Tuesday, August 23, 2016

45 Cara Mengisi Kemerdekaan Demi SEMAI 2045



Tak terasa 17 Agustus sudah seminggu berlalu. Hingar bingar acara 17an pun mulai menghilang satu per satu. Bendera demi bendera sudah diturunkan, umbul-umbul tak lagi terpasang, lampu-lampu hias pun mulai dipreteli. Lomba demi lomba telah usai.

Pekik merdeka yang disuarakan berkali-kali di malam tirakatan itu kini mulai kering makna. Apakah ketika dengan lantang diteriakkan ribuan kali di malam itu kita sanggup mengisi kemerdekaan ini sejalan dengan perjuangan para pahlawan? Atau justru gagal paham dengan perayaan-perayaan yang berupa seremoni saja. Lomba tanpa kesan dan musik hingar bingar tanpa pesan, bahkan di beberapa kampung malah asyik nanggap dangdut koplo dengan penyanyi berpakaian aduhai yang bikin jantung penontonnya hampir copot. Lantas setelah malam itu usai. Apa artinya itu semua untuk kita? Apa artinya kemerdekaan untuk kita? Apa artinya Indonesia untuk kita?

Setiap orang pasti punya makna kemerdekaannya masing-masing. Tapi untukku, melihat betapa semakin amburadulnya pergaulan muda-mudi di negeri ini, makna kemerdekaan adalah sebuah keadaan di mana negeri ini mampu membentengi diri dari pengaruh-pengaruh negatif bangsa lain. Kemerdekaan adalah sebuah kondisi dimana anak-anak bangsa mampu muncul dengan karakter yang kuat, tidak ikut-ikutan tren barat ataupun Korea.


Untukku, merdeka adalah ketika anak-anak bangsa ini terbebas dari ancaman menjadi generasi BLAST dan tumbuh menjadi generasi EMAS yang berakhlakul karimah, memiliki kecerdasan emosi dan spiritual yang mumpuni sehingga mampu menerima esfafet kepemimpinan negeri ini dengan baik. Dan kemerdekaan impian itu hanya terwujud jika kita, orangtuanya mampu menjadi orangtua-orangtua yang berkarakter dan merdeka dari nafsu serta ego pribadi, memberikan waktu dan pengasuhan terbaik untuk mereka, anak-anak kita.. generasi penerus bangsa. Tentu saja dibutuhkan pula dukungan negara untuk memfasilitasi pendidikan kepada anak-anak bangsa yang tidak hanya disandarkan pada rangking dan angka-angka, namun juga bagaimana menanamkan karakter sejak dini.


Saat Allah memberi kesempatan kepadaku untuk bisa hadir pada Pelatihan Akbar “Praktik Pendidikan Karakter dan Pendekatan Saintifik yang Sukses Membangun Karakter, Daya Pikir Kritis dan Kreativitas Anak”, aku semakin trenyuh. Data-data yang disampaikan oleh Ibu Ratna Megawangi, founder dari Indonesia Heritage Foundation (IHF) dalam materinya “Pentingnya Pendidikan Karakter Sejak Dini” membuatku tercekat. Betapa selama ini kita hanya mengejar kognitif. Betapa anak-anak dinilai pintar hanya dari hitungan angka-angka. Betapa anak-anak dianggap pintar jika mampu mengerjakan soal-soal matematika, Bahasa Inggris, Fisika, namun kita lupa menyisipkan pendidikan karakter.

Banyak guru tidak lagi digugu dan ditiru malah jadi bahan cemoohan dan ditakuti karena mengajarkan sesuatu dengan ancaman, dengan keadaan yang spaneng dan jauh dari kegiatan yang fun dan ceria. Akhirnya, tak ada ilmu yang terserap dengan sempurna. 




Hasilnya dari sebuah data penelitian dikemukakan bahwa daya nalar pelajar Indonesia masuk dalam lingkup rendah, yang artinya mereka hanya mampu menjawab soal-soal tertentu, namun belum mampu mengelola informasi, membuat generalisasi, menyelesaikan masalah non rutin dan menggambar kesimpulan. Di sebuah penelitian lainnya malah diungkapkan bahwa tingkat kreativitas bangsa Indonesia ada di rangking 81 di antara 82 negara. Mengenaskan ya?

Sudah di sekolah dibikin stress tingkat tinggi, di rumah pun tak ada bedanya. Orang tua memberikan tuntutan-tuntutan luar biasa. Harus rangking sekian, harus dapat nilai sekian, harus bisa masuk ke sekolah A. Banyak orang tua yang belum menyadari bahwa potensi dan keunggulan anak itu berbeda-beda, namun sayangnya mereka justru lebih fokus pada kekurangan anak daripada keunggulannya. Ketika anak-anak mereka nilai matematika dan Bahasa Inggrisnya rendah, sekonyong-konyong koder langsung dileskan ini itu dengan tujuan baik; mendongkrak nilainya agar menjadi tinggi. Hasilnya apa? Ketika anak memang tidak memiliki keunggulan di situ, akhirnya mereka semakin tidak termotivasi dan malah terpaksa melakukannya, akhirnya mereka semakin stress dan kemajuan yang diimpikan orang tua pun nihil.

Munculnya Generasi BLAST yang MERISAUKAN

Kalau didengar terkesan sepele ya, namun siapa sangka kalau anak-anak kita merasakan stress yang berkepanjangan, lambat laun mereka akan tumbuh menjadi generasi BLAST dan MERISAUKAN.



Istilah BLAST diperkenalkan oleh ibu Elly Risman yang merupakan kepanjangan dari anak-anak yang mengalami Bored, Lonely, Angry, Stress dan Tired. Sedangkan bu Flo Jusung dari IHF lebih senang menggunakan kata MERISAUKAN, yang merupakan kepanjangan dari generasi Merana, Minder, Galau dan Rindu Kasih Sayang.

Sekarang coba tengok ke sekeliling kita, sudah berapa banyakkah anak-anak yang masuk dalam kategori tersebut? Anak-anak yang hidup dalam dunianya sendiri, pegang gadget tanpa tahu waktu, lupa makan, lupa ibadah, tidak lagi hormat pada orangtua dan guru. Lantas kenapa mereka bisa terperangkap dalam kondisi tersebut? Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing, seperti apakah cara kita menyayangi anak-anak tersebut.

Dengan memberikan mereka waktu dan cinta yang cukup ataukah memberikan mereka dengan segudang fasilitas canggih, dari laptop terbaru, gadget paling ajib, uang saku bejibun, mobil atau motor dengan harga selangit? Seringkali kita mengatasnamakan kesibukan dan pekerjaan kita dengan tameng cinta kasih untuk anak, demi masa depan mereka yang lebih baik, namun kita seringkali lupa bahwa ada kebutuhan dasar yang lebih penting dari segudang materi; cinta kasih.



Ya, generasi BLAST yang MERISAUKAN ini timbul karena jiwa-jiwa mereka yang haus kasih sayang, yang dalam dirinya penuh dengan emosi negatif dan kekurangan emosi positif. Kenapa? Karena orang tuanya sibuk bekerja, bahkan meski orang tuanya di rumah malah sibuk nonton Uttaran dan BBM-an atau online shoppingan. Karena guru-gurunya hanya paham bahwa anak pintar itu yang nilainya Sembilan, di luar itu hanyalah anak-anak bandel yang tak tahu aturan.

Bahkan seringkali ketika anak telah berbuat dan berusaha sebaik mungkin pun, usaha mereka tidak dihargai. Orang tua dan guru masih menganggap bahwa hasil yang didapatnya belum maksimal. “Kenapa cuma dapat delapan kalau bisa dapat Sembilan?” “Kenapa cuma rangking 3 kalau bisa rangking 1?”

Kenapa kita tidak memberikan penghargaan atas usaha dan proses yang dijalaninya dan hanya fokus pada hasil yang didapat?

Contoh nyata dari generasi BLAST ini mulai muncul satu per satu. Lihat saja selebgram-selebgram yang mulai menunjukkan eksistensinya dengan cara yang bikin dada kita berdesir. Ketika mbak Aw… Aw… itu muncul dengan tangisan hebohnya di YouTube dan foto-foto mencengangkannya di Instagram bersama pasangannya. Viral. Ibu-ibu banyak yang gedheg-gedheg. Apalagi saat ada info bahwa dulunya si Aw… Aw… ini anak yang berprestasi.

Belum selesai keterpanaan kita dengan si Aw… Aw…, muncullah YouTuber lainnya yang konon terkenal lewat Bigo Live, sebuah aplikasi baru yang lagi ngetren di kalangan anak muda. Aplikasi ini semacam Snapchat dimana pemilik akun bisa berbagi informasi secara live lewat video dan menjawab pertanyaan-pertanyaan followernya. Si YouTuber yang lagi viral ini (maaf aku lupa namanya) sering sekali posting video Bigo-nya dengan penuh umpatan, perkataan-perkataan yang menjurus seksualitas, hingga buka-bukaan baju. Naudzubillahi min dzalik.



Dan ini hanya dua yang nampak nyata, sedang faktanya jumlah para generasi BLAST ini semakin banyak dan banyak. Kita tidak hanya bisa menyalahkan mereka. Perilaku buruk tidak timbul secara instan dan dadakan. Perilaku itu timbul karena ditumbuhkembangkan. Anak yang dulunya berprestasi dalam sekejap berubah menjadi anak liar. Gadis yang cantik rupawan tumbuh menjadi gadis yang kasar ucapannya. Tanya kenapa?  Komunikasi yang buntu dengan orangtua dan guru merupakan salah satu pemicunya.


Komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak, guru dan murid, adalah salah satu wujud dari pola asuh dan pola didik yang salah. Tak tahukah software yang kita install pada jiwa-jiwa anak-anak kita lewat pola asuh dan pola didik yang salah akan menghasilkan jiwa berkarakter lemah?

Yuk, Raih Kemerdekaan Sebenarnya!

Ah, sudahlah. Terlalu fokus pada data-data dan fakta-fakta menyedihkan itu hanya akan membuat kita nyinyir dan saling menyalahkan. Kini saatnya kita bangkit dan bergandengtangan meraih kemerdekaan sebenarnya.



Dan dalam pikiranku, inilah 45 hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mengisikemerdekaan demi menghapuskan generasi BLAST di muka bumi Indonesia ini;

1.      Ajarkan anak untuk mencintai Tuhan. Bukan hanya sekedar belajar cara praktik ibadah dan menghafal surat-surat, namun tanamkan keyakinan mereka terhadap Tuhan. Anak-anak yang mencintai Tuhan akan tumbuh menjadi anak yang mencintai kebaikan.
2.      Memberikan pelukan pada anak setiap hari. Tunjukkan betapa berartinya mereka untuk hidup kita.
3.      Katakan “I Love You” pada anak-anak setiap hari. Kita tidak pernah tahu kapan waktu akan memisahkan kita dengan mereka.

4.      Stop bad labeling pada anak. Tidak ada anak nakal dan bodoh, yang ada hanya orang tua dan guru yang tidak sabar dan tidak mau memahami mereka.
5.      Hargai hak-hak anak dan kebutuhan mereka terhadap cinta kasih kita. Beri waktu untuk anak minimal 30 menit setiap hari untuk benar-benar bersama kita, tanpa diganggu oleh benda-benda kotak, macam televisi, gadget, kompor, koran dan sebagainya. Berikan 30 menit yang istimewa dan biarkan anak bercerita apa saja, untuk anak-anak balita lekatkan diri kita dengan bermain bersama di dunianya yang penuh tawa.
6.      Jika 30 menit ternyata terasa kurang, maksimalkan waktu bersama keluarga pada 18.00 -21.00. Jalankan program 1821 yang kini sudah semakin viral dan rasakan dampaknya bagi keluarga kita. (Baca: Liburan Hemat bersama Program 1821)
7.      Kuatkan niat dan ingatlah kembali tujuan mengapa kita memiliki anak.
8.      Hadiri kajian-kajian ilmu dan seminar-seminar parenting untuk memperkaya wawasan kita demi menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kita.



9.      Jadilah orang tua yang bahagia; orang tua yang bisa menerima anak-anaknya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
10. Sadarilah bahwa anak-anak lebih dari sekedar angka dan rangking.
11. Hindari kompetisi di usia dini. Kompetisi di usia dini hanya akan menumbuhkembangkan anak-anak yang tidak mau bekerjasama dan cenderung egois. Ajak anak-anak untuk mengikuti kompetisi beregu.
12. Tidak ada yang THE BEST di dunia ini karena kata PALING adalah mahkota Tuhan. Maka jangan didik anak untuk menjadi terbaik dengan menuntut ini itu. Anak yang selalu dituntut menjadi terbaik akan tumbuh menjadi anak yang tidak suka berbagi, egois dan anti kritik. Tanamkan bahwa melakukan usaha terbaik adalah keharusan, namun hasil adalah urusan Tuhan. Maka ketika mereka tidak mendapatkan hasil yang diharapkan, anak-anak tetap merasa puas karena telah menjalankan proses sebaiknya.
13. Mari tanamkan dalam diri kita masing-masing bahwa semua anak itu unik dan spesial. Bahwasanya setiap manusia ditakdirkan sebagai pemenang.
14. Jangan manjakan anak dengan fasilitas berlebihan.
15. Berikan anak tanggung jawab untuk membantu pekerjaan rumah tangga sejak mereka berusia tujuh tahun.



16. Jangan ajari anak untuk menabung, tapi ajari mereka bagaimana mengelola uang.
17.  Stop lomba-lomba yang tak berkarakter; misal lomba sepakbola dengan peserta laki-laki yang memakai daster, lomba panjat pinang yang akhirnya jadi ajang injak-injakan dan tanpa sadar justru mengajarkan penjajahan terhadap orang lain, atau bahkan lomba K3 yang nampaknya bermutu namun justru mengajarkan kita menjadi penipu-penipu ulung; membersihkan lingkungan bukan karena sadar diri namun agar mendapat trofi.
18. Stop menggerutu pada tayangan TV yang buruk. Remote TV ada di tangan kita. Matikan tayangan-tayangan yang tidak baik, tak usah ditonton, dan say goodbye pada Uttaran, Anak Jalanan dan jajarannya. Pilih tontonan yang berkualitas untuk anak-anak.
19. Agendakan kegiatan membaca untuk anak. Tumbuhkan kesukaan membaca di dalam diri anak-anak. Fasilitasi buku-buku berkualitas untuk mereka. Tidak punya cukup dana untuk membeli buku? Tak perlu bersedih hati. Bukankah kita punya kitab suci? Tidak ada buku yang lebih baik dari kitab suci-kitab suci kita yang di dalamnya mengandung berbagai kisah nabi-nabi dan petuah-petuah untuk hidup yang lebih baik.
20. Sadarilah bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan suci dan fitrah. Jika kini mereka berperilaku buruk maka ada campur tangan kita di dalamnya. Evaluasi diri kita masing-masing. Sebelum membenahi anak, maka benahilah diri kita terlebih dulu.
21. Jangan jadi orangtua dan masyarakat yang abai. Sikap abai terhadap apa-apa di sekitar kitalah yang melahirkan generasi-generasi BLAST. Stop pikiran “alah, bukan anakku ini, urusan orang tuanya lah.” Mari saling berbagi cinta dan mengingatkan dalam kebaikan.

22.Bekali anak dengan pendidikan akil baligh.
23. Stop berikan gadget di usia dini jika kita tidak mampu memberikan batasan yang tegas. Para ahli otak bahkan menyarankan “stop giving gadget before kids reaching 8 years old.”
24. Berikan pujian-pujian positif pada anak untuk membangun kepercayaan dirinya.
25. Stimulasi anak-anak kita dengan memberikannya pertanyaan-pertanyaan terbuka, khususnya pada usia-usia dini untuk menumbuhkembangkan daya berpikir kritis dan kreatifnya.
26. Ucapkan kata JANGAN pada tempatnya. Selama aktivitasnya tidak mengganggu orang lain, tidak membahayakan diri sendiri, dan tidak bertentangan dengan norma agama dan aturan agama, maka bebaskan anak-anak kita bereksplorasi.
27. Jika anak-anak kita suka ngegame, kenali game seperti apa yang mereka mainkan. Arahkan mereka untuk bermain game yang positif.
28. Kenalkan kembali anak-anak dengan permainan-permainan tradisional yang sarat makna, seperti Gobag Sodor, Betengan, Petak Umpet, dsb.
29. Jangan paksa anak untuk bisa calistung di usia dini. Dikenalkan dengan cara yang fun tentu saja boleh, tapi memberikan target berlebihan pada mereka untuk bisa calistung di usia dini bisa membahayakan jiwa-jiwa mereka. (Baca: Pro Kontra Pengajaran Calistung di TK Memanas Lagi)
30. Pilih sekolah yang sesuai dengan visi misi pendidikan keluarga kita dan memahami tahap-tahap perkembangan anak. Sekolah adalah partner, maka jangan sampai memilih partner yang salah.
31. Jika kita memutuskan homeschooling, maka buat keputusan itu sebagai bentuk ikhtiar dan bukan sekedar ikut-ikutan tren.
32. Berikan kepercayaan pada anak bahwa ia akan tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan bertanggung jawab. Stop negative thinking pada anak. Hal kecil yang seringkali kita lakukan adalah ketika kita akan meninggalkan mereka bekerja atau pergi ke suatu tempat, kita memberi pesan kepada mereka “jangan nakal”, “jangan bikin repot”, “jangan rewel”, “jangan nangisan” dsb. Mari ubah pesan-pesan tersebut dengan kalimat-kalimat positif, seperti; “jadi anak pintar ya nak”, “yang baik ya nak”, dsb.



33. Hargai usaha dan proses anak dalam mendapatkan sesuatu, jangan terpaku pada hasil. Jika kita menghargai sebuah usaha, kita tidak akan gelap mata untuk meminta anak berbuat curang demi mendapat hasil yang terbaik. Apalah artinya nilai 9 yang didapat dari mencontek dibandingkan nilai 6 yang didapat karena hasil dari buah pikirnya sendiri.
34. Bahwasanya menumbuhkembangkan karakter dan perilaku baik pada anak bukan proses yang instan, maka bersabarlah.
35. Ajak anak-anak untuk mencintai kebaikan; melakukan hal-hal positif dengan senang hati bukan karena keterpaksaan.
36. Kenalkan anak dengan banyak aktivitas yang bermanfaat untuk mengisi waktu luangnya. Semakin banyak mereka memiliki kegiatan bermanfaat semakin tumbuh jiwa mereka sebagai pembelajar.
37. Berfokus pada menumbuhkembangkan anak yang bermanfaat bagi sesama, yaitu anak yang selalu melakukan nilai tambah dan kebaikan.
38. Menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan pada diri anak. Setiap anak harus menjadi pemimpin, setidaknya bagi diri mereka sendiri.
39. Mengajarkan anak bahwa ada banyak perbedaan di muka bumi dan bagaimana kita memandang serta menghormati perbedaan tersebut.
40. Fokus pada kebaikan anak, bukan keburukannya. Fokus pada keunggulannya, bukan kekurangannya.
41. Pilihkan lagu yang baik untuk anak-anak. Anak-anak adalah penyerap ulung, jangan sampai lagu yang kesannya sepele mendarah daging hingga merusak jiwanya.

42.  Perbaiki komunikasi dengan anak. Bahwasanya broken home family bukan sekedar keluarga yang berpisah, namun juga keluarga yang komunikasi antar anggotanya buntu. Ajak anak ngobrol bukan sekedar ngomongin anak (baca: nasehatin satu arah).
43. Jadikan diri kita sumber terpercaya bagi anak dengan cara tidak pernah membohongi mereka dalam hal sekecil apapun.
44. Ucapan akan melahirkan perbuatan, perbuatan melahirkan sifat dan karakter, dan karakter akan menentukan nasib. Maka hati-hati dengan ucapan kita.
45. Ikhlas dan berpasrah pada Allah, Tuhan Semesta Alam. Yakinlah bahwa tidak ada satu daun pun yang jatuh tanpa izinNYA. Titipkan anak-anak kita padaNYA karena tidak ada penjagaan terbaik selain penjagaan dariNYA. Kita hanya mampu berikhtiar, urusan hasil adalah mutlak milikNYA.

Belum terlambat untuk menyelamatkan Indonesia dari kehancuran. Mari terus jaga generasi-generasi muda yang telah menunjukkan kualitas terbaiknya, yang telah menunjukkan prestasi mereka di bidang olahraga, sains, budaya dan sebagainya. Tetap doakan mereka agar selalu konsisten dan istiqomah menjaga ghirah dalam berbuat kebaikan  dan memberikan kemanfaatan untuk orang lain. Di satu sisi, jangan lepaskan anak-anak muda yang sedang tersesat, anak-anak muda seperti adik Aw… Aw… dan teman-temannya. Mari rangkul mereka, berikan mereka cinta dan doakan mereka agar Allah memberikan hidayahnya dan kembali menemukan jalan lurus untuk hidupnya.



Kesuksesan yang sebenarnya hanya akan terlihat ketika kain kafan telah membungkus jasad kita. Maka tidak perlu membangga-banggakan anak-anak yang sudah baik sekarang ini, tidak perlu pula nyinyir dan memandang sebelah mata anak-anak yang hidupnya ‘kacau’. Kita tidak akan pernah tahu perjuangan dan takdir  akan membawa mereka di titik yang seperti apa. Yang kita perlu lakukan hanyalah terus berbagi cinta baik pada yang telah menunjukkan prestasinya, juga pada mereka yang haus akan kasih sayang.

Tentu saja 45 hal itu hanya sebagian kecil yang bisa kita lakukan untuk anak-anak kita. Masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memerdekan mereka dari jeratan BLAST. Mari alirkan emosi-emosi positif kepada anak-anak kita dan mari kita tumbuhkembangkan generasi EMAS yang penuh CINTA! Merdeka! Dirgahayu ke 71, Indonesiaku...






*Writing for sharing. Penulis tidak lebih baik dari pembaca. Tulisan ini juga merupakan jeweran dan self reminder untukku sendiri. Mari bersama membangun bangsa J











10 comments:

  1. Banyak banget peer nya jd orangtua ya. Udah ada yg diterapin tp masih banyaakk bgt yg harus terus di update. Moga2 bisa jd ortu yg baik buat anak2 kita ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Iya mak... PR ortu jaman sekarang banyak bingit :)

      Delete
  2. Semakin hari semakin bertambah tugas orangtua dalam mendidik anak-anak. Banyak pe ernya. Akupun masih terus belajar. Makasih ya, selalu berbagi ilmu parenting :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak. Aku jg masih terus bebenah dan belajar terus :) saling mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan ya mbak :)

      Delete
  3. Mantab bun, teruskan perjuanganmu, ayah mendukungmu, yang penting tetap sehat, tetap semangat

    ReplyDelete
  4. sangat bermanfaat mbak..aku juga masih banyak kekurangan sebagai ortu .tfs ya mbak

    ReplyDelete
  5. keren banget bu tulisannya...
    Yap, sepertinya banyak yang harus diperbaiki ya agar generasi mudanya tidak salah jalan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih..

      Yuph... harus dimulai dari para orang tuanya tentunya :)

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.