Thursday, March 31, 2016

Ketika Delapan Hari Lagi Maut Menjemputku…




Kematian adalah nasihat terbaik.” Aku pernah membuat status singkat itu di timeline Facebook beberapa minggu yang lalu. Saat itu aku menulisnya setelah mendengar kabar suami dari salah seorang kawan telah berpulang untuk selama-lamanya.

Ya, kematian memang selalu menjadi nasihat yang terbaik. Nasihat bagi siapapun yang masih beruntung bisa merasakan kehidupan ketika manusia lain ada yang telah diminta kembali kepada pemilik seluruh alam dan kehidupan, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sejak 2011, secara berturut-turut aku harus mengikhlaskan kepergian empat anggota keluarga yang aku cintai untuk selama-lamanya. Eyang putri dan Bapak pada tahun 2011, adik kandungku pada tahun 2013 dan eyang kakung pada tahun 2014.

Dari empat kali kehilangan secara berturutan itu, aku menyadari bahwasanya Allah selalu memiliki cara terbaikNYA. Untuk kita, kehilangan orang-orang yang kita cintai, baik secara mendadak ataupun tidak, mungkin mengejutkan, menyedihkan, mengecewakan, namun untuk Allah itulah jalan yang terbaik. Baik bagi yang berpulang, maupun yang ditinggalkan.

Setiap kali berita kematian datang mendekati telinga, aku juga seakan ditampar. “Apa sudah cukup bekalmu menghadapi kematian?


Di antara empat kepergian dari anggota keluarga tercinta, kepergian adik adalah hal yang paling tak terduga. Tanpa sakit, tanpa kata, tanpa firasat. Meski memang sedari kecil ia telah mengidap penyakit jantung bawaan, namun sejak ia lepas dari rawat jalan di usianya yang keenam, penyakit itu tak pernah mengganggunya kembali. Meninggalkanku, meninggalkan ibu yang telah bergelut dengan stroke-nya belasan tahun. Kepergiannya membuatku belajar bahwa kematian tidak mengenal usia. Tua muda bukan jaminan cepat atau lamanya kematian akan menghampiri. Sehat sakit juga bukan patokan seberapa cepat Izrail akan menjemput.

Berita kematian selalu berhasil membuat aku tersungkur dalam sujud yang dalam. Berharap bahwasanya semoga aku memiliki cukup waktu untuk mengumpulkan bekal-bekal yang terbaik sebelum kembali kepadaNYA. Namun seringkali ketika berita itu mulai menjauh pergi dibawa waktu, sujud-sujud yang dalam perlahan mulai pergi. Rutinitas keduniawian lebih menggoda untuk dijalani daripada sekedar bertafakur dan bermuhasabah diri.



Ketika yang berusia lebih muda saja bisa berpulang lebih dulu, maka sudah sepantasnya aku tak lagi berleha-leha mengumpulkan bekal akhirat. Bukankah tujuan kehidupan yang sebenarnya adalah mati? Namun mengapa seringkali kita lupa mempersiapkan kematian terbaik?

Hmm, mungkin aku yang terlalu bebal memahami atau terlalu pongah dengan apa yang kupikir telah kumiliki? Sedang amal-amal tidak akan berarti jika tanpa rahmatNYA. Maka, jika delapan hari lagi maut itu datang menjemputku, hal-hal inilah yang akan aku lakukan;

  1. Kematian tidak seharusnya ditakuti karena itu hal yang pasti. Namun manusiawi ketika rasa takut itu muncul, apalagi ketika diri ini menyadari betapa dalam delapan hari apa yang bisa dilakukan untuk mempersiapkan kematian yang terbaik. Di sisi yang lain, aku justru akan bersyukur dengan sangat karena aku bisa mengetahui bahwa dalam delapan hari ke depan maut akan segera datang. Itu artinya Allah begitu menyayangiku hingga IA memberinya waktu untuk melakukan hal-hal yang bisa aku lakukan. Meski singkat, maka delapan hari itu adalah anugerah yang luar biasa. Selain sujud syukur, aku akan memperbaiki sholatku. Jika sebelumnya aku sering tak tepat waktu memenuhi panggilanNYA, maka di delapan hari terakhirku aku ingin secepat mungkin hadir memenuhi kewajibanku. Tidak hanya sholat wajib yang akan kupenuhi, dalam delapan hari terakhirku, akan kudirikan sholat-sholat sunnah untuk menggenapi pertobatanku yang masih tercecer tak beraturan. Akan kuperbaiki pula bacaan Quran-ku, puasa-puasa sunnahku, sedekahku. Waktu yang sempit untuk menambah pemberat kebaikan.
  2. Jiwa seorang mukmin itu terkatung-katung dengan sebab utangnya sampai hutang dilunasi.” Maka dalam jangka waktu yang tersisa, aku akan berusaha menutup hutang-hutang yang masih aku miliki. Tidak hanya hutang yang berupa materi, namun juga hutang-hutang non fisik yang mungkin pernah aku ucapkan. Salah satu hutang non fisik itu ialah menyelesaikan kumpulan cerpen untuk adikku yang hingga hari ini aku tidak mampu meneruskannya karena setiap kali aku memulai menulis, air mata akan bercucuran sangat deras. Dalam delapan hari yang tersisa, aku akan menyelesaikan tulisan itu sebagai sebuah memorial untuknya dan kubagikan kepada sahabat-sahabatnya sebagaimana rencanaku sejak awal aku memiliki ide pembuatan buku tersebut. Selain menyelesaikan kumpulan cerpen itu, aku juga akan menyelesaikan hafalan juz 30. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri untuk bisa memberikan jubah terindah untuk ibuku di akhirat nanti. Dan jubah itu hanya akan bisa diberikan kepada orang tua yang anaknya mampu menghafal Al Quran. Meski tidak memungkinkan untuk bisa menghafal semua juz, setidaknya aku ingin sekali menuntaskan juz 30 sebagai persembahan untuk ibuku.
  3. Tidak akan ada maaf dari Allah sebelum orang-orang yang pernah kita sakiti ridha dan memaafkan kesalahan kita. Maka dalam delapan hari yang tersisa, aku ingin bersilaturahim ke rumah kerabat, teman, dan tetangga untuk meminta maaf atas segala kesalahan yang telah aku perbuat, baik yang aku sengaja maupun tidak. Dan tentunya kepada suami, ibu dan anakku lah aku harus meminta maaf pertama kali. Karena mereka lah yang selama ini tinggal dan menjalani kehidupan bersamaku. Selain itu, aku juga akan berziarah ke makam-makam para anggota keluarga yang telah mendahuluiku.
  4. Aku ingin mengajak suami ke jembatan tol manyaran. Sebuah tempat paling memorable untuk kami. Tempat dimana pertama kali ia menyatakan perasaannya kepadaku. Sebelum kematian menjemputku, aku ingin datang sekali lagi mendengarkan kata cintanya dan aku akan ungkapkan betapa aku tak pernah menyesal menjadi sigaraning nyawa-nya.
  5. Di hari terakhir sebelum malaikat Izrail mencabut nyawaku, aku ingin mengunjungi Salatiga. Di perjalanan menuju ke kota yang mengukir banyak cerita dalam kehidupanku itu, akan kuserahkan sebuah surat kepada anakku. Surat yang berisi wejangan tentang hidup, yang mungkin tak bisa kusampaikan secara langsung karena waktuku terlalu sempit untuk berkata-kata. Di Salatiga, aku ingin bertemu dengan sahabat-sahabat di masa putih abu-abu, berfoto bersama mereka dan keluargaku. Lalu aku ingin mengunjungi rumah masa kecilku, rumah dimana pernikahanku digelar, dan aku ingin menghembuskan nafas terakhirku di sana. Di pelukan suami tercinta. Dan saat nyawa ini tercerabut dari tubuh, aku tak ingin ada isak tangis yang terdengar. Aku ingin dihantarkan dengan senyuman.


Ya, kematian memang selalu menjadi reminder terbaik untuk setiap insan bahwa tidak selamanya kita ada di bumi ini. Maka, untuk apalah berpeluh-peluh mengejar dunia yang tak ada habisnya. Sedang akhirat hanya  mendapat second attention.

Sayangnya, kematian tidak diwartakan, maka tak akan ada persiapan terbaik dalam waktu singkat. Persiapan terbaik harus dimulai tanpa kata nanti.







Marita Surya Ningtyas


16 comments:

  1. hal yang paling aku takuti ialah saat aku mati tak ada bekal untuk menghadap kepada Allah

    ReplyDelete
  2. Aku malah nangis dewe baca ini..., memang benar kematian adalah nasihat terbaik.
    Mb Marita selalu pandai merangkai kata-kata, gud lak ya...semoga menang ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang nulis aja sambil dredeg kok mbak. Aamiin :)

      Delete
  3. Cara nenpersiapkan kematian yang bagus. Ngeri ngomonginnya tapi pasti terjadi padaku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngeri-ngeri sedap deh kalau ngomongin kematian :)

      Delete
  4. Artikelnya keren mbak, banyak hikmah yang bisa di ambil dari artikel ini, terima kasih ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah jika bermanfaat. Terima kasih juga sudah berkunjung :)

      Delete
  5. Tulisannya mbak Marita selalu ngejleb deh, bagus dan tidak kehilangan kata-kata. Ayo tebak, ini menang lagi pasti hehe

    Sukses ya mbak GA nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah.. Yang paling penting bisa membawa manfaat mbak, masalah menang itu bonusnya hehehe. Sukses GA nya juga untuk mbak Anjar!

      Delete
  6. iya mbak, kalau saja kematian semua orang mengetahuinya
    pasti banyak org2 yang ketika akan mati
    berlomba2 berbuat baik.
    reminder banget utk selalu berbuat baik
    dengan mempersiapkan kematian sebaik mungkin
    supaya bisa khusnul khatimah ketika kembali pada-Nya
    Amin

    Salam Kenal, mba
    Sukses utk GA nya ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga mbak. Sukses juga untukmu :)

      Delete
  7. benar.. kematian adalah sebaik2 nasehat... *aku nangis juga.. :(

    ReplyDelete
  8. Terimakasih tulisannya Mba, so touchyy.. Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Doa yang sama terlantun untukmu. Makasih Mbak.

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.