header marita’s palace

Anak Polah Bapa Kepradah, Konsep Diri yang Tak Terbentuk Matang

Konten [Tampil]
arti anak polah bapa kepradah


Anak polah bapa kepradah, sebuah kiasan lama yang amat populer di kalangan orang Jawa. Adakah teman-teman kongkow yang pernah mendengarnya? Artinya yaitu, setiap perilaku yang dilakukan anak, orangtua pasti kena getahnya.

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telingaku beberapa hari ini. Ketika ada kerabat dekat yang sedang mengalami kondisi tersebut. Anaknya melakukan sebuah perbuatan yang benar-benar di luar batas, pada akhirnya orangtuanya mau nggak mau ikut pusing. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Bahkan bukan cuma kedua orangtua yang kena getah, semua saudara dan keluarga besar pun mau tak mau jadi terdampak.

Sedih nggak sih kalau berada dalam kondisi seperti ini? Ingatanku mendadak melayang pada sebuah memori saat aku duduk di bangku kelas satu SMP. Saat itu sedang hype yang namanya japati, semacam kuis yang sering nongol di TV. Untuk mengikuti kuis tersebut, kita harus menelpon ke line telepon yang tertera di layar TV.

Nggak tahu kok saat itu, aku kepo banget. Iseng menghubungi line japati berbagai versi. Tak kukira hal tersebut berdampak pada tagihan telepon rumah yang membengkak. Aku lupa tepatnya jadi berapa. Sepertinya sih jadi 2 atau 3 kali lipat. Ratusan ribu sepertinya.

Sedangkan zaman segitu biasanya tagihan telepon hanya belasan atau maksimal puluhan ribu. Ibu marah besar. Bapak? Jangan ditanya. Saking marahnya, beliau sampai menangis di hadapanku. Orangtuaku memang berkecukupan saat itu, tetapi tidak yang berlebih.

Tagihan telepon membengkak jadi ratusan ribu jelas sebuah hantaman besar buat kedua orangtuaku. Apalagi saat itu kami sedang mempersiapkan perjalanan ke Mamuju untuk menghadiri pernikahan sepupu. Butuh biaya yang tak sedikit. Eh, di saat penting seperti ini, aku malah bikin perkara.

Aku tak bisa berkutik. Hanya bisa meminta maaf berkali-kali. Melihat bapak yang biasanya diam saat marah, dan kini malah berairmata di depanku, aku jadi semakin merasa bersalah. Saat itulah ibu mengenalkan kalimat ‘anak polah bapa kepradah’ kepadaku.

Kenangan masa SMP itu sangat membekas. Juga wejangan ibu. Dalam hatiku saat itu, aku berjanji nggak akan lagi membuat bapak dan ibu terkena getah atas perilaku burukku.

Anak Polah Bapa Kepradah dan Hubungannya dengan Konsep Diri Anak

Gegara kasus yang sedang dihadapi salah seorang kerabatku saat ini, aku jadi teringat pada materi kajian Abah Ihsan tentang konsep diri anak. Salah satu kalimat yang Abah Ihsan sampaikan saat itu, konsep diri anak yang tidak terbangun matang muncul ketika dewasa akan terus bergantung pada orangtuanya.

Ciri-ciri anak yang konsep dirinya belum matang yaitu, ketika dinasehati, mereka akan cenderung bilang “Bapak ibu tenang aja, aku bisa ngurusin diri sendiri,” dan kalimat-kalimat sejenis. Namun ketika mereka terjebak masalah, mereka bawa masalah itu ke rumah, meminta subsidi dan bantuan ke orangtuanya.

Pada akhirnya orangtua yang kelimpungan. Sebagai orangtua, pasti kita merasa ikut prihatin pada kondisi anak. Apalagi kalau kasusnya besar, seperti terlilit hutang, terlibat masalah hukum, menghamili anak orang, atau mencelakai orang lain.

Mau nggak mikirin, orangtua tetap akan kepikiran. Mau nggak bantuin, orangtua tetap akan berusaha turun tangan kan? Bagaimanapun orangtua akan merasa bertanggungjawab atas tindak-tanduk anak-anaknya.

sampai kapan ortu ngurusin anak

 Nah, ngobrolin tanggungjawab orangtua, sebenarnya sampai kapan sih orangtua perlu bertanggungjawab kepada anak-anaknya? Dan sebenarnya batasan seseorang dianggap anak itu usia berapa sih?

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU 1/1974) dan Pasal 26 ayat (1) UU 35/2014 tentang Perlindungan Anak, dapat diketahui secara harafiah bahwa kewajiban dan tanggung jawab orang tua dilakukan sampai anak berusia 18 tahun.

Kemudian, UU 1/1974 mengatur lebih jelas tentang batasan kewajiban orang tua kepada anaknya, yaitu batasan kewajiban dan tanggung-jawab orang tua sampai anak sudah kawin atau dapat berdiri sendiri (sudah bekerja/ bisa mencari nafkah sendiri). Jika anak berusia di atas 18 tahun dan sudah kawin, maka anak tersebut tidak lagi menjadi kewajiban dan tanggung jawab orang tuanya lagi.

Dari UU tersebut, jelas sudah bahwa batas usia seseorang dianggap sebagai anak adalah 18 tahun. Maka nggak heran kan, kalau di luar negeri, ketika anak sudah berusia 18 tahun akan diminta keluar oleh kedua orangtuanya. Mereka harus bertanggungjawab atas kehidupan mereka sendiri.

Bahkan di Jepang ada sebuah tradisi di mana anak-anak yang memasuki usia 20 tahun akan dikumpulkan dan diwisuda. Mereka akan dijelaskan kebebasan-kebebasan baru yang akan didapatkan, sekaligus juga diberi tahu batasan-batasannya apa saja. Sehingga saat mereka dilepas sebagai orang dewasa, mereka tahu kewajibannya, tidak hanya sekadar menuntut hak.

Sekarang coba tengok ke rumah-rumah terdekat. Berapa banyak anak-anak yang masih numpang di rumah orangtua, tapi nggak tahu diri? Nggak mau ikut aturan orangtua, tapi ketika ada masalah meraung-raung di hadapan orangtua minta dibantu?

Meski secara aturan, ketika seseorang berusia 18 tahun tidak lagi disebut sebagai anak-anak, tapi sepertinya kalau di Indonesia, usia tersebut masih masuk ke remaja atau dewasa muda. Usia-usia segitu biasanya kita baru lulus SMA atau awal kuliah.

Oleh karenanya pada kajian Abah Ihsan bulan April lalu, Abah menyarankan bahwa usia maksimal anak masih diurusin orangtuanya hanya sampai 25 tahun. Pada usia tersebut, kalau anak kuliah pun seharusnya sudah kelar kan?

Tentunya hal ini nggak bisa ujug-ujug. Sebelumnya nggak ada obrolan apa-apa, tiba-tiba anak udah 25 tahun kita bilang ke mereka, “Ayah bunda sudah nggak ngurusin kamu lagi ya.” Bukan kek gitu juga.

Anak perlu disounding tentang sampai kapan anak diurusi orangtua saat mereka berumur 7 tahun, lalu diulang ketika masuk baligh, ketika 18 tahun, dan 24 tahun. Tujuannya tentu saja agar anak-anak mempersiapkan diri dan tahu bahwa mereka akan segera bertanggungjawab atas diri dan kehidupan mereka sendiri.

Sebagai orangtua, kita pun juga nggak lepas tangan begitu saja. Sebelum melepas tangan kita dari anak-anak, tentunya anak-anak harus sudah dipersiapkan. Nggak usah muluk-muluk, dimulai dari mengenalkan peran dirinya, apa hak dan tanggungjawabnya, berikan tugas-tugas rumah tangga mulai usia 7 tahun, dan tentunya intens diajak komunikasi.

Jadi ketika sebuah maklumat berbunyi, “Nak, setelah 25 tahun, ayah bunda tidak akan memberikan subsidi lagi. Anak perempuan boleh tinggal di rumah, tapi untuk uang saku harian silakan cari sendiri. Anak laki-laki, wajib keluar dari rumah ini,” anak-anak tak lagi kaget dengan pernyataan tersebut.

Anak-anak yang terbiasa terus-terusan dibantu masalahnya oleh kedua orangtua, oleh kerabatnya, rasa tanggungjawabnya akan tumpul. “Aah, nanti juga dibantu bunda. Aah, pinjam duit ke ayah ajalah. Aaah, pakdhe pasti mau bantuin.”

Tanggungjawab yang tumpul akan melahirkan rasa bergantung pada orang lain. Lebih parahnya lagi, mereka hobi banget playing victim. Saat orang lain nggak bisa bantu, mereka akan merasa menjadi korban yang paling menderita, Padahal, bisa jadi bukan orang lain nggak mau bantu. Tapi sudah jengah dengan perilaku negatif yang terus-terusan muncul.

cara membantu anak bertanggungjawab

Jadi intinya, mau ngomong apa to mbak lewat tulisan ini, wkwk. Maaf ya kalau ngalor-ngidul banget postingan malam ini. Karena memang lagi random banget sih pikirannya. 
Intinya gini, ketika anak sudah kelar sekolah, sudah kerja sendiri, ya sudah biarkan mereka belajar ngurusin diri mereka sendiri. Ketika mereka terjatuh dalam perjalanan hidupnya, melakukan sebuah kesalahan karena memilih jalan yang kurang tepat, biarkan mereka jatuh bangun bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Sebagai orangtua kita perlu tega(s).
Kita nggak bisa terus-terusan pontang-panting ke sana ke mari. Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Hanya demi menyubsidi kebutuhan mereka. Hanya demi menyelesaikan permasalahan mereka. Sementara mereka cuma bisa bilang tolongin, gimana nih ayah, gimana nih bunda. Padahal sebelum masalah terjadi, nasehat kita aja nggak didengerin.

Dini hari kemarin, aku sempat ngobrol sama suami, “Yank, kalau Affan yang mengalami kasus besar seperti kerabat kita itu. Apa yang akan kamu lakukan?”

Suamiku terdiam cukup lama. Lalu dia bilang, “Sebagai orangtua tentu kasihan, pengen nolong. Tapi secara usia sudah dewasa. Aku akan bilang ke Affan, selesaikan masalahmu sendiri. Bertanggungjawab atas pilihan yang kamu buat sendiri. Ayah bunda cuma bisa bantu doa.”

Aku mengangguk, karena itu pula yang ada di pikiranku. Lalu aku bertanya lagi padanya, “Meski mungkin nanti bisa jadi dia terlibat masalah hukum?

Suami kembali menjawab, “Ya, nggak apa-apa kalau memang itu bisa jadi pelajaran buat dia. Dia juga harus tahu hidup itu isinya sebab akibat. Saat dia memutuskan suatu hal, harusnya sudah memikirkan apa konsekuensi yang akan dia dapat. Nggak lalu saat dapat masalah, dilempar ke orang lain begitu saja.”

Aku tersenyum. Lega karena kami sepemikiran. Aku kemudian menggenggam erat tangan suamiku seraya berbisik. “Semoga kita bisa mengasuh anak-anak dengan benar ya, Yank. Semoga anak-anak bisa jadi manusia yang bertanggungjawab.

Aamiin.” Kata suami.
Wahai anak muda, yang saat ini umur kalian sudah di atas 25 tahun dan masih tinggal bareng orangtua. Kalau kalian sudah berani bilang, “Jangan ikut campur urusanku, Pak, Bu. I can handle this by myself” Maka, jangan sekali-kali pula bawa pulang masalah ke depan orangtua. Maka, saat masalah itu datang, cuzz lah sesuaikan saja sama apa yang kalian katakan. Handle it by yourself!

Seberat apapun masalah itu, bertanggungjawablah sendiri! Meski orangtua selalu mampu jadi pintu yang terbuka lebar ketika pintu-pintu lainnya tertutup, bukan berarti kalian bebas datang sesuka hati hanya saat kalian bermasalah.
Anak polah bapa kepradah, semoga kiasan ini tak pernah terjadi dalam kehidupan kita ya, pals. Postingan lengkap tentang materi konsep diri by Abah Ihsan insya Allah akan kuposting di blog khusus parenting. Sampai jumpa. Makasih sudah baca curcolan di penghujung pergantian hari ini.

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment