Fiksi atau Non Fiksi? Faksi Saja Deh...



What do you want to be, Marita?” Tanya Pak Sunardi, salah seorang dosenku, mungkin sekitar 15 tahun yang lalu. 

Ditembak dengan pertanyaan tersebut, aku takjub. Tak bersiap dengan jawabannya. Fyi, saat itu aku masih menjadi mahasiswi S1 Sastra Inggris di sebuah universitas, dekat Tugu Muda Semarang. Aku suka belajar banyak bahasa asing, bukan cuma Bahasa Inggris, tapi sekedar suka, bukan karena ingin menjadi ahli bahasa or something related it. Dan sampai hari itu aku belum benar-benar memikirkan mau berprofesi apa dengan ijazah yang nanti aku dapatkan.

Tik tok tik tok tik tok. 

Waktu terus berputar, dan sekeras apapun aku mencoba menemukan jawaban. Yang terpikir cuma sebuah kata. Hingga kemudian spontan aku berkata, “I want to be an author, Sir.”

Pak Sunardi tersenyum lebar. “That’s good. I’ll look forward to your books!

***



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Hai gaess, apa kabar.. 

Sudah kaya youtuber belum? Hehe. Ada yang heran kenapa postingan kali ini dibuka ala-ala cerpen? Cuma mau sedikit napak tilas ke awal perjalananku kenapa akhirnya nyemplung ke dunia literasi. 

Kata-kata adalah doa.

Dan sepertinya doa tersebut sedang berproses saat ini. Sebenarnya kalau membicarakan tentang kesukaan menulis, bakal panjang bangeeeet. Awalnya sih karena suka membaca, lama-lama jadi pengen punya karya juga. Pengen karyanya terpampang di majalah-majalah dan koran. Impian yang tertinggi sih pengen punya buku yang dijual di Gramedia, wkwk.

Perjalananku di Dunia Literasi


Apakah perjalanannya mudah? Tentu tidak. Sejujurnya aku tak pernah yakin kemampuan menulisku cukup bagus. Meski zaman kuliah sering ‘dipaksa’ dosen untuk mewakili kampus mengikuti perlombaan karya tulis ilmiah, meski beberapa orang bilang tulisanku asyik dibaca, namun jauh di lubuk hati semua itu belum cukup.

pernah jadi mahasiswa

Karena ketidakyakinan itulah, aku pernah melupakan dunia literasi. Apalagi setelah lulus kuliah, menikah dan tenggelam dengan segudang rutinitas pekerjaan, manalah sempat menyusun aksara. Ya, sesekali masih menulis. Menulis rencana pembelajaran, laporan kerjaan, dan semacamnya, hehe. 

Misi hidup akan terus memanggilmu kembali meski berulangkali kau mencoba menghindarinya. Ia seperti benang merah yang mengikatmu dengan kencang. Seberapa kuat kau mencoba lari, kau akan kembali untuk pulang kepadanya. 

Sebuah penggalan puisi di atas bisa teman-teman baca di buku antologiku bersama teman-teman Rumah Belajar Literasi Media Ibu Profesional Semarang yang sedang dalam proses terbit. Itulah yang terjadi, bahwasanya setiap manusia memiliki misi personal di dalam hidupnya. Seberapa kuat kita berusaha menjauh dari misi tersebut, kita akan dibuat kembali kepadanya. Pada akhirnya, aku pun pulang kembali ke sini. Ke dunia kata-kata.




Perjalanan pulangku ke dunia literasi berawal sejak aku resign dari kantor. Terbiasa ngantor dan jarang memegang urusan domestik, sungguh menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah tantangan besar untukku. Mulailah aku cari-cari aktivitas me time yang bisa kulakukan di sela-sela pekerjaan utamaku sebagai seorang ibu. Seorang teman lalu mengabari kalau ada seseorang yang sedang mencari content writer untuk websites-nya. 

Nekat.

Tanpa punya bayangan apapun tentang pekerjaan tersebut, aku mencoba melamar. Setelah mengirim contoh tulisan dan wawancara via yahoo messenger. Alhamdulillah, I got the job! Luar biasaaa pengalamanku sebagai content writer. Merapat dengan ratusan ribu keyword dan target posting minimal lima artikel setiap hari. Dari titik inilah, aku mulai bertemu dengan komunitas-komunitas penulis dan blogger. Aku juga kembali membuat blog di tahun 2013, setahun setelah kujalani dunia baru sebagai content writer. Blog bagaikan sebuah escape jika sedang bosan dibombardir dengan keyword, keyword dan keyword.




Pada 2013, aku juga berhasil menerbitkan Rainbow, buku antologi pertama dengan genre flash fiction. 1000 buku berhasil dicetak. Sebuah kebanggaan sendiri, meski tidak diterbitkan oleh penerbit mayor. Namun melihat tulisan sendiri di sebuah buku yang tertera namaku di dalamnya, rasa-rasanya sebuah prestasi tersendiri.

7 buku antologi terlahir dari periode 2013 - 2014. Dua diantaranya diterbitkan oleh penerbit mayor dan bisa didapatkan di Gramedia. Berarti cita-cita lama zaman sekolah sudah terwujud dong? Sudahkah puas?




Entahlah. 

Aku justru mundur teratur dari grup-grup kepenulisan. Kesibukanku sebagai content writer sekaligus seorang ibu dari anak yang semakin aktif menguras tenaga. Aku tak lagi punya cukup dorongan untuk kembali menulis dan menerbitkan buku. Kujalani keseharian sebagai content writer tanpa ada perasaan menggebu, dan sesekali ngeblog for iseng.

Dan dunia aksara nampaknya telah menjadi misi yang Tuhan titipkan padaku. Aksara tak pernah lelah memanggilku meski aku berulangkali memalingkan muka darinya. Maka inilah janjiku padanya; tak akan henti menjentikkan jemari untuk merangkai kata, hingga kebermanfaatanku benar-benar memenuhi udara kehidupan hingga aku tutup usia.

Lagi-lagi aksara memanggilku untuk menjalankan misi dengan sepenuh hati. Bukan sambilan, bukan sampingan. 2016 - 2018 membawa banyak cerita dalam hidupku. Dari memulai niat ngeblog secara profesional, hamil anak kedua, ditinggal oleh ibu tercinta selama-lamanya, sampai akhirnya bertemu dengan Komunitas Ibu Profesional dan Pejuang Literasi.

Dua komunitas inilah yang semakin menguatkan misi personal yang Allah titipkan padaku. Dua komunitas inilah yang kemudian mengajarkanku bahwasanya kesuksesan dalam hidup itu tidak dihitung dari seberapa banyak materi yang dikumpulkan dan didapatkan. Namun dari seberapa besar kebermanfaatan yang telah kita berikan.



Titik inilah yang kemudian membuatku reset ulang seluruh hidup. Aku tak ingin hidup dengan sia-sia. Dengan sisa usia yang kupunya, aku ingin menebar lebih banyak manfaat. Lewat potensi yang Allah titipkan padaku; MENULIS.

Aku mulai menulis apa saja dan di mana saja. Dengan catatan; harus bermanfaat. Jika dulu setiap kali posting di sosial media, aku suka asal posting. Kini tidak lagi, aku harus berpikir ratusan kali. Ada manfaatnya kah ini. Banyakan mana antara mudharat dan manfaatnya. Jika dirasa aku ragu, lebih baik aku tak jadi posting. 

Tak lupa selalu mengucapkan basmallah setiap hendak posting sesuatu. Sebuah kalimat sederhana yang maknanya luar biasa itu pernah membuatku terperangah. Suatu ketika aku diingatkan Facebook atas sebuah status beberapa tahun lalu. Aku tak menyangka bisa menulis secakap itu. Namun kemudian tersadar, pasti karena Allah yang menuntunku! Maka jangan pernah lupakan basmallah sebelum melakukan aktivitas apapun, pals!



Antara Fiksi dan Non Fiksi, Faksi Saja Boleh?


Marita Ningtyas - a wife, mom of two, parenting enthusiast, momblogger & writer. 

Itu yang kutulis di bio facebook dan instagram-ku. Entah ini kepedean atau tidak, namun anggap saja doa. Yaaa…. meskipun sebagai seorang blogger masih gini-gini saja. Dibandingkan dengan Shintaries, Ani Berta, Haya Aliya Zaki, Grace Melia, Halo Terong, atau Annisast, jelas masih sangat jauuuuuh. Mbak-mbak blogger hits tersebut mungkin setiap melempar postingan baru bisa jadi langsung dapat 1000 viewers per post. Sementara aku ada 600 viewers setiap hari saja sudah sangat senang.

Sebagai seorang penulis pun aku juga masih jauuuh dari prestasi yang membanggakan. Sejak 2013 hingga hari ini aku baru memiliki 23 buku antologi yang diterbitkan keroyokan bersama teman-teman penulis lain, dan belum punya buku solo sama sekali. Padahal temanku yang baru memulai perjalanannya di dunia literasi, dalam setahun sudah bisa menerbitkan 50an buku antologi dan 1 buku solo. 

Di bidang content writer, aku juga ‘tenggelam’. Karena web yang kukerjakan hanya membutuhkan setoran tulisan tanpa ada namaku yang tersematkan, istilahnya ghost writer. Jadi yaaa… aku belum yakin branding-ku sebagai momblogger dan penulis apakah benar-benar sudah terbangun. Hahaha.




Saat mulai rendah diri seperti ini, aku lalu ingat wejangan Ibu Septi,

Setiap orang punya perannya masing-masing. Jangan pernah merasa diri kita terlampau rendah. Yang kecil buat kita, bisa jadi hal besar buat orang lain. Begitu pula sebaliknya. Fokus saja untuk terus berbuat baik.

Hal inilah yang memacuku untuk tidak lagi khawatir apakah tulisanku ada yang baca, followers-ku ada berapa. Aku hanya perlu yakin bahwasanya setiap tulisan pasti akan menemukan pembacanya. Jadi, mari menulis, menulis dan menulis.

Untuk lingkaran pertemananku sih, banyak yang tahu kalau aku punya blog, suka nulis artikel-artikel parenting, sudah menerbitkan beberapa buku dan Whatsapp story-ku selalu dinanti. Katanya isinya ndagiiing semua… alhamdulillah.




Kalau ditanya mana yang lebih kusukai antara genre fiksi dan non fiksi, biarlah aku memilih faksi. Alias di tengah-tengah, hahaha. Kenapa? Untuk keseharian aku memang lebih banyak menulis non fiksi. Dari artikel-artikel ringan ala curhatan bertema parenting dan pernikahan, hingga review film, buku, kuliner dan tempat wisata. Bisa dibilang aku lebih menjiwai menulis dengan genre ini. Mungkin karena sejak 2012 aku sudah sudah menggeluti genre ini. 

Saat ‘malam pembantaian’ karya di grup Nottingham, mbak Flo, salah satu PJ, berkata “Kakak lebih ngena di non fiksi menurut aku. Bikin buku motivasi.” Ihiir aku jadi terhuraaa… Tapi soal malam pembantaian, kapan-kapan saja ya kuceritakan. 

Ya pokoknya, untuk saat ini memang aku nyaman di genre non fiksi. Aku bisa menulis tanpa harus mikir, lepas dan benar-benar sangat menikmati. Dan kalau sudah menulis, bisa lupa diri dan lupa waktu, wkwk.




Lain halnya dengan genre fiksi, aku membutuhkan usaha berkali-kali lipat lebih dahsyat untuk menyelesaikan sebuah cerpen. Bahkan kini aku tak lagi bisa membuat cerpen yang benar-benar hasil imajinasi. Baru bisa menulis cerpen kalau ada inspirasi di dunia nyata. Contohnya ya cerpen yang kubuat untuk tantangan pekan 1 lalu. Hasilnya memuaskan? Ya, sangat memuaskan sampai habis dibantai pokoknya, wkwk. Tapi aku senang sih, jadi tambah wawasan dan ilmu mengenai teknik menulis dengan genre fiksi.

Bagaimana dengan faksi? Faksi adalah genre yang digunakan saat kita menyusun kisah-kisah inspiratif. Kisahnya diambil dari pengalaman di dunia nyata, tidak boleh berupa khayalan, namun disusun layaknya fiksi, dengan pemilihan diksi dan teknik showing agar lebih greget. Dari 23 buku antologi yang sudah kuterbitkan, sebagian besar adalah antologi kisah inspiratif. Itulah kenapa menurutku faksi yang paling seksi. 




Btw, di dunia literasi ada beberapa hal yang masih ingin kucapai. Yang pertama, aku ingin menerbitkan sebuah novel trilogi based on true story. Sebuah cerita warisan dari perjalanan hidup ibuku yang nggak kalah dramatis dari drama Korea, apalagi sinetron Indonesia rasa India. 

Kedua, aku ingin menulis tentang kisah hidup para pengidap sakit jantung bawaan, dilengkapi dengan artikel pendukung dari para dokter ahli. Sebuah buku yang ingin kupersembahkan untuk mengingat almarhumah adikku dan perjuangannya bertahan dari penyakit jantung bawaan. 

Ketiga, aku ingin membuat buku duet bertema parenting bersama suamiku, tentang “How Broken Home Couple Raising Their Kids.” Sebuah buku motivasi untuk para korban broken home untuk tetap optimis menjalani kehidupan berumahtangga. Hmm, kira-kira aku mampu nggak ya, pals?




Kalau ditanya aku ingin dikenal sebagai apa dan siapa. Aku hanya ingin dikenal sebagai Marita Ningtyas. Seseorang yang suka membagikan ide-idenya lewat tulisan di platform apapun. Tulisan yang bisa menjadi self reminder, ataupun motivasi, bagi para pembacanya secara umum, dan bagi penulisnya sendiri secara khusus. Mau itu disebut sebagai blogger, penulis buku, penulis konten… apapun istilahnya. Aku hanya ingin terus menulis. Karena dengan menulis aku ada! Doakan aku istiqomah ya, pals! Semoga nggak bosan membaca celotehanku di sini. Sampai jumpa. 

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Writing is an extreme privilege but it’s also a gift. It’s a gift to yourself and it’s a gift of giving a story to someone. (Amy Tan)



Post a Comment

7 Comments

  1. Sangat inspiratif bagiku mb mar ... Entah berapa kali aku terdampar di istanamu ๐Ÿ˜„๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿค—

    ReplyDelete
  2. Wah bener banget tuh Mbak memang dengan menulis kita bisa merasa senang

    ReplyDelete
  3. Teruslah menulis Mbak hehe. Karena dengan menulis kita juga bisa memberikan sebuah informasi

    ReplyDelete
  4. Jangan patah semangat Mbak. Semua memang butuh proses. Semangat semangat :D

    ReplyDelete
  5. Semangattt๐Ÿ–’๐Ÿ’ช

    ReplyDelete
  6. Semangat mbak,,,perlahan akan bisa dicapai selama menulis melekat dalam jiwa

    ReplyDelete
  7. Semangat yang pantang menyerah. Terima kasih sharingnya Mbak, saya belajar banyak nih ....

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com