Tujuan Pendidikan Keluarga Muslim

tujuan pendidikan keluarga muslim
Ustaz Budi Ashari pada hari Kamis, 23 Juli 2020 mengangkat sebuah tema yang sangat menarik untuk sesi ketujuh Sapa Pagi; Tujuan Pendidikan Keluarga Muslim. Materi tersebut diambil dari kitab yang ditulis oleh Abdul Karim Bakar. Mendengar temanya saja sudah terasa bahwa akan ada banyak momen menjewer telinga sendiri. Mau bareng-bareng jewer kuping masing-masing, pals?

Sesungguhnya tujuan akhir bagi setiap muslim adalah mendapatkan keridhaan Allah SWT. Maka semua tujuan kecil wajib dihubungkan dengan tujuan utama tersebut, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Setiap tujuan kecil adalah sarana menuju tujuan terbesar. Keabsahan dan ruhnya juga harus diambil dari keabsahan dan ruh tujuan terbesar. Pentingnya guru dan orangtua untuk mengetahui kebutuhan terbesar dan sisi yang memerlukan perhatian paling besar.

Orang dengan sisi logis perlu pengarahan untuk peduli di sisi ruhnya. Orang yang sangat peduli terhadap penampilan perlu dibelokkan perhatiannya agar lebih peduli terhadap ibadah dan jiwanya.

Tujuan Pendidikan 1: Iman yang Dalam dan Akhlak Islami

tujuan pendidikan keluarga muslim adalah iman dan akhlak
Pendidikan toleransi yang ada saat ini sebenarnya cenderung nggak jelas. Justru banyak membentuk sosok-sosok yang entah; kafir tidak, muslim pun tidak. Dibilang muslim tapi mengolok-olok agamanya sendiri, tidak mau mengakui dan mengikuti syariatnya sendiri. Namun dibilang kafir pun juga tidak karena masih menjalankan sebagian syariat Islam.

Oleh karenanya penting memahami toleransi tidak berdasarkan akal dan hawa nafsu, namun merujuk pada panduan yang telah Allah berikan.

Saat covid-19 terjadi, semua kondisi dan agenda berantakan. Membuktikan bahwa Allah dengan mudah bisa mengubah keadaan. Semudah nantinya Allah akan memberikan penawar, semudah Allah bisa mengembalikan keadaan pada kenormalan seperti biasanya.

Nantinya masa depan bukan bergantung pada kemajuan pendidikan dan teknologi. Tapi bergantung pada keimanan kita. Keimanan kitalah yang mampu menyelamatkan.

Nilai kebaikan bisa turun jika ada pengorbanan di dalamnya. Berkurban dengan cinta dengan berkurban hanya karena formalitas/ kewajiban/ beban pasti akan berbeda. Mereka yang mendidik dengan susah payah tentunya akan mendapat hasil yang berbeda dengan yang mendidik asal-asalan.

Ketika target dari semua aktivitas dan kurikulum pendidikan adalah iman dan akhlak, maka kita akan kembali hidup dalam payung kenyamanan. Hidup bertetangga, bernegara dll menjadi lebih nyaman jika tujuan pendidikan kita adalah iman dan akhlak. Bahkan ilmu agama pun bisa jadi ilmu yang mati jika tujuan pendidikan mulai melenceng dari iman dan akhlak.

Tujuan Pendidikan 2: Ruh Perjuangan dan Ketekunan

tujuan pendidikan keluarga muslim ruh perjuangan dan ketekunan

1. Agar anak punya ruh perjuangan dan ketekunan, anak harus punya akal yang terbuka, persediaan harapan dan optimis yang besar.

Tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi atau sebagiannya. Menjadi seseorang yang mampu menyesuaikan diri. Hingga ia lebih kuat dari kesulitan yang dihadapinya.

Ketika masih keluar kata “susah dan capek” di bibir anak-anak, berarti ruh perjuangan dan ketekunan ini belum lahir dalam diri mereka. Bahkan hafalan Quran pun bisa berhenti jika belum ada ruh perjuangan dan ketekunan di dalamnya.
Tanamkan di jiwa anak-anak bahwa buku terbesar belum ditulis, karya seni terbesar belum diukir, dan negara terbaik seolah-olah baru memasuki fase sakit perut hendak melahirkan. Dan semua itu akan sempurna terjadi di tangan mereka.
Setiap ulama memiliki karya terbaik pada zamannya.  “Jangan katakan apa yang masih disisakan oleh ulama salaf, namun katakan apa yang sudah ditinggalkan oleh ulama salaf?”

Menilai bukan sekedar urusan kuantitas; berapa banyak juz, berapa banyak nilai, tapi seberapa kuat ruh ditancapkan.

Kesulitan materi bukanlah penghalang. Banyak yang bisa mengukir kesuksesan ajaib dengan keadaan yang keras. Dengan usaha yang terbaik, mereka bisa membuktikan bahwa kondisinya lebih baik dari mereka yang melahirkan.

Kekurangan di level pribadi atau lembaga adalah kesulitan besar, tapi mengalahkannya bukanlah kemustahilan, asalkan ada keberanian, keinginan, kontribusi dan ketekunan.

Banyak orangtua yang curhat, anakku sudah terlanjur kecanduan gadget, sudah kadung gede nggak bisa diatur. Nah, bagaimana mengatasi kondisi keterlanjuran tersebut? Ustaz Budi berpesan dengan cukup sederhana, tapi jleb;
Milikilah keberanian untuk berhenti.

2. Ketekunan dan Fokus

Kecerdasan di berbagai bidang kehidupan kembali kepada keunggulan di kemampuan akal, tetapi keunggulan dalam memahami, berimajinasi, menganalisa, dll, tak akan tercapai tanpa ditolong adanya ketekunan dan fokus.

3. Didik Anak-anak untuk Berani Mencari Jalan yang Sulit

Meski kemewahan bertambah, namun kesulitan hidup juga bertambah. Kenapa? Karena orangtua hanya memberikan sesuatu yang telah “matang”, memberikan fasilitas lengkap, tapi tidak mengajarkan anak-anaknya ruh ketekunan dan perjuangan. Siapkan mental mereka sehingga siap menghadapi kesulitan-kesulitan.

Biarkan anak-anak jadi berbeda. Biarkan anak-anak hidup tak sama dengan kehidupan kita. Ajarkan anak-anak ruh dan keteladanan dari salafush shaleh.

Ajarkan anak-anak untuk tidak hanya mencari jalan mudah untuk sampai pada tujuan. Ajarkan anak untuk menghormati pekerjaan yang sulit meski hasilnya terbatas atau bahkan belum terlihat di awal. Hal ini bisa menumbuhkan jiwa dan menguatkan tekad mereka.

Tak perlu takut dengan kegagalan, Kegagalan bisa membuat mereka belajar. Untuk menghasilkan karya, memang dibutuhkan fokus akan dan pikiran sepenuh hati.

Tujuan Pendidikan 3: Berpegang Teguh pada Kebenaran dan Punya Ruh Melawan Keburukan

tujuan pendidikan ruh melawan ruh keburukan
Sebagian besar orang tidak suka dengan kebenaran, karena menjadi orang yang benar biasanya akan hidup dalam kesepian, tidak punya banyak teman. Maka biasakan anak-anak untuk hidup dalam kesepian. Sepi nggak masalah asal bersama kebenaran.

Jika kita mau mendapatkan kebenaran, maka bukalah Al Quran yang bernilai dzikir. Al Quran yang kita gunakan sebagai wirid sehingga bisa menjadi pengingat bagi kita di setiap harinya.
  1. Mendidik anak-anak agar mau menerima kebenaran, menampakkan semangat dan antusias terhadap kebenaran.
  2. Mendidik anak untuk amanah pada pekerjaan yang diberikan kepadanya. Tanggung jawab merupakan bentuk berpegang teguh pada kebenaran. Akhlak ini akan tumbuh pada diri anak ketika mendengar pujian atas karya baiknya dan ketika ia ditegur dengan lembut atas kesalahannya.

Tujuan Pendidikan 4: Meluaskan Pondasi Pemahaman

tujuan pendidikan keluarga muslim ruh meluaskan pondasi pemahaman

1. Tugas pertama guru dan orangtua adalah mencabut duri dari tanah yang ingin kita tanami.

Bersihkan dulu kotoran dan duri-duri baru ditanami. Yaitu sebelum ditanamkan ilmu kepada seorang anak, scan terlebih dahulu apakah ada pemahaman yang salah, kebiasaan akal dan jiwa yang menghalangi cara pandang yang benar, fanatisme berlebihan, pandangan parsial, cenderung menggampangkan, tertutup, tunduk pada isu yang viral, dsb.

2. Lompatan kreativitas biasanya justru hadir pada saat-saat sulit.

Orang-orang yang mampu melewati halangan dan menghadirkan sesuatu yang besar dan mencengangkan, bukanlah mereka yang menyerah pada isu dan pemahaman yang menyebar di lapangan ilmu. Bukan juga mereka yang marah-marah karena hasil yang tidak sesuai dengan prediksi. Tapi mereka yang punya akal tertata dan jatuh bangun menghadapi berbagai masalah membingungkan, sulit dan tidak jelas, hingga kemudian mampu memberikan kepedulian dan kelembutan.
Islam adalah agama yang terbuka menerima ilmu apapun, selama tidak ada pelanggaran syariat di dalamnya.

3. Setengah alim lebih bahaya daripada sepenuh orang bodoh. 

Orang bodoh biasanya masih punya akhlak, tawadhu, suka pengetahuan, mampu mendengarkan tanpa memotong. Sementara orang setengah alim biasanya sok tahu, angkuh, tidak menerima pemikiran yang baru dan tidak punya semangat yang cukup untuk mengembangkan pemahaman dan idenya.

4. Anak-anak harus punya fleksibilitas pikiran, cepat beradaptasi dengan perubahan besar yang diperlukan dunia.

Anak-anak yang punya pemahaman luas, maka akan membuat perbedaan menjadi kokoh di atas ilmu dan jelas, menjadikan sesuatu yang disepakati menjadi kuat dan benar. Dari sinilah kita belajar tentang toleransi, saling menghormati dalam perbedaan, bekerjasama dan saling bersepakat.

5. Tujuan belajar bukan sekedar menyampaikan informasi dari hafalan

Tujuan belajar lebih dari kedua hal tersebut, yaitu mampu membimbing akal untuk memiliki hukum yang benar dan menjadi sandaran semua keputusan di berbagai bidang kehidupan. Artinya pendidikan dan pengajaran menarget terbentuknya akal berwawasan.

Anak-anak yang terlalu lengket dengan lingkungan tempat tinggal akan menjadikan mereka tumbuh menjadi sosok yang mudah ikut-ikutan, tidak punya kemampuan dan taqlid buta.. Anak-anak harus dimotivasi untuk mengungkapkan sudut pandang yang berbeda dengan yang sedang viral, agar akal kritisnya bisa tumbuh dan menjadi sumber pembaharuan seimbang.
Selama perbedaan itu bukan tentang halal haram dan sesuatu terkait tauhid, maka tak masalah. Anak-anak boleh menjadi berbeda.

Tujuan Pendidikan 5: Karakter Ilmiah

tujuan pendidikan keluarga muslim karakter ilmiah
Menumbuhkan jiwa ilmiah dan membangun akal terstruktur dibutuhkan dalam sosial, ekonomi dan politik. Yang nantinya akan membangun peradaban. Mereka yang punya hal ini akan bisa menerima perubahan peradaban dengan bashiroh dan menolaknya berdasar petunjuk dan kesadaran.

Kemajuan muslimin di bidang ilmu dan industri bisa dicapai dengan lebih cepat daripada peradaban barat. Asalkan kita mampu membentuk generasi yang memiliki antusias dalam menyebarkan ilmu, peduli dan siap menembuh bahaya, dan memiliki bekal dasar konsep ilmiah.

1. Ilmu dilahirkan dari keterkejutan.

Keterkejutan bikin orang bengong dan lemah. Oleh karenanya penting untuk mengarahkan keterkejutan pertama anak-anak agar harus segera punya keinginan menganalisa sesuatu dengan mata baru.

Jika kita ingin tahu seberapa banyak ruh ilmiah tertanam di umat kita, lihat apa yang kita kerjakan saat liburan atau di stasiun kereta, berapa perpustakaan umum di kota itu, apa jenis buku yang dibacanya.

Umat kita tidak bisa menjadi pemegang kendali peradaban jika pembelajaran dan penelitian tentang hal baru belum jadi gerakan masyarakat dan bukan hanya gerakan sekelompok orang.

2. Salafush Shaleh taqarub illalah dengan menuntut ilmu.

Mereka menganggap menuntut ilmu lebih utama dari amal sunnah. Kita mengajar/ berdakwah untuk mencari penggemar atau mengajak kepada kebenaran/ Allah? Kalau kita hanya mencari penggemar (dunia), maka ilmu tidak akan bermanfaat, malah akan menjadi musibah.

3. Ruh Ilmiah muncul pada yang berani hidup sulit.

Tidak akan muncul ruh ilmiah yang sesungguhnya kecuali pada pribadi yang menyiapkan dirinya mampu menanggung kesulitan dan menjauh dari berbagai kesia-siaan, santai, bergadang, rehat dan kenyamanan.

4. Pembentukan karakter ilmiah tidak akan sempurna tanpa adanya orang yang alim dan memiliki ruh kritis.

Pastikan kita mendidik anak-anak untuk memiliki kepekaan pada berbagai peristiwa dan permasalahan. Ajak anak berdiskusi pada masalah-masalah yang terjadi di masyarakat lalu dukung anak menemukan solusi untuk masalah tersebut.

Karakter ilmiah/ berpikir kritis bisa muncul dengan sempurna jika anak punya kesuburan imajinasi. Namun imajinasi harus ada ilmunya sebagai kontrol dan penyeimbang. Selain itu anak juga harus punya ensiklopedi wawasan yang berhubungan dengan spesialisasi. Anak harus dekat dengan tafsir untuk mencapai titik ini.
Imajinasi dan pengetahuan harus digunakan secara seimbang dan saling melengkapi.

5. Akal sistematis adalah akal kausalitas.

Dunia tempat hidup kita ini adalah dunia sebab akibat. Saat ini belum ada sekolah yang bisa mencetak murid-murid dengan karakter ilmiah sekaligus kritis. Yang ada semakin banyak generasi kehilangan semangat shalafush shaleh.

tujuan pendidikan keluarga muslim memiliki cita besar, perhatian dan sentuhan keindahan

Tujuan Pendidikan 6: Cita Besar

Potret di depan mata itu banyak, level yang ingin dicapai pun tak terbatas. Masalahnya kita kesulitan dalam mengetahui potensi diri sendiri dan memaksimalkannya. PR besar sebagai orangtua adalah menemukan potensi anak dan mengembangkannya sehingga anak bisa mengetahui apa cita-cita besarnya.

Tujuan Pendidikan 7: Perhatian dan Penguasaan

Sesungguhnya Allah mencintai urusan yang tinggi dan membenci hal-hal yang remeh. Artinya Allah mencintai seseorang yang berkarya dengan itqon (menguasai, profesional dan hasilnya baik).

Tujuan Pendidikan 8: Sentuhan Keindahan

Karya tidak harus selalu besar, tapi juga harus indah.
Itqon itu pasti indah, itqon muncul dalam karya yang unggul dan berkualitas. Sesuatu yang indah pasti juga sesuatu yang unggul dan melampaui kebatasan, serta unik. Keindahan adalah energi yang mampu menembus segala sesuatu. Sesuatu yang paling berat adalah kekerasan dan kepahitan, tapi tetap bisa menerima senstuhan keindahan.
Bersabarlah dengan sabar yang indah.
Rasa keindahan terbentuk dari rumah. Kedua orangtua perlu menata lingkungan di sekitar anak. Lingkungan yang tak tertata dan tidak bersih tidak membantu terbentuknya rasa keindahan dan tidak membantu terbentuknya keterampilan menyematkan keindahan pada sesuatu atas perbuatan.

Di sekolah anak melihat aturan dan kebersihan. Ia belajar wawasan sistematis untuk menyempurnakan apa yang dipelajari di rumah.

Sangat sulit menyematkan keindahan pada sesuatu dan pada sikap masyarakat yang guncang dan stress. Hal ini berhubungan dengan kemaksiatan; kebodohan, kezaliman, kemalasan, kekacauan, menang sendiri, memutus silaturahmi, kekotoran dsb. Semua hal itu mengeruhkan cermin hidup dan menghalangi pandangan kita akan kebaikan.

Kewajiban kita sebagai orangtua dan pendidik adalah menjauhkan anak-anak dari hal-hal tersebut.

it takes a village to raise a kid
Masya Allah begitu dalamnya tujuan pendidikan keluarga muslim. Semoga kita mampu mencapai kedelapan tujuan tersebut ya, pals. Akhir kata, mari bergandengantangan dalam meraih tujuan tersebut, karena it takes a village to raise a kid.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email