8 Quote Kece dari Film Bumi Manusia, Mana Favoritmu?



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Pastikan sebelum teman-teman membaca postingan ini, sudah baca postingan sebelumnya ya. Sebenarnya aku mau posting tentang Bumi Manusia hanya satu artikel saja, tapi ternyata dalam proses pengetikan.. malah jadi semakin panjaaaang dan panjaaang. Baiklah, mari kita lanjut ke sesi kedua yang merupakan penjabaran dari poin ketujuh mengapa Bumi Manusia layak ditonton lebih dari satu kali.

Tak lain karena film ini mengandung banyak kalimat-kalimat inspiratif yang di dalamnya penuh hikmah dan memotivasi siapapun yang mendengarnya. Karena keterbatasan otakku dalam merekam kalimat-kalimat keren tersebut, ada 8 quote kece dari film Bumi Manusia yang sangat kusukai. Mau tahu? Cuzz..

1. “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri.”



Kalimat tersebut merupakan pujian Nyai Ontosoroh kepada Minke yang bercerita kalau dia mengelola bisnis mebel untuk membiayai kehidupannya.

Di versi novelnya, kalimat tersebut jauh lebih lengkap seperti ini, 
“Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri.

Menjadi pengingat bahwasanya usaha terbaik adalah usaha yang melibatkan keringat kita sendiri. Nyentil banget buat kawula muda zaman now yang suka sombong padahal yang disombongkan ternyata hasil nodong orangtua. Minke di film ini, diceritakan berusia 19 tahun, seorang anak priyayi, tapi nggak pernah mau menyombongkan siapa orangtuanya. Bahkan dia nggak mau orang tahu dia keturunan bangsawan. Tapi ya jelas nggak ada yang percaya, karena zaman segitu kan yang bisa belajar di sekolah hanya orang-orang kelas menengah ke atas.

2. “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” 



Sebuah nasehat Jean Marais kepada Minke saat dia merasa diguna-guna oleh Nyai Ontosoroh. Baik di film dan di novel kalimat yang digunakan sama persis. 

Sebuah nasehat yang sangat dalam, mengingatkan kita bahwa adil itu bukan sekedar perbuatan, tapi harus dimulai sejak kita berpikir. Kan sering ya kita tanpa sadar judging others padahal kenal saja nggak. 

Nasehat ini cocok banget lah buat para netizen zaman now yang maha benar dengan segala komennya. Betapa di zaman sekarang judging others semudah menggerakkan jempol. Sekarang kalau mau komen nyinyir, mari ingat nasehat dari Jean ini ya.

3. “Cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mungkin membuntutinya. Orang harus berani menghadapi akibatnya.”



Kalimat itu adalah jawaban Jean Marais atas pertanyaan Minke tentang makna cinta. Sepertinya ada sedikit perbedaan di novel dan di film, tapi aku lupa tepatnya bagaimana. Kalimat di atas kuambil versi novelnya. 

Hikmah dari kalimat tersebut, kalau jatuh cinta ya bersiaplah dengan segala kemungkinan, baik dan buruknya. Begitu juga saat kita menjalani pernikahan. Nikah itu nggak manis-manis doang, gaess… siapkan jiwa untuk menerima asam dan pahitnya juga. Siapkan juga untuk belajar ilmu berumahtangga, sehingga ketika di tengah perjalanan berumahtangga ketemu masalah bisa mencari solusi dengan tepat.

4. “Aku dididik oleh kehidupan. Hidup bisa memberikan segala hal pada siapa pun yang pandai menerima.”




Seingatku, seperti itulah kalimat yang tergulir dari bibir Nyai Ontosoroh saat menjawab pertanyaan Minke apakah beliau pernah mengenyam pendidikan di sekolah.

Sedangkan di novelnya seperti ini, intinya sama. Tapi memakai khas gaya bahasa lama,
“Apa salahnya? Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima.”

Makna yang bisa kugali dari kalimat ini yaitu belajar itu nggak harus melulu di sekolah. Kehidupan adalah sekolah yang sebenar-benarnya. Maka bukalah mata, telinga, hati dan seluruh panca indera untuk menampung semua ilmu yang Allah titipkan. Entah itu lewat jalan takdir yang penuh liku, atau lewat manusia-manusia lain yang dipertemukan dalam hidup, bahkan mungkin lewat daun yang jatuh lalu melayang jatuh ke telapak tangan kita. Iqro! 


5. “Aku hanya ingin jadi manusia bebas, tidak diperintah dan juga memerintah.”



Merupakan penggalan dialog antara Minke dan ibundanya tentang keinginan Minke yang tak mau terpenjara di dunia priyayi.

Saat itu sang Ibunda pun menjawab demikian, 
“Kalau ada zaman seperti itu, ibu juga senang. Tapi kamu harus tetap bertanggungjawab.”
Sementara kalimat di novelnya jauh lebih dalam dan menggugah;

Minke: “Sahaya hanya ingin jadi manusia bebas, tidak diperintah.”
Ibunda: “Ha ? Ada jaman seperti itu, Gus ? Asal kau mengerti, Gus, semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. Kan itu tidak terlalu sulit difahami? Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri.”



Kebebasan itu baik adanya, selama tetap diiringi dengan rasa tanggungjawab. Mau tidak mau, namanya hidup di dunia pasti ada batasannya. Itulah mengapa ada agama, untuk mengatur kehidupan manusia agar tetap berada di rel yang seharusnya. Jika kita sudah terlalu bebas dan lupa pada batasan, jangan kaget jika sewaktu-waktu Tuhan menegur dengan caraNya.

Di Bumi Manusia, pada akhirnya Minke kebablasan melakukan perzinahan dengan Annelies. Untung nggak kejadian Dua Garis Biru. Dan Tuhan pun menegur cinta mereka. Bahwasanya cinta itu suci, seharusnya dijalankan pula dengan cara-cara yang baik.

6. “Hukum Belanda vs Hukum Islam”


Itu adalah salah satu judul artikel yang ditulis oleh Minke. Di sebuah scene film Bumi Manusia, ada proses pengadilan di mana Nyai Ontosoroh memperjuangkan haknya sebagai seorang ibu dan Minke sebagai seorang suami dari Annelies. Sayangnya mereka kalah karena menurut hukum Belanda yang saat itu berlaku, Sanikem alias Nyai Ontosoroh tidak bisa melanjutkan mengasuh Annelies sepeninggal Herman Mellema, karena Sanikem hanyalah gundik/ istri yang tidak dinikahi secara sah. 

Dengan demikian, pernikahan antara Annelies dan Minke pun dianggap tidak sah. Selain karena mereka dianggap menikah tanpa sepengetahuan wali sah dari Annelies, pujaan hati Minke ini masih di bawah umur. Apalagi mereka menikah secara hukum Islam, yang tentu saja tidak diakui oleh Belanda. 




Di novelnya sendiri, ada sebuah kalimat panjang Nyai Ontosoroh yang mengilhami kelahiran artikel Minke dengan judul tersebut.

“Perkawinanmu syah menurut Hukum Islam. Membatalkan adalah menghina Hukum Islam, mencemarkan ketentuan yang dimuliakan ummat Islam… Ah, betapa aku impikan perkawinan syah. Tuan selalu menolak. Ternyata karena ia masih ada istri yang syah. Sekarang anakku kawin syah, jauh lebih tinggi daripadaku sendiri. Dan tidak diakui.”

Salah satu scene yang membuatku bergetar. Sebuah scene yang menunjukkan bahwasanya tidak ada hukum terbaik selain Hukum Allah. Hukum yang dibuat manusia, dibuat berdasarkan kepentingan mereka sendiri. Tanpa memikirkan adil atau tidak untuk pihak lain. Tapi hukum Allah, adalah hukum yang seadil-adilnya, untuk sesiapa saja. 


7. “Semua cara sudah dilakukan, kini saatnya pena terangkat.”


Minke ber-azzam sekuat hati untuk membantu Nyai Ontosoroh dan Annelies menghadapi persidangan kematian Herman Mellema. Diceritakan di part tersebut segala cara telah dicoba, namun belum juga ada titik temu. Lalu Minke pun memilih berjuang dengan caranya; menulis!

Dia bercerita tentang perjuangan Nyai Ontosoroh, tentang Annelies dan kemungkinan-kemungkinan penyebab kematian Herman Mellema. Media adalah salah satu cara untuk membentuk opini publik. Lewat tulisan-tulisannya, Minke berharap akan ada pihak-pihak yang mendukungnya.


Scene ini bisa jadi part terfavorit untuk semua pegiat literasi. Kita mungkin tak punya cukup uang untuk berderma, tak punya cukup tenaga untuk memanggul, tapi kita punya aksara yang bisa membantu perjuangan dan mewujudkan perubahan. Tentunya mari menulis yang baik-baik dan bermanfaat. Teruslah menulis, para pegiat literasi!

8. ”Dengan melawan kita takkan sepenuhnya kalah.” 


Sebuah kalimat yang paling menggetarkan dari Sanikem alias Nyai Ontosoroh. Memberikan sebuah insight baru tentang arti kemenangan. Selama ini mungkin kita menganggap yang namanya menjadi pemenang ya ketika mendapat trophy di tangan. Namun untuk Nyai Ontosoroh, kemenangan memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Kemenangan sejati adalah perlawanan terbaik yang bisa kita lakukan. 


Di novelnya part ini tak kalah menggetarkan. Minke meraung menatap kepergian Annelies, sambil terpatah-patah meratapi nasibnya,

”Bunda, putramu kalah. Putramu tersayang tidak lari, Bunda, bukan kriminil, biar pun tak mampu membela istri sendiri, menantumu. Sebegini lemah Pribumi di hadapan Eropa? Eropa! Kau guruku, begini macam perbuatanmu? Sampai-sampai istriku yang tak tahu banyak tentangmu kini kehilangan kepercayaan pada dunianya yang kecil - dunia tanpa keamanan dan jaminan bagi dirinya seorang. Hanya seorang.”

Nyai Ontosoroh di tengah luka batinnya menguatkan Minke, 
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat hormatnya.”

Kalah dengan terhormat jauh lebih baik daripada menang tapi melakukan segala cara, bahkan mempermainkan hukum sesukanya.

Itulah 8 quote kece yang penuh dengan hikmah dan pelajaran hidup dari film Bumi Manusia. Sebenarnya 8 quote ini hanya sebagian kecil dari yang bisa kucatat. Masih banyak hal-hal penting lainnya yang menarik untuk diceritakan dan dibahas; seperti tentang usaha Nyai Ontosoroh menjadi perempuan berdaya meski ia hanya seorang gundik, sosok yang selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. 




Atau tentang proses Minke dari yang awalnya sangat mengagumi Eropa hingga kemudian kecewa pada Eropa. Juga nasehat-nasehat ibunda Minke yang mengingatkan agar Minke tak kehilangan ke-Jawa-annya. Menyentil bahwa kita tak boleh lupa asal-usul dan jati diri. Kalimat-kalimat akhir dari Annelies sebelum berangkat ke Belanda juga nggak kalah menyayat hati. 

Yang pasti, Bumi Manusia benar-benar sebuah karya anak bangsa yang sangat layak ditonton. Yang belum nonton, ayo segera ke bioskop sebelum layar digulung. Buat kalian yang sudah nonton, punya quote favoritkah dari film ini? Share dong di komen beserta alasannya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

1 Comments

  1. Semua quotesnya keren yah, dan yang paling terpenting itu makna dan pesan moralnya kepada pembaca ��

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com