Saturday, September 16, 2017

Barang Elektronik yang Kerap Jadi Alasan Tagihan Listrik Membengkak




Pals, apa kabar? Kali ini aku mau sedikit curcol soal listrik. Sebagai pengguna listrik berdaya 900 watt yang kini subsidinya dicabut, meringis banget lo waktu lihat tagihan yang dulunya selalu di bawah 100 ribu sekarang jadi dua kali lipatnya. Nyesek banget lah. Tapi mau nggak pakai listrik juga nggak mungkin, tahu sendiri kan kalau listrik merupakan salah satu kebutuhan dalam hidup yang tidak bisa ditawar lagi. Hampir semua aspek kehidupan kita sekarang ini membutuhkan listrik. Sebagai pengguna listrik kita ini juga harus paham jika untuk menggunakan listrik, maka ada harga yang harus dibayar. Btw, kalian pernah nggak mengalami tagihan di bulan ini dan di bulan lalu berbeda? Nah, sejak tarif pemakaian listrik di rumah naik drastis, aku yang dulunya selow soal pemakaian barang elektronik, sekarang jadi lebih aware. Dalam sebulan ini aku berusaha banget memantau penggunaan benda-benda elektronik di rumah, dan alhamdulillah tagihan bulan ini turun lo dibanding bulan sebulannya.

Dari penelitian kecil-kecilanku, aku menyimpulkan meski tidak merasa memforsir listrik, tagihan bisa membengkak. Alasannya bisa jadi karena ada barang elektronik yang berdaya tinggi terpasang dengan manis di rumah kita. Nah, barang-barang ini wajib banget diwaspadai penggunaannya.

Apa saja sih perangkat elektronik yang berdaya tinggi itu? Berikut ini ulasannya:


1.    Lampu

Lampu sudah menjadi kebutuhan utama karena bisa menyinari rumah kita saat gelap. Kalau di rumah kalian masih menggunakan lampu neon atau lampu pijar, maka sekarang harus mulai mempertimbangkan untuk mengganti lampu tersebut dengan jenis lampu LED. Meskipun lampu pijar terlihat kecil namun ternyata justru memberikan beban yang banyak ke listrik, apalagi jika kita menyalakannya dalam waktu lama. Aku sudah membuktikan lo. Sebulan ini aku sudah mengganti lampu pijar di beberapa titik rumah menggunakan LED, dan Alhamdulillah tagihan listrikku bisa turun. So, yang pengen tagihan listriknya turun, coba atur kembali penggunaan jenis lampu di rumahnya.


2.    Rice cooker

Menanak nasi menggunakan alat elektronik ajaib rice cooker memang menyenangkan. Tinggal pencet tombol, tunggu sekitar satu jam… taraa nasi yang dibutuhkan pun sudah tersedia. Namun kabar buruknya, rice cooker ini ternyata juga mampu memberikan beban tinggi kepada listrik kita. Untuk meminimalisir penggunaannya, kita bisa menghemat dengan memasak nasi menggunakan kompor lalu menghangatkan di dalam rice cooker. Gunakan rice cooker ketika mendesak saja.


3.    Setrika

Benda kecil ini ternyata juga punya andil besar dalam pembengkakan biaya listrik. Jika kita sering menyetrika sedikit demi sedikit dengan intensitas sering, maka jangan heran jika tagihan listrik menjadi meningkat. Jadwalkan  kegiatan menyetrika pakaian misalnya 2 kali seminggu sehingga tidak terlalu membebani tagihan listrik. Atau mau pakai cara ala #ibumalas sepertiku; setrika yang penting-penting saja, misal baju kerja suami dan seragam sekolah anak, yang lain mah dilipat rapi aja. Jangan lupa kalau beli baju, cari jenis yang nggak terlihat kusut meski tanpa disetrika, hehe. Cara lainnya kembali menggunakan setrika arang kaya jaman nenek moyang kita dulu, emang masih ada ye?


4.    Kulkas

Kulkas itu must have item banget ya di rumah, karena kita pasti butuh untuk menyimpan bahan makanan, apalagi yang nggak hobi belanja harian kaya aku. Kulkas jelas membantu banget untuk menyimpan bahan yang mau dimasak untuk tiga hingga enam hari ke depan. Tetapi demi melihat tagihan listrik ramping, aku berusaha untuk berhemat dan tidak selalu bergantung pada kulkas. Kalaupun memang nggak bisa lepas dari kulkas, maka kita nggak perlu mengatur suhu dinginnya terlalu ekstrim.


5.    AC

Sudah banyak yang tahu jika AC membebankan cukup banyak biaya listrik. Namun masih saja banyak pengguna yang menyepelekan dan bolak-balik menyalakan dan mematikan AC dengan sering. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi penggunaan listrik karena ketika dinyalakan pertama kali AC justru akan menarik daya yang besar. Nggak punya AC tapi tagihan listrik tetap aja gendut? Jangan-jangan kaya di rumahku, nggak ada AC tapi kipas angin lebih dari satu nyala seharian.

Itulah beberapa barang elektronik di rumah yang sering menjadi sebab naiknya tagihan listrik kita. Oya selain lima barang di atas, lupa mencabut charger ponsel atau laptop juga bisa mengakibatkan listrik menjadi semakin terbebani lo. Memang kedengarannya sepele, tetapi jika kita mampu berusaha untuk berhemat, maka akan ada perubahan secara signifikan nantinya. Jangan lupa ajak juga seluruh anggota keluarga untuk melakukan penghematan sehingga bisa saling mendukung dan mengingatkan untuk berhemat dalam pemakaian listrik. Meski mungkin awalnya terkaget-kaget ketika subsidi dicabut, tapi demi pemerataan listrik di seluruh Indonesia, mau nggak mau kita tetap harus mendukung program pemerintah ini ya. Semoga ke depannya, perusahaan listrik negara kinerjanya semakin baik dan tidak ada kejadian mati listrik dengan alasan apapun. Listrik merata dari Sabang sampai Merauke dan rakyat bisa mendapat listrik secara optimal sesuai dengan harga yang dibayarkan. Selamat berhemat listrik, pals and sampai jumpa di postingan berikutnya! 


Sunday, September 10, 2017

Ingin Menaklukkan Hati Suami? Lakukan Tujuh Hal Ini!



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sunday is coming! Pasti lagi seseruan bareng keluarga nih… ada agenda apa hari ini? Kalau aku sih insya Allah nanti siang mau kondangan lanjut kumpul bareng panitia acara wisuda kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #4. Tapi sebelum berkutat dengan agenda hari ini, aku mau berbagi tentang kajian yang aku ikuti pada hari Sabtu, 9 September 2017 lalu.

Friday, September 8, 2017

7 Penulis Favorit yang Menginspirasiku



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah akhirnya kelar juga tanggungan PR ku, sampailah pada periode kesepuluh #ArisanBlogGandjelRel. Tema kali ini mengangkat tentang penulis favorit. Bukan tema yang sulit sebenarnya, secara dari jaman bisa mengeja, aku suka banget baca buku. Yang sulit itu menentukan siapa penulis favoritku.

Wednesday, September 6, 2017

Inilah 6 Bisnis Rumahan Impianku, Mana Milikmu?



Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Setelah mandheg semingguan nggak posting, finally bisa nulis lagi. Rasanya melegakan... Di rumah lagi kena flu semua nih, dari aku, si ayah, sampai duo ifAffan nggak ada yang lolos dari serangan batuk pilek. Qodarullah minggu kemarin padat banget aktivitasnya, dari takbir keliling sampai rempong jadi seksi hore-hore di nikahan sepupu, badan rasanya butuh dimanjakan ala-ala spa gitu deh. 

Niat hati sudah pengen nulis hutang #ArisanBlogGandjelRel periode sembilan ini sejak kemarin-kemarin, tapi saat tiba waktunya nulis selalu nggak pernah kebangun saking kecapekannya. Alhamdulillah, hari ini bisa kelar juga.

#ArisanBlogGandjelRel periode kesembilan ini mengangkat tema tentang bisnis rumahan impianku yang dipersembahkan oleh mbak Wahyu Widya dan Bunsal. Hmm, menarik nih temanya. Siapa sih yang nggak pengen punya bisnis di jaman seperti sekarang ini. Di saat dunia berada di genggaman, bisnis pun bisa dimulai di rumah dan hanya bermodalkan gadget semata. Masalah utamanya kalau buatku adalah keistiqomahan dalam menjalaninya.

Monday, August 28, 2017

Film Favorit Sepanjang Masa; A Moment to Remember



Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Hi, pals. Akhirnya aku gagal di tengah jalan untuk menyelesaikan tantangan ODOP dari Blogger Muslimah. Sedih sih, tapi ternyata memang istiqomah untuk posting sehari satu tulisan itu luaaaar biasa tantangannya. Jangankan yang sehari satu postingan, setoran #ArisanBlogGandjelRel-ku aja mulai tersendat. 

Contohnya tulisanku kali ini yang harusnya disetor untuk #ArisanBlogGandjelRel putaran kedelapan, tapi sampai putaran ke sepuluh baru aku selesaikan. Kalau boleh kasih alasan sih awalnya aku bingung mau nulis apaan tentang film favorit sepanjang masa. Meski hobi nonton film, tapi entah kenapa aku juga cepat lupa sama isi film yang aku tonton. Makanya kalau mau review film atau drama, wajib banget segera setelah nonton langsung ditulis, kalau diundur-undur dijamin besoknya udah lupa bagaimana alurnya dan apa hal yang bisa bikin aku excited sama film itu.

Sampai akhirnya mataku bersitatap dengan file film yang aku mau ceritain ini. Dulu aku menyimpan cukup banyak film di laptop, tapi lama-lama hard disk - ku jadi penuh dan lemot, akhirnya satu per satu aku hapus. Namun entah kenapa aku nggak pernah berhasil menghapus file film ini. Gegara lihat file film ini, aku putar lagi deh film yang formatnya masih video CD itu, dan untuk kesekian kalinya, aku selalu saja nangis usai menonton film ini.

Film bikinan Korea Selatan yang dimainkan secara apik oleh Son Ye Jin sebagai Kim Su Jin dan Jung Woo Sung sebagai Choi Cheol Soo ini ternyata diproduksi pada tahun 2004. Tapi seingatku aku baru menontonnya pada tahun 2008/ 2009, kayanya udah nikah sama mas bojo waktu dapat file film yang berulangkali bikin aku baper ini. Bahkan awalnya aku juga nggak ngeh dan nggak peduli siapa pemainnya. Gegara mau nulis tantangan dari mbak Sri Untari dan Ira Sulistiana ini aku jadi cari tahu infonya lebih banyak. Btw, makasih lo ma mbak Untari dan mbak Ira, aku jadi tahu judul film ini ternyata A Moment to Remember, dari dulu aku tahunya judulnya Alzheimer Dementia, hihi. Makasih juga karena tantangan dari si mbak berdua ini, aku jadi sadar kalau film ini favorit banget.

Btw, pasti bertanya-tanya dong kok judul aslinya A Moment to Remember tapi aku tahunya Alzheimer Dementia, nyambungnya di mana gitu. Tentu nyambung dong.. mau tahu di sebelah mana sambungannya, baca sinopsisnya dulu yuk.

Sinopsis A Moment to Remember



Kim Su Jin terduduk lemas di bangku stasiun kereta api. Kekasihnya yang dinantikan tidak kunjung datang. Padahal mereka telah berjanji akan pergi bersama ke sebuah tempat meninggalkan keluarga dan semua orang yang menentang hubungan mereka, membangun kehidupan baru berdua. Dengan perasaan kecewa Kim Su Jin meninggalkan stasiun sambil mencoba menahan air mata yang tak mampu dibendungnya.

Antara malu, marah, kecewa.. Kim Su Jin tak mampu membayangkan akan diletakkan di mana wajahnya. Ia yang sebelumnya berani melawan orang tua demi memilih lelaki beristri menjadi kekasihnya, kini harus pulang dalam keadaan berantakan. Di tengah perjalanannya, Su Jin berhenti di sebuah supermarket dan membeli sekaleng minuman soda. Sesaat setelah membayar, Su Jin segera bergegas keluar. Nampaknya ia setengah melamun hingga tak sadar meninggalkan dompet dan yang dibelinya.



Saat ia menyadari sekaleng soda yang dibelinya belum terbawa, ia kembali ke supermarket. Di pintu masuk supermarket tersebut ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang sedang asyik menikmati sekaleng soda. Tanpa babibu, Su Jin langsung berpikir kalau sekaleng soda yang diminum laki-laki itu pasti miliknya. Ia segera merebut kaleng tersebut dari si laki-laki dan menghabiskannya sekali teguk, bahkan sampai bersendawa. Laki-laki yang direbut kalengnya cuma terpana kebingungan.

Setelah menghabiskan kaleng soda milik si laki-laki itu, Su Jin masuk ke dalam supermarket dan menemui kasir untuk menanyakan apakah dompetnya tertinggal. Kasir mengulurkan dompet dan sekaleng soda miliknya. Barulah Su Jin datang kalau ia telah salah paham dengan laki-laki yang ia temui di depan supermarket tadi.

Singkat cerita, Su Jin mulai menata kehidupannya. Keluarganya menerimanya kembali dengan hangat. Sebagai simbol membuka lembaran baru, Su Jin memotong rambutnya. Ia pun melamar pekerjaan di sebuah perusahaan fashion. Ternyata gosip tentang dirinya telah menyebar. Namun Su Jin tak gentar, ia telah bertekad untuk hidup lebih baik.




Suatu hari Su Jin menemani ayahnya untuk pergi ke proyek bangunan. Di sana tanpa sengaja ia melihat laki-laki yang kaleng sodanya ia rebut. Tapi Su Jin kesulitan mengingat siapa pria itu. Ia hanya merasa pernah bertemu dengannya, namun tak ingat kapan dan dimana ia pernah bertemu. 

Su Jin mendapat tugas dari kantor untuk menata sebuah ruangan. Ia menelepon ayahnya yang memang pekerjaannya berkecimpung di bidang bangunan dan interior untuk mengirimkan seseorang untuk membantunya. Tak disangka ternyata orang yang dikirimkan ayahnya adalah laki-laki yang kaleng sodanya ia minum dan habiskan. 

Laki-laki ini sangat dingin dan cuek, tapi ternyata ia masih ingat perlakuan Su Jin padanya. Su Jin yang merasa haus sedang membeli sekaleng soda di mesin penjual minuman. Saat Su Jin akan mengambil kaleng soda yang keluar dari mesin tersebut, laki-laki itu segera mengambilnya dan meminumnya sekali teguk. Rupanya ia membalas perlakuan Su Jin. Su Jin pun tersenyum dan mengingat siapa lelaki itu.




Pertemuan berikutnya antara Su Jin dan si laki-laki itu terjadi ketika Su Jin dijambret. Si laki-laki menolongnya dan membuat si penjambret terjatuh dari motor. Akhirnya mereka pun berkenalan. Choi Cheol Soo adalah nama laki-laki itu. Ia calon arsitek yang juga hebat sebagai seorang tukang kayu. Tanpa perlu waktu lama, Su Jin dan Cheol Soo pun saling tertarik satu sama lain dan mereka pun memutuskan untuk berpacaran.



Sebagai seorang wanita, tentu saja Su Jin ingin kepastian. Ia meminta Cheol Soo untuk menemui keluarganya dan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, namun Cheol Soo menolak. Ia merasa tidak akan mampu terikat. Rupanya Cheol Soo pesimis terhadap sebuah pernikahan, dia merasa pernikahan tidak selamanya menjadi sumber kebahagiaan. Apalagi ia merasa bukanlah orang kaya yang bisa membahagiakan Su Jin.




Namun Su Jin tak kehabisan akal, ia mengatur pertemuan antara keluarganya dengan Choi Cheol Soo secara diam-diam. Su Jin kira semua akan berjalan dengan lancar, di luar dugaan suasana justru menjadi sangat tegang ketika Cheol Soo menyadari kalau Su Jin adalah putri dari atasannya. Cheol Soo pun meminta maaf atas kelancangannya karena berani mendekati Su Jin dan berjanji tidak akan menemuinya lagi. 

Su Jin merasa kecewa dan keluar dari restoran tempat pertemuan itu berlangsung. Hujan turun begitu deras, Su Jin tergeletak pingsan di depan restoran, beberapa tamu di restoran pun gaduh melihat kejadian itu. Beruntung adik Su Jin melihat kakaknya terjatuh pingsan dan segera berteriak. Cheol Soo segera berlari dan mengangkat tubuh Su Jin ke rumah sakit terdekat. Ayah Su Jin melihat Cheol Soo begitu sigap menyelamatkan Su Jin merasa bahwa Cheol Soo adalah menantu yang tepat.



Su Jin siuman dari pingsannya. Saat ia membuka mata, ia sangat senang melihat Cheol Soo ada di depannya. Ia segera memeluk Cheol Soo dengan erat. Apalagi ketika ia melihat sang ayah memberikan sinyal bahwa restu telah di tangan. Tak lama kemudian, Su Jin dan Cheol Soo pun menikah. Masa-masa gembira pun telah di depan mata.

Cheol Soo mendapat pekerjaan yang bagus. Ia pun mulai menabung untuk membangun rumah impiannya bersama Su Jin. Ia telah menemukan lokasi yang tepat untuk membangun rumah tersebut dan menunjukkan kepada Su Jin. Namun saat Cheol Soo membawa Su Jin menemui guru yang mengajarinya tentang perkayuan, Su Jin baru tahu kalau ibunya Cheol Soo masih hidup.




Su Jin pun mencoba mencari tahu tentang ibu mertuanya. Ia baru tahu kalau hubungan Cheol Soo dan ibunya tidak baik. Ibu mertuanya kini sedang berada di penjara karena masalah uang. Ia juga terlilit hutang yang sangat banyak. Melihat fakta tersebut, Su Jin meminta Cheol Soo untuk memaafkan ibunya dan membantu permasalahan ibunya. Cheol Soo menolak, ia merasa tidak lagi berkepentingan dengan urusan ibunya semenjak sang ibu meninggalkannya. Namun Su Jin terus meluluhkan hati Cheol Soo untuk mampu memaafkan sang ibu. Akhirnya uang yang digadang-gadang untuk membangun rumah impian pun habis tanpa sisa untuk membayar hutang sang ibu.




Su Jin menyemangati Cheol Soo bahwa kehidupan mereka akan tetap baik-baik saja. Di saat kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan itu, Su Jin mulai merasa ada yang lain di dalam dirinya. Ia mulai merasa sifat lupanya sudah sangat bermasalah. Ia bisa tiba-tiba beranjak dari tempat duduk dan kembali tanpa sadar apa yang sudah ia kerjakan sebelumnya. Bahkan yang paling parah ia lupa saat sedang memasak hingga rumahnya hampir kebakaran. Di satu sisi tanpa terduga Su Jin bertemu kembali dengan mantan pacarnya yang kini menjadi atasannya di kantor.



Demi mendapatkan jawaban atas sifat pelupanya, Su Jin lalu menemui dokter dan melakukan beberapa tes untuk pemeriksaan lebih lanjut. Setelah beberapa rangkaian tes dijalani, dokter pun menyampaikan bahwa ia mengidap alzheimer dementia. Ia akan segera lupa pada segala hal, semua orang bahkan termasuk dirinya sendiri. Su Jin merahasiakannya dari Cheol Soo. Namun tanpa perlu menunggu lama Cheol Soo pun akhirnya menyadari penyakit Su Jin tersebut. Cheol Soo sempat marah pada dokter, namun setelah mengetahui bahwa dokternya juga pernah mengalami kesedihan yang sama karena kehilangan istrinya akibat alzheimer dementia dan kemudian mendedikasikan dirinya untuk meneliti lebih lanjut tentang penyakit tersebut, Cheol Soo pun akhirnya hanya bisa pasrah.



Su Jin meminta Cheol Soo menceraikannya, namun Cheol Soo menolak. Ia berjanji akan menjadi ingatan bagi Su Jin. Cheol Soo menuliskan nama-nama barang yang ada di dalam rumahnya dan menempelkannya satu per satu agar Su Jin tidak mengalami kesulitan. Cheol Soo juga selalu membawakan catatan nama, alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi sehingga ketika Su Jin harus pergi dari rumah dan ia kelupaan, ia bisa membaca catatan tersebut.

Ingatan Su Jin semakin memburuk. Kenangan yang paling lama justru mulai muncul, sedangkan kenangan-kenangan baru mulai terlupakan. Puncaknya ketika ia mulai lupa pada suaminya dan justru mengingat mantan pacarnya. Cheol Soo terluka namun ia sadar hal ini akan terjadi. Ayah Su Jin meminta Cheol Soo menceraikan putrinya dan akan mengambil alih perawatan Su Jin. Cheol Soo menolak tawaran tersebut. Su Jin istrinya dan tanggung jawabnya.




Su Jin mulai tidak bisa mengontrol tubuhnya. Ia buang air sembarangan. Cheol Soo terisak dalam tangisnya sambil memeluk Su Jin lalu membersihkan kotorannya. Suatu pagi saat Cheol Soo hendak pergi bekerja dan berpamitan pada Su Jin, Su Jin berkata ia sangat mencintainya. Ia menatap lekat Cheol Soo, namun nama yang disebutnya adalah nama mantan pacarnya. Cheol Soo tersenyum getir. Selang beberapa waktu, Su Jin menyadari hal tersebut. Ia merasa sangat menyesal karena telah melukai suaminya lalu menuliskan surat perpisahan.




Su Jin memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah perawatan. Ayah Su Jin memaksa Cheol Soo untuk menandatangani surat cerai, namun Cheol Soo tetap menolak. Cheol Soo ingin menyampaikan sesuatu hal yang seharusnya dari dulu ia katakan kepada Su Jin. Suatu hari sebuah surat dari Su Jin diterima oleh Cheol Soo. Dalam surat tersebut tertuliskan kalau hari itu Su Jin sedang dalam keadaan terbaik, ia bisa mengingat semuanya, makanya ia menulis surat tersebut. Dari surat itulah, Cheol Soo mendapat alamat tempat Su Jin dirawat. Ia pun bergegas menemui sang istri tercinta.

Sesampainya di rumah perawatan, Su Jin tidak lagi bisa mengenali Cheol Soo sama sekali. Namun ketika Cheol Soo melihat gambar yang dibuat Su Jin, ia trenyuh. Ada potret dirinya di sana. Ia meminta ijin kepada perawat untuk membawa keluar Su Jin.

Cheol Soo menyeting tempat pertemuan pertama mereka lengkap dengan adegan minuman soda yang menjadi kenangan. Di tempat itu ada orang tua dan adik Su Jin, guru dan ibunya Cheol Soo, dokternya Su Jin. Seakan-akan mereka adalah karyawan dan pelanggan minimarket tersebut. Su Jin tersenyum, bertanya pada Cheol Soo, "apakah ini di surga?" Cheol Soo mengiyakan lalu mengajak Su Jin berkendara dengan mobilnya. Saat di mobil Cheol Soo akhirnya menyatakan perasaan cintanya pada Su Jin. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ungkapkan lewat kata-kata. Ia juga memberikan sebuah pahatan kayu berwujud wajah Su Jin.



Aah, membaca sinopsisnya saja sungguh tidaklah pernah cukup. Paling asyik memang menikmati filmnya secara utuh. Yang pengen nonton filmnya, bisa langsung saja cuzz ke Layar Kaca 21.

Alasan Kenapa Suka Banget sama A Moment to Remember


Ada beberapa alasan kenapa aku suka banget sama film Korea ini dan nggak pernah bosan melihatnya berkali-kali. Padahal yang main juga nggak ganteng dan nggak cantik. Tapi itulah kerennya film Korea, selalu bisa menggugah sisi sentimentil penontonnya hingga bawaannya selalu baper dan susah move on, hehehe.

Buatku sendiri film ini sarat akan pesan kehidupan antara lain;

  • Kegagalan itu bukan untuk diratapi. Adakalanya kita akan merasakan jatuh, namun hal terbaik setelah terjatuh adalah kembali bangun dan menata kembali langkah-langkah ke depan agar lebih baik.
  • Patah hati bukanlah akhirnya segalanya, wahai para jombloers. Tuhan pasti telah menyiapkan pasangan terbaikmu, kamu cukup berikhtiar sebaik mungkin.
  • Jangan takut berkomitmen, tidak akan pernah ada pernikahan yang sempurna, namun kebersamaan antara dua orang yang saling berusaha untuk menjaga cinta adalah kesempurnaan itu sendiri.
  • Kita tidak akan pernah tahu kapan waktu akan berakhir, maka lakukanlah yang terbaik untuk pasangan kita, termasuk bisikkanlah kata cinta padanya ketika kita menginginkannya karena belum tentu besok kita bisa melakukannya.
  • Rekamlah hal-hal baik dalam hidup kita, karena mungkin saja suatu saat kita tak lagi bisa mengingatnya. Penuhi saja hidup kita dengan ingatan-ingatan baik, dan jangan biarkan luka masa lalu memenuhi kenangan kita karena hanya akan menggerogoti kehidupan kita yang hanya sekejap.
  • Hidup itu selalu penuh kejutan, jangan hanya siapkan diri kita untuk kejutan yang menyenangkan, kita juga harus siap dengan segala tantangan.
isi surat perpisahan Su Jin kepada Cheol Soo


Itulah cerita tentang film favoritku, kalau film kesukaanmu apa, pals? Makasih sudah mampir dan menyempatkan untuk baca ya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.





Wednesday, August 9, 2017

Sebuah Episode Belajar Disiplin dan Memahami Manfaatnya



Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Wah, baru masuk hari kesembilan One Day One Posting yang digelar Blogger Muslimah, sepertinya aku sudah harus mengibarkan bendera putih nih. Empat hari berturut-turut aku gagal posting karena badan yang semakin drop disusul suami yang juga ikutan tepar. Jadilah laptop tak tersentuh sepanjang empat hari ini.

Friday, August 4, 2017

Perjalanan MPASI Affan dari 6 - 8 Bulan


Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, pals.

Bagaimana kabarnya? Semoga sehat selalu ya, jangan sepertiku yang sedang tidak fit kondisinya. Namun insya Allah kondisi ini tidak menyurutkan niatku untuk tetap setor ODOP hari keempat. Berhubung kepala lagi kumat pusingnya, mau nulis yang ringan-ringan aja deh. Aku mau cerita perjalanan MPASI Affan dari usia 6-8 bulan.