Self Worth dan Inner Child: Titik Berangkat Tumbuh Kembang Jiwa Anak

  • Sunday, September 16, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 7 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh. 


Hi, pals. Maafkan aku yang semakin jarang menyapa di rumah maya ini. Ingin sekali bisa kembali update secara rutin seperti beberapa bulan yang lalu, at least satu minggu bisa rilis satu postingan. Namun dengan padatnya aktivitas beberapa bulan terakhir, sepertinya manajemen waktuku semakin kacau saja. 

Seperti juga hari ini, seharusnya postingan ini rilis sejak semalam. Namun karena menunda-nunda akhirnya baru kelar sore ini deh. Artikel ini aku susun dalam rangka menyelesaikan tugas jurnal leader kelas Bunda Sayang Leader level ketujuh. Karena tidak ingin kehilangan kesempatan seperti tantangan 10 hari level 10 di kelas Bunda Sayang reguler beberapa waktu lalu, aku memaksa diri untuk tetap mengerjakan jurnal ini, meski sudah pasti dapat nilai minimal karena mengumpulkannya terlambat.

Materi level 7 Bunda Sayang sendiri mengangkat tema tentang “semua anak adalah bintang.” Dari judul tema tersebut teman-teman pasti bisa menyimpulkan ya kalau pada materi ini, para mahasiswi Bunda Sayang diingatkan kembali bahwa setiap anak itu punya keunikan dan kelebihan masing-masing, tidak perlu untuk diperbandingkan antara satu sama lainnya. 



Baca ini juga dong: Can See Gold in Your Children?

Nah, jurnal leader kali ini tentunya tidak jauh-jauh dari tema tersebut. Kami diminta untuk mencari tantangan dan solusi untuk menyelesaikan tantangan yang kami temukan. Tantangan itu bisa saja sesuatu yang kami temukan di rumah atau lingkungan tempat tinggal. Agar kami lebih spesifik dalam menentukan tantangan, ada empat topik yang bisa dipilih; konsep diri, hubungan dengan sesama, hubungan dengan change factor, dan hubungan dengan spiritual. 

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku putuskan untuk memilih topik kesatu yaitu mengenai konsep diri. Alasanku memilih topik tersebut karena hingga sekarang hal inilah yang masih menjadi tantangan diriku dalam proses pengasuhan.

Mengenal Tentang Konsep Diri


Sebelum kita lanjut lebih dalam membicarakan tentang konsep diri, aku mau mengajak teman-teman melihat music video salah satu lagunya Michael Jackson. Sebuah lagu yang sangat menyentuh, kalau kata Tompi menghujam jantungku.




Elizabeth Lawrence pernah berkata there is a garden in every childhood, and enchanted place where colors are brighter, the air softer, and the morning more fragrant than ever again. Ya, masa kanak-kanak harusnya berisi dengan keindahan sebuah tempat memesona yang warnanya selalu cerah, udaranya senantiasa lembut dan paginya selalu wangi.

Namun sayangnya tidak semua anak beruntung memiliki masa kanak-kanak yang sedemikian indah dijabarkan oleh Elizabeth Lawrence, ada beberapa anak yang justru masa kanak-kanaknya menghantui mereka dan meninggalkan jejak-jejak luka yang mempengaruhi perkembangan jiwa mereka hingga dewasa. Salah satunya yaitu sang penyanyi legendaris yang videonya aku tampilkan di atas. Kita sama-sama tahu bagaimana seorang Michael Jackson bertahan hidup. 



Gaya pengasuhan orangtua sangat mampu membentuk cara pandang anak terhadap dirinya sendiri. Cara pandang inilah yang disebut dengan konsep diri. Dari situs belajarpsikologi.com, dikatakan bahwa konsep diri itu ada dua, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif. 
Individu yang memiliki konsep diri negatif meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Individu ini akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan mudah menyerah sebelum berperang dan jika ia mengalami kegagalan akan menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain.
Individu yang memiliki konsep diri positif akan bersikap optimis, percaya diri sendiri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialami. Kegagalan tidak dipandang sebagai akhir segalanya, namun dijadikan sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah kedepan. Individu yang memiliki konsep diri positif akan mampu menghargai dirinya sendiri dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.


Jika orangtua mampu memberikan warisan berupa pola asuh yang membahagiakan, seorang anak akan bisa memiliki konsep diri positif. Sebaliknya jika orangtua meninggalkan pengalaman yang mengerikan dan kenangan buruk yang berulang, konsep diri negatif yang justru akan tumbuh dalam diri anak-anak.

Konsep diri ini dibangun sejak kanak-kanak dengan menanamkan self worth, rasa berharga pada diri anak. Kang Firman dan Teh Elma dalam sebuah seminarnya menyampaikan gagasan Bu Elly Risman yang menyatakan bahwa self worth sebagai penilaian diri anak terhadap dirinya sendiri. Apakah anak merasa dirinya berharga atau tidak.

Anak yang memiliki rasa berharga tidak mudah guncang atau merasa jatuh meski diterpa berbagai masalah. Ini artinya si anak memiliki self worth positif. Sedangkan jika self worth positif belum terbangun, ia mudah merasa terpuruk, terpojok, tersingkir, meski situasi tak terlalu buruk.

Untuk mengetahui apakah anak kita memiliki self worth yang positif atau negatif, ada lima parameter yang bisa dijadikan landasan.



  • Security - apakah anak merasa nyaman dan aman ada bersama orang lain dan lingkungannya?
  • Belongingness - apakah anak mampu menjadi bagian dari kelompok yang penting karena memberi makna tertentu?
  • Personhood - apakah anak mampu memahami siapa dirinya, apa perannya dan merasa nyaman dengan hal tersebut?
  • Competence - apakah anak sukses dalam sebuah proyek, dan merasa puas serta bahagia dengan tugasnya itu?
  • Direction - apakah anak memiliki tujuan jelas, arah, pilihan-pilihan, peluang-peluang dan memiliki kesadaran penuh untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya angan-angan?

Tentu saja proses pembentukan konsep diri bukanlah sesuatu yang instan. Maka jangan terburu-buru khawatir dan merasa bersalah jika anak kita saat ini, yang mungkin masih berusia balita belum mau bersosialisasi dengan orang baru secara cepat. Semua ada masanya ya, pals. Konsep diri akan mulai terlihat ketika nanti anak-anak mulai baligh. Bagaimana ia memandang sebuah tantangan, cara dia mengambil keputusan, dan keberaniannya dalam melakukan hal-hal baru bisa jadi sebuah titik terang dari proses pengasuhan kita.

Mengapa Memilih Topik Konsep Diri?



Aku mengangkat konsep diri sebagai topik pilihanku karena untukku ini masalah krusial, dan qodarullah aku melihat tantangan tersebut di depan mataku sendiri. Baik itu yang aku alami secara langsung ataupun tidak langsung. Adapun beberapa tantangan yang kutemukan antara lain;


Pada diriku sendiri

Hingga detik ini aku masih berjuang untuk terus menumbuhkan konsep diri yang positif di dalam diriku. Jika teman-teman pernah membaca postingan-postinganku sebelumnya pasti tahu pada keluarga seperti apakah aku dibesarkan. Orangtuaku sebenarnya sangat demokratis, namun ada jejak luka yang mereka tinggalkan sangat parah hingga aku pernah merasa di titik bahwa aku tidak dicintai, tidak diharapkan, dan tidak diinginkan oleh mereka. 



Awalnya aku merasa ini tidak akan menjadi masalah, namun ternyata ini adalah sumber dari segala masalah yang kemudian timbul ketika aku menjadi seorang ibu. Aku begitu susah mengendalikan emosi dan justru mengulang hal-hal buruk yang tak kusukai dari kedua orangtuaku. Bahkan seringkali aku merasa seperti monster yang siap menerkam anak-anakku. Mengerikan. Aku bersyukur kini dikelilingi dengan teman-teman yang positif dan supportive, salah satunya dengan bergabung dengan Ibu Profesional, yang membuatku terus belajar dan belajar.


Pada anak pertamaku


PR besarku adalah menyembuhkan luka yang sudah kutoreh pada anak pertamaku. Sebab dari kefakiran ilmuku saat dia lahir, tanpa sadar telah banyak luka yang kutoreh pada diri anakku. Aku yang masih belum bisa mengontrol emosi, seringkali melakukan hal kasar kepadanya yang efeknya tentu tidak hanya secara fisik dan psikologis. Yang sangat terlihat dengan jelas yaitu Ifa ketakutan keramas/ mengguyur rambut sampai sekarang. Hal ini karena aku pernah memberinya hukuman di kamar mandi dan mengguyurnya dengan air penuh emosi. 



Ya, sebuah PR besar untukku merangkulnya kembali dan meminta maaf atas segala perilaku kasarku kepadanya. Mengembalikan kepercayaannya padaku dan juga self worth nya yang terluka. Doakan ya semoga tidak membekas hingga dewasa.

Pada seorang remaja, anak tetangga


Sebut saja namanya H. Seharusnya saat ini ia duduk di bangku kelas 3 SMP, namun karena sesuatu hal, ia harus berhenti sekolah. Sebenarnya anak ini masih bisa tetap berpendidikan ya, bukankah sekolah hanya salah satu cara mendapat pendidikan? Namun jika memang cara ini tak cocok untuk si H, maka masih ada banyak cara baginya untuk mendapat pendidikan yang layak. Masalahnya orangtuanya termasuk tipe yang masih konservatif. Beberapa kali sang ibu berkonsultasi denganku, dan aku berusaha memberikan saran yang terbaik. Aku juga mengenalkannya dengan salah seorang psikolog yang aku kenal, namun saat jadwal telah ditentukan kedua orangtua H batal datang. Alasannya, “Percuma, anaknya juga paling nggak mau berubah.”

Jika orangtuanya saja sudah pesimis pada anaknya, lalu pada siapakah anak akan bergantung? Apalagi ketika cap sebagai anak nakal, bandel, preman dan anak jalanan sudah terlanjur melekat pada dirinya. 



H ini sebenarnya berbakat di bidang olahraga, dan dia sebenarnya tertarik dengan sepakbola. Namun ibunya memaksa untuk menekuni bola voli. Sebagai anak, ia menurut. Bahkan prestasi di bola voli pun cukup baik, bersama timnya beberapa kali ia memenangkan juara di tingkat kota dan provinsi. Sang ibu yang aku lihat cukup perfeksionis, pengennya anaknya bisa masuk ke SMP negeri dengan nilai yang baik. Sedang kemampuan akademis H memang sebenarnya tidak cukup baik, terbukti ketika aku ngobrol dengannya, H bilang, “Aku capek sekolah, tan. Pusing.”

Akhirnya mungkin karena sudah saking puncaknya, si H mencari kenyamanan dari tempat lain. Ternyata tempat yang memberinya kenyamanan adalah mereka yang sering kita sebut sebagai anak punk atau anak jalanan. H sering beberapa bulan tidak pulang, berpindah dari satu kota ke kota lainnya, tidak lagi memedulikan sekolah dan orangtuanya. Saat aku tanyakan kepadanya, “Memangnya kalau lagi pergi-pergi jauh gitu, nggak kangen sama mama ayah?” Dia tersenyum simpul sambil menggeleng dan menjawab singkat, “Nggak.” Sorot matanya kosong dan penuh luka.

Pada seorang teman suami



Suami seringkali menceritakan temannya yang bernama Y ini. Setiap kali diterima di sebuah perusahaan, ia tidak akan pernah bertahan lebih dari enam bulan. Begitu ada sebuah konflik terjadi, ia akan memilih untuk resign tanpa mencoba meluruskan masalah atau mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. 

Pada beberapa matrikan di kelas matrikulasi Jateng 1


Membersamai teman-teman matrikan di kelas matrikulasi Jateng 1, tidak jarang aku akan mendapatkan japrian atau curcol berjamaah di grup. Apalagi memasuki materi ketujuh di mana mereka diminta menentukan hal-hal yang mereka sukai dan tidak. Beberapa orang menyatakan hingga di usianya mereka sekarang, mereka sama sekali belum menemukan kegiatan apa yang membuat mereka berbinar-binar. Mereka tidak tahu ingin menekuni apa ke depannya. Rata-rata setelah ditarik garis lurus, mereka yang hingga sekarang belum tahu apa potensinya adalah mereka yang ketika kecil hanya diminta pada nilai yang bagus, rangking yang baik, dan mengejar sekolah favorit. 



Berdasarkan tantangan yang aku temukan dalam diriku dan sekitarku inilah, aku merasa yakin bahwa membangun konsep diri positif dalam diri anak adalah hal yang sangat penting dalam proses pengasuhan. Agar anak bisa mengenali dirinya dengan baik, dengan positif, mampu mengetahui apa potensi dan perannya, maka sebelumnya orangtua pun harus memiliki konsep diri yang positif terlebih dahulu.


Inner Child yang Bisa Jadi Hantu di Masa Dewasa


Berkaitan dengan konsep diri, maka kita mau tidak mau juga harus membicarakan tentang inner child. Dalam materi seminar “Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak” bersama Kang Firman dan Teh Elma pada 11 Maret 2018 yang lalu, disampaikan bahwa a person’s supposed original true self, especially when regarded as damaged or concealed by negative childhood experiences. Atau kalau disimpulkan dalam bahasa sederhana inner child adalah bentuk diri sejati seorang manusia yang otentik dan murni.

Rekaman proses kehidupan masa kecil, khususnya terkait bagaimana orangtua, saudara, dan orang lain di lingkungan menghadirkan pengalaman dan perlakukan kepada dirinya akan tersimpan dan kemudian membangun skema. Suatu pola aksi reaksi dalam perilaku. Anak yang tumbuh dengan penerimaan, pemahaman, dan dukungan akan memiliki inner child yang bahagia, penuh emosi dan skema positif sehingga akan menguatkan bakat dan kepribadiannya



Sebaliknya anak yang tumbuh di tengah penolakan, kesalahpahaman, pengabaian, akan menyimpan inner child yang negatif, dan terus terbawa ke masa dewasa, lalu mempengaruhi perilakunya. Skema negatif akan memunculkan pola emosi yang merusak ke dalam atau ke luar.

Selama ini kita mungkin kalau mendengar istilah inner child pasti selalu terbayang hal negatif ya, ternyata tidak pals. Inner child tidak selalu berkonotasi negatif. Jika seorang anak memiliki pengalaman masa kecil yang menyenangkan, inner child di dalam dirinya pun sesosok anak yang bahagia.


Berikut ini jenis-jenis inner child yang perlu kita ketahui:



  • Vulnerable child - sosok anak yang gelisah dan rentan karena kurang dukungan penerimaan.
  • Angry child - sosok anak yang marah karena merasa direndahkan, diperlakukan tidak bernilai, dan tidak mendapatkan apa yang ia yakini sebagai haknya.
  • Playful child - sosok anak yang bebas dan ekspresif dengan emosi positif.
  • Creative child - sosok anak yang cerdas dan kreatif produktif.
  • Spiritual child - sosok anak yang memiliki kesadaran akan ketuhanan dan kebaikan.

Nah, pola pengasuhan orangtua, self worth dan inner child ini saling memengaruhi. Oleh karenanya jika kita ingin anak-anak memiliki konsep diri yang positif, kita harus mengasuh anak dengan gaya yang positif sehingga anak merasa dirinya berharga dan memiliki inner child yang positif.

Langkah-langkah Membangun Konsep Diri Positif


Pengasuhan adalah upaya tulus dari orangtua untuk memberi titik berangkat yang baik bagi anak dalam perjalanannya mengenal diri, berkembang dewasa dan otentik, hingga kelak ia memenuhi maksud penciptaan dirinya. 

Bagi seorang anak, keluarga adalah tempat tumbuh yang subur, rumah tenang tempat untuk pulang, mata air kekuatan dan kebahagiaan, serta penyangga pikiran hati dan jiwa. Maka sebelum muluk-muluk kita mengembangkan multiple intelligences pada anak, mengenal bakat dan potensi anak kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah melakukan penerimaan secara keseluruhan pada diri anak-anak



Kita harus meyakini bahwa semua anak adalah bintang. Anak hadir dengan waktu, kondisi, sifat dan berbagai karakteristiknya sesuai kehendak Allah. Oleh karenanya dengan menerima anak kita secara keseluruhan, itu artinya kita telah berproses terhadap penerimaan akan rencana Allah yang Maha Sempurna. Kita juga harus senantiasa yakin akan kebaikan yang ada dalam fitrah anak.

Dengan melakukan penerimaan yang keseluruhan terhadap semua hal dalam diri anak kita, kita akan menumbuhkan anak yang sehat, membentuk self worth positif, menciptakan ekosistem keluarga yang kondusif dan membekas kuat dalam diri anak, serta mempengaruhi seluruh tahap selanjutnya dalam kehidupan anak.

Dari beberapa referensi buku yang aku baca maka bisa aku simpulkan untuk membangun self worth dan inner child positif pada anak yang nantinya akan melahirkan konsep diri positif pada diri mereka saat dewasa, inilah langkah-langkah yang harus dilakukan:

Pertama, tazkiyatun nafs.



Selalu rajin bermuhasabah diri atas segala perjalanan hidup yang telah kita lalui. Syukuri segala hal baik itu nikmat ataupun rasa sakit yang kita terima, yakini bahwa setiap jejak hidup yang kita tapaki, Allah ingin kita belajar akan sesuatu hal. Istighfar dan banyak minta ampun untuk menyucikan jiwa. Jiwa yang bersih akan menjadi tempat lapang untuk hal-hal positif berkumpul.


Kedua, terima dan maafkan masa lalu.



Jika kita memiliki pengalaman pengasuhan yang tidak mengenakkan dari kedua orangtua, terima pengalaman tersebut dan maafkan. Tidak ada satu pun orangtua yang ingin menyakiti anaknya, yakinkanlah hal tersebut dalam diri kita. Semua hal buruk yang mungkin saja pernah terjadi karena orangtua kita belum cukup ilmu tentang pengasuhan. Tahu sendiri kan zaman kita kecil mana ada seminar parenting

Jadi, mari hentikan mengingat-ingat hal buruk orangtua kita and let’s move on. Di antara sekian hal-hal buruk yang pernah dilakukan orangtua, pasti masih ada jutaan hal baik yang orangtua kita pernah lakukan. Hanya sayangnya hal baik itu tertutup karena kita fokus pada hal-hal buruk mereka. Tuliskan sebanyak-banyaknya kebaikan kedua orangtua kita dan tutup lembaran masa lalu. Ayo jadi regenerasi orangtua kita yang lebih baik.

Ketiga, merawat pernikahan.


Tidak bisa dipungkiri pola asuh kita kepada anak berbanding lurus dengan kesehatan pernikahan kita. Jika hubungan kita dengan suami baik, maka pengasuhan anak pun akan berjalan dengan lebih baik. Namun jika hubungan kita dengan suami amburadul, maka biasanya anak pun menjadi korban atas keamburadulan hubungan tersebut.

Dikutip dari buku Orangtuanya Manusia karya Munif Chatib, disampaikan beberapa tips praktis merawat pernikahan yaitu:


  • selalu mengingat prinsip bahwasanya cinta dan kasih sayang itu saling memberi bukan menuntut, 
  • selalu sediakan quality time untuk berdua, bersabar terhadap kekurangan pasangan, 
  • tidak membandingkan kekurangan pasangan, 
  • memusatkan perhatian pada kebaikan pasangan seraya menerima kekurangannya, 
  • menghormati dan menghargai pasangan, 
  • hindarkan sejauh mungkin ‘bermain mata’ dengan orang lain, 
  • saling menasihati, 
  • keep an open mind
  • menahan marah, memaafkan, dan mengucapkan terima kasih, 
  • menjaga kebugaran dan penampilan setiap saat, 
  • serta saling memahami kesibukan masing-masing. 

Ketika hubungan antara suami dan istri telah terjaga dengan baik, maka keduanya harus menyadari tentang prinsip dual parenting.

Yaitu pengasuhan yang melibatkan ayah dan ibunya. Artinya di dalam pengasuhan, ayah dan ibu memiliki porsi yang sama, tidak ada yang lebih besar dan lebih sedikit. Semuanya saling memberi andil dalam pembentukan konsep diri anak. 

Bagaimana jika kedua orangtua bercerai? Ingatlah bahwasanya ada mantan istri dan mantan suami, tapi tidak pernah ada mantan anak dan mantan orangtua. Anak-anak memilki hak atas kedua orangtuanya, hak untuk diasuh dan mendapat kasih sayang secara utuh, bahkan meski keduanya telah berpisah.

Ayah dan ibu harus mampu menempatkan peranan pengasuhan sesuai dengan fitrah dan tugasnya masing-masing. Ayah dan ibu harus bisa berperan sesuai fase perkembangan anak dari semua aspeknya. Oleh karena itu orangtua harus menyadari bahwa pengasuhan pun ada standarnya, meliputi ayah ibu harus hadir dalam pengasuhan dengan kualitas memadai, jumlah waktu yang cukup dan pada waktu yang tepat.

Keempat, menjalankan child centered parenting. 



Ada banyak gaya pengasuhan, yang paling umum kita temui dalam masyarakat yaitu pola asuh otoriter, pola asuh permisif pola asuh abai dan pola asuh demokratis.

  • Pola asuh otoriter yaitu sebuah tipe pengasuhan dengan tuntutan yang tinggi, kaku, tidak fleksibel, tidak responsif, mendesak anak mengikuti arahan orang tua, penerapan hukuman dan menghargai kerja keras. Hasil dari pola asuh ini biasanya akan menghasilkan dua jenis karakter anak, yaitu anak pemberontak yang bisa terlibat kenakalan dan kejahatan. Atau anak tertutup, menarik diri, menghindari konflik dan menjadi pribadi yang ‘yes man’ mau saja disetir oleh orang lain.
  • Pola asuh permisif yaitu sebuah pengasuhan yang lebih mengedepankan kasih sayang tapi tidak disertai dengan batasan berupa tuntutan. Sesuatu yang berlebihan pun tak baik, ya pals. Kasih sayang yang terlalu besar tanpa diberi arahan dan batasan yang jelas pada hal-hal tertentu justru akan memanjakan anak. Sering dong kita dengar pernyataan semacam ini, “la gimana lagi kalau nggak dituruti, anaknya nangis sih.” Apakah harus kalah dengan tangisan anak? Lebih rela anak menangis saat kecil karena belajar sesuatu atau kita yang dibuat menangis oleh anak di masa yang akan datang karena anak kita jadi sosok yang seenaknya? Hasil didik dari pola asuh ini biasanya anak-anak yang ketika dewasa akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya, termasuk dengan korupsi, menindas orang lain atau berbagai bentuk kejahatan lainnya. 
  • Pola asuh abai (tidak peduli) adalah sebuah gaya pengasuhan dengan kasih sayang yang kurang dan tuntutan pun juga sangat rendah. Biasanya pola ini terjadi pada orangtua yang sibuk bekerja hingga kurang waktu dalam membersamai anaknya. Merasa bahwa kasih sayang mereka sudah terwakili dari pemberian fasilitas yang memadai, namun lupa bahwa anak-anak butuh dari sekedar fasilitas aneka rupa. Hasil didik dari pola asuh ini yaitu anak-anak yang merasa dirinya tidak berharga. Mereka akan tubuh menjadi pribadi yang kurang memiliki kompetensi sosial, kurang dapat mengontrol diri dan tidak mandiri. 
  • Pola asuh demokratis adalah pengasuhan yang memberikan tuntutan kepada anak sekaligus responsif terhadap kemauan dan kehendak anak. Orangtua demokratis bersikap asertif yaitu membiarkan anak untuk memilih apa yang menurutnya baik, mendorong anak untuk bertanggungjawab atas pilihannya, tetapi tetap menetapkan standar dan batasan yang jelas pada anak serta selalu memberikan pengawasan yang cukup. Kalau istilah kang Firman dan Teh Elma, pola asuh ini dinamakan dengan child centered parenting, yaitu pola asuh yang berpusat pada anak. 
Tentu kita setuju ya di antara keempat jenis pengasuhan, pola asuh demokratis atau child centered parenting adalah gaya pengasuhan yang paling cocok diterapkan. 
Sebuah kondisi di mana orangtua mengasuh anak dengan memandang dari sudut pandang hidup anak. Orangtua juga harus berperan sebagai orangtua yang dewasa dan tulus, serta memberikan yang dibutuhkan anak, bukan apa yang bagus dalam pandangan kita. 

Saat menentukan konsekuensi dan batasan, kita tidak melakukan semaunya tapi mengajak anak berdiskusi. Ketika anak melakukan kesalahan, orangtua tidak langsung memarahi namun mendengar alasan anak dan memahami. Meski begitu aturan tetap dilaksanakan secara konsisten. Pola asuh yang berpusat pada anak ini akan membangun anak-anak yang bisa mengekspresikan emosi dengan tepat serta mampu mengembangkan keyakinan-keyakinan dirinya yang positif.


Kelima, doa sebagai senjata pamungkas.



Segala ikhtiar telah dilakukan, namun semua tidak akan berarti jika setiap hal yang kita lakukan tidak diiringi dengan doa yang tulus. Sekuat apapun kita berusaha, sebaik-baiknya penjaga adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Maka selalu sandarkan setiap usaha yang kita lakukan padaNya. 

Bagaimana jika kita terlanjur meninggalkan jejak-jejak luka di hati anak? Jangan terlalu larut dalam rasa bersalah yang berkepanjangan. Manusia adalah tempatnya khilaf dan segala kesalahan. Minta ampun kepada Allah dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut dengan sebaik-baiknya berusaha. Jangan pula merasa gengsi untuk meminta maaf kepada anak-anak atas kesalahan yang telah kita lakukan. 

Orangtua yang demokratis tidak pernah takut meminta maaf jika ada kesalahan yang sengaja atau tanpa sengaja diperbuat. Justru di sinilah kita mengajarkan pada anak bahwasanya kita ini adalah manusia biasa yang punya kesalahan. Kita juga perlu menyadari perilaku anak saat ini adalah cerminan dari pola asuh kita. Maka jika menurut kita, anak sangat menjengkelkan, susah diatur, bandel dan hal-hal buruk lainnya, mari kita cek dulu bagaimana pola asuh kita selama ini.

Lalu sadarilah bahwa tidak mungkin kita mengharapkan perubahan pada perilaku anak-anak jika perubahan tersebut tidak dimulai dari diri kita sendiri. Minta maaf, ubah cara komunikasi dan pengasuhan kita, lalu bersiaplah mendapati perubahan yang signifikan dari anak-anak. Mau punya anak saleh? Maka jadilah orangtua saleh terlebih dahulu!

Aku akan tutup jurnal ini dengan mengutip pernyataan dari prakata Angga Setyawan dalam bukunya yang berjudul Anak Juga Manusia untuk pengingat bagi diriku sendiri, mungkin juga buat teman-teman pembaca,



Jika kita sadar bahwa diri kita ini manusia, kita juga perlu sadar bahwa anak-anak itu anaknya manusia. Kemudian, mengapa kita marah saat ia berbuat salah? Mengapa kita memukul? Mengapa kita mempermalukannya di depan umum? Mengapa kita mengancam? Kita sering lupa bahwa anak juga manusia yang sedang berproses menuju dewasa. Anak-anak tidak butuh orangtua yang sempurna. Anak-anak hanya butuh teman yang bersedia untuk tumbuh dan belajar bersamanya. Maukah kita menjadi teman seperti itu?
Salah satu hadiah terbesar bagi anak adalah orangtua yang mau belajar soal anak. Jika orangtua bertambah ilmunya seiring mendampingi anak, akan jauh lebih mudah baginya dalam mendidik anak. Kita jadi tahu apa yang harus kita lakukan. Kita jadi tahu apa yang sedang kita lakukan. Kita jadi tahu apa yang akan kita lakukan. Bukan sembarang dan bukan asal-asalan karena perlakukan kita terhadap anak akan jadi bekal hidupnya kelak dalam mengarungi kehidupan.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.




Referensi:


Adhim, Mohammad Fauzil. 2015. Positive Parenting. Yogyakarta: Pro-U Media.

Alimah, Niken TF dkk. 2013. Bunda Sayang 12 Ilmu Dasar Mendiidk Anak. Solo: Gazza Media.

Chatib, Munif. 2012. Orangtuanya Manusia: Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak. Bandung: Penerbit Kaifa, PT Mizan Pustaka.

Hariyanto, S.Pd. Jenis-jenis Konsep Diri. http://belajarpsikologi.com/jenis-jenis-konsep-diri/. Diakses pada 16 September 2018

Materi “Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak” disampaikan oleh Muhammad Firman dan Elma Fitriana pada Hotel Candi Indah, Semarang - 11 Maret 2018.

Noe’man, Rani Razak. 2012. Amazing Parenting Menjadi Orangtua Asyik, Membentuk Anak Hebat!. Jakarta: Noura Books.

Setyawan, Angga. 2013. @Anak Juga Manusia. Jakarta: Noura Books.

Widayanti, Ida S. 2015 (Cetakan kelima). Mendidik Karakter dengan Karakter. Jakarta: Arga Tilanta.










You Might Also Like

7 comments

  1. Lengkap kap kap... Makasih mba remainder lagi buat saya 😍

    ReplyDelete
  2. Terimakasih.. Insya Allah jd ilmu bermanfaat bagi sy & org tua lainnya 💖

    ReplyDelete
  3. Lengkap dan makin menyadarkan bahwa dalam menemani buah hati butuh rem agar tak meninggalkan luka yang menciderai fitrahnya. Mari terus semangat semoga Allah memudahkan semuanya.

    ReplyDelete
  4. MasyaAllah.... baca smpe selesai, ga terasa mpe basah mataku mbak, bacanya sambil nyium n peluk anaku yg lagi bobok, sambil bisikin minta maaf... trimakasih mbak Marita udah nambah wawasan n ilmu, sukses terus yaaa

    ReplyDelete
  5. Mbak ririt. Ketemu lagi disini.😍
    Suka dengan Gaya tulisan mbak ririt ini. Tadi pas dengerin lagu Michael Jackson teringat seminar bu Ida.
    Saya pernah ikut seminar bu Ida S. Widayanti kemaren2 ini, pas terakhir bc ada nama bu Ida di Daftar Pustaka. Saya sampai nangis saat ikut seminar tsb.

    Lengkap Dan detail sekali mbak my trimakasih ilmunya ya. Sangat bermanfaat. Izin save infografisnya ya mbak. Salam hangat.

    ReplyDelete
  6. Ya Allah.. makjleb banget quote terakhir: hadiah terbesar untuk anak adalah orang tua yang mau belajar menjadi orang tua manusia. Semoga kita semua termasuk ke dalamnya.. aamiin.. belajar terus.. terus belajar

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com