Thursday, June 4, 2015

B - A - P - A - K

Beberapa hari ini aku sedang menamatkan buku Amazing Parenting karya Rani Razak Noe'man. Secara isi sih hampir sama dengan apa yang disampaikan Abah Ihsan di PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) mengenai tentang bagaimana membangun kedekatan dengan anak, tapi penyajiannya saja yang berbeda. Cuma ada kalimat yang menggelitik yang saya temukan di buku tersebut, intinya adalah tentang kenapa kita lebih mudah menyimpan dan mengenang perasaan dan memori negatif daripada yang positif, terutama ketika itu berkaitan dengan hubungan kita dengan orang tua. Dan ternyata itu disebabkan pola asuh yang selama ini dijalankan oleh beberapa orang tua jaman dulu yang seringkali lebih banyak ngomongin anak ketika dia berbuat negatif daripada mengapresiasi anak ketika dia berbuat positif.

Hal tersebutlah yang kemudian memicuku menuliskan ini, karena hal tersebut juga yang aku rasakan, betapa aku lebih mudah mengingat hal-hal yang buruk daripada hal-hal yang baik tentang orang tuaku. Apalagi setelah kemarin seharian berdiskusi dengan para moms di Komunitas Yukjos Semarang lewat grup Whatsapp yang nggak pernah sepi, bagaimana peran dan hubungan orang tua-anak sangat mempengaruhi kehidupan kami sekarang. Ada banyak cerita negatif yang mengalir, yang meskipun kemudian menjadi cambuk untuk kami berbuat lebih baik, tapi nyatanya menimbulkan bekas yang cukup dalam dan luka yang entah sudah tertutup benar atau belum (meski kadang di mulut bilang sudah).

"Masa lalu itu seperti spion, ditengoklah seperlunya saja sebagai bahan pelajaran, bukan malah membuat diri kita terjebak di dalamnya." Kalimat yang menohok banget dari Mom Ida Sigit membuatku malu. Betapa selama ini, aku masih belum bisa move on dari masa laluku, hingga tanpa sadar masih suka menyalahkan orang lain (baca: bapak) untuk sesuatu yang terjadi di masa sekarang. But, hey.. apakah benar tidak ada sedikitpun hal baik dari masa laluku, dari orang tuaku? Well, I will not get this wonderful life if I don't have wonderful parent.

Mulai hari ini aku tidak akan lagi bercerita tentang hal-hal buruk mengenai orang tua, khususnya bapak, apalagi beliau toh sudah meninggal, betapa pasti ia akan sedih jika masih melihatku belum ikhlas dengan segala hal yang terjadi di masa lalu. Untuk menebusnya aku akan bercerita bagaimana secara tidak langsung beliau membentukku menjadi pribadi yang seperti sekarang. Yaaa, bercerita tentang ibu dan kebaikannya kan sudah pernah, sering, bahkan sudah sempat dibukukan di dua antologiku, tapi tentang bapak.... I'll tell you about him, tentang seorang laki-laki biasa yang bahkan dunia pun mungkin kini sudah melupakannya, tapi darahnya mengalir dalam darahku dan membentuk sebagian dari kepribadianku.

Bapak in Memoriam


Surya Bakti

Itu nama bapakku, lahir di Medan, 6 Oktober 1953. Ia lahir dan dibesarkan oleh eyang kakungku yang seorang TNI angkatan darat, itulah kenapa bapak selalu tinggal nomaden, dari satu kota ke kota lain. Di Medan pun beliau hanya numpang lahir :). Eyang putri adalah wanita Aceh yang konon pintar sekali mengaji, begitu yang bapak selalu ceritakan pada kami. Sayangnya ibunya bapak ini tidak mengajarkan ilmu tersebut pada bapak, apalagi kemudian beliau meninggal sebelum bapak lulus SD. 

Sepeninggal ibunya, bapak yang di sekolah tidak pernah betah karena ternyata punya bawaan mata minus, tidak bisa melihat jelas apa yang tertulis di papan tulis akhirnya memilih untuk ikut ngenek di truk. Berpindah dari satu kota ke kota lain, dan eyang kakungku terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Begitulah bagaimana pribadi bapak dibentuk, keras di jalanan. Akhirnya bapak hanya bersekolah sampai SMP dan mulai memprofesionalkan diri menjadi seorang sopir bus.

Beliau bisa bertemu dengan ibu karena adik kandungnya adalah teman sekolah ibu. Dari perkenalan yang singkat dan long distance relationship ------ karena saat itu bapak sempat ikut kakaknya tinggal di Sulawesi dan hampir memulai karir di Agraria, kebetulan pakdhe (kakak ipar bapak) merupakan karyawan di Agraria, dan jaman segitu kan lumrah banget memasukkan keluarga sendiri jadi bagian perusahaan ---- akhirnya bapak melamar ibu dan kemudian menikahinya pada 6 Oktober 1982, tepat di hari ulang tahun bapak yang ke-29.

Karena ibu gamang diboyong ke Sulawesi, akhirnya bapak tidak jadi meneruskan pekerjaannya di Agraria dan kembali menjadi sopir bus. Tahun 1980-1990an, pekerjaan sopir bus meski kasar tapi cukup menjanjikan, waktu menikahi ibu saja bapak sudah punya mobil lo, mobil colt tua berwarna merah :). Bapak dan ibu sempat hampir dikaruniai putra kembar di tahun 1983, bernama Kus Kurniawan dan Kus Kurniadi. Sayangnya karena lahir prematur, kedua kakak yang cuma bisa kutemui makamnya ini hanya bertahan beberapa jam setelah dilahirkan. Baru kemudian lahirlah aku di tahun ke tiga pernikahan mereka.


Ibu sering cerita bapak sangat menunggu kelahiranku. Setiap pulang kerja, bapak tidak pernah lupa membawakan rempela ati goreng sebanyak 10 buah yang ditaruh di plastik hitam kemudian diikatkan di sabuknya biar tidak jatuh. Suatu hari, sampai di rumah bapak baru sadar kalau rempela ati yang dibelinya hilang di jalan. Kata ibu, bapak sedih sekali. Tapi kadang soal rempela ati ini jadi candaan buatku dan bapak ibu setelah aku dewasa, "pengennya bikin anak pintar dari kandungan dikasih makan rempela ati terus, ternyata malah overdosis vitamin A, matanya jadi minus parah." Maklum sejak kelas 1 SD aku sudah pake kacamata, nggak masalah rempela ati juga sih sebenarnya, gegara suka banget baca sambil tiduran :D

Itulah salah satu bentuk perhatian yang bapak berikan bahkan sebelum aku lahir di muka bumi. Bapak sudah rencana ambil cuti saat ibu mendekati HPL, tapi ternyata akunya nggak sabaran. Belum juga selesai bulan Maret, aku udah minta keluar dari rahim ibu. Perkiraan dokter aku lahir awal April, ternyata 16 Maret 1985, ibu melahirkanku di RST dekat Tugu Muda jam 13.00 setelah 12 jam membuat ibu tidak bisa tidur (nakalnyaaaa). Saat aku dilahirkan, bapak masih bekerja. Ketika bapak sampai rumah eyang, bapak  bingung karena rumah sepi sekali, barulah ketika bertemu eyang putri kalau anak pertamanya lahir, bapak segera melesat ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit dan ketemu ibu, pertanyaan pertama yang dilontarkan bapak adalah "anaknya sehat to, lengkap semua anggota tubuhnya?". Bentuk perhatian kedua yang selalu saja terlupakan dari seorang bapak.

Aku sendiri tak begitu mengingat masa kecilku dengan bapak, terutama memori di bawah lima tahun. Tapi dari foto-foto di album kenangan yang ibu simpan, aku tahu betapa bapak sangat menantikan kelahiranku. Salah satu foto favoritku adalah ketika bapak menggendongku di depan rumah eyang, sepertinya umurku waktu itu masih 6 atau 8 bulan. Aku saat itu dipakaikan rok berwarna merah.


Waktu terus melesat cepat. Bapak menjual mobilnya untuk membayar DP pembelian rumah di Salatiga. Akhirnya setelah disetujui eyang, bapak ibu dan aku pindah ke Salatiga pada tahun 1987. Umurku dua tahun waktu itu. Dliko Indah Gang XVI no 207 adalah kenangan dan sejarah keluarga kami. Aku punya impian, suatu saat pengen banget membeli kembali rumah itu :) Tidak hanya soal rumah itu, tetangga dan teman-teman di Salatiga adalah orang-orang yang luar biasa. Oiya, pada tahun 1995 adikku, Marisa Surya Ningtyas, atau yang kerap dipanggil Tyas lahir, melengkapi keluarga kami.

Sebagaimana bapak-bapak pada umumnya, bapak tidak banyak bicara. Dengan jam kerjanya sebagai seorang sopir bis antar kota antar provinsi, bapak bisa saja pulang seminggu sekali, dua minggu sekali atau bahkan sebulan sekali. Hal yang paling kurindukan darinya adalah beliau suka sekali membawakan oleh-oleh setiap pulang ke rumah. Kadang ia tak sungkan menelpon dulu sebelum pulang dan bertanya padaku, ibu atau adik (tergantung siapa yang nerima telpon), "mau dibawain sate sapi atau martabak?". Kadang karena pilihannya sangat menggiurkan, kami tidak mau memilih dan meminta bapak membawakan dua-duanya, hehe (kalau kata Ifa sekarang, iih curang). Waah, senang sekali kalau bapak sudah telpon begitu, langsung aku dan adikku menunggu bapak dengan gembira. Bapak juga beberapa kali ngajak aku nonton bioskop (meski nonton film warkop, ya iyalah dulu pilemnya itu doang...), dan bapak suka sekali menyanyi (yang kemudian diturunkannya padaku). Setiap kali tidak sedang nyopir, bapak suka karaokenan di rumah, refreshing katanya. Kalau ada lomba karaoke di acara 17-an, bapak pasti selalu ikut, dan lagu andalannya adalah "Wiiiiduriiiiii, elok bagai rembulan oooh sayang..."

Sebelum ibu jatuh sakit dan bapak menikah lagi, perekonomian keluarga kami cukup baik, tidak berlebih namun juga tidak kekurangan. Bahkan bapak selalu punya mobil, meski hanya mobil colt tua. Bapak suka beli mobil keluaran tahun-tahun tua, lalu dipercantik, dilengkapi audio, kalau sudah bagus ada yang tertarik beli dilepaskan lalu uangnya buat beli mobil yang tahunnya lebih baru. Meski bapak punya mobil dan motor, bapak tidak pernah membiasakan mengantar-jemput anak-anaknya ke sekolah, kecuali bapak sedang ada keperluan keluar dan bareng dengan jam berangkat atau pulang sekolah, pasti bapak antar atau jemput kami. Kata bapak, "tidak selamanya bapak bisa mengantarkan kalian, tidak selamanya bapak punya mobil, kalian harus terbiasa naik angkot, jalan kaki, biar tidak manja dengan fasilitas." Simple, tapi ternyata secara tidak langsung hal tersebut membentuk kami menjadi pribadi yang mandiri, dan tidak mengandalkan orang lain. Itu kenapa di antara para cucu eyang, aku dan adik adalah cucu-cucu paling mandiri, kami tidak suka bergantung dengan orang lain, selama bisa kami kerjakan sendiri, ayoo aja.


 
Karena bapak jarang di rumah, seringnya ketika aku punya suatu keinginan aku bilang ke ibu. Ibu yang kemudian menyampaikan ke bapak. Bapak biasanya hanya komen, "kalau mau sesuatu, suruh bilang langsung ke aku." Ketika ibu menyampaikan komentar bapak, biasanya aku cuma manyun. Pernah saat itu aku pengen punya komputer karena teman-temanku udah punya semua, tapi ya begitu jawaban bapak. Dan kemudian aku mundur teratur kalau bapak sudah bilang seperti itu, kaya udah kepikiran, paling juga nggak dikabulkan.  Padahal maksud bapak hanya pengen anaknya langsung ngomong dan cerita ke beliau kalau butuh sesuatu. Kalaupun tidak dikabulkan bukan karena bapak nggak sayang, tapi karena bapak merasa itu bukan sebuah kebutuhan. Dan baru tahu maksud bapak seperti ini justru setelah aku menikah, saat itu kami ngobrol sepanjang perjalanan ke Jakarta waktu bapak nganterin aku tes CPNS Deplu, kata bapak salah sendiri dulu pengen komputer nggak mau bilang bapak, hihihi... Karena memang asal anaknya mau bilang langsung ke beliau dan bapak ada cukup uang dan bapak pikir yang diminta anaknya adalah hal yang penting, bapak sekuat tenaga pasti akan mengabulkannya. Ini terbukti saat kuliah, aku pernah mbecandain bapak pengen ganti HP yang lebih canggih, tiba-tiba nggak lama kemudian bapak beli HP. Dalam hati sudah jengkel aja, kemarin minta HP nggak dibeliin, eeh beli HP sendiri, ternyata waktu lagi makan malam, bapak bilang "jadi mau HP baru nggak?" Dan HP itu sampai sekarang jadi hadiah favoritku.

Bapak juga sosok yang sangat disiplin. Kalau dia punya janji dengan orang jam sembilan, dari jam delapan pasti bapak sudah siap. Makanya kalau anak-anaknya ada yang telat bangun di hari sekolah, dan ada bapak di rumah, lirikan dan deheman bapak sudah cukup ampuh buat aku dan adik langsung ngibrit bergegas ke sekolah. Selain disiplin, bapak juga laki-laki yang perencanaan keuangannya sangat hebat. Ibu pun mengakuinya. Bahkan kata ibu, bapak lebih pintar mengelola uang dan menabung daripada ibu. Terbukti, ibu nggak pernah tahu bapak punya tabungan, tiba-tiba suka bikin kaget beli mobil. Pernah juga saat bapak sakit tahun 2005 karena pendarahan otak dan sempat koma satu bulan, kami kelimpungan mikirin biayanya, meski ada ASKES, tapi karena dirawat di RS swasta kami pikir pasti biayanya banyak sekali, ASKES nya nggak mungkin nutup. Ternyata bapak punya tabungan yang cukup banyak sekitar 10jutaan dan bisa untuk tambahan biaya waktu itu.

Hal lain yang tanpa sadar kukagumi dari bapak adalah kejujurannya. Kata ibu bapak beberapa kali melakukan hal yang buruk, tapi saking jujurnya, bapak selalu nggak bisa membohongi ibu. Meski sepahit apapun kenyataannya, bapak selalu berusaha tell the truth. Bahkan kalau sekarang bapak diberi kesempatan bicara, bapak mungkin akan bilang "lebih baik anak-anak bapak membenci bapak karena kejujuran bapak, daripada bapak tidak bisa mengajari kalian pentingnya sebuah kejujuran..." Karena prinsip yang beliau ajarkan ini, itu kenapa aku sangat tidak suka menyontek, berapapun nilaiku saat sekolah itu harus dari hasil dan buah pikiranku sendiri. Saat aku duduk di bangku SMP kelas 1, saat itu jamannya JAPATI, aku kurang ingat bagaimana tepatnya, tapi yang pasti itu line telepon yang sering diiklankan di TV dan biasanya isinya tentang kuis, silakan tekan ini untuk menjawab, silakan tekan ini untuk meneruskan. Dan saking seringnya lihat iklan itu di TV, aku tiba-tiba iseng aja. Ternyata keasyikan dan tanpa sadar tagihan telepon membengkak hingga ratusan ribu. Padahal waktu itu kami sekeluarga berencana pergi ke Sulawesi untuk menghadiri acara pernikahan sepupuku, yang tentunya membutuhkan biaya yang tak sedikit. Bapak kebingungan karena uang yang tadinya mau buat sangu ke Sulawesi, harus terpotong lumayan gara-gara keisenganku, yang bikin bapak marah campur sedih karena aku nggak mau ngaku. Bapak marah dan aku takut, saking takutnya aku nggak berani keluar dari ruang sholat. Terus bapak datang dan memelukku, beliau bilang "Apapun yang terjadi, jujurlah.. kalau kamu salah bilang salah, bapak malah nggak akan marah kalau kamu tadi jujur. Bukan masalah uangnya, tapi tentang mengakui kesalahan. Diingat-ingat ya nduk sampai kamu besar, jujur itu harus jadi prinsip, sepahit apapun. Termasuk saat kamu melakukan kesalahan..." Itu kali pertama aku melihat bapak menangis, aku merasa sangaaaat bersalah dan pesan itu selalu aku camkan baik-baik.



Aku selalu punya pertanyaan besar kepada bapak yang sampai beliau meninggal pun aku tak sanggup menanyakannya. "Apa bapak sayang padaku, sayang pada ibu, sayang pada Tyas?" Sebuah pertanyaan yang sebetulnya tanpa harus kupertanyakan pun aku sudah tahu jawabannya, namun terkadang aku terlalu egois untuk mengakuinya. Dan sebenarnya jawaban itu sudah jelas beberapa kali tergambar di hadapanku, tapi aku baru menyadarinya akhir-akhir ini. Kisah pertama yang menggambarkan bahwa keluarganya adalah hal terpenting untuk beliau, terjadi tahun 2005, sebelum bapak ditemukan pingsan saat memarkir bus nya di garasi agen. Sebelum kejadian itu bapak dan ibu sempat bertengkar, dan jujur aku jengah mendengar mereka bertengkar, apalagi saat itu aku baru saja sampai dari Semarang. Pulang-pulang bapak ibu bertengkar, rasanya malas sekali. Padahal waktu itu seingatku masalahnya sepele, pertamanya guyon-guyon, lama-lama sindir-sindiran terus bertengkar deh. Aku jengkel, lari ke kamar, aku tulis surat yang panjangnya kaya rel kereta (sepanjang postingan blog kali ini sepertinya). Isinya tentang betapa aku capek hidup dengan orang tua yang bertengkar terus, dan segala keluh kesahku selama ini. Sebelum aku pergi membanting pintu pagar, aku serahkan surat itu pada bapak. Selang beberapa hari setelah kejadian itu, saat pergantian tahun 2004 ke 2005, ibu menelponku dan bilang "bapak koma, kamu mau nungguin nggak?". Saat itu aku merasa bersalah, selama ini aku selalu diam saja setiap bapak ibu bertengkar, saat bapak memutuskan menikah lagi, dan di saat-saat lain ketika aku merasa tidak cocok dengan kondisi dan keputusan yang dibuat bapak ibu. Itu kali pertama aku mengungkapkan bagaimana perasaanku, dan bapak malah sakit. Waktu itu aku berpikir mungkin memang tidak semua kejujuran harus diungkapkan sebagaimana pesan bapak dulu, mungkin ada yang salah dengan kata-kata bapak dulu, kenapa aku jujur malah bikin bapak seperti itu. Tapi ternyata sekarang aku sadar bukan itu poinnya, justru karena bapak sangat memikirkan kejujuranku, bapak justru sangat sedih kenapa baru sekarang aku bicara, kenapa tidak dari dulu ia tahu sebenarnya apa mauku yang akhirnya membuat beliau berpikir keras hingga terjadilah pendarahan otak, apalagi tensi bapak memang selalu tinggi. Hal ini aku tahu dari cerita ibu. Setelah bapak menikah dengan istri keduanya, aku jadi jarang pulang ke rumah dan kalaupun pulang, aku hanya mengurung diri di kamar. Ternyata hal itu membuat bapak sedih, karena biasanya kami berkumpul nonton TV dan ngobrol-ngobrol di ruang keluarga, beliau tanya pada ibu, "kok Ririt (panggilan bapak ibu padaku) saiki nek bali omah mecucu terus, ora gelem ngomong mbek aku?". Ibu cuma bisa  bilang, "yo butuh waktu deknen isa nampa Ninda (istri kedua bapak)." Ternyata, dalam ketidaktahuanku, bapak memperhatikanku dengan caranya sendiri. Cara lainnya adalah, setiap kali aku pulang bapak pasti minta dibuatkan ****mie rasa soto lengkap dengan telur dan lombok ijo. Katanya kalau yang bikin bukan aku rasanya beda.

Kisah kedua yang meyakinkanku adalah masih saat aku berada di Jakarta untuk tes CPNS DEPLU. Saat itu kalau tidak salah sedang bulan puasa, aku berangkat dengan bapak karena suamiku sendiri juga buta kota Jakarta, berangkat sendiri ke Jakarta juga nggak dibolehin, lagipula bapak punya banyak teman di sana sehingga kami tak kebingungan harus menginap dimana. Saat itu kami menginap di salah satu teman baik bapak (sayang aku lupa namanya). Aku masih di kamar untuk mempersiapkan tes saat tanpa sengaja aku mendengar bapak berkata, "Nek anak pertamaku iki ora usah akeh-akeh diomongi, wes mudheng tanggung jawabe. Wingi pas lulus kuliah nilaine paling apik dhewe, aku dikon maju nang panggung, disalami karo rektore..." Nyessssss.... Rasanya berdosa sekali menyimpan banyak rasa benci dan jengkel pada beliau, ternyata beliau sebangga itu padaku. Sejak saat itu aku jadi lebih mudah ngobrol dan becanda dengan bapak, padahal sebelumnya kami suka diem-dieman. Saat itu aku juga jadi tahu betapa ternyata bapak menyesal menikah lagi dan mengecewakan ibu serta aku dan adik.

Kisah ketiga yang kusadari terjadi menjelang bapak pergi untuk selama-lamanya. Februari 2011, eyang putri, ibunya ibu meninggal. Bapak sangat sayang sama eyang putri. Mungkin karena beliau kehilangan figur ibu dari kecil, eyang putri jadi sosok pengganti yang luar biasa untuk bapak. Bahkan ibu pernah bercerita, suatu hari bapak kecelakaan hingga kaki dan tangannya luka dan memar parah. Badannya hingga panas tinggi. Bapak bilang pada ibu kalau beliau ingin ketemu eyang putri. Ibu mengabari eyang, dan besoknya eyang langsung datang ke Salatiga. Voila, bapak pun sembuh seperti sedia kala. Makanya, kepegian eyang putri tidak hanya jadi kehilangan bagi ibu, bagiku, tapi juga bagi bapak. Saat eyang putri meninggal, posisi bapak masih di rumah istri kedua, bapak segera meluncur ke Semarang saat mendengar berita tersebut. Sesampainya di depan rumah dan melihat jasad eyang, bapak nggak bisa menahan air matanya. Itu tangisan bapak yang kelima setelah aku melihatnya menangis ketika aku berbohong padanya saat SMP, saat aku lulus SMA dengan peringkat kedua, saat aku lulus kuliah dengan nilai terbaik, dan saat ijab kabul pernikahanku. 

Bahkan aku juga baru tahu sesuatu hal penting yang berhasil membuatku brebes mili setelah bapak meninggal dari cerita ibu, kalau bapak harus merelakan diri keluar dari pekerjaannya saat persiapan pernikahanku. Saat itu beberapa kali bapak minta ijin untuk tidak bekerja pada bosnya karena harus menyiapkan pernikahanku, bosnya pun dengan songongnya berkata, "ya sudah tak ijinkan ngurus nikahane anakmu, tak ijinkan enggak kerja lagi di sini." Betapa besar sekali pengorbanan beliau hanya demi bisa menyaksikan segala persiapan hari besarku yang sangat sederhana. Padahal saat itu perekonomian keluarga sedang merosot tajam, ibu sudah pensiun sedang bapak punya anak-anak kecil dari istri kedua yang butuh biaya hidup cukup banyak. Dan aku masih saja egois ingin menanyakan apa beliau menyayangiku.


Tepat di hari ketujuh meninggalnya eyang putri, bapak pamit pergi sebentar ke eyang kakung. "Pergi sebentar" untuk bapak buat aku dan ibu sudah jadi clue kalau bapak mau pergi cukup lama. Dan memang sejak itu tidak ada lagi kabar dari beliau hingga awal bulan Maret 2011, istri kedua bapak mengabari kalau bapak sakit dan kondisinya cukup parah. Dia minta saya menjemput bapak karena kewalahan ngurusin bapak dan ibunya yang juga sedang sakit. Saat itu saya juga nggak mau kalah, pikir saya enak banget nih jadi orang, dulu direbut-rebut dari ibu, posisi bapak lagi sakit nggak mau ngrawat. Aku bilang "la emang lupa kalau aku juga ngrawat ibu di Semarang, lagipula aku habis kuret, masih drop badannya." Setelah itu dia tidak lagi kirim pesan hingga tepat di hari ulang tahunku, 16 Maret 2011, bapak diantarkan ke rumah ibu. Saat bapak diantarkan itu, aku sedang main ke rumah eyang dan hanya dapat kabar dari adikku. Aku pikir bapak sakit biasa aja, nggak punya bayangan macam-macam. Aku pulang ke rumah cukup malam, saat aku tiba bapak terduduk di lantai. Setelah aku pulang, bapak seperti lega dan segera pamit ke kamar untuk tidur, seakan-akan dari tadi beliau menungguku. Ketika bapak mencoba bangun, bapak sudah tidak bisa bangun, akhirnya bapak merangkak menuju tempat tidur. Besok paginya, bapak sudah tidak lagi bisa bangun dari tempat tidur dan mengeluh badannya sakit semua. Saat itu rasanya kalut, aku sudah membayangkan yang tidak-tidak, apa aku sanggup merawat dua orang tua yang keduanya sakit tak bisa bangun dari tempat tidur. Bapak berkali-kali teriak tak jelas, mengaduh, ketika kutanya jawabannya ngelantur. I was so depressed at that time, apalagi saat itu suami tidak di rumah karena sedang ada acara pernikahan adiknya di luar pulau. Puncaknya hari Minggu, 20 Maret 2011, bapak semakin menjadi-jadi, saat kutanya siapa namaku, siapa nama istrinya, kuperlihatkan foto, bapak tidak bisa menjawab semua, malah balik tanya "la aku siapa." Adik pun dibuat ketakutan karena bapak tiba-tiba tanya padanya, "itu ada orang gede banget di pojok situ siapa to?". Hingga menjelang sore hari bapak masih mengaduh, dan teriak-teriak nggak jelas. Ketika suaranya mulai melemah, aku tawari beliau untuk sibin dan ganti baju. Bapak cuma tersenyum sambil tetap bersuara seperti orang nglindur. Beliau mengaduh saat aku membersihkan badannya terlalu keras. Setelah aku selesai membersihkan badannya dan mengganti bajunya, giliran adikku menyuapi makan. Bapak tak lagi bisa menelan, bahkan nyedot air minum dari botol pun tak bisa. Saat itu kami tak punya firasat apapun, yang kami pikirkan besok pagi bapak harus segera dibawa ke rumah sakit, mungkin ada pendarahan lagi di otaknya.

Setelah selesai membersihkan badan bapak, aku ijin keluar untuk menjemput suami di bandara. Saat aku pergi bapak tidur menghadap pintu. Aku lega karena bapak akhirnya bisa tidur setelah hampir tiga hari seperti orang kesakitan. Sepulangnya dari bandara sekitar pukul delapan malam, aku menengok bapak di kamar, ada perasaan aneh ketika melihat posisi tidur bapak belum berubah sejak aku meninggalkan rumah tiga jam yang lalu. Aku menyampaikan hal tersebut pada ibu, tapi kata ibu "wis, aja diganggu, mumpung bisa tidur pulas." Karena semua orang di rumah kecapakean, kami pun bergegas tidur. Pagi harinya aku terbangun dengan sedikit terperanjat, karena di mimpiku aku seperti diingatkan untuk segera mengecek kondisi bapak. Dan betapa kagetnya aku ketika posisi tidur bapak masih sama dengan posisi tidurnya sore lalu. Segera kubangunkan suami dan kuminta dia mengecek denyut nadi bapak, suami nggak yakin dan segera memanggil tenaga yang tenaga kesehatan di RS, dan yaaa... bapak sudah meninggal.

21 Maret 2011, sebuah permintaanku pada Tuhan dikabulkan. Aku pernah meminta, kembalikan bapak ke rumah ibu, tanpa Ninda, tanpa anak-anak Ninda, hanya ada bapak, ibu, aku dan adik. Bahkan saat itu aku kabari Ninda kalau bapak meninggal, nomornya tidak bisa dihubungi. Seakan sebuah jawaban, seseorang akan selalu pulang pada pelukan keluarganya, sebenar-benarnya keluarganya, begitupula bapak.

Dan yaaa.. tak bisa kupungkiri, dengan segala kekurangannya... bapak telah mengukir separuh jiwaku, dengan segala kekurangannya... ia juga sempat menanamkan banyak nilai kebaikan kepadaku, nilai kebaikan yang baru aku sadari dan sering aku ingkari karena aku lebih banyak mengingat hal-hal buruk tentangnya.

Dengan berakhirnya tulisan ini, aku sadar bahwa seburuk-buruknya orang tua kita, mereka tetaplah orang tua yang harus kita hormati dan sayangi. Ada kalanya mereka melakukan hal yang tidak kita sukai bukan karena mereka ingin seperti itu, tapi begitulah caranya mencintai kita... 


I am proud of you, I am proud of you, I am proud of you... meski engkau hanya lulusan SMP, hanya kerja kasar sebagai sopir tapi engkau ingin anakmu sekolah tinggi agar hidupnya lebih baik darimu. Terima kasih untuk semua yang kau ajarkan meski baru kusadari hari ini, terima kasih untuk peluh dan keringatmu, terima kasih untuk menjadi sosok yang tak terlihat namun dukunganmu untuk segala hal yang kulakukan ternyata sama besarnya dengan apa yang ibu lakukan...


Maafkan Ririt, pak, semoga kelak kita dipertemukan di jannah-Nya... dan sungguh mulai hari ini surat yang pernah kutulis untukmu dulu tak berlaku lagi...




I love you, dad...

16 Maret 2008 - Keluarga Lengkap




#NulisRandom2015 #Day4
#MovingOn
#Ayah




4 comments:

  1. So touching.. i'm cryiiiiiing..your dad must be so proud of u.. jd inget alhm. Bpkku jg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. cup cup cup.... #sodorin tisu and give a hug.. :)

      Your dad must, too :)

      Delete
  2. terharu bacanya. tekad semacam ini pula yang saya teguhkan dalam hati tentang ibu saya. semoga kenangan baik saja yang terlintas untuk seterusnya.

    Mbat Marita, saran nih, tulisannya bisa dipecah menjadi beberpa paragrap, agar matanya enggak lelah saat baca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga segera terlaksana mbak tekad tersebut.

      Makasih ya mbak sarannya. Suka nggak sadar kalau kepanjangan :)

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.