Tuesday, January 31, 2017

Berjuang NgASI bersama ASI Booster Tea



Ngomongin ASI memang nggak akan ada habisnya. Semua Ibu pastinya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Aku percaya semua ibu pasti inginnya memberikan ASI eksklusif buat baby-nya. Aku juga percaya semua ibu pasti jungkir balik berusaha segala cara biar baby-nya bisa dapat ASI.

Selain mudah dan murah, ASI kan nutrisinya komplit banget. Bahkan setiap hari nutrisi yang dikandungnya berubah sesuai dengan kebutuhan baby. Itu yang nggak bisa didapat dari susu formula merk apapun. Mau semahal apapun susu formulanya, tidak akan ada yang bisa menandingi nutrisi ASI.

Memberikan yang Terbaik untuk Buah Hati
Memberikan yang Terbaik untuk Buah Hati

Sayangnya tidak semua ibu beruntung bisa memiliki ASI yang super duper lancar dan berlimpah. Tanpa harus mengonsumsi macam-macam sayur mayor, ikan-ikanan atau segala booster, sudah bocor saja ASInya, bahkan mungkin sampai tumpah-tumpah dan basah sampai ke baju kalau tidak diberi breastpad. Ada ibu-ibu yang sudah minum booster segala merk dari yang harganya tiga puluh ribu sampai tiga ratus ribu, masih saja baby-nya teriak-teriak kelaparan dan berat badan baby naiknya cuma seuprit tiap bulannya. Dan sayangnya aku termasuk salah satu dari golongan ibu-ibu yang terakhir ini.

Meski begitu aku nggak mau menyerah, walau sampai hari ini aku masih dibantu dengan susu formula untuk baby Afan. Tapi aku tetap berusaha agar ASI yang keluar setiap harinya semakin banyak dan berkualitas. Di antara berbagai booster yang pernah kucoba, ASI Booster Tea (ABT) ini yang paling manjur bikin produksi ASI-ku tambah lancar.

ASI Booster Tea, pic Instagram @asiboostertea
ASI Booster Tea, pic Instagram @asiboostertea
Manfaat Asi Booster Tea
Manfaat Asi Booster Tea

Setelah Afan masuk perinatologi kedua kalinya, aku mulai merasa butuh booster ASI. Saban hari kerjaanku buka instagram dan Facebook cari penjual booster ASI. Ada beberapa merk booster yang aku beli namun belum kudapat hasil yang maksimal. Hingga kemudian aku menemukan ABT, aku berencana untuk segera membelinya di salah satu online shop. Alhamdulillah, belum sempat beli, Mbak Evi, salah seorang teman suamiku mengirimiku pesan di whatsapp kalau dia punya stok ABT yang baru dipakai sekali. Suami disuruh ngambil di kantor mbak Evi. Kalau sudah rejeki memang nggak kemana ya.

Setelah ABT ada di tangan, aku segera cari tahu kandungannya. Ternyata di dalam ABT, ada banyak kandungan herbal yang dipercaya bisa meningkatkan produksi ASI hingga 900% dalam waktu 24 jam. Meskipun namanya ada kata “tea”, sebenarnya ASI Booster Tea tidak mengandung daun teh sama sekali.  Suplemen penambah ASI yang sudah banyak dikonsumsi oleh jutaan ibu di Indonesia ini terbuat dari bahan alami (herbal) dengan komposisi sebagai berikut fenugreek seed, fenugreek powder, fennel seeds, fennel powder, ANISE, cinnam venum, alpinia powder, dan habbatussauda. Bentuknya kaya bulir-bulir gandum gitu, baunya juga enak dan seger kaya jamu tapi rasanya nggak pahit.

ABT, pic by instagram @asiboostertea
ABT, pic by instagram @asiboostertea

Cara buatnya pun mudah banget kok. Siapkan air di panci kecil sebanyak 600-700 milimeter. Lalu ambil satu sampai dua sendok makan ABT dan rebus dengan api sedang selama kurang lebih lima menit, atau sampai airnya menjadi kecoklatan. Setelah siap, siapkan rebusan ABT tersebut di dalam beberapa gelas, biasanya bisa jadi dua sampai tiga gelas belimbing. Oya jangan lupa disaring ya biar bulir-bulirnya nggak ikut keminum. Kalau aku karena suka minum jamu, minum ABT langsung glegek aja tanpa tambahan apapun, seger menurutku. Tapi kalau teman-teman kurang suka dengan baunya atau kurang suka bau-bau herbal atau jamu-jamuan, saat minum ABT bisa ditambah dengan krimer, madu atau dicampurkan ke susu dan jus. Lihat video di bawah ini untuk lebih jelasnya.


Minum rutin dua atau tiga kali dalam sehari untuk hasil yang lebih maksimal ya, pals. Kalau aku biasanya minum dua kali; setiap pagi dan sore. Aku buatnya setiap pagi sebelum sarapan, satu gelas aku minum langsung, satu gelas aku simpan di kulkas untuk kuminum sore hari. Aku lebih suka kalau disajikan dingin, jadi kalau sore lebih semangat minumnya daripada saat pagi hari.

Sebelum minum ABT, tiap kali pumping dapat 30 ml aja udah Alhamdulillah banget. Setelah minum ABT, alhamdulilah bisa dapat 80 ml sekali pumping. Sebelum minum ABT nggak pernah denger suara baby Afan glegek-glegek tiap kali nenen, setelah konsumsi ABT senengnya bisa denger baby Afan glegek-glegek dan bersendawa setelah nenen.

Hasil pumping setelah minum ABT
Hasil pumping setelah minum ABT

Oya, agar ASI berkualitas, sembari minum ABT jangan lupa tetap memperhatikan asupan nutrisi ya, moms. Jaga makan, jaga minum, dan jaga gaya hidup. Yang paling penting lagi jaga pikiran kita agar tidak stress dan tertekan, karena itu sangat berpengaruh dalam produksi ASI kita. Berikan ASI secara langsung kepada baby tiap dua jam sekali atau jika moms bekerja, maka lakukan pumping dua-tiga jam sekali. 

Bisa juga melakukan power pumping untuk mendongkrak produksi ASI agar lebih banyak. Caranya 20 menit pumping, 10 menit istirahat, lalu 10 menit pumping lagi, 10 menit istirahat, lanjut pumping lagi 10 menit. Lakukan dua hingga tiga kali dalam sehari.

Cara Power Pumping
Cara Power Pumping
Buat ibu-ibu yang mengalami nasib yang sama denganku; ASI seret dan tidak melimpah, coba saja ASI Booster Tea. Selamat menyusui dengan bahagia dan keras kepala, ibu-ibu di seluruh dunia. Doakan aku bisa stop sufor segera dan bisa kembali full ASI buat Afan ya. Sampai jumpa di postingan berikutnya, pals. Thanks for visiting and reading.



Friday, January 27, 2017

Tak Akan Pernah Terulang




Pernah dengar lagu ini, pals?

Seems like it was yesterday when I saw your faceYou told me how proud you were but I walked awayIf only I knew what I know todayooh,ooh

I would hold you in my armsI would take the pain awayThank you for all you've done,Forgive all your mistakesThere's nothing I wouln't doTo hear your voice againSometimes I want to call you but I know you won't be thereooh,ooh

I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't doAnd I hurt myself by hurting you

Somedays I feel broke inside but I won't admitSometimes I just want to hide 'cause it's you I missYou know it's so hard to say goodbye when it comes to this

Would you tell me I was wrong?Would you help me understand?Are you looking down upon me?Are you proud of who I am?There's nothing I want to doTo have just one more chanceTo look into your eyes and see you looking back

I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't doAnd I've hurt myself

If I had just one more day, I would tell you how much thatI've missed you since you've been away

Oh, it's dangerousIt's so I'm afraid to try to turn back time

I'm sorry for blaming you for everything I just couldn't doAnd I've hurt myself
By hurting you
Nggak asyik kalau nggak sambil dengerin lagunya, cekidot di video ini.


Ya, ini lagu dari Christina Aguilera, judulnya Hurt. One of my favorite songs. Lagu ini cocok banget buat jadi musik pengiring untuk tema dari postingan terakhir #10DaysKF; sesuatu yang aku janji tidak akan mengulanginya lagi.
***
I'm sorry for blaming you for everything i just couldn't do.
Aku selalu menyalahkanmu untuk setiap kesialan yang aku hadapi dalam hidup. Selalu saja berputar pada andai begini, andai begitu. 
Aku juga selalu menyalahkanmu untuk setiap hal buruk yang aku lakukan. Mengkambinghitamkan dirimu untuk segala hal buruk yang kuperbuat. Ini semua karenamu, kalau kamu begini aku nggak akan begitu.
Aku bahkan pernah merasa malu ada darahmu mengalir dalam tubuhku. Darah yang mewarisi hal-hal buruk yang tak kuiinginkan.
Aah, bebalnya aku.
Baca juga: Surat Sunyi untuk Ayah

Aku bahkan selalu bertanya apa pernah sedetik saja kau pernah menyayangiku. Padahal tanpa aku harus bertanya aku sudah mampu menjawabnya. Namun aku sengaja membutakan mata. Sengaja tak melihat betapa berbinar matamu melihatku kala kusematkan kebanggan padamu.

Hampir seumur hidup aku mengutuk semua perilakumu dan itu artinya hampir seumur hidup kuhabiskan dalam sumpah serapah, juga dendam yang membawa rindu. 

Sikap ini yang kemudian terus bertumbuh tanpa ujung. Aku menjadi orang yang terlalu mudah marah. Dan ketika keadaan tak terkendali, aku lemparkan kesalahan pada orang-orang di sekelilingku. Entah itu kamu, satu-satunya adikku, atau ibu. Bahkan dia, lelaki yang senantiasa membawakan bunga nan harum dalam hidupku pun menjadi korban ketakberdayaanku untuk hengkang dari jebakan masa lalu.
Baca juga: Senja Sang Bidadari Sunyi


Berulangkali aku mencoba keluar, berulangkali pula aku terperangkap. Masa lalu itu bagaikan monster yang siap menerkamku kapan saja. Membuatku menjadi orang linglung yang seakan tak punya iman. Sedang aku tahu sebenar-benarnya bahwa biarkan saja masa lalu menjadi spion, ditengok seperlunya. Namun begitulah, aku selalu terjerembab pada kesalahan-kesalahan yang sama, yang ujungnya hanya karena ketakutanku pada masa lalu.
Kini ketika aku benar-benar menjelma menjadi sunyi. Ketika tak ada lagi dirimu, tak ada lagi adik, juga ibu. Betapa aku paham, aku telah melakukan kebodohan-kebodohan besar. Meniadakan kalian demi keegoisanku. Dan kini aku hanya mampu merindu. Berapa kalipun kupanggil namamu, adik ataupun ibu, kalian tak akan pernah kembali. Kalian telah begitu damai di sisinya. Dan aku? Masihkah aku harus bergumul dengan dendam-dendamku di masa lalu?

Tak akan pernah habis jika kuikuti hawa nafsu. Kupotong-potong dia yang menghancurkan hidup kita pun, masa lalu itu akan tetap retak dan seperti itu adanya. Lantas apa aku harus tetap seperti ini? Blaming others for everything i just couldn't do? Tidak! Aku harus bangkit. Demi belahan-belahan jantungku, anak-anak yang kucintai, juga dia lelaki yang begitu setia menanti senja bersamaku, dan tentu saja demi diriku sendiri. Semakin lama aku menyalahkan masa lalu, semakin aku terperosok pada jurang tanpa batas dan terluka lebih dalam.



Maka, aku berjanji tak akan lagi menengok luka-luka itu. Luka-luka yang hadir pada kelamnya masa lalu. Biarlah menjadi kisah sedihku. Bukankah tanpa kisah-kisah itu aku juga tak akan sekuat hari ini? 
Maka, aku juga berjanji untuk tak lagi menyalahkanmu atas segala hal buruk yang telah terjadi juga atas perilaku-perilaku buruk yang pernah aku perbuat. Semua murni karena kebodohan, keegoisan dan kebebalanku. Sungguh aku harus bertanggungjawab atas semuanya sendiri dan tidak menudingmu lagi.
Maka, aku pun berjanji untuk tidak dengan mudah menjadi pribadi yang menyalahkan orang lain untuk langkah yang mungkin salah aku ambil dalam kehidupanku. Karena aku kini telah menyadari semakin aku menyalahkan orang lain dan membuat mereka terluka, saat itulah aku juga menyakiti diriku sendiri.
Maka, aku berjanji pula untuk memaafkan mereka yang pernah merajam hatiku dengan luka, entah itu engkau atau siapapun itu. Juga aku harus mampu memaafkan diri sendiri untuk segala kebodohan yang pernah aku buat demi hidup yang lebih bahagia.
Baca juga: B-A-P-A-K


***
Alhamdulillah, akhirnya kelar juga tantangan menulis selama 10 hari dari #10DaysKF. Semoga setelah ini, meskipun tidak ada tantangan tersebut, aku tetap rajin posting biar blog ini nggak berdebu ya. Terima kasih sudah berkunjung dan menengok-nengok halaman istanaku, sampai jumpa di postingan berikutnya, pals!






Thursday, January 26, 2017

Sebuah Catatan untuk Anak-anakku




Wuih, sudah hari kesembilan, tinggal sehari saja nih #10DaysKF - nya. Nggak kerasa bisa juga menyelesaikan tantangan menulis dari Kampus Fiksi ini. Hari ini semua peserta ditantang untuk menulis surat untuk seseorang. 

Ngomongin soal surat, aku jadi ingat kalau aku punya surat yang kutulis untuk ibu namun tak pernah sanggup kuberikan pada beliau. Yang sudah baca postinganku "Ketika TV di Rumah Tak Lagi Menyala" pasti tahu kalau akhirnya surat itu kubacakan semalam sebelum beliau wafat. Aku juga pernah menulis surat untuk bapak, apalagi untuk suami... berkali-kali. Buatku, surat masih alat yang efektif untuk menyampaikan maksud hati.

Kali ini aku ingin menulis surat untuk belahan jantungku; anak-anakku.



***

Apa kabar hari ini, anak-anakku?

Saat kalian bisa membaca catatan kecil dari bunda ini pasti tubuh kalian sudah tinggi dan besar. Kalian juga pasti sudah bisa melakukan hal-hal secara mandiri. Bahkan mungkin sudah tak lagi membutuhkan pertolongan bunda. Bisa jadi saat kalian membaca ini, bunda sudah tidak lagi di sisi kalian. Soal umur, siapa yang tahu kan, nak?

Anak-anakku...
Maafkan bunda karena mereka bilang aku tak pantas dianggap seorang ibu, aku belum sepenuhnya menjadi wanita karena telah melahirkan kalian dengan cara yang tak seharusnya. Pengen gampang dan cepatnya saja. Bunda tak bisa berkata dan membela diri, nak. Kalian hanya perlu melihat bekas sayatan dan jahitan yang ada di perut bunda, dan berikanlah penilaianmu sendiri. Apapun itu, mau bunda lahirkan kalian dari mana dan cara seperti apa, kalian tetap anak-anak bunda yang selalu bunda cintai jauh sebelum bunda bisa menggendong tubuh mungil kalian.



Anak-anakku...
Maafkan bunda jika mereka bilang aku tak mengasihi kalian karena tak bisa memberikan ASI eksklusif, karena harus ada susu formula yang bunda berikan lewat botol. Mereka bilang bunda pemalas dan tak mau berusaha. Dan lagi-lagi bunda tak akan membela diri, nilai saja sendiri apakah yang bunda lakukan ini kesalahan atau bukan. Sungguh, nak... cinta bunda melebihi dari air susu yang tumpah untuk kalian. 

Anak-anakku...
Bunda memang bukan ibu yang sempurna. Bunda bukan ibu yang tidak pernah marah, bukan pula ibu yang selalu bisa memasakkan kalian makanan-makanan lezat. Tapi kalian perlu tahu, bunda ingin selalu menjadi tempat berlari dan kembali bagi kalian ketika terjatuh atau ada lubang di hati. Mungkin bunda tak bisa memberikan kata-kata indah yang menenangkan, tapi bunda punya pelukan yang akan membuat kalian tahu bahwa bunda selalu ada di setiap langkah kalian.



Anak-anakku...
Maafkan jika bunda tak bisa membuat kalian bangga karena hanya bergelar seadanya, berpakaian sederhana, tidak pernah pergi kemana-mana. Namun kalian harus tahu, bunda ingin selalu menjadi orang yang pertama kali kalian lihat ketika membuka mata, orang yang pertama kali mendengar segala kisah bahagia maupun duka, orang yang pertama melihat apa-apa saja yang sebelumnya  kalian belum bisa.

Anak-anakku...
Jadilah kalian apa saja yang kalian inginkan. Bunda bebaskan kalian menentukan pilihan. Hanya saja bunda ingin jangan pernah kau gadaikan keimanan di dadamu untuk dunia yang fana ini. Pegang teguh iman dan islam, nak. Kenalilah Rabb-mu, dan nabi-nabimu. Bukalah kitabmu dan jangan sekedar membacanya, pahami dan amalkanlah nak. Jadilah sebaik-baiknya umat untuk Rabb-mu, dan jadilah sebaik-baiknya manusia untuk sesama. 



Anak-anakku...
Bunda tak akan selamanya ada di sisi kalian, namun selama kalian bisa tumbuh bersama orang-orang yang senantiasa mengajak kalian pada kebaikan dan kebenaran, maka bunda  tak akan takut. Berkawanlah dengan sesiapa saja, berbuat baiklah pada sesiapa saja, namun pilihlah sahabat-sahabat terbaik yang akan membuat kalian kecipratan harumnya.

Anak-anakku..
Mungkin wejangan ini akan terdengar membosankan, lalu hanya masuk kuping kanan lalu keluar ke kuping kiri. Namun begitulah seorang ibu, nak. Jika kelak bunda tak bisa lagi membersamai kalian, semoga doa-doa bunda akan selalu menjaga kalian.


Mencintaimu Jauh sebelum ku lihat
Wajahmu Wajahmu

Menyayangimu Semenjak jarimu masih
Bersatu Bersatu


Tumbuh yang sesungguhnya
Sayang yang sebenarnya


Senyummu senyumku
Sedihmu sedihku ooo

Dunia Ramahlah Padanya
Belahan jantungku

(Andien)




Dari bunda yang tak pernah berhenti mencintai kalian.

***
Hiks, kenapa tetiba jadi mellow. Ciumin anak satu per satu. Sampai jumpa di lain postingan #10DaysKF, pals. Thanks for visiting and reading. 







Wednesday, January 25, 2017

5 Fakta dan Opini tentang Marita




Sudah sampai hari kedelapan #10DaysKF nih. Meski tertatih-tatih dan seringnya mepet deadline, akhirnya bisa juga tetap ngikutin tantangan menulis dari Kampus Fiksi. Tema hari ini tentang 5 fakta yang bertentangan dengan opini orang lain tentang diriku. Hmm, apa ya? Mau tahu aja apa mau tahu banget, hehe. Cekidot.

1.
Opini: Marita itu orangnya super percaya diri.
Fakta: Aslinya aku tuh orangnya nggak pede-an. Kalau orang lihat aku begitu pede ngomong di depan umum, pentas teater atau baca puisi di depan banyak orang, aslinya aku seringkali demam panggung. Tapi alah karena biasa, lama-lama karena sudah biasa ya orang lihat kayanya pede-pede saja. 

2.
Opini: Marita itu jutek dan tegas
Fakta: Hihi, banyak teman-temanku yang terkecoh dan bilang "pas pertama kali lihat kamu, kirain orangnya jutek, galak, nyebelin, jebule sama saja bocornya." Wkwkwk, maafkan kalau casing-ku seperti ini aslinya aku baik kok :D. Kalau soal tegas sih kadang-kadang, lebih sering nggak tegaan sebenarnya.


3.
Opini: Marita itu istri yang galak dan mandiri
Fakta: Lumayan lah kalau soal galak, hehe, tapi aslinya aku super duper manja sama suami, hehe. Kalau nggak percaya tanya saja sama yang bersangkutan. Paling nggak bisa jauh-jauhan dan ditinggal lama sama doi.

4.
Opini: Ekstrovert, gampang bergaul
Fakta: Aslinya aku paling nggak bisa memulai pembicaraan dengan orang baru, kalau nggak diajak ngomong duluan aku bakal diam aja karena bingung gimana memulai pembicaraan. Dan sebenarnya aku tipe introvert banget, lebih suka sendirian. Meski sekarang sudah banyak berubah sedikit demi sedikit sih.

5.
Opini: Marita itu berani, kuat dan tangguh
Fakta: Banyak yang tanya kok aku mau operasi sesar datar-datar saja reaksinya. Ya, mau gimana lagi. Kalau memang itu harus dilakukan ya harus diterima demi kebaikan semuanya. Padahal sebenarnya aku tuh takut banget sama jarum, takut disuntik, takut dipasang infus, takut dipasang kateter. Hihi. Tangguh dan kuat? Aslinya aku rapuh dan cengeng banget, dikit-dikit nangis, cuma suka mumpet aja nangisnya jadi nggak pada tahu :D.

Kalau kamu ada nggak fakta dirimu yang bertentangan dengan opini orang lain tentangmu? Bagi-bagi ceritanya dong di sini. Sampai jumpa lagi, pals!

Tuesday, January 24, 2017

Karena Hidup itu Bertumbuh




Jumpa lagi di postingan ketujuh #10DaysKF. Kali ini ditantang untuk menuliskan sesuatu yang ketika aku membacanya seketika juga aku merasa kuat.

***

Kau yang paling tahu
remahan waktu tidak senantiasa memihak padamu
bukan hanya tawa yang disuguhkan
tak jarang air mata terpaksa diteteskan

Tapi kau juga yang paling tahu
di balik tiap air mata yang kau teteskan
selalu ada senyuman di belakangnya
inna ma'al usri yusra
sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan



Kau yang paling tahu
sunyi pernah menjadi nama tengahmu
bahkan saat kau hinggap pada keramaian
sepi masih tergenggam erat dalam sanubari
hingga ketika kau sadar
hangat itu ada bersama mereka
yang kau sebut keluarga

Kau yang paling tahu
ada kalanya terlambat menyadari sesuatu
ada kalanya hal terpenting baru disadari di akhir cerita
saat itu lah sunyi kembali menjadi nama tengahmu
saat mereka yang darahnya mengalir juga di darahmu
satu per satu meninggalkan jejak rindu

Tapi kau juga yang paling tahu
air mata sudah tak sepantasnya tumpah terlalu lama
karena mereka berpulang pada keabadian yang indah
dan kau masih harus bergelut pada hidup
bersama mereka yang darahmu mengalir di nadinya

Kau yang paling tahu
hidup itu bertumbuh
maka usahlah melingkari hari dengan sesal juga tangis
merekahlah seperti bunga
mewangilah seperti bunga
tebarkanlah manfaat untuk sesama

Kau yang paling tahu
apa alasan Tuhan mengirimkanmu
turun ke dunia
untuk tumbuh kuat dan tidak menyerah
karena sungguh di balik kesulitan selalu ada kemudahan


***

Sudah lama nggak puisi-puisinan nih, tapi sedari dulu aku memang suka menulis puisi saat lagi galau. Puisi bisa jadi penguat saat mood sedang tidak stabil, selain nonton drama korea tentunya, hehe. Oke deh, sampai jumpa di postingan #10DaysKF selanjutnya ya, pals!




Monday, January 23, 2017

Ketika yang Besar dianggap Remeh Temeh




Hi, pals. Masih di #10DaysKF nih. Kali ini temanya tentang hal yang aku banggakan tapi orang lain menganggapnya remeh temeh. Walah, tambah susah saja nih temanya. Finally, aku mau cerita tentang jatuh bangunnya aku bersama teman-teman Komunitas Yukjos (Yuk-Jadi Orang Tua Sholih) Semarang Chapter dalam menyiarkan pentingnya belajar parenting kepada masyarakat. 

Bergabung menjadi bagian dari orang-orang tua muda yang melek parenting buat aku sesuatu yang membanggakan, bukan membanggakan karena aku jadi sok tahu atau sok pinter. Tapi dengan bergabung bersama mereka, aku merasa tidak sendirian dalam belajar. Jadi ketika semangat belajar sedang turun, ada sahabat-sahabat yang support aku untuk kembali semangat.


Bersama mereka, kami mulai menyusun beberapa agenda rutin, seperti pembagian Auladi Bag untuk ibu-ibu yang habis melahirkan, khususnya yang tidak mampu, YukJos RT to RT, YukJos goes to school, dsb. Awalnya memang agenda kami hanya berkutat dari member untuk member, namun kemudian kami ingin berbagi lebih ke masyarakat luas, agar lebih banyak yang sadar pentingnya belajar parenting. Karena jaman sekarang beda dengan jaman waktu kita kecil dulu, tantangan dan musuhnya semakin banyak; tidak hanya  televisi, tapi ada juga gadget, internet dan sosial media. Kalau bekal ilmu nggak kuat, entah apa jadinya anak-anak kita.

Berawal dari semangat YukJos itu, aku juga mulai berbagi ke tetanggaku terutama ketika arisan PKK. Kebetulan dulu aku diamanahi untuk menjadi seksi pokja 2 yang bergerak di bidang pendidikan. Setiap pertemuan PKK, aku bagikan beberapa informasi yang aku tahu mengenai pentingnya belajar parenting, bahaya gadget, menggalakkan 1821, pendidikan seks sejak dini, dan sebagainya. Memang masih sedikit yang aku tahu, di luar sana pasti banyak yang lebih tahu, tapi bukankah sampaikanlah walau satu ayat?

Hmm, namun tahu rasanya ketika kita ngomong di depan orang banyak dan lebih banyak yang tak mendengar. Ya, dibanding ibu-ibu yang lain, aku memang jauh lebih muda. Yang lain anaknya sudah dua, tiga atau empat. Sementara aku anaknya baru satu, masih balita pula. Begitulah senioritas. Betapa jumlah anak masih menjadi patokan bahwa mereka jauh lebih tahu. Namun kenyataannya tidak juga. Nyatanya masih banyak anak-anak remaja yang saat kumpul asyik dengan gadget masing-masing, anak-anak usia sekolah yang berkeliaran tanpa tahu waktu, atau anak-anak balita yang dibiarkan hanya berpakaian dalam keliaran di jalan. Miris. 


Ya, mereka menganggap yang aku sampaikan hanya teori tanpa praktek belaka. Parenting itu makanan apa. Bahkan saat aku mengajak mereka untuk ikut datang ke sebuah seminar parenting, tanggapannya cukup menggelikan, "sudah bu Martin saja yang datang, nanti kita bayarin terus di share di sini ilmunya." Gedubrak. Aku share acara itu bukan minta dibayarin. Saat aku share ilmunya, toh nggak didengerin.

Akhirnya, sejak saat itu aku tidak lagi membagikan informasi parenting di arisan PKK. Selain karena aku sudah tidak lagi diamanahi menjadi seksi pokja pendidikan, aku juga merasa tidak nyaman. Aku  lebih senang berbagi di luar wilayah tempat tinggalku atau pada orangtua murid PAUD tempat aku mengajar. Pernah aku mengisi sesi parenting di arisan PKK pada wilayah RT lain, tanggapan dan responnya lebih menyenangkan. Selain itu aku juga lebih suka berbagi informasi parenting di sosial media.

Seringkali kita malas belajar parenting karena merasa anak-anak kita baik-baik saja. Tapi apa kita harus menunggu anak bermasalah baru belajar? Sebagaimana menghadapi ujian, bukankah hasilnya akan lebih baik ketika kita belajar jauh-jauh hari dibandingkan belajar sistem kebut semalam? Belajar parenting memang tidak akan mengubah seketika yang tidak sabaran langsung jadi sabaran, yang tadinya suka marah-marah langsung nggak marah-marah, tapi setidaknya kita jadi tahu mana yang salah dan benar menghadapi anak-anak jaman sekarang. Bukankah kita harus mendidik anak-anak kita sesuai jamannya to?


Wokay lah, begitu deh curcolanku tentang apa yang di mataku sesuatu yang besar, namun bagi orang lain ini remeh temeh. Anyway, selalu ada bedanya orang yang mau belajar dan tidak. Sebuah pesan dari mentor parenting yang selalu menancap di sanubariku, "ketika manusia berhenti belajar, maka hidupnya seketika berhenti." Yuk, saling mengingatkan dalam kebaikan.

Sampai jumpa di postingan #10DaysKF berikutnya ya, pals!




Sunday, January 22, 2017

Tiga Film, Tiga Cerita, Tiga Kesan



Hi, pals. Jumpa lagi dengan postingan #10DaysKF. Alhamdulillah hari ini masuk hari kelima. Kali ini temanya tentang 3 film paling berkesan yang pernah aku tonton dan apa alasannya. Hmm, bingung juga ya kalau disuruh milih tiga film saja, tapi oke deh setelah melalui proses perenungan dan semedi yang panjang, akhirnya bisa juga menentukan tiga film tersebut.

Kebetulan aku kurang suka west movie, dan jarang banget nonton film barat di bioskop. Apalagi di jaman internet kaya begini, ada banyak web nonton film streamingan, tinggal pilih mau nonton apa, hehe. Agak idealis sih, tapi aku ke bioskop hanya untuk nonton film dalam negeri. Ya itung-itung menunjukkan rasa cinta tanah airku plus mendukung perfilman negeri sendiri lah.

Ada beberapa teman yang bertanya "emang nggak rugi bayar bioskop mahal-mahal cuma buat nonton film Indonesia? Film Indonesia kan paling begitu-begitu aja, belum lagi ntar nggak lama juga dimainkan di TV." Nope, aku justru berasa rugi kalau bayar bioskop buat nonton film barat, hihi. Lagian nggak semua film Indonesia kualitasnya jempol ke bawah kok. Sekarang udah banyak sineas-sineas muda yang jempolan ke atas. Terus masalah nggak lama juga nanti ditayangkan di TV, nonton di TV dan bioskop kan rasanya beda ya. Belum lagi iklannya yang bujubuneng, dan banyak potongan-potongan yang nggak pas di sana-sini. Lagian TV di rumahku sudah lama nggak nyala tuh, hehe.

Nah di antara beberapa judul film yang pernah kutonton, inilah 3 film paling berkesan yang pernah aku tonton:



Pertama, tetep lah ya anak gaul tahun 2000an, apalagi kalau bukan "Ada Apa dengan Cinta?" Kisah kasih antara Rangga dan Cinta, serta persahabatan antara Cinta, Mili, Alya, Karmen dan Maura telah membekas sangat dalam dan lama di dalam hatiku. Film itu sangat berkesan di hatiku karena saat itu aku nonton pas di hari ulang tahunku yang ke-17 bareng dua sahabatku, Yeti dan Nilla, juga bulikku serta sepupuku. Qodarullah film itu kutonton saat masa-masa lowest point-ku. Ibu mulai sakit, hubungan bapak dan ibu semakin buruk karena hadirnya orang ketiga, aku ditinggal sendiri di Salatiga sementara Ibu tinggal di Semarang. Pas banget sama kondisi Alya yang di film itu diceritakan tertekan dengan ayahnya yang suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Selain kisah Alya, yang bikin aku suka sama film ini adalah puisi-puisinya. Aku dari SD sudah suka banget sama puisi dan nonton AADC bikin aku tambah suka sama puisi.



Film kedua yang paling berkesan untukku adalah Habibie & Ainun. Kalau nggak salah aku nontonnya tanggal 1 Februari 2013. Kenapa berkesan? Karena seminggu setelah aku nonton film ini, adik kandungku satu-satunya meninggal dunia. Dia suka banget sama soundtrack film itu yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari. Lagu yang menyiratkan tentang cinta sejati antara dua insan manusia yang tidak akan lekang oleh waktu dan perbedaan alam itu seakan memberi pertanda kepergiannya.



Bahkan postingan adik di Facebook sebelum dia meninggal ya lirik lagu ini. Selain karena itu, di film ini aku juga terkesima dengan totalitas akting Reza Rahadian. Tanpa Reza di film itu, aku rasa filmnya akan sangat membosankan. Sejak saat itu juga aku jadi ngefans sama doi.



Ketiga, Bulan Terbelah di Langit Amerika. Aku agak lupa nih nontonnya kapan. Kalau nggak salah sih tahun 2015, aku nonton bareng suami dan anakku. Selain karena suka sama Hanum Rais dan akting para pemainnya. Berkesan banget sama film ini karena tema yang diangkat dalem. Membuat aku tertampar. "Sudahkah aku menjadi agen islam yang baik?" Meski beda dengan kronologi yang di novelnya, tapi filmnya tetap utuh dan menarik. Bahkan bisa berdiri sendiri tanpa terbayang-bayang dengan novelnya.

Nah, kalau itu tiga film paling berkesan yang pernah aku tonton, kalau kamu apa? Sampai jumpa di postingan #10DaysKF berikutnya ya!