Friday, April 1, 2016

Deteksi Dini Orientasi Seksual pada Anak, Bisa Kah?


Yuhuu, tema One Day One Post-nya hari ini bebas alias tidak ditentukan. Kali ini aku mau ngobrolin soal LGBT aah. Tau kan ya LGBT? Kali ini aku lagi nggak ngaco kok bikin singkatan baru. Yup, Lesbian, Gay, Biseksual and Transgender. Eits… santai, jangan langsung serius gitu dong. Raut mukanya biasa saja, sikap duduknya nggak usah diubah juga… rileks, kaya di pantai, hehe.
Beberapa waktu lalu topik tentang LGBT memang sempat memanas banget ya di negeri tercinta kita ini. Baik yang pro ataupun kontra sama-sama alot dan kekeuh memegang opininya masing-masing. Pihak yang pro memberikan segudang alasan, dari yang katanya ilmiah sampai soal pelanggaran hak asasi manusia. Pihak yang kontra pun tak mau kalah aksi, terutama mereka yang mengusung dalil-dalil agama.
Tapi saat ini aku tidak berminat membahas soal pro dan kontra pada LGBT, karena ada permasalahan yang lebih pelik dari sekedar gembar-gembor soal hal itu; tentang bagaimana memberikan perlindungan dan penjelasan kepada anak-anak kita menyangkut isu tersebut.
Kalau ada yang tanya bagaimana sikapku tentang isu ini? Dengan tegas aku akan bilang, aku punya agama, dan di agamaku sudah jelas mengatur hal tersebut. Namun tidak berarti aku sekonyong-konyong menghujat mereka.
Hidup kita sudah benar atau belum itu tidak bisa dilihat dari masa lalu dan saat ini. Bisa jadi mereka yang terlihat begitu buruk di mata kita saat ini, di masa yang akan datang justru bisa bertransformasi menjadi sosok yang lebih baik. Bahkan yang nampaknya sekarang begitu baik, belum tentu di akhir hidupnya masih tetap baik.
Kesuksesan manusia yang sebenarnya hanya akan nampak setelah mati. Maka, tak usahlah berbangga-bangga diri dengan segala amalan yang sudah kita punya. Tak perlulah pula sibuk menghujat orang lain dengan ini itu, apalagi jika kita tidak memberikan kontribusi apapun. Sosok berikut ini nampaknya bisa memberikan kita inspirasi dalam menanggapi fenomena LGBT; Sinyo Egie.

Kak Sinyo Egie melalui Peduli Sahabat mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih mengenali, memahami dan mengajak “mereka” pulang. Ya, pulang, kembali ke fitrahnya. Dan fitrah manusia, mereka hidup berpasang-pasangan berlainan jenis.
Beruntung sekali pada 21 Maret 2016 lalu, aku berkesempatan untuk belajar dan mendengarkan ide-idenya secara langsung dalam seminar yang bertajuk “Deteksi Dini Orientasi Seksual Anak sebagai Upaya Mencegah Fenomena LGBT: Kenali dan Atasi Sejak Dini.” Acara tersebut digelar oleh Fatayat NU di Aula PWNU Jawa Tengah Semarang yang letaknya di Jalan Dr. Cipto, persis di seberangnya SMK Negeri 5.

Siapakah Sinyo Egie?

Ketika belum bertatap muka dengannya, aku membayangkan sosoknya sipit, berbadan besar. Eeh, pas lihat langsung, penampilannya ikhwan banget, lengkap dengan kopiah dan jenggotnya. Tapi saat doi menyampaikan materinya, gokiiil abis.

Laki-laki kelahiran Magelang, 22 Oktober 1974 ini bernama asli Agung Sugiarto. Karena biasa dipanggil Sinyo oleh keluarga dan teman-temannya, maka dipakailah Sinyo Egie sebagai nama pena.
Sebelum aktif berkecimpung sebagai konselor yang mendampingi para penyuka sesama jenis dan mendirikan Peduli Sahabat, dulunya ia sempat bekerja di salah satu perusahaan Internet Service Provider.
Sembari bekerja, ia juga aktif menulis. Beberapa karya yang telah dihasilkannya antara lain “Anakku Bertanya tentang LGBT” dan “Pendidikan Anak Usia Dini ala Luqman.”

Gambar diambil dari blog kak Sinyo
Kecintaannya menulis lah pula yang membawanya ‘terjebak’ pada dunia yang digelutinya saat ini. Pada 2008, ia berencana untuk ikut sayembara menulis buku yang diadakan oleh sebuah publisher. Tema yang harus dipilih dalam sayembara itu ada tiga; pekerja seks komersil, perselingkuhan dan homoseksual. Setiap tema yang dipilih harus disertai dengan narasumber yang asli.
Saat itu kak Sinyo berpikir jika ia mengambil tema yang kedua dan ketiga sudah terlalu mainstream. Mencari narasumber untuk kedua tema tersebut jauh lebih kecil tantangannya dibandingkan ketika mengambil tema yang ketiga. Bisa dipastikan saingan di kedua tema pertama sangat membludak. Akhirnya ia pun nekat untuk mengambil tema yang ketiga.
Dalam proses penggarapan buku  bertema homoseksual ini, perjuangannya jelas tidak mudah. Nggak mungkin kan ia mendatangi dan menanyai setiap lelaki yang dia kenal atau tanpa sengaja ketemu di jalan, “Mas homo nggak?”
Dia pun mulai masuk ke forum-forum yang terindikasi sebagai forum berkumpulnya para gay. Di setiap forum yang didatangi ia menuliskan, kurang lebih seperti ini “Dicari gay muslim yang mau sembuh sebagai sumber penyusunan sebuah buku.”
Bukan tanggapan positif yang ia terima, justru hujatan dan cacian yang ia dapatkan. Sampai kemudian ia berhasil masuk ke sebuah forum “Hijrah Euy”. Forum tersebut dibuat oleh seorang psikolog asal Surabaya, merupakan sebuah perkumpulan para gay muslim yang merasa galau dan tidak ingin terjerat hawa nafsu yang menyesatkan itu. Singkat cerita, dari psikolog inilah kemudian kak Sinyo mendapatkan data-data mengenai penyuka sesama jenis.
Dari sinilah kemudian ia berpikir, kalau bukan kita yang membantu mereka, maka siapa lagi? Bukankah tugas manusia di dunia sudah sangat jelas; saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Maka sejak tahun 2008 itulah, kak Sinyo membuka diri untuk menjadi konselor bagi mereka yang memiliki orientasi seksual sesama jenis untuk kembali ke fitrahnya melalui Peduli Sahabat.
Tujuan didirikannya Peduli Sahabat adalah sebagai wadah untuk mendampingi orang non-heteroseksual yang ingin hidup di jalan agama dan adat setempat. Apalah mereka nanti berubah orientasi seksualnya itu bukan tujuan utama, hanya efek saja. Tujuan utama adalah mereka bisa hidup secara identitas hetero dan nyaman di jalan agama dan adat setempat. Selain mendampingi para pelaku SSA, Peduli Sahabat juga mendampingi pihak keluarga (orangtua, anak, saudara kandung) yang bingung menyikapi saat anggota keluarganya ada yang mempunyai SSA. Juga mendampingi para suami atau istri yang pasangannya mempunyai SSA.
Pada acara tanggal 21 Maret lalu, kak Sinyo Egie berpesan “jangan melawan mereka yang pro LGBT dengan alasan apapun. Semakin kita ngotot, semakin kita nggak didengar. Semakin kita keras, justru semakin tidak didengar. Berdakwalah dengan baik dan santun. Hanya Allah yang bisa membukakan hati-hati tertutup itu. Tugas kita hanya menjadi pendengar dan mengajak yang mau benar-benar sembuh.”

Cikal Bakal LGBT

“LGBT dan Same Sex Attraction (SSA) itu berbeda,” begitu kak Sinyo memaparkan. LGBT itu identitas sosial, sedangkan SSA adalah orientasi seksual, dan kedua hal tersebut sangat berbeda. Berikut kutipan dari handout seminar yang memuat FAQ mengenai hal ini, “LGBT adalah identitas sosial, semacam penerimaan diri, pencitraan, identitas formal (KTP, KK, dll), aktualisasi diri yang hadir sebagai lawan dari identitas hetero. Itulah kenapa kaum LGBT juga ingin diakui eksistensinya sebagai kaum hetero seperti persamaan pengakuan di mata masyarakat, persamaan legalisasi pernikahan dan lain sebagainya.
Sedangkan di sisi lain “SSA itu orientasi seksual sesama jenis. Misalnya ada orang yang mempunyai SSA dan pernah  melakukan tindakan seks sesama jenis tetapi dia tidak ingin menjadi LGBT maka kita tidak bisa menyebutnya sebagai LGBT. Mudahnya, seorang SSA belum tentu LGBT, tapi kalau LGB sudah pasti mempunyai SSA.”
Orientasi (ketertarikan) seksual seseorang itu bisa kita samakan dengan “niat.” Sebagai manusia, seringkali dalam diri kita muncul niat baik dan buruk. Namun tidak selamanya niat buruk itu diteruskan hingga membuahkan sebuah perbuatan yang buruk. Tidak jarang malah kita kemudian menepis niat buruk itu karena menyadari hal tersebut tidak baik dilakukan. Tentunya ukuran baik dan buruk ini harus sesuai dengan aturan agama.
Dalam Islam kita telah belajar bahwa dengan memiliki niat baik kita telah mendapatkan pahala, apalagi jika kemudian niat itu benar-benar terlaksana. Namun berbeda halnya dengan niat buruk. Niat yang buruk tidak akan dijatuhi dosa jika belum dilaksanakan. Bahkan jika niat buruk itu berhasil ditepis dan ditahan, kita akan mendapatkan pahala atas kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
Nah, begitu juga dengan SSA, selama itu masih menjadi niat maka tidak akan berdosa. Namun ketika itu telah diaplikasikan dalam bentuk tindakan, maka tindakannya itu yang dihukumi dosa.
Maka bayangkanlah jika mereka yang memiliki orientasi seksual sesama jenis menyadari hal ini. Berapa banyak pahala yang akan bisa mereka kumpulkan dari menepis setiap niat buruk yang hadir dan mengendalikan hawa nafsu tersebut.
Emang bisa gitu orang dengan SSA ini sembuh? Dengan niat dan keinginan yang kuat, Kak Sinyo membuktikan bahwa para pelaku SSA bisa kembali menjadi heteroseksual. Di Peduli Sahabat telah ada tiga orang yang berhasil “pulang.
Makanya jika nanti kita ketemu dengan orang yang tiba-tiba mengaku pada kita bahwa ia adalah seorang SSA, jangan langsung dituding sebagai LGBT dan didakwahi dengan kata-kata yang menghujam hati “Nanti kamu akan dapat azab seperti kaum nabi Luth, dan sebagainya.”
Masih banyak kok orang SSA yang tidak ingin menjadi LGBT, dia ingin hidup secara identitas hetero sebagaimana yang diajarkan dalam agama dan adat istiadat setempat. Para pelaku SSA di Peduli Sahabat menganggap bahwa orientasi seks sesama jenis merupakan pemberian (anugerah) Allah sebagai ujian berupa keburukan. Sikap yang sepatutnya diambil adalah sabar dan tetap berusaha hidup di jalan Allah dengan identitas hetero; tetap menikah dengan wanita, punya anak, dll, walau dirasa berat.
Sebaliknya kaum LGBT beranggapan bahwa orientasi seksual sesama jenis adalah anugerah Allah sebagai ujian berupa kebaikan yang harus disyukuri dengan jalan menyalurkannya kepada sesama jenis. Kalau perlu memperjuangkan hak menikah secara legal.
LGBT sendiri mulai muncul tahun 1960an di Amerika Serikat. Awalnya para gay dan pelaku sesama jenis di Amerika menginginkan pengakuan identitas  berupa legalitas, normalitas dan sosial.  Hingga hari ini ada sekitar 21an negara yang telah mengakui LGBT.
Banyak yang mendukung LGBT menyatakan “jangan menghubungkan LGBT dengan agama.” Dari statement tersebut sebenarnya sudah sangat jelas LGBT tidak mungkin bisa diakui dan dilegalkan di Indonesia. Apa mereka sudah lupa kalau Pancasila sila pertama berbunyi, “Ketuhanan yang Maha Esa”? Agama adalah hal yang tidak bisa lepas dari negara ini, karena dasar negara ini berlandaskan pada keyakinan kita kepada Tuhan. Dan sebagai manusia yang bertuhan tentunya kita ingin selalu mematuhi aturan-aturanNYA.

Menurut data yang diperoleh kak Sinyo dari hasil wawancara yang dilakukannya, hingga hari ini ada sekitar 14juta pelaku SSA dan sebagian besar adalah muslim. Kok bisa? Hey, lupa ya kalau mayoritas agama di Indonesia itu islam?
Jangan bergidik ngeri duluan. SSA bisa kok dikenali dan dicegah sejak dini. Tentunya sebagai orangtua kita wajib berperan aktif dalam hal ini.

Penyebab Terjadinya Orientasi SSA

Pada dasarnya pembelokan orientasi seksual ini terjadi pada masa-masa balita. Jika pada masa balita ini tidak direspon dan dicegah, maka semakin ia besar kecenderungan untuk menyukai sesama jenis itu semakin meningkat.
Sejauh ini adanya kepercayaan pihak yang pro terhadap LGBT tentang adanya gay gene belum terbukti. Kalau memang benar gay adalah gen seharusnya di era modern seperti sekarang ini sudah ada alat yang bisa mendeteksi orientasi seksual setiap bayi yang lahir di muka bumi, namun nyatanya tidak pernah ada alat tersebut.
Pada dasarnya ada tiga kategori utama pemicu anak balita berbelok arah menjadi SSA, dan ketiga-tiganya berhubungan dengan  pola asuh yang salah, yaitu;
  • Pemaksaan dalam mengambil role model. Misalnya, seorang anak laki-laki mengambil peran dari ibunya. Pemaksaan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti broken home, ketidakharmonisan keluarga, dominasi ibu, dominasi ayah, kekerasan rumah tangga, dll. Sekitar 60 persen klien Peduli Sahabat mengalami hal ini. Perlu disadari pula peran laki-laki sebagai ayah dalam turut serta mendidik dan mengasuh anak-anak masih sangat kurang. Laki-laki cenderung berpikiran bahwa tugas mereka hanya menafkahi istri dan anak-anaknya. Tugas mengasuh anak adalah tugasnya perempuan. Bahkan di Indonesia, sebagian besar guru PAUD dan Sekolah Dasar adalah perempuan. Sosok “ayah” dan “guru laki-laki” sering identik dengan kata menakutkan. Padahal anak-anak juga perlu gambaran tentang bagaimana laki-laki yang baik. Wahai para laki-laki, pulanglah ke rumah dan berperanlah sebagai ayah sebenar-benarnya. Ayah itu seharusnya menjadi cinta pertama untuk setiap anak perempuannya dan pahlawan pertama bagi setiap anak laki-lakinya. Jika ada anak yang berucap “aku tidak mau menjadi seperti ayah/ ibu” atau “saat besar nanti aku tidak mau menikah dengan laki-laki/ perempuan seperti ayah/ ibu”, berhati-hatilah! Karena berarti ada kemungkinan komunikasi antara anak dan orangtua terhambat. Jadilah ayah dan ibu yang baik adalah tips pertama pencegahan orientasi seksual yang berbelok.
  • Over protective (terlalu dimanja/ dilindungi). Biasanya hal ini dialami oleh anak bungsu, tunggal, satu-satunya jenis kelamin dalam keluarga atau anak istimewa (misalnya, anak yang paling ganteng, paling putih kulitnya, paling pintar, dll). Sekitar 30 persen klien Peduli Sahabat yang mengalami hal ini.
  • Salah mengambil role model secara sukarela. Berbeda dengan bagian pertama, si anak diberi kebebasan memilih model sendiri (biasanya kedua orangtua sibuk bekerja dengan materi yang melimpah, atau anak yatim piatu). Jadi secara hubungan keluarga harmonis, tapi anak-anak dibiarkan memilih model tanpa diberi contoh atau pemberitahuan. Sekitar 10 persen klien Peduli Sahabat mengalami ini. Untuk mencegah terjadinya pemilihan role model yang salah, ketika kita tidak bisa mendampingi anak 24 jam, pilihlah sekolah atau penitipan anak dengan baik. Pilihlah sekolah yang bisa menjadi partner sesuai visi misi pendidikan dalam keluarga. Untuk anak-anak yatim piatu, gantikanlah peran ayah dan ibu kepada kakek, nenek, bibi, paman, guru atau sosok lain yang tentunya bisa membantu kita dalam proses pengasuhan anak.

Tahapan Terjadinya Pembelokan Orientasi Seksual pada Anak

Kak Sinyo dalam seminar tersebut membagi tahapan dalam proses pembelokan orientasi seksual pada anak sebagai berikut;
Usia Balita

Di usia ini indikasi fisik mulai terlihat. Indikasi fisik berlawanan dengan jenis kelaminnya, misalnya laki-laki bertingkah laku seperti wanita. Namun perlu dipahami pada perkembangannya dugaan ini hanya 50 persen, karena masih ada kemungkinan biseksual, transgender, metroseksual, kultur setempat (misalnya laki-laki yang bicaranya halus ternyata orang Solo).
Selain dilihat dari indikasi fisik, pilihan karakter berkebalikan dengan jenis kelaminnya sangat dominan. Misalnya anak laki-laki suka main boneka Barbie, berdandan, animasi dengan tokoh perempuan, lagu melankolis, dll.  Lantas apa perlu dibedakan mainan untuk anak laki-laki dan perempuan? Kalau hanya sekedar mengenalkan macam-macam mainan dan permainan tidak masalah, agar anak bisa tahu variasi dan perbedaan permainan tersebut. Namun kalau sudah sampai pada pilihan, orangtua wajib menjelaskan dengan bijak apa yang sering laki-laki dan perempuan lakukan.
Ciri-ciri berikutnya yaitu ketika anak lebih senang bermain dekat dengan lawan jenis dibandingkan sesama jenis.
Usia 6-10 Tahun

Pada usia ini, pembelokan orientasi memasuki tahapan penguatan. Yang pertama penguatan lewat trauma. Namun hal ini tidak selamanya terjadi. Misalnya, terjadinya kekerasan seksual terhadap anak. Tidak selalu pelaku sodomi dulunya adalah korban, asal masa balitanya aman.
Perlu pula diperhatikan setelah anak berusia lebih dari tiga tahun, perlakukan anak dengan sopan. Jangan paksa cium, jangan memegang daerah sensitive anak. Hargai dan hormati diri anak.
Penguatan terhadap pembelokan orientasi seksual pada usia ini juga bisa dialami melalui pembentukan karakter anak. Adanya bullying terhadap anak, misal “anak cowok kok cantik banget”, “ih cowok kok melambai, banci ya,” dan sebagainya. Penguatan ini juga bisa terjadi karena kesalahan pola asuh, anak perempuan didandani dengan baju cowok dan sebaliknya. Hati-hati juga para ibu yang suka mengajak anak laki-lakinya ke salon.
Usia 11-14 Tahun (Kebingungan dan Penguatan)

Keingintahuan tentang seks pertama kali mulai berkembang. Jika orang tua tidak bisa menjadi tempat bertanya yang baik, anak-anak akan mulai mencari tahu dari bacaan, film, dan teman-temannya. Padahal informasi dari yang selain orangtua ini tidak selamanya benar dan seringnya menjerumuskan.
Pada usia-usia ini, anak juga mulai mencoba mengatasi kebingungan yang dihadapi terhadap apa yang dia rasakan dalam jiwanya. Ia mulai mengalihkannya lewat kegiatan-kegiatan seperti sepakbola, pramuka, membaca, menulis, menari dan menyanyi. Kegiatan-kegiatan yang selama ini jauh dari karakter mereka selama ini dan tidak mungkin mereka lakukan. Semacam sebuah keinginan untuk menutupi apa yang terjadi pada dirinya.
Usia 15 Tahun ke Atas (Pengkristalan)

Pada masa-masa ini anak mulai melakukan self hypnosis. Pembelokan semakin jauh menguat. Keingintahuan terhadap ‘perbedaan’ dalam dirinya semakin besar. Ia mulai mencari tahu lewat bacaan (media, buku, game, dll). Banyak pula yang menemui ustaz atau tokoh agama lainnya untuk mendapat jawaban atas permasalahannya. Yang lebih mengerikan anak-anak tersebut mulai mencari-cari kelompok yang bisa memahami mereka. Mereka mulai bergabung dengan kelompok LGBT. Tak jarang pula mereka lebih suka menyendiri.

Cara Mengatasi dan Mencegah SSA pada Anak

Peran orangtua sangat besar dalam menghindari adanya pembelokan orientasi seksual pada anak. Pola asuh yang benar sangat diperlukan. Kedekatan dan kebersamaan baik secara fisik dan emosional antara anak dan orangtua adalah kunci utama. Dengan adanya kedekatan dan kebersamaan yang intens, komunikasi antara anak dan orangtua akan tumbuh dengan baik.
Anak juga perlu dibekali dengan pengetahuan seks secara benar. Pengetahuan seks itu meliputi adab-adab pergaulan yang benar. Untuk mengajarkan adab pergaulan, setidaknya orangtua wajib mengetahui 4 komponen utama;
A. reproduksi (perbedaan gender laki-laki dan perempuan)
B. jannabah (haid, mimpi basah, dan mandi besar)
C. istidzan (pemisahan tempat tidur baik sesama jenis maupun berlawanan jenis)
D. hijab (tabir/ penutup, batas-batas aurat)
Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai pengenalan adab pergaulan ini, silakan tengok reportase acara “Belajar Sex Islami di Bening Hati Bareng Abah Ihsan”.
Bagi yang ingin belajar dan berkomunikasi langsung dengan kak Sinyo Egie mengenai fenomena LGBT dan Peduli Sahabat, doi welcome banget lo bagi yang tertarik untuk mengundangnya sebagai pembicara pada acara seminar dan sejenisnya. Bahkan ia tidak meminta bayaran, cukup sediakan transport dan akomodasi saja. Hmm, baik bangeet ya?

Kak Sinyo memang ingin Indonesia lebih melek tentang adanya SSA dan bagaimana menanggulanginya. Nah, untuk yang ingin berhubungan langsung dengannya bisa menghubungi lewat:
Facebok: Sinyo Egie
Grup Facebook: Peduli Sahabat (https://www.facebook.com/groups/pedulisahabat2014/)
Nomor Handphone: 0857 2768 6015
Email: sinyoegie@gmail.com
Blog: http://sinyoegie.wordpress.com, www.pedulisahabat.org
Insya Allah bulan Mei, Komunitas HSMN Semarang akan mengundang Kak Sinyo hadir pada sebuah seminar. Datang yuk!


#OneDayOnePost FunBlogging Day 5




19 comments:

  1. Memang ya mbak LGBT ini kalau gak diantisipasi sejak dini kepada anak-anak, bisa menakutkan banget ya mbak. Peranan orang tua sangat dibutuhkan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mbak betul banget. PR ortu jaman Semarang banyak banget :)

      Delete
  2. Replies
    1. Aiih.. Kelupaan.. Uni masuklah grup WA HSMN...

      Delete
  3. Ngeri juga ya klo anak-anak sudah kadung menjurus ke situ. Yuk, lindungi anak-anak kita dari sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Apalagi kalo ternyata terjerumusnya krn pola asuh kita yg salah. Hiks.. Berlipat2 galaunya :(

      Delete
  4. suka bgd sm kata2 ini mbk dr mas sinyo "Hanya Allah yang bisa membukakan hati-hati tertutup itu. Tugas kita hanya menjadi pendengar dan mengajak yang mau benar-benar sembuh.”
    makash shre ilmunya yak, nambah pengtahuan lg nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mbak :)
      Kadang terlalu banyak teriak2 justru gak didengar... Buktikan dengan aksi malah orang lebih appreciate :)

      Delete
  5. terimakasih mbak atas postingannya. walaupun belum menikah dan punya anak, postingan ini bantu buat kedepannya biar kita aware sama LGBT terhadap generasi penerus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak Pipit, semoga bermanfaat. Salam kenal ya :)

      Delete
  6. over protektif tak baik ya mbak buat anak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak.. Segala hal yg over pasti nggak baik.. Harus sesuai porsinya.. Bebaskan tp tetap terarah dan sesuai aturan :)

      Delete
  7. Kereen mom ..lanjutkan dakwah lewat tulisan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... Makasih mom support-nya :)

      Delete
  8. Kereen mom ..lanjutkan dakwah lewat tulisan

    ReplyDelete
  9. Replies
    1. Insya Allah tidak ngeri kalau kita bs membentengi anak2 kita :)

      Delete
  10. Semoga indonesia bebas LGBT ya, karena LGBT nya bisa disembuhkan. Aamiin

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.