Friday, April 8, 2016

Smart Parents, Tobat Nasuha dari 8 Kesalahan Ini Yuuuk!


Judul ini sudah lama ngendon di draft blogku, tapi belum sempat aku eksekusi.  Tulisan ini merupakan hasil belajar saat mengikuti seminar parenting bersama Ibu Elly Risman di Gedung Prof. Soedarto, SH Kampus Universitas Diponegoro pada 17 Oktober 2015. Wow, sudah lama sekali ya? Begitulah, dengan alasan sok sibuk hasil belajar ini baru bisa dieksekusi hari ini, sekalian menjadi setoran hari ke – 12 One Day One Posting-nya Fun Blogging.

Tentunya teman-teman sudah mengenal nama Bu Elly Risman kan? Beliau sering muncul di berbagai acara televisi, khususnya ketika membahas mengenai pornografi pada anak. Berbekal dari rasa penasaranku terhadap performa beliau secara langsung, saat mengetahui ada acara keren tersebut, tanpa berpikir panjang aku langsung mendaftar. Apalagi jarang-jarang seminar Bu Elly Risman dibanderol dengan harga cukup murah, kalau tidak salah waktu itu cuma lima puluh ribu rupiah. Sementara biasanya seminar beliau berkisar tiga ratus ribuan. Meskipun setelah menikmati acaranya memang beda ya yang kita dapat dengan membayar lima puluh ribu dan tiga ratus ribu, hehe.


Seminar saat itu mengusung tema “Mendidik Anak di Era Digital”. Tema yang cocok dengan era kebebasan internet seperti sekarang ini. Sebagaimana yang kita tahu internet bisa menjadi selayaknya pisau dapur yang bermanfaat jika di tangan orang yang tepat, namun di tangan orang yang salah, bisa menjadi pisau berbahaya yang bisa membunuh kita dengan cepat.

Dengan waktu yang cukup terbatas, bu Elly cukup ngebut menyampaikan materinya. Aku sendiri kalau diberi kesempatan untuk hadir di acara seminar bu Elly yang full day, akan dengan senang hati untuk bisa hadir kembali menimba ilmu dari beliau. Gedung Prof. Soedarto yang sangat luas dengan peserta seminar yang sedemikian banyak seringkali membuat para peserta kurang menangkap materi yang disampaikan.  Beruntung saat itu aku dan teman-teman dari komunitas YukJos Semarang bisa mendapat tempat duduk di bagian depan, sehingga bisa menerima materi dengan cukup jelas.

Saat seminar ini bu Elly tidak hanya memberikan suntikan semangat agar para orang tua terus giat belajar untuk berperan sebagai sebenar-benarnya orang tua, namun juga menampar para peserta yang hadir dengan fakta-fakta dan angka-angka yang mengejutkan tentang anak dan kaitannya dengan pornografi.

Insya Allah, nanti aku akan membagi kisah tentang seminar ini menjadi dua tulisan. Khusus pada bagian ini, aku akan membahas terlebih dulu tentang beberapa kesalahan orang tua dalam berkomunikasi yang kadang tidak disadari. Kesalahan-kesalahan ini lambat laun akan membangun sebuah tembok tinggi dan besar yang memisahkan hubungan orang tua dan anak.

Cara berkomunikasi yang buruk tanpa sadar bisa mengakibatkan anak-anak menjadi malas di dekat kita. Jika anak-anak sudah malas di dekat kita, maka bagaimana mungkin kita bisa menjadi tempat pertama untuk segala keluh kesahnya?

Dari jaman baheula hingga hari ini, masih saja kesalahan-kesalahan tersebut diulang-ulang. Orang tua cenderung terlalu banyak ngomong, tapi sedikit bertindak. Tahukah bahwa hal ini lambat laun merusak anak-anak kita?

Nah, berikut ini 8 kekeliruan yang biasa dilakukan orang tua saat berkomunikasi dengan anak:


Kesalahan pertama, kita sering banget ngomong tergesa-gesa. Tanpa jeda, kita seringkali meminta anak melakukan hal A, lalu kemudian melompat ke hal B. Misal, “Kak, jangan lupa nanti kalau sudah selesai nonton, TV-nya dimatiin ya. Hemat listrik. Sekarang listrik mahal. Oya, kalau udah selesai nonton acaranya, nanti tolong belikan cabe di warung Budhe Ginah ya. Sekalian mintakan pulsa, bilang saja catat dulu…..”

Cara komunikasi seperti ini sangat menyebalkan untuk anak. Anak berasa seperti diberondong tembakan bertubi-tubi. Bahkan mungkin saat kita masih seusia anak, kita juga jengkel diperlakukan seperti itu oleh orang tua. Herannya, sekarang kita mempraktekkannya ke anak-anak kita sendiri. Cara komunikasi seperti ini sangat tidak efektif karena anak tidak mampu menangkap jelas maksud dan tujuan orang tua. Solusinya; speak slowly and clearly! Biarkan anak memahami satu kalimat dan menanggapinya baru kita buka topik yang baru.


Kesalahan kedua, tidak kenal diri sendiri. Sadar atau tidak sadar sampai setua ini sebenarnya banyak dari kita yang belum mengenal diri sendiri. Kalau nggak percaya, silakan kilas balik. Dulu waktu SMA ambil jurusan apa? Mengapa ambil jurusan tersebut? Benarkah karena kita menyukainya atau karena ikut-ikutan teman? Dulu setelah lulus kuliah, kita bekerja karena benar-benar menyukai bidang tersebut atau asal agar dapat penghasilan? Bahkan banyak dari kita yang baru menyadari passion kita sebenarnya justru setelah menikah dan punya anak. Iya atau iya? Hehe.

Nah, syarat utama mengenali anak kita adalah dengan mengenali diri kita sendiri. Jika kita belum mengenal diri kita dengan baik, jangan harap kita mampu menerjemahkan seperti apa anak kita. Contohnya aku nih, anakku ini tingkat emosinya luar biasa, kalau sudah tidak bisa mengendalikan ujung-ujungnya tantrum. Setahun pertama aku hampir dibuat gila mengatasi semua itu, ini anak kenapa, ngatasinnya gimana. Hingga kemudian aku mencoba menelaah diriku sendiri, seperti apa aku ini, sisi positif dan negatifku. Ketika kemudian aku menyadarinya, ternyata cara marah anakku merupakan gambaran bagaimana aku mengekspresikan kemarahan. Barulah dari situ aku pelan-pelan belajar untuk merubahnya.

Anak adalah cerminan orang tuanya. Maka ketika seorang anak memiliki sifat buruk, jangan langsung menudingnya ini itu, apalagi sampai memberinya label. Teliti dulu, siapa tahu sifat buruknya sebenarnya berasal dari pola asuh kita yang salah.

Untuk membantu anak mengenal dirinya sendiri, bukan hanya dengan mengajarkannya siapa namanya, lahirnya kapan, tinggal dimana dan orang tuanya siapa. Namun lebih dari itu. Anak harus memiliki karakter dan mengerti apa yang menjadi kebutuhan serta kemauannya. Kita bisa mulai melatihnya dengan mengajarkannya untuk mengerti perasaan hatinya, “adik sedih, ya?” “adik sakit, ya?” “adik kecewa, ya?” Dan sebagainya. Mengajarkan anak memilih pakaiannya sendiri, mainannya ataupun perlengkapan sekolahnya juga melatihnya untuk mengenal diri sendiri.


Kesalahan ketiga, lupa bahwa setiap individu unik. Sadar atau tidak sadar seringkali kita membandingkan anak kita dengan kakaknya, dengan adiknya, dengan anak tetangga, bahkan dengan diri kita saat seusianya. Hey, anak kita bukan diri kita. Anak kita juga bukan kakaknya, adiknya apalagi tetangga! Jadi pantas saja jika mereka berbeda.

Stop berujar, “Kakakmu dulu waktu umur 4 tahun sudah bisa baca lo,” “kamu tu pemalas banget sih, beda sama adikmu,” “dulu waktu bunda seumuran kamu, bunda udah bisa naik sepeda roda dua lo,” dan sebagainya.

Dibandingkan itu nggak enak dan kita sebenarnya menyadari hal tersebut. Sayangnya kita sering tidak sadar melakukan hal tersebut.

Boleh membandingkan, tapi bandingkan anak dengan kebaikan  yang pernah dilakukannya, bukan dengan orang lain. Misalnya, “Wah, adik lupa ya tempat sampahnya dimana? Kemarin sudah pintar lo, bisa membuang bungkus jajan di tempat sampah sendiri,” atau “Kenapa tidak bilang pada bunda kalau ingin pup, kemarin adik sudah hebat lo bisa pup sendiri di toilet?”

Membandingkan anak dengan prestasi yang pernah diraih sebelumnya dapat memberikan motivasi agar ia bisa berbuat lebih baik dan lebih baik lagi.


Kesalahan keempat, kita sering lupa bahwa kebutuhan dan kemauan anak berbeda. Kebutuhan anak yang utama adalah bermain, namun seringkali kita paksakan kebutuhan dan kemauan mereka sesuai dengan apa yang kita mau. Misalnya, “Jangan main pasir, nak. Jijik ah.” Kenapa anak tidak boleh main pasir? Kalau boleh jujur, karena kita malas berulangkali memandikannya setelah bermain pasir kan? Tapi kan pasir memang kotor? Hmm, bisa dibersihkan pakai air dan sabun kan? Yang dilarang itu kotornya, bukan main pasirnya!

Selain itu seringkali kita terlalu mengiyakan kemauan anak, tanpa berpikir ulang bahwa itu sekedar kemauan ataukah kebutuhan anak. Misal ketika anak kita mulai mengeluh karena teman-temannya sudah memiliki gawai dan dia belum punya sendiri. Kita sebagai orang tua seringkali merasa kasihan dan tidak mau anak kita dianggap tidak disayangi orang tuanya gegara tidak dibelikan gawai. Akhirnya tanpa menimbang baik dan buruk, berpindahlah sebuah smartphone terbaru dari tangan kita ke anak kita.


Tidak semua keinginan dan kemauan anak harus dituruti. Jika memang belum saatnya ia memiliki gawai katakan alasannya. Begitu juga dengan anak balita yang seringkali membuat kita mati gaya saat berbelanja. Di rumah sudah janji tidak akan membeli cokelat, sampai di supermarket ia lupa janji tersebut. Ia mulai merengek-rengek dan berguling-guling agar keinginannya dikabulkan. Dan kita yang mulai malu dengan keadaan tersebut serta merta mengabulkan kemauannya.

Hey, ketika anak kita bisa begitu bersabar berikhtiar. Kenapa kita tak bisa lebih bersabar menghadapi segala tingkah pola anak kita?


Kesalahan kelima, orang tua seringkali gagal membaca bahasa tubuh anak. Kita kadang terlalu sibuk menerka dan berasumsi. Ketika anak remaja kita pulang ke rumah dengan muka cemberut, tanpa mengucapkan salam dan langsung masuk ke kamar tanpa kata, bahkan membanting pintu kamarnya. Seringkali reflek kita akan mengomel, “dasar anak nggak sopan, masuk rumah nggak salam, pintu dibanting. Nggak tahu apa pintu itu harganya mahal, emang kamu mampu beli pintu sendiri? Kalau ada masalah itu ngomong, crita, bukan kaya gitu…” Dan sebagainya.

Perubahan suasana hati akan terpancar dalam raut muka dan bahasa tubuhnya. Sebagai orang tua kita dituntut untuk mampu memahami anak kita. Berikan nasihat pada saat yang tepat, bukan saat anak sedang kesakitan, sakit hati, jengkel,  menangis atau tantrum. Karena nasihat itu tidak akan berefek sama sekali ke dalam jiwanya. Keluarkan dulu perasaannya, dan barulah kita isi dengan serangkaian nasihat yang bijak.


Kesalahan keenam, orang tua seringkali tidak mendengar perasaan anak. Misalnya, ketika anak kita jatuh karena berlari-lari dengan temannya. Tanpa merespon apa yang dirasakan anak, kita sudah memberondongnya dengan rentetan kata, “Makanya to, kan udah bunda bilang, nggak usah lari-lari nanti jatuh. Bener kan jatuh? Kalau dibilangin itu dengerin dong..”

Lupakah kita bahwa ucapan orang tua, khususnya ibu adalah doa? Lantas kenapa seringkali kita mendoakan hal-hal yang buruk kepada anak kita? Sadarkah ketika anak kita tertimpa hal-hal yang buruk bukan karena ia tak berhati-hati, tapi karena doa yang telah kita ucapkan sadar atau tak sadar, dan kita ulangi ribuan kali setiap hari. Coba kita ingat-ingat kembali berapa seberapa sering kita meneriaki anak kita “Jangan lari-lari, nanti jatuh?” Kita mengingatkannya atau mendoakannya untuk jatuh? J Bukankah kalimat ini terdengar jauh lebih baik, “Hati-hati ya nak mainnya?

Ketika anak jatuh, respon dulu sakit yang dirasakannya agar ia merasa dimengerti. “Sakit ya nak? Iya, bunda tahu adik sakit. Yuk, sekarang berdiri dulu nak. Nggak apa-apa, nanti kita obatin ya lukanya. Insya Allah tiga hari lagi sembuh, kok.”


Kesalahan ketujuh, orang tua seringkali kurang mendengar secara aktif. Kita seringkali menyepelekan perkataan anak-anak kita, sehingga tidak menanggapi secara sempurna apa yang dikatakannya. Mungkin teman-teman pernah mendengar cerita ini sebelumnya.

Seorang gadis kecil bertanya pada ibunya. “Bu, aku berasal dari mana sih?” Ibunya langsung gelagapan mencari-cari jawaban. Bingung menceritakan bagaimana proses asal muasal si anak. Akhirnya si ibu mulai bercerita, “Jadi ibu dan ayah menikah, lalu Tuhan memberi ayah dan ibu hadiah di dalam perut. Itulah kamu. Bla bla bla bla…” Panjang kali lebar sang ibu bercerita dari A hingga Z, dan anak hanya termenung kebingungan.

Setelah ibunya berhenti bicara, si anak kembali bertanya kepada ibunya “Terus jadinya aku ini dari mana, bu? Kalau Susi kan dari Jakarta, Joko dari Solo, Bambang dari Semarang, kalau aku dari mana? Aku tadi ditanya bu guru, tapi nggak tahu jawabannya. Kata bu guru, aku harus bertanya pada ibu sepulang sekolah.

Gentian deh ibunya yang bengong sekarang. Itulah kenapa dibutuhkan kemampuan mendengar yang baik. Sebelum kita berasumsi macam-macam dengan segala pertanyaan anak, pahami dulu maksudnya dengan balik melemparkan umpan kepada anak agar maksud dan tujuan yang diminta jelas dan tidak ada kerancuan diantara anak dan orangtua.
Misalnya jika dalam kasus tersebut, sebelum kita menjelaskan panjang kali lebar, kita bisa bertanya dulu kepada anak, “Maksudnya kakak apa nih? Kok tiba-tiba bertanya seperti itu?” Dengan kita melempar umpan, anak akan menjelaskan maksud dan alasan dari pertanyaannya. Jadi kita nggak perlu bingung cari jawaban kan?

Kesalahan kedelapan yaitu seringnya kita menggunakan 12 gaya populer dalam berkomunikasi dengan anak. Adapun 12 gaya tersebut adalah:

  1. Gaya Memerintah – Sering kali kita lupa menyematkan kata tolong dan terima kasih di setiap permintaan kita. Bukankah “Dik, bunda bisa minta tolong ambilkan sapu di depan? Terima kasih” akan jauh lebih indah didengar daripada “Dik, cepat ambilkan sapu di depan!”
  2. Gaya menyalahkan – “Tuh kan tumpah, udah dibilangin tadi harusnya bawanya begini lo, nak.” Mungkin kita sebenarnya ingin menunjukkan kesalahan anak, namun jika caranya seperti ini justru si anak akan merasa bahwa ia selalu salah dan tidak pernah melakukan kebaikan.
  3. Gaya meremehkan - “Memangnya kamu bisa bikin susu sendiri, paling nanti tumpah semua. Udah sini bunda aja.” Semakin sering kita meremehkan anak, anak semakin menangkap bahwa dirinya tidak punya kemampuan.
  4. Membandingkan  - Bisa dibaca lagi di bagian kesalahan yang ketiga. Mungkin sebenarnya kita ingin member motivasi dengan member contoh tentang orang lain, tetapi anak justru menanggapi bahwa dia selalu dibanding-bandingkan.Remember that each person is unique.
  5. Mencap atau memberi label – Anak nakal, anak pemalas, anak nggak tahu diri, anak rempong, anak usil dan sebagainya. Yang kita sering ucapkan maka itulah yang akan terjadi J. Mungkin maksud kita ingin memberitahu kekurangan anak agar ia berubah, namun justru semakin kita ulangi pelabelan tersebut, semaki si anak merasa, ya itulah aku! Berapa banyak stempel yang sudah kita capkan di jiwa anak? Menghapus cap-cap itu tidak semudah membalik telapak tangan lo.
  6. Mengancam –  Tahukah kalau dari kecil kita dan anak-anak sudah biasa diancam. Coba nyanyikan “Nina Bobo”! Dari kecil setiap anak Indonesia telah diancam oleh orang tuanya, “kalau tidak bobo digigit nyamuk!” Itu baru hal paling sederhana, belum lagi ancaman-ancaman lain yang terkesan menakutkan seperti “kalau kamu nggak mau makan, nanti bunda panggilin pak dokter, biar disuntik.” Kasihan banget pak dokter dibawa-bawa J. Mengancam tidak menyelesaikan masalah, yang ada kadang anak justru tidak ikhlas melakukan hal yang kita minta.
  7. Menasehati  - Bisa lihat lagi bagian kesalahan kelima. Jangan nasehati kalau anak sedang bermasalah, keluarkan dulu masalahnya.
  8. Membohongi – Ini ada hubungannya dengan mengancam. Apalagi jika kita kerap mengancam, namun tidak pernah dilakukan. Alhasil, anak akan merasa dibohongi dan menyepelekan kita. “Halah, paling bunda bohong, kemarin juga bilangnya kalau aku nonton TV lama-lama, uang jajanku dikurangi, nyatanya juga nggak dikurangi.So, kalau sebelumnya kita sudah membicarakan konsekuensi pada anak, jalankan konsekuensi itu, jangan hanya ucapan. Ancaman no, konsekuensi yes!
  9. Mengkritik – Hindari penggunaan kata kamu. Misalnya, “Kamu tuh sudah dibilangin berkali-kali kalau pakai baju itu yang rapi, rambutnya disisir..” Di telinga anak kritikan ini akan sangat menyebalkan, seakan-akan salah lagi, salah lagi. Tapi jika kita menyampaikannya dengan seperti ini“Gantengnya anak bunda, tapi kok kayanya ada yang kurang ya? Apa ya… sepertinya baju dan rambutnya kurang oke deh”, anak akan lebih mendengar dan menerima kritikan kita.
  10. Menyindir – Biasanya ibu-ibu nih paling hobi menyindir kesalahan yang telah berlalu. Enggak sama suami, enggak ke anaknya, selalu saja diulang-ulang. So, stop ungkit-ungkit kembali kesalahan anak yang telah berlalu karena itu akan membuat anak jengkel dan merasa tidak dihargai.
  11. Menghibur - Kadang kala menghibur yang tidak pada tempatnya malah bisa jadi awal masalah baru, pilihlah waktu dan tempat yang tepat.
  12. Menganalisa – Hal ini berkaitan dengan mengenal diri sendiri dan kemampuan kita untuk mendengarkan anak dengan baik. Terkadang kita terlalu tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu dan melakukan analisa sebelum mendengarkan anak selesai bicara.

Dengan menyadari 8 kekeliruan yang biasa dilakukan orang tua dalam berkomunikasi tersebut, diharapkan kita akan mampu mengurai komunikasi yang mulai buntu antara anak dan orang tua dan menghasilkan komunikasi yang lebih efektif. Dengan merubah pola komunikasi kita, semoga kita juga bisa membentengi anak –anak dari gempuran bencana dan wabah pornografi yang semakin merajalela.

Ngomongin soal komunikasi aja ternyata udah sepanjang ini. Semoga nggak bosan ya bacanya. By the way, jangan dianggap aku udah jago menghindar dari kesalahan-kesalahan di atas ya. Aku menuliskan ini juga sebagai self-reminder agar tidak lelah belajar dan terus memperbaiki kesalahan-kesalahanku dalam mendidik dan mengasuh anak.



Semoga bermanfaat.


#OneDayOnePost FunBlogging Day 12




22 comments:

  1. Amazing tip untuk para orangtua dan calon orangtua.
    Terima kasih.
    Beberapa hal di antara tip tersebut juga ada dalam buku saya berjudul Madrasah Itu Bernama Ibu (Quanta Emk)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Pakdhe keren udah punya buku parenting.. :)

      Delete
  2. sering banget denger mahmud kayak gitu sama anaknya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang nggak mahmud juga banyak mbak yang kayak gitu sama anaknya :D

      Delete
  3. Tengkyu miss.. Alhamdulillah dapat tambahan wawasan sebelum benar2 menjadi orang tua..

    ReplyDelete
  4. Kalo nidurin anakku, aku bacain shalawat atau bikin lagu karangan sendiri. Dulu aku suka protes juga mosok anak sendiri diancam digigit nyamuk. Ntar digigit beneran bingung ngolesi minyak tawon

    ReplyDelete
  5. Hiks. Tamparan banget buat aku.

    makasih sharingnya Mba, dulu keknya udah pengen dateng ke seminar ini tapi batal :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nulis ini juga untuk menampar diri sendiri mbak :)

      Delete
  6. nina boboknya saya ganti mbak. ga bawa nyamuk deh. kalo tidak bobok nanti mengantuk. hehe...

    nice share mbak. sudah sering baca tapi juga harus selalu diulang-ulang. soalnya mengulangi kesalahan lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak...

      Sebenarnya isi parenting itu sama, tapi karena pola asuh warisan kadung melekat butuh diingatkan terus biar software tg parenting yang sesuai jaman terinstal sempurna :)

      Delete
  7. tipsnya sukses dan keren bingo mbak
    thx for sharing hee

    ReplyDelete
  8. Wah tipsnya top banget buat mendidik dan interaksi ma anak

    ReplyDelete
  9. Wah foto anak yang no 2 itu ekspresif banget mbak, lagi jengkel sama siapa tuh?

    No.1 s/d no 8 kok semua ada pada saya ya mbak, iya deh inshaa Allah tobat. Nice post :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. lagi jengkel sama ibunya kali :D


      Kayanya nggak cuma di mbak deh, hampir di semua para orangtua :D :D

      Delete
  10. Mbaaa..yang no 7 itu. Lucu tapi miris tapi ho oh bener banget yaa...

    ReplyDelete
  11. Tips nya top markotop mb :D Suka bacanya, mudah2an bisa kulaksanakan kalau udah jadi orang tua :D Amin

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.