MaritaPalace

Memilih Mainan untuk Anak Ada Caranya Lo, Mau Tahu?

tips memilih mainan untuk anak
Siapa sih anak-anak yang nggak suka mainan? Kayanya hampir semua anak suka deh. Namun ternyata memilih mainan untuk anak nggak bisa asal. Selain harus menyenangkan, mainan juga harus memenuhi beberapa standar. 

Standar dalam memilih mainan antara lain harus sesuai usia, bisa jadi sarana stimulasi dan pastinya aman dimainkan. Jika selama ini teman kongkow menganggap mainan sekadar aktivitas remeh-temeh, kalian keliru, pals. Bermain mengambil peran penting dalam perkembangan sosial, mental, fisik dan emosional seorang anak. Oleh karenanya, memilih mainan dalam proses pengasuhan anak adalah hal yang harus diperhatikan oleh para orangtua. 
alasan memilih mainan anak nggak boleh asal

Tips Memilih Mainan untuk Anak

Menurut Vicki Panaccione, PhD, seorang psikolog anak dan pendiri Better Parenting Institute dalam situs Webmd;
Mainan harus dianggap sebagai alat pembelajaran perkembangan.
Nah, untuk memenuhi syarat sebagai alat pembelajaran, orangtua harus mengetahui hal-hal berikut:

1. Pilih Mainan yang Sederhana

Mainan terbaik seringkali adalah yang paling sederhana.
Dijelaskan oleh Panaccione maksud dari pernyataan di atas yaitu semakin spesifik fungsi sebuah mainan, semakin terbatas anak-anak dalam menggunakan imajinasinya. Maka daripada menyediakan boneka yang bila ditekan tombolnya bisa bersuara, lebih baik sediakan boneka-boneka tangan dan biarkan anak-anak membuat cerita mereka sendiri.
memilih mainan yang sederhana
Begitu juga daripada menyediakan mobil dengan remote control, sediakan saja mainan balok atau lego sehingga anak-anak bisa menyusun sendiri mobil impiannya. Mainan yang baik adalah mainan yang memungkinkan anak-anak menjadi lebih kreatif dan spontan.

2. Buat Batasan dalam Penggunaan Mainan Elektronik dan Gadget

Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, memang rasanya mustahil untuk menjauhkan anak-anak dari gadget ataupun benda elektronik lainnya, termasuk juga mainan elektronik. Namun untuk anak-anak dalam rentang usia 0 - 5 tahun memang penting untuk menerapkan batasan dalam penggunaan benda-benda elektronik tersebut, meski berlabel mainan edukasi sekalipun.

Sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa mainan-mainan elektronik memiliki dampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Dampak buruk tersebut antara lain:
  • Gangguan pendengaran yang berasal dari mainan elektronik atau gadget dengan suara keras
  • Obesitas dikarenakan mainan elektronik membuat anak menjadi pasif
  • Gangguan bahasa dan keterlambatan perkembangan dikarenakan saat anak bermain bersama benda-benda elektronik tidak didampingi dan dibiarkan tanpa pengarahan.
  • Mainan yang tidak mendukung anak bergerak dan berpikir secara aktif akan mengganggu proses pembelajaran untuk berpikir mandiri.
batasi penggunaan gadget berlebihan pada anak
Selain gangguan-gangguan di atas, mainan dan benda elektronik juga memengaruhi rentang perhatian anak. Seorang profesor pada Program Ilmu dan Gangguan Komunikasi di Kansas State University, Linda Crowe, menyatakan bahwa mainan yang memiliki lampu berkedip dan perubahan serta gerakan yang konstan tidak mengharuskan anak untuk memperhatikan satu hal dalam waktu yang lama. Anak-anak yang sering menggunakan mainan seperti ini dapat mengalami kesulitan untuk fokus pada sesuatu seperti buku atau mainan yang tidak bergerak.

Maka tak heran jika American Academy of Pediatrics memberikan batasan bagi anak-anak di bawah usia 2 tahun untuk tidak boleh menonton TV atau bermain game komputer sama sekali. Sementara untuk anak-anak di atas 2 tahun harus membatasi "screen time" mereka menjadi 1-2 jam per hari.

Kalaupun menurut teman kongkow, mainan elektronik dan gadget masih bisa membawa manfaat, hal terpenting adalah jangan tinggalkan anak-anak sendirian. Tetap dampingi dan berikan arahan yang jelas saat anak-anak bermain dengan mainan atau benda elektronik tersebut. Sehingga anak bisa tetap bermain secara aktif dan tidak hanya duduk diam dalam prosesnya. Ajak anak bernyanyi, menari dan bergerak sembari menikmati tayangan pada gadgetnya.

3. Pilih-pilih Mainan Edukasi

Bisnis mainan saat ini memang sedang booming. Menilik fakta bahwa adanya ketakutan para orangtua terhadap masa depan anak-anaknya. Kita sebagai orangtua sering dibombardir dengan hal-hal bahwa anak-anak perlu belajar banyak hal sesegera mungkin agar masa depannya lebih baik. Akhirnya banyak jenis mainan muncul diperkenalkan dengan beragam fungsi menarik.
tips memilih mainan edukasi
Sebagai orangtua kita jangan terlalu mudah percaya dengan klaim dari penjual mainan yang memberikan kesan berlebihan. Misal, CD atau gadget yang mengajarkan anak musik klasik atau bahasa asing boleh-boleh saja. Namun ketika ada mainan bayi atau anak yang mengklaim bahwa mainan tersebut bisa meningkatkan perkembangan otak atau membuat anak bisa membaca lebih cepat dan menjadi ahli matematika, sebaiknya tidak langsung dipercaya. 

Catat deh wejangan dari Roberta Golinkoff, PhD, kepala Proyek Bahasa Bayi di Universitas Delaware ini:
Mainan edukatif yang sebenarnya bukanlah gadget dan benda yang mencolok dengan janji-janji besar, tetapi mainan dasar yang sederhana dan bisa menghasilkan para pemikir kreatif dalam beberapa dekade ke depan.

4. Jangan Banjiri Anak dengan Banyak Mainan

Saking sayangnya orangtua, setiap ada jenis mainan baru, cuzz langsung anak dibelikan. Lalu kamar anak atau ruang bermain pun segera penuh dengan mainan, padahal akhirnya yang dimainkan oleh anak ya itu-itu saja. 
merotasi mainan anak di kamarnya
Oleh karenanya, penting bagi kita sebagai orangtua untuk merotasi mainan yang masuk dan keluar dari kotak mainan atau kamar anak. Misal pekan ini anak fokus pada mainan balok dan lego, pekan depan ganti isi kotak mainan dengan puzzle. Lalu pekan depan kembali lagi pada balok dan lego, dst. Hal ini bisa membantu anak lebih fokus pada mainannya, dan anak tidak mudah bosan karena kita atur jadwalnya sedemikian rupa.

Jika anak memiliki beberapa mainan dengan jenis yang sama, biarkan anak mengeksplorasi dirinya dengan satu mainan hingga tuntas sebelum kita memperkenalkan dengan lainnya. Misal, jenis mainan penyortir bentuk yang banyak hadir dalam beberapa model. Cukup berikan anak satu model dulu, tidak perlu langsung berikan semua model.

Satu mainan dengan konsep dasar juga bisa digunakan dalam waktu lama, jadi jangan terburu-buru menggantinya. Mainan semacam ini bisa diberikan sejak anak bayi hingga balita, bahkan usia sekolah. Misal mainan balok, dari mainan ini anak tidak hanya belajar mengembangkan imajinasi dan kreativitas, tetapi juga belajar koordinasi otot, kecerdasan spasial, bahasa dan perancangan. Menggunakan balok bersama teman sebaya juga bisa mengajarkan anak untuk bertoleransi, berbagi dan bekerjasama dengan orang lain.

5. Pilih Mainan Sesuai dengan Usia Anak

Anak-anak menyukai mainan yang bisa dengan mudah mereka kuasai dan cocok untuk tahap perkembangan mereka. Berikut adalah beberapa saran untuk jenis mainan sesuai tahapan usia anak:
  • 0 - 6 bulan: Pada usia ini, bayi mudah terpesona dengan gerakan, suara, dan visual hitam putih yang sederhana. Mereka seringkali menemukan keasyikan dari tubuh mereka sendiri. Secara tak langsung saat mengeksplorasi tubuhnya, si bayi sedang belajar meningkatkan koordinasi mata-tangan, menggapai, dan menggenggam. Anak usia ini tidak butuh banyak mainan, senyum dan ekspresi wajah orangtua sudah menjadi mainan yang cukup bagi mereka. Suara yang keluar dari bibir orangtua dan orang-orang sekitarnya jadi musik yang akan mengajarkan banyak nada dan ekspresi. Kalaupun ingin menyediakan mainan bagi mereka, siapkan gambar dengan visual hitam putih, mainan kerincingan dan segala hal yang bisa mereka tendang, genggam dan menghasilkan bunyi.
  • 6 - 8 bulan: Bayi dengan usia lebih tua sudah bisa memegang mainan kecil.Pada usia ini, bayi sedang belajar tentang sebab dan akibat. Maka jangan heran kalau mereka akan mengulangi aktivitas berulang-ulang untuk menguasainya. Mereka juga suka memindahkan mainan dari tangan ke tangan dan keluar masuk wadah. Banyak mainan yang sama untuk bayi dengan usia muda bisa digunakan dengan cara baru oleh bayi dengan usia yang lebih tua. Siapkan ruang yang luas agar bayi bisa bebas merangkak dan menjelajah. Cermin juga jadi mainan yang menarik untuk bayi di usia ini. Ia akan mengenal beragam ekspresi dari wajahnya sendiri. Jangan lupa ajak anak bercilukba.
  • 8 - 18 bulan: Pada usia ini, bayi mulai belajar dalam menebak konsekuensi dari perilaku yang dilakukannya. Ia juga mulai belajar memutuskan tujuan, dan sengaja mengambil tindakan untuk mencapai tujuannya. Mereka juga mulai senang bereksperimen dengan ukuran, bentuk, dan ruang. Mainan yang sesuai untuk usia ini meliputi mainan yang bisa didorong atau ditarik, balok, cincin pada tiang, penyortir bentuk, dan mainan sederhana yang dapat dibongkar-pasang.
tips memilih mainan sesuai usia anak
  • 18 - 24 bulan: Balita mulai menikmati bermain peran. Usia ini adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan mainan jenis pakaian, boneka, peralatan dapur, dan aneka bentuk mobil mainan, seperti truk, ekskavator, mobil pemadam, bus sekolah, dll.
  • 2 - 4 tahun: Pada usia ini, tak jarang anak sudah mulai masuk PAUD. Fasilitasi anak dengan mainan yang bisa membantu mengembangkan kreativitas mereka, seperti krayon berukuran besar, bermain cat dengan jari, membuat dough sendiri dan memainkannya. Selain itu pada usia ini juga pas untuk meningkatkan keterampilan motorik halus dan kasar, sediakan puzzle, lego besar, balok, dan mainan konstruksi lainnya. Mainan drum, alat musik yang bisa diketuk atau dibunyikan juga menarik anak-anak kisaran usia ini. Bahkan balok, wadah kosong, sendok kayu, dan teka-teki serta benda sederhana dan murah lainnya adalah beberapa cara terbaik untuk mendukung kreativitas anak pada usia ini. Ingat, kehadiran dan perhatian orang tua yang akan memperkaya jiwa anak-anak - bukan gadget dan mainan elektronik yang mewah. Selain itu beri anak kesempatan untuk bermain dengan teman sebayanya.
  • 4 - 6 Tahun: Berikan kesempatan kepada anak untuk bernyanyi dan menari. Ceritakan beragam kisah kepada anak dan ajukan pertanyaan agar anak bisa recalling terkait kisah yang kita ceritakan. Ajak anak untuk bermain peran. Selain itu berikan kesempatan agar anak bisa beralih dari permainan fantasi kepada aktivitas yang nyata. Misalnya, setelah anak bermain masak-masakan, ajak anak untuk membantu kita memotong wortel saat memasak. Berikan waktu bermain bersama teman-temannya untuk berlatih sosialisasi dan membangun persahabatan. Dorong anak untuk mencoba berbagai gerakan, misalnya melompat, mengayun, memanjat, dan jungkir balik. Namun jangan lupa untuk memastikan keamanan di sekeliling mereka.
Ternyata cukup banyak juga ya hal-hal yang harus kita perhatikan saat memilih mainan untuk anak. Nah, buat teman-teman kongkow yang kebingungan mencari tempat membeli mainan yang recommended, cuzz aja ke instagram @mainankecilku milik Mom Ratih Rachma.

Mainan yang dijual mom Ratih bukan mainan biasa, tetapi mainan yang akan mengajak anak tetap kreatif dan bisa membantu orangtua dalam menstimulasi sensori motorik anak. Kalau nggak percaya tengok saja langsung ke instagram dan akun shopeenya ya.
IG mainan kecilku recommended toys seller
Mom Ratih memulai usaha jual mainan ini sejak 2017, tetapi sempat berhenti dikarenakan kendala manajemen waktu. Baru tahun 2020, Mom Ratih memulainya kembali. 

Awal dari perjalanan Mom Ratih memulai bisnis ini karena kebingungannya memilih mainan yang tepat untuk anak-anaknya. Lalu daripada sekadar menyediakan mainan untuk anaknya, kenapa tidak sekalian saja menyediakan mainan edukasi untuk orangtua-orangtua lainnya yang membutuhkan? Jadi buat yang kebingungan pilih mainan, cuzz tanya-tanya langsung saja ke Mom Ratih ya. 
peran penting mainan untuk tumbuh kembang anak
Selain meningkatkan kesehatan dan mendukung tumbuh kembang anak, bermain bisa membantu anak dan orangtua dalam membangun hubungan yang aman dan menyenangkan. Bermain juga bisa melindungi anak dari stress dan membangun ketahanan sosial-emosional. Kegembiraan yang muncul akibat proses bermain dapat membantu tubuh anak dalam merespon stress lebih baik.

Semoga postingan tentang memilih mainan untuk anak ini bermanfaat ya, pals. Namun lebih dari semua itu, tahukah kalau anak-anak lebih menyukai dan menghargai orangtua yang mau bermain bersama mereka - walau hanya dengan mainan sederhana, daripada orangtua yang menghujaninya banyak mainan tapi tidak pernah meluangkan waktu untuk main bersama mereka? So, sudahkah main bersama anak-anak hari ini?
quote tentang pentingnya bermain bersama anak

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email