Grow Happy Parenting; Kunci Tumbuh Kembang Anak secara Optimal



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hai, pals… ada kabar baik apa hari ini? Mantap nggak pertanyaanku? Bukan sekedar menanyakan apa kabar secara basa-basi, membiasakan untuk bertanya ‘ada kabar baik apa hari ini?’ kepada diri sendiri dan orang-orang di sekitar ternyata bisa melatih diri kita untuk lebih bahagia setiap harinya lo. 

Halah, bahagia aja kok dilatih. Eits, jangan salah... bahagia itu tidak datang dengan sendirinya lo. Bahagia itu pilihan dan harus diupayakan. Nah, salah satu latihannya menurut mbak Elizabeth Santosa, M.Psi, Psi, SFP, ACC, ya seperti yang kucontohkan di atas. Coba aja deh setelah kelar baca artikel ini, mulai praktekkan cara itu ya, dan lihat bagaimana impact-nya di hidup teman-teman beberapa minggu atau bulan kemudian.

Btw, merasa nggak asing dengan nama mbak Elizabeth Santosa, atau biasa juga dipanggil mbak Lizzy? Yang pernah baca postinganku beberapa bulan lalu, mungkin ngeh… beliau adalah salah satu psikolog favoritku. Pertama kali bertemu dengan mbak Lizzy pas acara Grow Happy Parenting bersama Lactogrow pada 16 Oktober 2018 yang lalu. Aku masih ingat banget saat itu materi mbak Lizzy benar-benar nampol banget dan bikin aku curcol habis-habisan. Kali kedua aku bertemu dengan beliau, lagi-lagi masih di acara workshop Grow Happy Parenting yang kembali diadakan di Semarang pada Rabu, 14 Agustus 2019. Senang banget bisa kembali belajar langsung dari para narasumber kece di workshop parenting ini. 

tiga narsum kece Grow Happy Parenting Workshop



Tiga Elemen Utama dalam Grow Happy Parenting


Hayo, ada yang masih ingat apa saja tiga elemen utama dalam mengasuh anak agar selalu sehat, cerdas dan bahagia? 



Yess, bener banget. Stimulasi, nutrisi dan keterlibatan orangtua! Apakah anak yang terus-terusan diberi stimulasi akan selalu tumbuh cerdas dan bahagia? Belum tentu jika nutrisinya kurang, dan tidak ada keterlibatan orangtua. Begitu juga sebaliknya, nutrisi yang cukup tapi tidak diimbangi dengan stimulasi yang melibatkan orangtua juga tentunya tidak seimbang. Keterlibatan orangtua oke, tapi makannya anak-anak nggak diperhatikan, stimulasi asal-asalan, juga tidak akan menumbuhkan anak-anak yang bahagia, sehat dan cerdas. 

A. Stimulasi


Tiga elemen utama tersebut saling berkaitan satu sama lain, tidak bisa berdiri sendiri. Nestle Lactogrow sangat menyadari hal tersebut, that’s why secara rutin Lactogrow mengadakan workshop parenting ke beberapa kota. Setelah tahun lalu workshop parenting mengambil tema untuk bersama-sama memahami pentingnya kebahagiaan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak, tahun ini Lactogrow mengajak orangtua untuk mendukung anak tumbuh bahagia dengan menggelar rangkaian workshop “Grow Happy Parenting: Happy from the Inside Out.” Workshop ini digelar di delapan kota di Indonesia, salah satunya di Semarang. Mbak Paramudita Sarastri, brand executive Nestle Lactogrow, menyatakan bahwa tema tersebut dipilih karena untuk bisa menumbuhkan anak-anak yang berkembang secara optimal, orangtua perlu memenuhi kebutuhan gizi dan membantu mengembangkan kematangan emosi anak.

mbak Dita menunggu jawaban dari mbak Fenny


Happiness bagi setiap orang tentu saja memiliki value yang berbeda-beda. Mbak Dita mengawali presentasinya dengan bertanya, “seperti apakah happiness buat rekan-rekan yang hadir di sini?” Mbak Fenny Ferawati, penulis hits yang datang jauh-jauh dari Klaten, mengungkapkapkan happiness versi dirinya. “Buat saya, happiness itu ketika anak-anak nyaman bercerita hal apapun pada saya. Karena itu artinya mereka percaya pada ibunya.

Jleb banget! Bikin aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, sudah senyaman apakah anak-anakku saat bersamaku? Sudah sepercaya apakah mereka padaku dan ayahnya? Kalaupun sekarang anak-anak masih sangat cerewet menceritakan apa saja padaku dan ayahnya, wajar karena mereka masih di periode 0 - 10 tahun di mana kebutuhan pada orangtua masih tinggi. Jadi ingat petuah Abah Ihsan, “untuk menentukan kedekatan anak dan orangtuanya, lihat saat mereka beranjak remaja, masih nyamankah ngobrol sama orangtuanya?” 

Kenapa saat remaja? Karena di masa-masa itu, anak-anak mulai punya dunianya sendiri, punya circle pertemanan sendiri, privasinya mulai terbentu dan perubahan hormonal yang berpengaruh pada mood. Tentu saja untuk menumbuhkembangkan remaja-remaja yang tetap nyaman ngobrol sama orangtua, dimulai sejak usia dini. Nggak bisa mak jegagik menumbuhkan bonding dan kenyamanan anak remaja untuk tetap all out ngobrol jika sebelumnya tak pernah dibiasakan bicara dari hati ke hati dengan orangtuanya.



Happiness starts from family. 

Untuk menstimulasi anak agar mau ngobrol sama orangtua, harus dimulai dari orangtua lebih dahulu. Mulai saja dengan menceritakan kegiatan apa saja yang kita lalui hari itu kepada anak untuk memancing cerita anak. Tentu saja proses ini tidak instan ya, pals. Apalagi buat kita yang belum terbiasa ngobrol, pastinya akan ada rasa garing bin kriuk-kriuk, bingung memulai obrolan dan sebagainya. Tapi jangan hentikan proses ini, demi anak-anak yang selalu nyaman bercerita pada kedua orangtuanya. Awalnya mungkin sulit, tapi yakinlah hasilnya akan bermanfaat banget nantinya.

Jadi ingat saat aku ikut talkshow “Kemandirian Anak” bulan lalu, Pak Ruruh Candra sebagai salah satu narasumber mengingatkan para peserta agar tidak menjadi orangtua detektif. Maksudnya, hentikan memulai obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan interogasi macam, “sudah sholat?”, “sudah belajar?”, “ada PR nggak?” dan lainnya. Kata beliau saat itu, “itu ibu apa polisi?” Tentu saja disambut dengan derai tawa dari para peserta yang merasa tersentil.

“Mulailah obrolan dengan sesuatu yang disenangi anak-anak. Tanyakan hobinya. Kalau saya ke Akbar (anak Pak Ruruh), saya suka tanya gimana kabarnya si Jack (kambing kesayangan Akbar). Kalau sudah ditanyain tentang Jack, langsung deh Akbar bakal cerita panjang lebar. Saya tinggal mendengarkan dan menambahkan petuah-petuah yang dibutuhkan.”

Ketika anak sudah dikeluarkan isi kepala dan hatinya, mereka akan bahagia. Dan ketika anak-anak bahagia akan lebih mudah bagi kita menyampaikan nasehat atau menginstall software-software kebaikan pada mereka.


B. Nutrisi


Elemen kedua dalam Grow Happy Parenting yaitu pemenuhan nutrisi yang cukup. Banyak yang belum menyadari meskipun jarak antara perut dan otak itu jauh, namun keduanya berhubungan erat. Mudahnya nih, ketika kita telat makan lalu kelaparan, kita akan jadi lebih mudah marah kan? Begitu juga anak-anak. Anak-anak yang saluran cernanya sehat akan tumbuh menjadi anak-anak yang lebih ceria, aktif, cerdas dan bahagia. 

dr. Ariani yang cantik dan tegas

Hippocrates menyatakan “semua penyakit dimulai di dalam usus.” 

That’s why jangan sepelekan urusan nutrisi, terutama di 1000 hari pertama anak. Dimulai dari awal konsepsi hingga anak berusia 2 tahun, nutrisi harus benar-benar diperhatikan dengan baik, karena akan berpengaruh ke usia-usia setelahnya. Kenapa sih kesehatan saluran cerna anak harus sangat diperhatikan? 

Tentu saja karena usus anak belum matang. Lapisan mukosanya masih tipis. Mukosanya ini semacam benteng di dalam tubuh. Nah, benteng di tubuh anak-anak masih belum kuat. Karena bentengnya belum kuat, kekebalan tubuh anak-anak pun belum optimal, sehingga anak mudah terkena infeksi. 





Untuk menjaga kesehatan saluran cerna anak-anak dibutuhkan makanan yang bergizi seimbang dan mengandung probiotik agar membantu nutrisi dapat terserap dengan lebih baik. Pernah dengar kan tentang probiotik dan prebiotik, ada yang tahu apa perbedaan di antara keduanya?

Probiotik adalah mikroorganisme hidup yang jika diatur dalam jumlah memadai akan memberikan manfaat bagi kesehatan. Sedangkan prebiotik adalah makanan untuk menghasilkan probiotik.

Di antara sekian banyak probiotik, Lactobacillus Reuteri merupakan salah satu jenis yang telah teruji secara klinis aman dan bermanfaat bagi tubuh. Jenis-jenis makanan yang mengandung probiotik antara lain susu, tempe, yoghurt, kombucha, kefir, kimchi dan sebagainya. 



Oh ya, probiotik itu ternyata berhubungan erat dengan mood anak-anak lo. Jadi kalau ada anak-anak yang suka tantrum, susah diatur atau ditebak emosinya, perlu dicek apakah konsumsi probiotiknya sudah mencukupi. Waduh, lagi-lagi berasa kejewer nih aku, yang belum konsisten memberikan probiotik ke anak-anak.

Aku suka banget cara pemaparan dari Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K). Runtut, jelas dan sangat mudah dipahami. Selain itu dalam memaparkan materi tentang nutrisi, dr. Ariani menggunakan cara yang unik dan berbeda yaitu dengan melibatkan semua peserta untuk aktif menjawab pertanyaan secara langsung lewat www.menti.com. Baru kali ini aku tahu ada situs ini, kapan-kapan bisa nih dicoba saat ngisi presentasi. 

Hal lainnya yang bikin aku angkat topi sama bu dokter cantik ini yaitu ketegasan beliau. Jempolaaan. Aku suka cara beliau menegur salah satu peserta yang hadir karena ngobrol sendiri dan mengganggu jalannya pemaparan materi. Sesekali emang ya harus disentil langsung orang yang macam begini. Soalnya kadang dibiarin nggak sadar diri sih. Mungkin mereka kurang probiotik, hehe.


C. Keterlibatan Orangtua


Sesi terakhir workshop “Grow Happy Parenting” adalah sesi yang paling kutunggu-tunggu! Sesi yang dibawakan oleh mbak Lizzy membuatku bertanya-tanya akan ada kejutan apa lagi yaa. Berbeda dengan workshop sebelumnya yang berhasil menggali innerchild para peserta, menerima dan memaafkan masa lalu, serta mengajarkan para peserta untuk melatih bahagia dengan jurnal syukur. Di workshop kali ini, mbak Lizzy memberikan gimmick yang lebih fun. Kami diajak bermain menyiapkan makanan untuk keluarga. Serunya, semua itu dilakukan dengan playdoh dan berkelompok. Alhamdulillah, di sesi ini kelompokku dinilai jadi salah satu kelompok terbaik. Yippie, dapat doorprize ciamik deh. Tapi benernya apa ya maksud dari fun gimmick yang dilakukan mbak Lizzy? Cari tahu yuk!

yeee, dapat hadiah! (foto by mbak Sovialida)




6 Tips Membesarkan Anak agar Tumbuh Bahagia


hasil karya kelompokku, lucu kan (foto by Mbak Sovialida)

Ternyata gimmick tersebut berhubungan dengan tips membesarkan anak agar tumbuh bahagia. Dari satu game sederhana tersebut berhubungan dengan beberapa poin yang disampaikan mbak Lizzy berikut ini.

1. Makan Makanan Bergizi Tepat Waktu

Soal nutrisi sudah dibahas lengkap oleh dr. Ariani di sesi sebelumnya, namun mbak Lizzy menambahkan bahwa orangtua, khususnya ibu, yang menyediakan bekal atau masakan keluarga akan menjadikan anak yang jauh lebih percaya diri dan dicintai. Itu kenapa di Jepang lalu muncul bento. Bekal makanan untuk anak-anak sekolah yang dibuat dengan lucu dan menggemaskan agar anak-anak antusias melahapnya. Meski entah kenapa nggak ngefek buat Ifa, hiks. Ifa lebih senang makan katering dari sekolahannya daripada makan bekal yang kubawakan. Sediiiih. Suamiku sampai bilang, “gih belajar masak dari katering sekolahan.” .

Tapi statement mbak Lizzy membuatku kembali semangat, “Mungkin hasilnya nggak langsung terasa sekarang. Tapi perlahan anak-anak pasti akan belajar menghargai hasil masakan ibunya.” Baiklah, mari belajar memasak lebih baik lagi.



2. Waktu Bermain dan Eksplorasi

Cara sederhana nan fun yang dilakukan mbak Lizzy dengan mengajak para peserta membuat menu makanan dengan playdoh sangat menyentilku. Mengingatkanku sekali lagi bahwa membahagiakan anak-anak itu nggak susah kok. Cukup dengan terlibat dalam setiap permainan dan kegiatan anak-anak, mereka akan merasa dihargai kehadirannya, disayang dan merasa berarti. Anak-anak yang merasa disayang, dihargai dan diakui ini akan tumbuh jadi anak-anak yang bahagia dan memiliki konsep diri positif. 


Membuat anak-anak bahagia itu nggak cuma dengan membelikan playdoh atau mainan-mainan mahal, tapi setelah itu anak dibiarkan main sendirian. Justru saat kita terlibat bermain bersama mereka, anak-anak akan jauh lebih happy. Karena dekat dan bersama itu berbeda, pals.



Kita ada dalam satu ruangan dengan anak-anak dan suami, tapi asyik sendiri dengan kegiatan masing-masing. Bapaknya main game, ibunya nonton drakor, anak-anak asyik mainan sendiri. Dekat sih, tapi tidak terlibat.

Sementara bersama, anak-anak dan orangtua tidak sekedar dalam satu ruangan yang sama, tapi saling terlibat dalam aktivitas yang sama. Sama-sama main playdoh, sama-sama nonton TV, baca buku yang sama dan saling cerita. 

3. Ekspresi Emosi Positif

Back to opening paragraph artikel ini. Mengekspresikan emosi positif itu tidak selalu mudah untuk semua orang lo. Apalagi buat orang-orang yang lebih sering fokus pada hal-hal buruk daripada hal-hal baik. Contoh kecilnya, para istri yang gampang banget mengingat kesalahan suami, tapi jarang mengingat kebaikan suami.  Jewer telinga sendiri aaah. Itulah kenapa mbak Lizzy memberi tips mudah dengan membiasakan menanyakan“Ada kabar baik apa hari ini?” kepada anak-anak dan pasangan. 

Awalnya mungkin anak-anak dan pasangan akan canggung dan bingung menjawab pertanyaan tersebut. Namun teruskan saja hingga emosi positif terus terbangun dalam keluarga kita. Jika jawaban atas pertanyaan yang kita lontarkan berupa statements negatif, terus arahkan hingga mereka menjawab dengan hal-hal positif. Menurutku, selain bisa ditanyakan ke orang lain, pertanyaan sederhana ini juga bagus sebagai awalan self talk agar membangun konsep positif di dalam diri. Yuk, praktekkan!

mbak Lizzy yang selalu atraktif dalam menyampaikan materi


4. Cukupi Waktu Tidur

Apa sih rasanya kalau kurang tidur? Gampang marah, mudah tersinggung, badan lemes dan jadi nggak semangat melakukan apapun. Betul nggak sih? Bayangkan jika anak-anak yang kurang tidur? Anak-anak pun juga manusia lo. Selain mengalami hal yang sama dengan apa yang kita rasakan saat kurang tidur, anak-anak juga bisa tumbuh kurang optimal. That’s why perhatikan waktu tidur anak-anak ya, karena sebenarnya saat mereka tidur pun mereka juga sedang bertumbuh lo.

5. Berikan Cinta Tanpa Syarat

Ini juga sudah pernah dibahas di sesi workshop bulan Oktober lalu. Cinta tanpa syarat artinya kita menerima anak dengan segala paket lengkapnya, nggak cuma sifat-sifat baiknya, tapi juga semua hal yang ada dalam diri anak. Alhamdulillah bisa hadir di acara ini lagi, aku jadi diingatkan soal ini. Sederhana sih, tapi prakteknya… hmm. Pas anak lagi pinter, mau inisiatif bantuin cuci piring, langsung deh dipuji-puji, “wah pinternya anak bunda.” Tapi begitu anak ngambek, “dasar ngambekan. Udah ngapa ngambeknya, bising tahu, malas dengerinnya.” Padahal bisa jadi anak lagi sedih, pengen dipeluk dan didengarkan. Kalau orangtuanya saja malas menjadi tempat berkeluh kesah, terus anak-anak harus ke mana? Masa kita hanya mau nerima anak saat enaknya saja?

wajah-wajah bahagia (foto by mbak Uniek)


6. Antusias saat Mendengar (active listening)

Masih berkaitan dengan yang nomor lima nih. Cinta tanpa syarat juga bisa diartikan sebagai berani memberikan tidak hanya mulut, namun juga teling dan hati kita. Maksudnya?

Memberikan nasehat itu mudah, kita bisa berbusa-busa melakukannya. Apalagi emak-emak yang hobinya mengeluarkan minimal 20ribu kata tiap hari, jago lah menyusun nasehat penuh kebaikan panjang kali lebar.  “Dinasehatin saben hari, tapi nggak ngefek juga.” Kalimat yang nggak asing kan? Sering banget deh denger kalimat ini diucapkan. 

Kenapa nasehat bisa nggak ngefek? Karena kita ‘mengisi gelas yang sudah penuh’. Akhirnya apa yang kita isikan ke dalam gelas itu bukannya tertampung, tapi malah terbuang sia-sia. Akhirnya nasehat cuma masuk kuping kanan, keluar kuping kiri.

Jadi bagaimana biar nasehat atau ujaran-ujaran kebaikan kita lebih didengar anak-anak? Ya, mulailah untuk menjadi pendengar yang baik. Biarkan isi gelasnya keluar dulu sampai kosong, sehingga kita bisa mengisinya dengan air yang baru. Sebelum kita memberikan petuah, nasehat atau quote-quote kehidupan yang super sekali, biarkan anak ceritakan apa yang ada di kepala dan hatinya.

Maka jika pertanyaan “Ada kabar baik apa hari ini?” diajukan kepadaku, aku bersyukur karena bisa hadir di workshop “Grow Happy Parenting” untuk kedua kalinya. Karena belajar parenting itu nggak bisa sekali dua kali, pals. Hari ini ingat, besok khilaf, lusa lupa. Maka perlu recharging agar terus on the track dalam prakteknya. 

Aku juga senang bisa berbagi cerita sama teman-teman lewat postingan kali ini. Semoga bermanfat. Jangan lupa bahagia, karena anak-anak yang bahagia hanya tumbuh dari orangtua yang bahagia!

ada kabar baik apa hari ini?

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

Post a Comment

4 Comments

  1. Wah bener banget nih Mbak memberikan nutrisi yang baik untuk si kecil itu memang sangat penting

    ReplyDelete
  2. Wah seru banget nih Mbak acaranya. Si kecil itu memang juga dicukupi waktu tidurnya

    ReplyDelete
  3. Lucu juga nih Mbak hasil makananan yang sudah dibuat bersama dengan kelompok

    ReplyDelete
  4. bahasannya kompleeeeet, sampai waitress yang rame dibelakangpun, terceritakan..haha. Memang pembicaranya kompeten2 semua ..deh

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com