Lakukan Tujuh Hal Ini Untuk Mengukir Sejarah Baik dalam Kehidupan Anak

  • Monday, October 02, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 18 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah memasuki bulan Oktober 2017, Blogger Muslimah Indonesia mengadakan kembali program One Day One Post. Lagi-lagi aku kembali menantang diri sendiri untuk bisa mengikutinya. Setelah dua bulan lalu akhirnya keok di jalan, boro-boro sampai sebulan, kayanya seminggu saja tidak tercapai deh. Bismillah semoga bulan ini bisa menaklukkan tantangan yang kubuat sendiri.

Sebagaimana ODOP dua bulan lalu, tidak ada tema yang harus disetor setiap harinya, kecuali di hari pertama ODOP. Kali ini tim admin memilih tema ‘Jangan Lupakan Sejarah’ untuk dikunyah para peserta. Sepertinya para peserta diajak untuk merasakan momen yang akhir-akhir ini sedang banyak diberitakan di lini masa, mengenai diputarnya kembali film G30S PKI sebagai salah satu sarana pengajaran sejarah bagi generasi muda yang mulai gagap akan peristiwa 52 tahun yang lalu tersebut.

Sejarah… mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus memaksa diri kita mengetahuinya. Karena sejarah adalah aliran dan sebab yang membawa diri kita ke masa ini. Bahkan kalau kita mau melongok ke dalam kitab suci kita, ada banyak sejarah yang diceritakan di dalamnya. Kisah mengenai nabi-nabi pada jamannya yang tentu saja membawa hikmah dan pelajaran yang bisa diambil untuk kehidupan kita saat ini.

Aku baru saja menuntaskan menonton serial Criminal Minds versi Korea. Drama dengan 20 episode yang dibintangi oleh Lee Jun Ki itu menceritakan tentang tim sebuah agen penyelidik kejahatan yang terdiri dari para profiler handal untuk menemukan siapa pelaku kejahatan tersebut. Para profiler itu merupakan polisi dan agen terlatih yang mempelajari tentang psikologi kejahatan. Mereka mencoba berpikir sebagai pelaku kejahatan, mengira seperti apa postur tubuhnya, dan apa yang mendasari perilakunya.

Yang aku ambil dari drama ini adalah bahwa setiap pelaku kejahatan selalu memiliki sejarah mengapa ia pada akhirnya melakukan kejahatan tersebut. Tak sedikit yang kemudian memilih menjadi pembunuh, pemerkosa atau bahkan tumbuh menjadi psikopat dikarenakan masa kecilnya yang suram. Orang tua yang tidak perhatian, orang tua yang pilih kasih, orang tua yang selalu menyakiti baik secara verbal maupun fisik, orang tua yang melakukan pelecehan seksual dan masih banyak lagi alasan lainnya. Tentu saja hal tersebut memang tidak bisa menjadikan kita kemudian membenarkan perilaku jahat mereka, namun setidaknya kita bisa belajar dari hal tersebut bahwa apa yang kita tanam hari ini akan kita tuai di kemudian hari.


Apakah kita ingin mencetak mesin-mesin pembunuh, manusia-manusia yang sakit batinnnya, manusia-manusia yang kehilangan empati hanya karena kita mencetak sejarah yang buruk dalam hidup anak-anak? Bisa saja saat ini kita tak sengaja menorehkan luka karena kita sendiri juga memiliki sejarah yang sama buruknya. Namun apa kita harus terus memelihara sejarah ini agar terus berulang dan berulang lagi? Tidak kan? Sudah saatnya kita putus mata rantai tersebut dan menciptakan sejarah yang indah demi masa depan anak-anak kita.


Belum terlambat untuk memulainya. Lakukanlah tujuh hal di bawah ini dan bersiaplah untuk menyambut sejarah baru bagi kehidupan kita dan anak-anak.

Satu, kunci inner child yang kita miliki.

Jika kita memiliki inner child yang seringkali mengganggu proses pengasuhan pada anak-anak kita. Segera temukan solusi untuk mengunci inner child tersebut. Maafkan kesalahan orang tua kita di masa lalu dan terima setiap perih serta sakit yang pernah terlewati sebagai bagian dari takdir Allah yang harus kita jalani. Bahwasanya tidak ada satu hal pun yang terjadi tanpa ijin Allah, yakinlah apa yang kita lewati merupakan bagian dari pendewasaan diri. Jika sudah sangat mengganggu bahkan mungkin telah melampaui batas normal yang membuat kita menyakiti diri sendiri dan anak-anak, konsultasikan kepada ahlinya. Jangan malu untuk datang ke psikolog atau psikiater jika memang dibutuhkan. Buang jauh stigma tentang ‘gila’. Jika badan yang sakit membutuhkan obat untuk kembali sembuh, maka jiwa yang sakit pun juga membutuhkan obat yang tepat untuk kembali damai.


Dua, minta maaflah pada anak-anak.

Perlakukan anak-anak kita sebagaimana kita ingin diperlakukan. Bagi teman-teman yang memiliki keluarga harmonis saat kecil, bersyukurlah jika tidak ada luka yang tertorehkan sehingga saat ini bisa mengasuh anak tanpa perlu dibayang-bayangi sejarah yang buruk. Namun bagi teman-teman yang memiliki catatan sedih di masa kecil hingga berpengaruh pada cara mengasuh anak-anak. Jangan berlarut dalam kesedihan dan penyesalan. Menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah kesalahan adalah langkah awal yang paling baik. Peluk anak-anak kita dan mintalah maaf kepada mereka. Berjanjilah bahwa kita akan berusaha untuk menjadi orang tua yang lebih baik bagi mereka.

Tiga, perbanyak aktivitas positif.

menghadiri kajian ilmu; salah satu kegiatan positif yang aku lakukan

Seringkali kita terlalu lama terjebak dengan sejarah masa kecil yang menyakitkan karena kita enggan dari zona tersebut. Menutup diri dari lingkungan, menganggap tidak ada yang memahami kita, merasa berbeda dari orang lain justru akan semakin membuat kita terus terperangkap pada keadaan yang sama setiap harinya. Keluar dari zona tersebut, lakukan banyak hal sehingga kita tidak lagi punya waktu untuk mengingat masa lalu yang pedih. Ikutlah banyak kegiatan positif seperti hadir pada kajian agama, seminar parenting, kelas kreatifitas (merajut, menjahit, blogging), dsb. Memperbanyak bacaan parenting dan melakukan ibadah juga merupakan sarana untuk menjaga kesehatan jiwa agar proses mengasuh anak tetap pada jalurnya. Semakin banyak ilmu yang kita miliki mengenai pola asuh yang baik akan membantu kita memiliki alarm ketika akan berbuat di luar jalur. Awalnya mungkin hal-hal tersebut tidak akan berpengaruh secara instan, namun dengan berjalannya waktu, semakin banyak hal positif yang kita lakukan akan mengubah kehidupan kita ke arah positif. Jika sebelumnya kita sering marah-marah ke anak, perlahan kita akan mulai bisa menata emosi kita. Jangan kaget jika setelahnya anak akan jadi sering menempel dan bilang ‘aku sayang bunda’.

Empat, praktekkan 1821.



Sudah pernah dengar tentang Program 1821 yang diperkenalkan oleh Abah Ihsan Baihaqi? Sebuah program yang bertujuan untuk kembali mendekatkan orang tua dan anak-anak. Mengingat sekarang ini banyak sekali anak-anak yang haus kasih sayang orang tuanya meski serumah dan dua puluh empat jam ada di dekat orang tuanya, muncullah ide 1821 ini. Jika sejak pagi, entah sengaja atau tidak, kita telah memisahkan diri dengan anak-anak kita karena adanya gadget, televisi, kompor dan segala macam benda-benda kotak, pada zona waktu 18.00 – 21.00 singkirkanlah semua benda tersebut, dan lakukan 3B bersama anak; bermain, belajar, dan bercerita. Jika dilakukan secara konsisten 1821 ini sangat membantu untuk mengembalikan keharmonisan hubungan orang tua dan anak.


Lima, berjamaah jauh lebih indah.

Teman-teman sholihahku

Masalah yang paling membahayakan adalah ketika kita tidak sadar akan hadirnya masalah tersebut. Maka bersyukurlah jika kita menyadari ada masalah dalam pola pengasuhan kita terhadap anak-anak. Dengan menyadari masalah tersebut, kita akan lebih mudah untuk mau belajar dan bergegas  menyelesaikan masalah tersebut. Namun ada kalanya ketika kita telah menemukan solusi dari masalah tersebut dan berusaha menjalani tahapan demi  tahapan, kita merasa sangat lelah. Tenang, sudah kodratnya manusia memiliki iman dan semangat yang seringkali naik dan turun. Maka untuk menjaga semangat kita dalam proses perbaikan diri sebagai orang tua, berjamaahlah! Cari komunitas parenting, perluas jejaring pertemanan kita, kumpulkan semakin banyak teman-teman sholih yang bisa mengingatkan kita dalam kebaikan dan kesabaran.  Sehingga ketika semangat kita sedang turun, ada teman-teman yang senantiasa merangkul dan memberikan suntikan semangat  kepada kita. Jangan lupa peran serta pasangan dalam menciptakan sejarah yang baik untuk anak juga sangat berperan. Jadi, ajak pasangan untuk ikut serta dalam setiap proses belajar, dan ajak ia untuk membantu diri kita memaafkan segala macam masalah di masa lalu.

Enam, sabar dan istiqomah.

Tidak ada senjata yang paling ampuh selain bersabar. Sabar itu tak memiliki batas, maka saat lelah menghampiri, perbanyaklah istighfar. Terus melatih diri untuk bersabar atas  ketidakmampuan kita melupakan masa kecil yang pahit, bersabar atas keinginan untuk memarahi anak, bersabar atas segala hal yang melemahkan perjuangan kita. Hanya sabar yang akan membawa kita menuju gerbang keistiqomahan. Tidak mudah, namun juga bukan berarti tidak mungkin. Untuk memelihara sabar, ada baiknya setiap kali kita berhasil menahan amarah kepada anak, atau menahan diri untuk tidak menyakiti anak, beri hadiah kepada diri sendiri. Misalnya, jika hari ini aku berhasil untuk tidak menghardik anak, aku akan mandi lima menit lebih lama atau jika hari ini aku berhasil untuk senyum ketika anak tantrum, aku berhak mendapatkan satu es krim yang paling mahal.


Tujuh, sebaik-baik penolong adalah Allah Subhanahu Wata’ala.

Tidak ada tempat bersandar selain Allah. Kita hanya bisa melakukan ikhtiar sebaik dan semaksimal mungkin, namun tetap saja penjaga terbaik adalah Allah. Maka berserah diri pada setiap takdir dan ketetapanNya akan membuat kita jauh lebih legawa. Pintakan ampunan untuk kedua orang tua kita yang mungkin pernah menoreh luka hingga membekas dalam dan membawa pengaruh pada cara kita mengasuh anak-anak. Pintakan ampunan untuk diri sendiri karena kurangnya ilmu dalam mengasuh anak-anak, minta pada Allah untuk mengarahkan  kita pada jalan yang lurus. Minta perlindungan pada Allah agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, bahagia dalam hidupnya dan tentu saja generasi yang sholih dan sholihah.



Mungkin tujuh hal di atas terdengar klise, namun tidak ada salahnya mencoba kan? Semoga kita selalu melindungi diri kita dan anak-anak dari sejarah buruk yang menorehkan luka. Terima kasih telah membaca, dan sampai jumpa di postingan berikutnya, pals.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah.



#ODOPOKT1




You Might Also Like

18 comments

  1. Masya Allah...keren banget mba artikelnya

    ReplyDelete
  2. Subhanallah .... Benar sekali, Mbak. Kalau bukan kita, orang tua yang mengukir sejarah baik untuk mereka, lantas siapa lagi? Perilaku anak kelak, bergantung pada apa yang kita tanam pada mereka dari dini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak. Semoga Kita bisa menjadi orang tua yang mencetak sejarah2 baik untuk anak2 Kita.

      Delete
  3. Semua orang tua harus tahu dan paham cara ini. Karena memang sebagian besar pelaku kriminal memiliki sejarah buruk di masa kecil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, jangan sampai tanpa Kita sadari Kita menciptakan sejarah yang membekas di hati anak2 krn penuh Luka.

      Delete
  4. MasyaAllah. Terima kasih mbak berisi banget artikelnya. Jadi tambah ilmu. Terima kasih ya. Dan salam.kenal ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Sama-sama mbak :)

      Salam kenal juga CikGu :)

      Delete
  5. TFS mbak...masih buanyak bgt PR ku nih sebagai ortu. Semoga anak2 kita js generasi yg tangguh dan penuh cinta

    ReplyDelete
    Replies
    1. You're welcome. Toss mbak, PR ku juga banyak banget. Aamiin.

      Delete
  6. 1821 nya keren deh :D tapi aku mah gabisa secara jam2 segitu adl jam paling sering aku pegang gadget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Demi anak-anak harus bisa, meski tangan gatel, hehe.. :)

      Karena yang sulit dilakukan itulah yang tersimpan berkah luar biasa :)

      Delete
  7. Aku suka nasehatin adikku kalau kesal atau capek jangan marahin anaknya yang setaun dua bulan ama dua tahun dua bulan, dia malah bilang tth mah belum ngerasain katanya, cuma kalau aku kayanya mikir berapa kali soalnya nunggu anak satu aja belum dateng-dateng 😊

    ReplyDelete
  8. Inner child... ini yg masih jadi PR buatku ni mbak... harus lebih banyak ilmu buat ngilanginnya deh ya...tfs mba

    ReplyDelete
  9. Huff.. Berat ya mengukir sejarah yang baik untuk anak. Thanks for sharing :)

    ReplyDelete
  10. Orang tua adalah panutan bagi anak-anaknya ya, mba.

    Jangan sampai sbg ibu, kita hanya mengukir sejarah kelam di hidup mereka. Nadzubillaah

    ReplyDelete
  11. Belum bisa rutin melakukan 18-21 nih mbak. Kadang pas harus uprek di dapur, membersihkan rumah atau malah lagi lelah jiwa raga setelah seharian berakfitas.
    Masih cari manajemen yang pas untuk mengatur jadwal.

    ReplyDelete
  12. Tujuh cara menciptakan sejarah baik bagi anak itu keren banget, semoga kita bisa melakukan itu secara rutin dan disiplin ya.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com