, namum membagi kebahagiaan. "Jangan sepelekan kebaikan sekecil apa pun, meski hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri." (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Bagaimana, pals? Dari lima kriteria di atas sudahkah ada sahabat kalian yang memenuhi syarat? Tanya balik juga ke diri masing-masing, sudahkah kita memenuhi lima kriteria di atas? Semoga kita bisa menjadi sahabat dunia akhirat untuk sahabat-sahabat kita ya, nggak cuma jadi teman senang-senang di dunia. Aamiin. Btw, jangan lupa panggil namaku kelak di akhirat ya pals, kalau nggak ketemu aku di surgaNya biar kita bisa ngumpul dan bisa ngopi-ngopi bareng lagi :) #ngarep.com



Wassalammu'alaikum.



*Yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca. Hanya sebagai pengingat di saat waktu semakin sempit dan mendekat ke titik akhir. 





Sunday, July 9, 2017

NHW #6; Belajar Menjadi Manajer Keluarga yang Handal


Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, pals.

Akhirnya setelah libur cukup panjang, kini aku bisa meneruskan 'kuliahku' di kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional. Alhamdulillah, sekarang sudah masuk materi keenam yaitu tentang "Ibu Manajer Handal Keluarga."

Selama ini aku cenderung menjalani rutinitasku sebagai seorang ibu rumah tangga ya ngalir aja. Tapi setelah mendapat materi keenam di kelas matrikulasi ini, aku mulai menanyakan kembali peranku, sudah seprofesional apakah aku mengatur keluarga. Sekedar menjadi karyawan rumah tangga atau sudah bisa mencapai level manager? 

Aku mau sedikit cerita tentang materi keenam yang bikin aku njewer kuping sendiri berkali-kali. Semoga bermanfaat ya, pals.

Semua Ibu adalah Ibu Bekerja

Selama ini kita sering mengkotak-kotakkan peran wanita ke dalam dua hal; ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Ibu rumah tangga  mengacu untuk ibu yang bekerja di ranah domestik, sedangkan ibu bekerja mengacu pada para ibu yang bekerja di ranah publik. Debat panjang mempertentangkan antara lebih baik mana antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja pun seakan-akan tak pernah habis. Padahal mau jadi ibu rumah tangga ataupun jadi ibu bekerja, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik. Apapun yang kita pilih, entah itu memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik ataupun publik, cuma ada satu syarat yang sama, yaitu kita harus “SELESAI” dengan manajemen rumah tangga kita.

Maksudnya selesai? Tentu saja kita harus bisa merasakan segala aktivitas di rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga bagi yang memilih sebagai ibu bekerja di ranah domestik, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Begitu pula dengan ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik. 

Untuk mencari tahu apakah kita sudah selesai atau belum dengan manajemen rumah tangga kita, kita perlu jujur sama diri sendiri. Selama ini apa motivasi kita bekerja?

🍀Apakah masih ASAL KERJA, hanya untuk menggugurkan kewajiban? 
🍀Apakah didasari sebuah KOMPETISI sehingga selalu ingin bersaing dengan orang/ keluarga lain? 
🍀Apakah karena PANGGILAN HATI sehingga kita merasa ini bagian dari peran kita sebagai Khalifah? 

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga dan pekerjaan kita. 

🍀Kalau kita masih “ASAL KERJA” maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, kita akan menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan. 
🍀Kalau kita bekerja didasari “KOMPETISI”, maka yang terjadi kita akan stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses.
🍀Kalau kita bekerja karena “PANGGILAN HATI” , maka yang terjadi kita akan sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

So, kalian sudah sampai di titik mana, pals dalam bekerja entah itu di ranah domestik ataupun publik? Kalau aku, untuk urusan blogging dan tulis menulis, aku sudah mencapai "PANGGILAN HATI". Meski masih sering tidak konsisten, tapi untuk urusan ini aku sudah sangat menikmati. Tapi ketika bicara ranah domestik alias pekerjaan rumah tangga, jujur aku masih sering di level "ASAL KERJA." Masih sering memasak, membersihkan rumah ya sekedarnya untuk menuntaskan kewajiban, bukan untuk dinikmati. Alhamdulillah dengan ketemu materi keenam kelas matrikulasi ini aku kembali diingatkan untuk MENIKMATI semua peranku, tidak hanya di urusan tulis menulis, namun juga sebagai seorang ibu dan istri.

Be A Family Manager

Ngobrolin soal menikmati peran, peran seorang ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, dan bukan sekedar karyawan rumah tangga. Memang apa bedanya? Beda dong. Coba tuh kita lihat kalau di kantor-kantor, apa kerjaannya karyawan dan apa kerjaannya manager? Beda kan?

Manager itu lebih ke mengatur dan mengorganisasi pekerjaan agar lebih rapi, lebih cepat selesai dengan hasil yang lebih maksimal. Manager pastinya tidak selalu turun tangan, namun bisa mendelegasikan tugas ke karyawannya. Sedangkan karyawan jelas tugasnya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan manager. Intinya manager itu giving command, sedangkan karyawan doing the command.



Biar peran kita sebagai manajer keluarga lebih maksimal, sudah saatnya bersikap dan berpikir selayaknya seorang manager. Caranya?

🍀Hargai diri kita sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas kita sebagai manager keluarga. Yuph, meski mungkin pekerjaan kita di rumah hanya nyapu, ngepel, masak dan momong anak, ternyata memperhatikan penampilan itu perlu lo. Bahkan perbedaan pakaian bisa meningkatkan produktivitas dan menambah percaya diri. Iih, ribet kali masa mau ngepel pakai blazer. Ya, nggak gitu juga kali... Kalaupun memang daster adalah pilihan pakaian yang paling nyaman, pilih daster yang eye catching, yang warnanya masih segar dan nggak kusam, apalagi bolong-bolong. #SelfPlak... Suka aja melihara daster butut, soalnya semakin butut semakin adem dipakai, hehe. Lupakan pembenaran ini! Dan meskipun di rumah, sapukan bedak dan sedikit lipstick biar segar, suami dan anak juga pasti lebih senang lihatnya.
🍀Rencanakan segala aktivitas yang akan kita kerjakan baik di rumah maupun di ranah publik dan PATUHI rencana tersebut.
🍀Buatlah skala prioritas. Ini penting banget ya. Dalam sehari pasti ada aja yang harus dikerjakan, tapi kita wajib bikin skala prioritas biar kita bisa mengatur mana yang lebih penting untuk dikerjakan lebih dulu. Dengan skala prioritas ini, kita bisa jauh lebih teratur dan nggak grambyang habis ini mau apa, terus ngapain lagi dan seterusnya.
🍀Bangun komitmen dan konsistensi kita dalam menjalankannya. Yuph, istiqomah memang rajanya tantangan. Pernah baca di sebuah artikel parenting, kalau mau membiasakan diri dengan sesuatu yang baru, lakukan hal itu setidaknya selama 40 hari berturut-turut agar menjadi kebiasaan permanen. 

 Menaklukan Tantangan

Pastinya sebagai seorang ibu, mau itu yang bekerja di rumah maupun di tempat kerja /organisasi, kita akan selalu dihadapkan pada satu tantangan ke tantangan lainnya. Maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan, yaitu;

a. PUT FIRST THINGS FIRST 
Letakkan sesuatu yang utama dan terpenting menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. So, buatlah perencanaan sesuai skala prioritas kita hari ini. Jangan lupa untuk mengaktifkan fitur gadget sebagai organizer dan reminder kegiatan kita sehari-hari. Gadgetnya udah smart kan? Jadi pakai juga dengan smart :)

b.ONE BITE AT A TIME  
Maksudnya lakukan pekerjaan setahap demi setahap, lakukan sekarang tanpa nanti dan pantang menunda, apalagi menumpuk pekerjaan. 

Nah ini... aku masih suka banget nih menunda pekerjaan. Misalnya, mau nulis, scrolling facebook dulu, eh ujung-ujungnya nggak jadi nulis malah bacain status orang melulu. Mau bersih-bersih rumah mumpung si Affan tidur, buka gadget nonton drakor, drakornya selesai Affan bangun, rumah masih kaya kapal pecah. Hmmm.... Jewer kuping sendiri.

c. DELEGATING 
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. 
Perlu kita ingat bahwa kita adalah manager, tentu saja bukan lantas menyerahkan begitu saja tugas kita ke orang lain, tapi kita harus buat panduannya, kita latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan kita. Latih-percayakan-kerjakan-ditingkatkan-latih lagi-percayakan lagi-ditingkatkan lagi, begitu seterusnya 
Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu,  usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir, karena ibu adalah guru utama dan pertama anak-anaknya. Kalau aku sih sejauh ini tidak sekedar mendelegasikan untuk urusan pendidikan anak-anak, namun lebih ke memilih mencari partner yang sesuai dengan visi misi keluargaku. 

Kembangkan Peranmu!

Gegara materi "Ibu Manajer Handal Keluarga", aku mulai mempertanyakan profesionalismeku sebagai seorang ibu. Aku menikah sudah sembilan tahun, itu artinya sudah melewati 10.000 jam terbang. Seharusnya aku sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan, tapi kok ya masih begini-begini saja? Ya, mau nggak mau kudu jujur, karena selama ini aku masih SEKEDAR MENJADI IBU. Ada yang mengalami hal sama sepertiku?



Buat yang berpengalaman sama denganku, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan nih ketika ingin meningkatkan kualitas diri agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

🍀Mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. 
 Maka kita perlu  meningkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi "manajer keuangan keluarga."
🍀Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Namun masih sekedar menggugurkan kewajiban saja - bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak, yang akhirnya membuat kita jenuh di dapur. 
Maka kita perlu cari ilmu tentang manajer gizi keluarga agar terjadi perubahan peran. 
🍀Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu-ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah. 
Sudah saatnya mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran diri kita menjadi “manajer pendidikan anak”. Anak-anakpun bisa semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal. 
🍀Evaluasi diri kita lalu temukan peran apalagi yang kita inginkan. Terus tingkatkan kemampuan diri dan jangan stuck di satu titik.  
Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun. Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi.  Meskipun kita sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.

A Step to Be A Professional Family Manager

Dengan berupaya menjadi seorang manajer keluarga yang handal bisa mempermudah kita untuk menemukan peran hidup kita dan semoga semakin mempermudah kita mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Sayangnya ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita merasa sibuk sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri. Maka, ikutilah tahapan-tahapan berikut ini biar kita bisa meraih tujuan menjadi manajer keluarga yang handal dan tidak terjebak dalam rutinitas yang tidak berkembang;

A. Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting!


Setelah melakukan observasi terhadap perjalanan hidupku selama ini, maka tiga aktivitas yang aku anggap paling penting yaitu;

  • Beribadah - Ini adalah aktivitas yang paling penting karena memang tujuan Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah kepadanya sebagaimana termaktub pada Al Quran Surat Adz Dzariyat: 56; “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”  Beribadah sebenarnya tidak hanya menyangkut sholat, puasa, zakat, haji, kegiatan-kegiatan sehari-hari kita pun bisa bernilai ibadah jika kita niatkan lillahita'ala. Maka sebenarnya beribadah bisa dilakukan setiap saat, tidak terbatas waktu.
  • Mengurus Keluarga (anak dan suami) - Sebagai seorang ibu, tentu saja prioritas utama setelah menyelesaikan kewajiban kepada Sang Pencipta adalah anak dan suami. Menurutku, yang termasuk dalam hal ini, meliputi menyediakan makanan sehat, menyiapkan pakaian yang layak, rumah yang nyaman dan teman ngobrol/ bermain yang asyik.
  • Mengurus Pekerjaan (blogging dan content writer) - Meski bukan kebutuhan pokok, namun aku merasa membutuhkan pekerjaan ini sebagai aktualisasi diri dan meningkatkan peranku di ranah publik. Berkecimpung di dunia tulis menulis juga menjadi me time yang asyik dan memberikan keseimbangan jiwa untukku.
Selain mengobservasi tiga aktivitas terpenting, aku juga menemukan tiga aktivitas yang paling tidak penting, sebagai berikut;
  • Pay Attention to Social Media too Much - Dengan alasan membunuh kebosanan aku scrolling FB dan instagram, namun seringkali akhirnya nggak bisa mengerem diri dan malah membuang banyak waktu untuk kepo status dan memberikan komen-komen yang tidak penting di jam-jam yang harusnya bisa efektif untuk berkarya atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
  • Chatting di WA Group untuk Hal-hal yang Tak Penting - Sebenarnya saat ini aku sudah sangat pilih-pilih group WA yang aku ikuti hanya yang membawa manfaat. Jika dirasa sebuah grup WA lebih banyak mudharatnya, aku akan minta ijin untuk keluar atau sekedar jadi silent reader. Namun kadang karena penasaran dengan isi chat yang terlihat seru, aku malah baca-baca dan keterusan ngobrol sampai membuang waktu yang harusnya bisa efektif untuk berkarya atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
  • Nonton Drama Korea Di Luar Jadwal yang Ditentukan - Well, drakor untukku tidak hanya sebagai hiburan, namun juga bisa menjadi sumber inspirasi. Aku pun termasuk pemilih. Aku akan nonton drama korea bukan karena pengen lihat oppa-oppa ganteng, tapi karena memang ceritanya yang menarik. Aku juga sebenarnya sudah memiliki jam-jam khusus untuk menonton drakor, dan memiliki syarat-syarat yang harus kuikuti agar bisa leluasa nonton drakor; kerjaan rumah beres, kerjaan menulis beres, dan anak-anak sudah tidur. Namun seringkali aku terkalahkan hawa nafsu karena penasaran dengan kelanjutan ceritanya. akhirnya bisa membuang waktu yang harusnya bisa efektif untuk berkarya atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Setelah membandingkan dan mengevaluasi diri, maka jujur waktuku selama ini masih fifty-fifty antara kegiatan paling penting dan tidak penting. Padahal kan seharusnya kegiatan yang paling penting harus memiliki porsi yang lebih besar. Getok kepala sendiri!
That's why, untuk bisa menjadikan tiga aktivitas penting memiliki porsi yang lebih besar di dalam keseharianku, maka aku harus bisa menjadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari, Dengan menjadikannya sebagai aktivitas dinamis, maka bisa memperbanyak jam terbang peran hidup diriku. Aku kudu rajin menengok NHW sebelumnya nih agar selaras mencapai tujuan.

B. Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time.


Misal kita sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00 - 06.00, maka patuhi waktu tersebut). Biar hari itu nggak berantakan dan bisa settle pada tempatnya, maka jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.

Sejak akhir ramadhan lalu, aku memberhentikan asisten rumah tanggaku dan memilih untuk mengerjakan pekerjaan rumah tanggaku sendiri dikarenakan ada beberapa pertimbangan. Karenanya aku harus semakin pintar mengatur waktu agar semua yang ingin aku kerjakan hari itu bisa terlaksana sesuai rencana.


Dari hasil observasi dan evaluasi diri, aku menyimpulkan bahwa waktu terbaik untuk melakukan pekerjaan rumah tangga adalah sebelum subuh tiba. Saat itu anak-anak belum bangun sehingga aku bisa fokus menyelesaikan pekerjaan. Kalaupun Affan sudah bangun, masih ada ayah di rumah yang bisa bergantian menemani doi main.

Sudah terbukti ketika aku belum menyelesaikan pekerjaan rumah tangga setelah Affan bangun dan ayah berangkat kerja, aku akan sangat kesulitan mengerjakannya karena Affan yang sekarang sudah tujuh bulan sedang aktif-aktifnya merangkak kesana-kemari dan membutuhkan pengawasan maksimal. Jam tidur Affan pun semakin berkurang. Bahkan kalaupun dia tidur, dia bisa merasakan kalau aku tinggal keluar kamar.

That's why aku memutuskan jam 03.00 - 06.00 sebagai jam cuci baju, memasak dan bersih-bersih rumah. Jadwal ini harus aku patuhi jika nggak mau hectic di siang hari. Jadi kalaupun Affan tidur dan bisa ditinggal beraktivitas lain, aku bisa fokus di pekerjaan content writer, blogging ataupun updating peran diri dengan membaca, liqo ataupun menyimak ceramah agama di channel-channel youtube. Aku juga bisa lebih santai dan nggak kemrungsung, sehingga tidak mudah marah ke anak-anak saat mereka melakukan hal yang bikin sensi gegara pekerjaan rumahku belum kelar.

C. Setelah tahap di atas selesai kita tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah dikerjakan. 


Berikut ini jadwal harian yang aku buat biar lebih teratur dan profesional sebagai seorang ibu.


Seperti yang sudah kujelaskan di bagian B, aku sudah menentukan fixed schedule  dari jam 03.00 - 06.00, di luar jam itu (jam 06.00 - 18.00) adalah jadwal dinamis. Selain fokus pada anak-anak, pada jam 6 pagi hingga jam 6 malam aku gunakan untuk memperbanyak jam terbang alias meningkatkan peran diri. Jam 6 malam hingga 9 malam saatnya menjalankan Program 1821 bareng anak dan suami, meski masih banyak bolongnya. Lalu setelah jam 9 malam, saat anak sudah tidur, aku biasanya melakukan pekerjaan rumah yang belum selesai, misalnya menyetrika pakaian atau menyiapkan yang akan dimasak esok hari.
Jadwal yang aku buat ini, akan aku amati selama satu minggu pertama, jika tidak terlaksana dengan baik, maka akan segera kurevisi. Namun jika bisa aku patuhi, aku berupaya untuk menjalankannya hingga tiga bulan ke depan agar menjadi kebiasaan baru untuk hidup yang lebih efektif dan profesional.

Jujur aku tidak ingin menjadi wonder woman atau super woman yang bisa menjalankan semuanya dalam satu waktu. Aku hanya wanita biasa yang juga punya capek, butuh me time dan kesempatan untuk aktualisasi diri di luar pekerjaan domestik. Untuk itu aku berusaha untuk melakukan upaya terbaikku dengan lebih disiplin menjalankan jadwal harian ini.

Meski begitu aku sadar sebagai seorang ibu tanpa asisten rumah tangga dan hanya aku yang paling tahu bagaimana kepribadian dan kondisi kejiwaanku, maka aku sekarang telah banyak menurunkan standar dan mengucapkan selamat tinggal pada Mrs. Perfectionist di dalam diri. Dulu saat awal nikah, aku selalu ingin rumah tampak bersih, kinclong, semua dikerjakan sendiri, kalau nggak sesuai rencana langsung uring-uringan.

Sekarang aku lebih woles, meski aku sudah punya fixed schedule yang harus aku patuhi, ketika aku punya deadline dan ternyata mengganggu fixed schedule-ku, maka aku tidak akan menjadikan hal itu sebagai sebuah permasalahan besar. Rumah tidak harus super kinclong, yang penting rapi dan nyaman. Rumah berantakan di jam-jam dinamis karena anak sedang aktif-aktifnya tidak perlu dipermasalahkan, yang penting saat waktunya istirahat anak-anak bisa diajak kerja sama merapikan dulu. Ketika ternyata bangun kesiangan dan nggak sempat masak hingga jam yang ditentukan, beli saja sayur matengan, yang penting anak-anak tetap terurus dan tidak terabaikan.

Alhamdulillah, suami adalah sosok laki-laki yang mau turun tangan dalam pekerjaan rumah tangga. Selain mau ikut momong bocah-bocah, biasanya urusan mengepel rumah dan menguras bak mandi adalah bagiannya. Ya, namanya juga anaknya berdua, rumahnya berdua.. kudu mau bekerja sama dong, hehe.

Well, inilah caraku belajar menjadi manajer keluarga yang handal. How about you, pals? Apa upaya terbaik kalian demi menjadi seorang manajer keluarga yang handal? Share yuk di kolom komentar, thanks for reading and see ya in the next posts!

Wassalammu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.