Tak terasa, Ramadan sudah masuk ke pertengahan. Beberapa kedip lagi, tiba-tiba sudah sampai ujung Entahlah kenapa kini Ramadan jadi terasa makin cepat. Padahal waktu kecil dulu, aku merasa Ramadan itu terasa lama dan panjang waktunya.
Konon katanya, ketika waktu bergulir sedemikian cepat, tanda-tanda akhir zaman makin mendekat. Wallahu'alam bisshowab.
Btw, setiap tahun, selalu ada perasaan campur aduk ketika harus berpisah dengan bulan Ramadan. Antara lega karena berhasil melewati hari-hari penuh perjuangan menahan lapar, emosi, dan lelah. Tapi juga sedih karena bulan yang hangat ini akan segera pergi.
Btw, setiap tahun, selalu ada perasaan campur aduk ketika harus berpisah dengan bulan Ramadan. Antara lega karena berhasil melewati hari-hari penuh perjuangan menahan lapar, emosi, dan lelah. Tapi juga sedih karena bulan yang hangat ini akan segera pergi.
Dan di setiap akhir Ramadan, aku selalu bertanya pada diri sendiri:
Setelah ini, apa yang akan tersisa?Karena sejujurnya, aku tidak ingin Ramadan hanya menjadi rutinitas tahunan. Datang, ramai, penuh target, lalu selesai begitu saja. Aku ingin Ramadan menjadi pemantik. Menjadi titik nyala kecil yang terus menyala bahkan setelah Syawal datang.
Harapanku di Akhir Bulan Ramadan: Aku Tidak Ingin Kembali ke Titik Awal
Ramadan mengajarkanku banyak hal. Tentang bangun lebih pagi. Tentang menyediakan waktu khusus untuk mengaji. Tentang menahan diri sebelum bereaksi. Tentang lebih sadar pada setiap kata yang keluar dari lisan.Aku ingin kebiasaan-kebiasaan baik itu tidak berhenti di sini.Aku ingin tetap punya waktu untuk membaca Al-Qur’an meski nanti tidak lagi ada suasana sahur. Aku ingin tetap menjaga salat sunnah meski ritme harian kembali padat. Aku ingin tetap mengontrol emosi meski tidak sedang berpuasa.
Karena rasanya sayang sekali kalau sebulan penuh latihan, lalu kembali ke pola lama. Ramadan seperti gym spiritual. Dan aku tidak ingin semua latihan itu sia-sia.
Konsisten: Kata yang Sederhana, Tapi Berat
Kalau ditanya apa harapanku setelah Ramadan, salah satunya adalah: konsisten. Baik dalam ibadah, maupun dalam menulis.Alhamdulillah, Ramadan tahun ini terasa istimewa karena aku mengikuti beberapa writing challenge sekaligus. Awalnya terasa ambisius. Tapi ternyata justru dari situlah aku seperti “menyapu” sarang laba-laba dari blogku.
Blog yang dulu menjadi ruang paling jujur untukku bercerita. Blog yang dulu membuatku jatuh cinta pada dunia menulis.
Ada masa-masa di mana blog ini terasa sepi. Bukan karena tak ada ide, tapi karena aku terlalu sibuk, terlalu lelah, atau terlalu banyak berpikir.
Ramadan ini seperti mengetuk pelan, “Masih mau menulis, kan?” Dan aku menjawabnya dengan kembali duduk. Kembali menyusun kata yang berlompatan ke luar dari otakku. Aku menangkapnya perlahan, mengetikkannya, dan menerbitkannya dengan perasaan bahagia.
Harapanku, ini bukan hanya semangat musiman. Aku ingin kembali menulis dengan bahagia seperti awal dulu aku memulai blog ini. Tanpa beban. Tanpa terlalu memikirkan angka. Tanpa terlalu khawatir tentang performa.
Menulis karena cinta. Karena ingin berbagi. Karena ingin meninggalkan jejak kecil yang bermakna.
Lebih Tenang, Lebih Lapang
Di luar semua target ibadah dan tulisan, ada satu harapan yang lebih dalam: aku ingin menjadi lebih tenang. Sebagai ibu. Sebagai istri. Sebagai seorang perempuan.
Ramadan melatihku untuk lebih sabar. Meski tetap ada momen emosi naik. Meski tetap ada hari-hari yang terasa penuh. Tapi setidaknya aku belajar bahwa setiap kali aku kembali pada Allah, hatiku lebih mudah reda.
Aku ingin membwa ketenangan itu setelah Ramadan.Aku ingin menjadi ibu yang tidak mudah meledak karena hal kecil. Ingin menjadi istri yang lebih ringan dalam berbagi cerita dan beban. Ingin menjadi perempuan yang tidak terus-menerus menuntut dirinya untuk sempurna.
Karena ternyata, tenang itu bukan berarti hidup tanpa masalah. Tenang itu tentang tahu ke mana harus kembali saat hati mulai goyah. Dan Ramadan sudah mengingatkanku ke mana arah itu.
Titik Balik yang Kecil, Tapi Nyata
Aku tidak membuat resolusi yang terlalu tinggi. Aku hanya ingin:- Tetap punya jadwal khusus untuk mengaji.
- Menjaga ritme menulis minimal konsisten setiap minggu.
- Mengurangi overthinking.
- Lebih sering bersyukur daripada mengeluh.
- Lebih cepat meminta maaf ketika salah.
Ramadan tahun ini memberiku kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan diri. Tentang apa yang perlu diperbaiki. Tentang apa yang perlu dilepaskan. Tentang apa yang perlu diteruskan.
Dan mungkin inilah makna sebenarnya dari akhir Ramadan: bukan tentang berapa banyak yang sudah kita lakukan, tapi tentang siapa diri kita setelah melewatinya.
- Apakah kita sedikit lebih sabar?
- Sedikit lebih lembut?
- Sedikit lebih sadar?
Dan aku berharap, ketika nanti takbir berkumandang, yang pergi hanya bulannya. Bukan kebiasaan baiknya. Bukan semangatnya. Bukan kedekatannya dengan Allah.
Semoga setelah Ramadan ini, aku tidak kembali menjadi versi lama yang mudah lelah dan mudah menyerah.
Semoga aku menjadi versi yang lebih utuh. Lebih tenang. Lebih konsisten. Lebih bahagia dalam menulis dan menjalani peran-peran yang Allah titipkan.
Karena pada akhirnya, harapanku sederhana:
Ramadan ini bukan sekadar selesai. Tapi menjadi awal.***





Post a Comment
Salam,
maritaningtyas.com