Sunday, May 1, 2016

8 Pertimbangan Memilih Sekolah ala Bunda Hanifa



Wuih, mo tahun ajaran baru, banyak yang lagi bingung pilih-pilih sekolah nih sepertinya. Atau ada yang sudah menjatuhkan pilihan?

Ngomongin soal sekolah, khususnya PAUD, sebenarnya aku dulu nggak berniat nyekolahin anak ke PAUD, khususnya usia playgroup. Kalaupun PAUD ya paling TK lah… Dulu begitu. Tapi pada kenyataannya menyadari bahwa begitu menempelnya Ifa padaku, dan suka mengkeret ketika bertemu dengan banyak orang. Aku merasa aku butuh sedikit bantuan dari pihak luar. Apalagi waktu itu aku belum sesosialita sekarang ini, eeeh… Maksudnya dulu kegiatanku di luar rumah belum sebanyak sekarang, jadi aku lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah dan jarang ketemu orang-orang. Itulah kenapa aku memutuskan untuk memasukkan Ifa PAUD di usia 2.5 tahun.

Selain biar Ifa belajar bersosialisasi, sebenarnya juga bundanya butuh ketemu dengan orang-orang baru sih. Biar nggak ketemunya laptop dan dapur melulu. Kebetulan suka stuck juga di rumah mau ngapain ya sama Ifa, terutama ketika masa-masa tidak kreatif mulai muncul.

Kalau secara materi dasar anak usia dini, sebenarnya ifa udah cukup menguasai dan sesuai dengan perkembangan anak seusianya. Bahkan saat  kemudian ia sudah masuk sekolah, teman-temannya belum kenal warna, Ifa sudah lebih dulu kenal warna baik dalam bahasa Indonesia dan Inggris karena di rumah sudah terstimulasi dengan baik, insya Allah. Cuma ya itu, kalau yang nanya orang lain dia bakal tutup mulut. Beda kalau yang tanya bundanya atau ayahnya, keluar lah jawaban yang diminta dari mulutnya yang mungil. Ya, doi emang tipe introvert. Mirip sama bundanya saat seusia dia. Bedanya bundanya nggak separah itu juga sih, karena mungkin dulu nenek Ifa kerja  di luar rumah, jadi aku pun nggak 24 jam nempel sama ibuku. Beda ma Ifa yang bener-bener kaya buntut.

Jadilah kemudian kepo cari sekolah. Saat itu tahun 2014. Pikiranku sih simple, cari sekolah yang dekat rumah saja, baru nanti saat SD  aku masukin ke sekolah idaman.  Karena aku mikirnya yang penting basicnya ada pendidikan islamnya, lebih banyak bermain dan nggak ada calistung.  Toh, yang aku cari sebenarnya wadah untuk bersosialisasi.

Namun dalam prosesnya kemudian aku menyadari bahwa memilih sekolah, meski PAUD sekalipun tidak bisa sesederhana itu. Butuh banyak pemikiran dan pertimbangan. Tidak boleh hanya sekedar dekat dengan rumah. Tentunya jarak juga harus dipertimbangkan, namun tidak pada urutan pertama. Setelah dua tahun sempat ‘terjebak’ pada pilihan yang salah, menurutku sih beberapa hal ini patut dipertimbangkan saat memilih sekolah.


Yang pertama, kenali benar-benar sekolah tersebut. Kurikulum yang dipakai, konsep pendidikan yang digunakan dan bagaimana kualitas gurunya. Bukan hanya sekedar apakah para guru lulusan PAUD, namun lebih jauh lagi, guru-guru yang ada harus benar-benar passion di jalur tersebut. Karena ngajar anak usia dini itu nggak mudah. Nggak hanya harus kreatif tapi juga perlu hati yang seluas samudera. Dan yang terpenting mereka merupakan manusia-manusia pembelajar, yang nggak malas ikut pelatihan ke sana sini demi meningkatkan kualitas diri mereka. Semakin berkualitas, semakin berkarakter para pendidik di sekolah tersebut, insya Allah semakin berkualitas dan berkarakter hasil didikan mereka.

Yang kedua, konsep pendidikan di sekolah harus sesuai dengan visi misi pendidikan dalam keluarga. Karena bagaimanapun tanggung jawab pendidikan anak terletak pada kedua orang tuanya, sekolah hanyalah partner. Tentunya dalam memilih partner, kita harus cari yang klop, agar ke depannya tidak terjadi masalah-masalah yang rumit. Memang tidak akan ada sekolah yang sempurna, setidaknya carilah yang paling mendekati. Kalau untuk aku sih, sekolah yang bisa jadi partner, terutama untuk ukuran PAUD adalah sekolah yang ramah pada semua kemampuan anak. Tidak membanding-bandingkan anak, tahu menstimulasi kelebihan anak dan tidak fokus pada kekurangannya. Tidak memberikan label negative pada murid-muridnya. Tidak membombardir muridnya dengan calistung, karena aku percaya sebelum 7 tahun anak tidak wajib belajar calistung secara formal. Dikenalkan oke, dipaksa no way. Selain itu, karena aku merasa ilmu agamaku kuraaaaang pake banget, aku butuh sekolah yang bisa menjadi partner dalam hal ini. Intinya aku cari sekolah yang tidak hanya mencerdaskan anakku saja, tapi juga orang tuanya. Suka banget sama sekolah yang tidak hanya memfasilitasi muridnya dengan berbagai kegiatan yang interaktif, tidak hanya di dalam kelas, namun juga memfasilitasi orang tua muridnya dengan pelatihan-pelatihan parenting ataupun halaqah-halaqah demi terciptanya sinergi antara orang tua dan sekolah.

Yang ketiga, setelah menelisik konsep pendidikannya, berikutnya yang kutengok jelas jarak. Kalaupun kualitasnya oke, tapi jaraknya super jauuuuh dari rumah, mikir sekian kali juga lah. Kasihan kalau anak kecapekan di jalan, dan ngantuk saat pulang.

Yang keempat, namun ternyata jarak bisa dianulir juga, ketika si anak merasa dekat dan nyaman dengan gurunya. Ada seorang teman yang sekolah anak-anaknya cukup jauh, tapi anak-anaknya nggak merasa capek karena sangat menikmati pembelajaran di sekolahnya. So, syarat berikutnya yaitu guru harus bisa menjadi sahabat untuk anak. Guru harus perhatian pada muridnya. Kalau misal nggak masuk, guru bisa aktif tanya ke orang tuanya ada apakah gerangan dengan si anak. Sakitkah? Pergikah? Ada masalah dengan teman kah? Bukan diumbar, dijar-jarke berbulan-bulan tanpa ada perhatian. Sekalinya nanya "kok lama nggak masuk ya", ternyata karena ada maksud dan tujuan tertentu. Bukan karena tulus ingin tanya kondisi si anak, dan ujung-ujungnya duit :D.  

Yang kelima, gurunya selalu keep in touch dengan orang tua. Share kegiatan apa aja kah hari ini. Bagaimana respon anak di kelas. Kalau ada masalah dengan temannya di kelas, orang tuanya diberi tahu, jadi saat anak di rumah juga bisa disounding lebih baik J Yup, selain menjadi sahabat anak, guru harus bisa menjadi sahabat untuk orang tua.

Yang keenam, sekolah harus punya standar berapa jumlah siswa per kelas. Tidak dengan sesuka hati menambah jumlah siswa, bahkan hampir setiap bulan ada siswa baru. Ya, kalau gurunya bisa handle dengan baik nggak masalah, kalau nggak, mending sekolah sendiri aja lah sama ibunya di rumah. Emang ada gitu sekolah kaya gitu? Huhuhu, sayangnya ada L

Yang ketujuh, sekolah punya program kegiatan yang jelas. Rapat yang biasanya dilaksanakan di awal tahun harus memberikan informasi yang lengkap bagi orang tua. Apakah nantinya di tahun itu akan ada piknik, akan ada outing berapa kali, tema-tema kegiatannya apa, atau target-target yang berusaha dicapai apa, sehingga orang tua juga bisa ikut menstimulasi anaknya di rumah. Soal piknik punya pengalaman buruk nih. Tanpa ada pemberitahuan di awal tahun, tiba-tiba sebuah sekolah menyatakan akan mengadakan piknik sebelum akhir tahun. Tanpa rembugan dan diskusi yang bijak, sebuah kota yang cukup jauh dari Semarang menjadi tujuan. Belum lagi biaya yang sak dhat sak nyet harus dikumpulkan dalam beberapa bulan. Buat aku yang uangnya nggak banyak-banyak banget ini, jelas berasa kaya mo ditembak mati tiba-tiba ditodong uang segitu. Tanpa babibu. Di satu sisi aku juga sedang mempersiapkan biaya untuk masuk TK. Padahal masih banyak tempat edukatif yang bisa dikunjungi di Semarang dan sekitarnya, Dan anehnya tanpa mempertimbangkan ini itu, sebagian besar orang tua murid setuju, sambil berbinar-binar membayangkan asyiknya shopping di kota itu. Dengan pengalaman piknik di Ungaran setahun yang lalu, anak-anak aja udah kecapekan banget, ibu-ibunya juga kecapekan. Kalau ibu-ibu udah kecapekan, siapakah yang kena getahnya? Anak-anaknya juga kan? Huhuhu, enggak bayangin deh betapa piknik nantinya justru menjadi momen yang menyebalkan, padahal harusnya jadi momen yang asyik buat anak-anak. Dan dengan pertimbangan macam-macam, aku pilih say no dan ‘melarikan diri’ dari sekolah itu, hehehe.

Yang kedelapan, cek kebersihan sekolah. Teringat sekali wejangan dari Ayah Edy dalam seminar parenting yang aku ikuti beberapa tahun lalu, saat sedang survey sekolah, pergilah ke kamar mandinya. Sekolah dengan kamar mandi yang bersih dan terawat bisa menjadi salah satu indikasi kualitas dari sekolah tersebut. Jika ruangan yang biasa ditempatkan di area belakang saja diperhatikan sebaik mungkin, apalagi kualitas-kualitas yang lain kan? Dan aku mengamini hal ini. Pernah punya pengalaman kerja sama mengajar dengan sebuah SDIT, karena kebelet buang air kecil bergegaslah aku pergi ke sebuah kamar mandi siswa yang terdekat, dan voila….. yang terlintas di kepalaku, “ini sekolahan apa pom bensin ya?”

Kalau untuk masalah budget pendidikan sendiri, menurutku bisa disesuaikan dengan perencanaan keuangan setiap keluarga ya. Tapi kalau dari kacamataku sih, it’s okay spending much money for getting qualified result J.


Delapan hal itulah yang kemudian menjadi pertimbangan untukku dalam menentukan TK dan SD untuk Ifa. Aku tidak lagi menjadikan jarak sebagai alasan utama. Karena hak Ifa untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan tempat belajar yang nyaman lebih dari segalanya. Apapun itu tanggung jawab utama pendidikan doi sih terletak di pundakku dan ayahnya. Dimanapun doi sekolah, kami tetap harus memberikan stimulasi terbaik dan menjadi guru terbaik untuknya. Kalau moms and dads di sini, saat pilih sekolah untuknya pilih yang kaya gimana nih? Punya pengalaman buruk juga dengan sekolah ananda? Cerita-cerita yuk di sini J




12 comments:

  1. Komplit banget, Mbak. Waktu anak pertama mau masuk TK, saya cuma mikir soal jarak. Karena dalam radius 1 km dari tempat tinggal ada banyak TK, barulah pilih-pilih kriteria lain. Dan alhamdulillah pilihannya boleh dibilang nggak salah. Gurunya ngemong, kegiatannya aktif tapi juga nggak terlalu banyak untuk anak-anak, terus terlihat sekali progres anak dari bulan ke bulan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seneng ya pak. Kalau dapat sekolah yg pas dgn harapan :)

      Delete
  2. kalau sekarang mikir keras ya mak buat nyari sekolahan buat anak, milah milih ini itu.. semoga membantu yang lain juga mak postingan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena tantangan anak jaman sekarang juga beda dan jauh lebih kompleks dibandingkan anak2 jaman dulu. Tentu dibutuhkan sekolah2 yg paham akan perkembangan tersebut :)

      Delete
  3. komplit. dulu aku gak terlalu banyak memilih yang penting dekat rumah dan dapat dijangkau dengan angkot, biar anak bisa pulang sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu sih begitu. Sekarang tantangannya beda harus lebih selektif. Apalagi di tempat tinggal saya, angkot susah, jauh dekat sama saja harus antar jemput anak hehe..

      Delete
  4. Ifa dah tk ya mbak, wah bentar lagi sd dong ya, cepat besar tidak terasa ys

    ReplyDelete
  5. Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami sboplaza.com ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

    ReplyDelete
  6. postingannya sangat menarik mbak..kebersihan juga perlu diperhatikan ya..betul mbak.aku juga suka sekolah yang bersih.alhamdulilah kayaknya sekolah anakku sudah memenuhi semuanya

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.