Monday, January 23, 2017

Ketika yang Besar dianggap Remeh Temeh




Hi, pals. Masih di #10DaysKF nih. Kali ini temanya tentang hal yang aku banggakan tapi orang lain menganggapnya remeh temeh. Walah, tambah susah saja nih temanya. Finally, aku mau cerita tentang jatuh bangunnya aku bersama teman-teman Komunitas Yukjos (Yuk-Jadi Orang Tua Sholih) Semarang Chapter dalam menyiarkan pentingnya belajar parenting kepada masyarakat. 

Bergabung menjadi bagian dari orang-orang tua muda yang melek parenting buat aku sesuatu yang membanggakan, bukan membanggakan karena aku jadi sok tahu atau sok pinter. Tapi dengan bergabung bersama mereka, aku merasa tidak sendirian dalam belajar. Jadi ketika semangat belajar sedang turun, ada sahabat-sahabat yang support aku untuk kembali semangat.


Bersama mereka, kami mulai menyusun beberapa agenda rutin, seperti pembagian Auladi Bag untuk ibu-ibu yang habis melahirkan, khususnya yang tidak mampu, YukJos RT to RT, YukJos goes to school, dsb. Awalnya memang agenda kami hanya berkutat dari member untuk member, namun kemudian kami ingin berbagi lebih ke masyarakat luas, agar lebih banyak yang sadar pentingnya belajar parenting. Karena jaman sekarang beda dengan jaman waktu kita kecil dulu, tantangan dan musuhnya semakin banyak; tidak hanya  televisi, tapi ada juga gadget, internet dan sosial media. Kalau bekal ilmu nggak kuat, entah apa jadinya anak-anak kita.

Berawal dari semangat YukJos itu, aku juga mulai berbagi ke tetanggaku terutama ketika arisan PKK. Kebetulan dulu aku diamanahi untuk menjadi seksi pokja 2 yang bergerak di bidang pendidikan. Setiap pertemuan PKK, aku bagikan beberapa informasi yang aku tahu mengenai pentingnya belajar parenting, bahaya gadget, menggalakkan 1821, pendidikan seks sejak dini, dan sebagainya. Memang masih sedikit yang aku tahu, di luar sana pasti banyak yang lebih tahu, tapi bukankah sampaikanlah walau satu ayat?

Hmm, namun tahu rasanya ketika kita ngomong di depan orang banyak dan lebih banyak yang tak mendengar. Ya, dibanding ibu-ibu yang lain, aku memang jauh lebih muda. Yang lain anaknya sudah dua, tiga atau empat. Sementara aku anaknya baru satu, masih balita pula. Begitulah senioritas. Betapa jumlah anak masih menjadi patokan bahwa mereka jauh lebih tahu. Namun kenyataannya tidak juga. Nyatanya masih banyak anak-anak remaja yang saat kumpul asyik dengan gadget masing-masing, anak-anak usia sekolah yang berkeliaran tanpa tahu waktu, atau anak-anak balita yang dibiarkan hanya berpakaian dalam keliaran di jalan. Miris. 


Ya, mereka menganggap yang aku sampaikan hanya teori tanpa praktek belaka. Parenting itu makanan apa. Bahkan saat aku mengajak mereka untuk ikut datang ke sebuah seminar parenting, tanggapannya cukup menggelikan, "sudah bu Martin saja yang datang, nanti kita bayarin terus di share di sini ilmunya." Gedubrak. Aku share acara itu bukan minta dibayarin. Saat aku share ilmunya, toh nggak didengerin.

Akhirnya, sejak saat itu aku tidak lagi membagikan informasi parenting di arisan PKK. Selain karena aku sudah tidak lagi diamanahi menjadi seksi pokja pendidikan, aku juga merasa tidak nyaman. Aku  lebih senang berbagi di luar wilayah tempat tinggalku atau pada orangtua murid PAUD tempat aku mengajar. Pernah aku mengisi sesi parenting di arisan PKK pada wilayah RT lain, tanggapan dan responnya lebih menyenangkan. Selain itu aku juga lebih suka berbagi informasi parenting di sosial media.

Seringkali kita malas belajar parenting karena merasa anak-anak kita baik-baik saja. Tapi apa kita harus menunggu anak bermasalah baru belajar? Sebagaimana menghadapi ujian, bukankah hasilnya akan lebih baik ketika kita belajar jauh-jauh hari dibandingkan belajar sistem kebut semalam? Belajar parenting memang tidak akan mengubah seketika yang tidak sabaran langsung jadi sabaran, yang tadinya suka marah-marah langsung nggak marah-marah, tapi setidaknya kita jadi tahu mana yang salah dan benar menghadapi anak-anak jaman sekarang. Bukankah kita harus mendidik anak-anak kita sesuai jamannya to?


Wokay lah, begitu deh curcolanku tentang apa yang di mataku sesuatu yang besar, namun bagi orang lain ini remeh temeh. Anyway, selalu ada bedanya orang yang mau belajar dan tidak. Sebuah pesan dari mentor parenting yang selalu menancap di sanubariku, "ketika manusia berhenti belajar, maka hidupnya seketika berhenti." Yuk, saling mengingatkan dalam kebaikan.

Sampai jumpa di postingan #10DaysKF berikutnya ya, pals!




4 comments:

  1. Bagiku itu nggak remeh temeh Mbak. Hidup memang untuk belajar karena itu bagian dari ibadah. Nyeseg pas baca disuruh dateng aja, n dibayarin hikss...

    ReplyDelete
  2. Manusia tuh kadang lucu, nyepelein yang penting demi mentingin yang nilai rupiahnya tinggi, salah kaprah mbak, sedih

    Salam,
    Rasya

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.