Thursday, April 2, 2015

20 Jam Bersama Abah Ihsan: Menuju PSPA

Alhamdulillah akhirnya tanggal 28-29 Maret 2015 datang juga. Ada apa dengan tanggal tersebut? Eits, bukan karena tanggal tersebut tanggal lahir almarhumah adik saya ya… Tetapi karena pada dua hari tersebut akhirnya bisa menimba ilmu secara langsung dari Abah Ihsan. Ada beberapa acara parenting yang pernah saya ikuti, tapi entah kenapa kali ini rasanya excited sekali. Tanya kenapa?

Perjalanan Mengenal PSPA


Sebenarnya saya juga termasuk baru mengenal Abah Ihsan. Sebelumnya sering curi-curi dengar dari obrolan teman-teman sesama book advisor. Beberapa dari mereka merekomendasikan kalau seminar si Abah ini keren bangeeet, so inspiring. Mereka juga merekomendasikan beberapa buku hasil karya Abah Ihsan sebagai must have books.  Sayangnya, buku-buku beliau ini agak susah didapatkan, karena sering out of stock saking banyaknya permintaan.

Akhirnya dengan kekepoan tingkat tinggi saya segera googling deh mengenai Abah Ihsan dan buku-bukunya. Beruntung lewat sebuah situs toko buku online, saya bisa mendapatkan bukunya yang berjudul Yuk Jadi Orang Tua Shalih Sebelum Meminta Anak Shalih. Saya mendapatkan buku tersebut pada bulan Desember 2014, hmm memang benar kata teman-teman bukunya luar biasa.

Tak lama kemudian saya mendapat informasi kalau Abah Ihsan dalam waktu dekat akan mengadakan Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA) di Semarang. Dibisiki teman-teman biaya yang harus disiapkan antara 500-700ribu per orangnya. Wow, lumayaaan ya… Tapi dengan niat yang membara, niat ingsun jadi orang tua yang lebih baik sejak Desember tahun lalu saya tahu berita bahwa PSPA akan diadakan sekitar bulan Februari, saya segera nabung.

Sayangnya setelah ditunggu-tunggu, PSPA tidak kunjung datang juga. Hingga akhir Februari seorang tetangga yang merupakan guru di Sekolah Alam Ar Ridho, Bu Sri, memberi informasi kalau Abah Ihsan akan bekerja sama dengan Ar Ridho untuk mengadakan PSPA di Semarang. Alhamdulillah akhirnyaaa… yang ditunggu-tunggu datang juga…

Dapatlah tanggal pastinya.. seperti yang saya sebutkan di atas.. 28-29 Maret 2015… Segera saya kosongkan jadwal di dua hari tersebut (sok sibuk..) sambil minta ijin sama suami tentunya agar bisa ikutan acara ini dan gantian momong Ifa. Tapi ketika dibisiki sama Bu Sri bahwa kontribusi untuk bisa mengikuti PSPA di Semarang kali ini berbeda dengan kota-kota lain, jadi agak galau… bayangkan yang biasanya 700ribu untuk satu orang, sekarang bisa untuk dua orang…. Alhamdulillah ya Allah, berarti bisa ngajak suami sekalian nih.

Eits, enggak segampang itu juga kan ngajak suami seminar full day selama dua hari, pertama; hari Sabtu suami nggak libur, kedua; terus Ifa gimana? Apalagi baru tahu kalau tanggal 28 Maret ada pengajian peringatan setahun meninggalnya Eyang yang mengharuskan saya ke Krapyak. Akhirnya setelah berembug, diputuskanlah….Untuk pertama kalinya saya dan suami ikut sebuah acara dalam waktu yang panjang tanpa mengajak Ifa. Agar Ifa aman akhirnya sejak tanggal 27 Maret kami sekeluarga termasuk ibu saya sudah boyongan ke Krapyak. Jadi tanggal 28 – 29 Maret Ifa sudah menemukan Opapa sitternya :D , makasih opa Sigid sudah ngemong Ifa dua hari. Diputuskan juga tanggal 28 Maret suami bolos kerja… hehehe, sekalian ganti hari waktu lembur sampai pagi.. nggak papa ya sekali-kali bolos.. eh ijin ding.. 

Well, bagi yang tidak biasa ikut acara parenting mungkin sedikit terkejut dengan biaya yang harus dikeluarkan, 350ribu memang bukan nominal yang sedikit. Begitu pula dengan saya, saya harus menabung jauh-jauh hari agar bisa ikut acara ini. Namun jika boleh saya membandingkan dengan seminar yang pernah saya ikuti, program ini sangat amat murah sekali. Dua tahun lalu saya pernah mengikuti Seminar Ayah Edy yang juga diadakan oleh Ar Ridho. Saat itu kontribusinya 250ribu dengan lama seminar sekitar 4 jam.  Let’s compare dengan PSPA by Abah Ihsan ini, 350ribu untuk dua hari, dan tiap harinya full day dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore. 20 hours loooo…. Emang nggak bosen? Enggak sama sekali, Abah Ihsan bener-bener ciamik meramu acara hingga mata para peserta terpaku padanya dan terlibat dengan segala kegiatan yang diminta olehnya. Tiap kali ada yang mulai kehilangan konsentrasi, beliau selalu punya cara untuk menarik perhatian mereka. AMAZING!!!!

Sekarang coba deh kita hitung-hitung ekonomisnya… 350ribu dibagi 20 jam, jatuhnya cuma 17.500 rupiah lo.. Masih bilang mahal juga? Emang dapat apa aja sih kok bisa dibilang recommended bangeeeeet? Selain tentunya dapat coffee break, makan siang dan goodie bag dari TELKOM sebagai sponsor acara, ilmu yang didapat selama dua hari itu insya Allah akan bermanfaat sepanjang hayat. Dan ilmu ini yang nilainya tak bisa diukur sama materi, euy….

Di sini saya akan coba share apa saja sih yang saya dan suami dapatkan setelah mengikuti program ini.. tapi sebelumnya saya minta maaf kalau kok tidak bisa benar-benar menggambarkan secara detail program ini. Karena memang program ini akan terlihat “luar biasa”nya saat teman-teman hadir sendiri, membuka mata, telinga, pikiran dan hati untuk sebuah ilmu yang sangat penting demi mengasuh generasi berkualitas bangsa ini.

Abah Ihsan
Sebelum saya nulis semakin panjang x lebar x tinggi, sebaiknya kenalan dulu deh ya sama Abah Ihsan ini. Terlahir dengan nama Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari. Beliau memiliki seorang istri bernama Leyla dan 5 orang anak dengan usia 13, 10, 7, 4, dan 1 tahun. Beliau merupakan Direktur Auladi Parenting School, Bandung, Indonesia, National dan International Master Trainer Auladi Parenting School, Indonesia, Penulis Buku-buku Best Seller Parenting, antaranya: “Sudahkah Aku Jadi Orang Tua Shalih?” ; “Sebelum Meminta Anak Shalih, Yuk Jadi Orangtua Shalih”, “Renungan Dahsyat  untuk  Orangtua” dan Pendiri Komunitas  “YUK-JADI ORANGTUA SHALIH” dengan 40.000 lebih anggota di seluruh Indonesia dan Malaysia. Beliau hampir setiap akhir pekan selalu keliling dari satu kota ke kota lainnya, dari satu negara ke negara lainnya untuk berbagi ilmu mengenai pengasuhan anak. Luar biasaa… yang masih kepo seperti apa beliau mungkin bisa kunjungi situs auladi atau singgah barang sebentar ke FP Yuk-Jadi Orang Tua Shalih.

Dengan durasi program yang cukup panjang dan padat, Abah Ihsan menggelontorkan 6 modul yang merupakan penjelasan komplit plit plit dari bab-bab yang ada di buku Yuk Jadi Orang Tua Shalih Sebelum Meminta Anak Shalih.

Dari beberapa acara parenting yang pernah saya ikuti bisa saya katakan bahwa ini acara terdisiplin. Dimulai tepat pada jam yang ditentukan dan berakhir tepat pada jam yang dijadwalkan. Salut untuk Abah Ihsan dan tim panitia dari Ar Ridho.

Hari pertama sesuai jadwalnya acara dimulai pada pukul delapan pagi, dan peserta diharapkan datang tiga puluh menit sebelum acara. Saya dan suami berangkat dari Krapyak pukul tujuh tepat dengan diiringi tangisan Ifa. Meski sebelumnya kami sudah memberitahunya bahwa hari ini ayah bundanya akan pergi belajar dan Ifa harus tinggal bersama opapa dan omama, tetap saja Ifa tidak rela ditinggal sendirian, karena memang Ifa jarang ditinggal oleh kedua orang tuanya dalam waktu lama.

Dengan menguatkan niat, tega nggak tega kissing goodbye deh sama Ifa. Alhamdulillah jalanan lancar. Dipikir-pikir udah lama juga nih enggak boncengan berdua saja tanpa Ifa.. jadi ingat masa-masa sebelum ada Ifa :D. Anggap saja ini quality time untuk berdua.. jarang bangeeet nih bisa berdua saja begini.


Pembukaan dan Sambutan-sambutan


Pukul setengah delapan kami tiba di Gedung Telkom, menurut informasi yang kami dapat acara diadakan di lantai delapan. Biasanya ke Telkom cuma untuk komplain Speedy, kali ini bisa menjelajah ke lantai tertinggi. Ternyata Gedung Telkom keren euy, tiap lantainya ada musholla, jadi enggak bingung kalau mau sholat. Tiba di lantai delapan, di situ ada sebuah aula yang kalau enggak salah namanya Pelataran Mahakarya Telkomners. Tempatnya cukup luas dan nyaman. Sebelum masuk ke ruangan, kami registrasi ulang terlebih dahulu sekalian mengecek apakah nama kami sudah benar untuk kepentingan sertifikat. Sertifikat ini nantinya berguna kalau kita ingin ikut acara Abah Ihsan lagi, bisa dapat diskon katanya--cuma bayar biaya konsumsi saja.

Setelah registrasi, panitia memberikan sebuah goodie bag yang isinya berupa notebook, bolpoin, brosur Indihome dan name tag. Sembari menunggu acara dimulai, ngopi-ngopi dulu deh :).  Kami pikir yang datang berpasangan boleh duduk berdekatan ternyata duduknya dipisah sesuai jenis kelamin, jadilah saya dan suami terpisah. Alhamdulillah saya bisa duduk di barisan terdepan. Sejak sekolah sampai sekarang suka banget duduk di depan, lebih mantep gitu.

Sebagaimana acara pada umumnya, sebelum masuk ke materi utama, ada beberapa sambutan berkenaan dengan terselenggaranya acara ini. Dibuka oleh Bu Hesty yang merupakan Kepala Sekolah TK Alam Ar Ridho sebagai host acara pada pukul 08.10. Beliau membacakan susunan acara setelah sebelumnya mengajak peserta untuk mengucapkan basmallah agar acara bisa berjalan dengan lancar.
Setelah acara dibuka oleh Bu Hesty, bu Hesty mengundang Ustad Sumeri untuk membacakan tilawah dan sari tilawah. Surat yang dibacakan adalah surat Luqman ayat 12-19. Seperti kita ketahui surat Luqman selalu menjadi rujukan bagi dasar pendidikan islami.  Untuk sekedar mengingatkan sekalian tadabbur yaa, kulik yuk isi dari surat tersebut:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS: Luqman Ayat: 12)
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS: Luqman Ayat: 13)
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS: Luqman Ayat: 14)
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS: Luqman Ayat: 15)
(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS: Luqman Ayat: 16)
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS: Luqman Ayat: 17)
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS: Luqman Ayat: 18)
Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS: Luqman Ayat: 19)

Sungguh sangat menyejukkan ya, memang Al Quran telah menjadi tuntunan terbaik untuk segala hal termasuk dalam mendidiki putra-putri kita. Sayangnya kita masih saja sering lupa mengaplikasikannya...

Setelah pembacaan surat Luqman oleh Ustad Sumeri disusul dengan sambutan dari Bapak Jumana Multazam yang merupakan Ketua Yayasan Ar Ridho sekaligus mewakili wali murid. Beliau ini ternyata juga bekerja di Telkom, jadi punya sedikit bayangan kenapa acara PSPA diadakan di Gedung Telkom :D. Pak Jumana sebenarnya cuma diberi waktu lima menit untuk memberikan sambutan, tapi ternyata beliau sepertinya hobi public speaking juga nih, akhirnya tetep deh lebih dari 5 menit. Inti dari sambutan yang disampaikan oleh pak Jumana yaitu mengenai neurolistic programming yang ia pelajari bahwasanya perilaku kita di masa ini merupakan perpanjangan dari perilaku kita di masa kecil. Jadi bisa dikatakan kalau sejak kecil kita tidak diarahkan untuk melakukan hal yang baik, bisa jadi saat dewasa kita melakukan hal-hal yang negatif. Pak Jumana juga menyampaikan pentingnya bagi para orang tua untuk memilih sekolah yang tidak mengeksploitasi anak untuk tujuan yang sempit (baca: hanya mengejar nilai). Dan yang paling penting sebagai orang tua yang baik kita harus mampu mendidik anak-anak untuk menjaga sholatnya, jangan sampai dikendalikan oleh TV. Nah, sampai di sini Pak Jumana kemudian melanjutkan sambutannya dengan sedikit pesan sponsor. Berhubung beliau bekerja di Telkom, beliau menyarankan agar seluruh orang tua di Indonesia segera beralih untuk menggunakan Indihome yang merupakan paket komplit dari telepon rumah, akses internet dan IPTV. Dengan indihome program untuk mematikan TV dari jam 18.00-21.00 bisa berhasil dikarenakan IPTV dari Telkom bisa direkam dan ditonton di waktu yang kita inginkan. Hmm, bikin mupeng aja euy Pak Jumana :D. Beliau menutup sambutannya dengan mengingatkan bahwa semuanya butuh ilmu, termasuk mengasuh anak, itulah kenapa Ar Ridho bersama Auladi Parenting School mengadakan PSPA.

Satu sambutan terakhir disampaikan oleh bu Mia Inayati, yang merupakan Direktur Sekolah Alam Ar Ridho. Beliau ini merupakan sosok yang inspiring, saya sempat mengikuti seminar internal yang dibawakan olehnya tentang menjadi guru hebat di Ar Ridho pada bulan Februari. Beliau memiliki 11 putra/i lo, hebaaat ya! Dalam sambutannya bu Mia menyampaikan bahwa yang butuh sekolah itu bukan hanya anak-anak, orang tua pun wajib untuk belajar mengenai cara pengasuhan anak yang sesuai dengan zamannya. Dua hari bersama PSPA insya Allah akan menghasilkan hari-hari bersama anak yang lebih berkualitas setelahnya. Dengan waktu yang cukup singkat karena jatah bicaranya banyak diserobot pak Jumana, bu Mia menutup sambutannya dengan menyampaikan oleh-olehnya saat mengunjungi Finlandia dan studi banding mengenai sistem pendidikan di negara yang dikenal sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik. Tujuan pendidikan di Finlandia terdiri dari dua hal utama yaitu mendidik manusia untuk menghargai setiap potensi yang dimiliki, dan menjadi manusia pembelajar.

Detik-detik Menjelang PSPA


Setelah sambutan-sambutan selesai disampaikan, pukul 08.35 yang tadinya acara dibawakan oleh Bu Hesty, kini beralih ke Pak Asep yang merupakan asisten dari Abah Ihsan. Pak Asep meminta kami untuk menyamakan frekuensi sebelum masuk sebenar-benarnya ke acara PSPA. Beliau juga mengingatkan bahwa kelak keluarga adalah salah satu hal pertama yang dihisab di akhirat, jadi sangatlah tepat jika kita mempersiapkan anak-anak dan keluarga kita dengan sebaik-baiknya.

Untuk membuat para peserta ‘on’, Pak Asep mengajak para peserta untuk bermain suit alias pingsut.  Pak Asep juga meminta peserta untuk merapatkan shaf nya, hehe, maksudnya untuk mengisi kursi di bagian depan yang masih kosong, sehingga acara bisa berlangsung dengan nyaman. Setelah semua kursi rapat terisi, berpasangan dengan teman sebelah kita diminta untuk suit, yang menang berhak untuk memukul telapak tangan temannya. Saat itu saya berpasangan dengan bu Musaroffah, istri dari Ustad Sumeri. Permainan itu dilakukan berulang kali agar peserta semangat, juga berganti-ganti pasangan dengan teman di belakang kami. Maksud dari permainan ini adalah untuk mengeluarkan kembali jiwa kekanak-kanakan para peserta. Karena sesungguhnya setiap manusia memiliki jiwa kanak-kanak di dalam dirinya. Untuk memahami anak-anak, para orang tua wajib mengeluarkan jiwa kanak-kanak tersebut.

Setelah peserta terlihat sudah mulai panas, Pak Asep membacakan beberapa peraturan yang harus diikuti selama menjadi peserta PSPA. Adapun peraturan itu antara lain; dilarang main HP saat acara berlangung (lebih bagus jika dimatikan agar lebih konsentrasi), tidak boleh berdiskusi dengan teman sebelahnya, tidak boleh merekam jalannya acara, tanda tangan absen saat datang dan setelah sholat Ashar (yang absennya tidak lengkap, tidak akan mendapatkan sertifikat), peserta wajib menggunakan name tag, akan ada enam modul yang disampaikan oleh Abah Ihsan selama dua hari dan setiap peserta wajib mengikutinya secara penuh, jika hari pertama tidak mengikuti acaranya maka hari kedua dilarang untuk ikut biar ilmu yang didapat tidak setengah-setengah, tidak boleh membawa anak di atas usia satu tahun, acara akan selesai kurang lebih pukul 17:45 – biar yang pulangnya dijemput bisa menginformasikan pada pihak yang menjemput agar tidak terlalu lama menunggu, dan aturan yang terakhir; dilarang tepuk tangan --- kata abah Ihsan ini aturan pitnah… bukan tidak boleh tepuk tangan, cuma beliau bukan tipe pembicara yang suka pesertanya tepuk tangan karena disuruh, jadi kalau memang ingin tepuk tangan secara spontan ya boleh-boleh saja :D.

Pak Asep menuntaskan pembukaannya dengan membacakan CV Abah Ihsan seperti yang saya tulis di atas, kemudian segera mempersilakan Abah untuk masuk ke ruangan. Agar ruangan kondusif, pintu diberi geber batik sehingga orang di luar ruangan tidak bisa melihat aktivitas di dalam. Kesan pertama yang saya tangkap dari seorang Abah Ihsan adalah energik, ceria, rame, gaul, asyik, heboh dan mirip-mirip gayanya kaya Ustad Maulana :D, tapi badannya nggak sekecil Ustad Maulana yaa… pecicilan bangeeet deh pokoknya, salut banget untuk stamina beliau deh.

Pengin tau lanjutan reportase PSPA di Semarang... tunggu postingan berikutnya :) Baru pembukaan saja, energi dan semangatnya sudah membakar jiwa.... 

Pesan Sponsor: bagi yang berminat membeli buku-buku Abah Ihsan, boleh lo tengok Roema Mayda :)

0 comments:

Post a Comment

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.