Wednesday, September 21, 2016

Seri Blogger Nyicip: Berlabuh di Candiview Hotel, Hotel Tengah Kota Semarang yang Nyaman untuk Seluruh Keluarga




Salah satu kenikmatan menjadi seorang blogger adalah bertemu dengan blogger lainnya serta mengembangkan sosial circle ke lingkup yang lebih luas. Blogger gathering selalu menjadi acara yang senantiasa ditunggu, khususnya buat aku. Sebagai momblogger, kegiatanku lebih banyak berkutat di dalam rumah, ngerjain konten, posting artikel baru di blog sembari nungguin anak pulang sekolah. Apalagi sejak hamil kali ini nggak tahu kenapa lebih banyak mager, beda waktu hamil si kakak.

Monday, September 19, 2016

Monday, September 12, 2016

Pecahnya Ngobrol Blogger Semarang; Dari Makanan ke Sakuku





Blogger gathering memang selalu meninggalkan kesan yang dalam. Setelah dua bulan vakum dan semedi dari dunia per-gatheringan karena kondisi hamil muda yang bikin badan sering nggak bisa diajak kompromi. Akhirnya Rabu, 31 Agustus 2016 lalu aku kembali turun gunung. Bertemu dengan teman-teman blogger Semarang yang renyah, kece dan sumringah selalu berhasil membuat semangatku menekuni dunia blogging kembali naik ke titik puncak.

Sunday, September 11, 2016

Tips Mencuri Waktu Me Time bagi Momblogger




Hi, pals. How's your Sunday? 

Nggak terasa One Day One Post session Agustus-September 2016 usai sudah. Tema terakhir kali ini tentang me time favorit. Tema yang cukup menarik untuk mengakhiri perjalanan ODOP sesi kali ini.

Credit by Rumah Bunda

Ambang stress tiap orang itu berbeda-beda. Ada yang mudah stress karena perfeksionisme diri, ada yang mudah stress ketika rutinitas membelenggu, ada yang mudah stress ketika kelelahan tak terelakkan. Di satu sisi ada yang selalu senyum meski target kerjaan tak tercapai, ketemu kegiatan itu lagi itu lagi, dan seperti nggak punya capek meski aktivitasnya bejibun.

Dikarenakan perbedaan karakter inilah kita seharusnya tidak mudah menuding orang lain baperan, sensitif, kurang iman, kurang bersyukur jikalau bertemu dengan orang yang ambang stress-nya berbeda dengan kita. Anyway, kita toh tidak tahu bagaimana background psikologinya, background keluarganya, dan seperti apa lika-liku hidupnya. So, mari kita lihat semua perbedaan ini dari segala sisi.

Kalau aku sih ngaku aja termasuk orang yang get stressed easily ketika rutinitas berjalan begini lagi, begitu lagi. Saat memutuskan resign dari sebuah lembaga pendidikan Bahasa Inggris dan fokus untuk menjadi ibu rumah tangga, aku pikir semuanya akan jauh lebih mudah. Biasanya harus kerja dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam, beralih menjadi ibu rumah tangga pastinya akan lebih enteng, pikirku. Ternyata aku salah besar, aku justru merasa dua puluh empat jam non stop pekerjaan nggak ada berhentinya. Apalagi saat itu anakku masih baby, aku harus mengerjakan artikel-artikel pesanan tiap malam setelah si baby tidur, sedang paginya harus mengurusi pekerjaan rumah tangga, suami kerja di luar kota, ibu sakit dan adikku masih anak SMA ababil yang kadang dimintain tolong angot-angotan.

Credit by Kompasiana

Perfect! Aku bahkan nggak punya celah untuk bisa bernafas dengan tenang, apalagi hang out ke luar rumah. Hingga belakangan kemudian aku menyadari aku juga mengalami baby blues yang cukup parah. Aku bisa menangis tiba-tiba; jengkel, sedih dan marah campur aduk jadi satu. Merasa semuanya gelap dan sendirian. Efeknya, anakku yang jadi sasaran. Beruntung nggak sampai melukainya seperti kasus-kasus yang sekarang banyak kita temui di televisi. Selain anakku, adikku satu-satunya juga sering jadi pelampiasan emosiku yang naik turun tak jelas. 

Puncaknya, ketika adikku mendadak meninggal dunia karena penyakit jantung bawaanya. Langit seperti runtuh. Aku dan ibu mulai berdiskusi intens. Sepertinya aku butuh bantuan. I'm not wonder woman who could do everything without any help! Akhirnya diputuskan kami mencari ART pocokan untuk membantuku menyelesaikan sebagian pekerjaan rumah tangga, khususnya mencuci dan menggosok baju. Suami juga kemudian berhasil kurayu untuk kembali kerja di Semarang agar kami bisa lebih punya banyak waktu berdua. 

Credit by Sayangi Anak

Meski telah diatur sedemikian rupa, tetap saja melakukan me time favorit tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hingga kemudian aku mulai menemukan pola yang pas untuk bisa menikmati rutinitas yang kujalani, dan tetap bisa mencuri-curi waktu untuk melakukan me time. 

Kapan Momblogger bisa Me Time?


Sebagian besar momblogger adalah wanita-wanita yang punya bejibun aktivitas; dari ngurus anak, suami, research untuk artikel-artikel yang akan ditayangkan di blog, menulis dan menyiapkan infografis hingga mengikuti gathering ini itu. Belum lagi jika punya sambilan bisnis lainnya. Jika segudang aktivitas itu tidak diimbangi dengan me time yang cukup, seringkali kita bisa mengalami exhausted yang sangat parah dan writer's block pun bisa muncul.

Nah, aku mau berbagi tips tentang mencuri waktu di sela-sela rutinitas yang ada agar  tetap bisa me time.

Credit by Smart Mama

Pertama, kenali alarm tubuh. Tubuh kita pasti kasih tanda kok ketika minta istirahat. So, ketika diri kita mulai merasa uring-uringan, ngerjain apa-apa nggak ada yang bener, dibantuin orang lain selalu nampak salah, stop all the activity and take a deep breath. Yup, hentikan sejenak semua aktivitas. Ambil waktu secukupnya untuk beristirahat barang sebentar, entah itu untuk memejamkan mata sekitar 5 menit atau mengambil air wudhu agar pikiran jadi kembali fresh. 

Credit by Emak Pintar

Kedua, turunkan standar perfeksionisme kita. Hampir semua wanita ingin rumah terlihat rapi saat suami pulang, tubuh sudah wangi, anak-anak makan lahap, dan segala macam target yang kadang tidak terpenuhi. So, ketika target tersebut tidak terpenuhi, take it easy, ingatlah bahwa tidak setiap saat hidup berjalan sesuai keinginan kita. Kirim pesan pada suami "sorry rumah bakal berantakan saat kamu pulang." Lalu saat sang belahan jiwa telah datang, mintalah ijin agar bisa menemani anak dan kita bisa mandi agak lama agar emosi dan lelah yang menggumpal segera luruh. 

Credit by Detik
credit by MBI Group
Ketiga, sekali-kali saat suami libur kerja mintalah ijin untuk menghirup udara segar di luar rumah. Entah sekedar ketemu sahabat untuk ngopi bareng atau  nonton film di bioskop. Jika tidak memungkinkan untuk pergi ke luar rumah, minta ijin suami untuk  memberikan waktu agar bisa melakukan aktivitas personal tanpa ada gangguan. Suami yang pengertian pasti paham akan kebutuhan istrinya untuk me time; kita bisa nonton film kesukaan, entah itu drakor atau film horor tanpa diganggu. Atau mungkin smule-an di dalam kamar sampai suara serak atau sekedar blog walking ke tempat teman-teman blogger, baca buku favorit atau mewarnai, sementara suami menemani anak-anak kita main.

Credit by Her Success
Keempat, sediakan waktu khusus untuk melakukan kegiatan bersama anak-anak dan suami tanpa diganggu dengan pekerjaan rumah tangga, gadget, televisi ataupun segudang jadwal blogging setiap harinya. Menghabiskan waktu bersama keluarga bisa menjadi me time yang paling sederhana namun ampuh efeknya untuk membuat pikiran kembali segar. 


Dekat itu tidak selalu bersama. Mungkin saja dalam sehari kita ada di rumah dekat dengan anak kita, tapi belum tentu kita selalu bersama mereka. Ada kalanya saat kita menyelesaikan artikel atau memasak, mereka sedang asyik bermain boneka. Meski kita bisa mengawasi mereka, namun itu bukan kebersamaan. Begitu juga bisa jadi suami ada di dekat kita, namun di saat ia membaca koran kita pun asyik terpekur pada gadget, ini pun bukan kebersamaan.




So, luangkan waktu pada 18-21 bersama suami dan anak-anak untuk melakukan aktivitas bersama, entah itu petak umpet, main peran, membaca buku ataupun hanya sekedar ngobrol ngalor ngidul. Kemudian setelah anak-anak tertidur, waktunya berbincang dari hati ke hati dengan suami setidaknya dari 21 - 22. Program 1821 dan 2122 ini bisa menjadi sarana ampuh untuk menjaga kehangatan keluarga sekaligus me time yang luar biasa.

Kelima, bangunlah di sepertiga malam atau setidaknya satu jam sebelum azan subuh berkumandang. Nikmati udara pagi yang sejuk dan hiruplah aroma pagi yang belum terkontaminasi. Saat anak-anak dan suami masih terlelap itulah yang merupakan waktu terbaik untuk kita berbincang pada Sang Pemilik Hidup, mensyukuri setiap nikmatNYA dengan lebih khusyuk, mengevaluasi segala yang telah terjadi dan merencanakan beberapa hal untuk hari itu dengan pikiran jernih. 



Diakui atau tidak melakukan me time favorit adalah hal yang sangat membantu agar kita tetap waras. Khususnya bagi momblogger dan para wanita pada umumnya yang notabene seringkali mengandalkan perasaan daripada logika, rutinitas yang itu-itu saja tanpa ada selingan bisa merusak mood dan semangat untuk berkarya. Tentunya dibutuhkan kerja sama dengan pasangan atau anggota keluarga yang lain agar kita bisa mengkondisikan diri untuk melakukan me time tanpa hambatan.

Credit by Rumah Kerang

Semoga tips mencuri waktu untuk bisa melakukan me time favorit bagi momblogger ini bisa  bermanfaat dan kita selalu semangat serta bahagia menikmati segala rutinitas dan aktivitas setiap harinya. 



Saturday, September 10, 2016

7 Manfaat Laporan Keuangan untuk Seorang Blogpreneur




Hi, pals. 

Sedang sibuk persiapan mudik atau liburan kah? Aku sih teteup di rumah saja as usual, hehe. Tadi sempat keluar ke swalayan, wow, jalanan padat merayap. 

By the way, nggak kerasa One Day One Post session Agustus - September sudah mau berakhir nih. Tinggal hari ini dan besok dengan tema yang sama-sama menarik, khususnya hari ini. Mbak Ani Berta nantangin kita untuk nulis mengenai penting nggak sih laporan keuangan untuk seorang blogpreneur.

Haduh, masalah keuangan sering banget ya bikin rambut yang tadinya nggak keriting tiba-tiba jadi kriwil. Apalagi buat wanita yang biasanya mau nggak mau jadi menteri keuangan di rumah tangganya. Ditambah kalau punya suami yang pengennya tahu beres, aku kasih segini, cukup nggak cukup kudu cukup, wadaw... tuing tuing dah.  Namun, di situlah seninya ya.


Aku sih nggak jago-jago amat ngurusin keuangan. Terbukti masih sering nggak balance antara pendapatan dan pengeluaran, hehe. Cuma kalau dipikir-pikir juga jadi heran sendiri, yang kemudian jadi meyakini bahwasanya matematika Allah dan manusia itu memang jauh berbeda. Meski begitu bukan berarti langsung pasrah tanpa ikhtiar dong ya, pasrah itu harus aktif, ada usaha, jadi ya tetap tiap hari berusaha memperbaiki bagaimana handling finance yang baik.

Aku sendiri sejak SMA terpaksa jadi menteri keuangan di keluarga. Dikarenakan ibu jatuh sakit dan sempat dirawat di rumah eyang di Semarang, sedang aku masih harus stay di Salatiga. Ibu mempercayakan penuh uang pensiun beliau dan gaji bapak kepadaku. Jadi kaya dapat training mengelola keuangan gitu deh. Mulai bayar PAM, PLN, Telkom, ngasih gaji buat mbak yang bantuin di rumah, sampai ngurusin uang belanja harian dan uang saku untukku sendiri serta adikku.

Puyeng? Ya iyalah! Sementara anak-anak yang lain asyik ini itu, aku harus berkutat dengan amplop-amplop yang isinya kewajiban A-Z. Tapi dari situlah aku belajar bertanggungjawab. Aku jadi paham bagaimana susahnya orang tua cari uang dan aku nggak boleh enak-enakan aja. Alhamdulillah, masa training itu tidak lama. Ibu akhirnya kembali ke Salatiga dan aku tidak lagi harus full memegang tanggung jawab keuangan keluarga tersebut.

Setelah jadi istri harusnya pengalaman saat SMA itu jadi motivasi yang besar agar aku bisa mengatur keuangan keluarga kecilku dengan lebih baik. Nyatanya aku merasa masa training-ku saat SMA justru lebih baik daripada saat aku sudah berkeluarga. Mungkin karena dulu yang aku kelola uang orang tua, jadi tanggung jawab dan bebannya lebih besar. Sedangkan saat berkeluarga aku ngurus duit-duitku sendiri dan suami, jadi kadang suka slengekan. Akhirnya buku kas yang sudah aku beli cuma betah kuisi sampai 5 atau 6 bulan pertama setelah pernikahan, selebihnya kosong mlompong. #TepokJidat

Manajemen Amplop, Credit by Yusran Yunus
Namun untuk mempermudah memposisikan uang yang akan kami keluarkan, aku tetap memelihara kebiasaan 'amplop'. Aku siapkan beberapa amplop kecil yang di depannya sudah kutulis jenis-jenis kebutuhan dan budgetnya. Trik amplop ini membantuku untuk tidak mencampuradukkan uang untuk satu pos dengan pos yang lain. Meski kadang dalam perjalanannya terjadi juga mix and match itu.

Blogpreneur dan Laporan Keuangan

Wui, sedap banget bahasanya, blogpreneur! Kalau dipecah berarti terdiri dari dua kata; blog/ blogger dan entrepreneur. Secara awam bisa diartikan bahwasanya seorang blogpreneur adalah seseorang yang usahanya berjalan di bidang blog alias orang yang dapat duit dari ngeblog. 

Dengan apa yang aku jalani sekarang kok sepertinya aku belum pede ya menyandang blogpreneur di pundakku. Kayanya masih terlampau tinggi. Kalau seperti teh Ani Berta, cikgu Haya Aliya Zaki dan Mbak Shintaries pantaslah mereka disebut sebagai blogpreneur. Aku mah apa atuh? Job review juga masih dapat sebiji dua biji, hehe.

Tapi kemudian aku jadi ingat pesan mbak Ollie Salsabeela di sebuah acara workshop menulis, banggalah dengan profesimu! Saat itu mbak Ollie bertanya siapa yang di sini sudah merasa layak disebut penulis. Eng ing eng... peserta pelatihan langsung terdiam dan tak berkutik. Padahal sebelum pertanyaan itu dilontarkan, mbak Ollie sempat bertanya kesibukan masing-masing dan sudah pernah menulis apa, beberapa dari kami pun menjawab; ada yang ngeblog, ada yang sudah punya antologi, ada yang karyanya sudah tayang di media massa. Namun ketika pertanyaan "siapa yang di sini merasa layak disebut penulis?" diceploskan, riuh rendah suara peserta menghilang bagai ditelan bumi.

Mbak Ollie senyum deh sembari mengingatkan, "tadi katanya sudah punya blog, sudah punya antologi, sudah pernah nulis untuk media massa, kok belum berani menyatakan diri sebagai penulis?" Ditutuplah dengan wejangan; penulis itu adalah orang yang telah menghasilkan karya tulisan dan karyanya sudah dibaca oleh orang lain, meskipun yang membaca cuma seorang dua orang. Orang nulis SMS itu penulis, kan SMS nya dibaca sama yang nerima. Orang nulis status FB itu penulis, kan statusnya dibaca sama orang, apalagi kalau kemudian di-like dan di-share oleh orang lain. Apalagi orang yang sudah punya blog dan antologi, pastilah penulis!



Dari situ kemudian aku mencoba membangun mentalku bahwasanya; ya, aku seorang blogpreneur. Aku punya blog, aku belajar untuk rajin update artikel untuk blog-ku, aku punya pengunjung yang mau baca apa yang aku tulis meski belum banyak traffic-nya, dan aku mendapat penghasilan dari blog ini meski belum seberapa. 

Nah, setelah menyadari bahwa aku telah memasuki dunia blogpreneur, selanjutnya apa? Sebagai bagian dari entrepreneur, tentunya penting bagiku untuk memiliki laporan keuangan yang terpisah dari laporan keuangan rumah tanggaku. Jika blog ini dijadikan sebagai ladang usaha yang profesional, maka sudah sepatutnya aku mencatat apa-apa yang kudapat dari blog ini dengan lebih tertata rapi.

Kemarin-kemarin sih aku belum terlalu aware akan hal ini. Kalau dapat job dan uangnya ditransfer ya senang saja habis itu dipakai buat beliin anak mainan atau ntraktir suami makan, hehe. Tapi jika kebiasaan itu diteruskan bisa berabe juga ya. Aku jadi nggak ngerti berapa banyak pendapatan yang telah kudapat dari blog dan kukeluarkan untuk apa saja. 

Gara-gara ditantangin nulis tentang penting nggak sih laporan keuangan untuk seorang blogpreneur, aku jadi mikir-mikir dan menyimpulkan bahwa ternyata setidaknya ada tujuh manfaat yang bisa kita dapatkan dari proses pembuatan laporan keuangan.

Manfaat Laporan Keuangan untuk Blogpreneur

1. Untuk mengetahui cash flow

Kalau kita nggak pernah mencatat dengan rinci apa saja yang telah kita dapat dari ngeblog dan uangnya dialirkan ke mana, uang jadi berasa mampir sebentar di rekening terus tanpa pamit pergi entah ke mana. Ujung-ujungnya kita akan bertanya-tanya "kemana, kemana, kemana.... ", hehe. Itulah kenapa penting banget bagi seorang blogpreneur untuk mencatat berapa saja yang telah dia dapatkan setiap hari atau bulan dan kalau dikeluarkan, uangnya dipakai untuk apa.

Dari catatan ini kita bisa tahu cashflow atawa aliran kas dari pendapatan ngeblog ini larinya kemana. Apakah semua diinvestasikan, apakah ikut arus shopping nggak jelas, apakah untuk beli buku, apakah untuk optimasi ngeblog - beli template, header dan sebagainya. Kita juga bisa tahu apakah pendapatan kita balance dengan pengeluaran, surplus atau malah merugi?

Cuma Fiktif, bukan sebenarnya, hehe

Dikarenakan sekarang aku sudah mulai kaku pegang bolpoin, aku sih lebih senang membuat laporan keuangan di Microsoft Excel. Berhubung bukan uang keuangan, aku juga nggak ribet-ribet banget sih. Cuma ada kolom no, tanggal, keterangan, debet, kredit dan saldo. 

2. Untuk mengetahui keberhasilan ngeblog dari sisi materi

Laporan keuangan juga membantu kita untuk mengetahui sudah seberapa sukseskah kita sebagai seorang blogpreneur dari sisi materi. Karena ini soal hitung-hitungan materi, maka semakin banyak pendapatan yang kita dapat dari ngeblog, maka semakin sukseslah kita sebagai seorang blogger. Tentu saja selain materi, masih banyak ukuran kesuksesan untuk seorang blogger ya.

Credit by Cara Shop
Misalnya bulan ini kita bisa dapat lima ratus ribu rupiah dari ngeblog, bulan depan meningkat jadi sejuta dan bulan berikutnya meningkat lagi jadi dua juta, maka bisa disimpulkan bahwa secara materi kita telah sukses sebagai seorang blogpreneur.

3. Untuk mendokumentasikan pendapatan yang didapat dari ngeblog

Dikarenakan ngeblog masuk dalam wilayah usaha freelance, pendapatan yang kita peroleh seringkali tidak tetap alias fluktuatif. Bulan ini bisa saja kita dapat banyak job sehingga pendapatannya melimpah ruah, bulan depan kosong, bulan berikutnya baru panen job lagi. Kalau kita nggak pernah membuat laporan keuangan, akhirnya kita tidak akan punya dokumentasi pendapatan apa saja yang telah kita raih dari ngeblog. 

Credit by Sulitnih 
Dokumentasi pendapatan ini juga bisa membantu kita untuk mengevaluasi rate card. Misalnya tahun lalu kita pernah dapat job review sekian ratus kata dengan syarat A-F dan dihargai sekian ratus ribu, saat tahun ini mendapat job sejenis kita bisa tahu berapa seharusnya kita nego dengan pihak pemberi job.

4. Untuk memotivasi diri agar terus lebih baik

Laporan keuangan juga memotivasi kita untuk lebih semangat dalam berkarya. Tentu senang dong kalau lihat laporan keuangan yang memaparkan betapa kita telah menggendutkan rekening kita lewat ngeblog? Mau nggak mau pasti kita akan semakin semangat untuk update blog dengan artikel-artikel yang lebih bermanfaat dan banyak dicari orang. Semakin kita rajin update blog, semakin banyak orang yang tahu blog kita dan semakin banyak agensi yang mencari kita untuk bagi-bagi rupiah. Aamiin.

5. Untuk menetapkan target bulanan

Bagi yang ingin benar-benar serius memantapkan diri di dunia perbloggingan dan hanya fokus pada dunia ini sebagai ladang usaha, sebuah laporan keuangan bisa menjadi catatan untuk menetapkan target bulanan di bulan berikutnya. Misalnya di laporan keuangan bulan Juli tercatat kita telah mendapat 10 job review, 5 job nge-tweet dengan pendapatan sekian, maka kita akan menargetkan setidaknya di bulan Agustus bisa mendapat job dengan nominal yang sama.

Credit by Flobamora
Target bulanan ini juga akan membantu kita untuk memotivasi diri sendiri agar ngeblognya semakin semangat dan tidak asal-asalan. Ya, kalau asal-asalan nggak bakal ada job yang menghampiri kan? 

6. Untuk menyiapkan investasi

Sebagian besar blogger, khususnya momblogger, mengawali karir (ceile) di dunia perbloggingan dikarenakan mengikuti passion dan hobi. Oleh karenanya seringkali kita tidak memfokuskan blogging sebagai ladang usaha yang utama, namun hanya sebagai sebuah iseng-iseng berhadiah. Dapat job alhamdulillah, nggak dapat juga nggak apa-apa, pokoknya mah blogging dan berkarya jalan terus. 

Apalagi kalau momblogger yang juga masih dinafkahi suami, tentunya pendapatan dari blog bukan hal utama. Namun dengan rajin membuat laporan keuangan, kita akan terbantu untuk mengetahui berapa banyak yang telah kita dapatkan dan bagaimana seharusnya kita alokasikan pendapatan tersebut.

Credit by SlideShare

Dikarenakan bukan ladang usaha yang utama, ada kemungkinan bahwa pendapatan ngeblog seharusnya tidak diutak-atik untuk keperluan belanja dan bayar kebutuhan ini-itu, kalaupun diutak-atik mungkin untuk keperluan pribadi seperti beli lipen, bedak atau buku. Jika tidak tercatat dengan rapi, pengeluaran-pengeluaran kecil ini bisa membengkak dan tidak terkontrol. Bukankah lebih baik jika pendapatan dari ngeblog ini dijadikan sumber investasi. Entah kita masukkan ke rekening khusus untuk tabungan pendidikan anak, atau tabungan haji atau tabungan wisata, yang pasti bisa kelihatan hasilnya di kemudian hari; ini lo yang aku dapat dari ngeblog.

7. Untuk membahagiakan diri sendiri

Manfaat terakhir yang didapat dari laporan keuangan adalah kebahagiaan yang timbul setelah menatap hitungan angka-angka yang tersusun rapi tersebut ternyata hasilnya balance atau malah surplus. Kalau laporan keuangannya justru merugi ya bisa jadi meringis ya, hehe. Namun yang pasti dengan mencatat pendapatan yang kita peroleh dari ngeblog bisa menjadikan kita bahagia karena ternyata kita masih bisa berpenghasilan meski tidak ngantor seperti yang lain. 

Untuk menambah kebahagiaan tersebut agar semakin berlipat tentu saja jangan lupa untuk mengambil sebagian rezeki yang kita dapat dan kita bagikan untuk orang lain, entah itu ke saudara yang sedang membutuhkan, ke anak yatim atau kita sumbangkan untuk membangun rumah peribadatan.

Credit by Limited Shop
Wah, nggak nyangka ya ternyata di balik njlimetnya sebuah laporan keuangan untuk seorang blogpreneur tersimpan banyak manfaat yang tak terbayangkan sebelumnya. Ini jadi reminder buat diriku sendiri agar lebih serius dan profesional untuk menjadi seorang blogger. Meski begitu jangan sampai terpaku dengan laporan keuangan sampai lupa update blog dengan karya-karya yang bermanfaat ya, pals.

Terus berkarya dan jangan lupa bahagiakan diri sendiri! Salam semangat!





Friday, September 9, 2016

Nampolnya Frozen Kuro; Nugget dan Bakso Sehat untuk Seluruh Keluarga



Hi, Pals!

Semua orang pasti butuh makanan, dan setiap orang yang butuh makanan pasti berikhtiar untuk bisa mendapatkan yang terbaik. Terbaik itu pastinya, halal, thoyib dan kalau bisa terjangkau. Yang susah itu orang-orang beraliran sepertiku; demen makan nggak doyan masak, hehe. 

Entahlah sepertinya aku perlu diragukan kewanitaannya nih, lihat dapur sama pasar benar-benar ogah dan paranoid kalau nggak kepaksa. Asli kalau nggak karena keadaan seperti sekarang ini di saat mbak Narti yang biasa ngirim sayur ke rumah tidak bisa menghujaniku dengan sayur-sayur yang lezat dikarenakan harus merawat ibunya yang sedang sakit, kemungkinan besar aku tak akan kembali ke dapur. 

Beruntung suami dan anakku itu nggak neko-neko soal makanan, sederhanaaaa banget. Dikasih sayur bayam dan tempe goreng saja lahap makannya. Mungkin karena itu juga aku jadi malas berinovasi di dapur ya. Sekalinya bikin yang aneh-aneh, maksud hati buat variasi, eh malah nggak dimakan. 


tempe dan sayur bayam, makanan favorit keluarga
Makanya waktu Ifa pulang sekolah hari Kamis yang lalu dan bu gurunya laporan karena doi nggak mau ikut makan bersama, aku nggak heran setelah tahu menunya. Kalau minggu-minggu yang lalu biasanya menunya sayur sop dan ayam suwir, Kamis kemarin yang dapat jatah membawa makan bersama bikin bola-bola nasi. Pasti pikirnya sama kaya aku beberapa waktu lalu; variasi! Tapi makanan itu malah ditolak mentah-mentah oleh lidah anakku, hehe.

Untungnya kalau nugget dan bakso, anak dan suamiku masih doyan makan. Terus bikin sendiri gitu? Ya, nggak lah.. kalau ada yang praktis, kenapa mesti repot? Hihi.

Tapi karena nggak mau kebanyakan makan nugget dan bakso yang dijual di pasaran, aku mulai pilih-pilih brand. Apalagi kalau bisa nemu brand yang owner-nya terpercaya, dijamin halal, thoyib dan harganya terjangkau, wah seneng banget kan?

Masalahnya menemukan brand yang sesuai dengan keinginan diri itu kan susah-susah gampang. Alhamdulillah akhirnya kini dipertemukan dengan Agustina Dwi Jayanti (Tina), blogger muda yang lagi menanti jodoh ini kukenal lewat IIDN dan Gandjel Rel. Awalnya kita ngobrol-ngobrol tentang tulisan wong memang ketemunya juga di grup kepenulisan.

Baru setelah ketemu berkali-kali, aku jadi tahu kalau doi punya usaha sampingan yang diberi nama 'Frozen Kuro'. Awalnya dulu usahanya ini fokus pada pembuatan nugget lele yang sehat dan tanpa MSG. Namun seiring berjalannya waktu dan request dari peminat yang semakin banyak, kini kita juga bisa menikmati nugget dan bakso ayam.

Credit by Fanpage Frozen Kuro, nggak sempat foto udah habis yang di rumah, hehe
Aku sendiri sudah order kisaran dua hingga empat kali, lupa tepatnya. Pertama kali order dulu, seingatku, usaha dik Tina ini belum punya logo dan kemasan yang seelegan sekarang. Waktu order yang berikutnya - dengan jarak yang cukup lama, surpriseeee... Frozen Kuro sudah punya logo dan kemasan yang layak jual banget.

Soal rasa bagaimana? Pastinya itu kembali ke selera masing-masing ya, tapi kalau aku sih cucooook pake banget. For your information, saat ini Frozen Kuro punya tiga jenis produk seperti yang tadi sudah aku sebutkan di atas; nugget lele, nugget ayam dan bakso ayam. Bakso ayam terdiri dari dua pilihan; bakso ayam isi 15 dan isi 25. Untuk nugget ayam sendiri ada tiga varian; nugget ayam original, nugget ayam sayur dan nugget ayam mozarella.

Ternyata oh ternyata yang jadi favorit di rumahku si varian terakhir ini; nugget ayam mozarella. Anakku sampai minta nambah berkali-kali. Jadinya barusan datang, sudah langsung lenyap tanpa sisa deh. Ini sudah request lagi, "aku mau dibeliin nugget kejunya lagi dong, bunda." Perpaduan antara ayam dan mozarella-nya memang pas banget. Mozarella-nya juga moloooor dan pecah banget di mulut, bikin nagih lagi dan lagi. 





Nugget ayam sayurnya pun nggak kalah yummy. Pas banget buat anak-anak yang makan sayurnya angot-angotan kaya si Ifa. Rasa sayurnya juga bisa menyatu dengan ayamnya, jadi anak-anak bisa dibuat "tertipu", hehe. 

Kalau aku, selain si mozarella, bakso ayam dari Frozen Kuro yang jadi favorit. Jangan ditodong fotonya ya, nggak sempat ambil foto si bakso nih, saking semangat mengeksekusinya. Ayamnya nendang banget. Rasanya gurih. Dan yang bikin hepi lagi, ukurannya  besar-besar banget. Jadi meskipun beli yang isi 15, bisa untuk tiga kali masak sayur yang berbeda, hehe. Dipotong jadi dua aja masih gede banget ukurannya menurutku. Kemarin baksonya sudah aku eksekusi sebanyak tiga kali; dibuat pelengkap untuk martabak mie, tumis kangkung dan hari ini kumasukkan ke mie kuah. Hmmm, yummy! Sekarang sudah habis deh, saatnya order lagi!

Teman-teman ada yang mau order juga? Bisa langsung cuzz ke Akun Facebook-nya mbak Tina or Fanpage-nya Frozen Kuro. Jangan lupa tengok-tengok juga Instagramnya Frozen Kuro untuk testimoni dari penikmat-penikmat lainnya.

Logo baru Frozen Kuro, unyu ya? Credit by Fanpage Frozen Kuro


Warning; JANGAN PESAN KALAU NGGAK MAU KETAGIHAN! 


 See you on the next post, pals! Salam Semangat...



NB: Ini bukan postingan berbayar, murni review yang berangkat dari dasar hati yang paling dalam. Ehm, sembari berharap dapat diskon saat nanti order lagi sih, hehehe. Pisss, dik Tina! Sukses ya Frozen Kuro-nya!




Thursday, September 8, 2016

5 Cara Mendidik Anak ala Nabi Ibrahim Alaihissalam



Assalammu'alaikum, pals! 

Insya Allah besok Senin, 12 September 2016 bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1437 H, umat muslim akan merayakan Idul Adha. Meski biasanya persiapannya tidak seheboh ketika Idul Fitri, Idul Adha tetap dinanti oleh semua umat muslim. 

Selain karena tahun ini jatuh di hari Senin yang akhirnya bikin weekend-nya jadi looooong, Idul Adha akan diramaikan dengan semarak acara kurban. Biasanya anak-anak akan senang melihat sapi, kambing, dan domba yang mulai berdatangan ke masjid dan musholla. Beberapa dari mereka akan berlomba-lomba memberi makan hewan kurban tersebut sembari menunggu acara penyembelihan digelar.

Ketika prosesi penyembelihan dilaksanakan, beberapa anak ada yang tetap berdiri tegar menatap hewan-hewan tersebut. Beberapa anak berlarian karena ketakutan. Namun lebih baiknya disarankan agar anak-anak tidak melihat prosesi tersebut ya, karena kita tidak tahu efek ke depannya seperti apa. Ada beberapa kasus mengerikan ditemukan setelah anak-anak yang belum paham hikmah prosesi tersebut dibiarkan melihatnya, salah satunya terjadinya penyembelihan kucing secara ramai-ramai oleh anak-anak. Beberapa juga mengalami trauma berkepanjangan hingga dewasa. Untuk artikel lengkap mengenai hal ini, teman-teman bisa membaca pendapat dari Abah Ihsan di sini.

Berbicara mengenai kurban, maka tidak akan bisa lepas dari peristiwa saat Allah meminta Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putra kesayangan yang telah ditunggunya sekian lama, Nabi Ismail. Tentunya sebagai hamba Allah yang ta'at, baik Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menyanggupi perintah Allah tersebut. Bahkan Nabi Ismail menguatkan ayahandanya untuk tidak ragu-ragu melaksanakan perintah tersebut.



Berkaca dari kisah ini ada banyak hal yang bisa kita gali, salah satunya adalah bagaimana cara Nabi Ibrahim mendidik putranya hingga menjadi anak yang sholeh dan berbakti. Padahal kita tahu, Nabi Ibrahim tidak membersamai Nabi Ismail di masa kecilnya. Ismail kecil dan ibunya, Siti Hajar, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di Makkah yang saat itu masih berupa padang pasir yang sepi dan belum berpenghuni seramai sekarang.

Siti Hajar hanya bertanya kepada suaminya, "Wahai suamiku, apakah ini perintah Allah, jika memang ini perintahNya, aku ikhlas." Nabi Ibrahim pun mengangguk, "Iya, istriku. Ini perintah Allah."

Ketaatan keluarga Nabi Ibrahim menjadi salah satu inspirasi Idul Adha yang tak akan pernah lekang oleh waktu. Apapun yang Allah perintahkan, sesulit dan setakmungkin apapun di dalam logika manusia, mereka laksanakan sebaik mungkin. Semoga ini menjadi pengingat buat kita untuk selalu "dengarlah, dan taatlah."

Begitulah kemudian Nabi Ibrahim meninggalkan anak dan istrinya di Makkah dan beliau kembali ke Palestina. Bertahun-tahun lamanya tak berjumpa, hingga ketika masa-masa perjumpaan yang dinanti tiba, Allah menurunkan perintah kurban kepadanya. 

Mengapa Nabi Ibrahim dan Siti Hajar bisa mendidik Nabi Ismail seshalih itu, tentunya kita perlu belajar dan menggali hikmah dari do'a yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim. Ada 5 hal yang bisa kita tarik kesimpulan dari do'a yang diucapkan oleh bapak para nabi tersebut. 5 hal ini bisa menjadi dasar bagi kita dalam mendidik anak-anak kita menuju generasi emas, generasi yang shalih dan berkarakter mulia.

Disebutkan dalam Surat Ibrahim ayat 37



Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. 

Dari ayat ini ada tiga hal yang bisa kita pelajari berkaitan dengan pendidikan anak:
1. Potongan ayat berikut ini  "aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati" memberikan sebuah pelajaran kepada kita bahwa ketika mencari tempat tinggal/ rumah sebaiknya carilah yang dekat masjid atau musholla. Dengan memilih rumah yang dekat dengan masjid/ musholla, diharapkan anak-anak akan akrab dengan suara azan, murottal dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang akan menuntunnya menjadi anak-anak yang cinta masjid.

"Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat"
Tentunya tidak hanya dengan memilih rumah yang dekat masjid, namun setelahnya juga harus diimbangi dengan stimulasi yang tepat dari kedua orang tuanya. Membiasakan sholat, bahkan wajib hukumnya untuk sholat berjama'ah bagi laki-laki. Ibunya pun bisa mendampingi ketika anak ikut sholat berjama'ah bersama ayahnya di masjid untuk mengawasi agar anaknya sholat dengan tertib dan tidak mengganggu jama'ah yang lain.

2. Sementara potongan ayat yang ini "maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka", menitikberatkan kepada pentingnya penanaman dan pendidikan karakter sejak dini. Tentunya kita malas kan berdekatan dengan orang yang sombong, acuh, tidak suka bekerjasama, nyinyir dan berbagai karakter buruk lainnya? Begitu juga orang lain, pasti tidak akan mau berdekatan dengan kita jika akhlak dan karakter kita buruk seperti itu. Maka, pesan yang tersirat dari potongan ayat ini adalah  jika kita ingin dicintai oleh orang lain, maka perbaikilah dan perbaguslah akhlak kita.

3. Potongan ayat yang paling akhir "berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur" secara tersirat mengajarkan agar kita mendidik anak-anak kita untuk tumbuh sebagai orang-orang yang rajin mencari nafkah. Allah memang telah mengatur rizki para hambaNya sesuai dengan kebutuhan, secara sama rata. Namun jika kita melihat ada orang yang sukses, sedang di satu sisi ada orang yang hidupnya serba kekurangan, itu semua karena setiap orang menjemput rizki dengan cara yang berbeda. Jika kita merasa saat ini masih selalu merasa kurang, kebutuhan tidak tercukupi dengan baik, cobalah instropeksi diri bagaimanakah ibadah kita. Karena mencari rizki bukan semata-mata soal berangkat pagi pulang malam. Seringkali kita lupa bahwasanya ibadah dan ketaatan kita berbanding lurus dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah. Dan seringkali kita lupa untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang telah kita dapatkan. Bersyukurlah maka Allah akan melipatgandakan kenikmatan tersebut.

Video dari Yufid TV ini bisa memberikan kita inspirasi mengenai mencari nafkah yang baik;


Selain belajar dari Surat Ibrahim ayat ke-37, kita juga bisa mengambil hikmah dari ayat ke-40,


yang memiliki arti;

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku (itu).

4. Masih berkesinambungan dengan pesan yang pertama yaitu tentang memilih rumah di dekat masjid, diharapkan agar anak-anak tumbuh mencintai masjid dan kebaikan. Tentu saja tidak ada kebaikan yang lebih besar selain menjadi anak-anak yang rajin mendirikan shalat karena shalat adalah tiang dari agama. Ketika shalat seseorang runtuh, maka runtuhlah agamanya. 

Shalat juga merupakan terminalnya tubuh. Mengapa Allah memerintahkan shalat Subuh di pagi hari? Tidak lain karena bangun di pagi hari akan menyegarkan badan dan membuat kita lebih semangat beraktivitas. Bandingkan dengan orang-orang yang selalu telat bangun, mereka akan cenderung beraktivitas secara grusa-grusu dan mood-nya tidak baik sepanjang hari. Jarak antara shalat Subuh dan Dzuhur yang cukup panjang menyiratkan bahwa setelah beraktivitas setengah hari, tubuh manusia membutuhkan istirahat. Shalat dzuhur memberikan kesempatan kepada kita untuk refresh hati dan pikiran sebelum memulai aktivitas selanjutnya. 

Berbeda dengan jarak shalat Subuh dan Dzuhur yang cukup panjang, jarak antara shalat Dzuhur dan Ashar, Ashar ke Maghrib, juga Maghrib ke Isya' relatif pendek. Hal tersebut menyiratkan bahwa tubuh manusia di waktu-waktu tersebut tenaganya sudah tidak full, oleh karenanya perlu titik-titik pemberhentian agar tubuh dan pikiran tetap fresh dan bisa beraktivitas secara maksimal. Sementara itu jarak antara shalat Isya' ke Subuh sangat panjang dikarenakan saat itulah merupakan waktu istirahat untuk tubuh kita. Masya Allah, Allahu Akbar. Betapa Allah telah mengatur semuanya dengan begitu sempurna. Semoga kita termasuk golongan yang tidak pernah meninggalkan shalat. Aamiin.

Adapun pelajaran terakhir dari Nabi Ibrahim dalam mendidik anak yang bisa kita jadikan inspirasi Idul Adha diambil dari Surat Ibrahim ayat ke 41;



Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan hisab (hari kiamat).

5. Dari ayat ini tersirat sebuah hikmah bahwasanya kita harus mengajarkan anak-anak kita untuk birrul walidain atau berbakti kepada kedua orang tua. Tentunya untuk bisa mencetak anak-anak yang tak lupa berbakti kepada orang tuanya, kita patut untuk menjadi orang tua yang tidak durhaka, yaitu orang tua yang telah menunaikan kewajibannya sebagai orang tua dan memenuhi hak-hak anak untuk dididik sesuai Quran dan Sunnah. Ayat ini juga mengajarkan kita untuk saling berbuat baik dan mendo'akan kepada sesama muslim.

Wah, ternyata inspirasi Idul Adha dari Surat Ibrahim begitu dahsyat ya. Semoga dari ayat-ayat ini kita bisa belajar untuk menjadi orang tua-orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita.

Salam semangat dan selamat menyambut Idul Adha!
Wassalammu'alaikum.


P.S.
Ditulis ulang berdasarkan materi yang disampaikan oleh ustazah Nurul Fadhillah pada kajian bulanan Majelis Taklim Zahira Griya Klipang  Asri II R Baru, RT 007 RW 018, Kelurahan Sendangmulyo Tembalang Kota Semarang, pada Jum'at, 26 Agustus 2016.

Jika ada kesalahan dalam menyampaikan ulang materi tersebut dalam bentuk tulisan maka kesalahan terletak padaku yang teledor dalam mencatat atau menangkap isi materi.
Semoga bermanfaat.






Wednesday, September 7, 2016

Serunya Reuni SMA dan 6 Manfaatnya



Hi, pals!

Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar kata 'reuni'? Sebagai mantan-mantan abegeh, pasti masa sekolah sudah berlalu cukup lama ya. Seringkali reuni menjadi hal yang paling dinanti oleh sebagian besar dari kita. Berkumpul kembali dengan teman-teman seperjuangan semasa sekolah atau kuliah bisa memotivasi semangat hidup yang mungkin mulai berjalan stagnan. 



Teman-teman seangkatan dan sejurusanku waktu kuliah biasanya mengadakan reunian setiap tahun sekali. Biasanya diadakan saat libur lebaran idul fitri. Namun sudah dua kali ini aku absen datang dikarenakan lokasi acara yang di tengah sebuah mall besar di Semarang tidak membuat anakku nyaman untuk lari-lari. Terakhir datang reuni yang ada Ifa tantrum saking bosannya, jadilah sekarang mikir-mikir kalau mau datang reuni, hihi.

Ada sebuah acara reuni yang sangat berkesan bagiku, yaitu reuni SMA kelas tiga bahasa yang diadakan sekitar lima tahun yang lalu. Aku agak lupa kapan tepatnya, yang pasti saat itu Ifa masih umur setahun atau malah belum ada setahun. Sampai saat ini kami belum pernah bertemu kembali, meski rencana demi rencana reuni sudah diagendakan tapi mengumpulkan orang-orang dengan aktivitas yang sudah berbeda-beda, juga tempat tinggal yang sudah berpencar-pencar memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. 



Apa sih yang seru dari reuni? Berkumpul kembali dengan teman-teman yang dulu masih umur belasan dan ababil, kemudian bertemu saat sebagian besar sudah punya pasangan dan anak. Yang seru ketika terungkap fakta bahwa pasangannya ternyata juga sama-sama teman sekelas, atau kakak kelas. Langsung deh dikepoin ceritanya, hehe.

Namun ternyata tidak semua orang menyukai momen-momen reuni. Ada beberapa orang yang merasa minder ketika diajak reuni karena merasa kondisinya belum semapan teman-temannya, merasa reuni hanya jadi ajang pamer, merasa belum menjadi apa-apa padahal teman-temannya banyak yang sudah sukses, sampai takut ketemu mantan dan terjebak nostalgia. Padahal ketakutan dan kekhawatiran seperti itu nggak perlu terjadi ya, apalagi kalau kita tahu ternyata setidaknya ada enam manfaat dari reuni sekolah. 

6 Manfaat Reuni Sekolah

1. Sebagai Ajang Silaturahim

Tentunya kita tidak ingin jalinan pertemanan yang sudah terbina cukup lama terputus begitu saja. Reuni bisa menjadi ajang untuk menjalin silaturahim. Kita jadi tahu kabarnya teman-teman dan guru-guru. Melalui reuni kita juga bisa saling bertukar informasi-informasi penting sehingga bisa menambah wawasan dan pandangan kita. 


2. Mengenang Masa-masa Sekolah

Buatku reuni merupakan salah satu pil awet muda. Saat reuni  memori kita seperti dilepaskan kembali ke masa-masa sekolah. Mengenang kelucuan, kekonyolan dan kenakalan semasa sekolah bisa membuat kita terbahak dan melupakan masalah hidup yang mungkin sedang membelenggu. Banyak tertawa di hari itu bisa mengurangi kerut ketuaan dan menumbuhkan kebahagiaan.


3. Memperkuat Koneksi Pertemanan

Selain sebagai ajang silaturahim, reuni sekolah bisa memperkuat jaringan pertemanan kita. Bahkan tak jarang dari reuni sekolah bisa menjadi ajang bisnis yang cukup oke. Bertemu dengan banyak teman yang kini memiliki profesi beragam bisa menjadi pembuka jalan untuk memulai bisnis bersama. Apalagi kalau ada teman yang lagi cari content writer untuk bisnisnya, langsung dah sodorin kartu nama, hehehe.


4. Sebagai Ajang Bakti Sosial dan Penggalangan Dana

Tak jarang saat reuni kita mendapat informasi mengenai kondisi teman atau guru yang sedang sakit atau tertimpa musibah. Mumpung lagi ketemuan akhirnya bisa jadi ajang untuk sekalian menggalang dana dan melakukan bakti sosial untuk meringankan kesusahan teman dan guru tersebut. Jangan sampai reuni hanya jadi ajang hura-hura, namun juga ajang untuk saling menolong.

5. Mengusir Kegalauan

Hidup pasti penuh masalah. Ada kalanya kita terlalu disibukkan oleh segudang aktivitas yang menjemukan hingga tidak punya waktu untuk tertawa. Saat reuni inilah kita bisa banyak tertawa karena bertemu dengan banyak teman dan segala kenangan masa sekolah yang pasti lucu dan seru. Meski hanya beberapa jam ketemuan, dijamin rasa galau yang tadinya menempel di hati dan otak tiba-tiba hilang, berganti dengan kegembiraan yang membuncah.


6. Memperpanjang Usia

Salah satu manfaat silaturahim adalah memperpanjang usia. So, kalau kita datang ke acara reuni bisa jadi sarana untuk memperpanjang usia lo. Mau nggak punya usia yang panjang? Mau dong ya... asal usianya berkah tentunya, hehe. 

Namanya juga sebuah agenda kehidupan ya, pasti ada sisi negatif dan positifnya. Tinggal bagaimana kita memandang dan menanggapinya. Buatku sih reuni adalah sebuah momen  yang cukup seru dan patut untuk selalu ditunggu.



Ini ceritaku tentang reuni, bagaimana denganmu?