Monday, August 28, 2017

Film Favorit Sepanjang Masa; A Moment to Remember



Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Hi, pals. Akhirnya aku gagal di tengah jalan untuk menyelesaikan tantangan ODOP dari Blogger Muslimah. Sedih sih, tapi ternyata memang istiqomah untuk posting sehari satu tulisan itu luaaaar biasa tantangannya. Jangankan yang sehari satu postingan, setoran #ArisanBlogGandjelRel-ku aja mulai tersendat. 

Contohnya tulisanku kali ini yang harusnya disetor untuk #ArisanBlogGandjelRel putaran kedelapan, tapi sampai putaran ke sepuluh baru aku selesaikan. Kalau boleh kasih alasan sih awalnya aku bingung mau nulis apaan tentang film favorit sepanjang masa. Meski hobi nonton film, tapi entah kenapa aku juga cepat lupa sama isi film yang aku tonton. Makanya kalau mau review film atau drama, wajib banget segera setelah nonton langsung ditulis, kalau diundur-undur dijamin besoknya udah lupa bagaimana alurnya dan apa hal yang bisa bikin aku excited sama film itu.

Sampai akhirnya mataku bersitatap dengan file film yang aku mau ceritain ini. Dulu aku menyimpan cukup banyak film di laptop, tapi lama-lama hard disk - ku jadi penuh dan lemot, akhirnya satu per satu aku hapus. Namun entah kenapa aku nggak pernah berhasil menghapus file film ini. Gegara lihat file film ini, aku putar lagi deh film yang formatnya masih video CD itu, dan untuk kesekian kalinya, aku selalu saja nangis usai menonton film ini.

Film bikinan Korea Selatan yang dimainkan secara apik oleh Son Ye Jin sebagai Kim Su Jin dan Jung Woo Sung sebagai Choi Cheol Soo ini ternyata diproduksi pada tahun 2004. Tapi seingatku aku baru menontonnya pada tahun 2008/ 2009, kayanya udah nikah sama mas bojo waktu dapat file film yang berulangkali bikin aku baper ini. Bahkan awalnya aku juga nggak ngeh dan nggak peduli siapa pemainnya. Gegara mau nulis tantangan dari mbak Sri Untari dan Ira Sulistiana ini aku jadi cari tahu infonya lebih banyak. Btw, makasih lo ma mbak Untari dan mbak Ira, aku jadi tahu judul film ini ternyata A Moment to Remember, dari dulu aku tahunya judulnya Alzheimer Dementia, hihi. Makasih juga karena tantangan dari si mbak berdua ini, aku jadi sadar kalau film ini favorit banget.

Btw, pasti bertanya-tanya dong kok judul aslinya A Moment to Remember tapi aku tahunya Alzheimer Dementia, nyambungnya di mana gitu. Tentu nyambung dong.. mau tahu di sebelah mana sambungannya, baca sinopsisnya dulu yuk.

Sinopsis A Moment to Remember



Kim Su Jin terduduk lemas di bangku stasiun kereta api. Kekasihnya yang dinantikan tidak kunjung datang. Padahal mereka telah berjanji akan pergi bersama ke sebuah tempat meninggalkan keluarga dan semua orang yang menentang hubungan mereka, membangun kehidupan baru berdua. Dengan perasaan kecewa Kim Su Jin meninggalkan stasiun sambil mencoba menahan air mata yang tak mampu dibendungnya.

Antara malu, marah, kecewa.. Kim Su Jin tak mampu membayangkan akan diletakkan di mana wajahnya. Ia yang sebelumnya berani melawan orang tua demi memilih lelaki beristri menjadi kekasihnya, kini harus pulang dalam keadaan berantakan. Di tengah perjalanannya, Su Jin berhenti di sebuah supermarket dan membeli sekaleng minuman soda. Sesaat setelah membayar, Su Jin segera bergegas keluar. Nampaknya ia setengah melamun hingga tak sadar meninggalkan dompet dan yang dibelinya.



Saat ia menyadari sekaleng soda yang dibelinya belum terbawa, ia kembali ke supermarket. Di pintu masuk supermarket tersebut ia berpapasan dengan seorang laki-laki yang sedang asyik menikmati sekaleng soda. Tanpa babibu, Su Jin langsung berpikir kalau sekaleng soda yang diminum laki-laki itu pasti miliknya. Ia segera merebut kaleng tersebut dari si laki-laki dan menghabiskannya sekali teguk, bahkan sampai bersendawa. Laki-laki yang direbut kalengnya cuma terpana kebingungan.

Setelah menghabiskan kaleng soda milik si laki-laki itu, Su Jin masuk ke dalam supermarket dan menemui kasir untuk menanyakan apakah dompetnya tertinggal. Kasir mengulurkan dompet dan sekaleng soda miliknya. Barulah Su Jin datang kalau ia telah salah paham dengan laki-laki yang ia temui di depan supermarket tadi.

Singkat cerita, Su Jin mulai menata kehidupannya. Keluarganya menerimanya kembali dengan hangat. Sebagai simbol membuka lembaran baru, Su Jin memotong rambutnya. Ia pun melamar pekerjaan di sebuah perusahaan fashion. Ternyata gosip tentang dirinya telah menyebar. Namun Su Jin tak gentar, ia telah bertekad untuk hidup lebih baik.




Suatu hari Su Jin menemani ayahnya untuk pergi ke proyek bangunan. Di sana tanpa sengaja ia melihat laki-laki yang kaleng sodanya ia rebut. Tapi Su Jin kesulitan mengingat siapa pria itu. Ia hanya merasa pernah bertemu dengannya, namun tak ingat kapan dan dimana ia pernah bertemu. 

Su Jin mendapat tugas dari kantor untuk menata sebuah ruangan. Ia menelepon ayahnya yang memang pekerjaannya berkecimpung di bidang bangunan dan interior untuk mengirimkan seseorang untuk membantunya. Tak disangka ternyata orang yang dikirimkan ayahnya adalah laki-laki yang kaleng sodanya ia minum dan habiskan. 

Laki-laki ini sangat dingin dan cuek, tapi ternyata ia masih ingat perlakuan Su Jin padanya. Su Jin yang merasa haus sedang membeli sekaleng soda di mesin penjual minuman. Saat Su Jin akan mengambil kaleng soda yang keluar dari mesin tersebut, laki-laki itu segera mengambilnya dan meminumnya sekali teguk. Rupanya ia membalas perlakuan Su Jin. Su Jin pun tersenyum dan mengingat siapa lelaki itu.




Pertemuan berikutnya antara Su Jin dan si laki-laki itu terjadi ketika Su Jin dijambret. Si laki-laki menolongnya dan membuat si penjambret terjatuh dari motor. Akhirnya mereka pun berkenalan. Choi Cheol Soo adalah nama laki-laki itu. Ia calon arsitek yang juga hebat sebagai seorang tukang kayu. Tanpa perlu waktu lama, Su Jin dan Cheol Soo pun saling tertarik satu sama lain dan mereka pun memutuskan untuk berpacaran.



Sebagai seorang wanita, tentu saja Su Jin ingin kepastian. Ia meminta Cheol Soo untuk menemui keluarganya dan melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, namun Cheol Soo menolak. Ia merasa tidak akan mampu terikat. Rupanya Cheol Soo pesimis terhadap sebuah pernikahan, dia merasa pernikahan tidak selamanya menjadi sumber kebahagiaan. Apalagi ia merasa bukanlah orang kaya yang bisa membahagiakan Su Jin.




Namun Su Jin tak kehabisan akal, ia mengatur pertemuan antara keluarganya dengan Choi Cheol Soo secara diam-diam. Su Jin kira semua akan berjalan dengan lancar, di luar dugaan suasana justru menjadi sangat tegang ketika Cheol Soo menyadari kalau Su Jin adalah putri dari atasannya. Cheol Soo pun meminta maaf atas kelancangannya karena berani mendekati Su Jin dan berjanji tidak akan menemuinya lagi. 

Su Jin merasa kecewa dan keluar dari restoran tempat pertemuan itu berlangsung. Hujan turun begitu deras, Su Jin tergeletak pingsan di depan restoran, beberapa tamu di restoran pun gaduh melihat kejadian itu. Beruntung adik Su Jin melihat kakaknya terjatuh pingsan dan segera berteriak. Cheol Soo segera berlari dan mengangkat tubuh Su Jin ke rumah sakit terdekat. Ayah Su Jin melihat Cheol Soo begitu sigap menyelamatkan Su Jin merasa bahwa Cheol Soo adalah menantu yang tepat.



Su Jin siuman dari pingsannya. Saat ia membuka mata, ia sangat senang melihat Cheol Soo ada di depannya. Ia segera memeluk Cheol Soo dengan erat. Apalagi ketika ia melihat sang ayah memberikan sinyal bahwa restu telah di tangan. Tak lama kemudian, Su Jin dan Cheol Soo pun menikah. Masa-masa gembira pun telah di depan mata.

Cheol Soo mendapat pekerjaan yang bagus. Ia pun mulai menabung untuk membangun rumah impiannya bersama Su Jin. Ia telah menemukan lokasi yang tepat untuk membangun rumah tersebut dan menunjukkan kepada Su Jin. Namun saat Cheol Soo membawa Su Jin menemui guru yang mengajarinya tentang perkayuan, Su Jin baru tahu kalau ibunya Cheol Soo masih hidup.




Su Jin pun mencoba mencari tahu tentang ibu mertuanya. Ia baru tahu kalau hubungan Cheol Soo dan ibunya tidak baik. Ibu mertuanya kini sedang berada di penjara karena masalah uang. Ia juga terlilit hutang yang sangat banyak. Melihat fakta tersebut, Su Jin meminta Cheol Soo untuk memaafkan ibunya dan membantu permasalahan ibunya. Cheol Soo menolak, ia merasa tidak lagi berkepentingan dengan urusan ibunya semenjak sang ibu meninggalkannya. Namun Su Jin terus meluluhkan hati Cheol Soo untuk mampu memaafkan sang ibu. Akhirnya uang yang digadang-gadang untuk membangun rumah impian pun habis tanpa sisa untuk membayar hutang sang ibu.




Su Jin menyemangati Cheol Soo bahwa kehidupan mereka akan tetap baik-baik saja. Di saat kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan itu, Su Jin mulai merasa ada yang lain di dalam dirinya. Ia mulai merasa sifat lupanya sudah sangat bermasalah. Ia bisa tiba-tiba beranjak dari tempat duduk dan kembali tanpa sadar apa yang sudah ia kerjakan sebelumnya. Bahkan yang paling parah ia lupa saat sedang memasak hingga rumahnya hampir kebakaran. Di satu sisi tanpa terduga Su Jin bertemu kembali dengan mantan pacarnya yang kini menjadi atasannya di kantor.



Demi mendapatkan jawaban atas sifat pelupanya, Su Jin lalu menemui dokter dan melakukan beberapa tes untuk pemeriksaan lebih lanjut. Setelah beberapa rangkaian tes dijalani, dokter pun menyampaikan bahwa ia mengidap alzheimer dementia. Ia akan segera lupa pada segala hal, semua orang bahkan termasuk dirinya sendiri. Su Jin merahasiakannya dari Cheol Soo. Namun tanpa perlu menunggu lama Cheol Soo pun akhirnya menyadari penyakit Su Jin tersebut. Cheol Soo sempat marah pada dokter, namun setelah mengetahui bahwa dokternya juga pernah mengalami kesedihan yang sama karena kehilangan istrinya akibat alzheimer dementia dan kemudian mendedikasikan dirinya untuk meneliti lebih lanjut tentang penyakit tersebut, Cheol Soo pun akhirnya hanya bisa pasrah.



Su Jin meminta Cheol Soo menceraikannya, namun Cheol Soo menolak. Ia berjanji akan menjadi ingatan bagi Su Jin. Cheol Soo menuliskan nama-nama barang yang ada di dalam rumahnya dan menempelkannya satu per satu agar Su Jin tidak mengalami kesulitan. Cheol Soo juga selalu membawakan catatan nama, alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi sehingga ketika Su Jin harus pergi dari rumah dan ia kelupaan, ia bisa membaca catatan tersebut.

Ingatan Su Jin semakin memburuk. Kenangan yang paling lama justru mulai muncul, sedangkan kenangan-kenangan baru mulai terlupakan. Puncaknya ketika ia mulai lupa pada suaminya dan justru mengingat mantan pacarnya. Cheol Soo terluka namun ia sadar hal ini akan terjadi. Ayah Su Jin meminta Cheol Soo menceraikan putrinya dan akan mengambil alih perawatan Su Jin. Cheol Soo menolak tawaran tersebut. Su Jin istrinya dan tanggung jawabnya.




Su Jin mulai tidak bisa mengontrol tubuhnya. Ia buang air sembarangan. Cheol Soo terisak dalam tangisnya sambil memeluk Su Jin lalu membersihkan kotorannya. Suatu pagi saat Cheol Soo hendak pergi bekerja dan berpamitan pada Su Jin, Su Jin berkata ia sangat mencintainya. Ia menatap lekat Cheol Soo, namun nama yang disebutnya adalah nama mantan pacarnya. Cheol Soo tersenyum getir. Selang beberapa waktu, Su Jin menyadari hal tersebut. Ia merasa sangat menyesal karena telah melukai suaminya lalu menuliskan surat perpisahan.




Su Jin memutuskan untuk tinggal di sebuah rumah perawatan. Ayah Su Jin memaksa Cheol Soo untuk menandatangani surat cerai, namun Cheol Soo tetap menolak. Cheol Soo ingin menyampaikan sesuatu hal yang seharusnya dari dulu ia katakan kepada Su Jin. Suatu hari sebuah surat dari Su Jin diterima oleh Cheol Soo. Dalam surat tersebut tertuliskan kalau hari itu Su Jin sedang dalam keadaan terbaik, ia bisa mengingat semuanya, makanya ia menulis surat tersebut. Dari surat itulah, Cheol Soo mendapat alamat tempat Su Jin dirawat. Ia pun bergegas menemui sang istri tercinta.

Sesampainya di rumah perawatan, Su Jin tidak lagi bisa mengenali Cheol Soo sama sekali. Namun ketika Cheol Soo melihat gambar yang dibuat Su Jin, ia trenyuh. Ada potret dirinya di sana. Ia meminta ijin kepada perawat untuk membawa keluar Su Jin.

Cheol Soo menyeting tempat pertemuan pertama mereka lengkap dengan adegan minuman soda yang menjadi kenangan. Di tempat itu ada orang tua dan adik Su Jin, guru dan ibunya Cheol Soo, dokternya Su Jin. Seakan-akan mereka adalah karyawan dan pelanggan minimarket tersebut. Su Jin tersenyum, bertanya pada Cheol Soo, "apakah ini di surga?" Cheol Soo mengiyakan lalu mengajak Su Jin berkendara dengan mobilnya. Saat di mobil Cheol Soo akhirnya menyatakan perasaan cintanya pada Su Jin. Sesuatu yang selama ini tidak pernah ia ungkapkan lewat kata-kata. Ia juga memberikan sebuah pahatan kayu berwujud wajah Su Jin.



Aah, membaca sinopsisnya saja sungguh tidaklah pernah cukup. Paling asyik memang menikmati filmnya secara utuh. Yang pengen nonton filmnya, bisa langsung saja cuzz ke Layar Kaca 21.

Alasan Kenapa Suka Banget sama A Moment to Remember


Ada beberapa alasan kenapa aku suka banget sama film Korea ini dan nggak pernah bosan melihatnya berkali-kali. Padahal yang main juga nggak ganteng dan nggak cantik. Tapi itulah kerennya film Korea, selalu bisa menggugah sisi sentimentil penontonnya hingga bawaannya selalu baper dan susah move on, hehehe.

Buatku sendiri film ini sarat akan pesan kehidupan antara lain;

  • Kegagalan itu bukan untuk diratapi. Adakalanya kita akan merasakan jatuh, namun hal terbaik setelah terjatuh adalah kembali bangun dan menata kembali langkah-langkah ke depan agar lebih baik.
  • Patah hati bukanlah akhirnya segalanya, wahai para jombloers. Tuhan pasti telah menyiapkan pasangan terbaikmu, kamu cukup berikhtiar sebaik mungkin.
  • Jangan takut berkomitmen, tidak akan pernah ada pernikahan yang sempurna, namun kebersamaan antara dua orang yang saling berusaha untuk menjaga cinta adalah kesempurnaan itu sendiri.
  • Kita tidak akan pernah tahu kapan waktu akan berakhir, maka lakukanlah yang terbaik untuk pasangan kita, termasuk bisikkanlah kata cinta padanya ketika kita menginginkannya karena belum tentu besok kita bisa melakukannya.
  • Rekamlah hal-hal baik dalam hidup kita, karena mungkin saja suatu saat kita tak lagi bisa mengingatnya. Penuhi saja hidup kita dengan ingatan-ingatan baik, dan jangan biarkan luka masa lalu memenuhi kenangan kita karena hanya akan menggerogoti kehidupan kita yang hanya sekejap.
  • Hidup itu selalu penuh kejutan, jangan hanya siapkan diri kita untuk kejutan yang menyenangkan, kita juga harus siap dengan segala tantangan.
isi surat perpisahan Su Jin kepada Cheol Soo


Itulah cerita tentang film favoritku, kalau film kesukaanmu apa, pals? Makasih sudah mampir dan menyempatkan untuk baca ya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.





10 comments:

  1. ini film korea favorit saya juga setelah my sassy girl. baca suratnya su jin buat suaminya itu bikin nangis bombay

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum.. nonton berulang Kali tetap aja nangis padahal ya udah tahu endingnya hiks.

      Delete
  2. Waaah... filmnya keren ya mba marita. Jadi pengen nontooonn

    ReplyDelete
  3. Wah ceritanya sedih dan mengharukan ya. Tapi,cerita kayak gini ada versi baratnya ya mba. Kyaknya krn crtanya bgus jd dibikin beberapa versi juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya katanya diadaptasi sama Hollywood.. tp blm pernah nonton yg versi Hollywood. Banyak film Korea yang terus dibikin versi Hollywood.

      Delete
  4. pemeran cowoknya siapa ya? kok kaya mirip Jang Hyuk. Jadi pengen nonton, udah lama gak pernah nonton drama korea soalnya haha, suka bikin baper dan nangis tersedu-sedu, aihh.. tapi kayanya judul ini layak ditonton

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jung Woo Sung mbak pemeran cowoknya.. hayuk mbak ditonton. Aku kalau sama film Dan drama Korea belum bs move on nih.. hehe

      Delete
  5. Saya ga mau komen masalah filmnya, yang saya sangat tertarik dari mbaknya ini adalah ODOP nya. Memang berat terlebih jika punya kesibukan yang luar biasa. Harus pinter2 nyari ide. Tiap kali ada ide jangan tunda tuk menulis meski hanya sebatas draft. Dilain waktu kita bisa kembangan lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau cuma draft banyak mbak.. nah itu aku paling kesusahan ngembangin draft di lain waktu, pasti jadi tulisan lain ga seperti tujuan awal tulisan dibuat :D

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.