Anakku Speech Delay Nggak Ya? Cek Dulu Yuk Milestone Perkembangan Bicara dan Bahasa Anak!



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hari ini tibalah saatnya untuk menceritakan me time penuh faedah-ku saat mengikuti Parent Class #1 yang diadakan oleh DPSG (Dyslexia Parent’s Support Group) Semarang, bertempat di Qita Yoga, Jalan Kyai Saleh. Event tersebut diadakan pada hari Minggu, 2 September 2018 yang lalu, wuiss sudah setahun bo’.. Meski sudah setahun berlalu, namun insya Allah ilmunya masih relevan untuk dibagikan, mau tahu?

Aku masih ingat sekali mengapa waktu itu aku memutuskan hadir ke acara tersebut. Tak lain dan tak bukan karena merasa was-was dengan perkembangan bahasa Affan yang berbeda dengan kakaknya. Memang sih katanya setiap anak memiliki fase perkembangan yang berbeda, tak boleh dibanding-bandingkan. Namun jika terlalu berbeda tahapannya, kan takut juga to?

Ifa sudah sangat ceriwis dan punya banyak kosa kata sejak ia berusia 10 bulan. Memasuki 12 bulan ia mulai pandai merangkai kalimat-kalimat pendek. Saat seusia Affan, Ifa sudah bisa merangkai kalimat dengan susunan tiga kata. Affan? Duh, setiap kali distimulasi bicara, ia nampak mendengarkan, namun tak pernah mau mengikuti. 

Saat itu aku mencoba tenang mungkin berhubungan juga dengan proses kelahiran Affan yang maju beberapa minggu sebelum HPL. Affan pun termasuk kategori BBLR (bayi dengan berat lahir rendah) pula. Namun hal tersebut tak bisa menghilangkan rasa was-was di hatiku. Maka ketika aku mendapat info Parent Class #1 yang diadakan DPSG ini, aku langsung cepat-cepat mendaftar.

Mbak Dian Ayu, ibu muda nan cantik dengan segudang prestasi dan aktivitas

Sebelum narasumber utama, Dokter Tunjungsari, Sp. A, menyampaikan materinya, mbak Dian Ayu selaku ketua DPSG menceritakan alasan dipilihnya tema milestone perkembangan bicara dan bahasa anak untuk Parent Class #1. Tak lain karena bahasa merupakan indikator adanya bahaya dalam perkembangan anak. 

Mbak Dian mengatakan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh dua hal; riwayat kelahiran & kehamilan serta faktor stimulasi. 

Jika seorang anak terindikasi speech delay, maka ada dua hal yang harus dikonfirmasi; bagaimana riwayat kelahiran & kehamilannya, serta bagaimana faktor stimulasinya di rumah. Apakah tinggal bersama orangtua saja, atau dengan keluarga yang lain? Ataukah sering diajak bicara atau diberikan gadget sebagai teman main?

suasana belajar pagi itu

Nah, terjadinya speech delay ini bisa menjadi pertanda atau gejala gangguan perkembangan lainnya, seperti autisme atau dyslexia. Mbak Dian Ayu yang putranya terindikasi dyslexia ini menceritakan beberapa ciri dyslexia yang bisa terlihat; sering mengucapkan kata-kata secara terbalik, saat menerangkan sesuatu hal kepada lawan bicara hanya dia yang paham sementara orang lain tak paham, suka menulis terbalik-balik (d menjadi b atau p), sering tantrum, dan executive function-nya tidak jalan. 

Contoh executive function yang tidak berjalan misal sudah diberi jadwal kegiatan, diberi weker sebagai alarm, namun tetap kesusahan mengatur waktu. Jika tidak diatasi dengan tepat, anak-anak dyslexia akan tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang tak memiliki rasa tanggung jawab, mudah lupa akan sesuatu hal dan nggak tepat waktu. Nah lo… kok aku merasa kesindir ya, hehe.

Ternyata dari sebuah milestone perkembangan bahasa kaitannya bisa ke mana-mana ya. 

Perbedaan Pertumbuhan dan Perkembangan

dokter Tunjungsari, Sp. A

Setelah mbak Dian Ayu selesai menyambaikan sambutan, dia mempersilakan Dokter Tunjungsari memulai presentasinya. Dokter memulai materinya dengan membahas pertumbuhan dan perkembangan. Beliau mengungkapkan bahwa pertumbuhan sama pentingnya dengan perkembangan. Hayo ada yang tahu nggak sih bedanya pertumbuhan dan perkembangan?

Pertumbuhan itu mengacu pada bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, bertambah ukuran fisik dan struktur tubuh, dilakukan dengan pemantauan berat badan, panjang/ tinggi badan dan lingkar kepala. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktur fungsi tubuh yang lebih kompleks, bersifat kualitatif, mengukurnya dengan istilah ‘tidak bisa, bisa dan mahir’. Area perkembangan meliputi motorik kasar, motorik halus, interaksi sosial dan kemandirian, berbahasa serta kognitif. 



Golden ages, terutama dua tahun pertama anak, adalah masa-masa terpenting. Saat bayi baru lahir, berat otaknya kurang lebih 350 gram, ketika anak berusia 2 tahun berat otaknya bisa mencapai 1250 gram. Dari 2 tahun menuju usia dewasa, berat otak sekitar 1450 gram. Di usia 40-50, kapasitas otak bahkan mengalami penyusutan.

Di sini kita bisa lihat betapa di 2 tahun pertama seorang anak, terjadi perkembangan otak yang sangat pesat. Jikalau di 2 tahun pertama ini, anak-anak kurang asupan, dan pertumbuhan berat otaknya kurang dari perkiraan tersebut, fatal sekali akibatnya. Karena ini akan berkelanjutan hingga ke usia-usia selanjutnya. Jika di awal sudah kekurangan sesuatu, maka tumbuh kembang di fase berikutnya akan terus kurang dan butuh usaha yang lebih keras.

Begitu juga dengan perkembangan bahasa. Jika di dua tahun pertama, PR nya sudah sangat banyak, maka butuh usaha yang lebih keras di usia-usia berikutnya. Maka dari itu, penting sekali bagi orangtua untuk mengecek milestone perkembangan bahasa anak. Jangan sampai terpikir, “aah, nanti juga bisa sendiri.

4 Hal Terkait Perkembangan Bahasa


Sebelum kita panik apakah anak kita termasuk speech delay atau nggak, lebih baik kita mengetahui dulu hal-hal yang terkait dengan perkembangan bahasa pada anak:

1. Berbicara



Fase di mana anak menghasilkan bunyi yang spesifik dengan artikulasi, fonasi, kualitas, kelancaran atau volume tertentu. Berhubungan dengan sistem oral motor, pita suara, sistem pernafasan dan susunan syaraf pusat. Misal; anak mulai babbling.


2. Berbahasa



Ada dua fase dalam berbahasa; reseptif dan ekspresif. Anak yang baru berada pada fase reseptif hanya memahami apa yang disampaikan oleh lawan bicara. Sedangkan anak yang sudah masuk fase ekspresif adalah anak yang mampu menyampaikan ide dan pikiran secara verbal atau tulisan.

3. Mendengar



Sama halnya dengan poin kedua, kemampuan mendengar juga ada dua fase; pasif dan aktif. Anak yang baru bisa mendengar pasif bisa menangkap gelombang suara yang datang, tapi tidak bisa mencerna menjadi suatu makna. Sedangkan anak yang sudah bisa mendengar secara aktif, mereka bisa mencerna input suara yang masuk menjadi informasi yang bermakna.

Saat anak usia 1-2 tahun kita stimulasi beberapa kosa kata baru, untuk anak yang baru bisa mendengar secara pasif, ia hanya mengulang apa yang kita katakan tanpa paham apa maksud dari kata tersebut. Namun jika si anak tidak hanya bisa mengulang kata yang kita ucapkan, namun paham maksudnya artinya ia sudah mendengar secara aktif. Untuk mengeceknya, kita bisa meminta anak untuk menunjukkan benda yang sesuai dengan kata yang diajarkan. 

Misal, kita ajarkan tentang bagian tubuh. Anak yang mendengar pasif bisa mengulang kata-kata yang kita ucapkan; telinga, mata, mulut, dsb. Tapi dia belum bisa menunjukkan mana telinga, mata dan mulut. Namun anak yang sudah mendengar secara aktif, sudah bisa mengucapkan sekaligus menunjukkan mana telinga, mata dan mulut.

4. Berkomunikasi



Pada tahapan ini, anak sudah bisa diajak berdialog secara interaktif, memahami pembicaraan dengan baik, nyambung ketika diajak bicara dan mampu mengekspresikan pikiran melalui lisan maupun tulisan.

Milestone Perkembangan Bahasa


Untuk mengecek apakah anak-anak kita termasuk anak yang terganggu perkembangan bahasanya, kita bisa lihat dari milestone berikut ini;

A. Milestone Bahasa Reseptif


B. Milestone Bahasa Ekspresif


C. Perkembangan Bahasa Anak 18 - 23 Bulan


D. Perkembangan Bahasa Anak 2 - 3 Tahun



E. Perkembangan Bahasa Anak 3 - 4 Tahun



F. Perkembangan Bahasa Anak 4 - 5 Tahun


G. Perkembangan Bahasa Anak Usia 5 Tahun


Gangguan Bahasa pada Anak, Bagaimana Mengatasinya?


Keterampilan komunikasi adalah hal yang mutlak untuk perkembangan anak, khususnya perkembangan sosial dan kognisi. Membaca, menulis, bahasa tubuh, mendengarkan dan berbicara adalah bentuk-bentuk berbahasa atau berkomunikasi.

Dokter Tunjungsari mengungkapkan bahwa seorang anak dianggap mengalami gangguan berbahasa jika kemampuan bicara dan atau bahasa di bawah kemampuan anak seusianya. Penyebab gangguan komunikasi bisa terjadi karena gangguan anatomi alat bicara, gangguan pendengaran, gangguan susunan saraf, gangguan perilaku dan keterbelakangan mental.


Jika dari milestone di atas, kita menemukan bahwasanya perkembangan bahasa anak kita ada yang tertinggal fasenya. Maka harus segera dilakukan intervensi dan dicari penyebabnya. Treatment yang harus dilakukan;

1. Di usia saat kita mengetahui adanya keterlambatan berbahasa tersebut, anak sudah bisa apa saja?

2. Anak dikatakan terlambat perkembangannya jika antara milestone dan pencapaian si anak terpaut 3 bulan. Misal, anak sudah usia 18 bulan, namun perkembangan bahasanya baru mencapai milestone anak usia 15 bulan. Maka yang seperti ini dikatakan terlambat.

Sedangkan anak yang perkembangannya ketinggalan yaitu jika antara milestone dan pencapaian si anak terpaut 6 bulan. Misal, anak sudah usia 18 bulan, namun perkembangan bahasanya baru mencapai milestone anak usia 12 bulan. Maka yang seperti ini dikatakan ketinggalan.



Jika kita terlambat mengintervensi, bisa terjadi gangguan belajar, prestasi akademik menurun, gangguan interaksi sosial dan gangguan perilaku.

Maka penting sekali bagi orangtua untuk mencermati perkembangan anak, melakukan deteksi apakah perkembangannya normal atau tidak, jika ada kecurigaan akan hal-hal tertentu segera konsultasikan pada dokter anak, bila perlu konsultasikan pula ke ahli lain terkait (THT, psikolog, dll), lakukan intervensi multidisiplin dan lakukan evaluasi berkala.

Saat acara tersebut, aku sempat berkonsultasi pada Dokter Tunjungsari atas rasa was-wasku terhadap Affan. Aku bertanya apakah perlu kubawa ke dokter spesialis tumbuh kembang, namun kata beliau ditunggu saja hingga usia 2 tahun, kemungkinan Affan mengalami keterlambatan dan masih bisa dikejar. Dengan catatan, aku harus mengevaluasi penggunaan gadget di rumah dan menambah porsi stimulasi pada Affan. Jika dua hal ini sudah dibenahi dan saat Affan berusia 2 tahun belum juga mencapai tahap perkembangan sesuai fasenya, barulah dibawa ke dokter.



Alhamdulillah, ternyata apa yang disampaikan Dokter Tunjungsari terbukti. Begitu Affan berusia dua tahun, seminggu atau dua minggu kemudian, keluarlah kata-kata yang selama ini aku ajarkan. Yang tadinya kalau distimulasi kosa kata baru diam saja, Affan mulai berceloteh. Lega rasanya, ternyata Affan nggak speech delay. 

Sekarang usia Affan hampir tiga tahun. Meski kemampuan berbahasanya tak sama dengan kakaknya, namun dari checklist milestone perkembangan bahasa di atas sudah pas dengan usianya. Kini Affan sudah mulai bisa merangkai kalimat sederhana dengan tiga kata, dan sudah mampu berkomunikasi secara ekspresif.

Semoga catatan ini bermanfaat buat teman-teman yang galau tentang perkembangan bahasa anaknya. Terima kasih sudah mampir.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Post a Comment

3 Comments

  1. Semangat kak menebar ilmunya

    ReplyDelete
  2. Terima kasih, sharing informasi speech delay nya Mbak. Mantap.

    ReplyDelete
  3. Wah bravo๐Ÿ‘๐Ÿ–’

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com