Tuesday, March 1, 2016

Mengelola Emosi dalam Pernikahan



Welcome March...

Kalau udah masuk bulan Maret itu berasa begimana.... banyak hal terjadi di bulan Maret... saya lahir di pertengahan bulan ini, menikah juga di bulan ini, almarhum adik lahir di akhir bulan ini, bapak dan eyang kakung saya seda di bulan ini juga.... March is like a full moon for me... :)

Ngomongin soal pernikahan...

Alhamdulillah, tahun ini saya dan suami memasuki usia pernikahan yang kedelapan... Delapan tahun itu kaya apa ya? Kalau anak-anak, umur delapan itu kira-kira udah kelas dua SD ya... udah bisa baca tulis lah ya.. Kalau delapan tahun pernikahan? Tentunya tiap pasangan memiliki pengalaman yang berbeda-beda yaa... :)

Saya sendiri selalu feel awesome setiap menemui bulan Maret tiap tahunnya... bisa melewati ups and downs yang ada, masih bertahan dan bergandeng tangan hingga detik ini... Fabiayyi 'ala irrobukuma tukadziban....

Masih diberi waktu dan jodoh oleh Allah untuk tumbuh bersama adalah nikmat terbesar. Jika mengingat salah seorang kawan penulis yang minggu lalu baru saja ditinggal pergi oleh suami tercinta selama-lamanya, mendadak pula. Bergetar hati saya. Membayangkannya saja saya tidak sanggup.

Ya, kematian selalu saja menjadi nasihat terbaiik. 

Kita tak pernah tahu kapan malaikat maut menjemput, sedang seringkali masih saja kita (baca: saya) berbuat seenaknya pada pasangan, seolah-olah hidup selamanya, seolah-olah akan bersama selamanya. Betapa jauhnya saya dari kata sholehah. Betapa saya belum melakukan yang terbaik untuk pasangan saya. Hiks, jadi sedih.

Marriage is a process. Menuju angka delapan, harapan saya sih ada perbedaan, and it should be better things. 

Hal yang paling saya rasakan berbeda dari diri saya adalah bagaimana mengelola emosi dan melihat suatu masalah dari segala sudut pandang.
Jadi teringat ketika awal-awal menikah tiap ada masalah, tanduk langsung keluar tanpa mau mendengar alasan apapun, membabibuta menyalahkan pasangan. Bahkan ketika masalah terjadi karena kesalahan saya pun saya selalu punya cara membuat pasangan menjadi tersangka.
So selfish!!!

Alhamdulillah ketika dikaruniai putri kecil nan cantik perlahan saya merasa harus merubah diri. 
Berhasil?

Saya belum bisa bilang iya...
Tentu butuh proses yang panjang, sampai sekarang pun tanduk masih keluar ketika mendapati sesuatu yang tak sesuai dengan keinginan atau harapan.

Bedanya...
Sekarang saya tidak membutuhkan waktu lama untuk segera berkaca.

Allah menciptakan kita berpasang-pasangan, tentunya untuk saling menjadi cermin bagi diri masing-masing.
Ketika pasangan melakukan kesalahan sesungguhnya tidak selama-lamanya murni kesalahannya. Pasti ada andil kita sebagai istri hingga suami melakukan kelalaian atau kekhilafan. Entah karena kita yang kurang peka, terlalu sibuk, lupa mengingatkan, jarang berkomunikasi, dll.
Berkaca diri, instropeksi dan saling meminta dan memberikan maaf adalah hal yang paling tepat daripada berselisih berkepanjangan. 'Our time' juga sangat dibutuhkan agar mahabbah antara suami dan istri terus terjaga.


Sebelum menuntut ini itu pada pasangan, berkacalah sudahkah kita memberikan service yg baik untuknya? Senyum, pakaian, masakan kesukaan, secangkir teh hangat, obrolan yg menyejukkan?


Jika kita sudah merasa melakukan itu semua namun masih ada keluhan terucap, maka tanyakan kembali sudahkah kita ikhlas menjalaninya? Kejarlah tak hanya senyuman dan kehangatan suami, namun jg ridho illahi.
smile emoticon

Pernikahan dibangun dari dua pribadi, karakter, keluarga, kebiasaan yang berbeda. Benturan pasti selalu ada. Ketidakcocokan pasti ada. Tapi bagaimana kita bisa mengatasinya adalah kunci membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah.

Ingatlah bahwa suamimu bukan malaikat dan kamu pun bukan bidadari. Tiap-tiap dari kita pasti pernah lalai. Tiap-tiap dari kita punya kelebihan dan kekurangan, jadilah pelengkap satu sama lain. Mengungkit-ungkit kesalahan pasangan yang sudah berlalu hanya akan membuka kenangan lama dan perselisihan tiada akhir.

Suami dan istri adalah tim yang harus piawai bekerjasama dalam mengumpulkan ridho Allah dan meraih jannah-NYA. Ikhtiar diiringi doa yang tak pernah henti agar Allah selalu melindungi pernikahan dan keluarga kita adalah keharusan.




#self_plak


*catatan menuju tahun kedelapan... Pernah ditulis di status Facebook, dikembangkan sesuai mood hari ini :D

Semoga Allah memberkahi pernikahan kami dan menguatkan kami untuk menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak kami. Aamiin. 


ditulis oleh istri yang jauh dari sempurna, 



Marita Surya Ningtyas




16 comments:

  1. Noted..nanceep banget, kadang cinta pada pasangan, pada anak, pada orangtua itu buta..melebihi apapun seolah kita akan hidup terus bersama mereka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak.. padahal ada saatnya nanti kita harus melepaskan dan dilepaskan :)

      Delete
  2. Iya mbak marita, terkadang ada aja ya faktor pemicu riak2 kecil, beda pendapatlah, dikarenakan teman, ipar atau mertualah, betul harus saling belajar, terlebih lagi saling memahami dan mengisi kekurangan ditutupi oleh kelebihan masing2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Life is never ending learning process ya mbak :)

      Delete
  3. Semoga langgeng dan bahagia selalu Mbak :)

    ReplyDelete
  4. Ya Allah, Mbak. Jadi trenyuh. Benar2 menjadi muhasabah diri & pasangan :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hiks, saya nulisnya sambil ngusap ingus juga nih, mbak, hehehe...

      Delete
  5. Sepanjang usia pernikahan itu adalah masa2 ta'arufan. Katanya begitu, Marita..😘😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senengnya ditengokin Uni... apa kabar uni? Aah, betul ya Uni, setiap hari selalu ada yang baru, karena kita pribadi2 yang bertumbuh :)

      Delete
  6. Semoga bisa langgeng selamanya, ya? ^^ Menyatukan 2 kepala memang tidak mudah. Aku juga gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak.. aamiin... semoga mbak Anisa juga langgeng ya :)

      Delete
  7. menikah itu belajar sepanjang masa ya mba hufff *narik nafas ><

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.