Monday, March 28, 2016

“Be Yourself”, Cukupkah untuk Menghadapi MEA?

Be Yourself, Cukupkah untuk Menghadapi MEA?



Finally, touch down kembali ke ‘istana’ku setelah libur sekian hari. Berhibernasi ceritanya, tapi bohong. Menulis sih setiap hari, tapi menulis di blog sendiri selalu membawa kenikmatan yang berbeda. Alhamdulillah, di kala banyak ide hampir terbuang, ada tantangan dari Mbak Ani Berta di grup Fun Blogging. ONE DAY ONE POST!

Sebenarnya ini bukan hal yang pertama aku jalani. Beberapa bulan yang lalu, aku pernah juga ikut ODOP semacam ini di salah satu grup blogging, tapi akhirnya tidak selesai hingga batas waktu yang ditentukan. Hiks.

Bismillah, semoga aku berhasil menaklukkan tantangan yang ini ya. Aamiin.

Menengok daftar tema yang disodorkan, hampir mundur teratur nih ceritanya. Tapi, masa mau kalah sebelum bertanding?  Enggak lah. So, this is it.

Let’s talk about MEA!

Apa itu MEA?

Aku sendiri sebenarnya awam soal MEA. Beneran deh soal yang seperti ini aku suka kudet. Coba tanya soal Uttaran, pasti aku… nggak ngerti juga, hehe.

Masyarakat Ekonomi Asean
Taken from Selasar.com
Singkatnya, MEA yang merupakan singkatan dari Masyarakat Ekonomi Asean adalah sebuah era pasar bebas. Di era ini kita bisa dengan lebih mudah menjual produk kita ke negara-negara Asean, dan sebaliknya produk-produk dari negara Asean lainnya pun akan lebih mudah masuk ke Indonesia. Bahkan bukan hanya produk, tenaga kerja dari negara-negara Asean juga bisa saling lintas negara. Artinya, persaingan dalam bisnis dan pekerjaan akan semakin tinggi.

Kalau bayangin yang beginian, suka ngeri juga ya. Bersaing sama produk-produk dan tenaga kerja di tingkatan lokal saja kadang sudah bikin mengkeret ya, apalagi harus bersaing dari tenaga kerja dan produk dari seluruh Asean.

Peta Masyarakat Ekonomi Asean
Taken from new.hargatop.com
Tentunya untuk mengatur jalannya pasar bebas ini, pemerintah juga sudah mempersiapkan banyak aturan. Salah satunya, tenaga kerja dari negara Asean lainnya harus mampu berbahasa Indonesia dengan baik sebelum diterima bekerja di negara tercinta ini. Bahkan, ada sertifikasi khusus yang harus dilalui untuk membuktikan kemampuan tersebut.

Lha, yang dari luar saja wajib bisa berbahasa Indonesia. Kita yang asli Indonesia juga harus semakin meningkatkan kualitas diri dong. Masih mau begitu-begitu saja? Malu aah sama kucing, miaw miaw miaw.

More Than “Be Yourself”

Seringkali kita terbuai dengan kalimat sederhana “be yourself”. “Jadilah dirimu sendiri”, katanya. Di era MEA ini, terkadang ungkapan tersebut bisa menjadi boomerang untuk diri kita lo.  Bersembunyi di balik kata-kata ini, seringkali kita menyembunyikan rasa malas untuk mau berkembang, enggan mencoba untuk terus belajar dan memperbaiki diri agar menjadi sosok yang lebih baik.

“Aku ini ya begini.”

“Aku ini ya bisanya begini.”

“Udah deh, gini aja, kan setiap orang punya kelebihan dan kekurangan.”

“Ya emang aku bisanya cuma begini.”

Dan berbagai perkataan umum lainnya yang sering kita dengar, atau bahkan tanpa sadar kita ucapkan.

Well, berdalih dengan ketidaksempurnaan yang kita miliki, seringkali kita takut untuk melakukan sesuatu di luar batas. Padahal, untuk mencapai kesuksesan itu kadang kita tidak hanya perlu berjalan, namun juga berlari bahkan mendobrak comfort zone kita.

Sudah sebaik dan sekualitas apakah diri kita hingga yakin merasa sangat pantas untuk menyandang taglinebe yourself” di pundak kita?

Tak sadarkah jika perasaan-perasaan dan keinginan menjadi diri sendiri ini justru terkadang malah mematikan fitrah kita untuk menjadi manusia pembelajar? Sejatinya Allah mendesain kita untuk terus mencoba dan mencoba lagi. Merasakan jatuh dan kemudian bangkit lagi. Sebagaimana bayi belajar tengkurap, duduk, merangkak kemudian berjalan. Begitulah sejatinya manusia, tidak boleh puas di satu titik,  sampai mencapai proses pembelajaran tertinggi.

Wah, kalau gitu jadinya nggak bersyukur atas kemampuan dan keadaan diri sendiri dong?

Masalahnya, batas antara bersyukur dan tidak mau berusaha itu kadang tipiiiiis banget. Jika bersyukur yang dimaksud adalah kondisi yang pasif tanpa ada kemauan untuk perubahan ke arah yang lebih baik, maka bukan bersyukur seperti itu yang Allah inginkan.

Bersyukur itu aktif. Tidak hanya say ‘Alhamdulillah.. Tapi proses di balik ‘Alhamdulillah’ itu meliputi proses belajar, berusaha dan tidak stagnan.

Itulah kenapa merubah mindset untuk tidak sekedar “be yourself” harus diupayakan, apalagi dalam menghadapi MEA seperti saat ini.

“Saat ini memang aku baru bisa begini, tapi besok aku akan mencoba A, B, C, bahkan Z.”

Semangat seperti itulah  yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri. Untuk menjadi better person, kita butuh rencana, butuh perjuangan, tidak sekedar anteng di tempat.

Tidak Sekedar Menjadi Diri Sendiri

IRT, Blogger dan MEA

Sebagai seorang ibu rumah tangga, untuk menghadapi MEA aku nggak muluk-muluk. Pengen mencetak anak-anak yang tidak sekedar ngerti soal Upin-Ipin, Spongebob, atau Pak Somat. Harapannya sih anak-anakku kelak bisa mengerti soal agamanya, menjalani dan menyebarkan betapa indahnya agama yang dianutnya.

Dan untuk menuju ke arah itu, sebagai seorang ibu, aku tidak boleh berhenti belajar. Bagaimana mungkin berharap mencetak anak sholih sholihah jika orang tuanya saja belum di level tersebut. So, yang aku lakukan sekarang, aku harus belajar agama lebih baik dengan ikut berbagai kajian agama, memperbaiki kembali bacaan al Quran, dan segala macam yang berkaitan dengannya. Intinya, mengusahakan no outsourcing untuk urusan agama bagi anak-anak.

Apa hubungannya coba MEA sama agama? Weiss, agama inti dari segalanya. Kita tidak bisa memisahkan agama dari semua lini kehidupan kita. So, ketika agama sudah sesuai relnya, insya Allah lini yang lain akan mengikuti.

Selain belajar lebih baik soal agama, aku juga ingin belajar menjahit, memasak, hidroponik dan beberapa life skill lainnya agar kelak bisa kuwariskan kepada anak-anakku. Life skills jauh lebih penting jika dibandingkan dengan angka-angka di raport yang tidak bisa menggambarkan apapun.

Sedangkan sebagai seorang blogger, aku merasa perlu untuk belajar lebih banyak lagi agar bisa memberikan tulisan yang lebih berkualitas dan desain blog yang lebih cantik. Apalagi aku punya mimpi untuk jadi blogger yang go international (macam Agnes Mo aja, hihi), maka belajar dan belajar terus adalah keharusan.

Yang pasti, kualitas diri harus selalu ditingkatkan dari sekarang. Kalau kemarin bahasa Inggris cuma bisa  yes or no, sekarang mulai berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan lebih baik. Kalau kemarin masih nulis soal curcol ini dan itu, hari ini mulailah untuk menulis tentang tips ini dan itu yang bermanfaat bagi orang banyak. Kalau kemarin kerja di rumah dengan pakaian apa adanya, hari ini mulai belajar untuk rapi dan lebih professional. Meski kerja di rumah, berpenampilan professional itu bisa melecut untuk lebih semangat menyelesaikan to do lists yang tertunda lo.

Ngomongin soal “be better self”, pernah bermain outbound 9 titik? Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari game tersebut dalam proses menghadapi MEA. Mau coba?

Game 9 Titik


Sambungkan kesembilan titik tersebut dengan empat tarikan garis tanpa terputus.” Kalau bisa, share ya hasilnya dan apa yang bisa didapatkan dari permainan itu?

Selamat menjadi pribadi yang lebih baik!

Selamat menghadapi MEA!



#OneDayOnePost FunBlogging Day 1






Marita Surya Ningtyas





11 comments:

  1. Sepakat dengan be your self, dan terus mengembangkan diri
    salam sukses

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih. Salam sukses dan salam kenal :)

      Delete
  2. Semangat dan upgrade diri hadapi MEA, Yes! Hehehe

    ReplyDelete
  3. Tulisan yang bagus mbak Marita, saya seperti disentil untuk lebih greget lagi nih :)

    Terus teka-tekinya itu jawabannya apa mbak? :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Anjar. Dicoba dulu mbak, sambungkan 9 titik tersebut dengan 4 garis tanpa terputus :)

      Delete
  4. tulisannya kece mbak..aku juga mulai nyiapin MEA dengan bercas cis cus bahasa inggris biar ga ketinggalan dg neg lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuih mantap mbak.. bahasa Inggris saya malah mulai terkikis gara2 nggak pernah dipake :D :D

      Delete
  5. Hahahaa aku tauu jawabannya yang 9 titik ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... pastinya dong kalau mbak Shinta :)

      Delete
  6. Sebentar, saya mau fokus sama 9 titik itu dulu hihihi

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.