Ups and Downs di Level 5 Bunda Sayang; Ketika Fasilitator Ditantang Membaca Situasi



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Level kelima terlalui sudah. Artinya kurang lebih sudah lima bulan aku menemani teman-teman di kelas Bunda Sayang Jawa Tengah batch #5. Di level ini, sebagaimana kusampaikan di jurnal fasilitator level keempat, aku mencoba sebuah gebrakan baru. Yaitu dengan memberikan review T10 hari yang disetorkan teman-teman sejak di awal tantangan dimulai.

Tujuan dengan mereview T10 hari ini agar teman-teman lebih semangat menjalani tantangannya. Sekaligus agar teman-teman yang belum sempat setor tantangan ikut terbakar semangatnya melihat postingan yang sudah setor direview. Ngefekkah? Sayang belum terbukti efeknya. 



Awalnya aku ingin melakukan cara ini hingga di hari terakhir setoran, namun nyatanya aku hanya bisa menjalankannya di dua atau tiga hari pertama. Setelahnya, aku hanya membaca postingan-postingan yang masuk tanpa memberikan review di grup. Mungkin jika aku lebih konsisten melakukan reviewnya, efeknya akan lebih terlihat. Ternyata ada yang menanti review harian juga lo, kirain nggak, hehe. Karena saat memasuki level keenam, ada yang melontarkan pertanyaan, 

“Nanti Mbak Marita kasih review sejak hari pertama nggak ya?” 

Meluangkan waktu untuk membaca dan mereview setiap postingan teman-teman ternyata sebuah tantangan tersendiri untukku. Apalagi saat level kelima yang lalu, aku juga harus membagi perhatianku antara Bunsay dan persiapan Konferensi Ibu Profesional. Semoga saja di level 6 aku bisa lebih sering memberikan review T10 harinya teman-teman. Ya, meski nggak per hari, mungkin bisa per dua atau tiga hari.

Sampai hari ini sih, aku belum memberikan review di WAG, namun aku mencoba memberikan komentar semua postingan T10 hari yang tagging akun instagramku. Untuk yang setor lewat blog dan facebook, maaf ya belum sempat nengok nih. Sabar ya, nantikan kunjunganku…

Menstimulasi Membaca; Dimulai dari Diri Sendiri


Level 5 adalah salah satu level terfavorit. Sepertinya bukan hanya untukku, namun juga untuk sebagian besar teman-teman di kelas Bunsay Jateng batch #5. Yang aku lihat sih, hampir semua penghuni Bunsay Jateng adalah para ibu yang senang membaca. Dari postingan-postingan mereka juga aku bisa lihat kalau mereka memberikan fasilitas yang memadai untuk putra-putrinya dalam proses menstimulasi membaca. 

Ada sih beberapa yang bercerita kalau minat membacanya masih kurang, hingga akhirnya bingung juga bagaimana menstimulasi anaknya membaca. Atau ada juga yang mengaku bahwa koleksi bukunya sangat minim karena keterbatasan dana. Alhamdulillah teman-teman saling berbagi ide dan tips bagaimana menstimulasi membaca yang menyenangkan, juga cara mencari buku bacaan dengan harga terjangkau.



Membaca tak sekedar soal ketrampilan membaca aksara. Lebih dari itu, membaca melibatkan juga proses memahami sebuah kalimat dan paragraf, hingga kita bisa mengambil inti dan hikmah dari apa yang kita baca. Hal ini yang kadang dilupakan. Seringkali kita menganggap membaca itu ya sekedar bisa baca abjad dengan lancar. Namun nyatanya banyak anak yang sudah menguasai keterampilan baca sejak usia 4 tahun, namun saat melihat buku tak ada ketertarikan sama sekali untuk membuka apalagi membacanya.

Membaca kemudian hanya menjadi rutinitas saat di sekolah, atau mengerjakan PR. Padahal sejatinya membaca adalah proses yang sangat kompleks. Bahkan membaca adalah perintah pertama yang Allah turunkan untuk umatNya. Hal ini membuktikan betapa pentingnya kemampuan membaca.

Tak hanya membaca teks sebuah buku, namun juga kemampuan membaca tanda-tanda alam, baik yang tersirat maupun tersurat. Ketika kita mampu membaca hal-hal tersebut, maka kita akan lebih mudah memahami segala ketentuan yang Allah tetapkan.



Membaca dan memahami memang sebuah hubungan yang tak bisa dipisahkan. Jika ingin dipahami, maka belajarlah memahami. Begitu juga halnya dengan membaca. Jika ingin anak-anak menikmati kegiatan membaca, maka kita sebagai orangtua harus menikmati dulu kegiatan tersebut. Jadi ingat sebuah artikel yang dibacakan mbak Prastika di sela-sela perjalanan level 5. Tentang tips membuat anak suka membaca jika orangtuanya nggak suka membaca. 

Kalau nggak salah ingat salah satunya adalah dengan berpura-pura membaca buku di depan anak. Waah, susah juga ya kalau harus pura-pura sedangkan sebenarnya nggak suka? Semoga saja kita termasuk para orangtua yang benar-benar suka membaca ya, jadi nggak terpaksa saat ingin menstimulasi anak suka membaca, hehe.

Di level ini, bukan hanya teman-teman yang berproses menemani keluarganya menjadi keluarga pencinta literasi. Aku pun berproses dalam membaca situasi kelas. Berusaha memahami apa sih yang sebenarnya diinginkan teman-teman. Dalam proses belajar di level 5, aku menemukan 7 hal yang kupikir harus dikuasai oleh seorang fasilitator. 


7 Arts of Facilitating yang Kutemukan di Level Kelima


1. Rajin Ngobrol

Sebagian besar teman-teman ternyata senang kalau fasilnya muncul tak hanya di jadwal-jadwal diskusi yang telah ditentukan. Meski hanya sekedar say hi atau ngobrol-ngobrol ringan. Ternyata nggak hanya saat membersamai anak-anak yang harus menjalankan 3B; banyak main, banyak ngobrol dan banyak berkegiatan bareng. Saat menjadi fasil, 3B itupun tetap menjadi kunci utama. Selain membangun bonding, ngobrol juga bisa menjadi penggugur sekat di antara fasil dan mahasiswi sehingga bisa lebih mudah memahami satu sama lain.

2. Private Chatting

Ada beberapa mahasiswi yang ternyata merasa diistimewakan ketika fasilnya mengajak ngobrol lewat jalur pribadi. Private chatting ini sebaiknya tidak sekedar untuk mengingatkan setoran T10, namun juga menanyakan kabar dan kendala yang dihadapi. Sejatinya semua orang suka diperhatikan. Hal-hal sederhana seperti mengomentari WA story atau mengomentari postingan instagram bisa jadi tips mengenal mahasiswi lebih dekat.

3. Giving before Being Asked

“Kutahu yang kau mau.” Tagline iklan produk apa ya ini? Yang pasti sempat booming belasan atau puluhan tahun lalu. Ada kalanya mahasiswi ingin fasilnya juga punya tagline seperti ini. Sebelum ditanya dan diminta, sudah dikasih duluan. Meski tak bisa diaplikasikan setiap saat, namun di momen-momen tertentu, hal ini wajib dicoba.

4. Let Them to Find The Solution

Fasil bukan mbak Google yang tahu segalanya. Fasil juga bukan sumber jawaban untuk segala pertanyaan dan masalah. Justru tugas fasil sejatinya adalah mendampingi dan memberikan sarana untuk saling berbagi solusi atas masalah dan kendala yang muncul dalam proses belajar. 


5. Memberikan Apresiasi, Bukan Evaluasi

Sebuah kebiasaan di negeri ini, semua hal dievaluasi, namun lupa memberikan apresiasi. Saat mendapat kesempatan menjadi bagian dari panitia Konferensi Ibu Profesional beberapa waktu lalu, aku kagum dengan cara Ibu Septi membesarkan hati para panitia. Beliau sama sekali tidak memberikan evaluasi kepada kami, meski tentu saja di dalam setiap event pasti ada kekurangan. Namun ibu memilih untuk fokus pada kebaikan-kebaikan yang dilakukan panitia dan mengapresiasi hal tersebut. 

6. Keep on The Track

Jika ingin para mahasiswi keep on the track dalam menyetor T10 harinya, maka fasilnya pun harus terlebih dahulu keep on the track dalam membersamai prosesnya. Harus all out, dan nggak setengah-setengah. Kalau memang dari awal sudah berniat memberikan ulasan untuk setiap T10 hari yang masuk, maka seharusnya hal itu dilakukan secara konsisten dan tidak berhenti di tengah jalan. Karena jika kemudian berhenti di tengah jalan, sepertinya akan ada mahasiswi-mahasisiwi yang merasa di-PHP-in. 

7. Don’t Forget Magical Words!

“Tolong, terima kasih dan maaf” harus selalu dijalankan. 3 kata ajaib tersebut akan selalu membawa efek yang luar biasa, bahkan saat disampaikan di WAG. Menjadi fasilitator tidak membuat diri kita selalu benar dan paling berkuasa, begitu saat kita menjadi orangtua.

7 hal di atas ternyata nggak hanya berguna saat menjadi seorang fasilitator sebuah kelas belajar seperti Bunda Sayang lo. Hal-hal tersebut juga dibutuhkan saat kita menjadi fasilitator belajar untuk anak-anak. 

Best of The Best di Bunsay Jateng Batch #5 Level 5



Membicarakan prestasi, buatku semua teman yang berhasil menyelesaikan T10 hari, apapun badge-nya adalah mahasiswi yang berprestasi. Mengingat selain berperan sebagai mahasiswi, mereka adalah para ibu yang juga mengurus suami, anak dan segala urusan domestiknya. Belum lagi untuk mereka yang juga bekerja di ranah publik. Dengan segudang aktivitas yang dimiliki, mereka masih sempat menyediakan waktu untuk menjalankan T10 hari adalah suatu hal yang sangat luar biasa.

Maka meski di level ini (lagi-lagi) jumlah perolehan badge dasar menurun, aku tetap bahagia. Sementara itu, nama-nama yang mendapatkan badge You’re Excellent dan Outstanding Performance mulai terlihat siapa saja mahasiswi yang memiliki konsistensi dalam kelas Bunda Sayang ini. Semoga istiqomah ya, teman-teman. I’m proud of you…

Di atas langit masih ada langit. Dan di antara semua mahasiswi Jateng yang berprestasi, inilah nama-nama yang berhasil mendapatkan best of the best:

1. Mahasiswi Teladan

Wara Septika Anggun Surya Sari


Sosok yang tegas dan keras. Meski terbiasa menghabiskan waktunya di jalanan untuk mendampingi suami sebagai sopir pribadi, namun mbak Wara selalu konsisten setor tantangan dan berhasil menaklukkan T10 hari dengan tuntas. Semoga istiqomah terus ya mbak Wara. Tulisan-tulisannya pun cukup bagus, sayang sekali belum percaya diri untuk mengunggahnya di sosmed ataupun di blog. Padahal kalau mau share secara lebih luas, insya Allah akan lebih banyak yang mendapat manfaatnya.

2. Mahasiswi Aktif

Dessy Heppy Pratiwi Soleh


Jujur, aku bingung memilih mahasiswi aktif di level ini. Tidak ada yang lebih aktif selain mbak ketua kelas yang setiap hari selalu nongol di kelas menyapa teman-teman dan mengingatkan untuk mengerjakan T10 hari. Mbak Dessy alhamdulillah hingga level ini juga masih selalu istiqomah menuntaskan T10 harinya dengan badge outstanding performance. Narasinya pun semakin hari semakin bagus. Salute!


3. Mahasiswi Apresiatif

A. Walida Kurniati


Setoran tantangan 10 harinya mbak Walida Kurniati menurutku sangat menarik dan inspiratif. DIsusun di instagram dengan feed yang cantik, sambil diselang-selingi quote terkait membaca. Narasi dibuat dalam infografis yang menarik membuat orang tidak bosan membacanya. Selain itu dalam setiap postingannya, mbak Walida tidak hanya menuliskan insight yang didapat anak namun juga apa yang didapat mbak Walida saat mendampingi anaknya membaca. Lihat salah satu post-nya di sini.

B. Siti Hapshoh


Postingan mbak Hapshoh di level ini sangat menarik, runtut dan enak dibaca. Disertai dengan gambar-gambar yang menambah keseruan cerita. Sepertinya memasuki level 5, mbak Hapshoh mulai menemukan kenyamanan menulis, sehingga di level ini mbak Hapshoh mulai mendokumentasikan T10 harinya lewat blog. Selamaaat atas blog barunya, semoga konsisten menulis ya mbak. Mau baca postingan mbak Hapshoh di level ini? Cuzz ke sini ya.

4. Aliran Rasa Ter - 

Lagi-lagi aku tidak bisa hanya memilih satu aliran rasa. Inilah 3 aliran rasa yang mampu memikat hatiku di level ini:

A. Aliran Rasa Terquote by Mbak Anggi Widya Rezania



Quote cantik dari aliran rasa tersebut: 

“Mama papa bukanlah orang kaya yang bisa mewariskan anak-anak dengan harta benda, mama papa hanya bisa mewariskan ilmu.”
Saat membaca aliran rasa dari mbak Anggi ini saya jadi ingat sesi KIP dengan bu Tri Mumpuni. Beliau berkata, 

“Jangan takut memberikan nasehat langit kepada anak-anak, meski terlihat susah dipahami di usianya, yakinlah nasehat itu akan membekas.” 

Dan ternyata nasehat dari orangtua mbak Anggi sangat membekas untuk dirinya hingga kini ia pun melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya. Karena sejatinya keluarga literasi itu dibangun dari kedua orangtuanya terlebih dulu.


B. Aliran Rasa TerHikmah by Mbak Hijriyani Saraswati



Quote dari aliran rasa Mbak Saras:

“Sesungguhnya tiada lain makna belajar ini kecuali untuk semakin taat pada-Nya dengan mengerti apa-apa yang menjadi perintah-Nya untuk kita lakukan dan apa-apa yang dilarang agar kita menjauhinya untuk kebaikan dunia dan akhirat. “

Narasi-narasi mbak Saras selalu tidak sekedar memberikan inspirasi, namun juga memberikan hikmah bagi setiap orang yang membacanya. Tantangan 10 hari yang konsisten ditutup dengan aliran rasa yang sangat manis. Pohon literasinya pun semakin rimbun setiap harinya. Semoga selalu istiqomah membersamai anak-anak membaca.


C. Aliran rasa Terkomplit by Mbak Ilik Sutari



Quote dari aliran rasa::

“Anakku, menjadi kutu buku saja tidak cukup! Jadilah predator buku! Iqro', bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Bacalah dengan tauhid yang menancap di dada…”

Mbak korlan level ini keren beud aliran rasanya, sampai satu postingan saja tak cukup sepertinya menggambarkan apa yang ada di hatinya. Akhirnya dua postingan instagram menjadi perwakilan hati. Bukan sekedar panjang pendek narasinya, tapi apa yang disampaikannya pun begitu menancap di dada. Sebagaimana kalimat penutup yang ditulis mbak Ilik, membacanya dada ini pun ikut bergemuruh. 

5. Mereka yang Istimewa di Level 5



Level 5 juga semakin semarak dengan hadirnya Jumat Hangat yang diisi oleh para ibu istimewa. Jumat Hangat pertama begitu gayeng bersama mbak Ani Aznikhatul Khusna. Ibu cantik berusia 33 tahun yang berprofesi sebagai bidan ini banyak berbagi tentang jenis-jenis KB dan suka dukanya dalam menjalani profesinya.



Sementara di Jumat Hangat kedua, kita berkenalan lebih dekat dengan mbak Astiti Maslikhahsafa’ati. Ibu muda dengan satu orang anak yang berprofesi sebagai apoteker ini memiliki hobi membaca, menulis dan berwirausaha. Buatnya buang-buang waktu adalah hal yang harus dihempaskan. Di sesi ini mbak Astiti banyak bercerita tentang pemakaian obat yang tepat untuk anak-anak.

Alhamdulillah level 5 berjalan dengan lancar. Salah satunya karena kolaborasi dan kerjasama dari mbak Ilik Sutari sebagai korlan level ini yang luar biasa. Di awal, kinerja mbak Ilik sempat tersendat karena anak-anaknya sakit bebarengan. Alhamdulillah mbak Farik bersedia membantu merekap T10 hari dan mbak Widi membantu menyusun notulensi diskusi. Setelah anak-anaknya sembuh, alhamdulillah mbak Ilik bisa menyelesaikan amanah menjadi korlan dengan cukup baik.



Satu hal yang aku sukai dari mbak Ilik adalah sangat murah hati. Mbak Ilik memohon kepadaku untuk memberikan dispensasi kepada para peserta yang terlambat submit T10 hari di hari terakhir karena hanya terpaut beberapa menit dan detik, meski tentu saja permohonan tersebut harus kutolak. Karena bagaimanapun Bunsay adalah soal melatih tanggung jawab dan manajemen waktu.

Di level ini salah satu peserta juga ada yang akun instagram-nya di-hack, sehingga semua postingannya hilang, sementara saat itu terjadi sudah di hari terakhir penyetoran T10. Mbak Ilik memintaku untuk memberikan kesempatan kepada peserta tersebut. Kali ini aku acc requestnya, karena buatku hal ini juga sebuah musibah. Kalau ada penganugerahan award untuk korlan, sudah kupastikan mbak Ilik akan mendapat award sebagai korlan paling murah hati.



Sebelum kuakhiri jurnal fasil yang paling random ini, izinkan kutitipkan pesan untuk teman-teman Bunsay Jateng batch #5. Pals, motivasi dari luar tidak akan pernah bisa menjadi dorongan untuk perubahan diri jika inner motivation tidak ada. Sejatinya motivator terbaik adalah diri kalian sendiri. So, be the best motivator for yourselves! 

Ngrapel T10 hari itu berat, gaesss… kalian nggak akan kuat. Sudah biarkan saja aku yang pernah mengalaminya. 

Give your best efforts, karena hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Sebelum menumbuhkan karakter baik dalam jiwa anak, maka tanggungjawab pertama sebagai orangtua adalah menumbuhkan karakter-karakter baik dalam diri kita sendiri. 

Di level 5, aku senang sekali melihat pohon literasi milik teman-teman tumbuh dengan lebat. Bahkan tidak hanya pohon literasi, ada bintang literasi dan bermacam-macam kreativitas lainnya yang dibuat teman-teman untuk menyemarakkan proses stimulasi membaca di keluarga mereka. Semoga dengan semakin banyak para ibu yang menyadari pentingnya membaca, semakin banyak anak-anak Indonesia yang berpengetahuan luas dan beradab. Aamiin.



Kira-kira di level 6 ada kejutan apa lagi ya yang akan aku dapatkan dari teman-teman Bunsay Jateng batch #5? Tunggu ceritanya empat minggu ke depan ya!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

4 Comments

  1. Wah bener banget nih ya Mbak, motivator yang paling ampuh adalah diri sendiri

    ReplyDelete
  2. Selamat nih ya Mbak untuk bunda sayang yang terpilih itu hihi. Semangat

    ReplyDelete
  3. Wah semangat nih ya Mbak, kurang 5 bulanan nih ya Mbak hihi. Seru juga tuh ya

    ReplyDelete
  4. Seru banget yah, jd termotivasi ��

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com