Monday, June 18, 2007

Senopati (.....menunggu pagi.....)




Tokoh : Arti
              Dewi
              Budi
(Setting: Ruang tamu, lampu general)
Arti
Apakah ada berita baru hari ini?
Dewi
Setiap hari selalu ada ribuan berita baru. (mengaduk kopi)
Arti
Tentang apa?
Dewi
Pergulatan politik, mutilasi, seni dan budya, terorisme...
Arti
Kapal tenggelam?
Dewi
(mendesah panjang) lima tahun sudah berlalu....
Arti
Berarti tidak ada yang baru...
Dewi
Sampai kapan kamu akan mengurung diri seperti ini? (meletakkan cangkir di atas meja)
Arti
Sampai pagi menjemputku.....
Dewi
(berlari ke arah tirai dan membukanya lebar-lebar...) Lihatlah, Arti! Matahari bahkan sudah begitu tinggi, seakan telah siap membakar pori dan kulit ari!
Arti
(tersenyum getir) Tidak bagiku...Langit begitu gelap, bahkan tak ada bulan, juga bintang-bintang yang berkilauan...(menatap nanar ke luar jendela)

Dewi
Lama-lama aku bisa ikut gila... (mengambil cangkir dan membawakannya pada Arti) Minumlah!
Arti
(mengambil cangkir dari tangan Dewi) Jadi menurutmu aku gila?
Dewi
 Apa namanya kalau bukan gila? Kamu menunggu sesuatu yang tak pasti...padahal di hadapanmu seorang laki-laki telah menggadaikan hidupnya untukmu...
Arti
(tersenyum getir) Tak kan ada laki-laki manapun yang bisa menggantikannya...( lalu meneguk kopi) kopi pun sudah tak berasa kopi lagi...
Dewi
(menghela nafas) Sudahlah...Aku pulang dulu. Besok pagi aku ke sini lagi.
Arti
Jangan lupa bawakan berita baru untukku! Bila kamu tak membawanya, jangan kamu injak rumah ini!
Dewi
(tertawa getir) ya..ya..ya..akan aku bawakan setumpuk berita baru untukmu!
Arti
Tentang kapal tenggelam....bukan yang lain!
Dewi
Ya...kapal tenggelam!
Arti
Terima kasih, Dew...kamu memang sahabatku!
Dewi
Sama-sama (mengelus rambut Arti dan mencium kepalanya)

(Dewi keluar rumah, Arti menghidupkan radio. Ia mencari berita mengenai kapal tenggelam, namun tak ditemukannya. Radio dibanting. Kemudian Budi masuk)

Budi
(mendesah) berapa radio lagi yang akan kau hancurkan?
Arti
Itu tadi radio rusak....Dari puluhan channel, tak ada satu pun yang menyiarkan berita tentang kapal tenggelam. Apa yang kau bawakan untukku?
Budi
Tidak ada
Arti
Satupun?
Budi
Iya
Arti
Kalau begitu, pergilah ke toko...belikan aku radio baru, benar-benar baru dan masih baik...(merogoh kantong dasternya dan memberikan uang pecahan rp. 500 pada Budi)
Budi
Radio Baru? (melihat uang yang disodorkan oleh Arti)
Arti
Iya...tunggu apa lagi?
Budi
Iya-iya...baiklah..

(Budi mengambil uang yang disodorkan Arti lalu keluar. Sementara itu Arti membuka-buka tumpukan koran, membaca beritanya satu per satu, lalu dilemparkannya koran-koran itu)

Arti
Tidak adil...tidak adil....Tidak adil...(berteriak histeris)
(Budi masuk membawa sebuah radio)
Budi
Apanya yang tidak adil?
Arti
Koran-koran itu....mereka hanya memuat tentang politik, seni, mutilasi, terorisme, inflasi, deflasi, kurs, saham....tapi tak ada satupun berita tentang kapal tenggelam...
(Arti merebut radio dari tangan Budi....mencari stasiun yang menyiarkan berita, tak ketemu, dan hampir dibantingnya lagi, namun dicegah oleh Budi)
Budi
Jangan dibanting lagi, bukan salah radio ini kalau berita kapal tenggelam itu sudah tidak terdengar lagi....Lima tahun sudah berlalu.
Arti
(menatap Budi dengan tajam) Lima tahun berlalu tidak berarti semua telah aus dan usang bukan? Masih ada yang menunggu, termasuk aku!
Budi
Sudahlah...Jono pasti sudah mati!
Arti
(menatap lebih tajam pada Budi, lalu memutari Budi) Dari mana kamu tahu?
Budi
Arti, lima tahun bukan waktu yang singkat..
Arti
Masih terlalu singkat untukku...apalah artinya lima tahun? Seratus tahun pun akan aku tunggu....hingga aku menemukannya!
Budi
(memegang pundak Arti)Arti...sadarlah! Terima kenyataan!
Arti
Kenyataan apa yang harus aku terima...Kenyataan yang mana?
Budi
Yakinlah...dia pasti..
Arti
Mana mayatnya? Mana jenazahnya? Mana? Buktikan padaku kalau ia sudah mati!
Budi
Lima tahun, Arti...mungkin saja mayatnya sudah dimakan oleh Ikan.
Arti
Selama aku belum menemukan mayatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku masih menganggapnya ada....HIDUP!
(Budi terdiam...hanya mampu menatap Arti)

Arti
Aku akan berhenti mencari dan menunggu bila memang sudah waktunya berhenti,,,,tapi selama aku masih yakin, aku tak akan pernah lelah mencari! Kalau kamu memang tak sanggup lagi membantuku untuk menemukannya....pergilah!
Budi
Aku tak akan ke mana-mana...Sebelum Jono pergi, aku sudah berjanji padanya, aku akan menjagamu seperti dirinya menjagamu!
(Budi mencoba membelai rambut Arti, namun ditepis oleh Arti)
Arti
Jangan lancang, Bud! Aku istri sahabatmu.....
Budi
Kalau aku bisa membawa mayatnya ke hadapanmu, apa kamu bisa menerimaku?
Arti
(menatap budi) Tidak!
Budi
Kenapa?
Arti
Tak mungkin aku nodai kesetiaan ini...
Budi
Jono pasti sudah mati!
Arti
Meski ia sudah mati sekalipun...!! Aku tahu...kamu lelaki baik-baik, Bud...Aku tahu sudah begitu banyak hal yang kamu korbankan untukku...Tapi kesetiaan ini tidak akan kugadaikan dengan apapun!
Budi
Kamu Gila...
Arti
Dan kamu sudi menikahi wanita gila sepertiku ini?! Pergilah, Bud...Aku bisa menjaga diriku sendiri! (Arti berlari masuk ke dalam)


Budi
(mencoba menahan Arti...namun gagal, berteriak) Arti....aku telah lelah bersabar, akan aku bawakan mayatnya untukmu....dan akan kujadikan dirimu permaisuriku! Ini janjiku, Arti...Tunggulah, besok aku pasti datang lagi!

(budi keluar rumah, tertawa terbahak....Lampu mati, panggung kosong. Tiga menit kemudian, lampu kuning menyala begitu terang...Arti tergopoh-gopoh ke luar panggung)

Arti
Pagi...Pagi yang kutunggu akhirnya tiba juga! Jono...kamu pulang, Jono....(berlari menuju arah cahaya kuning) aku tahu kamu pasti pulang untuk menjemputku. Jono, aku lelah di sini...ajaklah aku serta bersamamu....semua orang menganggapku gila karena menunggumu....Kamu tahu kan aku tidak gila, mereka yang tidak waras karena telah mencibir kesetiaanku padamu....Jono....(Arti terjatuh, tergeletak memeluk sebuah potret)
(lampu kuning perlahan meredup lalu general hidup)



Dewi
Arti....lihatlah...aku membawa berita baru....tentang kapal tenggelam seperti yang kau minta! Tapi, bukan kabar gembira...setidaknya ada berita baru tentangnya, bukan?
(mendekati Arti.....menggoyang-goyang tubuh Arti) Hei, kenapa kamu tertidur di sini? Ayo bangun! Aku sudah tepati janjiku, aku bawakan berita yang kamu cari...atau kamu mau aku membacakannya? Baiklah.....”DUA BELAS MAYAT TAK DIKENAL DAN SUDAH TAK BERBENTUK DITEMUKAN LAGI.....DIPERKIRAKAN DUA BELAS MAYAT ITU ADALAH KORBAN SENOPATI YANG TENGGELAM LIMA TAHUN YANG LALU....” Arti, bangunlah! Apa kamu tidak ingin memastikannya ke sana? Siapa tahu ada kabar tentang Jono! Arti... Arti...Arti...(mendekatkan telunjuknya pada hidung arti)Arti........(Teriak)

-         kupersembahkan untuk para korban Senopati
 dan keluarga yang ditinggalkan -          
Semarang, 18 Juni 07

0 comments:

Post a Comment

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.